1. Istilah pembelajaran terpadu, banyak istilah yang digunakan untuk memadukan materi yang spesifik misalnya keterampilan menulis atau berpikir di antara kurikulum. Dengan pendekatan terpadu, kurikulum dirancang dapat mengakomodasi kebutuhan siswa, mengatasi masalah sosial di antara para siswa di kelas, dan juga memantapkan penguasaan materi pelajaran. Uraikan latar belakang atau alasan penggunaan pembelajaran terpadu!
Jawab :
Pembelajaran akan lebih bermakna menggunakan pendekatan terpadu, karenapembelajaran terpadu memberikan kesempatan pada peserta didik untuk belajar sesuaidengan minat dan kebutuhannya. Pembelajaran terpadu didasarkan pada tiga konseptentang proses belajar anak yaitu: anak-anak tidak membedakan antara bidang-bidangpelajaran, anak memandang bidang mata pelajaran sebagai sesuatuyang berkaitan secarakeseluruhan; pembelajaran terpadu berdasarkan pada konsep bahwa berbagai matapelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan belajar;
pembelajaran terpaduberdasarkan metode mengajar induktif, yang menghubungkan berbagai kegiatan dengantopic tertentu yang diintegrasikan ke dalam satu kesatuan. Pembelajaran terpadumemungkinkan peserta didik menggunakan ketrampilan-ketrampilan dalam suatu matapelajaran dengan cara yang bermakna.
2. Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu siswa akan memeroleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Uraikan hal yang terkait dengan kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran terpadu!
Jawab : Kelebihan
Kelebihan tersebut didasari oleh beberapa alasan.
1) Materi pelajaran menjadi dekat dengan kehidupan anak sehingga anak dengan mudah memahami sekaligus melakukannya.
2) Siswa juga dengan mudah dapat mengaitkan hubungan materi pelajaran di mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya.
3) Dengan bekerja dalam kelompok, siswa juga dapat mengembangkan kemampuan belajarnya dalam aspek afektif dan psikomotorik, selain aspek kognitif.
4) Pembelajaran terpadu mengakomodir jenis kecerdasan siswa.
5) Dengan pendekatan pembelajaran terpadu guru dapat dengan mudah menggunakan belajar siswa aktif sebagai metode pembelajaran.
Kekurangan
1) Aspek Guru: Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu saja. Tanpa kondisi ini, maka pembelajaran terpadu akan sulit terwujud.
2) Aspek peserta didik: Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model pembelajaran terpadu menekankan pada kemampuan analitik (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali). Bila kondisi ini tidak dimiliki, maka penerapan model pembelajaran terpadu ini sangat sulit dilaksanakan.
3) Aspek sarana dan sumber pembelajaran: Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet.
Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan. Bila sarana ini tidak dipenuhi, maka penerapan pembelajaran terpadu juga akan terhambat.
4) Aspek kurikulum: Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.
5) Aspek penilaian: Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi dengan guru lain, bila materi pelajaran berasal dari guru yang berbeda.
6) Suasana pembelajaran: Pembelajaran terpadu berkecenderungan mengutamakan salah satu bidang kajian dan ‘tenggelam’nya bidang kajian lain. Dengan kata lain, pada saat mengajarkan sebuah TEMA, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri.
3. Pembelajaran kelas rangkap adalah penggabungan sekelompok siswa yang mempunyai perbedaan usia, kemampuan, minat, dan tingkatan kelas di mana dikelola oleh seorang guru atau beberapa guru yang dalam pembelajarannya difokuskan pada kemajuan individual para siswa.
Pembelajaran kelas rangkap memiliki korelasi dengan teori belajar yang dikemukakan oleh beberapa tokoh. Uraikan korelasi atau keterkaitan teori belajar dan pembelajaran kelas rangkap menurut beberapa tokoh!
Jawab :
Teori Belajar dan Pembelajaran Kelas Rangkap adalah dua konsep yang saling terkait dalam konteks pendidikan. Berikut adalah uraian tentang keterkaitan antara teori belajar dan pembelajaran kelas rangkap menurut beberapa tokoh:
a) Jean Piaget: Jean Piaget adalah seorang psikolog perkembangan yang mengemukakan teori kognitif. Teori belajar Piaget berfokus pada konsep bahwa anak-anak aktif terlibat dalam pembangunan pengetahuan mereka melalui proses penyesuaian dan konstruksi mental. Dalam konteks pembelajaran kelas rangkap, pendekatan ini mencerminkan pentingnya memberikan pengalaman nyata dan tugas-tugas berdasarkan tingkat perkembangan kognitif siswa.
b) Lev Vygotsky: Lev Vygotsky adalah seorang psikolog dan ahli teori pembelajaran sosial.
Menurut Vygotsky, pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dan kolaborasi dengan orang
lain. Konsep zona perkembangan proksimal (ZPD) Vygotsky menggambarkan tingkat perkembangan yang dapat dicapai oleh siswa dengan bantuan dan dukungan dari orang dewasa atau teman sebaya. Dalam pembelajaran kelas rangkap, pendekatan Vygotsky menekankan pentingnya kerja sama dan bimbingan dari guru atau teman sebaya dalam mencapai tujuan pembelajaran.
c) Albert Bandura: Albert Bandura adalah seorang psikolog yang mengemukakan teori belajar sosial atau teori pemodelan. Menurut Bandura, pembelajaran terjadi melalui pengamatan dan peniruan perilaku orang lain. Dalam pembelajaran kelas rangkap, pendekatan ini menyoroti pentingnya memperlihatkan model-model yang positif dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengamati dan meniru perilaku yang diinginkan.
d) Jerome Bruner: Jerome Bruner adalah seorang psikolog kognitif yang mengembangkan teori belajar konstruktivis. Bruner menekankan pentingnya pembelajaran aktif, penyajian informasi yang terstruktur, dan penggunaan representasi mental dalam pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran kelas rangkap, pendekatan Bruner menekankan pentingnya menyajikan materi pembelajaran dalam berbagai representasi, seperti teks, gambar, atau manipulatif, untuk membantu siswa membangun pemahaman mereka sendiri.
Keterkaitan teori belajar dan pembelajaran kelas rangkap adalah bahwa pendekatan pembelajaran dalam kelas rangkap harus didasarkan pada pemahaman tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan, tingkat perkembangan, dan gaya belajar siswa. Dalam pembelajaran kelas rangkap, berbagai teori belajar dapat digunakan sebagai panduan untuk merancang pengalaman pembelajaran yang efektif dan memungkinkan siswa untuk aktif terlibat dalam konstruksi pengetahuan mereka.
4. Karakteristik anak-anak menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan, terutama untuk kelas rendah. Guru SD diharap merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Sesuai dengan tumbuh kembang anak sekolah dasar, maka guru harus memberikan pengalaman pada aktivitas fisiknya. Uraikan dan jelaskan aktivitas bermain yang cocok buat anak sekolah dasar
Jawab :
Aktifitas bermain yang cocok untuk anak SD adalah belajar menggunakan alat peraga, diselingi dengan menyanyi dan menari. Karena dengan demikian maka siswa tersebut terlihat aktif dalam pembelajaran
5. Menurut penelitian Howard Gardner, di dalam diri setiap anak tersimpan sembilan jenis kecerdasan yang siap berkembang. Ia memetakan lingkup kemampuan manusia yang luas tersebut menjadi sembilan kategori yang komprehensif atau sembilan macam kecerdasan dasar pada anak-anak. Uraikan sembilan macam kecerdasan dasar tersebut!
Jawab :
a) ecerdasan Verbal-Linguistik
Kecerdasan verbal-linguistik ditunjukkan melalui kecakapan verbal yang berkembang dengan baik serta sensitivitas yang baik terhadap suara, makna, dan ritme kata-kata.
Seseorang dengan kecerdasan verbal-linguistik menunjukkan sikap efektif dalam
berkomunikasi lisan/tulisan, mengarang cerita, berdiskusi/debat, belajar bahasa, mengingat kutipan, membuat lelucon dan puisi, serta kaya akan kosa kata.
b) Kecerdasan Logika-Matematika
Kecerdasan logika matematika ditunjukkan melalui kecakapan dalam mengolah angka dan menggunakan logika. Seseorang dengan kecerdasan logika-matematika memiliki kemampuan untuk berpikir secara konseptual dan mempunyai kapasitas untuk membedah pola numerik dan logika, misalnya menghitung, memprediksi, menemukan pola, berpikir dan menggunakan simbol abstrak serta menggunakan algoritme.
c) Kecerdasan Spasial/Visual
Kecerdasan visual-spasial ditunjukkan melalui kecakapan menangkap warna, arah, dan ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya ke dalam bentuk lain seperti dekorasi, arsitektur, lukisan, dan patung. Seseorang dengan kecerdasan spasial-visual memiliki kemapuan untuk berpikir dalam rupa gambar dan foto, untuk memvisualisasikan pikirannya secara abstrak dan akurat serta efektif dalam hal koordinasi warna, membuat dan membaca peta serta membayangkan benda secara detail.
d) Kecerdasan Gerak-Kinestetik
Kecerdasan gerak-kinestetik ditunjukkan melalui kecakapan dalam menggunakan gerak seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan. Seseorang dengan kecerdasan gerak-kinestetik cenderung efektif dalam hal atletik, menggunakan bahasa tubuh, belajar dengan “melakukan”, berkoordinasi antara tangan dan mata, serta kuat dan terampil dalam motorik halus.
e) Kecerdasan Musikal
Kecerdasan musikal ditunjukkan melalui kemampuan menangkap bunyi-bunyian, membedakan, menggubah, dan mengekspresikan diri melalui bunyi-bunyi atau suara- suara yang bernada dan berirama. Seseorang dengan kecerdasan musikal mampu mengenal dan memainkan instrumen musik dengan baik, memahami struktur musik, serta belajar dan mengingat dengan irama/lirik
f) Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal berkaitan dengan aspek internal diri seseorang, seperti perasaan hidup, rentang emosi, kemampuan membedakan ragam emosi, menandainya, dan menggunakannya untuk memahami dan membimbing tingkah laku sendiri.
Seseorang dengan kecerdasan intrapersonal menyukai dan efektif dalam mengontrol perasaan, mengembangkan keyakinan dan opini yang berbeda, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri serta mengetahui dan mengelola minat perasaan.
g) Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis berkaitan dengan kemahiran dalam mengenali dan mengklasifikasikan flora dan fauna, serta peka terhadap alam dan lingkungan.
Seseorang dengan kecerdasan naturalis cenderung menyukai dan efektif dalam menganalisa persamaan dan perbedaan, mengoleksi flora dan fauna, memahami ketergantungan lingkungan dan melatih serta menjinakkan hewan.
h) Kecerdasan Eksistensial
Kecerdasan eksistensial berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menempatkan diri dalam lingkup kosmos, memaknai hidup, memaknai kematian, memahami nasib dunia jasmani dan kejiwaan, dan memaknai pengalaman mendalam seperti cinta atau kesenian. Orang dengan kecerdasan eksistensial memiliki sensitivitas dan kapasitas untuk menghadapi pertanyaan mendalam tentang kehidupan, seperti "Apa arti hidup?
Mengapa kita mati? Mengapa kita ada?"