Teologi Kontekstual Disusun Oleh :
Kelompok 2
Model
Terjemaha
n
Pokok Bahasan
1. Pendahuluan
I. Latar Belakang Masalah II. Rumusan Masalah
III. Tujuan Penulisan 2. Pembahasan
3. Penutup
• Kesimpulan
Pembahasan
• Apa yang menjadi dasar Teologis dari penggunaan Model terjemahan dalam Teologi Kontekstual?
• Bagaimana Pewahyuan diartikan sebagai Proposional dan pewahyuan kuantitatif dalam Teologi Kontekstual?
Apa saja tantangan yang dihadapi dalam menerapkan model terjemahan dalam teologi kontekstual?
Bagaimana model terjemahan dalam teologi kontekstual dapat memperkaya pemahaman agama dan memberikan relevansi dalam konteks kontemporer?
Latar Belakang Masalah
Dalam Pelayanan Berkontekstual, kontekstual itu identik dengan namanya budaya, budaya yang ada di Indonesia begitu banyak perbedaan di dalamnya, baik agama,
bahasa, budaya dan ras dari masing-masing suku sebagai objek dari kontekstual. Suku di Indonesia 1.340 suku bangsa di Tanah Air menurut sensus BPS tahun 2010.
Dari ini merupakan salah satu tantangan dan bisa jadi masalah dalam dunia kontekstual, tentang bagaimana ketika seorang penginjil menentukan langkah-langkah dalam berdialog dalam buaya serta langkah-langkah yang harus dipahami sejak awal, jika seorang penginjil tidak mempersiapkan dengan baik, maka dengan tangan kosong tentunya penginjil tersebut akan stuck dalam satu titik dan tidak bisa masuk dalam budaya dari suku yang di inijilanya.
Latar Belakang Masalah
Dengan dunia yang terus berkembang dan kebudayaan yang satu berjalan bertemu dengan
kebudayaan yang lainya, dinamika ini berjalan terus menerus untuk bisa saling bertemu. Dengan Hal ini Stephen B. Bevans memanfaatkan masalah ini dengan baik, dengan mengemukakan
sebuah model-model salah satunya ialah model terjemahan dalam Teologi Kontekstual ini usaha dalam mempertahankan konteks dari Alkitab sebagai alat yang dapat di pakai untuk mempe
rmudah dalam pelayanan misi kontekstual dalam suku-suku yang ada.
Model terjemahan ini memberikan kemudahan dan membantu meningkatkan pemahaman tentang dinamika teologis dan budaya dalam konteks Kristen dan memungkinkan diskusi antarbudaya lewat dialog yang lebih luas dan inklusif
Latar Belakang Masalah
Oleh karena itu, penelitian tentang model terjemahan dalam teologi kontekstual
bukan hanya merupakan kebutuhan praktis; itu juga merupakan panggilan intelektual
dan spiritual untuk memahami pesan agama dalam era global yang kompleks ini dan
menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.
1. Apa yang menjadi dasar Teologis dari penggunaan Model terjemahan dalam Teologi Kontekstual?
2. Bagaimana Pewahyuan dari Allah sebagai alat Komunikasi budaya dari objek kontekstual?
3. Bagaimana model terjemahan dalam teologi kontekstual dapat memperkaya pemahaman agama dan memberikan relevansi dalam konteks kontemporer?
4. Apakah tantangan yang dihadapi dalam menerapkan model terjemahan dalam teologi kontekstual?
Rumusan Masalah
• Memahami dasar Teologis dari penggunaan Model terjemahan dalam Teologi Kontekstual
• Memahami dengan menggunakan Pewahyuan dari Allah sebagai alat Komunikasi budaya dari objek kontekstual
• Mengetahui manfaat dari Model terjemahan secara teologis dan implikasinya dalam dunia kontemporer
• Mengetahui tantangan yang akan di hadapi dalam menerapkan metode dalam pelayanan Teologi Kontekstual
Tujuan Penulisan
Dasar Teologis dari penggunaan Model terjemahan dalam Teologi Kontekstual
Teologi kontekstual sendiri sudah ada dari lama Dimana Allah sendiri
menyatakan dirinya dan berinkarnasi melalui Wahyu didalam Alkitab sebagai sang pencipta, sehingga Allah menjadikan kehendaknya yang abadi dan menciptakan manusia. Penekanan utamanya adalah Allah merupakan penggerak utama atas kontekstualisasi.
Hal ini dimulai ketika Allah menyatakan dirinya dan semuanya yang ada berasal
darinya pernyataan Allah akan dirinya membangun relasi atau hubungannya dengan manusia melalui Wahyu
Dasar Teologis dari penggunaan Model terjemahan dalam Teologi Kontekstual
Salah satu contoh mendasar yang kami ambil dan lihat dari Alkitab sendiri yaitu dilihat dari Kisah Para Rasul 17:16-34 menjelaskan
beberapa hal mengenai kontekstualisasi yang Paulus lakukan, yaitu kontekstualisasi lahir dari hati yang terbeban. Kontekstualisasi
dilakukan dengan cara bertukar pikiran, memuji budaya orang Atena dan memberitakan tentang Injil Yesus Kristus.
Dasar Teologis dari penggunaan Model terjemahan dalam Teologi Kontekstual
Dari satu bagian ayat kontekstual yang dilakukan ini dapat membantu dan
memberikan kontribusi dalam dunia pelayanan dan pendidikan serta dapat menjadi panduan bagi pelayanan hamba-hamba Tuhan masa kini dalam berkontekstualisasi.
Pewahyuan dari Allah
sebagai alat Komunikasi budaya dari objek
kontekstual
Proposional artinya bahwa pewayuan itu dimengerti atau
dipahami sebagai komunikasi sejumlah kebenaran atau doktrin tertentu dari pihak Allah, dan oleh karena kebenaran dan doktrin itu berasal dari Allah maka seluruhnya bebas dari keterbatasan budaya atau dibungkus dalam sebuah kebuadayaan yang
dibenarkan Allah.
Selain itu, yang dimaksudkan pewahyuan kuantitatif adalah bahwa pemberitaan Kristen selalu membawa
sesuatu yang baru kedalam konteks, dan sesuatu yang baru itu akan diterima jikalau dipahami oleh budaya
setempat, seperti Kehadiran Allah. Disatu pihak teolog
Kristen mengatakan bahwa pewahyuan Allah telah terjadi secara penuh dalam diri Yesus Kristus, dan
dilain pihak meyakini pula bahwa Allah hadir dan mewahyukan diri dalam berbagai konteks budaya dimanapun.
Model terjemahan Pewahyuan dilakukan dalam teologi kontekstual karena sesuai dengan penjelasan diatas
bahwa kebanyakan budaya menyetarakan pewahyuan dengan tradisi budaya setempat, dan pewahyuan akan diterima apabila budaya setempat memahaminya.
Perlu melakukan pendekatan didalam budaya tersebut dan didalam pendekatan itu perlu adanya mempelajari kehidupan dalam budaya, dan perlu untuk memahami
situasi konteks budaya tersebut, membangun komunikasi dengan cara mempelajari Bahasa dari budaya tersebut,
karena Bahasa sangat membantu dalam proses menyampaikan kebenaran.
Model terjemahan dalam Teologi kontekstual
Tujuan dari model terjemahan, yang jelas bukan untuk meneerjemahkan kata demi kata…
seperti misalnya menerjemahkan kata table dalam bahasa inggris menjadi mensa dalam bahasa latin atau tavola dalam bahasa italia atau meja dalam
bahasa Indonesia. Tetapi maksud dan tujuan dari model terjemahan adalah digunakkan oleh seseorang untuk gambaran metafora ( pemakaian kata atau
bahasa) unuk menyampaikan Injil ke budaya baru agar lebih ( lebih mengerti)
Model terjemahan dalam Teologi kontekstual
Dalam tradisi gereja khotbah atau berkhotbah merupakam salah satu bentuk berteologi. Melalui berkhotbah seorang
pengkhotbah hendak mengkonsumsikan pesan yang diambilnya melalui proses hermenutik atau umumnya
eksegesis. Pesan yang dikhotbakan itu jadi pokok pengajaran jemaat. Namun dalam kontekstual seorang pengkhotbah
memperhatiakan dengan sungguh-sungguh konteks jemaat dimana teks Alkitab itu dibaca. Konteks jemaat dalam hal ini pengalaman jemaat kebudaayaan yang dihadapinya
Dalam konteks penerjemahan, tantangan yang muncul dari
perbedaan bahasa tidak hanya
terbatas pada kosa kata, tetapi juga mencakup struktur sintaksis dan
nuansa budaya. Memahami bahwa setiap bahasa memiliki
karakteristik uniknya sendiri.
Tantangan dalam menerapkan Model Terjemahan
Sangat penting untuk
menjadi seorang pewarta yang efektif, terutama ketika
menyampaikan pesan-pesan seperti injil kepada orang-
orang dari latar belakang yang berbeda.
Pewarta harus memahami dan
menghormati budaya tempat mereka
menyampaikan pesan, sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan efektif dan menghindari kesalahpahaman atau
penafsiran yang tidak diinginkan. pewarta juga harus terbuka terhadap perbedaan pendapat dan pandangan orang lain.
Tantangan dalam menerapkan Model Terjemahan
Setiap individu memiliki latar belakang,
kepercayaan, dan pengalaman yang berbeda, dan sebagai pewarta, kita harus menghargai keragaman ini. Kemampuan untuk
mendengarkan dengan empati, berdialog
dengan terbuka, dan menghargai perspektif
yang berbeda merupakan kualitas penting yang harus dimiliki oleh seorang pewarta yang efektif.
Agar komunikasi kontekstual atas Injil menjadi ampuh, seorang pewarta harus melewati dua langkah :
1. seorang pewarta harus berusaha
memahami injil. Untuk memahami injil, 2.
seorang pewarta berusaha untuk melucuti (membuka) bungkusan- bungkusan budaya, baik budaya dimana kitab suci maupun
bungkusan budaya dari sang pewarta.
Selama akhir pekan, bicaralah kepada 2-3 tetanggamu.
Seperti aktivitas kita, tanyakan hal yang menurut mereka adalah hal khas wilayahmu.
Tugas
Buat poster di Canva yang berisi temuanmu.
Dalam bahasa apa mereka berbicara? Acara atau perayaan apa yang kamu miliki? Adakah makanan
tertentu yang tidak dapat mereka temukan di tempat lain?
Puyallup School District. Human Geography. Puyallup School District, 2015, www.oercommons.org/courseware/lesson/16294.
Referensi
Gunakan ikon dan ilustrasi ini dalam Presentasi Canva. Selamat
mendesain! Jangan lupa hapus halaman ini sebelum presentasi.