708
MENINGKATKAN HASIL PEMBELAJARAN SHALAT BERJAMAAH MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING DIKELAS VII SMPN 9 AMUNTAI
Ahdi Yanie
Email [email protected]
ABSTRAK
Tujuan akhir dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah untuk menumbuhkembangkan keagamaan melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang Shalat Berjamaah sehingga menjadi manusia muslim yang harus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Penelitian ini berdasarkan rumusan permasalahan 1) Bagaimanakah penggunaan model problem based learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti?, 2) Apakah penggunaan model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar pada materi shalat berjamaah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti? Penelitian ini terdiri dari dua siklus, setiap siklus dilaksanakan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Teknik atau alat untuk pemantauan atau evaluasi adalah observasi dan tes. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa 1) Setelah menjelaskan materi shalat berjamaah, guru mendemonstrasikan atau memperagakan tata cara shalat berjamaah di depan kelas, peserta didik memperhatikan, kemudian peserta didik diminta untuk menirukan. Setelah paham, peserta didik mempraktekkan shalat berjamaah. 2) Penggunaan model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII SMPN 9 Amuntai Tahun Pelajaran 2021/2022
Kata kunci : Model Problem Based Learning (PBL), motivasi, meningkatkan hasil belajar, model
PENDAHULUAN
Keberhasilan pendidikan sebagian besar di cita-citakan dan di prioritaskan oleh suatu bangsa termasuk Indonesia. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah, para akademis, praktisi pada bidang pendidikan serta telah dilakukan penambaham anggaran untuk berbagai program pengembangan inovasi pendidikan. Pendidikan itu sendiri adalah pengetahuan keterampilan yang dilalui dengan tahapan-tahapan tertentu sedagkan menurut UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1, yaitu sebagai berikut:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
709 suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman” .
Dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Dengan mengetahui kedudukan penting guru di dalam pendidikan perlu adanya kemampuan guru dalam merencanakan dan mengatur pelaksaan pembelajaran, menurut Djamarah (2014: 5) Salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan belajar siswa adalah dengan menggunakan strategi dalam pembelajaran yang dapat memecahkan masalah.
Sebagaimana yang dijelaskan Fathurrohman Pupuh dan Suryana Aa (2012:16) “UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 8, secara eksplisit menyebutkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Namun pada kenyataannya hingga saat ini tidak semua guru optimal dalam menjunjung tinggi empat kompetensi tersebut padahal sebagai guru profesinal seharusnya empat kompetensi tersebut harus sudah dikuasai, kesenjangan ini terlihat dari saat peneliti melaksanakan pembelajaran di SMPN 9 Amuntai masih ada sebagian guru yang menggunakan paradigma lama atau masih konvensional sehingga masih dijumpai di lapangan terdapat kesenjangan dalam pelaksanaannya, antara apa yang diharapkan kurikulum dengan pusat pembelajaran, yaitu siswa. Guru memberi penjelasan mengenai materi sejelas-jelasnya dengan harapan siswa dapat memahami materi yang disampaikan (siswa dapat menghapal semua materi) sesuai dengan semua redaksi yang ada di buku referensi. Dengan melihat pelaksanaan ajar guru yang masih konvensional itu tentu pembelajaran hanya berpusat pada penyampaiannya gurunya saja atau bisa dibilang sumber belajar hanya terdapat di guru dengan metode ceramah, siswa hanya menerima dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh gurunya saja. Hal itu membuat siswa menjadi kurang aktif berperan di dalam kegiatan pembelajaran. Siswa hanyalah subjek pembelajaran bukanlah objek pembelajaran sehingga proses pembelajaran yang terjadi hanyalah satu arah saja. Sedangkan pembelajaran hendaknya ditujukan untuk memupuk minat dan pengembangan siswa yang sesuai dengan kehidupan siswa itu sendiri.
710 Berdasarkan pengamatan di beberapa sekolah dilihat bahwa keaktifan peserta didik ketika mengikuti pembelajaran juga masih rendah atau kurang termotivasi termasuk siswa di SMPN 9 Amuntai khususnya materi shalat berjamaah, kebanyakan siswa yang aktif adalah siswa yang tingkat kecerdasan intelektual tinggi sedangkan siswa yang lainnya perlu usaha dorongan yang lebih kuat dari guru untuk membuat siswa tersebut aktif. Maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas siswa belum dapat berpikir kritis dalam proses pembelajaran sehingga kebanyakan siswa di kelas ini menjadi pasif dan mendapat hasil belajar yang rendah.
Terkait rendahnya hasil belajar siswa, maka diadakan suatu upaya untuk menganalisis penyebab dari rendahnya hasil belajar siswa tersebut lalu diperlukan tindakan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dapat dilakukan oleh seorang guru dengan mengembangkan profesionalisme dalam dirinya dengan memahami kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Dengan melakukan sebuah inovasi pada pembelajaran yang dilakukan oleh seorang adalah suatu hal yang akan memberikan dampak positif. Sejalan dengan pendapat Sa’ud (2011, hlm. 8) “inovasi dalam pendidikan yaitu suatu perubahan yang baru, serta berbeda dari biasanya dan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan demi mencapai sutu tujuan yang telah ditentukan”. Inovasi dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan penambahan media atau penerapan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi dan siswa. Dengan adanya upaya pemerintah dalam meningkatkan taraf pendidikan Indonesia yaitu diberlakukannya kurikulum 2013 yang masih dalam pengembangannya masih melalui berbagai revisi, pembelajaran yang awalnya bersifat teacher centered yaitu berpusat pada guru sekarang lebih menekankan pembelajaran student centered yang berpusat pada siswa yang dikemas sedemikian rupa selain memperhatikan konsep pembelajaran materinya kuruikulum 2013 juga menekankan pada pendidikan karakter sehingga menyediakan pembelajaran yang lebih interaktif didukung dengan penggunaan beragam model atau metode pembelajaran yang sesuai dengan bahan ajarnya. Selain pembaharuan kurikulum, perlu juga adanya pembaharuan dalam penerapan model pembelajaran ataupun cara mengajar guru, dan pandangan baru yang bisa mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan nasional dalam mencetak generasi penerus bangsa yang sesuai dengan harapan.
Beranjak dari hal tersebut sudah saatnya guru untuk merubah paradigma mengajar yang masih bersifat teacher centered menjadi student centered yang bermakna. Hal ini dikarenakan kemampuan berpikir kritis adalah sebuah proses sistematis yang memungkinkan siswa mengevaluasi bukti, asumsi, logika, dan bahasa yang mendasari bahasa orang lain.
711 Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu melakukan tindakan karena pendidik yang profesional adalah yang dapat memahami tugas dan mengaitkan pembelajaran dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan terdekat siswa sebagai contoh konkret. Guru diharapkan memilih model pembelajaran yang tepat dengan memperhatikan beberapa faktor seperti keadaan siswa, materi pembelajaran yang akan dibahas, dan mampu merubah suasana kelas dalam proses pembelajaran untuk merangsang siswa menjadi aktif, kreatif, interaktif, dan berbobot untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu model yang dapat diterapkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Problem Based Learning (PBL) merupakan pembelajaran terpusat melalui memunculkan masalah-masalah yang relevan pada saat proses pembelajaran. Terpusat karena berisi skenario, tema, unit yang menerapkan kembali pada pembelajaran yang diinginkan. Tujuan dalam proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran ini adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah, menguraikan masalah, dan merevisinya ketika melakukan presentasi sehingga akan menambah informasi sesuai kompetensinnya. Salah satu metode yang banyak diadopsi dan banyak digunakan oleh guru untuk menunjang pendekatan pembelajaran learned centered (student centered) dan yang dapat memberdayakan peserta didik dalam proses pembelajaran adalah dengan model Problem Based Learning (M. Taufik Amir, 2013, hlm. 12).
Problem Based Learning (PBL) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan atau pendapatnya secara eksplisit, memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa sebelumnya sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang suatu fenomena. Model Problem Based Learning yaitu pengembangan kurikulum yang pelaksanaan pembelajarannya setiap siswa ditempatkan dalam posisi yang memiliki hak peranan aktif dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang mereka hadapi sehingga banyak memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengeksplor pengetahuan yang dimiliki. Sejalan dengan pendapat Duch dalam Shoimin (2014, hlm. 130) menyatakan bahwa “Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para pserta didik belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan”. Apalagi jika model PBL tersebut diterapkan dalam Materi Pokok Indahnya Kebersamaan dalam Shalat Berjamaah selain sangat memungkinkan untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, model
712 ini juga menantang siswa agar belajar mengumpulkan informasi secara individu mapun bekerja sama dalam kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang nyata, dengan demikian pemahaman siswa di dalam kelas dapat diaplikasikan secara langsung di lapangan dimana siswa karena materi pokok tersebut erat kaitannya dengan lingkungan terdekat siswa.
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa pembelajaran Problem Based Learning dimulai oleh adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau guru), kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang telah diketahui melalui pemikiran atau pengalamannya dan apa yang perlu diketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Melalui model Problem Based Learning, siswa dapat mempelajari materi dengan baik dan termotivasi dalam pembelajaran sehingga proses belajar akan lebih efektif dan bermakna. Dengan adanya latar belakang masalah yang telah diuraikan maka peneliti mengambil judul ”Meningkatkan Hasil Pembelajaran Shalat Berjamaah Melalui Model Problem Based Learning Dikelas VII SMPN 9 Amuntai”
METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan (action reseach), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang di inginkan dapat dicapai.
Dalam penelitian tindakan ini guru sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian tindakan adalah praktisi (guru). Tujuan utama dari penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti mengajak seorang teman sejawat di sekolah dalam melakukan evaluasi akhir pembelajaran guna menjaga kevalidan data serta sebagai sharing communication. Kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa, sehingga Peserta didik tidak tahu kalau diteliti.dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.
713 Gambar 1. Desain Penelitian Tindakan Kelas menurut Suharsimi Arikunto
(2008: 16)
Tempat penelitian ditetapkan dikelas VII SMP NEGERI 9 AMUNTAI Kecamatan Amuntai Tengah. Penelitian ini dilakukan pada semester 1 tahun ajaran 2021/2022. Peserta didik kelas VII terdiri dari 20 orang, 8 orang Peserta didik laki-laki dan 12 orang Peserta didik perempuan. Penelitian dilakukan ditempat tersebut karena terdapat permasalahan dalam pembelajaran yaitu pada materi Shalat berjamaah. Dimana dibawah 50% Peserta didik kelas VII tidak mampu menyelesaikan soal dengan baik, sehingga nilai yang diperoleh
tidak mencapai KKM yang diharapkan yaitu 70.
Faktor yang diselidiki dalam penelitian ini yaitu :
Keaktifan dalam belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan belajar.
Keaktifan siswa dalam belajar komputer tampak dalam kegiatan : memperhatikan pelajaran (visual activities), berdiskusi (oral activities), mendengarkan materi yang disampaikan (listening activities), mencatat materi (writing activities), menggambar (drawing activities), melakukan praktik menggunakan internet (motor activities), menanggapi masalah masalah (mental activities), sikap selama pelajaran (mental activities), dan juga emosi selama pelajaran berlangsung (emosional activities).
Faktor hasil belajar Peserta didik dengan melihat hasil evaluasi belajar Peserta didik di akhir pembelajaran.
Teknik Pengumpulan Data Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang – barang tertulis. Di dalam melaksanakan model dokumentasi, peneliti menyelidiki benda – benda tertulis seperti buku – buku, majalah, dokumen, peraturan – peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.2 Model Tes yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban – jawaban yang diharapkan baik secara tertulis atau secara lisan atau secara perbuatan. Model Observasi sebagai alat pengumpul data banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.5
Teknik Analisis Data menggunakan data peserta didik yaitu data perencanaan, data pelaksanaan, data pengamatan, dan data refleksi. Untuk
714 menjawab permasalahan dalam penelitian ini maka dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Untuk menghitung nilai rata – rata
Menghitung nilai rata – rata digunakan rumus : Rata-rata nilai = Nilai seluruh kelas
Jumlah Siswa Menghitung Ketuntasan Belajar
Daya Serap perorangan Seorang peserta didik dikatakan tuntas belajar apabila mencapai skor minimal 70 % atau mendapat nilai minimal 70.
Dengan perhitungan ketuntasan belajar Individu : Jumlah yang diperoleh tiap peserta didik x 100%
Nilai maksimal Daya Serap Klasikal
Suatu kelas dikatakan tuntas belajar jika kelas tersebut telah mencapai minimal 85% peserta didik yang mendapat nilai 70 atau lebih.
Dengan perhitungan ketuntasan belajar klasikal : Jumlah peserta didik yang tuntas belajar x 100%
Jumlah seluruh peserta didik Indikator Keberhasilan
Terjadinya Peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi shalat berjamaah melalui model problem based learning. Dikatakan meningkat jika nilai rata-rata yang diperoleh > 70 dan peserta didik yang mendapat >70 minimal 85% dari jumlah keseluruhan
HASIL PENELITIAN
Pada pembahasan ini akan diuraikan hasil pembelajaran pada pra siklus atau sebelum perbaikan dan setelah perbaikan yaitu pada siklus I dan siklus II.
Pra siklus
Pra siklus dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus 2021 Berdasarkan data hasil nilai yang diperoleh siswa pada tes formatif sebelum perbaikan yaitu siswa yang mendapat nilai 70 hanya 5 siswa yang dinyatakan lulus KKM.
1 1 13 3 1 1
200
40-49 50-59 60-69 70-79 80-89 90-100
Grafik Hasil Tes Formatif Pra Siklus
Series 1
Berdasarkan dari hasil data nilai tes formatif sebelum perbaikan pada
715 tabel di atas dapat dikatakan bahwa penulis belum berhasil dalam pembelajaran. Mengingat hanya 25% atau 4 siswa dari jumlah siswa 20 yang dapat dinyatakan tuntas. Sedangkan 75% atau 15 siswa dari 20 siswa tidak tuntas. Sehingga penulis berupaya memperbaiki proses pembelajaran yang lebih baik pada siklus I dengan membuat dan menyusun rencana perbaikan pembelajaran yang lebih sempurna.
Pelaksanaan Siklus I
Pada tahap ini penulis melakukan 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hal ini dilakukan guna memperoleh hasil belajar yang lebih baik dari sebelum dilakukan perbaikan.
Perencanaan
setelah melaksanakan pembelajaran dan menganalisa masalah maka hasil yang diperoleh melalui model problem based learning mampu mengatasi proses perbaikan pembelajaran dalam siklus I.
Pelaksanaan
Penulis dapat menyajikan data yang diperoleh dari pelaksanaan pembelajaran Siklus I pada tanggal 12 Agustus 2021. Hasil yang diperoleh pada pelaksanaan siklus I dengan memfokuskan pada model problem based learning dan penugasan.
Analisa Data Siklus I
Dapat diketahui bahwa siswa yang mendapat nilai 50-59 sebanyak 1 siswa, yang mendapat nilai 60-69 sebanyak 7 siswa, yang mendapat nilai 70-79 sebanyak 9, dan yang mendapat nilai 80-89 sebanyak 2 siswa, dan yang mendapat nilai 90-100 sebanyak 1 siswa.
0 1
7
9
2 1
0 5 10
40-49 50-59 60-69 70-79 80-89 90-100
Grafik Hasil Tes Formatif Siklus I
Series 1
Berdasarkan hasil data nilai tes formatif setelah diadakan perbaikan (siklus 1) dapat dikatakan bahwa ada peningkatan dalam hasil pembelajaran.
Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya hasil tes formatif, yang semula ketuntasannya hanya 4 siswa (25%) menjadi 12 siswa (60%).
Pengamatan
Pengamatan proses pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan guru pada saat melaksanakan proses belajar rmengajar serta kegiatan selama
716 mengikuti proses belajar mengajar.
Refleksi
Pada tahap refleksi ini dilaksanakan dengan cara melakukan konsultasi dengan pengamat dan Kepala Sekolah dan untuk mencatat semua temuan yang muncul pada pembelajaran Siklus I, baik itu kekurangan atau kelebihan. Peneliti lebih menitikberatkan pada model pembelajaran melalui model problem based learning
Adapun kelebihan pada Siklus I adalah sebagai berikut:
Melalui pendekatan model problem based learning dapat meningkatkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran.
Keaktifan siswa meningkat.
Proses pembelajaran lebih variatif.
Adapun kekurangan pada Siklus I adalah sebagai berikut:
1) Sebagian siswa jenuh dengan pelaksanaan praktikum
2) Guru menggunakan model belum maksimal sehingga pembelajaran kurang menarik perhatian siswa.
3) Siswa terlihat merasa takut dalam mengutarakan pertanyaan
Pelaksanaan Siklus II ini penulis melakukan 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hal ini dilakukan guna memperoleh hasil belajar yang lebih baik dari sebelum dilakukan perbaikan.
Perencanaan
Siklus II berdasarkan dan hasil evaluasi dan analisa pada pembelajaran Siklus I dengan menitik beratkan pada pusat pembelajaran pada guru.
Merancang kembali skenario atau kegiatan pembelajaran Siklus II dengan menggunakan media atau alat dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Guru mempersiapkan kliping tentang struktur susunan orang shalat berjamaah. Menyiapkan alat evaluasi
Pelaksanaan
Penulis dapat menyajikan data yang diperoleh dari pelaksanaan pembelajaran Siklus II pada tanggal 19 Agustus 2021. Hasil yang diperoleh pada pelaksanaan siklus II dengan memfokuskan pada media atau alat melalui model pembelajaran Problem Based Learning.
Analisa Data Siklus II
Berdasarkan tabel di atas dapat di lihat dalam bentuk diagram sebagai berikut:
717
0 0
2
6 7
5
0 2 4 6 8
40-49 50-59 60-69 70-79 80-89 90-100
Grafik Hasil Tes Formatif Siklus II
Tabel 4.9
Berdasarkan dari hasil data nilai tes formatif Siklus II pada grafik di atas dapat dikatakan bahwa penulis sudah berhasil dalam pembelajaran meskipun belum secara keseluruhan yang dikatakan tuntas dengan prosentase 90% dengan jumlah peserta didik 20. Dengan melihat standar ketuntasan yaitu nilai ketuntasan diatas 70%. Sedangkan 2 peserta didik yang mendapatkan nilai kurang dari 70 dinyatakan tidak tuntas dan perlu dilaksanakan tindak lanjut berupa pemberian tugas.
Pengamatan
Dalam Siklus II adalah peserta didik aktif dalam mengikuti pembelajaran serta dalam melaksanakan diskusi pada kerja kelompok.
Ternyata melalui pendekatan model problem based learning dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik telah sesuai dengan rencana yang telah diharapkan.
Refleksi
Siklus II terlihat peserta didik sudah sesuai dengan skenario yang direncanakan. Beberapa hal yang ditemukan pada tahap ini sangat memuaskan karena peningkatan keaktifan peserta didik dan lebih percaya diri dalam mengutarakan pertanyaan dan pendapat. Dan guru sudah mengoptimalkan penyampaian materi . Proses pembelajaran siklus ke II dinilai baik karena sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Adapun kelebihan Siklus II adalah sebagai berikut, Kegiatan pembelajaran lebih variatif. Penggunaan model dan metode pembelajaran tepat. Peserta didik memiliki tingkat pemahaman lebih tinggi. Peningkatan perolehan nilai kelas memuaskan. Adapun kekurangan Siklus II adalah sebagai berikut, guru kesulitan untuk fokus membagi perhatian pada kelompok belajar. Peserta didik masih ada terlihat jenuh terhadap materi pembelajaran. Analisa Data dan Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Siklus I
Dari hasil pengolahan data peserta didik sebelum perbaikan atau pra siklus pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti materi shalat berjamaah dengan model pembelajaran problem based learning pada
718 kelas VII SMPN 9 Amuntai Tahun Pelajaran 2021/2022 Desa Pinangkara kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara menunjukkan bahwa dari 20 peserta didik yang mencapai tuntas belajar hanya ada 12 peserta didik atau 60%, berarti ada 8 peserta didik atau 40% peserta didik yang belum tuntas maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran.
Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus I. Yang semula hanya ada 5 peserta didik yang nilainya sesuai KKM pada pra siklus, sekarang di siklus I ada 12 peserta didik yang nilainya sesuai KKM atau diatas KKM.
Peningkatan hasil belajar peserta didik karena peneliti dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran menggunakan metode ini ditunjukkan prosentase ketuntasan meningkat dari 25% menjadi 60 %.
Siklus II
Berdasarkan pengolahan data dan diskusi dengan pengamat dan kepala Sekolah serta pembimbing, untuk menuntaskan hasil belajar peserta didik peneliti mengadakan perbaikan pada siklus II yang hasilnya menunjukkan peningkatan lebih baik lagi, pada perbaikan siklus I dari 20 peserta didik yang mendapat nilai ≥ 70 keatas yang semulanya 12 peserta didik atau 60% dan pada siklus II meningkat menjadi 18 peserta didik atau 90
% mencapai tingkat ketuntasan.
Dari peningkatan hasil belajar peserta didik yang lebih baik pada siklus II ini dikarenakan dalam kegiatan proses perbaikan pembelajaran menggunakan model problem based learning dalam pembelajaran yang menarik perhatian peserta didik dan sesuai dengan materi pembelajaran.
Selain itu perbaikan juga dilakukan pada metode pengajaran selain metode demonstrasi, seperti ceramah, penugasan, tanya jawab supaya proses pembelajaran tidak monoton dan kelas yang dihadapi menjadikan suasana hidup.
Analisa Data Akhir
Berdasarkan analisa data di atas, dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar peserta didik tersebut karena peneliti dalam melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning dalam pembelajaran, dengan menggunakan model ini ketuntasan hasil belajar peserta didik yang ditunjukkan dengan prosentase ketuntasan meningkat dari 25% menjadi 60 %.
Berdasarkan pengolahan data dan diskusi dengan pengamat dan kepala Sekolah serta pembimbing, untuk menuntaskan hasil belajar peserta didik peneliti mengadakan perbaikan pada siklus II yang hasilnya menunjukkan peningkatan lebih baik lagi, pada perbaikan siklus I dari 20 peserta didik yang mendapat nilai ≥ 70 keatas yang semulanya 12 peserta didik atau 60%
dan padasiklus II meningkat menjadi 18 peserta didik atau 90% mencapai
719 tingkat ketuntasan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, model problem based learning dengan berbagai bentuknya dapat membantu peserta didik untuk lebih mudah belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti khususnya untuk materi yang berkaitan pembahasan shalat berjamaah. Hal ini terbukti dengan pemahaman dan praktek shalat berjamaah semakin baik. Bahkan proses kegiatan belajar peserta didik dapat lebih meningkat dan lebih efisien.
Penggunaan model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII SMPN 9 Amuntai Tahun Pelajaran 2021/2022, hal ini terbukti Hasil tes formatif yang diperoleh peserta didik SMPN 9 Amuntai kelas VII mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dengan materi pokok shalat berjamaah bahwa, pada Pra Siklus dari 20 peserta didik hanya ada 5 peserta didik (25%) saja yang tuntas. Kemudian penulis melakukan perbaikan pembelajaran Siklus I dan hasilnya 12 peserta didik atau 60% yang sudah memenuhi KKM dengan kata lain masih ada 8 peserta didik yang belum tuntas, untuk itu peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran lagi dengan mengadakan Siklus II. Pada siklus II ini hasil tes formatif peserta didik kelas VII meningkat menjadi 18 peserta didik atau 90% yang memenuhi KKM.
Sedangkan 2 peserta didik yang mendapatkan nilai kurang dari 70 dinyatakan tidak tuntas dan perlu dilaksanakan tindak lanjut berupa pemberian tugas.
DAFTAR PUSTAKA
Amir. M. Taufiq. (2013). Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning:
Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Djamarah dan Aswan Zain. (2014). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cpita.
Fathurrohman, Pupuh dan Suryana, Aa. (2012). Guru Profesional. Bandung: PT Refika Aditama.
Sa’ud, Udin Syaefudin. (2011). Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Shoimin, Aris. (2014). Model Pembelajaran Inovatif dalam kurikulum 2013.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Pasal 1 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
. (2003). Undang-Undang Nomor 24 Pasal 1 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Surawan. 2020. Dinamika Dalam Belajar : Sebuah Kajian Psikologi Penelitian.
Yogyakarta : K-Media.