1 MODUL PSIKOLOGI PENDIDIKAN
BAGUS MAHARDIKA, M.A.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TABIYAH
INSTITUT ILMU AL QUR’AN AN NUR YOGYAKARTA 2024
2 KONTRAK DAN PENUGASAN PEMBELAJARAN
Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan Kode MK : 223PI10
Bobot : 2 (sks)
Berlaku : Genap 2023/2024 A. Indentitas
Kemampuan akhir yang diharapkan Mata kuliah ini memberikan gambaran tentang berbagai sistematis mengenai proses dan faktor-faktor kejiwaan yang berkaitan dengan pendidikan. Mata kuliah ini menyajikan konsep dasar gejala jiwa manusia dalam bidang pendidikan dan penerapannya, yang meliputi konsep dasar psikologi pendidikan, bentuk-bentuk gejala psikis, perbedaan individu, belajar dan pembelajaran, evaluasi hasil belajar serta diagnostik kesulitan belajar.
Bobot jam kuliah dalam seminggu 2 x 50 Menit Bobot jam kegiatan laboraturium 2 x 50 Menit
Dosen Bagus Mahardika, M.A.
3 B. Level Taksonomi
Aspek Pengetahuan
knowledge V
Comperhension V
Application V
Analysis V
Synthesis V
Evaluation V
Imitation V
Aspek Keterampilan manipulation V
precision V
Articulation V
Naturalization V
Receiving V
Aspek Sikap Responding to valuing V
organization V
characterization V
C. Materi dan Pelaksanaan
Pertemuan Ke Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan
1 Kuliah Pengantar
Psikologi Pendidikan
Kuliah Pengantar Psikologi Pendidikan
2 Pengertian, Tujuan,
fungsi, ruang lingkup psikologi dan psikologi pendidikan.
Pengertian, Tujuan, fungsi, ruang lingkup psikologi dan psikologi pendidikan.
3 Sejarah dan aliran-aliran psikologi dalam pendidikan
Sejarah dan aliran-aliran psikologi dalam pendidikan
4 4 Teori-teori belajar dan
aplikasinya dalam pendidikan
Teori-teori belajar dan aplikasinya dalam pendidikan
5 Perkembangan kognitif
dan perkembangan bahasa serta implikasi dalam proses belajar.
Perkembangan kognitif dan perkembangan bahasa serta implikasi dalam proses belajar.
6 Perkembangan pribadi
(self) dan perkembangan moral serta implikasi dalam proses belajar.
Perkembangan pribadi (self) dan perkembangan moral serta implikasi dalam proses belajar
7 Kesulitan belajar, ADHD, gangguan bicara dan komunikasi, autism, fungsi kognitif dan sosial rendah, gangguan fisik dan sensor.
Kesulitan belajar, ADHD, gangguan bicara dan komunikasi, autism, fungsi kognitif dan sosial rendah, gangguan fisik dan sensor.
8 Ujian Tengah Semester
(UTS)
9 Memahami Gejala-gejala
Jiwa
Memahami Gejala-gejala Jiwa
10 Diversitas sosiokultural Diversitas sosiokultural
11 Memahami Proses
Kognitif Kompleks
Memahami Proses Kognitif Kompleks
5 D. Rencana Tugas
Tugas ke Jenis*) Isi Tugas
1 Individu 1. Mekanisme perkuliahan
2. Pembagian tugas kelompok
2 Kelompok 1. Presentasi materi part 2
2. Diskusi kelompok
3 Kelompok 1. Presentasi materi part 3
2. Diskusi kelompok
4 1. Kelompok (presentasi
dan diskusi) 2. Individu (quiz)
1. Presentasi materi part 4 2. Diskusi kelompok 3. Quiz
5 Kelompok 1. Presentasi materi part 5
12 Motivasi, pengajaran, dan pembelajaran serta faktor-
faktor yang
mempengaruhi proses belajar.
Motivasi, pengajaran, dan pembelajaran serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar.
13 Pengelolaan kelas yang efektif dalam situasi belajar.
Pengelolaan kelas yang efektif dalam situasi belajar
14 Penyesuaian Diri dan
Kesehatan Mental Individu
Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental Individu
15 Evaluasi hasil Belajar Siswa
Evaluasi hasil Belajar Siswa
6 2. Diskusi kelompok
6 Kelompok 1. Presentasi materi part 6
2. Diskusi kelompok
7 1. Kelompok (presentasi
dan diskusi) 2. Individu (quiz)
1. Presentasi materi part 7 2. Diskusi kelompok 3. Quiz
4. Pemberian kisi-kisi UTS
8 Individu Ujian Tengah Semseter
(UTS)
9 Kelompok 1. Presentasi materi part 9
2. Diskusi kelompok
10 Kelompok 1. Presentasi materi part 10
2. Diskusi kelompok
11 1. Kelompok (presentasi
dan diskusi) 2. Individu (quiz)
1. Presentasi materi part 11 2. Diskusi kelompok 3. Quiz
12 Kelompok 1. Presentasi materi part 12
2. Diskusi kelompok
13 Kelompok 1. Presentasi materi part 13
2. Diskusi kelompok
14 Kelompok 1. Presentasi materi part 14
2. Diskusi kelompok 15 1. Kelompok (presentasi
dan diskusi) 2. Individu (quiz)
1. Presentasi materi part 7 2. Diskusi kelompok 3. Quiz
4. Pemberian kisi-kisi UTS
16 Individu Ujian Akhir Semester
(UAS)
7 E. Rencana Ujian
UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)
1. CPMK: Mahasiswa mampu:
Mengetahui soal-soal ujian tengah semester (M1) Memahami soal-soal ujian tengah semester (M2) 2. SUB CPMK: Mahasiswa mampu :
Mengidentifikasi soal-soal ujian tengah semester (L1) Menjelaskan soal-soal ujian tengah semester (L3) 3. SOAL
1. Apa yang anda pahami terkait ilmu psikologi ? (10) 2. Apa yang anda pamahi terkait psikologi pendidikan ? (10) 3. Jelaskan manfaat psikologi pendidikan bagi seorang guru ? (10) 4. Jelaskan perbedaan individu menurut pemahaman anda ? (15)
5. Apa yang dimaksud teori belajar behaviourisme, teori belajar humanistic, dan teori belajar kognitif ? jelaskan ! (15)
6. Apa saja tahapan perkembangan kognitif pada peserta didik ? (15) 7. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar ? (15)
8. Bagaimana upaya yang dilakukan guru dalam mengevaluasi belajar siswa ? (10)
4. Kriteria Penilaian
Nilai = Sekor yang diperoleh x 100 Sekor maksimal
5. PENILAIAN UJIAN
Jenjang Nilai Angka Deskripsi Sikap
Sangat baik NUTS ≥ 75 Jujur,aktif dalam
perkulihan mampu bekerja sama dengan baik.
baik 60≤ NUTS<75 Jujur,aktif dalam
perkulihan cukup
8 mampu bekerja sama dengan baik.
cukup 40≤ NUTS<60 Jujur kesungguhan
dalam perkuliahan
kurang 25≤ NUTS<40 Jujur tidak antusias
dalam perkulihan Sangat kurang NUTS<25 Tidak jujur, tidak
antusias dalam perkulihan
Tidak dihitung Tidak lengkap Komponen nilai belum lengkap
*NUTS=Nilai Ujian Tengah Semester
UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) 1. CPMK: Mahasiswa mampu:
Mengetahui soal-soal ujian akhir semester (M3) Memahami soal-soal ujian akhir semester (M4) 2. SUB CPMK: Mahasiswa mampu :
Mengidentifikasi soal-soal ujian akhir semester (L6) Menjelaskan soal-soal ujian akhir semester (L10) 3. SOAL
1. Apa yang saudara pahami tentang gejala jiwa ? (10)
2. Diversitas sosiokultural dalam ilmu psikologi dapat digunakan dalam pendidik memahami keberagaman siswa jelaskan ! (15)
3. Jelaskan tahapan kognitif menurut jean piaget dan vigotsky ! (15) 4. Proses kognitif tentu tidak sama pencapaiannya pada peserta didik,
menurut saudara apa saja yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan aspek kognitif peserta didik !(15)
5. Bagaimana strategi guru dalam memotivasi siswa agar dapat rajin dan giat belajar ? (10)
6. Apa fungsi dan kegunaan dari pengelolaan kelas ? (10)
7. Mengapa hasil belajar peserta didik penting untuk di evaluasi ? (10)
9 8. Untuk dapat memberikan dukungan dan pengalaman belajar yang
efektif, guru perlu melakukan diagnotik kesulitan belajar pada siswa, jelaskan langkah-langkah dalam memberikan bimbingan pada siswa yang mengalami kesulitan belajar! (15)
4. KRITERIA PENILAIAN
Nilai = Sekor yang diperoleh x 100 Sekor maksimal
5. PENILAIAN UJIAN
Jenjang Nilai Angka Deskripsi Sikap
Sangat baik NUAS ≥ 75 Jujur,aktif dalam
perkulihan mampu bekerja sama dengan baik.
baik 60≤ NUAS<75 Jujur,aktif dalam
perkulihan cukup mampu bekerja sama dengan baik.
cukup 40≤ NUAS<60 Jujur kesungguhan
dalam perkuliahan
kurang 25≤ NUAS<40 Jujur tidak antusias
dalam perkulihan Sangat kurang NUAS<25 Tidak jujur, tidak
antusias dalam perkulihan
Tidak dihitung Tidak lengkap Komponen nilai belum lengkap
*NUAS=Nilai Ujian Akhir Semester
10 F. Penilaian
Kehadiran 10%
Sikap/Tugas/Kuis 20%
Hasil UTS 30%
Hasil UAS 40%
Total 100%
11 KONSEP DASAR PSIKOLOGI PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Psikologi memang sangat penting dalam berbgai bidang sejak psikologi bersikukuh memaklumatkan diri sebagai ilmu pengetahuan independen, berbagai penelitian dan perumusan metode terus diupayakan untuk mengukuhkan fondasi dan bangunan keilmuan psikologi. Kini seiring dengan kemajuan yang diperoleh, ilmu psikologi telah berkembang luas dan melahirkan banyak cabang. Salah satu ilmu psikologi adalah psikologi pendidikan
Psikologi pendidikan merupakan studi sistematis berkaitan dengan aspek psikologis yang membahas dan mempelajari anak didik dalam situasi dan lingkungan pendidikan, salah satu manfaat dalam mengadopsi keilmuan psikologi pendidikan dalam proses pendidikan ialah pemahaman secara komprehensif dan bijak yang menempatkan sisw sebagai manusia yakni tentang segala kemampuan, potensi, sifat, perilaku, hambatan, kepribadian, dan lain sebagainya.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.
12 B. Konsep Dasar Psikologi Pendidikan
Psikologi berasal dari kata dalam bahasa yunani Psycology yang merupakan gabungan dari kata psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan Logos berarti ilmu. Secara harfiah psikologi diartikan dengan ilmu jiwa. Dimyati Mahmud menjelaskan bahwa manusia menghayati kehidupan kejiwaan meliputi berfikir, berfantasi, mengingat, sugestif, sedih dan senang, bekemauan dan sebagainya.
Gejala jiwa pada manusia dibedakan menjadi beberapa pengertian:
1. Gejala Pengenalan (kognisi)
Yaitu merupakan suatu proses atau upaya manusia dalam mengenal berbagai macam stimulus atau informasi yang masuk pada alat indranya, menyimpan, menghubung-hubungkan, mengeanalisis, dan memecahkan suatu masalah berdasar stimulus atau informasi yang ada. Misal pengindraan, dan persepsi, asosiasi, memory, berfikir, inteligensi.
2. Gejala Perasaan (afeksi)
Adalah kemampuan untuk merasakan suatu stimulus yang kita terima. Misal perasaan sedih, senang, bosan, marah, benci, cinta, dan lain sebagainya. Afeksi atau perasaan manusia yang kuat sering disebut pula dengan emosi.
3. Gejala Campuran (psikomotorik)
Merupakan gabuangan dari gejala kognitif dan afeksi, yanng memmunculkanSuatu gerakan/tingkah laku tertentu. Misal belajar, sugesti kelelahan, kepribadian dan berbagai bentuk aktifitasyang melibatkan gerakan motorik misalnya membaca, berjalan-jalan, dan makan, dan makan.
Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 13 menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik dilihat secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung. Dakir menyatakan bahwa psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Muhibbin syah menyimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik secara individu maupun kelompok dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka
13 adalah tingkah laku yang bersifat psikomotorik yang meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan dan lain sebagainya.
Dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Tingkah laku tersebut berupa tingkah laku yang tampak maupun yang tidak tampak, tingkah laku yang disadari maupun yang tidak disadari.1
Cakupan pembahasan psikologi adalah tinngkah laku manusia sebagai individu, sebagai bagian kelompok sosial, dan hubugan individu dengan lingkungannya yang sangat luas. Dalam perkembangannya ilmu psikologi terbagi dalam konsentrasi keilmuan sebagai berikut.
1. Psikologi umum
Yaitu cabang dari ilmu psikologi yang membahas kondisi dan perilaku individu secara umumdengan catatan individu tersebut normal, dewasa, sehat secara fisik, dan psikologis.
2. Psikologi perkembangan
Yaitu cabang ilmu psikologi yang memfokuskan pembahasan pada keidupan individu dilihat dari tahap-tahap perkembangan yang dilalui dan usia pada setiap tahap tersebut dalam satu rentang kehidupan, yaitu dari kehidupan sebelum lahir sampai usia lanjut.
3. Psikologi sosial
Yaitu cabang psikologi yang membahas kondisi dan perilaku individu akibat adanya hubungan atau interaksi dengan individu lain dan lingkungan sosialnya, terutama bagaimana tingkah laku individu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosialnya.
4. Psikologi kepribadian
Yaitu cabang ilmu psikologi yang membahas dan mempelajari sifat serta watak individu sebagai sebuah kepribadian unik yang berbeda satu individu dengan individu lainnya.
5. Psikologi klinis
Yaitu cabang ilmu psikologi yang membahas tentang kondisi individu dalam ruang linkup kondisi psikisnya sehat atau tidak sehat, normal atau abnormal, dalam
1 Sugihartono, dkk, psikologi Pendidikan (Yogyakarta: UNY Press, 2007), hlm 1-2.
14 bentuk pembahasan yang komprehensif tentang kelainan-kelainan tingkah laku, diagnosis psikologis, serta psikoterapi.
6. Psikologi industri
Yaitu cabang ilmu psikologi yang membahas kondisi dan perilaku individu dalam lingkungan dunia kerja dan dunia industri.
7. Psikologi anak
Yaitu cabang psikologi yang membahas tentang aspek-aspek serta tahapan perkembangan dan petumbuhan individu pada masa kanak-kanak.
8. Psikologi abnormal
9. Yaitu cabang ilmu psikologi yang mempelajari bentuk-bentuk perilaku menyimpang dari individu yang mengalami gangguan-gangguan psikologis dan kelainan-kelainan mental yang lain
Pengertian Pendikan
Pendidikan adalah usaha membina dan mengembangkan kepribadian manusia baik dibagian rohani atau dibagian jasmani. Ada juga dari beberapa ahli mengartikan pendidikan itu adalah suatu proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam mendewasakan melalui pengajaran dan latihan. Dengan pendidikan kita bisa lebih dewasa karena pendidikan tersebut memberikan dampak yang sangat positif bagi kita, dan juga pendidikan tersebut bisa memberantas buta huruf dan akan memberikan keterampilan, kemampuan mental, dan lain sebagainya. Seperti yang tertera pada UU No.20 tahun 2003. Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilam yang diperlukan dirinya, masyarakat dan Negara.2
Menurut Sugihartono dkk, Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah tingkah laku manusia, baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia tersebut melalui proses penngajaran dan pelatihan.
2 http://belajarpsikologi.com/pengertianpendidikan-menurut-ahli/diakses pada tanggal 18 Maret 2023 pukul 17.15WIB
15 Menurut Sri Rumini dkk. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha sadar, sengaja, dan bertanggung jawab yang dilakukan oleh seorangbpendidik terhadap anak didiknya untuk mencapai tujuan ke arah yang lebih maju.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pendidikan merupakan usaha mendewasakan dan memandirikan manusia melalui kegiatan yang terencana dan disadari melalui kegiatan belajar dan pembelajaran yang melibatkan siswa dan guru.3
Pengertian Psikologi Pendidikan
Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari sekolah sebagai organisasi.
Psikologi Pendidikan berkaitan dengan bagaimana siswa belajar dan berkembang dan sering terfokus pada sub kelompok seperti berbakat anak-anak dan mereka yang tunduk pada khusus penyandang cacat.4
Agar memperoleh gambaran yang jelas tentang hal itu, di bawah ini disajikan batasan Psikologi Pendidikan dari para ahli sebagai berikut:
1. H.C. Whitherington
“Psikologi Pendidikan ialah suatu studi yang sistematis tentang tentang proses- proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusi”.
2. Lester. D. Crow, Ph.D. dan Alice Crow, Ph.D
“Psikologi Pendidikan dapat dipandang sebagai ilmu pengetahuan praktis, yang berguna untuk menerangkan belajar sesuai prinsip-prinsip yang ditetapkan secara ilmiah dan fakta-fakta sekitar tingkah laku manusia”.
3. Carter V. Good
“Psikologi Pendidikan adalah suatu study tentang hakekat belajar”.
3 Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, Psikologi Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm 19.
4 https://ruangguruku.com/pengertian-psikologi-pendidikan/ diakses pada tanggal 18 Maret 2023 pukul 20.29 WIB
16 4. W.S. Winkel SJ, M.SC.
“Psikologi Pendidikan ialah ilmu yang mempelajari pra syarat-pra syarat (faktor-faktor) bagi pelajar di sekolah, berbagai jenis belajar dan fase-fase dalam semua proses belajar”. Setelah memperhatikann definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahlli tersebut di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang menerangkan tentang aktivitas individu dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses pendidikan.5
Tujuan Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan membahas tentang siswa dengan berbagai karakteristiknya dalam belajar dan juga guru dalam mengajar. Psikologi pendidikan juga mengkaji bagaimana pada dasarnya proses belajar mengajar seharusnya terjadi pada siswa, sampai pada penanganan terhadap siswa yang memiliki permasalahan dalam belajar. Oleh sebab itu, tujuan dari psikologi pendidikan secara umum, pada dasarnya sebagai berikut:
1. Memahami bentuk-bentuk gejala psikologi individu (siswa) secara umum dalam bentuk sikap dan tingkah laku selama mengikuti proses pembelajaran.
2. Memahami kemampuan-kemampuan dan potensi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
3. Membantu siswa mengembangkan berbagai jenis kemampuan dan potensi yang dimiliki dalam bentuk proses-proses pembelajaran yang berbasis pengembangan siswa.
4. Memahami bagaimana seharusnya pelaksanaan proses belajar dan pembelajaran agar tercapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif.
5. Membantu siswa menyelesaikan program pembelajaran sehingga dengan pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat memberikan bantuan pada siswa dalam menyelesaikan program-program pembelajaran sampai tuntas.6
Fungsi Psikologi Pendidikan
Psikologi merupakan sebuah ilmu yang didalamnya mempelajari seluk beluk tingkah laku manusia, sikap dan juga cara berfikir setiap individu yang memiliki
5 Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm 1-2.
6 Muhamad Irham dan Novan Ardy Wiyani, psikologi pendidikan ..., hlm 23
17 karakternya tersendiri. Dalam ilmu psikologi terdapat juga sebuah ilmu pendidikan yang berkaitan erat dengan pembelajaran hal tesebut. Karena dengan pendidikan kita akan mengetahui secara luas mengenai hal-hal yang di ajarkan secara formal dan juga ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan oleh kita. Dalam ilmu psikologi pendidikan atau pembelajaran tentu saja di dalamnya memiliki berbagai fungsi dan juga manfaat yang sangat bermanfaat untuk kepentingan pendidikan kelak.
1. Dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran yang tepat
Salah atu fungsi atau manfaat yang bisa kita dapatkan dari psikologi dalam pembelajaran adalah bisa dijadikan sebagai metode pembelajaran yang tepat.
Sehingga untuk yang mengajar seharusnya memiliki ilmu dan juga teknik pembelajaran beserta ilmu psikologi yang memang tepat.
Sehingga dari keduanya bisa didapat keharmonisan dalam pembuatan metode yang cukup efektif. Karena saat kita mengajar nantinya kita akan menemui berbagai jenis karakter dan juga macam-macam kecerdasan manusia atau setiap siswa.
2. Efektif dalam pembelajaran yang sesuai
Untuk bisa menyusun sebuah kurikulum pembelajaran yang tepat nyatanya kita memang sangat membutuhkan yang namanya ilmu psikologi. Karena didalam sebuah ilmu psikologi dalam mengubah dan juga menentukan dari berbagai strategi yang dilakukan dalam pembuatan kurikulum. Karena untuk seorang pengajar atau pembuatan kurikulum yang memiliki ilmu psikologi bisa membuat dengan pembelajaran yang memang sangat efektif dan juga maksimal.
3. Dapat menghindari dari adanya penilaian yang subjektif
Dengan memiliki ilmu psikologi nantinya akan lebih memudahkan kita dalam mengetahuai kelemahan dan juga kelebihan dari masing-masing. Karena saat mengadakan sebuah pembelajaran biasanya akan ada penilaian subjektif yang bisa ditonjolkan dari adanya evaluasi yag dilakukan. Ssehingga dengan kita mempelajari ilmu psikologi nantinya bisa lebih mengetahui kemampuan dari yang kita ajar. Dan akan menghindari dari adanya penilaian yang subjektif.
4. Dijadikan sebagai metode konseling dan juga bimbingan
Dalam ilmu psikologis kita akan diajarkan mengenai tingkah laku dan membaca karakter setiap manusia. Dimana hubunngannya dalam pembelajaran bisa
18 memudahkan pembuatan kurikulum dan juga membantu peserta didik yang bisa menyediakan berbagai pembelajaran dengan baik. Khususnya dalam masalah yang berkaitan dengan akademik. Dengan cara seperti ini juga bisa membuat peserta didikan melakukan pembelajaran dengan maksimal dan lebih baik.
5. Memberikan motivasi dalam pembelajaran
Salah satu hal atau fungsi lain yang bisa anda dapatkan dalam pembelajaran adalah bisa lebih paham dan juga memberikan motivasi yang tepat dalam pemberian motivasi belajar tersebut. Selain itu potensi yang akan mudah terlihat dan juga memotivasi untuk mendorong para peserta didik belajar lebih baik lagi, dalam fungsi yang satu ini anda juga bisa membuat kurikulum yang sedang disusun tercapai sampai tepat dengan sasaran.
6. Melihat potensi belajar murid
Salah satu fungsi yang bisa anda dapatkan dari metode pembelajaran lainya adalah bisa melihat potensi belajar setiap murid, dengan memiliki kelebihan ilmu psikologi nantinya anda bisa melihat apa saja potensi siswa dan sejauh mana siswa tersebut bisa melakukan pembelajaran dengan baik.
7. Sebagai evaluasi hasil belajar
Sebagai tenaga pengajar tentunya kita diharuskan memberikan pembelajaran yang baik untuk peserta didik. Selain itu dengan menguasai ilmu psikologi nantinya anda bisa lebih memahami dan mengetahui hasil atau evaluasi hasil belajar dari setiap murid. Kemampuan siswa dalam hal ini juga dapat dicapai dan juga di ketahui dengan baik. Sehingga pemahaman dalam belajar bisa anda dapatkan pada akhirnya.
8. Dapat dijadikan sebagai metode belajar yang tepat
Psikologi pendidikan memang sangat membantu perihal yang berkaitang dengan pembelajaran, dimana peserta didik dan pendidikan bisa memahami satu sama lain. Khususnya untuk seorang pendidikan akan jauh lebih mudah untuk menemukan metode belajar yang tepat dan juga sesuai dengan yang diinginkan murid, namun tidak melenceng dari kurikulum yang sudah ditetapkan.
19 Dimana seperti kita ketahui setiap siswa memiliki kepribadian unik dan berbeda-beda. Sebagai pengajar juga harus mengetahui dan juga lebih paham mengenai kondisi peserta didik.
9. Membuat suasana belajar lebih menyenangkan
Untuk para peserta didik tentunya memang harus memberikan kondisi belajar yang kondusif, hal tersebut tentu memang tidaklah mudah. Sehingga fungsi psikologi dalam pembelajaran nantinya bisa membuat metode pendidikan akan terasa jauh lebih menyenangkan. Apalagi peserta didik di zaman modern seperti ini memang menginginkan metode yang lebih menyenangkan dan tidak membuat mereka takut akan pengajar atau gurunya.
Sehingga dengan menguasai ilmu psikologi akan membuat suasana belajar jauh lebih menyenangkan dan bisa menghindari dari adanya kondisi yang tidak kondusif dan juga iklim belajar yang tidak menyenangkan.
10. Pembentukan kurikulum yang sesuai
Dalam pembuatan kurikulum pembelajaran memang tidak bisa dilakukan secara sembarangan, dimana kita membutuhkan keahlian dan juga kesesuaian dari kurikulum yang diberikan sebelumnya. Dengan memiliki kemampuan ilmu psikologi yang baik nantinya kita bisa memiliki kemampuan untuk membentuk sebuah kurikulum yang tepat dan juga memiliki kesesuaian dengan kurikulum yang sebelum dibuat. Sehingga psikiologi dalam manajemen kurikulim bisa didapatkan dengan tepat.
11. Dapat melihat karakter dari setiap peserta didik
Dengan memiliki ilmu psikologi kita juga bisa mendapatkan fungsi lainnya berupa pembentukan sebuah karakter dalam pembentukan kepribadian setiap peserta didik contohnya saja dari setiap peserta didik memang biasanya memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga untuk masalah fungsi psikologi dalam pembelajaran yang satu ini memang sangat penting dimiliki setiap pengajar.7
7 https://dosenpsikologi.com/fungsi-psikologi-dalam-pembelajaran diakses pada tanggal 14 Maret 2023 pukul 10.59 WIB.
20 Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan.
Psikolog pada asasnya adalah sebuah disiplin psikologi yang khusus mempelajari, meneliti, dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan itu meliputi tingkah laku belajar (oleh siswa), tingkah laku mengajar (oleh guru), dan tingkah laku belajar-mengajar (oleh guru dan siswa yang saling berinteraksi).
Inti persoalan psikologi dalam psikologi pendidikan, tanpa mengabaikan persoalan psikologi guru, terletak pada siswa. Pendidikan pada hakikatnya adalah layanan yang khusus diperuntukan untuk siswa. Oleh karena itu, ruang lingkup pokok bahasan psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai ilmu, juga berbagai aspek psikologis para siswa khususnya ketika mereka terlibat dalam proses belajar dan proses belajar-mengajar
Secara garis besar, banyak ahli yang membatasi pokok-pokok bahasan psikologi pendidikan menjadi tiga macam.
Pertama, pokok bahasan mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip- prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar siswa, dan sebagainya.
Kedua, pokok bahasan mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar psikolog
Ketiga, pokok bahasan mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik sifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa.
yang maknanya adalah bahwa masalah belajar adalah masalah yang paling sentral dan vital (inti yang amat penting) dalam psikologi pendidikan. Dari seluruh proses pendidikan, kegiatan belajar siswa merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini bermakna berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak berpulang kepada proses belajar siswa baik ketika ia berada dalam kelas maupun di luar kelas.
Khusus mengenai proses belajar-mengajar, para ahli psikologi pendidikan seperti Barlow, Good dan Brophy mengelompokkan pembahasan ke dalam tujuh bagian.
21 1. Manajemen ruang (kelas) yang sekurang-kurangnya meliputi pengendalian kelas
dan penciptaan iklim kelas.
2. Metodologi kelas (metode pengajaran).
3. Motivasi siswa peserta kelas.
4. Penanganan siswa yang berkemampuan luar biasa.
5. Penanganan siswa berperilaku menyimpang.
6. Pengukuran kinerja akadamik siswa.
7. Pendayagunaan umpan balik dan penindaklanjutan.
Dalam hal penanganan manajemen (proses penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan) yakni manajemen ruang belajar atau kelas, tugas utama guru adalah:
1) melakukan kontrol terhadap seluruh keadaan dan aktivitas kelas. 2) menciptakan iklim ruang belajar sedemikian rupa agar proses belajar-mengajar dapat berjalan wajar dan lancar. Pengendalian atau kontrol yang dilakukan guru, menurut tinjauan psikologi pendidikan harus senantiasa diorientasikan pada tercapainya disiplin. Disiplin dalam hal ini berarti segala sikap, penampilan, dan perbuatan siswa yang wajar dalam mengikuti proses belajar-mengajar. Adapun yang dimaksud iklim kelas ialah, guru sangat diharapkan mampu menata lingkungan psikologis ruang belajar sehingga mengandung atmosfer (suasana perasaan) iklim yang memungkinkan para siswa mengikuti proses belajar dengan tenang dan bergairah.8
C. Kesimpulan.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku, sebagai manifestasi dari kesadaran, proses mental, aktivitas motorik, kognitif dan juga emosional. Psikologi pendidikan adalah cabang psikologi yang membahas tentang persoalan-persoalan psikologis yang terjadi dalam setting pendidikan.
Ditinjau dari ruang lingkupnya, psikologi digolongkan menjadi dua, yaitu psikologi umum dan psikologi khusus. Sedangkan ruang lingkup psikologi sendiri ialah situasi atau tempat yang berhubungan dengan mengajar dan belajar, proses atau tahapan-tahapan dalam belajar dan mengajar, dan hasil-hasil yang dicapai oleh proses mengajar dan mengajar.
8 Bisri Mustofa, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Parama Ilmu, 2015), hlm 28-32.
22 Tujuan psikologi adalah mendeskripsikan beraneka ragam cara perilaku organisme, sebab-sebab, dan bagaimana organisme akan berprilaku dalam situasi tertentu. Sedangkan tujuan psikologi pendidikan sendiri adalah mendiskripsikan atau menjelaskan tentang segala gejala-gejala dari perilaku, potensi peserta didik dan lain- lain yang berkaitan dengan dunia pendidikan.
Fungsi psikologi adalah meciptakan generalisasi-generalisasi dan prinsip-prinsip yang dapat dianggap sebagai dasar tingkah laku manusia. Sedangkan fungsi psikologi pendidikan sendiri adalah meningkatkan dan memperbaiki efektifitas belajar mengajar agar tercapai kesehatan jasmani rokhani, mental, dan emosional oleh para guru dan murid.
23 DAFTAR PUSTAKA
Seto Mulyadi, DKK. 2017. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-Teori Baru Dalam Psikologi. Depok: Rajawali Pers, Cet.2.
Khadijah, Nyayu. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers, Cet. 2.
Mustaqim. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: Fakultas Tarbiyah Iain Walisongo Semarang.
Mahmud, M. Dimyati. 1990. Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Terapan.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Harahap, Nurasyiyah. Fitrah dan Psikologi Pendidikan, Jurnal.
Sujanto, Agus. 2001. Psikologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara.
Irham, Muhammad dan Novan Ardy Wiyani. 2013. Yogyakarta: Ar-Ruz Media.
Mustaqim. 2017. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mustofa, Bisri. 2015. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Parama Ilmu.
Sugihartono dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY pres.
http://belajarpsikologi.com/pengertianpendidikan-menurut-ahli/diakses, pada tanggal 18 Maret 2023 pukul 17.15 WIB.
https://dosenpsikologi.com/fungsi-psikologi-dalam-pembelajaran diakses, pada tanggal 14 Maret 2023 pukul 10.59 WIB.
24 SEJARAH ALIRAN PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu psyche yang artinya jiwa dan logos artinya ilmu. Dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa atau mental seseorang. Psikologi tidak mempelajari jiwa atau mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa atau mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutupnya manusia. Sedangkan pendidikan berarti suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pendidikan.
Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang dari ilmu psikologi.
Psikologi ini lebih menekankan masalah pertumbuhan dan perkembangan anak (fisik dan mental) yang hubungannya sangat erat dengan masalah pendidikan, terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan dalam mengajar.
B. Sejarah Perkembangan Psikologi
Psikologi berkembang diawali pada bidang filsafat yang dikenal sebagai induk dari berbagai ilmu. Dalam perkembangannya kemudian, psikologi juga banyak di minati oleh para ahli dibidang kedokteran. Kelompok inilah yang kemudian berjasa menjadikan psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Selain itu, dalam dunia Islam juga terjadi upaya-upaya pengembangan psikologi berdasarkan pendekatan Islam yang penting bagi pengembangan khazanah keilmuan.9
Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melewati perjalanan yang panjang.
Bahkan sebelum Wundt mendeklarasikan laboratoriumnya tahun 1879 – yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu – pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelekstual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua
9 Nyayu Khodijah, Psikologi Pendidikan, (Depok: Pt Rajagrafindo Persada, 2014), hlm. 9.
25 Amerika. Berdasarkan pandangan tersebut, bagian sejarah psikologi ini akan dibagi ke dalam beberapa periode dengan berbagai tokohnya.10
a. Sejarah awal psikologi pendidikan
Tokoh paling menonjol dalam sejarah awal psikologi pendidikan kebanyakan adalah pria kulit putih seperti James, Dewey, dan Thormdike. Namun ada dua tokoh amerika keturunan Afrika (Afrika-Amerika) yang menonjol di bidang psikologi adalah Mamie dan Kenneth Clark yang melakukan riset tentang identitas dan konsep diri anak-anak Afrika-Amerika. Pada tahun 1917, Kenneth Clark menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang menjadi presiden American Psylogical Associatin.yang menunjukan bahwa tes kecerdasam secara kultural telah dibiaskan dan merugikan anak-anak etnis minoritas.11
b. Perkembangan lebih lanjut
Pendekatan thorndike untuk studi pembelajaran digunakan sebagai panduan bagi psikologi pendidikan di paruh pertama abad ke-20. Dalam ilmu psikologi amerika, pandangan B.f. Skinner, yang didasarkan pada ide-ide Thorndike, sangat mempengaruhi psikologi pendidikan pada pertengahan abad ke-20. Skinner berpendapat bahwa proses mental yang dikemukakan oleh psikolog seperti james dan dewey adalah proses yaang tidak dapat di amatidan ilmu tentang kondisi-kondisi yang mengendalikan perilaku. Pada 1950-an, Skinner 1954 megembangkan konsep programmed learning (pembelajaran terprogram), yakni setelah murid melalui serangkaian langkah ia terus di dorong (reinforced) untuk mencapai tujuan dari pembelajaran.
Akan tetapi, muncul keberatan terhadap pendekatan behavioral yang dianggap tidak memedulikan banyak tujuan dan kebutuhan pendidik dikelas. Sebagai reaksinya, pada 1950-an Benjamin Bloom menciptakan taksonomi keahlian kognitif yang mencakup pengingatan, pemahaman, synthesizing, dan pengevaluasian, yang menurutnya harus dipakai dan dikembangkan oleh guru untuk membantu murid- muridnya.
Sebuah ulasan di Annual Review of psychology, perspektif kognitif mengimplikaiskan bahwa analisis behavioral terhdap instruksi sering kali tidak
10 https://www.academia.edu/11416196/Sejarah_Perkembangan_Psikologi. Diakses pada 23 Maret
2023 pukul 10:06 WIB.
11 Reza Fajrini. Dkk, Ruang Lingkup dan Sejarah Psikologi Pendidikan, (Padang: Universitas Negri Padang, 2014) hal 6-7.
26 cukup untuk menjelaskan efek dari instruksi terhadap pembelajaran. Jadi, menjelang akhir abad ke-20 banyak ahli psikologi pendidikan kembali menekankan pada aspek kognitif dari psoses beajar seperti yang pernah didukung oleh james dan Deewey pada awal abad ke-20. Baik itu pendekatan kognitif maupun behavioral masih menjadi bagian dari psikologi pendidikan sampai sekarang.12
Aliran-Aliran Psikologi Pendidikan a. Behaviorisme
Behaviorisme merupakan teori belajar berupa perubahan tingkah laku yang terjadi karena pengalaman yang dialami peserta didik. Teori ini memandang orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah input yang berupastimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada peserta didik, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan peserta didik terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu stimulus dan respon harus dapat diamati dan diukur. Teori ini sesuai diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa dalam proses belajar. Implikasi teori ini dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang menjadikan guru sebagai central yang bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
Pada prakteknya dalam pembelajaran, pendidik menjadi pihak yang lebih aktif sebab pendidik yang dominan memberikan stimulus dan peserta didik hanya memberirespon saja, semua berjalan sesuai kehendak pendidik.13
b. Kognitifisme
Kognitifisme merupakan teori belajar yang tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar dianggap melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Teori belajar kognitif lebih menekankan arti penting proses internal mental manusia. Teori ini berpendapat bahwa belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman dan bukan sekedar perubahan tingkah laku yang bisa diamati.14
12 Reza Fajrini. Dkk, Ruang Lingkup dan Sejarah Psikologi Pendidikan, hlm 7.
13Juitaning Mustika, Modul Psikologi Pendidikan, (Lampung: STKIP Kumala Lampung Metro, 2016), hlm.
71.
14Ibid, hlm. 72.
27 Tingkah laku manusia yang tidak tampak, tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti: motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya.
Asumsi dasar teori ini adalah setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya. Pengetahuan dan pengalaman ini tertata dalam struktur kognitif. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru diadaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa. Implikasi teori ini dalam pembelajaran mengharuskan guru untuk memusatkan perhatian pada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar hasilnya. Guru wajib mengutamakan peran siswa supaya mereka aktif dalam kegiatan belajar dan saling berinteraksi. Guru harus memaklumi adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan.15 c. Humanistik
Aliran Humanistik didasarkan oleh Maslow (1908-1970) dan Carl Rogers (1902-1987). Pendekataan Humanisme menekankan cara fikiran, pengamatan, serta interpretasi seorang individu mengenai suatu peristiwa. Ahli-ahli psikologi humanisme mempercayai seorang individu bertanggung jawab atas tindakannya.16
d. Functionalisme
Fungsionalisme merupakan orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya.
Maksudnya, Fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Fungsionalisme adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi- fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya.
Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran and perilaku.
Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Fungsionalisme lebih menekankan pada fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha
15Ibid, hlm. 73.
16Shahabuddin Hashim. Dkk, Psikologi Pendidikan, (Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing, 2006), hlm. 10.
28 menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan.
Fungsionalisme juga memandang bahwa psikologi tak cukup hanya mempersoalkan apa dan mengapa terjadi sesuatu (strukturalisme) tetapi juga mengapa dan untuk apa (fungsi)suatu tingkah laku tersebut terjadi. Fungsionalisme lebih menekankan pada aksi dari gejala psikis dan jiwa seseorang yang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri psikis dan social.17 e. Struktulisme
Aliran strukturalisme muncul di Jerma. Tokohnya adalah Wilhelm Wundt (1832-1920). Faham ini dikenal sebagai strukturalime, karena ahli-ahlinya menumpukan kepada pengalaman sedar, yaitu mengkaji apa yang boleh dinyatakan oleh seseorang dalam pengalaman sedarnya. Wundt mengkaji perasaan, sikap, presepsi dan tanggapan individu terhadap suatu keadaan.18
Implementasi dari Aliaran-Aliran Psikologi Pendidikan a. Behaviorisme
Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikkan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik.
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau perilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement, dan akan menghilang bila dikenai hukuman hukuman.19
b. Kognitifisme
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi persepsual, dan prosese intelektual. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam
17https://nerys2.wordpress.com/fungsionalisme/. Diakses pada 25 Maret 2023 ) pukul 11:51 WIB.
18Shahabuddin Hashim. Dkk, Psikologi Pendidikan, (Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing, 2006), hlm. l 7.
19Juitaning Mustika, Modul Psikologi Pendidikan, (Lampung: STKIP Kumala Lampung Metro, 2016), hlm. 72.
29 pendekatan behavioristic. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agara belajar lebih bermakana bagi siswa.20
c. Humanistik
Dalam praktek teori humanistik cenderung mengarahkan siswa untuk dapat berfikir induktif, mementingkan pengalaman, dan membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif didalam proses pembelajaran. Berikut adalah langkah-langkah dalam pembelajaran dengan pendekatan humanistik:
1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2. Menentukan materi-materi pembelajaran.
3. Mengidentifikasi kemampuan awal dari peserta didik atau siswa.
4. Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan akan melibatkan siswa untuk dapat belajar secara aktif.
5. Merancang fasilitas belajar, seperti lingkungan dan media-media pembelajaran.
6. Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke situasi yang nyata.
7. Membimbing siswa untuk dapat memahami hakikat dan makna dari pengalaman belajar.
8. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.21 d. Functionalisme
Aliran ini mempelajari fungsi dan tingkah laku atau proses mental, bukan hanya mempelajari struktural. Metode yang dipakai oleh aliran fungsionalisme dikenal sebagai metode observasi tingkah laku dan instropeksi.
1. Metode observasi tingkah laku terbagi menjadi 2 (dua) yaitu:
a) Metode Fisiologis menguraikan tingkah laku dari sudut pandang anatomi dan ilmu faal. Jadi, mempelajari perilaku yang dikaitkan dengan organ-organ tubuh dan sistem sarafnya.
b) Metode Variasi Kondisi Tidak semua tingkah laku manusia dapat dijelaskan dengan anatomi dan fisiologi, karena manusia mempunyai sudut psikologis. Metode variasi kondisi inilah yang merupakan metode eksperimen dari aliran fungsionalisme.
20Ibid, hlm. 74.
21Afid burhanuddin, https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/06/07/teori-belajar-humanistik-dan-
implementasi-dalam-pembelajaran/. Diakses pada 25 Maret 2023 pukul 12:11 WIB.
30 2. Metode Instrospeksi Stimulus, berasal dari lingkungan secara alamiah, bisa pada banyak bagian sekaligus sehingga jiwa menunjukkan fungsinya. Metode ini terlalu bersifat subjektif sehingga sulit di sistematikan dan sulit dikuantitatifkan.22
e. Strukturalisme
Dalam implementasi di masyarakat, strukturalisme dapat dilihat pada pertunjukan budaya, semisal kuda lumping. Pada pertunjukan kuda lumping ini terdapat struktur luar yakni, alat-alat dari permainan kuda lumping sendiri. Dari berupa kostum hingga gamelan/alat musik yang menjadi pengiring permainan kuda lumping. Pada struktur dalamnya terdapat unsure-unsur mitos, yakni semacam pemanggilan arwah untuk dimasukkan pada tubuh orang yang menjadi pelaku pertunjukan kebudayaan.
Sementara itu dalam kehidupan saya, implementasi dari aliran strukturalisme sendiri terdapat pada saat menulis sebuah puisi atau cerita. Didalamnya, saya menerapakan struktur luar dan dalam pada tulisan saya. Dimana pada setiap struktur memiliki pemilihan kata dan juga makna tersendiri. Oleh karena itu, strukturalisme sering dijumpai pada kehidupan sehari hari, termasuk penerapan nilai-nilai sastra dan kebudayaan yang sering digunakan untuk merayu.
C. Kesimpulan
Sejarah pekembangan psikologi pendidikan bermula sejak zaman Yunani kuno pada bidang filsafat. Kemudian semakin berkembang dengan tokoh-tokoh yang masing-masing mempunyai pendapat sendiri mengenai psikologi. Pendapat mereka itulah yang memunculkan aliran-aliran dalam psikologi seperti Behaviorisme, Kognitivisme, Humanisme, Strukturalisme, dan Fungsionalisme.
Penggunaan psikologi dalam dunia pendidikan sudah berlangsung sejak dulu, tetapi istilah psikologi pendidikan pada awal pemanfaatannya belum dikenal banyak orang. Namun, seiring dengan berkembangnya sains dan teknologi, akhirnya lahirnya sebuah cabang khusus psikologi yang disebut dengan psikologi pendidikan.
22https://www.academia.edu/8698750/ALIRAN_FUNGSIONALISME. Diakses pada 25 Maret 2023 pukul 12:34 WIB.
31 DAFTAR PUSTAKA
Hashim. Dkk, Shahabuddin. 2006.Psikologi Pendidikan.Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing.
Khodijah, Nyayu. 2014. Psikologi Pendidikan. Depok: PT Rajagrafindo Persada
Mustika, Juitaning. 2016. Modul Psikologi Pendidikan, Lampung: STKIP Kumala Lampung Metro.
Fajrini, Reza Dkk. 2014. Ruang Lingkup dan Sejarah Psikologi Pendidikan. Padang:
Universitas Negri Padang.
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/06/07/teori-belajar-humanistik-dan- implementasi-dalam-pembelajaran/.
https://nerys2.wordpress.com/fungsionalisme/.
https://www.academia.edu/8698750/Aliran_Fungsionalisme.
https://www.academia.edu/11416196/Sejarah_Perkembangan_Psikologi
Danim, Sudarmawan dan Khairil. 2014.Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, Bandung:Alfabeta.
Hashim, Shahabuddin dkk, 2003. Psikologi Pendidika. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing.
Mustofa, Bisri. 2015. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Parama Ilmu.
Munaroh, Siti Mumun. 2011. “Penerapan Aliran Psikologi Hunmanistikdalam Proses Pembelajaran. Jurnal Forum Tarbiyah. Vol.9. No. 1.
Nasution, Mariam. 2015. “Teori Pembelajaran Matematika Menurut Aliran Psikologi Behavioristik, Jurnal Logaritma. Vol. 3. No. 1.
Nursikin, Mukh 2016. “Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Dan Implementasinya Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam”. Journal of Islamic Culture and Education. No. 1. Vol. 2.
Supriyanto, Didik. 2017. “Sejarah Singkat Psikologi Pendidikan”. Jurnal Program Studi PGMI. Vol. 1 No. 2.
32 TEORI-TEORI BELAJAR DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Dalam kegiatan belajar mengajar pasti tidak asing dengan istilah teori belajar.
Teori belajar dimunculkan oleh para psikolog pendidikan setelah mereka mengalami kesulitan dalam menjelaskan proses belajar secara menyeluruh. Sebagian psikolog pendidikan memberinya istilah memperjelas pengertian dan proses belajar.
Belajar merupakan proses dari hal yang tidak dimengerti hingga seseorang menjadi tau. Proses belajar sendiri dimulai sejak manusia masih bayi hingga dewasa bahkan sampai seumur hidupnya seseorang pasti mengalami proses belajar.
Kemampuan proses belajar yang dimiliki manusia inilah yang membedakan dengan makhluk lainnya. Pembahasan tentang kemampuan proses belajar terjadi pada manusia ini yang memiliki sejarah panjang dan menghasilkan beragam teori.
Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar, merupakan upaya untuk mendiskripsikan bagaimana belajar sehingga membantu kita dalam memahami proses yang detail dari belajar. Dapat didefinisikan juga sebagai suatu prinsip yang mendorong dalam merancang kondisi agar tercapainya tujuan pendidikan. Oleh karena itu, dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan beragam model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Pada makalah ini akan menjelaskan lebih rinci mengenai Teori Belajar dan beberapa tokoh yang mencetusnya.
Dalam kajian ilmu pengetahuan teori memiliki dua macam aspek, yaitu aspek formal dan aspek empiris. Aspek formal berkaitan dengan bentuk kata-kata atau simbol-simbolnya. Sedangkan aspek empiris terdiri dari peristiwa-peristiwa fisik sehingga dapat menjelaskan sesuatu. Dalam bentu simbol digambarkan seperti S-R, artinya apabila terdapat stimulus (S) maka ada respon (R). Dalam ilmu pengetahuan umumnya terdapat hubungan antara teori dan praktik, maka suatu teori harus dibuktikan dengan praktik.23
Teori dapat dianggap sebagai alat riset yang keberadaannya dapat benar maupun salah. Keduanya dapat berguna atau tidak dan dapat dibuktikan melalui riset. Apabila
23 Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru (Jogjakarta:Ar-Ruz Media,2014) hlm. 246-247.
33 suatu teori dilakukan observasi dan menghasilkan hasil yang memuaskan, dapat dikatakan teori itu baik. Sedangkan sebaliknya, apabila suatu teori dibuktikan melalui riset dan mengalami kegagalan, maka teori dikatakan jelek.
Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta.24 Teori belajar adalah seperangkat pernyataan umum yang digunakan untuk menjelaskan kenyataan mengenai belajar. Sebuah teori dapat menjadikan pengajaran dan pembelajaran menjadi lebih terarah, sehingga seorang pengajar dapat menyesuaikan peserta didik.
B. Teori Belajar
Aplikasi teori belajar dalam praktek di dunia pendidikan di Indonesia, membutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk memahami pesan yang terkandung dalam teori belajar. Penggunaan teori yang salah akan mengakibatkan terjadinya penghambatan dalam proses pembelajaran.
Diantara sekian banyak teori yang berdasarkan hasil eksperimen terdapat tiga yang menonjol, yakni: connectionism, classical conditioning, dan operant conditing.
Teori-teori ini kemudian dikembangkan oleh para ahli melalui ekeperimen- eksperimen.25
1. Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar Behavioristik adalah teori belajar yang memahami tingkah laku manusia menggunakan pendekatan obyektif, mekanistik, dan materialistik, sehinga perubahan tingkah laku pada diri seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Seseorang dianggap telah belajar apabila dapat menunjukan perubahan perilakunya.26 Teori belajar behavioristik ini menekankan pada stimulus dan respon. Menurut aliran ini, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indera untuk menghasilkan respon.
Behaviorisme merupakan aliran psikologi yang lebih memandang pada fenomena
24 Bisri Mustafa, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta:Dua Satria Offset,2015) hlm. 139.
25 Ibid hlm. 140.
26 Novi Irwan Nahar, “Jurnal Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Proses Pembelajaran”
Vol.01 Desember 2016.
34 jasmaniah dan mengabaikan aspek-aspek mental seperti kecerdasan, bakat, minat dan perasaan.
Adapun prisip teori belajar behavioristik adalah:27
Obyek psikologi adalah tingkah laku. Aliran ini mempelajari perbuatan manusia melalui tingkah laku, bukan dari kesadarannya. Oleh sebab itu, behaviorisme adalah teori ilmu jiwa tanpa jiwa.
a. Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada refleks. Refleks adalah reaksi yang tidak disadari, sehingga dalam aliran ini manusia dianggap seperti mesin.
b. Mementingkan pembentukan kebiasaan. Manusia dianggap sama saat dilahirkan, dan dapat berkembang melalui kebiasaan-kebiasaan.
Berikut adalah beberapa tokoh teori behavioristik:
a. John B.Watson
Watson adalah adalah ahli psikologi Amerika yang mengembangkan teori Behavioristik. Watson adalah seorang Behavioris murni kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu lain seperti fisika, yaitu sejauh dapat diamati dan dapat diukur.
b. Ivan P.Pavlov
Pavlov pernah melakukan percobaan melalui anjing untuk membuktikan bahwa penguatan stimulus berdampak pada respon. Anjing yang pada dasarnya akan mengeluarkan air liur saat diberi makan, oleh Pavlov anjing dibiasakan mengeluarkan air liur ketika diberi stimulus penguatan berupa bunyi bel. Responnya anjing mengeluarkan air liur ketika ia mendengar bunyi bel. Teori belajar ini merujuk pada sejumlah prosedur pelatihan karena satu stimulus dan rangsangan muncul untuk menggantikan stimulus lainnya.
Penerapan teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran dapat dilihat dari terbentuknya perilaku sebagai hasil belajar. Teori belajar behavioristik berpengaruh terhadap masalah belajar, karena belajar ditafsirkan sebagai latihan- latihan untuk pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Dengan memberikan rangsangan peserta didik akan bereaksi dn menanggapi rangsangan tersebut.
27 Ibid …hlm.13
35 2. Teori Belajar Kognitif
Kognitivisme adalah kegiatan untuk mengetahui sesuatu yang mencangkup perolehan, pengorganiasian, dan pemakaian pengetahuan. Artinya, kognisi fokus pada memori, atensi, persepsi, bahasa, rasio, pemecahan masalah kreativitas dan struktul mental dalam proses mengetahui sesuatu. Tekanan utama teori Kognitif terletak pada dimana informasi diproses dan disimpan. Hal tersebut sangat berbeda dengan teori Behavioristik yang hanya fokus pada tingkah laku.28
Adapun tokoh-tokoh teori belajar Kognitif:29 a. Jean Peaget
Menurut John Peaget, belajar berfokus pada penemuan asal muasal logika alamiah dan transformasinya, dalam bentuk penalaran satu ke penalaran lainnya.
Tujuan penalaran ini, mengharuskan dilakukannya penelitian atas akar dari pemikiran logis. Dalam pandangan Peaget, mengemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda. Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap.
b. Vygotsky
Menurut Vygotsky mengklaim bahwa keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis secara developmental. Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata dan bahasa yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu mentransformasi aktivitas mental. Kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
c. Lewin
Menurut Lewin belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif tersebut merupakan hasil dari medan kognisi dan kebutuhan motivasi internal individu.
1. Teori Belajar Humanistik
Teori Belajar Humanistik menjadikan humanisme sebagai pendekatan. Teori belajar humanistik bertumpu pada pragmatisme, progresivisme dan eksistensialisme.
Pragmatisme berarti memelihara keberlangsungan pengetahuan dengan aktivitas yang dengan sengaja mengubah lingkungan. Progesivisme menekankan kebebasan
28 Mona Ekawati, “Teori Belajar menurut Aliran Psikologi Kognitif serta Implikasinya dalam proses
belajar dan Pembelajaran” Vol.07 No.IV 2019.
29 Jum Anidar, “Teori Belajar menurut Aliran Kognitif serta Implikasinya dalam pembelajaran” UIN Imam Bonjol Padang.
36 aktualisasi diri, supaya kreatif sehingga menuntut lingkungan belajar yang demokratis dalam menentukan kebijakannya. Eksistensialisme memandang peserta didik adalah individu yang memiliki ingin tahu yang tinggi sehingga muncul keinginan belajar.
Teori Humanistik beramsumsi bahwa teori belajar apapun baik dan dapat dimanfaatkan, asal tujuannya unuk memanusiakan manusia yaitu pencapaian aktualisasi diri, pemahaman diri, sera realisasi diri orang belajar secara optimal.30
Pembelajaran Humanistik memandang manusia sebagai subyek yang bebas menentukan arah hidupnya. Manusia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan atas hidup orang lain. Pendidikan Humanistik menekankan bahwa pendidikan yang utama adalah bagaimana menjalin hubungan komunikasi antara pribadi-pribadi dan antara pribadi dengan kelompok di dalam lingkungan sekolah.
Penerapan Teori Belajar Bagi Peserta Didik 1. Aplikasi Teori Belajar Behavioristik
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru.
Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh- contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti:
30 Abd. Qodir, “Teori Belajar Humanistik dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa” Vol.04 No.02
Juli-Desember 2017
37 Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya:
percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
2. Penerapan teori kognitif
Menurut Ormrod, ia menyatakan bahwa Implementasi teori kognitivisme dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut.31
a. Mendorong peserta didik untuk berusaha semaksimal mungkin dalam memahami materi pelajaran dengan metode yang mudah diingat.
b. Membantu peserta didik menganalisis materi yang dipelajari.
c. Membantu peserta didik dalam memahami materi dengan memberikan pengalaman yang menarik.
d. Memberikan inovasi yang berkaitan dengan keadaan dunia sekarang.
e. Memberikan pemahaman dengan pertimbangan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing usia peserta didik.
f. Mengonsep suasana kelas yang baru dan kreatif agar peserta didik tidak merasa bosan.32
3. Penerapan teori humanistik
Konsep teori belajar humanistik yaitu proses memanusiakan manusia, dimana setiap individu diharapkan dapat mengaktualisasikan diri, artinya manusia
31 Jum Anidar, Teori Belajar Menurut Aliran Kognitif beserta Implikasinya dalam Pembelajaran, UIN
Imam Bonjol Padang, hlm 14
32 Ibid., hlm 15
38 dapat menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan. Proses belajar humanistik memusatkan perhatian kepada diri peserta didik sehingga menitikberatkan kepada kebebasan individu. Teori humanistik menekankan kognitif dan afektif mempengaruhi proses.33
Di sinilah akhir dari sebuh proses pembelajaran menurut pandangan teori belajar humanistik, yakni melakukan proses humanisasi (memanusiakan manusia) yang berujung pada pembebasan. Oleh karenanya, pembelajaran bukan hanya sebatas penyampaian informasi saja (transfer of knowledge), melainkan dengan adanya implementasi teori belajar humanistik, diharapkan peserta didik mampu mengetahui dan memahami eksistensi dan potensi yang mereka miliki. Melalui pembelajaran humanistik pula, diharapkan akan berimbas pada tingkah laku, perilaku atau akhlak siswa, tentunya akhlak yang baik. Pembelajaran humanis akan membentuk perilaku yang berkarakter, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Perilaku berkarakter ditentukan oleh kemampuan guru dalam menciptakan komunitas yang bermoral di kelas. Komunitas yang bermoral dicerminkan oleh siswa yang saling mengenal satu sama lain, saling menghargai, menguatkan dan peduli satu sama lain.
C. Kesimpulan
Teori dapat dianggap sebagai alat riset yang keberadaannya dapat benar maupun salah. Keduanya dapat berguna atau tidak dan dapat dibuktikan melalui riset. Apabila suatu teori dilakukan observasi dan menghasilkan hasil yang memuaskan, dapat dikatakan teori itu baik. Teori belajar adalah seperangkat pernyataan umum yang digunakan untuk menjelaskan kenyataan mengenai belajar.
Sebuah teori dapat menjadikan pengajaran dan pembelajaran menjadi lebih terarah, sehingga seorang pengajar dapat menyesuaikan peserta didik. Dari uraian di atas , teori yang kami bahas yaitu teori Behavioristik, teori Kognitivisme, dan Teori Humanistik.
Teori belajar behavioristik ini menekankan pada stimulus dan respon.
Menurut aliran ini, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indera untuk menghasilkan respon. Kognitivisme
33 Amalia Chusnas Sa’adah, Implementasi Teori Belajar Humanistik..., hlm. 11.
39 adalah kegiatan untuk mengetahui sesuatu yang mencangkup perolehan, pengorganiasian, dan pemakaian pengetahuan. Artinya, kognisi fokus pada memori, atensi, persepsi, bahasa, rasio, pemecahan masalah kreativitas dan struktul mental dalam proses mengetahui sesuatu Teori belajar humanistik bertumpu pada pragmatisme, progresivisme dan eksistensialisme. Pragmatisme berarti memelihara keberlangsungan pengetahuan dengan aktivitas yang dengan sengaja mengubah lingkungan.
40 DAFTAR PUSTAKA
Bisri Mustafa,2015. Psikologi Pendidikan . Yogyakarta:Dua Satria Offset.
Jum Anidar, “Teori Belajar menurut Aliran Kognitif serta Implikasinya dalam pembelajaran”
UIN Imam Bonjol Padang
Jum Anidar, Teori Belajar Menurut Aliran Kognitif beserta Implikasinya dalam Pembelajaran, UIN Imam Bonjol Padang.
Mona Ekawati,2019. “Teori Belajar menurut Aliran Psikologi Kognitif serta Implikasinya dalam proses belajar dan Pembelajaran” Vol.07.
Nahar, Novi Irwan. Vol.1 Desember 2016. Penerapan Teori Behavioristik dalam Proses Pembelajran, Nusantara. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial. Rachmana, Ratna Syifa’a. Vol.1 No.1 2008. Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan. El-Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam.
Novi Irwan Nahar,2016.