• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL TERAPI ABA KELOMPOK I

N/A
N/A
Zahra Radhia

Academic year: 2024

Membagikan "MODUL TERAPI ABA KELOMPOK I "

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL TERAPI ABA

MODUL TERAPI ABA

KELOMPOK I

(2)

ANGGOTA KELOMPOK:

ANGGOTA KELOMPOK:

KELOMPOK I

Bunga sari (2006104030099)

Miftahul Jannah (2006104030106)

Nifa Farassya (2006104030089)

Zahra Radhia (2006104030109)

Almud Sirah

(2006104030099)

(3)

KATA PENGANTAR

: :

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan izin dan kekuatan kepada kami dalam membuat Modul ini yang bertemakan “Anak ABA". Meskipun banyak hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya, tetapi kami berhasil menyelesaikan modul ini tepat pada waktunya.Tidak lupa kami ucapkan terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak sehingga memperlancar kami dalam mengerjakan modul ini , dalam pembuatan modul kami banyak sekali mendapat ilmu pengetahuan tentang landasan teoritis pengguna media pendidikan.Kemudian selanjutnya tentu saja kami juga berharap semoga modul ini dapat menjadisesuatu yang berguna untuk kita semua dalam memperluas ilmu pengetahuan mengenai Anak ABA.

Terlepas dari semua itu kami menyadari bahwa segala seuatu di dunia ini tidak adayang sempurna, oleh karena itu apa bila pembaca mendapati kesalahan dalam modul ini,kami meminta maaf dan kami menerima dengan senang hati apa bila ada kritikan dan saranyang ingin disampaikan.

Banda Aceh,6 November 2023 Tim Penyusun

(4)

Defenisi ABA

Terapi analisis perilaku terapan atau ABA adalah program yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan sosial anak dan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan.Autisme adalah salah satu gangguan perilaku yang bisa terjadi pada seseorang karena kelainan perkembangan saraf otaknya.

Mayoritas kasus autisme bisa terlihat gejalanya sejak

kanak-kanak. Karena perilaku autisme muncul dalam

intensitas yang beragam di tiap individu, ada berbagai

cara untuk mengurangi gejala tersebut. Salah

satunya dengan melakukan terapi ABA.

(5)

MANFAAT TERAPI ABA UNTUK ANAK DENGAN AUTISME

: :

Terapi analisis perilaku terapan telah terbukti memberikan manfaat yang signifikanbagi anak-anak dengan autisme. Berikut adalah beberapa manfaat terapi ABA untuk anak-anak autis

Mengembangkan keterampilan social. Anak autis umumnya memiliki kesulitan dalam menangkap sinyal-sinyal sosial. Ini menyebabkan mereka terkadang sulit untuk membaur dengan teman sebayanya. Dengan terapi ini, mereka bisa mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan dalam interaksi sehari-hari. Anak bisa belajar mengenali ekspresi wajah, mengatur kontak mata, berbagi minat dengan orang lain, mengikuti petunjuk sosial, dan memahami aturan perilaku yang berlaku.

Kemampuan belajar meningkat. Tidak hanya dalam bergaul, terkadang anak dengan autisme juga belajar lebih lambat dari anak-anak normal. Maka dari itu, terapi ABA menggunakan pendekatan yang sistematis dan terstruktur untuk mengajar anak-anak autis sejak kecil. Dengan pendekatan ini, anak harapannya bisa lebih mudah belajar dengan cara yang konvensional, seperti mengingat informasi, mengikuti instruksi guru, dan memperhatikan penjelasan.

Komunikasi lebih mudah. Pengidap autisme, baik di masa kanak- kanak atau saat dewasa, cenderung sulit untuk berkomunikasi seperti orang pada umumnya. Baik itu dari cara bicara, kontak mata, hingga mereka menyampaikan pesan. Terapi ABA bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan komunikasi verbal maupun nonverbal sehingga mereka bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan efektif.

.Mengurangi perilaku negative. Kebiasaan buruk tertentu seperti tantrum, perilaku agresif, atau gerakan repetitif cukup sering terjadi pada anak autis. Orang tua umumnya memiliki keinginan untuk mengurangi perilaku seperti ini karena akan sulit membuat mereka berinteraksi dengan orang sekitar. Melalui strategi seperti penguatan positif, anak bisa beradaptasi sedikit demi sedikit untuk mengatasi emosi mereka.

(6)

TERAPI ABA

: :

Terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) ini didasarkan pada teori

“Operant Conditioning” yang dipopuleri oleh Burhus Frederic Skinner (1904-1990) seorang behavioralis dari Amerika Serikat.

Dasar teori ini adalah pengendalian perilaku melalui manipulasi, imbalan dan hukuman. Seorang fisiolog Rusia dengan teorinya Classical Conditioning yang menyatakan bahwa setiap perilaku mengandung konsekuen dan setiap proses pengajaran perilaku tidak berdasarkan prinsip trial-error tetapi dapat dirancang.

Prinsip Operant Conditioning memperkenalkan rumus A B C

Pengertian dari rumusan ini A adalah antecedent atau penyebab, B adalah behavior atau perilaku, sedangkan C adalah consequences atau akibat. Tanda panah menunjukkan bahwa setiap perilaku selalu didahului oleh penyebab, dan setiap perilaku akan membawa akibat.

Apabila A dieliminasi maka perilaku B tidak akan muncul.

Bersadarkan prinsip Operan Conditioning, perilaku dapat dimodifikasi oleh konsekuensinya. Konsekuensi yang dapat meningkatkan perilaku disebut penguat (reinforcers), dan konsekuensi yang dapat menurunkan perilaku disebut sanksi (punishment). Suatu perilaku bila memberikan akibat (consequences) yang menyenangkan berupa reinforcers akan dilakukan lagi atau akan muncul berulang-ulang. Sebaiknya jika suatau perilaku ternyata memberikan akibat yang tidak menyenangkan atau tidak mendapatkan imbalan maka perilaku akan dihentikan (Handojo, 2003).

(7)

TEKNIK TERAPI ABA (Applied Behaviour Analysis)

Berapa hal yang mendasar mengenai teknik-teknik ABA adalah:

a. Kepatuhan (Compliance) dan kontak mata, proses membantu anak untuk melakukan kontak mata dan melatih kepatuhan.

b. One-on One adalah satu terapis untuk satu anak. Bila perlu dapat dipakai seorang co-terapis yang bertugas sebagai prompter.

PERILAKU + IMBALAN = PERILAKU TERUS DILAKUKAN PERILAKU – IMBALAN = PERILAKU TERHENTI

c. Siklus dari Discrete Trial Training, yang dimulai dengan instruksi dan diakhiri dengan imbalan. Siklus terdiri dari 3 kali instruksi, dengan pemberian tenggang waktu 3-5 detik pada instruksi ke-1 dan ke-2

. Fading adalah mengarahkan anak ke perilaku target dengan prompt penuh, dan makin lama prompt makin dikurangi secara bertahap sampai akhirnya anak mampu melakukan tanpa prompt.

e. Shaping adalah mengajarkan suatu perilaku melalui tahap-tahap pembentukan yang semakin mendekati (successive approximation) respon yang dituju yaitu perilaku target.

f. Chaining adalah mengajarkan suatu perilaku yang kompleks, yang dipecah menjadi aktivitas-aktivitas kecil yang disusun menjadi suatu rangkaian antara untaian secara berurutan.

.

g. Discrimination training adalah tahap identifikasi item dimana disediakan item pembanding. Kedua item kemudian diacak tempatnya, sampai anak benar-benar mampu membedakan mana item yang harus diidentifikasi sesuai instruksi.

h. Mengajarkan konsep warna, bentuk, angka, dan huruf. Untuk mengajarkan konsep tersebut ada beberapa alat yang diperlukan sebagai alat bantu:

Pembuatan alat peraga yang berupa kertas berukuran 8x8 cm dan diberi laminating.

Pada konsep warna diajarkan mulai warna dasar yaitu merah, kuning, biru. Pada konsep bentuk buatlah alat peraga pada kertas berwarna dengan ukuran

(8)

EFEKTIVITAS TERAPI ABA PADA ANAK AUTIS

Menurut Maurice (Levina : 2006) materi yang paling dasar dalam terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) untuk meningkatkan kemampuan bahasa pada anak autis adalah kemampuan untuk memperhatikan (kemampuan mengikuti pelajaran), kemampuan untuk meniru (kemampuan imitasi), dan kemampuan mengidentifikasi (kemampuan bahasa reseptif), dan melakukan kemampuan labeling (kemampuan bahasa ekspresif).

Levina (2006) mengungkapkan dalam penelitian tentang program ABA untuk meningkatkan kemampuan bahasa reseptif pada anak penyandang autis usia pra sekolah, diperoleh hasil bahwa kemampuan bahasa reseptif anak penyandang autis meningkat.

Kurnaini (2006) tentang efektivitas terapi perilaku dengan metode ABA pada anak penyandang autis usia prasekolah, dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan bahasa yaitu subyek dapat mengidentifikasi lemari, TV, meja, kursi.

(9)

PENILAIAN TERAPI ABA

Hasil yang dicapai setiap hari oleh anak baik di sekolah maupun di rumah perlu dicatat dengan teliti, agar tidak terjadi kekhilafan dalam urutan materi yang diajarkan. Sebaiknya dibuat kesepakatan dalam kode pencatatan, sehingga semua terapis dan orang tua atau pengasuh yang ikut menterapi dapat segera memahami catatan yang telah dibuat. Pencatatn harian ini disebut juga penilaiaan A-P. Huruf A dipakai sebagai tanda bahwa anak mampu melakukan instruksi secara mandiri tanpa prompt (bantuan). Huruf P dipakai untuk tanda bahwa seorang anak masih perlu diprompt untuk melakukan suatu instruksi. Apabila secara berturut-turut 3x pada instruksi pertama seorang anak mampu melakukan apa yang diinstruksika terapis, dan pada waktu yng berlainan juga dilakukan oleh 2 terapis lain, jadi hasilnya adalah 3 (terapis) x 3 A, maka untuk aktivitas tersebut anak dianggap sudah mastered.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Ardina, R. (2018). Terapi Aba (Applied Behavior Analysis) Tingkat Dasar Efektif Terhadap Perilaku Imitasi Aksi Anak Autis Di Pusat Terapi Lpsdm Graha Jiwa Indonesia Kab. Pringsewu. The Indonesian Journal of Health Science, 10(1).

https://www.slideshare.net/hardionopusponegoro/modul-aba-1- rumah-autis-introduksi

Verywell Health. Diakses pada 2023. What Is Applied Behavioral Analysis (ABA) Therapy for Autism?Autism Speaks. Diakses pada 2023. Applied Behavior Analysis (ABA)

Andrew Meghie, Penerapan Psikologi dalam Perawatan, ANDI, Yogyakarta, Cet. Ke-1, 1996,

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perkembangan perilaku pada anak penderita autis mengalami perkembangan setelah diberi terapi

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan perkembangan kemampuan kognitif anak melalui metode permainan sains pada anak kelompok A TK ABA Merbung Klaten Selatan Klaten Tahun

Kemampuan sosial anak di Taman Kanak-Kanak ABA IV Mangli sesuai dengan Standar Tingkat Percapaian Perkembangan Anak (STPPA) aspek sosial pada anak usia 4 sampai 6 tahun...

Berdasarkan hasil analisis data tentang efektivitas terapi perilaku dengan metode Lovaas / Applied Behavior Analysis (ABA) terhadap pengendalian kemampuan motorik kasar

Terdapat pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi sesi I-V terhadap kemampuan mengontrol dan mengekspresikan marah pada pasien resiko

Kemampuan sosial anak di Taman Kanak-Kanak ABA IV Mangli sesuai dengan Standar Tingkat Percapaian Perkembangan Anak (STPPA) aspek sosial pada anak usia 4 sampai 6 tahun...

Tujuan terapi pada anak dengan gangguan autisme menurut Kaplan dan Sadock (2010), adalah mengurangi masalah perilaku serta meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya,

ABSTRAK PENGARUH TERAPI PERILAKU METODE LOVAAS TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI VERBAL ANAK AUTISME P ADA YAYASAN ANANDA KARSA MANDIRI MEDAN Oleh : Maringan Binton Sihotang NPM : 06