• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pembelajaran Menulis Bahasa Indonesia SD

N/A
N/A
Anchil lis

Academic year: 2024

Membagikan "Model Pembelajaran Menulis Bahasa Indonesia SD"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS BAHASA INDONESIA SD

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok dalam menempuh

Mata Kuliah : Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia

Dosen : Dr. Titin Nurhayatin, M.Pd.

Feby Inggriyani, M.Pd.

Disusun oleh, Kelompok V Kelas 5A:

1. Winda Widiastuti (205060001) 2. Tira Septiani (205060014) 3. Puspita Permata Sari (205060024) 4. Eta Erlita (205060034)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG

2022/2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. atas berkat dan rahmat- Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan sebaik- baiknya, walaupun penyusunan makalah ini masih dalam bentuk maupun isinya yang mungkin sederhana. Makalah ini guna memenuhi salah satu tugas Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia yang berjudul “Model Pembelajaran Menulis Bahasa Indonesia SD”.

Banyak kesulitan dan hambatan yang kami selaku penyusun hadapi dalam membuat makalah ini, tetapi dengan semangat, kegigihan, dan kekompakan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami sebagai penyusun mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melancarkan kami dalam penyusun makalah ini.

Terutama kepada Dosen Pengampu Dr. Titin Nurhayatin, M.Pd., serta Feby Inggriyani,M.Pd,. Kami mengucapkan terimakasih atas arahan dan bimbingannya.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kamu mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman dan juga berguna untuk membangun wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi penyusun dan pembaca.

i

(3)

Penyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...2

C. Tujuan...3

BAB II PEMBAHASAN...4

A. Pengertian Menulis...4

B. Tujuan Menulis...5

C. Manfaat Menulis...5

D. Tahapan Dan Proses Menulis...7 ii

(4)

E. Model Pembelajaran Menulis...9

BAB III PENUTUP...20

A. Kesimpulan...20

B. Saran...21

DAFTAR PUSTAKA...iii

iii

(5)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Model pembelajaran merupakan salah satu komponen penting yang menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Ketepatan pemilihan model pembelajaran akan berdampak pada keberhasilan belajar siswa serta tercapainya tujuan pembelajaran. Model pembelajaran merupakan suatu desain pembelajaran yang dirancang untuk memperlancar proses pembelajaran. Seperti yang diungkapkan oleh Suprijono (2012, hlm. 46) yang mengemukakan bahwa model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Dari pengertian model pembelajaran tersebut, model pembelajaran dapat dipahami sebagai suatu desain, pola atau rancangan yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Hal itu dilakukan untuk menciptakan suasana yang menunjang agar siswa merasa bebas untuk merespon secara alami dan teratur, dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Karena itu, pengkajian pemilihan model pembelajaran yang tepat menjadi hal yang perlu dilakukan, agar sesuai dengan karakteristik siswa dan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Menulis merupakan proses kegiatan belajar siswa di dalam sebuah pembelajaran untuk menuangkan ide, gagasan ataupun lainnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan (Tarigan, 1986. hlm. 15), bahwa menulis diartikan sebagai kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai. Menulis juga salah satu dari empat keterampilan berbahasa yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis, empat keterampilan berbahasa ini sangatlah penting karena termasuk kedalam standar kompetensi pembelajaran bahasa Indonesia. Maka dari itu, diharapkan sekolah yang mempunyai fungsi tempat mengeyam ilmu harus mampu memberikan pengajaran dan ilmunya yang baik dan tentu dengan modelyang baik pula. Siswapun diharapkan mampu menguasai keempat keterampilan berbahasa tersebut terutama menulis, meskipun sampai saat ini belum ada hasil yang memuaskan yang dapat diambil dari

1

(6)

2 pembelajaran menulis siswa. Hal tersebut sesuaipernyataan Sutama dkk dalam (Nurhayati 2000, hlm. 13) bahwa siswa belum dapat dikatakan mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar, baik lisan maupun tulisan, mulai sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah umum. Pernyataan tersebut harus dijadikan sebuah upaya untuk mencari titik terang di dalam penuntasan masalah tersebut.

Menulis adalah bentuk komunikasi yang menggunakan kata-kata untuk berkomunikasi secara tidak langsung dengan orang lain. Ini juga merupakan keterampilan bahasa yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi secara tidak langsung, di luar komunikasi tatap muka langsung. Menurut Taringan (2008), dalam (Dafit Febriana 2017, hlm. 50) Menulis pada hakikatnya adalah keseluruhan rangkaian kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan berbagi bahasa tulis dengan pembaca.

Dikarenakan sangat pentingnya menulis, dalam proses pembelajaran di kelas seyogianya digunakan berbagai model, metode atau strategi yang dapat menulis memotivasi siswa agar minat serta kemampuan membacanya meningkat.

Dalam pembelajaran menjadi tugas utama guru untuk mampu membuat siswa menjadi tertarik mengikuti proses pembelajaran. Maka Guru harus mampu menguasai materi serta khusunya menggunakan model-model pembelajaran agar siswa dapat tertarik dan semangat mengikuti proses pembelajaran khususnya pada pembelajaran menulis. Keberhasilan belajar siswa akan tercapai apabila terjadi interaksi dua arah antara guru dengan siswa sudah dapat berjalan dengan baik.

Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran yang tepat menjadi hal yang penting untuk mendukung keberhasilan pembelajaran.

Dari pembahasan di atas bahwasannya dalam pembelajaran menulis di sekolah dasar memerlukan model pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

Oleh karena itu dibuatnya makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih kepada mahasiswa yang nantinya akan menjadi seorang pendidik untuk menggunakan serta memperhatikan model pembelajaran menulis di sekolah dasar, sehingga tercapainya tujuan dalam pembelajaran.

(7)

B. Rumusan Masalah

Kami telah menyusun sebagian permasalahan yang hendak dibahas dalam makalah ini. Ada pula sebagian permasalahan yang hendak dibahas dalam karya tulis ini antara lain:

1. Apa yang dimaksud dengan menulis?

2. Apa tujuan dari menulis?

3. Apa manfaat dari menulis?

4. Bagaimana tahapan dan proses menulis?

5. Apa saja macam-macam model pembelajajaran menulis?

C. Tujuan

Bersumber pada rumusan permasalahan yang disusun oleh kami di atas, hingga tujuan dalam penyusunan makalah ini yaitu :

1. Mengetahui yang dimaksud dengan menulis.

2. Mengetahui tujuan dari menulis.

3. Mengetahui manfaat dari menulis.

4. Mengetahui tahapan dan proses menulis.

(8)

4 5. Mengetahui macam-macam model pembelajajaran menulis.

(9)
(10)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Menulis

Menulis adalah sebuah kegiatan menuangkan pikiran, gagasan, dan perasaan seseorang yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Dalam pengertian yang lain, menulis adalah kegiatan untuk menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan yang diharapkan dapat dipahami oleh pembaca dan berfungsi sebagai alat komunikasi secara tidak langsung. Dengan demikian, dapat kita tegaskan bahwa pengertian menulis adalah kegiatan seseorang untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca dalam bahasa tulis agar bisa dipahami oleh pembaca.

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang harus dipelajari secara terus menerus. Tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat memberikan informasi kepada pembaca secara jelas. Menurut Tarigan (2008, hlm. 22) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menghasilkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut dan dapat memahami bahasa dan grafis itu.

Menurut Suparno dan Yunus (200, hlm. 13) aktivitas menulis melibatkan beberapa unsur, yaitu penulis sebagai penyampaian pesan, isi tulisan, saluran atau media, dan pembaca. Menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya.

Menurut Widyamartaya (1991, hlm. 9) mengemukakan pengertian menulis sebagai proses kegiatan pikiran manusia yang hendak mengungkapkan kandungan jiwanya kepada orang lain atau kepada diri sendiri dalam bentuk tulisan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu proses aktivitas gagasan, pikiran, perasaan yang ingin disampaikan kepada orang lain melalui media bahasa yang berupa tulisan. Sebagai alat komonikasi tidak langsung melalui tulisan penulis dapat mendeskripsikan sesuatu kepada orang lain sehingga pembaca dapat melukiskan apa yang disampaikan. Semakin baik tulisan yang disampaikan semakin baik pula pesan yang diterima oleh orang lain

4

(11)

B. Tujuan Menulis

Hugo Hartig dalam tarigan (1986, hlm. 24-25) merumuskan tujuan menulis : 1. Tujuan penugasan ini berarti menulis tidak memiliki tujuan sama sekali.

Penulis menulis karena ditugaskan, bukan atas kemauannya sendiri.

2. Tujuan altruistik (aluistric purpose). Penulis bertujuan untuk menyenangkan pembaca, dengan menghindarkan kedukaan pembaca.

Penulis ingin menolong pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, penulis ingin membuat hidup pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya.

3. Tujuan persuasi (persuasive purpose). Tujuan penulis adalah meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.

4. Tujuan Informasi (informational purpose). Tujuan penulis adalah memberikan informasi atau keterangan penerangan kepada para pembaca.

5. Tujan penyataan diri (self-ekspresive purpose) Tujuan penulis adalah menyatakan atau memperkenalkan diri kepada pembaca.

6. Tujuan kreatif (creative purpose). Tujuan penulis adalah mencapai nilai- nilai artistik dan nilai-nilai kesenian

C. Manfaat Menulis

Graves (dalam Akhadiah dkk., 1998:1.4) berkaitan dengan manfaat menulis mengemukakan bahwa:

1. Menulis menyumbang /mengasah kecerdasan

Menulis adalah suatu aktivitas yang kompleks. Kompleksitas menulis terletak pada tuntutan kemampuan mengharmonikan berbagai aspek. Aspek-aspek itu meliputi:

a. Pengetahuan tentang topik yang akan dituliskan,

b. Penuangan pengetahuan itu ke dalam racikan bahasa yang jernih, yang disesuaikan dengan corak wacana dan kemampuan pembacanya, dan

c. Penyajiannya selaras dengan konvensi atau aturan penulisan. Untuk sampai pada kesanggupan seperti itu, seseorang perlu memiliki kekayaan dan keluwesan pengungkapan, kemampuan mengendalikan emosi, serat menata

(12)

6 dan mengembangkan daya nalarnya dalam berbagai level berfikir, dari tingkat mengingat sampai evaluasi.

2. Menulis mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas

Dalam menulis, seseorang mesti menyiapkan dan mensuplai sendiri segala sesuatunya. Segala sesuatu itu adalah:

a. Unsur mekanik tulisan yang benar seperti pungtuasi, ejaan, diksi, pengalimatan, dan pewacanaan,

b. Bahasa topik, dan

c. Pertanyaan dan jawaban yang harus diajukan dan dipuaskannya sendiri.

Agar hasilnya enak dibaca, maka apa yang dituliskan harus ditata dengan runtut, jelas dan menarik

3. Menulis menumbuhkan keberanian,

Ketika menulis, seorang penulis harus berani menampilkan kediriannya, termasuk pemikiran, perasaan, dan gayanya, serta menawarkannya kepada publik.

Konsekuensinya, dia harus siap dan mau melihat dengan jernih penilaian dan tanggapan apa pun dari pembacanya, baik yang bersifat positif ataupun negatif

4. Menulis mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

Seseorang menulis karena mempunyai ide, gagasan, pendapat, atau sesuatu hal yang menurutnya perlu disampaikan dan diketahui orang lain. Tetapi, apa yang disampaikannya itu tidak selalu dimilikinya saat itu. Padahal, tak akan dapat me-nyampaikan banyak hal dengan memuaskan tanpa memiliki wawasan atau pengeta-huan yang memadai tentang apa yang akan dituliskannya. Kecuali, kalau memang apa yang disampaikannya hanya sekedarnya.

Kondisi ini akan memacu seseorang untuk mencari, mengumpulkan, dan me-nyerap informasi yang diperlukannya. Untuk keperluan itu, ia mungkin akan membaca, menyimak, mengamati, berdiskusi, berwawancara. Bagi penulis, pemero-lehan informasi itu dimaksudkan agar dapat memahami dan mengingatnya dengan baik, serta menggunakannya kembali untuk keperluannya dalam menulis. Implikasi-nya, dia akan berusaha untuk menjaga sumber informasi itu serta memelihara dan mengorganisasikannya sebaik mungkin. Upaya ini dilakukan agar ketika diperlukan, informasi itu dapat dengan mudah ditemukan

(13)

dan dimanfaatkan. Motif dan perilaku seperti ini akan mempengaruhi minat dan kesungguhan dalam mengumpulkan infor-masi serta strategi yang ditempuhnya.

Menulis banyak memberikan manfaat, di antaranya:

a. Wawasan tentang topik akan bertambah, karena dalam menulis berusaha mencari sumber tentang topik yang akan ditulis,

b. Berusaha belajar, berpikir, dan bernalar tentang sesuatu misalnya menjaring informasi, menghubung-hubungkan, dan menarik simpulan,

c. Dapat menyusun gagasan secara tertib dan sistematis,

d. Akan berusaha menuangkan gagasan ke atas kertas walaupun gagasan yang tertulis me-mungkinkan untuk direvisi,

e. Menulis memaksa untuk belajar secara aktif, dan

f. Menulis yang terencana akan membisakan berfikir secara tertib dan sistematis.

D. Tahapan Dan Proses Menulis

Menulis merupakan perkembangan kemampuan lebih lanjut dari ketrampilan membaca. Seorang penulis pastilah pembaca, namun pembaca bisa jadi bukan seorang penulis. Ketrampilan menulis seseorang melalui beberapa tahap perkembangan. Temple, Nathan, Burns; Cly: Ferreiro dan Teberosky dalam Brewer (1992) mengemukakan perkembangan tahapan menulis seorang anak antara lain:

1. Scribble stage. Tahap ini ditandai dengan dimulainya anak menggunakan alat tulis untuk membuat coretan-coretan sebelum membuat bentuk atau huruf yang dapat dikenali

2. Linear repetitive stage. Pada tahap ini, anak menemukan bahwa tulisan biasanya berarah horizontal, dan huruf-huruf tersusun berupa barisan pada habman kertas. Anak juga telah mengetahui bahwa kata yang panjang akan ditulis dalam barisan huruf yang lebih panjang dibandingkan dengan kata yang pendek.

3. Random letter stage. Pada tahap ini, anak belajar mengenai bentuk coretan yang dapat diterima sebagai huruf dan dapat menuliskan huruf-huruf tersebut dalam urutan acak dengan maksud menulis kata tertentu.

(14)

8 4. Letter name writing, phonetic writing Pada tahap ini, anak mulai memahami hubungan antara huruf dengan bunyi tertentu. Anak dapat menuliskan satu atau beberapa huruf untuk melambangkan suatu kata, seperti menuliskan huruf depan namanya saja, atau menulis bu dengan sebagai lambang dari buku.

5. Transitional spelling. Pada tahap ini, anak mulai memahami cara menulis secara konvensional, yaitu menggunakan ejaan yang berlaku umum. Anak dapat menuliskan kata yang memiliki ejaan dan bunyi sama dengan benar, seperti kata buku, namun masih sering salah menuliskan kata yang ejaannya mengikuti cara konvensional dan tidak hanya ditentukan oleh bunyi yang terdengar, seperti hari sabtu tidak ditulis saptu, padahal kedua tulisan tersebut berbunyi sama jika dibaca.

6. Conventional spelling. Pada tahap ini, anak telah menguasai cara menulis secara konvensional, yaitu menggunakan bentuk huruf dan ejaan yang berliku umum untuk mengekspresikan berbagai ide abstrak.

Secara umum menurut Elina Syarif, Zulkarnaini, dan Sumarno (2009, hlm. 11) tahap-tahap menulis terdiri dari enam langkah, yaitu

1. Tahap Pratulis. Tahap pratulis merupakan tahap paling awal dalam kegiatan menulis. Tahap ini terletak pada sebelum melakukan penulisan.

Di dalam tahap pratulis terdapat berbagai kegiatan yang dilakukan oleh penulis. Mulai dari menentukan topik yang akan ditulis. Penulis mempertimbangkan pemilihan topik dari segi menarik atau tidaknya terhadap pembaca.

2. Tahap Pembuatan Draf. Draf yang dimaksud adalah tulisan yang disusun secara kasar. Pada kegiatan ini penulis lebih mengutamakan isi tulisan dari pada tata tulisnya sehingga semua pikiran, gagasan, dan perasaan dapat dituangkan ke dalam tulisan.

3. Tahap Revisi. Merevisi berarti memperbaiki, dapat berupa menambah yang kurang atau mengurangi yang lebih, menambah informasi yang mendukung, mempertajam perumusan penulisan, mengubah urutan penulisan pokok-pokok pikiran, menghilangkan informasi yang kurang

(15)

relevan, dan lain sebagainya. penulis berusaha untuk menyempurnakan draf yang telah selesai agar tulisan tetap fokus pada tujuan.

4. Tahap Penyuntingan. Pada tahap penyuntingan penulis mengulang kembali kegiatan membaca draf. Tulisan pada draf kasar masih memerlukan beberapa perubahan. Kegiatan selama tahap penyuntingan adalah meneliti kembali kesalahan dan kelemahan pada draf kasar dengan melihat kembali ketepatannya dengan gagasan utama, tujuan penulisan, calon pembaca, dan kriteria penerbitan.

5. Tahap Publikasi. Tahap publikasi merupakan tahap paling akhir dalam proses menulis. Dalam tahap ini yang dilakukan adalah memublikasikan tulisannya melalui berbagai kemungkinan misalnya mengirimkan kepada penerbit, redaksi majalah, dan sebagainya. Dapat pula dengan berbagi tulisan dengan berbagai pembaca.

E. Model Pembelajaran Menulis 1. Model Brainstorming

Brainstorming dipandang sebagai kegiatan penalaran individual secara asosiasibebas untuk memilah, memilih dan menyusun suatu topik bahasan sesuai dengan tema, maksud, tujuan serta kontesks interaksi. Menurut Indihadi (2017, hlm. 91) menyatakan model Brainstroming (curahan pendapat) merupakan salah satu cara ide (gagasan) dalam menulis yang dilakukan secara individu maupun kelompok dalam proses penyelesaian sebuah masalah

Pembelarajan menulis model brainstorming berhasil meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik dapat menghasilkan tulisan sesuai dengan tema, maksud, tujuan serta konteks interaksi setelah peserta didik merumuskan area isi tulisan melalui brainstorming. Peserta didik dapat memilah, memilih, dan menyusun topik tulisan sebagai area isi dalam tulisan. Peserta didik dapat menyolusikan hambatan dalam proses menulis setelah pembelajaran menerapkan strategi brainstorming. Pembelajaran menulis berbasis brainstorming direkomendasikan untuk dikembangkan sebagai model pembelajaran menulis di SD. Sejalan dengan itu, pembelajaran menulis berbasis brainstorming direkomendasikan sebagai solusi alternatif bagi guru dalam meningkatkan

(16)

10 keberhasilan belajar peserta didik dalam menulis. Dengan demikian, guru direkomendasikan untuk mengembangkan model pembelajaran menulis dengan berbasis brainstorming sesuai dengan kondisi di SD.

a. Langkah-langkah Model Brainstorming

1. Pemberian informasi dan motivasi Guru menjelaskan masalah yang akan dibahas dan latar belakangnya, kemudian mengajak siswa agar aktif untuk memberikan tanggapannya

2. Identifikasi Siswa diajak memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak- banyaknya. Semua saran yang diberikan siswa ditampung, ditulis dan jangan dikritik.

3. Klasifikasi Mengklasifikasi berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bisa juga berdasarkan struktur/faktor-faktor lain.

4. Verifikasi Kelompok secara bersama meninjau kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan. Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahan yang dibahas.

5. Konklusi (penyepakatan) Guru/pimpinan kelompok beserta peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemecahan masalah yang disetujui. Setelah semua puas, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.

b. Kelebihan dan Kekurangan Metode Brainstorming

Menurut Rostiyah (2008, hlm. 75) model brainstorming digunakan karena memiliki banyak kelebihan seperti :

1. Peserta didik aktif berfikir untuk menyatakan pendapat, 2. Melatih peserta didik berfikir dengan cepat dan tersusun logis,

3. Merangsang peserta didik untuk selalu siap berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan guru,

4. Meningkatkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran,

5. Peserta didik yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannya yang pandai atau dari guru,

(17)

6. Terajadi persaingan yang sehat,

7. Peserta didik merasa bebas dan gembira,

8. Suasana demokrasi dan disiplin dapat ditumbuhkan.

Selain itu model brainstorming memiliki kelemahan yang perlu diatasi yaitu:

1. Guru kurang memberi waktu yang cukup kepada peserta didik untuk berfikir dengan baik,

2. Peserta didik yang kurang selalu ketinggalan,

3. Terkadang pembicaraan hanya didominasi oleh peserta didik yang pandai saja,

4. Guru hanya menampung pendapat tidak merumuskan kesimpulan, 5. Tidak menjamin pemecahan masalah,

6. Masalah dapat berkembang kearah yang tidak diarahkan

2. Model Brain Writing

Model brain writing ialah model pembelajaran yang berfokus pada pengembangan pengasahan ide-ide peserta didik. Lalu ide-ide yang telah peserta didik buat ditukar dengan teman sekelompok untuk saling memperbaiki dan menambahkan ide yang lain. Berikut paparan pakar tentang pengertian model ini.

Michalko (2004, hlm. 315) menyatakan pengertian brain writing, sebagai berikut: Brainwriting adalah sebuah teknik yang cara penyampaiannya melalui sebuah tulisan atau tertulis. Brain berarti otak, write berarti menulis. Jadi, brainwriting adalah menulis segala sesuatu yang terlintas di otak. Teknik brainwriting merupakan teknik untuk mencurahkan gagasan tentang suatu pokok permasalahan atau tentang suatu hal secara tertulis yang dikembangkan oleh Ilmuwan di Batelle Institute di Frankfurt, Jerman.

Berdasarkan paparan pernyataan dari Michalko, dapat dibahas model brain writing ialah model pembelajaran yang memfokuskan pada pengasahan ide-ide.

Menulis segala sesuatu yang terlihat dalam otak menjadi sebuah ide-ide. Model ini mengasah proses berfikir seseorang yang akan menulis.

Brokop, dkk. (2009, hlm. 9) menyatakan, “Brainwriting memungkinkan individu untuk berbagi ide dengan kelompok melalui pertukaran ide-ide yang ditulis di atas kertas. Salah satu anggota kelompok menulis ide, lain membacanya

(18)

12 dan menambahkan umpan balik dan gagasan sendiri, serta dibagikan pada yang lain.”

Berdasarakan pendapat tersebut, dapat dibahas bahwa brain writing ialah pembelajaran yang lebih berfokus pada berbagi ide-ide bersama dengan teman sekolompokya. Pada saat proses tersebut, salah satu dari anggota kelompok menuliskan ide masing-masing terlebih dahulu di kertas. Lalu, setelah selesai kertas berisikan ide tersebut ditukar dengan teman sekelompoknya untuk menambahkan atau memperbaiki ide yang telah dibuat

Maka dari itu dapat ditarik simpulannya bahwa brain writing merupakan model pembelajaran yang berfokus menungkan ide gagasan suatu topik secara tertulis. Sehingga meningkatkan proses berpikir seseorang. Rangkaian-rangkaian proses pada model ini dapat menciptakan hasil ide yang lebih menarik daripada ide yang sebelumya.

a. Langkah – langkah model brain writing

Setiap model tentulah memiliki sintak atau langkah-langkah dalam penerapan dalam pembelajarannya. Sama halnya dengan model brain writing.

Model ini memiliki sintak atau langkah-langkah dalam penerapan ke dalam pembelajaran. Berikut paparan mengenai langkah-langkah brain writing. Asih (2016, hlm. 150) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan model brain writing sebagai berikut

1. Siswa dan guru mendiskusikan tema tulisan yang akan dituliskan.

2. Siswa diberi kesempatan untuk melakukan proses pra-penulisan secara individu atau kelompok, baik di kelas maupun di luar kelas. Jika berkelompok, hal-hal yang didiskusikan dan berbagai saran gagasan teman harus dituangkan dalam kartu/lembar gagasan (boleh secara gars besar).

Temuan siswa dalam kegiatan pra-penulisan dituangkan dalam lembar/kartu gagasan.

3. Siswa diberi kesempatan untuk menulis secara mandiri (sendiri-sendiri).

4. Setelah selesai menulis draft, tulisan siswa ditukarkan dengan siswa lain, berpasangan/acak, masing-masing siswa melakukan tahap pasca-menulis

(19)

(editing and revising). Para siswa melakukan brain writing dalam menyunting tulisan teman lainnya.

5. Siswa diminta memberi saran, komentar, gagasan dan sebagainya atas tulisan teman yang dibacanya secara tertulis dalam lembar/kartu gagasan.

6. Setelah tulisan dikembalikan beserta kartu gagasan, para siswa memperbaiki tulisannya kembali.

7. Beberapa siswa diminta menyajikan tulisannya secara lisan.

8. Guru dan siswa merefleksi tulisan teman yang disajikan.

9. Tulisan dikumpulkan dan dievaluasi oleh guru.

Berdasarkan paparan tersebut, dapat dibahas bahwa langkah awal yang dilakukan dalam pembelajarann model ini ialah menentukakan tema atau tulisan yang akan dibuat. Kemudian setiap peserta didik menuliskan ide-ide pokok baik secara indicidu atau kelompok. Selesai menuliskan ide tersbut, kertas ide tersebut saling ditukarkan sesama teman untuk memperbaiki atau menambahkan ide-ide baru. Selesai itu, kertas dikembalikan pada pemiliknya untuk diperbaiki tulisannya menjadi tulisan yang utuh.

b. Kelebihan dan Kekurangan Model Brain Writing

Pada setiap strategi, pendekatan, model, metode, teknik, dan media pembelajaran terdapat kekurangan dan kelebihannya pada penerapan dalam prose pembelajaran. Sama halnya dengan model brain writing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Paparan kelebihan dari penggunaan model brain writing menurut Wilson (Nurmayani, 2015, hlm. 25), adalah sebagai berikut.

1. Dapat menghasilkan ide-ide lebih banyak dibandingkan dengan curah pendapat kelompok tradisional.

2. Mengurangi kemungkinan konflik antar anggota dalam kelompok perdebatan.

3. Membantu anggota-anggota yang pendiam dan kurang percaya diri dalam mengutarakan pendapatnya secara lisan dalam sebuah kelompok curah pendapat.

4. Mengurangi kemungkinan ketakutan apabila pendapatnya tidak diterima anggota lain.

(20)

14 5. Mengurangi kecemasan ketika seseorang bekerja dalam budaya (atau dengan kelompok multibudaya), peserta mungkin malu untuk mengungkapkan ide-idenya karena tidak terbiasa melakukan curah pendapat secara tatap muka.

6. Dapat dikombinasikan dengan teknik kreativitas lainnya untuk meningkatkan jum lah ide yang dihasilkan pada topik tertentu atau masalah tertentu.

Berdasarkan paparan tersebut, dalam model pembelajaran brain writing memiliki kelebihannya. Kelebihan dari model ini ialah menghasilkan ide yang lebih banyak, karena adanya kombinasi ide-ide dari teman kelompoknya sehingga meningkatkan jumlah ide yang dihasilkan, membantu anggota kelompoknya yang pendiam. Selain itu, model ini membantu terciptanya suana pembelajaran yang kreatif dan inofatif.

Terdapat pula kekurangan dari penggunaan model brain writing yang diungkapkan Wilson (Nurmayani, 2015, hlm. 26), yakni sebagai berikut:

1. Model ini kurang dikenal dibandingkan dengan metode brainstorming.

2. Kurangnya interaksi sosial antar peserta karena setiap peserta menuliskan ide-ide mereka tanpa berbicara dengan peserta lainnya

3. Peserta mungkin merasa bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya mengekspresikan ide-ide mereka secara tertulis; dan

4. Tulisan tangan bisa menjadi sedikit sulit untuk menguraikan dan menginterpretasikan hasil dari menuliskan ide maupun gagasan.

Berdasarkan pernyataan tersebut, model pembalanjaran brain writing memiliki kekurangan. Kekurangan dari model ini ialah masih asingnya model ini dikalangan pendidikan. Kurangnya interaksi antara sesama peserta didik.

Kekurangan lain dari model ini kurang percaya dirinya peserta didik dalam menunangkan ide yang mereka ingin tuliskan selain itu, sulitnya menguraikan dan menginterprestasikan hasil dari ide-ide yang telah ditulis sebelumnya.

3. Model Mind Mapping

Mind mapping atau pemetaan pikiran merupakan cara kreatif bagi tiap pembelajar untuk menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari, atau

(21)

merencanakan tugas baru (Silberman, 1996). Pemetaan pikiran merupakan cara yang sangat baik untuk menghasilkan dan menata gagasan sebelum mulai menulis (Hernowo, 2003). Meminta pembelajar untuk membuat peta pikiran memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dengan jelas dan kreatif apa yang telah mereka pelajari atau apa yang tengah mereka rencanakan.

DePorter (2005) mengatakan bahwa pemetaan pikiran adalah teknik pemanfaatan seluruh otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan. Otak seringkali mengingat informasi dalam bentuk gambar, simbol, suara, bentuk-bentuk, dan perasaan. Peta pikiran menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik ini dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan seperti peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorganisasikan, dan merencanakan.

Peta ini dapat membangkitkan ide-ide orisinil dan memicu ingatan yang mudah.

Ini jauh lebih mudah daripada metode pencatatan tradisional karena ia mengaktifkan kedua belahan otak.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran mind mapping cara termudah untuk menempatkan informasi kedalam otak dan memudahkan pengguna untuk mengingat atau mengambil informasi ketika dibutuhkan kembali. Atau mind mapp merupakan cara mencatat yang kreatif, efektif, dan memetakan pikiran-pikiran secara menarik, mudah dan berdaya guna bagi setiap siswa untuk menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari atau merencanakan tugas baru.

a. Langkah langkah model mind mapping

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pembelajaran menulis dengan model Mind Mapping adalah sebagai berikut.

1. Pengembangan intuisi. Intuisi merupakan kemampuan memahami sesuatu tanpa dipelajari. Pengembangan intuisi ini dilakukan dengan pembuatan peta pikiran. Langkah-langkahnya adalah :

a. Menulis gagasan utama di tengah-tengah kertas sesuai dengan gagasan yang diinginkan,

(22)

16 b. Menambahkan sebuah cabang yang keluar dari pusatnya untuk setiap gagasan utama. Jumlah cabangnya sangat bervariasi tergantung dari jumlah gagasan,

c. Menulis kata kunci pada tiap-tiap cabang yang dikembangkan lebih detail, dan

d. Menambahkan simbol-simbol dan ilustrasi untuk mendapatkan ingatan yang lebih baik.

2. Berlatih menulis. Pelatihan menulis ini dilakukan berdasarkan peta pikiran yang dibuat secara spontan. Proses penulisannya dilakukan secara cepat tanpa berhenti atau memperbaiki tulisan tersebut.

3. Tahap setelah menulis. Pada tahap ini dilakukan pengoreksian tulisan.

Koreksi bisa dilakukan oleh diri sendiri ataupun orang lain untuk mendapatkan masukan secara objektif.

Dengan Langkah-langkah yang sudah dijelaskan maka akan menuntun pembelajar atau peserta didik menghasilkan tulisan dengan organisasi yang sistematis.

b. Kelebihan dan kekurangan model mind mapping

Menurut Olivia (2008, hlm. 13) Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Mind Mapping sebagai berikut:

1. Cara mudah menggali informasi dari dalam dan dari luar otak.

2. Dapat digunakan sebagai jembatan diskusi, artinya kita dapat mengembangkan mind mapping yang telah kita buat dengan mind mapping anggota kelompok lain untuk diskusikan.

3. Cara baru untuk belajar dan berlatih dengan cepat dan efisien.

4. Cara membuat catatan agar tidak membosankan.

5. Cara terbaik untuk mendapatkan ide baru dan melatih kemampuan merencana.

6. Alat berfikir yang mengasyikan karena membantu berfikir 2 kali lebih baik, 2 kali lebih cepat, 2 kali lebih jernih dan dengan lebih menyenangkan

Kekurangan dari mind mapping yaitu:

1. Hanya siswa aktif yang terlibat,

(23)

2. Tidak sepenuhnya murid belajar,

3. Memerlukan latihan sehingga siswa terbiasa dan mahir. Biasanya siswa akan ragu-ragu untuk menulis atau menggambar. Dorongan dari guru diperlukan sehingga mereka akan lebih berani, kreatif dan aktif.

4. Memerlukanwaktu relatif lama dari teknik mencatat biasa bila siswa masih dalam tahap pemula, tetapi justru dapat menjadi teknik mencatat yang cepat jika mereka sudah terbiasa dan mahir membuat mind map.

5. Mind mapping siswa bervariasi sehingga guru akan kewalahan memeriksa mind mapping siswa

Kekurangan dari model mind mapping ini dapat diatasi apabila guru benar- benar memahami model mind mapping dan penerapannya dalam pembelajaran.

Dalam pembuatannya, guru juga harus senantiasa membimbing siswa sehingga siswa tidak merasa kesulitan dan merasa lebih tertarik untuk membuat mind map.

4. Model Round Table

Model kooperatif tipe round table yaitu pembelajaran yang kegiatannya dilaksanakan secara bergiliran siswa merespon pendidik dengan menuliskan satu atau dua kata sebelum menyarahkan kertas yang telah ditulis kepada siswa lain yang melakukan hal yang sama (Barkley & Major, 2012).

Nofiyanti (2014, hlm. 5-9) mengatakan bahwa, model pembelajaran kooperatif round table bertumpu pada kerja kelompok kecil, dengan langkah- langkah yaitu siswa dikelompokkan dalam kelompok kecil yang heterogen dan dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas, anggota saling bekerja sama dan membantu untuk menyelesaikan tugas Pada metode pembelajaran ini siswa berdiskusi dalam kelompoknya mengenai suatu tema dan menyamakan persepsi, di mana tiap anggota kelompok menyumbangkan idenya sesua dengan tema yang selanjutnya disusun suatu kesimpulan berdasarkan hasil kolaborasi ide dari tiap-tiap anggota kelompok Belajar belum selesai jika salah satu teman belum menguasai bahan pembelajaran

Model kooperatif round table merupakan model yang memberikan kesempatan kepada semua anggota kelompok atau semua siswa untuk menyumbangkan kreativitas dari pemahamannya atau pikirannya melalui tulisan

(24)

18 secara bergiliran untuk memecahkan masalah yang ada, model ini digunakan sebagai latihan siswa merespon dan memberikan jawaban terhadap masalah.

Model pembelajaran kooperatif tipe round table yaitu teknik menulis yang menerapkan pembelajaran dengan menunjuk setiap anggota kelompok untuk ikut serta aktif dalam pembelajran secara bergiliran dalam kelompoknya dengan membentuk meja bundar atau duduk melingkar untuk menuliskan hasil pemahamnya Menurut Mccafferty dalam (Annisa dan Harni, 2020. Hlm 1454)

a. langkah-langkah dalam model round table

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam model pembelajaran round table, yaitu

1. Siswa dibentuk dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang secara heterogen Masing-masing siswa duduk sesuai dengan kelompoknya dengan posisi membentuk lingkaran mengelilingi meja

2. Siswa berdiskusi dalam kelompoknya mengenai suatu tema dan menyamakan persepsi Masing - masing anggota kelompok menyumbangkan idenya terkait dengan tema tersebut secara bergiliran pada kertas yang telah dibagikan.

3. Siswa pertama menyumbangkan idenya dan menuliskan namanya, kemudian dilanjutkan oleh kedua dan seterusnya hingga waktu terakhir dalam kelompok. Penyusunan ade-ide tersebut dilakukan secara kolaborasi.

4. Ide-ide yang sudah terkumpul digunakan sebagai bahan setiap anggota kelompok untuk menyusun karangan secara individu. Karangan masing- masing anggota kelompok yang telah tercipta ditukarkan dan didiskusikan dalam kelompok untuk dilakukan pengeditan

5. Masing-masing kelompok diminta memilih dan menentukan satu karangan unggulan dalam kelompoknya untuk ditampilkan di depan kelas

b. Kelemahan dan kelebihan model round table

Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe roundtable menurut Barkley dalam (Rahmatika Shohifa 2019, hlm. 16) ialah sebagai berikut:

(25)

1. Membantu memfokuskan perhatian kepada siswa, 2. Adanya partisipasi dan interaksi antar siswa,

3. Mendorong semua siswa untuk mencurahkan gagasan-gagasan dan pendapat,

4. Siswa belajar kritis dan kreatif

5. Adanya tanggung jawab pribadi dimana setiap anggota kelompok harus memiliki konstribusi aktif dalam bekerja kelompok

Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe roundtable:

1. Siswa cenderung mengandalkan teman sekelompoknya dalam memberikan pendapat.

2. Tidak ada kuis individu maupun penghargaan kelompok sehingga siswa saat berkelompok kurang termotivasi untuk bekerja sama, tapi tidak menutup kemungkinan bagi guru untuk menambahkan pemberiaan kuis individu dan penghargaan kelompok.

3. Membutuhkan waktu yang panjang

(26)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari penulisan makalah tentang Model Pembelajaran Bahasa Indonesia ini adalah:

1. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang harus dipelajari secara terus menerus. Tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat memberikan informasi kepada pembaca secara jelas. Menurut Tarigan (2008, hlm. 22) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menghasilkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut dan dapat memahami bahasa dan grafis itu.

2. Hugo Hartig dalam tarigan (1986, hlm. 24-25) merumuskan tujuan menulis : a) Tujuan penugasan ini berarti menulis tidak memiliki tujuan sama sekali. Penulis menulis karena ditugaskan, bukan atas kemauannya sendiri. b) Tujuan altruistik (aluistric purpose). Penulis bertujuan untuk menyenangkan pembaca, dengan menghindarkan kedukaan pembaca.

Penulis ingin menolong pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, penulis ingin membuat hidup pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya. c) Tujuan persuasi (persuasive purpose). Tujuan penulis adalah meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan. d) Tujuan Informasi (informational purpose).

Tujuan penulis adalah memberikan informasi atau keterangan penerangan kepada para pembaca. e) Tujuan penyataan diri (self-ekspresive purpose) Tujuan penulis adalah menyatakan atau memperkenalkan diri kepada pembaca. f) Tujuan kreatif (creative purpose). Tujuan penulis adalah mencapai nilai-nilai artistik dan nilai-nilai kesenian.

20

(27)

3. Graves (dalam Akhadiah dkk., 1998:1.4) berkaitan dengan manfaat menulis mengemukakan bahwa: Menulis menyumbang /mengasah kecerdasan, Menulis mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, Menulis menumbuhkan keberanian, dan Menulis mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi..

4. Secara umum menurut Elina Syarif, Zulkarnaini, dan Sumarno (2009, hlm.

11) tahap-tahap menulis terdiri dari enam langkah, yaitu: 1) Tahap Pratulis. Tahap pratulis merupakan tahap paling awal dalam kegiatan menulis. 2) Tahap Pembuatan Draf. Draf yang dimaksud adalah tulisan yang disusun secara kasar. 3) Tahap Revisi. Merevisi berarti memperbaiki, dapat berupa menambah yang kurang atau mengurangi yang lebih, menambah informasi yang mendukung, mempertajam perumusan penulisan, mengubah urutan penulisan pokok-pokok pikiran, menghilangkan informasi yang kurang relevan, dan lain sebagainya. Dan 4) Tahap Penyuntingan. Pada tahap penyuntingan penulis mengulang kembali kegiatan membaca draf. Tahap Publikasi. Tahap publikasi merupakan tahap paling akhir dalam proses menulis.

5. Model Pembelajaran Menulis yaitu Model Brainstorming, Model Brain Writing, Model Mind Mapping serta Model Round Table dalam model- model tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing serta memiliki langkah-langkah dalam setiap modelnya.

B. Saran

1. Penguasaan Model pembelajaran menulis merupakan komponen yang sangat penting, karena dengan menggunakan model pembelajaran dalam perencanaan dan penyampaian instruksional membantu memperjelas prosedur pada saat guru mengajar, untuk menciptakan hubungan serta keadaan keseluruhan dari yang didesain dalam pembelajaran

(28)

22 2. Kita mahasiswa sebagai calon guru setelah tahu itu model-model pembelajaran bahasa Indonesia di SD, maka dalam pembelajaran harus menentukan terlebih dahulu model yang tepat maka peluang akan tercapainya tujuan pembelajaran akan semakin besar.

3. Penjelasan yang ada di dalam makalah ini semoga dapat membantu kita mengaplikasikan menggunakan model pembelajaran menulis bahasa Indonesia di SD dalam kegiatan pembelajaran.

(29)

Abbas, Nurhayati. 2000. “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berorientasi Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction)”. Makalah Komprehensif Program Studi Pendidikan Matematika Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Surabaya.

Agus, Suprijono. 2012. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem.

Yogyakrta: Pustaka Pelajar.

Akhadiah, S., Maidar, G.A., dan Sakura, H.R. (1998). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Annisa Nurul, Harni. (2020). Model Kooperatif Tipe Round Table pada Kemempuan Menulis Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan

Tambusai, 4(2), 1454. (Online):

https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/610 (9 November 2022)

Asih, 2016. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Setia Barkley, E. E., Cross, K. P., & Major, C. H. (2012). Collaborative Learning

techniques: Teknik-Teknik Pembelajaran Kolaboratif. Bandung: Nusa Media.

Dafit, F. (2017). Keefektifan Kemampuan Menulis Kreatif Siswa SD Dengan Model Pembelajaran Multiliterasi. GERAM, 5(1), 49-57. Online:

https://journal.uir.ac.id/index.php/geram/article/view/418 (28 Oktober 2022) DePorter, B. & Hernacki, M. (2005). Quantum Learning: Membiasakan Belajar

Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kai

Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno. 2009. Pembelajaran Menulis. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional.

Indihadi Dian. (2017). Pembelajaran Berbasis Brainstorming. Indonesian Journal of Primary Education, 2(2). Halaman 91-95. Online:

https://ejournal.upi.edu/index.php/IJPE/article/view/15172 (Rabu, 09 November 2022)

iii

(30)

iv Michalko, M. (2004). Permainan Berpikir (Thinkertyos): Handbook Para

Pembisnis Kreatif. Bandung: Kaifa

Mukrimaa, Syifa. (2014). 53 Metode Belajar Dan Pembelajaran. Bandung:

Indonesia University Of Education

Nurmayani, R. (2015). Keefektifan Strategi Brain Writing dalam Pembelajaran Menulis Cerpen pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Ngaglik. Universitas Negeri Yogyakarta

Olivia, F. 2008. Gembira Belajar dengan Mind Mapping. Jakarta: Elex Media Komputindo

Roestiyah. 2008. Model dan Metode Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Shohifatul Rahmatika Sari, Skrpsi: “Pengaruh Model Pembelajaran Round Table Terhadap Keterampilan Menulis Cerita Pendek (Penelitian Pada Siswa Kelas V SD Negeri Pasuruhan 1 Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang)”, (Magelang: Universitas Muhammadiyah Magelang, 2019) Silberman, M.L. (1996). Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. B Suparno dan M. Yunus. (2003). Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Pusat.

Tarigan, Henry G. (1986) Menulis Sebagai Suatu Keterapilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa

Tarigan, Henry Guntur. (2008). Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Widyamartaya. 1991. Menulis Narasi dan Deskripsi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk menghasilkan satu model pembelajaran terpadu yang cocok dengan karakteristik siswa Sekolah Dasar dan mampu melaksanakannya dalam

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis kosakata bahasa Indonesia siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri 19

menulis bahasa Inggris siswa yang mengikuti model pembelajaran kontekstual lebih baik dari keterampilan menulis bahasa Inggris siswa yang mengikuti model pembelajaran

Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan fase pengembangan model pembelajaran menulis paragraf bahasa Indonesia berbasis konstruktivisme (MPBK) tipe P2RE pada mahasiswa

Judul Skripsi : UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA MATERI

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, materi pokok menulis cerita melalui pembelajaran

SITI FATIMAH, Efektivitas Model PAIKEM dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman Bahasa Indonesia Siswa Kelas V Sekolah Dasar, Tesis, Program Pendidikan Bahasa Indonesia,

Dokumen ini membahas tentang pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah