• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengidentifikasi Resiko Supply Chain Management

N/A
N/A
191@Devista Choiriyah. A

Academic year: 2024

Membagikan "Mengidentifikasi Resiko Supply Chain Management"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Mengidentifikasi Resiko Supply Chain Management: Strategi Mitigasi Untuk Mengurangi Dampak

Devista choiriyah al Jannah 22021100191

Abstrak

Studi ini menunjukkan bahwa pemahaman dan pengelolaan risiko dalam manajemen rantai pasokan (SCM) sangat penting untuk meningkatkan ketahanan operasional dan mengurangi efek buruk. SCM memerlukan perencanaan dan koordinasi yang baik dari semua aktivitas rantai pasokan, termasuk pemilihan pemasok, produksi, distribusi, dan pengelolaan pengembalian produk. Risiko SCM dapat berasal dari berbagai sumber, baik internal maupun eksternal, termasuk gangguan, keterlambatan, dan fluktuasi pasar.

Langkah pertama yang sangat penting adalah menemukan dan mengklasifikasikan risiko ini. Strategi mitigasi seperti postponement, manajemen persediaan, dan bekerja sama dengan mitra rantai pasokan sangat penting untuk mengatasi risiko ini. Menggabungkan teknologi dan strategi manajemen yang tepat juga dapat membantu mengendalikan risiko dan menjaga kestabilan rantai pasokan. Dengan memahami dan mengantisipasi risiko- risiko ini, perusahaan dapat meningkatkan ketahanan operasional mereka, menjaga kelancaran pasokan, dan mengurangi kerugian yang disebabkan oleh gangguan SCM.

Efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pasar dan permintaan pelanggan merupakan bagian penting dari kesuksesan SCM. Oleh karena itu, pengelolaan risiko yang efektif sangat penting untuk mencapai tujuan SCM yang luas dan berkelanjutan.

kata kunci: Supply Chain Management (SCM), Risiko, dampak

Abstract

This study demonstrates that understanding and managing risks in supply chain management (SCM) is crucial for enhancing operational resilience and reducing negative impacts. SCM requires effective planning and coordination of all supply chain activities, including supplier selection, production, distribution, and returns management. SCM risks can originate from various sources, both internal and external, including disruptions, delays, and market fluctuations. Identifying and classifying these risks is an essential first step. Mitigation strategies such as postponement, inventory management, and collaboration with supply chain partners are vital to addressing these risks. Integrating technology and appropriate management strategies can also help control risks and maintain supply chain stability. By understanding and anticipating these risks, companies can improve their operational resilience, ensure smooth supply flows, and reduce losses caused by SCM disruptions. Cost efficiency and the ability to adapt to market changes and customer demands are critical aspects of SCM success. Therefore, effective risk management is essential for achieving broad and sustainable SCM objectives.

Keywords:Supply Chain Management (SCM), Risiko, Impact

(2)

1. Pendahuluan

Studi risiko dimulai pada abad ketujuh belas dengan menerapkan teori probabilitas dalam perjudian dalam ilmu matematika, risiko selalu dikaitkan dengan keragu-raguan bahwa kemungkinan kenyataan tidak sesui dengan harapan. Risiko didefinisikansebagai kemungkinan bahwa suatu kejadian akan menjadi kehilangan, sedangkan ketidakpastiandidefinisikan sebagai kerusakan yang berasal dari luar.

Risiko adalah kemungkinan terhadap suatu pristiwa yang menyebabkan kerugian selama waktu tertentu. Jika berpeluang bisa dijadikan kesempatan, sehingga risiko bisa bermakna positif. Sebaliknya, jika berpeluang dianggap sebagai ancaman,maka risiko dapat bermakna negatif, seperti kehilangan, bahaya, dan konsekuansi lainny, sehingga risiko dapat dikatakan cenderung menyebabkan kerugian yang akan terjadi pada akhirnya, ketidakpastian ini adalah sesuatu yang harus dipahami dan dikelola secara efektif (Handayani, 2016).

Sebuah bisnis dapat mengahadapi bahaya dalam sebagaian supply chain atau dalam supply chain secara keseluruhan, dari pemasok awal hingga sampai klien.

Faktor risiko pada jaringan suppy chain termasuk jaringan yang semakin komplek, ketergantungan tinggi pada pemasok, interaksi organisasi yang berbeda, dan siklus hidup produk yang pendek. Penyebab resiko pada rantai pasokan dimulai dengan ketidak pastina internal rantai pasokan, yang terdiri dari ketidakpastian pemerintah (Handayani, 2016).

Dalam menggunakan manajemen rantai pasokan sebenarnya adabeberapa tujuan, Dimana yang paling dasar adalah pasokan yang tersedia bisa diselarankan dengan permintaan. Selain itu, dalam menjalankan rantai pasokan seringkali terdapat beberapa hambatan atau masalah, seperti manajemen pemasok, manajemen pengadaan, pengelolaan hubungan dengan pelanggan, identifikasi dan respons terhadap masalah, serta manajemen resiko dan lainnya. Dalam rantai pasokan jika inginmenjadi unggul penting bagi rantai pemasok menyediakan produk yang berkualitas tinggi, tidak hanya murah saja, sehingga menjadi bervariasi dan tepat waktu. Manajemen rantai pasokan memiliki fungsi yang pertama adalah bahan baku produk dikonversi mmenjadi produk jadi yang akhirnya dapat dikirim kepada kosumen akhir (Nabila et al., 2022).

Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengidentifikasi berbagai jenis resiko yang dapat terjadi dalam SCM dan menyajikan metode yang efektif untuk mengatasi dampak negatifnya. Dengan memahami dan mengantisipasi risiko-risikoini, Perusahaan dapat meningkatkanketangguhan operasional mereka, menjaga kelancaran pasokan, danmengurangi kerugian yang disebabkan oleh gangguan SCM.

Maka demikian itu, dibuatnya identifikasi ini yaitu tentang “Mengidentifikasi Resiko Supply Chain Management: Strategi Mitigasi Untuk Mengurai Dampak”untuk mempelajari lebih lanjut tentang SCM ini.

2. RUMUSAN MASALAH

1. Apa tujuan dari supply chain management?

2. Apa saja jenis risiko supply chain management?

3. Apa saja strategi mitigasi untuk mengatasi risiko-risiko?

(3)

3. TINJAUAN PUSTAKA

a. Konsep Supply Chain Management

istilahSupply Chain Management (SCM) mulanya pada akhir tahun 1980-an SCM ini mulai dikenal dan menjadi populerpada tahun 1990-an. Sebelumnya, istilah “logistik”

lebih sering digunakan dalam perusahaan dan “manajemen operasi dari pada SCM itu sendiri. Berdasarkan berbagai definisi yang dirumuskan oleh beberapa sumber, supply chain dapat didefinisikan sebagai “ beberapa perusaahan yang terdiri dari sebuah jaringan”

termasuk produsen, distributor, pemasok dan pengecer yang terlibat dan bekerja baik dalam memenuhi permintaan pelanggan baik secara langsung ataupun tidak langsung, dimana perusahaan-perusahaan tersebut melakukan proses tranformasimaterial yang akhirnya menjadi produk setengah jadi dan produk jadi, melakukan fungsi pengadaan barang, dan sampai akhirnya produktersubut berada di konsumen akhir (Geraldin et al., 2007).

Supply Chain Management (SCM) ketika di terapkan SCM memmilikibeberapa komponen utama yaitu: (1) perencaaan atau plan merupakan perumusan strategi SCM yang akan menjadi kunci keberhasilan SCM. Tujuan utama dari perumusan strategi ini adalah untuk mencapai efisiensi dan efektifitas sambil memastikan bahwa produk yang dihasilkan berkualitas baik. (2) sumber: pemasok bahan baku yang terprcaya haru dimiliki perusahaan dan nantinya proses produksi dapat didukung. Manajer SCM tentunya harus memiliki kemampuan untuk meningkatkan dan mempertahankan hubungan dengan kemudian tahap produksi termasuk dalam komponen ini. Yang sangat penting dalam tahap ini adalah manajer SCM bertanggung jawab menyusun jadwal tindakan yang harus dilakukan dalam proses produksi, termasuk mengemas, menguji, hingga menyiapkan pengiriman produk. Tahap ini sangat penting karena perusahaan harus mengukur produktivitas pekerja, kualitas dan output produksi. Yang keempat adalah pengembalian yang merupakan perencana SCMharus membangu jaringan yang responsif dan fleksibel untuk menangani produk yang mana dengan kebutuhan pekanggan itu tidak sesuia,dan jika memiliki konsumen masalah dengan produk yang diterima bisa menghubungi layanan pengaduan yang disediakan nantinya. Selain itu, secara teratur perusahaan harus membuat laporan kinerja bisnis yang nantinya kan sesui dengan tujuan awal SCM. Dan yang terakhirpengiriman atau deliver; jaringangudang penyimpanan harus dikelola oleh perusahaan , untuk mengirim barang kepada pelanggan harus dengan distributor yang telh dipilih, dan tidak hanya itu tpi juga untuk mengatur metode pembayaran dan memenuhi pesanan pelanggan (Nabila et al., 2022).

b. Konsep Risiko

Kemudian disini kita akan membahas konsep risiko dari para peneliti telah terbentuk beberapa definisi risiko. Resiko memiliki dua perspektif, yang pertama risiko dari perspektif hasil atau output adalah output atau hasil yang tidak dapat diprediksi dengan pasti dan nanti bisa bersifat kontraproduksif karena output yang tidak bisa diprediksi dengan pasti. Yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan adalah faktor-faktor dari risiko. (Geraldin et al., 2007).

Setelah mempelajari berbagai definisi risiko dan ketidakpastian, jenis resiko, faktor - faktor yang menyebabkannya atau ketidakpastian masuk dalam grup ini. Untuk menghindari keracunan dan pemahaan yang diperlukan.

METODE PENELITIAN

matode penelitian ini menggunakan metode penelitian literatur review untuk mengidentifikasi dan menganalisis resiko dalam manajemen rantai pasokan serta strategi

(4)

mitigasi yang efektif. Metode ini terdiri dari beberapa tahapan utama yaitu mencari sumber data yang mana literatur yang digunakan dalam penelitianini mencakup artikel, jurnal, buku laporan penelitian, dan sumber-sumber terpercaya lainnya yang relevan dengan topik manajemen rantai pasokan dan risiko.

4. PEMBAHASAN

a. Tujuan Dari Supply Chain Management

Rantai pasokan harus mencapai tujuan strategis SCM untuk membuatnya unggul atau setidaknya bertahan dalam persaingan pasar, menurut Pujawan (2005). Untuk mencapai tujuan ini, rantai pasokan harus beroperasi dengan efisien, menghasilkan produk berkualitas tinggi, serta bersifat cepat, fleksibel, dan inovatif. Merencanakan dan mengoordinasikan semua operasi rantai pasokan adalah tujuan manajemen rantai pasokan, menurut Dilworth (2000:374), sehingga pelayanan kepada pelanggan dapat dicapai dengan maksimal dan dengan biaya yang relatif rendah. Menurut Chopra dan Meindl (2004), tujuan SCM adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pelanggan. Selain itu, tujuan lainnya adalah untuk meminimalkan biaya umum, termasuk biaya pemesanan, penyimpanan, dan transportasi (Nabila et al., 2022).

Dari berbagai perspektif ini, dapat disimpulkan bahwa SCM berfokus pada pencapaian efisiensi operasional, kualitas produk, dan kepuasan pelanggan melalui koordinasi yang tepat dan inovasi dalam rantai pasokan. Kesuksesan SCM tidak hanya bergantung pada biaya yang rendah tetapi juga pada kemampuan untuk beradaptasi dan berinovasi sesuai dengan perubahan pasar dan kebutuhan pelanggan. Selain itu, integrasi yang baik antara berbagai bagian rantai pasokan bersama dengan penerapan strategi manajerial dan teknologi yang tepat sangat penting untuk mencapai tujuan SCM.

b. Jenis-jenis risiko supply chain management

Pertama, kategori risiko harus ditentukan sebelum menilai risiko membuat sembilan kategori risiko: gangguan, keterlambatan, sistem yang runtuh, peramalan, dan properti kekayaan. mental, pengadaan, piutang, stok, dan kemampuan. Kualitas, ketergantungan suplier, sistem informasi, manajemen, dan keamanan adalah beberapa jenis risiko yang diidentifikasi. disebutkan sepuluh jenis risiko, termasuk penundaan, penundaan, persediaan, produksi, kapasitas, suplai, sistem, kekuatan, dan transportasi.

Jenis risiko rantai pasokan tambahan termasuk penundaan informasi, pematuhan terhadap peraturan, tindakan pesaing, keadaan politik, fluktuasi harga pasar, ketidakpastian biaya, dan kualitas supplier. Risiko rantai pasokan menjadi gangguan dan operasi. Risiko gangguan mencakup biaya ketidakpastian, permintaan, dan suplai. Namun, gangguan yang berpotensi terjadi termasuk: tsunami (Handayani, 2016).

Namun, gangguan risiko termasuk tsunami, gempa, dan krisis ekonomi. dibagi risiko rantai pasokan menjadi tiga kategori:

1. Risiko internal, yang mencakup risiko di mana perusahaan suplier memiliki kontrol.

Kategori ini mencakup risiko proses dan kontrol. Risiko proses adalah risiko yang berasal dari kegiatan operasional dan manajemen yang dapat mengganggu suatu proses. Risiko kontrol adalah risiko yang berasal dari kesalahan dalam menerapkan aturan yang ditetapkan oleh perusahaan. Misalnya, volume pesanan, peraturan keamanan stok, dan transportasi.

2. Risiko yang terkait dengan perusahaan yang berada di luar jaringan pasokan, termasuk risiko yang berkaitan dengan permintaan dan pasokan.

Risiko permintaan adalah risiko yang muncul sebagai akibat dari terganggunya aliran.

(5)

3. Risiko strategis mencakup peristiwa yang berkaitan dengan strategi bisnis, politik ekonomi, peraturan, pasar bebas, reputasi perusahaan, kepemimpinan, dan perubahan keinginan pelanggan. Gambar menunjukkan klasifikasi risiko rantai pasokan.

c. strategi mitigasi untuk mengatasi risiko-risiko

(Handayani, 2016) faktor yang dapat menyebabkan risiko dapat di inggat bahwa dalam rantai pasokan atau supply chain mengembangkan strategi mitigasi seperti manajemen pasokan, permintaan,manajemenproduk dan manajemen informasi sepertitujuan dari pendekatan dasar ini adalah untuk meningkatkan operasi supply chain melalu koordinasi dan kolaborasi sebagai berikut:

1. Perusahaan berkoordinasi atau berkolaborasi dengan partner upstream untuk memastikan pasokan material efisiensi di sepanjang supply chain;

2. Perusahaan dapat berkoordinasi dan berkolaborasi dengan partner downstream untuk mempengaruhi permintaan dengan cara yang menguntungkan; dan

3. Perusahaan dapat mengubah produk dan prosedur.

banyak jenis informasi yang tersedia bagi partner supply chain. Tang (2006) juga membahas 9 cara untuk mengatasi gangguan supply chain:

1. Postponement, yang merupakan strategi untuk menyeragamkan produk dan prosedur Untuk memperlambat perbedaan produk, gunakan teknik desain seperti standarisasi, kompatibilitas, desain modular, dan operasi reversal.

2. Strategi Persediaan: Perusahaan harus menyimpan persediaan yang aman di "lokasi strategis" (gudang, pusat logistik, dan pusat distribusi) di mana lokasi penyimpanan dapat dibagi menggunakan oleh mitra rantai pasokan.

3. Basis pasokan yang fleksibel: Untuk memastikan pasokan tetap lancar ketika terjadi gangguan, pasokan harus fleksibel sehingga dapat mudah berganti antara pemasok.

4. Make and Buy: Jika beberapa produk dibuat secara internal dan beberapa produk lainnya dioutsourcing ke supplier, suatu supply chain akan menjadi lebih tangguh.

5. Insentif ekonomi untuk pasokan. Insentif keuangan untuk mengambil risiko finansial secara bersama-sama dan membeli stok dengan harga rendah.

6. Transportasi yang fleksibel. Salah satu dari tiga faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran aktivitas di supply chain adalah fleksibelitas transportasi. Ini adalah tiga hal:

transportasi multimodal, transportasi multi kargo, dan transportasi berbagai rute 7. Management pendapatan melalui harga dan promosi yang dinamis Strategi ini sangat

cocok untuk barang yang rentan terhadap kerusakan. Permintaan konsumen.

8. dapat dipengaruhi oleh perubahan harga dan promosi. Untuk mempengaruhi minat dan permintaan pelanggan, ubah bagaimana produk terlihat dan bagaimana dijual di

toko ritel.

(6)

KESIMPULAN

Penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan dan memahami risikodalam manajemen rantai pasokan atau suppli chain management (SCM) untuk meminimalkan dampak negatif yang dapat terjadi dan meningkatkan ketahanan nasional. SCM mencakup efisiensi biaya, kualitas produk, kecepatan, produksi distribusi dan pengelolaan produk.

Risiko dalamSCM bsa berasal dari berbagaisumber, baik dari eksternal termasuk keterlambatan, fluktuasi, da gangguan. Mengidentifikasi resiko ini adalah langkah pertama yang penting. Dengan strategi mitigasi seperti, manajemen persediaan, kordinasi dengan mitra rantai pasokan sangat penting untuk menghadapi risiko. Selain itu, integrasi teknologi dan strategi manajerial yang tepat dapat memant dalam mengelola dan menjaga kelancaran operasional rantai pasokan.

Dengan demikian memahami dan mengantisipasi risiko-risiko yang terjadi,perusahaan dapat meningkatkan ketahanan operasional mereka, menjaga kelancaran pasokandan mengurangi kerugian yang disebabkan ganggunagn SCM.

Kesuksesan SCM juga ditentukan oleh kemampuan untuk beradaptasi dan berinovasi sesuai dengan berubahnya pasar dan apa yang dibutuhkan pelanggan. Oleh karena itu, pengelolaan risiko yang efektif menjadi kunci dalam mencapai tujuan SCM berkelanjutan.

4. REFERENSI

(Syah Tjaja et al., 2019)Geraldin, L. H., Pujawan, N., Santhi Dewi, D., & Abstrak, ). (2007).

Manajemen Risiko Dan Aksi Mitigasi Untuk Menciptakan Rantai Pasok Yang Robust.

Jurnal Teknologi Dan Rekayasa Teknik Sipil. TORSI, 53–64. www.cscmp.org Handayani, D. I. (2016). Review: Potensi Risiko Pada Supply Chain Risk Management.

Spektrum Industri, 14(1), 25. https://doi.org/10.12928/si.v14i1.3701

Izzuddin, I. A., Ernawati, D., & Rahmawati, N. (2020). Analisa Dan Mitigasi Risiko Pada Proses Supply Chain Dengan Pendekatan House of Risk Di Pt. Xyz. Juminten, 1(3), 129–140. https://doi.org/10.33005/juminten.v1i3.102

Mudhifatul Jannah, U., & Rahmawati, Z. N. (2020). Analysis Supply Chain Management (SCM) Planning of Juice Production by UKM Larasati. DIALEKTIKA : Jurnal Ekonomi Dan Ilmu Sosial, 5(2), 173–184. https://doi.org/10.36636/dialektika.v5i2.451

Nabila, V. S., Lubis, M. I., & Aisyah, S. (2022). Analisis Perencanaan Supply Chain Management pada Seneca Coffe Studio Kota Medan. Jurnal Ilmu Komputer, Ekonomi Dan Manajemen (JIKEM), 2(1), 1734–1744.

Pertiwi, Y. E., & Susanty, A. (2017). Analisis Strategi Mitigasi Resiko Pada Supply Chain Cv Surya Cip Dengan House of Risk Model. Industrial Engineering Online Journal, 6(1), 1–10.

Prasetyo, B., Eka Yulia Retnani, W., & Laily Muhimmatul Ifadah, N. (2022). Analisis Strategi Mitigasi Risiko Supply Chain Management Menggunakan House of Risk (HOR).

Jurnal Tekno Kompak, 16(2), 72–84.

Syah Tjaja, A. I., Sekartyasto, D. R., & Imran, A. (2019). Meminimasi Risiko pada Rantai Pasok Menggunakan Kerangka Kerja Suplly Chain Risk Management di PT. Adhi Chandra Dwiutama. Jurnal Rekayasa Hijau, 3(1), 29–40.

https://doi.org/10.26760/jrh.v3i1.2818

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Suwar-Suwir di Kabupaten Jember , Desy Intan Purnama Sari, 081510601006, Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Hasil pengukuran kinerja rantai pasokan menunjukkan metrik kinerja yang belum mencapai target perusahaan dan benchmark dari Supply Chain Council adalah delivery performance,

Pada penelitian ini memiliki 6 kategori penilaian risiko green supply chain yang terdiri dari risiko operasional, risiko pasokan, risiko produk, risiko finansial,

Selanjutnya 34% perusahaan lebih maju dengan mengembangkan SCM dalam fungsi procurement yang berintegrasi dengan supplier/vendor utamanya, dan 11% mengembangkan supply chain

Untuk menganalisis pengaruh signifikan kinerja manajemen rantai pasokan (supply chain management) terhadap efisiensi produksi di tvOne.. Untuk menganalisis pengaruh

Bertujuan untuk mengetahui kerangka kerja manajemen rantai pasokan ramah lingkungan, mengetahui hambatan-hambatan dalam implementasi manajemen rantai pasokan ramah lingkungan dan

Selain itu, penelitian ini mengkaji peran kinerja rantai pasokan sebagai mediator antara adopsi IoT dan manfaat dan tantangan kinerja organisasi Supply Chain Performance Dalam

Pendekatan model yang banyak digunakan untuk mengukur performasi kinerja rantai pasokan perusahaan pada saat ini adalah metode SCOR Supply Chain Operations Reference yang merupakan