• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menumbuhkan Sikap Anti Korupsi

N/A
N/A
Mayda Allya Putri

Academic year: 2024

Membagikan "Menumbuhkan Sikap Anti Korupsi "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KELOMPOK 5

1. Mayda Allya Putri ( P1337437121042 ) 2. Muhammad Haliq Iqbal Syahbana

( P1337437121076 )

3. Laksha Madya Kanaztrend ( P1337437121001 )

4. Muhammad Indra Wahyu Alamsyah ( P1337437121068 )

5. Natalya Wuri Deana ( P1337437121033 ) 6. Laras Septiani Sri Utami ( P1337437121002 )

Menumbuhkan Sikap Anti Korupsi

(2)

Cara Menumbuhkan Sikap Anti Korupsi

● Aspek Perilaku Individu

● Sikap Masyarakat Terhadap Korupsi

(3)

ASPEK PERILAKU INDIVIDU

1. Sifat tamak / rakus manusia

● Korupsi bukan kejahatan yang hanya kecil-kecilan karena membutuhkan makan. Korupsi bisa terjadi pada orang yang tamak/rakus karena walaupun sudah berkecukupan, tetapi dia masih juga merasa kurang dan mempunyai hasrat besar untuk memperkaya diri.

● Contoh Kasus : Seorang pegawai suatu institusi ditugaskan atasannya untuk menjadi panitia pengadaan barang. Pegawai tersebut memiliki prinsip bahwa kekayaan dapat diperoleh dengan segala cara dan ia harus memanfaatkan kesempatan. Oleh karena itu, ia pun sudah memiliki niat dan mau menerima suap dari rekanan (penyedia barang). Kehidupan mapan keluarganya dan gaji yang lebih dari cukup tidak mampu menghalangi untuk melakukan korupsi.

(4)

2. Moral yang kurang kuat

● Seorang yang moralnya tidak kuat cenderung mudah tergoda untuk melakukan korupsi. Godaan itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat, bawahannya atau pihak lainnya yang memberi kesempatan untuk itu. Moral yang kurang kuat salah satu penyebabnya adalah lemahnya pembelajaran agama dan etika.

● Contoh Kasus : Seorang mahasiswa yang moralnya kurang kuat, mudah terbawa kebiasaan teman untuk menyontek, sehingga sikap ini bisa menjadi benih-benih perilaku korupsi.

(5)

3. Penghasilan yang kurang mencukupi

● Penghasilan seorang pegawai selayaknya memenuhi kebutuhan hidup yang wajar. Apabila hal itu tidak terjadi, seseorang akan berusaha memenuhinya dengan berbagai cara. Akan tetapi, apabila segala upaya yang dilakukan ternyata sulit didapatkan, keadaan semacam ini akan mendorong tindak korupsi, baik korupsi waktu, tenaga, maupun pikiran.

● Menurut teori GONE dari Jack Boulogne, korupsi disebabkan oleh salah satu faktor atau lebih dari keserakahan, kesempatan, kebutuhan, dan kelemahan hukum. Karena adanya tuntutan kebutuhan yang tidak seimbang dengan penghasilan, akhirnya pegawai yang bersangkutan dengan keserakahannya akan melakukan korupsi.

(6)

Seorang tenaga penyuluh kesehatan yang bekerja di suatu puskesmas mempunyai seorang istri dan empat orang anak. Gaji bulanan pegawai tersebut tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Pada saat memberi penyuluhan kesehatan di suatu desa, dia menggunakan kesempatan untuk menambah penghasilan dengan menjual obat obat yang diambil dari puskesmas. Ia berpromosi tentang obat obat tersebut sebagai obat manjur.

Penduduk desa dengan keluguannya mempercayai petugas tersebut.

CONTOH KASUS

(7)

4. Kebutuhan hidup yang mendesak

● Dalam rentang kehidupan ada kemungkinan seseorang mengalami situasi terdesak dalam hal ekonomi. Keterdesakan itu membuka ruang bagi seseorang untuk mengambil jalan pintas, di antaranya dengan melakukan korupsi.

● Contoh Kasus : Seorang bidan membuka jasa aborsi wanita hamil dengan bayaran yang tinggi karena terdesak oleh kebutuhan sehari hari. Disisi lain, suaminya telah di PHK dari pekerjaanya. Tidak ada pilihan lain baginya untuk melakukan malpraktik karena mendapatkan bayaran tinggi kebutuhan hidup yang mendesak. Dalam rentang kehidupan, ada kemungkinan seseorang mengalami situasi terdesak dalam hal ekonomi. Keterdesakan itu membuka ruang bagi seseorang untuk mengambil jalan pintas, di antaranya dengan melakukan korupsi.

(8)

5. Gaya hidup yang konsumtif

● Kehidupan di kota-kota besar sering mendorong gaya hidup seseorang konsumtif atau hedonis. Perilaku konsumtif apabila tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai akan mendorong seseorang untuk melakukan berbagai tindakan guna memenuhi hajatnya. Salah satu kemungkinan tindakan itu adalah dengan korupsi.

● Contoh Kasus : Seorang perawat sebuah rumah sakit berbaur dengan kelompok ibu-ibu modis yang senang berbelanja barang- barang mahal. Perawat tersebut berusaha mengimbangi. Karena penghasilan perawat tersebut kurang, ia pun coba memanipulasi sisa obat pasien untuk dijual kembali, sedangkan kepada rumah sakit ia melaporkan bahwa obat tersebut habis digunakan

(9)

6.Tidak menerapkan ajaran agama

Agama dan pendidikan agama memegang peranan penting dalam memerangi korupsi, mengingat korupsi merupakan refleksi dari lemahnya integritas individu, dan

agama berorientasi mencetak manusia-manusia berhati mulia dan bermoral tinggi.

Semakin tinggi tingkat ketaatan beragama seorang

pegawai, maka akan semakin rendah tingkat perilaku korupsi.

Sebaliknya, semakin rendah tingkat ketaatan beragama pegawai, maka akan semakin tinggi tingkat perilaku korupsi

(10)

7. Malas atau Tidak Mau Bekerja

Sebagian orang ingin mendapatkan hasil dari sebuah pekerjaan tanpa keluar keringat atau malas bekerja. Sifat semacam ini akan berpotensi melakukan tindakan apapun dengan cara mudah dan cepat

diantaranya adalah dengan melakukan korupsi.

(11)

SIKAP MASYARAKAT TERHADAP KORUPSI

Sikap masyarakat terhadap perbuatan korupsi berupa sikap tidak simpati sampai dengan sikap antipati. Korupsi bersifat merugikan negara dan masyarakat, melemahkan sendi-sendi kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Korupsi dilakukan oleh orang, kelompok orang, pihak tertentu yang memperkaya diri, mencelakai kehidupan masyarakat, dan melemahkan solidaritas sosial karena menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi yang makin besar di masyarakat.

Sikap masyarakat juga dapat menyuburkan tindakan korupsi, di antaranya sebagai berikut.

1) Masyarakat enggan menelusuri asal usul pemberian.

2) Masyarakat menganggap wajar kekayaan seseorang.

3) Masyarakat tidak menyadari bahwa yang dilakukannya juga termasuk korupsi karena kerugian yang ditimbulkan tidak secara langsung.

4) Dampak korupsi tidak kelihatan secara langsung sehingga masyarakat tidak merasakan kerugian.

5) Masyarakat memandang wajar hal-hal umum yang menyangkut kepentingannya.

(12)

Berdasarkan Penelitian yang dilakukan mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret tentang “Pemahaman Masyarakat Tentang Korupsi” menyatakan :

Respon masyarakat terhadap perbuatan korupsi menunjukkan 72,1% yang menyatakan bahwa perbuatan korupsi diyakini merugikan masyarakat dan menguras kekayaan negara. Oleh karena itu dinyatakan :

a. Tindakan korupsi harus dihukum seberat-beratnya.

b. Responden menyatakan ‘siap’ mendukung pemerintah dalam memberantas korupsi

c. Responden bersedia membantu pemerintah asal mendapat jaminan perlindungan

d. Responden tidak melakukan perbuatan berbau korupsi dalam kehidupan sehari-hari

e. Menanamkan pada keluarga (dan anak-anak) untuk selalu berbuat jujur

f. Responden dan masyarakatnya bersedia membantu menanggulangi korupsi.

(13)

TERIMAKASIH

Referensi

Dokumen terkait

( korruptie ). Kemudian menjadi kata korupsi dalam bahasa Indonesia. 51 Secara etimologi, korupsi bermakna orang yang memiliki kekuasaan berkeinginan melakukan kecurangan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sikap love of money (kecintaan pada uang) dengan persepsi anti korupsi pada pegawai birokrasi daerah

Penelitian ini membahas peran guru Pendidikan Agama Islam dalam menumbuhkan karakter anti korupsi dari siswa SMKN 1 Salatiga pada tahun akademik 2014/2015. Hal

Namun tidak sedikit pula orang melakukan tindakan korupsi karena didorong oleh sifat serakah dan ingin menumpuk numpuk harta, padahal gaji yang diberikan kepadanya

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sikap love of money (kecintaan pada uang) dengan persepsi anti korupsi pada pegawai birokrasi daerah

5.  Kami sebagai elemen bangsa berusaha sekuat tenaga menciptakan Indonesia bersih, bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN), bersih dari pelemahan sistem hukum, bersih

Budaya anti korupsi yang ada di sekolah akan mampu menjadikan peserta didik mempunyai karakter anti korupsi dan melalui penanaman karakter tersebut akan menjadi cara

Penulis menilai Perguruan Tinggi disini memiliki peran yang sentral dalam hal pencegahan tindak pidana korupsi, terutama dalam menumbuhkan budaya anti korupsi, peningkatan kesadaran