See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/363889383
METODOLOGI PENELITIAN KEPERAWATAN
Book · September 2022
CITATIONS
171
READS
11,114 1 author:
Nursyamsi N.L Politeknik Sandi Karsa 13PUBLICATIONS 248CITATIONS
SEE PROFILE
METODOLOGI PENELITIAN
KEPERAWATAN
P E N U L I S
Ira Kusumawaty
Viyan Septiyana Achmad Daniel Suranta Ginting Yunike
Yunita Liana Diyan Indriyani Wiwin Martiningsih Solehudin
Nur Syamsi Norma Lalla
METODOLOGI PENELITIAN KEPERAWATAN
Ira Kusumawaty Viyan Septiyana Achmad
Daniel Suranta Ginting Yunike
Yunita Liana Diyan Indriyani Wiwin Martiningsih
Solehudin
Nur Syamsi Norma Lalla
PT GLOBAL EKSEKUTIF TEKNOLOGI
METODOLOGI PENELITIAN KEPERAWATAN
Rantika Maida Sahara, S.Tr.Kes.
Penyunting : Aulia Syaharani, S.Tr.Kes.
Penulis : Ira Kusumawaty Viyan Septiyana Achmad
Daniel Suranta Ginting Yunike Yunita Liana Diyan Indriyani Wiwin Martiningsih
Solehudin Nur Syamsi Norma Lalla ISBN : 978-623-8004-26-3 Editor : Dr. Neila Sulung, S.Pd., Ns., M.Kes.
Desain Sampul dan Tata Letak : Handri Maika Saputra, S.ST Penerbit : PT GLOBAL EKSEKUTIF TEKNOLOGI
Anggota IKAPI No. 033/SBA/2022 Redaksi :
Jl. Pasir Sebelah No. 30 RT 002 RW 001 Kelurahan Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah
Padang Sumatera Barat
Website : www.globaleksekutifteknologi.co.id Email : [email protected]
Cetakan pertama, September 2022 Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan buku yang berjudul Metodologi Penelitian Keperawatan.
Buku ini diharapkan dapat membantu pembaca memahami teori Metodologi Penelitian Keperawatan, sehingga mereka dapat mengaplikasikan ilmunya. Semoga buku ini dapat memberikan sumbangsih bagi kepustakaan di Indonesia dan bermanfaat bagi kita semua.
Penulis, 2022
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN PENELITIAN KEPERAWATAN ... 1
1.1 Perspektif Penelitian Keperawatan ... 1
1.2 Nursing Research Perspective? ... 1
1.3 Pentingnya Penelitian dalam Keperawatan ... 2
1.4 Kontinum Konsumen-Produsen Dalam Penelitian Keperawatan ... 3
1.5 Sumber Bukti Untuk Praktik Keperawatan ... 5
1.6 Tradisi ... 5
1.7 Otoritas ... 6
1.8 Pengalaman Klinis, Trial and Error, dan Intuisi... 6
1.9 Penalaran Logis ... 7
1.10 Informasi yang Dikumpulkan ... 8
1.11 Penelitian Suatu Disiplin Ilmu ... 8
1.12 Paradigma Penelitian Keperawatan ... 9
1.13 Paradigma Positivisme ... 9
1.14 Paradaigma naturalistic... 10
1.15 Paradigma dan Metode (Kuantitatif dan Kualitatif ... 11
1.16 Prosedur ... 12
1.17 Metode Naturallistik dan Penelitian Kualitatif ... 14
1.18 Beberapa Paradigma dan Riset Keperawatan ... 15
1.19 Tujuan Penelitian Keperawatan ... 17
1.20 Poin Ringkasan ... 18
BAB 2 JENIS-JENIS PENELITIAN... 24
2.1 Ditinjau dari Tujuan Penelitian ... 24
2.2 Ditinjau dari Karakteristik Masalah ... 25
2.3 Ditinjau dari Jenis Data ... 26
2.5 Ditinjau dari Pendekatan Waktu Pengumpulan Data ... 28
2.6 Ditinjau dari Analisis Hubungan Antar Variabel ... 29
2.7 Ditinjau dari Ada Tidaknya Intervensi ... 30
BAB 3 LANGKAH – LANGKAH PENELITIAN ... 33
3.1 Pendahuluan ... 33
3.2 Fenomena, Konsep, dan Konstruksi ... 35
3.3 Teori dan Model Konseptual ... 35
3.4 Variabel ... 36
3.5 Variabel Dependen dan Independen ... 37
3.6 Definisi Konseptual dan Operasional ... 38
3.7 Data ... 39
3.8 Hubungan... 40
3.9 Langkah Utama Dalam Studi Kuantitatif ... 41
3.9.1 Mengidentifikasi Masalah Penelitian ... 49
3.9.3 Melakukan Tinjauan Literatur ... 50
3.9.3 Mengatasi Masalah Etis ... 50
3.9.3 Melakukan Studi Kualitatif ... 50
BAB 4 MENYUSUN LANDASAN TEORI ... 54
4.1 Pendahuluan ... 54
4.2 Penelitian Keperawatan ... 55
4.2.1 Definisi Penelitian Keperawatan ... 55
4.2.2 Tujuan Penelitian Keperawatan ... 55
4.2.3 Peran Perawat dalam Penelitian ... 55
4.2.4 Proses Penelitian ... 56
4.3 Menyusun Landasan Teori ... 57
4.3.1 Definisi Landasan Teori ... 57
4.3.2 Macam – macam Teori dalam Penelitian ... 57
4.3.3 Fungsi Teori dalam Peneltian ... 58
4.3.4 Langkah – Langkah mendeskripsikan Teori ... 58
4.3.5 Langkah – Langkah Membuat Telaah Pustaka atau Tinjauan Pustaka ... 58
4.4 Kerangka Teori ... 59
4.4.1 Definisi Kerangka Teori... 59
4.4.2 Tujuan dan Kriteria Kerangka Teori ... 59
4.5 rangkuman ... 60
BAB 5 MERUMUSKAN HIPOTESIS ... 63
5.1 Pendahuluan ... 63
5.2 Pengertian Hipotesis Penelitian ... 64
5.3 Tujuan dan Fungsi Hipotesis ... 65
5.4 Jenis-Jenis Hipotesis ... 66
5.5 Syarat Hipotesis ... 70
5.6 Merumuskan Hipotesis Penelitian ... 70
5.6.1 Melakukan observasi tentang suatu topik atau masalah. ... 71
iv
5.6.2 Membuat daftar masalah yang akan diteliti. ... 71
5.6.3 Merumuskan hipotesis. ... 72
5.6.4 Memastikan Hipotesis Dapat diuji ... 72
5.7 Uji Hipotesis ... 72
BAB 6 VARIABEL PENELITIAN ... 81
6.1 Pendahuluan ... 81
6.2 Pengertian Variabel Penelitian ... 82
6.3 Karakteristik Variabel Penelitian ... 83
6.4 Klasifikasi Variabel Penelitian ... 83
6.5 Tiga Kemungkinan Pola Hubungan Antar Variabel ... 97
6.6 Hubungan Antar Variabel ... 98
6.7 Cara Menentukan Variabel Penelitian ... 100
6.7.1 Tentukan Permasalahan Utama ... 100
6.7.2 Tentukan Variabel Bebas ... 101
6.7.3 Riset Teori ... 101
6.7.4 Tentukan Kelayakan ... 101
6.8 Manfaat Variabel Penelitian ... 101
6.9 Cara Membuat Variabel Penelitian ... 102
6.10 Penutup ... 103
BAB 7 INSTRUMEN PENELITIAN ... 106
7.1 Pendahuluan ... 106
7.2 Perijinan Penggunaan Instrumen Penelitian ... 107
7.3 Jenis-Jenis Instrumen Penelitian ... 108
7.4 Metode Pengembangan Instrumen Penelitian ... 112
7.5 Alasan Peneliti Mengembangkan Kuesioner ... 115
7.6 Kesimpulan ... 116
BAB 8 PENGOLAHAN DATA PENELITIAN ... 118
8.1 Pendahuluan ... 118
8.2 Pengertian Pengolahan Data ... 118
8.3 Tahapan Pengolahan Data ... 120
8.4 Analisis Data ... 124
8.4.1 Pengertian Analisis Data ... 124
8.4.2 Jenis-Jenis Analisis Data ... 125
BAB 9 MENARIK KESIMPULAN ... 130
9.1 Pendahuluan ... 130
9.2 Pengertian ... 130
9.3 Syarat Kesimpulan ... 132
9.4 Ciri Kesimpulan ... 133
9.5 Metode menarik kesimpulan ... 134
9.5.1 Metode Generalisasi ... 134
9.5.2 Metode Analogi ... 134
9.5.3 Metode Korelasi ... 135
9.6 Jenis Menarik kesimpulan ... 135
9.6.1 Perbandingan (Comparison) ... 135
9.6.2 Sebab-Akibat (Causation) ... 135
9.6.3 Penilaian (Assessments) ... 135
9.6.4 Rekomendasi (Recommendation) ... 136
9.6.5 Prediksi (Prediction) ... 136
9.6.6 Keyakinan Sederhana (Simple Beliefs) ... 136
9.7 Cara membuat kesimpulan yang baik dan benar ... 136
9.8 Hal-hal yang Harus dihindari dalam membuat kesimpulan ... 137
9.9 Penutup ... 138 BIODATA PENULIS
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 6.1 : Posisi Variabel Independent dan variable
dependen ... 89 Gambar 6.2 : Posisi Variabel Modetaor Dalam Penelitian... 91 Gambar 6.3 : posisi variable Intervening/Mediating ... 92 Gambar 6.4 : Posisi Variable Confounding Dalam
Penelitian ... 94 Gambar 6.5 : Kesimpulan Hubungan Antar Variabel
Dalam Penelitian ... 97 Gambar 8.1 : Data Cleaning ... 123 Gambar 8.2 : Data Tabulasi ... 124
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 : Contoh tabel 2 x 2 ... 75 Tabel 5.2 : Pemilihan uji hipotesis komparatif kategorik ... 75 Tabel 5.3 : Interval koefisien (r) dan Kekuatan hubungan ... 76
Ira Kusumawaty 1
BAB 1
PENDAHULUAN PENELITIAN KEPERAWATAN
Oleh Ira Kusumawaty
1.1 Perspektif Penelitian Keperawatan
Perawat mengelola tanggung jawab klinis mereka pada saat profesi keperawatan dan sistem perawatan kesehatan yang lebih besar membutuhkan berbagai keterampilan luar biasa dan bakat.
Perawat diharapkan dapat memberikan pelayanan berkualitas tertinggi dengan mengutamakan caring yang penuh kasih, sementara juga tetap memperhatikan keterjangkauan biaya. Untuk mencapai keragaman tujuan ini (dan terkadang bertentangan), perawat harus mengakses dan mengevaluasi informasi klinis yang luas, dan menggabungkannya ke dalam pengambilan keputusan klinis mereka(Munhall, 2012; Nieswiadomy & Bailey, 2017). Di dunia saat ini, perawat harus menjadi pembelajar seumur hidup, mampu merefleksikan, mengevaluasi, dan memodifikasi praktik klinis mereka berdasarkan pengetahuan baru. Perawat semakin diharapkan menjadi produsen pengetahuan baru melalui penelitian keperawatan.
1.2 Nursing Research Perspective?
Penelitian adalah penyelidikan sistematis yang menggunakan disiplin metode untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah(McEwen, Melaine; Willis, 2011a; Polit, Denise F; Tatano Beck, 2006; Watson, 2013). Tujuan akhir dari penelitian yaitu mengembangkan, menyempurnakan, dan memperluas tubuh pengetahuan. Perawat semakin terlibat dalam studi disiplin ilmu yang bermanfaat bagi profesi dan pasiennya, serta berkontribusi pada perbaikan secara keseluruhan sistem perawatan kesehatan. Penelitian keperawatan bersifat penyelidikan sistematis yang dirancang untuk mengembangkan pengetahuan tentang masalah penting bagi profesi keperawatan,
meliputi praktik keperawatan, pendidikan, administrasi, dan informatika. Contohnya, penelitian keperawatan klinis, yaitu penelitian yang dirancang untuk menghasilkan pengetahuan untuk memandu praktiksi keperawatan dan untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas kehidupan klien dan perawat.
Penelitian keperawatan telah mengalami pertumbuhan pengalaman yang luar biasa dalam tiga dekade terakhir, menyediakan perawat dengan basis pengetahuan yang semakin kuat agar terlatih(McEwen & Wills, 2014). Namun saat kita melanjutkan ke abad 21, banyak pertanyaan bertahan dan banyak yang tersisa sehingga harus dilakukan untuk menggabungkan pengetahuan berbasis penelitian ke dalam praktik keperawatan.
1.3 Pentingnya Penelitian dalam Keperawatan
Perawat semakin diharapkan untuk mengadopsi praktik berbasis bukti (EBP-Evidence Based Practise), yang secara luas didefinisikan sebagai penggunaan bukti klinis terbaik dalam membuat keputusan perawatan pasien. Meskipun bukan konsensus tentang jenis "bukti" apa yang sesuai untuk EBP, ada kesepakatan umum bahwa temuan penelitian dari studi yang ketat merupakan jenis bukti terbaik untuk menginformasikan keputusan, tindakan, dan interaksi dengan klien. Perawat menerima kebutuhan untuk mendasarkan tindakan keperawatan spesifik dan keputusan atas bukti yang menunjukkan bahwa tindakan tersebut sesuai secara klinis, hemat biaya, dan memberikan hasil yang positif bagi klien(Munhall, 2012; Nieswiadomy & Bailey, 2017).
Perawat yang menggabungkan bukti penelitian berkualitas tinggi kedalam keputusan dan saran klinis artinya mereka sedang bertanggung jawab secara profesional kepada klien. Mereka juga memperkuat identitas keperawatan sebagai profesi. Alasan lain bagi perawat untuk terlibat dan menggunakan penelitian adalah melonjaknya biaya perawatan dan kesehatan sehingga diperlukan penelitian untuk mengendalikan biaya di fasilitas pelayanan kesehatan. Saat ini, perawat perlu mendokumentasikan relevansi sosial dan efektivitas praktik mereka, tidak hanya untuk profesi tetapi untuk konsumen perawatan, administrator kesehatan perawatan, pembayar pihak ketiga (misalnya, asuransi
Ira Kusumawaty 3 perusahaan), dan instansi pemerintah. Beberapa temuan penelitian akan membantu menghilangkan tindakan keperawatan yang tidak mencapai hasil yang diinginkan.
Temuan lain akan membantu perawat mengidentifikasi praktik yang meningkatkan hasil perawatan kesehatan dan membahas aspek pembiayaan. Penelitian keperawatan sangat penting jika perawat ingin memahami berbagai dimensi profesi mereka. Penelitian memungkinkan perawat untuk menggambarkan karakteristik situasi keperawatan tertentu tentang berbagai hal yang masih sedikit diketahui; untuk menjelaskan fenomena yang harus diperhatikan dalam merencanakan asuhan keperawatan;
memprediksi kemungkinan hasil keperawatan tertentu yang mempengaruhi pengambilan keputusan; untuk mengontrol terjadinya hasil yang tidak diinginkan; dan untuk memulai kegiatan dalam mempromosikan perilaku klien sesuai keinginan(McEwen &
Wills, 2014; Polit, Denise F; Tatano Beck, 2006).
1.4 Kontinum Konsumen-Produsen Dalam Penelitian Keperawatan
Dengan penekanan saat ini pada EBP, telah menjadi tanggung jawab setiap perawat untuk terlibat dalam satu atau lebih peran sepanjang kontinum partisipasi penelitian. Pada salah satu ujung kontinum adalah perawat-perawat dengan keterlibatannya dalam penelitian secara tidak langsung. Konsumen dari penelitian keperawatan membaca laporan penelitian untuk dikembangkan menjadi keterampilan baru dan untuk tetap up to date pada temuan yang relevan untuk mempengaruhi praktik mereka.
Perawat semakin diharapkan untuk mempertahankan tingkat keterlibatannya dalam penelitian. Pemanfaatan penelitian, penggunaan temuan penelitian dalam pengaturan praktik tergantung pada konsumen riset keperawatan yang cerdas. Di ujung lain kontinum adalah produsen penelitian keperawatan yaitu perawat yang aktif berpartisipasi dalam merancang dan mengimplementasikan hasil temuan penelitian(Wayan, 2006;
Yunike; Ira Kusumawaty, 2021). Pada suatu waktu, sebagian besar peneliti perawat akademisi yang mengajar di sekolah keperawatan,
tapi penelitian semakin banyak dilakukan perawat terlatih yang ingin memberikan yang terbaik untuk pasien mereka.
Di antara dua titik akhir ini pada kontinum terletak berbagai macam kegiatan penelitian, perawat terlibat sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas mereka dan meningkatkan kehidupan profesional mereka. Kegiatan tersebut antara lain:
Berpartisipasi dalam klub jurnal dalam pengaturan latihan, yang melibatkan pertemuan rutin antara perawat untuk mendiskusikan dan mengkritik artikel penelitian
Menghadiri presentasi penelitian di konferensi professional
Membahas implikasi dan relevansi temuan penelitian bersama klien
Memberikan informasi dan saran kepada klien tentang partisipasi dalam studi
Membantu dalam pengumpulan informasi dalam penelitian (misalnya, menyebarkan kuesioner kepada pasien)
Meninjau rencana penelitian yang diusulkan sehubungan dengan kelayakannya dalam pengaturan klinis dan menawarkan keahlian klinis untuk meningkatkan rencana penelitian.
Berkolaborasi dalam pengembangan ide untuk proyek penelitian klinis
Berpartisipasi dalam komite kelembagaan yang meninjau aspek etika dari penelitian yang diusulkan sebelum dilakukan
Mengevaluasi penelitian yang telah selesai untuk kemungkinannya digunakan dalam praktik.
Dalam semua kegiatan ini, perawat dengan beberapa keterampilan penelitian berada dalam posisi yang lebih baik daripada tanpa mereka untuk memberikan kontribusi terkait pengetahuan keperawatan. Pemahaman tentang riset keperawatan dapat meningkatkan kedalaman dan keluasan setiap perawat praktik profesional(Pusa et al., 2022; Schroeder et al., 2020).
Ira Kusumawaty 5
1.5 Sumber Bukti Untuk Praktik Keperawatan
Mahasiswa keperawatan diajari cara terbaik untuk berlatih keperawatan, dan pembelajaran praktik terbaik terus berlanjut sepanjang karir perawat. Beberapa dari apa yang siswa dan perawat belajar didasarkan pada penelitian sistematis, tetapi sebagian besar tidak. Faktanya Millenson (1997) dalam (Achirudin Saleh, 2018) memperkirakan bahwa 85% dari praktik perawatan kesehatan belum divalidasi secara ilmiah. Praktik keperawatan klinis bergantung pada kolase dari sumber informasi yang bervariasi dalam ketergantungan dan keabsahan. Semakin banyak diskusi tentang bukti hierarki yang mengakui hal itu menjadi bukti bahwa pengetahuan lebih unggul daripada yang lain.
1.6 Tradisi
Banyak pertanyaan terjawab dan masalah terpecahkan berdasarkan adat atau tradisi yang diwariskan. Di dalam setiap budaya, "kebenaran" tertentu diterima sebagai yang diberikan.
Contohnya, sebagai warga masyarakat demokratis, kebanyakan dari kita menerima, tanpa bukti, bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan tertinggi. Jenis pengetahuan ini sering menjadi bagian dari warisan kita bahwa beberapa dari kita mencari verifikasi. Tradisi menawarkan beberapa keuntungan. Efisiensi sebagai sumber informasi setiap individu tidak diperlukan untuk memulai lagi dalam upaya untuk memahami dunia atau aspek- aspek tertentu. Tradisi atau kebiasaan juga memfasilitasi komunikasi dengan menyediakan dasar kebenaran yang diterima.
Namun demikian, tradisi menimbulkan beberapa masalah karena banyak tradisi tidak pernah dievaluasi keabsahannya. Memang, menurut sifatnya, tradisi dapat mengganggu kemampuan untuk memahami alternatif. Penelitian Walker (1967) tentang praktik ritualistik dalam keperawatan menyarankan bahwa beberapa praktik keperawatan tradisional, seperti pengambilan secara rutin terhadap suhu, denyut nadi, dan pernapasan, mungkin disfungsional(McEwen, Melaine; Willis, 2011a; Polit, Denise F;
Tatano Beck, 2006). Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa banyak Intervensi keperawatan didasarkan pada tradisi, kebiasaan, dan "unit budaya " daripada berbasisbukti.
1.7 Otoritas
Dalam masyarakat kita yang kompleks, ada otoritas orang- orang dengan keahlian khusus—di setiap bidang. Kita terus- menerus dihadapkan pada pengambilan keputusan tentang berbagai hal yang kelompok yang tidak memiliki pengalaman langsung; oleh karena itu, tampaknya wajar untuk menaruh kepercayaan kita pada penilaian orang-orang yang berpengalaman pada suatu masalah berdasarkan pelatihan atau pengalaman khusus (Pace, Judith L; Hemmings, 2006). Sebagai sumber pemahaman, bagaimanapun, otoritas memiliki kekurangan. Pihak berwenang tidak sempurna, khususnya jika keahlian mereka didasarkan terutama pada pengalaman pribadi; namun, seperti tradisi, pengetahuan mereka sering berjalan tak tertandingi.
Meskipun praktik keperawatan akan menggelepar jika setiap nasihat dari keperawatan pendidik ditantang oleh siswa, pendidikan keperawatan tidak akan lengkap jika siswa tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan seperti: Bagaimana otoritas (instruktur) mengetahui? Apa buktinya? apakah yang saya pelajari itu valid?
1.8 Pengalaman Klinis, Trial and Error, dan Intuisi
Pengalaman klinis sendiri mewakili pengalaman yang familiar dan sumber fungsional pengetahuan. Kemampuan untuk menggeneralisasi, mengenali keteraturan, dan membuat prediksi berdasarkan pengamatan adalah karakteristik penting pikiran manusia. Meskipun sudah jelas nilai keahlian klinisnya, seseorang memiliki keterbatasan sebagai salah satu jenis barang bukti(Pace, Judith L; Hemmings, 2006). Pertama, pengalaman masing-masing individu terbatas. Seorang perawat mungkin memperhatikan, untuk contoh, bahwa dua atau tiga pasien jantung mengikuti pola tidur pasca operasi yang serupa.
Pengamatan ini dapat menyebabkan beberapa penemuan menarik dengan implikasi untuk intervensi keperawatan, tetapi apakah satu? pengamatan perawat membenarkan perubahan luas dalam asuhan keperawatan? Keterbatasan pengalaman kedua adalah bahwa peristiwa objektif yang sama biasanya dialami atau
Ira Kusumawaty 7 dirasakan berbeda oleh dua individu. Terkait dengan pengalaman klinis adalah metode coba-coba.
Dalam pendekatan ini, alternatifnya adalah mencoba berturut-turut sampai solusi untuk masalah ditemukan. Sebagai contoh, banyak pasien tidak menyukai rasa kalium klorida larutan.
Perawat mencoba menyamarkan rasa pengobatan dengan berbagai cara sampai satu metode memenuhi dengan persetujuan pasien.
Trial and error mungkin menawarkan sarana praktis untuk mengamankan pengetahuan, tetapi itu bisa menjadi salah.
Metode ini serampangan, dan pengetahuan yang diperoleh sering tidak tercatat dan, karenanya, tidak dapat diakses dalam situasi klinis berikutnya. Akhirnya, intuisi adalah jenis pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan atas dasar penalaran atau sebelumnya petunjuk. Meskipun intuisi dan firasat tidak diragukan lagi memainkan peran dalam praktik keperawatan seperti yang mereka lakukan dalam melakukan penelitian, sulit untuk mengembangkan kebijakan dan praktik untuk perawat atas dasar intuisi.
1.9 Penalaran Logis
Solusi untuk banyak masalah yang membingungkan dikembangkan oleh proses berpikir logis (Puji, n.d.; Yunike;
Kusumawaty, Ira; Ramadhanti, 2022). Penalaran logis sebagai metode mengetahui menggabungkan pengalaman, intelektual, dan sistem formal pikiran. Penalaran induktif adalah proses mengembangkan generalisasi dari pengamatan khusus. Misalnya, seorang perawat dapat mengamati perilaku kecemasan (khusus) anak-anak yang dirawat di rumah sakit dan menyimpulkan bahwa (secara umum) pemisahan anak-anak dari orang tua mereka menimbulkan stres.
Penalaran deduktif adalah proses mengembangkan prediksi spesifik dari prinsip-prinsip umum (Yunike; Kusumawaty, Ira;
Ramadhanti, 2022). Misalnya, jika kita berasumsi bahwa Kecemasan perpisahan terjadi pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit (secara umum), maka kita dapat memprediksi bahwa (khusus) anak-anak di Rumah Sakit yang orang tuanya tidak room- in akan menunjukkan gejala stres. Kedua sistem penalaran ini
berguna sebagai sarana pemahaman dan pengorganisasian fenomena, dan keduanya berperan dalam penelitian keperawatan.
Namun, penalaran dengan sendirinya terbatas karena validitasnya penalaran tergantung pada keakuratan informasi (atau premis) yang dengannya seseorang memulai, dan penalaran mungkin menjadi dasar yang tidak memadai untuk mengevaluasi ketepatan.
1.10 Informasi yang Dikumpulkan
Dalam membuat keputusan klinis, profesional perawatan kesehatan juga mengandalkan informasi yang telah dirakit untuk berbagai tujuan (Sitinjak et al., 2019; Sumiyarrini et al., 2017).
Sebagai contoh, benchmarking lokal, nasional, dan internasional data memberikan informasi tentang isu-isu seperti tingkat penggunaan berbagai prosedur (misalnya, tingkat persalinan sesar) atau tingkat infeksi (misalnya, pneumonia nosokomial), dan dapat berfungsi sebagai panduan dalam mengevaluasi praktik klinis. Data biaya yaitu, informasi tentang biaya yang terkait dengan prosedur, kebijakan, atau praktik tertentu kadang-kadang digunakan sebagai faktor dalam pengambilan keputusan klinis.
Peningkatan kualitas dan data risiko, seperti laporan kesalahan pengobatan dan bukti tentang insiden dan prevalensi kerusakan kulit, dapat digunakan untuk menilai praktik dan menentukan kebutuhan akan perubahan praktik. Sumber-sumber seperti itu, meskipun menawarkan beberapa informasi yang dapat digunakan dalam praktik, berikan mekanisme untuk menentukan apakah memberikan perbaikan hasil pasien dalam penggunaannya.
1.11 Penelitian Suatu Disiplin Ilmu
Penelitian yang dilakukan dalam format disiplin ilmu adalah metode paling canggih untuk memperoleh bukti yang telah dikembangkan manusia (Tedersoo et al., 2021). Penelitian perawatan menggabungkan aspek penalaran logis dengan fitur lain untuk membuat bukti bahwa, meskipun bisa salah, cenderung lebih dapat diandalkan daripada metode lain untuk memperoleh pengetahuan. Penekanan saat ini pada kesehatan berbasis bukti perawatan membutuhkan perawat untuk mendasarkan praktik klinis mereka untuk sejauh mungkin pada temuan berbasis
Ira Kusumawaty 9 penelitian bukan pada tradisi, otoritas, intuisi, atau pengalaman pribadi. Temuan dari investigasi penelitian yang ketat dianggap berada di puncak hierarki bukti untuk menetapkan sebuah EBP.
1.12 Paradigma Penelitian Keperawatan
Paradigma adalah pandangan dunia, perspektif umum pada kompleksitas dunia nyata. Paradigma untuk penyelidikan manusia sering dicirikan dalam istilah dari cara-cara di mana mereka menanggapi filosofi dasar pertanyaan:
Ontologis: Apa hakikat realitas?
Epistemologis: Apa hubungan antara penanya dan yang sedang dipelajari?
Aksiologis: Apa peran nilai dalam penyelidikan?
Metodologis: Bagaimana seharusnya penanya memperoleh pengetahuan?
Penyelidikan disiplin dalam bidang keperawatan dilakukan terutama dalam dua paradigma yang luas, keduanya memiliki legitimasi untuk penelitian keperawatan(Nursalam, 2013; Wayan, 2006). Bagian ini menjelaskan dua paradigma alternatif dan menguraikan metodologi yang terkait.
1.13 Paradigma Positivisme
Salah satu paradigma untuk penelitian keperawatan dikenal sebagai positivisme. Positivisme berakar pada pemikiran abad ke- 19, dipandu oleh para filsuf seperti Comte, Mill, Newton, dan Locke.
Positivisme adalah refleksi dari fenomena budaya lebih luas yang dalam humaniora, disebut sebagai modernisme, menekankan rasionalitas dan ilmiah. Meskipun pemikiran positivis yang ketat, kadang-kadang disebut sebagai positivisme logis, telah ditantang dan dirusak, posisi positivis yang dimodifikasi tetap ada kekuatan dominan dalam penelitian ilmiah(The Role Of The Research Nurse, 2015).
Asumsi ontologis mendasar dari positivis adalah bahwa ada kenyataan yang bisa terjadi dipelajari dan diketahui (sebuah asumsi mengacu pada prinsip dasar yang diyakini benar tanpa pembuktian atau verifikasi). Penganut pendekatan positivis
menganggap bahwa alam pada dasarnya teratur dan bahwa realitas objektif ada secara independent dari pengamatan manusia. Dengan kata lain, dunia diasumsikan bukan hanya ciptaan dari pikiran manusia.
Asumsi terkait determinisme mengacu pada keyakinan bahwa fenomena tidak serampangan atau peristiwa acak melainkan memiliki anteseden penyebab. Jika seseorang mengalami kecelakaan serebrovaskular, ilmuwan dalam tradisi positivis berasumsi bahwa pasti ada satu atau lebih alasan yang bisa berpotensi diidentifikasi dan dipahami. Banyak dari aktivitas di mana seorang peneliti dalam paradigma positivis terlibat diarahkan untuk memahami penyebab yang mendasari fenomena alam. Karena keyakinan mendasar mereka pada suatu tujuan realitas, positivis berusaha untuk menjadi seobjektif mungkin dalam pencarian pengetahuan. Upaya positivis untuk menahan keyakinan dan bias pribadi mereka sejauh mungkin selama penelitian untuk menghindari kontaminasi fenomena yang sedang diselidiki. Pendekatan ilmiah positivis melibatkan penggunaan prosedur yang tertib dan disiplin yang dirancang untuk menguji firasat peneliti tentang sifat fenomena dipelajari dan hubungan diantara mereka.
1.14 Paradaigma naturalistic
Paradigma naturalistik dimulai sebagai gerakan tandingan positivisme dengan penulis seperti Weber dan Kant. Sama seperti positivisme mencerminkan budaya fenomena modernisme yang berkembang di bangun dari revolusi industri, naturalisme adalah sebuah hasil dari transformasi budaya yang meresap yang biasa disebut dengan postmodernisme(Frey, 1994). Pemikiran postmodern menekankan nilai dekonstruksi yaitu, membongkar ide-ide lama dan struktur, dan rekonstruksi yaitu, menempatkan ide-ide dan struktur bersama-sama dalam cara-cara baru.
Paradigma naturalistik merupakan alternatif utama sistem untuk melakukan penelitian dalam disiplin keperawatan.
Untuk peneliti naturalistik, realitas bukanlah sebuah entitas tetap melainkan konstruksi individu yang berpartisipasi dalam penelitian; kenyataan itu ada dalam konteks, dan mungkin banyak
Ira Kusumawaty 11 konstruksi. Naturalis dengan demikian mengambil posisi relativisme: jika selalu ada banyak interpretasi tentang kenyataan yang ada di pikiran orang, maka tidak ada proses dimana kebenaran atau kepalsuan akhir dari konstruksi dapat ditentukan.
Secara epistemologis, paradigma naturalistik mengasumsikan bahwa pengetahuan dimaksimalkan ketika jarak antara penanya dan peserta dalam penelitian diminimalkan. Suara dan interpretasi mereka yang sedang dipelajari sangat penting untuk dipahami fenomenanya yang menarik, dan interaksi subjektif adalah cara utama untuk mengaksesnya. Temuan dari penyelidikan naturalistik adalah produk dari interaksi antara penanya dan para partisipan.
1.15 Paradigma dan Metode (Kuantitatif dan Kualitatif
Secara garis besar, metode penelitian adalah teknik yang digunakan oleh peneliti untuk menyusun studi dan untuk mengumpulkan serta menganalisis informasi yang relevan dengan pertanyaan penelitian. Dua paradigma alternatif memiliki implikasi yang kuat untuk metode penelitian. Perbedaan metodologis biasanya berfokus pada perbedaan antara kuantitatif penelitian, yang paling erat bersekutu dengan positivis tradisi, dan penelitian kualitatif, yaitu paling sering dikaitkan dengan penyelidikan naturalistic, meskipun positivis terkadang terlibat dalam kualitatif studi, dan peneliti naturalistik terkadang mengumpulkan informasi kuantitatif.
Bagian ini menyediakan gambaran umum tentang metode yang terkait dengan paradigma. “Metode Ilmiah” dan Penelitian kuantitatif“Metode ilmiah” tradisional dan positivis mengacu pada seperangkat prosedur yang teratur dan disiplin yang digunakan untuk memperoleh informasi(Kreativitas & Pada, 2018). Peneliti kuantitatif menggunakan penalaran deduktif untuk menghasilkan firasat yang diuji di dunia nyata. Mereka biasanya bergerak secara teratur dan sistematis dari definisi masalah dan pilihan konsep yang menjadi fokus, melalui desain studi dan pengumpulan informasi, untuk solusi masalah. Dengan sistematis, penelitian berkembang secara logis melalui serangkaian langkah, sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya tindakan.
Peneliti kuantitatif menggunakan mekanisme dirancang untuk mengontrol studi. Kontrol melibatkan memaksakan kondisi pada situasi penelitian, jadi bahwa bias diminimalkan dan presisi dan validitas dimaksimalkan. Masalah yang menarik untuk peneliti perawat misalnya, obesitas, kepatuhan dengan rejimen, atau rasa sakit sangat rumit fenomena. Dalam mencoba untuk mengisolasi hubungan antara fenomena, peneliti kuantitatif berupaya untuk mengendalikan faktor-faktor yang tidak berada di bawah kendali langsung penyelidikan. Misalnya, jika seorang ilmuwan tertarik dalam mengeksplorasi hubungan antara diet dan jantung penyakit, langkah-langkah biasanya diambil untuk mengendalikan kontributor potensial untuk gangguan koroner, seperti: seperti stres dan merokok, serta tambahan faktor-faktor yang mungkin relevan, seperti: usia dan jenis kelamin seseorang.
Peneliti kuantitatif mengumpulkan empiris bukti-bukti yang berakar pada tujuan realitas dan dikumpulkan secara langsung atau tidak langsung melalui indra. Bukti empiris, kemudian, terdiri dari pengamatan yang dikumpulkan melalui penglihatan, pendengaran, rasa, sentuhan, atau bau. Pengamatan kehadiran atau tidak adanya peradangan kulit, jantung tingkat pasien, atau berat bayi yang baru lahir adalah semua contoh pengamatan empiris.
Persyaratan tersebut menjadi bukti empiris sebagai dasar untuk pengetahuan berarti bahwa temuan didasarkan kenyataan bukan dalam keyakinan pribadi peneliti. Bukti untuk studi dalam paradigma positivis dikumpulkan sesuai dengan perencanaan, menggunakan instrumen formal untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Biasanya (tetapi tidak selalu) informasi yang dikumpulkan dalam penelitian semacam itu bersifat kuantitatif yaitu, informasi numerik yang dihasilkan dari beberapa jenis pengukuran formal dan dianalisis secara statistik
1.16 Prosedur
Tujuan penting dari mempelajari ilmu pengetahuan tradisional adalah untuk memahami fenomena, bukan keadaan secara terpisah, tetapi dalam arti umum yang luas. Untuk contoh, peneliti kuantitatif biasanya tidak tertarik untuk memahami mengapa seseorang memiliki kanker serviks seperti dalam
Ira Kusumawaty 13 memahami apa yang umum faktor menyebabkan karsinoma ini di individu dan lain-lain. Keinginan untuk melampaui spesifikasi situasi adalah fitur penting dari pendekatan ilmu pengetahuan tradisional. Bahkan, sejauh mana penelitian temuan dapat digeneralisasi untuk individu lain daripada mereka yang berpartisipasi dalam penelitian (disebut sebagai generalisasi penelitian) adalah kriteria yang banyak digunakan untuk menilai kualitas studi kuantitatif(Adams, 2009; Grove & Gray, 2019).
Pendekatan ilmiah tradisional yang digunakan oleh peneliti kuantitatif telah menikmati cukup banyak penampilan sebagai metode penyelidikan, dan telah digunakan produktif oleh peneliti perawat untuk mempelajari berbagai berbagai masalah keperawatan. Bagaimanapun, hal ini bukan untuk mengatakan, bahwa pendekatan ini dapat menyelesaikan semua masalah keperawatan. Satu batasan penting, umum untuk keduanya penelitian kuantitatif dan kualitatif, apakah itu? metode penelitian tidak dapat digunakan untuk menjawab moral atau pertanyaan etis. Mengingat banyak masalah moral yang terkait dengan kesehatan perawatan, tidak dapat dihindari bahwa proses keperawatan akan tidak pernah hanya mengandalka informasi ilmiah.
Pendekatan penelitian tradisional juga harus menghadapi masalah pengukuran. Untuk mempelajari fenomena, peneliti kuantitatif mencoba mengukurnya. Misalnya, jika fenomena minat adalah moral yang sabar, peneliti mungkin ingin menilai apakah moral tinggi atau rendah, atau lebih tinggi di bawah kondisi tertentu daripada di bawah orang lain. Meskipun ukuran fenomenologi fisiologis cukup akurat, seperti tekanan darah dan suhu tubuh, langkah-langkah yang relatif akurat seperti fenomena psikologis seperti moral pasien, rasa sakit, atau citra diri belum berkembang. Masalah lain adalah bahwa penelitian keperawatan cenderung untuk fokus pada manusia, yang secara inheren kompleks dan beragam. Metode kuantitatif tradisional biasanya fokus pada porsi pengalaman manusia yang relatif kecil (misalnya, penambahan berat badan, depresi, ketergantungan kimia) dalam satu belajar. Kompleksitas cenderung dikendalikan dan, jika mungkin, dihilangkan, daripada dipelajari secara langsung, dan kesempitan fokus wawasan ini terkadang menjadi tidak jelas.
Akhirnya dan terkait, penelitian kuantitatif dilakukan dalam paradigma positivis terkadang dituduh sempit dan visinya tidak fleksibel.
1.17 Metode Naturallistik dan Penelitian Kualitatif
Pandangan dunia tidak sepenuhnya menangkap realitas pengalaman manusia. Metode penyelidikan naturalistik mencoba untuk menangani masalah kompleksitas manusia dengan menjelajahinya secara langsung(Frey, 1994; Kivunja, 2018). Para peneliti dalam tradisi naturalistic menekankan kompleksitas yang melekat pada manusia, kemampuan mereka untuk membentuk dan menciptakan pengalaman mereka sendiri, dan gagasan bahwa kebenaran adalah gabungan dari realitas. Akibatnya, penyelidikan naturalistik menempatkan penekanan pada pemahaman pengalaman manusia seperti yang dijalani, biasanya melalui pengumpulan yang cermat dan analisis bahan kualitatif secara narasi dan subjektif.
Para peneliti yang menolak ”metode tradisional ilmiah”
percaya bahwa batasan utama dari model klasiknya adalah reduksionis yaitu, mengurangi pengalaman manusia menjadi hanya beberapa konsep sedang diselidiki, dan konsep-konsep itu didefinisikan sebelumnya oleh peneliti daripada muncul dari pengalaman orang-orang yang diteliti. Peneliti naturalistik cenderung menekankan aspek manusia yang dinamis, holistik, dan individual pengalaman dan upaya untuk menangkap aspek-aspek tersebut secara keseluruhan, dalam konteks pengalaman mereka.
Prosedur yang fleksibel dan berkembang digunakan untuk memanfaatkan temuan-temuan yang muncul selama belajar.
Penyelidikan naturalistik selalu terjadi di lapangan (yaitu, dalam pengaturan naturalistik), seringkali lebih dari jangka waktu yang lama, sedangkan penelitian kuantitatif terjadi baik secara alami maupun pengaturan di laboratorium. Dalam penelitian naturalistik, koleksi informasi dan analisisnya biasanya kemajuan secara bersamaan; sebagai peneliti menyaring informasi, memperoleh wawasan, munculnya pertanyaan baru, dan bukti lebih lanjut dicari untuk memperkuat atau mengkonfirmasi wawasan. Melalui proses induktif, peneliti mengintegrasikan
Ira Kusumawaty 15 informasi untuk mengembangkan teori atau deskripsi yang membantu menjelaskan proses di bawah pengamatan.
Studi naturalistik menghasilkan informasi mendalam yang kaya, berpotensi untuk menjelaskan dimensi secara bervariasi atas fenomena yang rumit. Karena fitur ini dan relatif mudahnya temuan kualitatif dapat dikomunikasikan kepada khalayak awam, dapat dikatakan bahwa metode kualitatif akan memainkan peran yang lebih menonjol dalam perawatan kesehatan kebijakan dan pembangunan di masa depan(DePoy & Gitlin, 2016).
Temuan penelitian kualitatif yang mendalam memiliki keterbatasan pendekatan. Manusia digunakan langsung sebagai instrumen melalui mana informasi dikumpulkan, dan manusia sangat cerdas dan alat yang sensitive, namun tetap bisa salah.
Subjektivitas yang memperkaya wawasan analitik dari ketrampilan peneliti dapat menghasilkan "temuan" sederhana diantara penanya yang kurang kompeten. Sifat subjektivitas penyelidikan naturalistic terkadang menimbulkan kekhawatiran tentang sifat kesimpulan yang aneh. Akankah dua naturalistik? peneliti mempelajari fenomena yang sama di pengaturan yang sama sampai pada hasil yang sama? Situasi semakin diperumit oleh fakta bahwa sebagian besar studi naturalistik melibatkan kelompok yang relatif kecil dari orang-orang yang sedang dipelajari. Pertanyaan tentang generalisasi temuan dari pertanyaan naturalistic kadang timbul.
1.18 Beberapa Paradigma dan Riset Keperawatan
Paradigma harus dilihat sebagai lensa yang membantu untuk mempertajam fokus kita pada fenomena yang menarik, bukan sebagai penutup mata yang membatasi keingintahuan intelektual (McEwen, Melaine; Willis, 2011b). Munculnya paradigma alternatif untuk studi masalah keperawatan adalah untuk mengejar bukti praktik yang baru. Meskipun pandangan dunia peneliti mungkin paradigmatik, pengetahuan itu sendiri tidak. Pengetahuan perawatan akan tipis, memang, jika tidak ada beragam metode yang tersedia dalam keduanya paradigma, metode yang seringkali saling melengkapi dalam kekuatan dan keterbatasan mereka. Pluralisme intelektual harus didorong dan dipupuk.
Penting dicatat bahwa kedua paradigma ini memiliki banyak kesamaan, diantaranya adalah:
Tujuan akhir. Tujuan akhir dari disiplin penyelidikan, terlepas dari paradigma yang mendasarinya, adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang fenomena. Kedua peneliti kuantitatif dan kualitatif berusaha untuk menangkap kebenaran berkaitan dengan aspek dunia di mana mereka tertarik, dan keduanya kelompok dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk pengetahuan keperawatan. Selain itu, studi kualitatif sering berfungsi sebagai titik awal yang penting untuk studi kuantitatif yang lebih terkontrol.
Bukti eksternal. Meskipun kata empirisme telah bersekutu dengan pendekatan tradisional ilmiah, bagaimanapun juga yang dikumpulkan oleh para peneliti di kedua tradisi dan menganalisis bukti eksternal yang dikumpulkan melalui indra mereka. Baik peneliti kualitatif maupun kuantitatif mengandalkan keyakinan dan pandangan mereka tentang kesimpulan mereka.
Ketergantungan pada kerjasama manusia. Bukti untuk penelitian keperawatan terutama berasal dari peserta manusia, kebutuhan akan kerja sama manusia tidak bisa dihindari. Untuk memahami karakteristik orang dan pengalaman, peneliti harus membujuk mereka untuk berpartisipasi dalam penelitian dan untuk bertindak dan berbicara terus terang. Untuk pastinya, topik, kebutuhan untuk keterusterangan dan kerjasama adalah persyaratan yang menantang bagi para peneliti.
Kendala etis. Penelitian dengan manusia dipandu oleh prinsip- prinsip etika yang terkadang mengganggu tujuan penelitian.
Misalnya, jika peneliti ingin menguji potensi yang bermanfaat intervensi, apakah etis untuk menahan pengobatan? dari beberapa orang untuk melihat apa yang terjadi? Dilema etika sering dihadapi para peneliti, terlepas dari orientasi paradigmatik mereka.
Kekeliruan disiplin penelitian. Hampir semua studi dalam kedua paradigma memiliki beberapa keterbatasan. Setiap pertanyaan penelitian dapat menjadi ditangani dengan berbagai cara, dan pasti ada timbal balik. Kendala keuangan bersifat universal, tetapi ada keterbatasan bahkan ketika sumber daya berlimpah. Namun tidak tidak berarti bahwa studi kecil dan sederhana tidak
Ira Kusumawaty 17 memiliki nilai, tidak ada satu penelitian pun yang bisa menjawab pertanyaan penelitian secara pasti. Setiap studi yang selesai menambah kumpulan akumulasi pengetahuan. Jika beberapa peneliti mengajukan pertanyaan yang sama dan jika masing- masing memperoleh jawaban yang sama atau hasil yang serupa, peningkatan kepercayaan diri dapat ditempatkan dalam jawaban atas pertanyaan. Kekeliruan dari setiap studi membuatnya penting untuk memahami pengorbanan dan keputusan yang peneliti saat mengevaluasi kecukupan dari keputusan-keputusan itu.
Jadi, meskipun filosofis dan metodologis perbedaan, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif tradisional atau metode naturalistik sering berbagi tujuan keseluruhan dan menghadapi banyak kendala serupa dan tantangan. Pemilihan yang sesuai metode tergantung pada pribadi peneliti selera dan filosofi, dan juga pada pertanyaan penelitian. Jika seorang peneliti bertanya,
“Apa efek dari operasi pada ritme sirkadian (siklus biologis)?”
peneliti benar-benar perlu mengungkapkan efeknya melalui pengukuran kuantitatif yang cermat dari berbagai sifat tubuh tunduk pada variasi berirama. Sebaliknya, jika seorang peneliti bertanya, “Bagaimana proses orang tua belajar untuk menghadapi kematian seorang anak?” peneliti akan sulit sekali untuk mengukur proses seperti itu. Pandangan dunia pribadi para peneliti membantu membentuk pertanyaan mereka.
Dalam membaca tentang paradigma alternatif untuk penelitian keperawatan, peneliti mungkin lebih tertarik pada salah satu dari dua paradigm yang sesuai paling dekat dengan pandangan tentang dunia dan kenyataan. Namun, penting untuk mempelajari tentang dan menghormati kedua pendekatan untuk penyelidikan disiplin, dan untuk mengenali kekuatan dan keterbatasan masing-masing.
1.19 Tujuan Penelitian Keperawatan
Tujuan umum penelitian keperawatan adalah untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah relevansi terhadap profesi keperawatan (Robson, 1980). Terkadang
perbedaan dibuat antara penelitian dasar dan penelitian terapan.
Seperti yang didefinisikan secara tradisional, penelitian dasar dilakukan untuk memperluas dasar pengetahuan dalam suatu disiplin, atau untuk merumuskan atau menyempurnakan teori.
Misalnya, seorang peneliti dapat melakukan penelitian yang mendalam belajar untuk lebih memahami duka sebagai proses yang normal, tanpa aplikasi keperawatan eksplisit dalam pikiran.
Penelitian terapan berfokus pada mencari solusi dari permasalahan yang ada. Sebagai contoh, sebuah studi untuk menentukan keefektifan Intervensi keperawatan dalam meredakan duka adalah penelitian terapan. Riset dasar untuk menemukan prinsip-prinsip umum perilaku manusia dan proses biofisiologis;
penelitian terapan dirancang untuk menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip ini dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam praktik keperawatan.
Tujuan khusus penelitian keperawatan meliputi identifikasi, deskripsi, eksplorasi, penjelasan, prediksi, dan kontrol(Nieswiadomy & Bailey, 2017). Dalam setiap tujuan, berbagai jenis pertanyaan ditangani oleh peneliti perawat;
pertanyaan tertentu lebih banyak setuju untuk kualitatif daripada penyelidikan kuantitatif, dan sebaliknya.
1.20 Poin Ringkasan
Penelitian keperawatan adalah penyelidikan sistematis untuk mengembangkan pengetahuan tentang isu-isu penting perawat.
Perawat di berbagai setting mengadopsi praktik berbasis bukti yang menggabungkan temuan penelitian ke dalam keputusan mereka dan interaksi dengan klien.
Pengetahuan tentang penelitian keperawatan meningkatkan praktik profesional semua perawat, termasuk bagi konsumen penelitian (yang membaca dan mengevaluasi studi) dan produsen penelitian (yang merancang dan melakukan studi penelitian).
Penelitian keperawatan dimulai dengan Florence Nightingale tetapi berkembang perlahan hingga pesat percepatan pada tahun 1950-an. Sejak tahun 1970-an, keperawatan penelitian telah difokuskan pada masalah yang berkaitan dengan praktik klinis.
Ira Kusumawaty 19
Penekanan penelitian keperawatan di masa depan mungkin terjadi untuk memasukkan hasil penelitian, pemanfaatan penelitian proyek, replikasi penelitian, multisite studi, dan memperluas upaya diseminasi.
Penelitian dengan disiplin berbeda bersama penelitian lainnya menjadi sumber bukti untuk praktik keperawatan, seperti:
tradisi, suara otoritas, pengalaman pribadi, trial and error, intuisi, dan penalaran logis; penelitian yang ketat berada di puncak hierarki bukti sebagai dasar pembuatan keputusan klinis.
Penyelidikan disiplin dalam keperawatan dilakukan dalam dua paradigma luas; pandangan dunia dengan asumsi yang mendasari tentang kompleksitas realitas: paradigma positivis dan paradigma naturalistik.
Dalam paradigma positivis, diasumsikan bahwa ada realitas objektif dan fenomena alam itu adalah teratur dan teratur.
Terkait asumsi determinisme mengacu pada keyakinan bahwa fenomena adalah hasil dari sebab-sebab sebelumnya dan tidak sembarangan.
Dalam paradigma naturalistik, diasumsikan bahwa realitas bukanlah entitas yang tetap, tetapi lebih merupakan konstruksi pikiran manusia dan dengan demikian “kebenaran” adalah gabungan dari beberapa konstruksi realitas.
Paradigma positivis dikaitkan dengan kuantitatif penelitian;
pengumpulan dan analisis informasi numerik. Penelitian kuantitatif adalah biasanya dilakukan dalam tradisi “metode ilmiah” yang merupakan suatu sistematika dan proses yang dikendalikan. Basis temuan peneliti kuantitatif pada bukti empiris (evidence dikumpulkan melalui indera manusia) dan berusaha untuk melakukan generalisasi temuan mereka di luar pengaturan atau situasi tunggal.
Para peneliti dalam paradigma naturalistic menekankan pemahaman pengalaman manusia seperti yang dijalani melalui pengumpulan dan analisis subyektif, bahan naratif menggunakan prosedur yang berkembang secara fleksibel di lapangan;
paradigma ini dikaitkan dengan penelitian kualitatif.
Riset dasar dirancang untuk memperluas dasar informasi demi pengetahuan. Penelitian terapan berfokus pada segera menemukan solusi masalah.
Tujuan penelitian untuk penelitian keperawatan meliputi:
identifikasi, deskripsi, eksplorasi, penjelasan, prediksi, dan kontrol.
Ira Kusumawaty 21 DAFTAR PUSTAKA
Achirudin Saleh, A. 2018. Pengantar Psikologi (Vol. 1999, Issue December).
Adams, J. E. 2009. Quantitative computed tomography. European Journal of Radiology, 71(3), 415–424.
https://doi.org/10.1016/j.ejrad.2009.04.074
The Role Of The Research Nurse, 7 Syria Studies 37. 2015.
https://www.researchgate.net/publication/269107473_Wh at_is_governance/link/548173090cf22525dcb61443/downl oad%0Ahttp://www.econ.upf.edu/~reynal/Civil
wars_12December2010.pdf%0Ahttps://think-
asia.org/handle/11540/8282%0Ahttps://www.jstor.org/st able/41857625
DePoy, E., & Gitlin, L. N. 2016. Mixed Method Designs. Introduction to Research, 173–179. https://doi.org/10.1016/b978-0- 323-26171-5.00012-4
Frey, L. R. 1994. The Naturalistic Paradigm. Small Group Research,
25(4), 551–577.
https://doi.org/10.1177/1046496494254008
Grove, S. K., & Gray, J. 2019. Understanding Nursing Research : Building an Evidence-Based Practice. In Elsevier (pp. 472–
574).
Kivunja, C. 2018. Distinguishing between theory, theoretical framework, and conceptual framework: A systematic review of lessons from the field. International Journal of Higher
Education, 7(6), 44–53.
https://doi.org/10.5430/ijhe.v7n6p44
Kreativitas, M., & Pada, V. 2018. Latar Belakang Kreativitas sangat perlu dikembangkan bagi generasi zaman sekarang abad ke- 21 , yang merupakan abad keterbukaan atau abad globalisasi . Kehidupan anak-anak pada abad ini banyak mengalami perubahan fundamental yang berbeda dengan kehidupan d.
281–293.
McEwen, Melaine; Willis, E. 2011a. Theoretical Basis for Nursing. In
Lippincott Williams & Wilkins.
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid
=1965514&tool=pmcentrez&rendertype=abstract
McEwen, Melaine; Willis, E. 2011b. Theoretical Basis for Nursing. In Lippincott Williams & Wilkins.
McEwen, M., & Wills, E. M. 2014. Theoritical Basis for Nursing (4th edn). In Theoretical basis for nursing.
http://zu.edu.jo/UploadFile/Library/E_Books/Files/Library File_171030_28.pdf
Munhall, P. L. 2012. Nursing Research; A Qualitative Perspective.
Nieswiadomy, R. M., & Bailey, C. . 2017. Foundations of nursing research. Pearson.
Nursalam. 2013. Aplikasi dan Praktik Keperawatan Profesional. In Salemba Medika, jakarta: Vol. edisi kedu.
Pace, Judith L; Hemmings, A. 2006. Classroom Authority ; Theory, Research, and Practice.
Polit, Denise F; Tatano Beck, C. 2006. Nursing Research : Principles and Methods (Vol. 1999, Issue December).
Puji, U. P. E. (n.d.). CRITICAL ( Berfikir kritis ) dalam Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.
Pusa, S., Saveman, B. I., & Sundin, K. 2022. Family systems nursing conversations: influences on families with stroke. BMC Nursing, 21(1), 1–8. https://doi.org/10.1186/s12912-022- 00873-7
Robson, M. 1980. Nursing research.
Schroeder, K., Norful, A. A., Travers, J., & Aliyu, S. 2020. Nursing perspectives on care delivery during the early stages of the covid-19 pandemic: A qualitative study. International Journal of Nursing Studies Advances, 2(August), 100006.
https://doi.org/10.1016/j.ijnsa.2020.100006
Sitinjak, L., Tola, B., & Ramly, M. 2019. Evaluasi Standar Kompetensi Perawat Indonesia Dengan Menggunakan Model.
Sumiyarrini, R., Rahayu, G. R., & Suhoyo, Y. 2017. Rubrik Nursing Clinical Exercise: Pengembangan Instrumen Penilaian Kompetensi Klinis Pada Pendidikan Klinik Keperawatan.
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education, 6(3), 194.
https://doi.org/10.22146/jpki.32224
Ira Kusumawaty 23 Tedersoo, L., Küngas, R., Oras, E., Köster, K., Eenmaa, H., Leijen, Ä., Pedaste, M., Raju, M., Astapova, A., Lukner, H., Kogermann, K., & Sepp, T. 2021. Data sharing practices and data availability upon request differ across scientific disciplines.
Scientific Data, 8(1), 1–11. https://doi.org/10.1038/s41597- 021-00981-0
Watson, R. 2013. Nursing research in the 21 st century . Journal of Health Specialties, 1(1), 13. https://doi.org/10.4103/1658- 600x.110669
Wayan. 2006. Manajemen keperawatan. 117.
Yunike; Ira Kusumawaty. 2021. Kontrasepsi dan Antenatal care.
Literasi Nusantara Abadi.
Yunike; Kusumawaty, Ira; Ramadhanti, N. 2022. Buku Ajar Metodologi Keperawatan. Literasi Nusantara.
BAB 2
JENIS-JENIS PENELITIAN
Oleh Viyan Septiyana Achmad
2.1 Ditinjau dari Tujuan Penelitian
a. Penelitian Dasar/Murni
Penelitian dasar (basic research) disebut juga penelitian murni (pure research) atau penelitian pokok (fundamental research) adalah penelitian yang diperuntukkan bagi pengembangna suatu ilmu pengetahuan serta diarahkan pada pengembangan teori-teori yang ada atau menemukan teori baru. Penelitian dasar disebut penelitian fundamental karena penelitinya menekankan atau mempusatkan pada struktur dan proses fundamental. Pennelitian murni biasa dilakukan dilaboratorium dengan hewan sebagai objek penelitian.
b. Penelitian Terapan (Aplplied Research)
Riset terapan (Applied Research) merupakan riset yanf dilakukajn untuk mendapatkan informasi guna memecahkan masalah secara praktis (Suliyanto, 2006) Penelitian Terapan merupakan penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan solusi dari suatu masalah yang ada di masyarakat, industri, pemerintahan sebagai kelanjutan dari riset dasar. Penelitian terapan (Applied Research) adalah model model penelitian yang lebih diarahkan untuk menciptakan inovasi dan pengembangan ipteks. Penelitian terapan menekankan pada pemecahan masalah. Penelitian dilakukan dengan hati-hati, sistematik dan terus menerus terhadap suatu masalah dengan tujuan yang digunakan segera untuk keperuan tertentu. Tipe penelitian ini memecahkan masalah praktis.
Viyan Septiyana Achmad 25
2.2 Ditinjau dari Karakteristik Masalah
a. Penelitian Sejarah
Penelitian berdasarkan fenomena masa lalu (historis) tujuan penelitian ini adalah melakukan rekontruksi fenomena masa lalu, objek dan akurat menjelaskan fenomena sekarang mengantisipasi fenomena yang akan datang (Budiharjo, 2007). Penelitian sejarah adalah sebuah penelitian yang dilakukan melalui teknik pengumpulan data dan evaluasi data secara sistematis untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memahami peristiwa yang terjadi di masa lalu. Penelitian ini dilakukan untuk menguji kebenaran tentang kejadian tertentu di masa lampau. Penelitian sejarah yaitu berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di masa lalu (Sugiyono, 2019).
b. Studi Kasus dan Lapangan
Metode penelitian yang memiliki unit analisis yang lebih mengacu pada tindakan individu atau lembaga dibandingkan dengan diri individu maupun lembaga itu sendiri. Dapat dikatakan studi kasus lebih berfokus pada tindakan atau perilaku yang dihasilkan. Studi kasus bertujuan mempelajari secara intensif latar belakang, status terakhir, dan interaksi lingkungan yang terjadi pada suatu satuan sosial seperti individu, kelompok, lembaga dan komunitas (Azwar, 2011).
c. Penelitian Kausal Komparatif
Penelitian kausal komparatif adalah penelitian yang dilakukan untuk membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda dan menemukan hubungan sebab-akibatnya.
Penelitian dengan karakteristik masalah yang berupa sebab akibat antar dua variabel atau lebih. Penelitian ini merupakan penelitian berupa ex past facto yaitu tipe penelitian terhadap data yang dikumpulkan setelah terjadinya suatu fakta.
d. Penelitian Naturalistik atau Kualitatif
Penelitian kualitatif atau disebut juga dengan penelitian naturalistik, merupakan cara mengumpulkan dan menganalisis data yang bersifat kualitatif yang penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting).
e. Penelitian Policy
Policy research adalah suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau analisis terhadap masalah-masalah sosial yang mendasar, sehingga temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertindak secara praktis dalam menyelesaikan masalah.
f. Penelitian Tindakan
Action Research adalah suatu proses yang dilalului oleh perorangan atau kelompok yang menghendaki perubahan dalam situasi tertentu untuk menguji prosedur yang diperkirakan akan menghasilkan perubahan terrsebu, kemudian setelah sampai pada tahap kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, melaksanakan prosedur ini (Sugiyono,2011). Metode penelitian tindakan merupkaan metode penelitian yang digunakan untuk menguji, menciptakan tindakan baru yang lebih baik dan efektik, sehingga tindakan tersebut kalau diterapkan dalam pekerjaan, maka proses pelaksanaan kerja akan lebih mudah, lebih cepat, dan hasilnya lebih banyak dan berkualitas.
2.3 Ditinjau dari Jenis Data
a. Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang bersifat objektif, mencakup pengumpulan dan analisis data kuantitatif serta menggunakan metode pengujian statistic.
Menurut beberapa ahli seperti Cresswell (1994) Penelitian kuantitatif adalah metode-metode untuk menguji teori-teori tertentu dengan cara meneliti hubungan antar variabel.
Biasanya, variabel tersebut diukur dengan instrumen penelitian sehingga data yang terdiri dari angka-angka dapat dianalisis berdasarkan prosedur statistik. Menurut Sugiyono 2018 data kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan data penelitian berupa angka-angka yang akan diukur mnggunakan statistic sebagai alat uji perhitungan berkaitan dengan masalah yang diteliti untuk menghasilkan suatu kesimpulan.
Viyan Septiyana Achmad 27 Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menekankan pada analisis data-data numerik (angka) yang diolah dengan metode statistik. Pada dasarnya, pendekatan kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial (pengujian hipotesis) dan menyandarkan kesimpulan hasilnya pada suatu probabilitas kesalah penolakan hipotesis nol (nihil). Dengan metode kuantitatif, diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau hubungan antar variabel yang diteliti. Pada umumnya penelitian kuantitatif memerlukan sampel yang besar (Sudaryana, 2022).
Penelitian kuantitatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Adanya jarak antara peneliti dengan yang diteliti atau yang mengamati dengan yang diamati, sehingga pengaruh peneliti pada objek yang diteliti dapat dihindari.
Penelitian dimulai dengan kerangka teori, menentukan variabel beserta alat ukurnya.
Objek, gejala, peristiwa atau perilaku harus dapat diamati dan ditanfgkap oleh panca indera, terencana, terkontrol dan diukur serta diramalkan.
Rancangan penelitian sudah ditentukan sebelumnya, perubahan rancangan mengubah komponen-komponen dari rancangan tersebut.
Jumlah sampel ditentukan sebelumnya, lajimnya secara acak yang ditarik dari populasi dan hasil penggalian data dari kepustakaan, direncanakan dalam bentuk tabel model (dummy table). Jumlah sampel minimal dapat digeneralisasi.
Analisis dengan uji statistik.
b. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif dapat dipandang sebagai penelitian yang partisipatif. Desain penelitiannyan fleksibel atau kemungkinan bisa diubah guna menyesuaikan dari rencana yang telah dibut, dengan gejala yang ada pada tempat penelitian yang sebenarnya. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya dan berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa
interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu sesuai perspektif peneliti sendiri.
Penelitiankualitatif adalah metodepenelitian yang
berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan.
Penelitian kualitatif banyak digunakan oleh peneliti bidang keilmuan sosial. Sesuai dengan perkembangan jaman para peneliti di bidang kesehatan banyak juga yang menggunakan metode penelitan kualitatif antara lain bidang kesehatan masyarakat dan keperawatan komunitas (Sugiyono, 2019).
c. Pendekatan Gabungan
Dalam penelitian seorang peneliti tidak saja melakukan penelitian dengan metode kuantitati saja atau penelitian kualitatif saja akan tetapi ada penelotian yang menggabungkan antara keduanya. Penelitian gabungan (mixed method) merupakan tahapan pengumpulan data, analisis data dengan menggabungkan metode secara sekuensial. yaitu metode kuantitatif dan kualitatif atau sebaliknya. Dua metode ini digunakan untuk menyimpulkan pertanyaan penelitian. Riset gabungan kombinasi adalah riset yang menggunakan data kuantitatif dan kualitatif (Sugiyono, 2011).
2.5 Ditinjau dari Pendekatan Waktu Pengumpulan Data
a. Penelitian Longitudinal
Penelitian longitudinal (bahasa Inggris: longitudinal research) adalah salah satu jenis penelitian sosial yang membandingkan perubahan subjek penelitian setelah periode waktu tertentu. Penelitian jenis ini sengaja digunakan untuk penelitian jangka panjang, karena memakan waktu yang lama.
b. Penelitian Cross Sectional
Cross Sectional merupakan jenis survey yang mengamati sebuah objek penelitian, baik satu ataupun beberapa variabel, dengan cara menghimpun data pada
Viyan Septiyana Achmad 29 sauatu masa yang sama. Cross Sectional Jenis penelitian observasional yang menganalisis data variabel yang dikumpulkan pada satu titik waktu tertentu di seluruh populasi sampel atau subset yang telah ditentukan. Penelitian Cross sectional merupakan rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan secara bersamaan.
Misalnya penelitian hubungan atara komsumsi zat besi fe dengan terjadinya anemia pada ibu hamil, peneliti melakukan penelitian dengan melakukan pengukran atau pengamatan terhadap bagaimana komsumsi zar besi diukur saat bersamaan dengan bagaimana status anemia ibu hamil.
Dibandingkan dengan longitudinal kelebihan Cross Sectional terletak pada proses pelaksnaannya yang sederhana, lebih efisien dan kemungkinan lebih efekti karena dapat lebih cepat diketahui hasilnya.
2.6 Ditinjau dari Analisis Hubungan Antar Variabel
a. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang memperlihatkan karakteristik populasi atau fenomena yang tengah diteliti. Hingga akhirnya metode penelitian ini utamanya fokus pada menjelaskan objek penelitian dan menjawab peristiwa atau fenomena apa yang terjadi.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan suatu objek atau kegiatan yang menjadi perhatian peneliti. Penelitian ini lebih terstruktur dibandingkan dengan penelitian eksplorasi karena diperlukan sampel representatif.
b. Penelitian Inferensial
Penelitian inferensial adalah sebagai proses pengambilan kesimpulan penelitian yang didasarkan pada data sampel dengan jumlah yang lebih sedikit agar kesimpulan yang dihasilkan bersifat lebih umum untuk sebuah populasi. Selain itu, penelitian inferensial merupakan suatu penelitian yang menguji suatu hipotesis, dan mengkaitkan antara satu variabel dengan variabel yang lainnya. Oleh karena itu, dalam penelitian inferensial, peneliti selalu merumuskan suatu hipotesis terlebih dahulu.
2.7 Ditinjau dari Ada Tidaknya Intervensi
a. Penelitian Survey
Pengertian Metode Penelitian Survei Kerlinger (1973) menyatakan bahwa penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, untuk menemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan. Metode penelitian survey merupakan salah satu metode penelitian kuantitatif yang sering digunakan oleh para peneliti pemula. Metode ini bertujuan untuk melihat keadaan yang menjadi objek penelitian apa adanya, dengan melihat data dan informasi yang ada dari sampel, tanpa memberi perlakuan khusus.
Metode ini lazim menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung terhadap suatu gejala.
Penelitian survey dengan demikian adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok.
b. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan pendekatan saintifik dengan menggunakan dua set variabel. Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) anatar dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor-fakor lain yang mengganggu (Arikunto, 2019, hlm. 9). Penelitian eksperimen dalam bidang keperawatan meliputi : Preexperimental design, true experimental design factorial design, quasy experimental design.
Preexperimental design
Merupakan rancangan penelitian yang paling lemah karena tidak membuktikan kausalitas. Penelitian jenis ini terdiri dari one shot case study/posttest only design, pretest-posttest design dan static group comparison/posttest only control group design.
Viyan Septiyana Achmad 31
True experimental design
True experimental design (eksperimen murni) merupakan jenis rancangan penelitian yang mempunyai ketelitian tinggi karena sampelnya dipilih secara acak dan ada kelompok kontrolnya. Pada penelitian ini semua variabel luar dapat dikontrol.
Quasy experimental design.
Quasy experimental design (eksperimen semu) rancangan ini merupakan bentu