• Tidak ada hasil yang ditemukan

motif penggunaan second account instagram di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "motif penggunaan second account instagram di"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

MOTIF PENGGUNAAN SECOND ACCOUNT INSTAGRAM DI KALANGAN MAHASISWI PENDIDIKAN IPS UIN SYARIF

HIDAYATULLAH JAKARTA (Studi Fenomenologi Alfred Schutz)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

Farah Futhihat Rizky NIM 11170150000022

JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2022

(2)
(3)

ii

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

MOTIF PENGGUNAAN SECOND ACCOUNT INSTAGRAM DI KALANGAN MAHASISWI PENDIDIKAN IPS UIN SYARIF

HIDAYATULLAH JAKARTA (Studi Fenomenologi Alfred Schutz)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

Farah Futhihat Rizky NIM 11170150000022

Yang mengesahkan,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Abdul Rozak, M.Si. Cut Dhien Nourwahida, M.A.

NIP. 196909081996031004 NIP. 197912212008012016

(4)

iii

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul “Motif Penggunaan Second Account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Studi Fenomenologi Alfred Schutz)”. Disusun oleh Farah Futhihat Rizky, NIM.

11170150000022, Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Telah melalui bimbingan dan dinyatakan berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas

Yang mengesahkan,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Abdul Rozak, M.Si. Cut Dhien Nourwahida, M.A.

NIP. 196909081996031004 NIP. 197912212008012016

(5)

iv

LEMBAR PERNYATAAN UJI REFERENSI

Seluruh referensi yang digunakan dalam penulisan skripsi yang berjudul “Motif Penggunaan Second Account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Studi Fenomenologi Alfred Schutz)”.

Disusun oleh Farah Futhihat Rizky, NIM. 11170150000022, Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. telah diuji kebenarannya oleh dosen pembimbing skripsi pada tanggal

Jakarta, Agustus 2022

Yang mengesahkan,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Abdul Rozak, M.Si. Cut Dhien Nourwahida, M.A.

NIP. 196909081996031004 NIP. 197912212008012016

(6)

v

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini,

Nama : Farah Futhihat Rizky Tempat/Tgl Lahir : Depok, 29 Mei 1999

NIM : 11170150000022

Jurusan/Prodi : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Judul Skripsi : Motif Penggunaan Second Account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Studi Fenomenologi Alfred Schutz)

Dosen Pembimbing : 1. Dr. Abdul Rozak, M.Si.

2. Cut Dhien Nourwahida, M.A.

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.

Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.

Jakarta, 5 September 2022

Farah Futhihat Rizky NIM. 11170150000022

KEMENTERIAN AGAMA

FORM (FR)

No. Dokumen : FITK-FR-AKD-089 UIN JAKARTA Tgl. Terbit : 1 Maret 2010

FITK No. Revisi: : 01

Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia Hal : 1/1

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

(7)

vi ABSTRAK

Farah Futhihat Rizky (11170150000022) MOTIF PENGGUNAAN SECOND ACCOUNT INSTAGRAM DI KALANGAN MAHASISWI PENDIDIKAN IPS UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA (Studi Fenomenologi Alfred Schutz). Skripsi pada Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2022.

Tujuan dari penelitian ini yaitu ingin mengetahui motif sebab (because of motive) dan motif tujuan (in order to motive) penggunaan second account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Metode Penelitian ini yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik Sampling Snowball, kemudian menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Fenomenologi Alfred Schutz dijelaskan bahwa tindakan manusia dilatar belakangi oleh dua hal, yaitu yang pertama, Because of motive (motif „sebab‟) dan In order to motive (motif „tujuan‟) dalam penelitian ini akan diketahui motif sebab dan motif tujuan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Jakarta pada penggunaan second account di Instagramnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat motif sebab (Because of motive) yang melatar belakangi mahasiswi Pendidikan IPS menggunakan second account yaitu disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan dalam menggunakan akun Instagam, misalnya seperti tidak percaya diri, komentar negatif, dan tuntutan personal branding yang mereka bangun. Sedangkan motif tujuan (In order to motive) yaitu agar mereka lebih bisa bebas berekspresif dan dapat mempresentasikan dirinya sendiri tanpa ada rasanya khawatir ketika mengupload sesuatu di Instagram. Selain itu juga second account dapat dijadikan jurnal harian dan juga arsip untuk kenangan jika ingin melihat lagi momen yang sudah di unggah di akun tersebut.

Kata Kunci: Instagram, Second account, Motif, Fenomenologi, Alfred Schutz, Mahasiswa, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(8)

vii ABSTRACT

Farah Futhihat Rizky (11170150000022) MOTIVES FOR USING

INSTAGRAM SECOND ACCOUNT AMONG IPS STUDENTS OF IPS EDUCATION, SYARIF HIDAYATULLAH UIN JAKARTA (Aphrod Schutz Phenomenological Study). Thesis at the Department of Social Sciences, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2022.

The purpose of this study is to find out the cause (because of motive) and purpose motive (in order to motive) for the use of a second Instagram account among students of Social Studies Education at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

This research method is using qualitative research methods with the Snowball Sampling technique, then using Alfred Schutz's phenomenological approach.

Alfred Schutz's phenomenology explained that human actions are motivated by two things, namely the first, Because of motive ('cause' motive) and In order to motive ('purpose' motive) UIN Jakarta on the use of a second account on its Instagram. The results of this study indicate that there is a cause (Because of motive) behind Social Studies Education students using a second account, which is caused by unpleasant past experiences in using Instagram accounts, such as lack of confidence, negative comments, and demands for personal branding. they wake up. While the goal motive (In order to motive) is so that they can be more free to express and be able to present themselves without feeling worried when uploading something on Instagram. In addition, the second account can be used as a daily journal and also an archive for memories if you want to see more moments that have been uploaded to the account.

Keywords: Instagram, Second account, Motif, Phenomenology, Alfred Schutz, Student, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil‟alamin, segala puji serta syukur penulis panjatkan hanyalah untuk Allah Subhanahu Wa Ta‟ala. yang telah memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan karunia-Nya kepada penulis. Shalawat serta salam penulis curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan, semoga kita termasuk kedalam umat-nya dan dikumpulkan bersama di hari akhir nanti.

Berkat seluruh doa serta usaha penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Motif Penggunaan Second Account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Studi Fenomenologi Alfred Schutz)” Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program Sarjana (S1) Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis sadar bahwa penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, penuh dengan bantuan dari pihak lain yang dengan suka rela membantu tanpa pamrih. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Lubis, M.A., selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Dr. Sururin M.Ag, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Dr. Irwan Purwanto, M.Pd, Kepala Jurusan Program Studi Tadris IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

(10)

ix

4. Bapak Andri Noor Ardiansyah, M.Si, Sekretaris Jurusan Program Studi Tadris IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Bapak Dr. Abdul Rozak, M.Si, selaku Dosen Pembimbing I yang sudah bersedia meluangkan waktu, tenaga, pikiran, saran, serta dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

6. Ibu Cut Dhien Nourwahida, M.A, selaku Dosen Pembimbing II yang sudah bersedia meluangkan waktu, tenaga, pikiran, saran, serta dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini

7. Seluruh dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya yang ada di jurusan Pendidikan IPS yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan pemahaman kepada penuli selama menjalani proses perkuliahan.

8. Seluruh staff Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan Staff Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah memberikan kemudahan dalam pembuatan surat-surat dan sertifikat.

9. Kepada seluruh informan yang telah membantu saya dalam pelaksanaan penelitian.

10. Kepada keduan orang tua penulis, Alm. Bapak Lukman Hakim dan Ibu Mulharyetty Syas terima kasih atas seluruh do‟a yang selalu di panjatkan untuk penulis dan dukungan moril maupun materil yang tidak pernah berhenti memberikan doa dan dukungannya dalam menyelesaikan studi.

11. Kepada kedua Kakak penulis, Fira Luthfiana Putri dan Farhan Hakim terimakasih sedalam-dalamnya penulis ucapkan, berkat kasih sayang dan dukungan yang diberikan akhirnya bisa menyelesaikan penelitian ini.

12. Kepada Tante ku, Ante Yanti yang juga turut andil dalam memberikan bimbingan dan semangat dukungan hingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

13. Kepada sahabat-sahabat terbaikku selama perkuliahan, Aisyah Cahya Laila, Siti Aminah, Naela Faizah, Rivana Dwi Satriani, Afifa Hilhami, dan Muhammad Jutiar terima kasih sudah menjadi sahabat terbaik yang selalu

(11)

x

memberikan canda maupun tawa kepada penulis, semoga kita sehat selalu dan tetap terhubung bersilaturahmi.

14. Kepada Harry Styles dan Louis Tomlinson, terimakasih telah memberikan semangat dan support dari lagu-lagu yang mereka buat dan memberikan hiburan serta kekuatan ketika penulis merasa sedih ataupun jenuh.

15. Seluruh teman-teman Pendidikan IPS angkatan 2017 yang telah belajar bersama selama di kampus tercinta, semoga kita semua menjadi generasi penerus bangsa yang sukses dan berakhlak mulia. Serta segenap pihak yang sudah membantu yang penulis sadari ataupun tidak sadari, hanya do‟a dan ucapan terima kasih yang dapat penulis sampaikan.

Demikian ungkapan terima kasih yang dapat penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis sejak mulai berkuliah hingga menyelesaikan studi. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan mereka dan skripsi ini dapat menambahkan pengetahuan dan pemahaman yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Aamiin Yarabbalalamin.

Wassalamua‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Depok, September 2022

Farah Futhihat Rizky

(12)

xi DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... i

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... ii

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii

LEMBAR PERNYATAAN UJI REFERENSI ... iv

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 10

C. Pembatasan Masalah ... 10

D. Rumusan Masalah ... 11

E. Tujuan Penelitian ... 11

F. Manfaat Penelitian ... 11

BAB II KAJIAN TEORI ... 13

A. Kajian Teori ... 13

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 27

C. Kerangka Berpikir ... 32

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 34

B. Latar Penelitian ... 35

C. Metode Penelitian ... 35

D. Sumber Data ... 36

E. Prosedur Pengumpulan Data ... 37

F. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data ... 42

G. Analisis Data ... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46

A. Deskripsi Data ... 46

(13)

xii

B. Hasil Penelitian ... 51

C. Pembahasan ... 82

D. Keterbatasan dalam Penelitian ... 90

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 92

A. Kesimpulan ... 92

B. Implikasi ... 93

C. Saran ... 94

DAFTAR PUSTAKA ... 95

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 100

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 konten akun real vs. second account... 7

Tabel 2.1 Penelitian Relevan ... 27

Tabel 3.1. Waktu Penelitian ... 34

Tabel 3.2 Instrumen Observasi ... 38

Tabel 3.3 Karakteristik Akun ... 38

Tabel 3.4 Followers (pengikut) dan Following (mengikuti) ... 39

Tabel 3.5 Jenis Konten Postingan ... 39

Tabel 3.6 Instrumen Wawancara ... 40

Tabel 4.1 Rincian data informan ... 50

Tabel 4.2 Karakteristik Akun ... 51

Tabel 4.3 Followers (pengikut) dan Following (mengikuti) ... 55

Tabel 4.4 Jenis Konten Postingan ... 57

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Pengguna Instagram tahun 2019 ... 2

Gambar 1.2 Pengguna Instagram tahun 2020 ... 3

Gambar 1.3 Urutan Negara Penggunan Instagram ... 4

Gambar 1.4 Pengguna Instagram Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin ... 5

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ... 33

Gambar 4.1 Perbedaan first account dan second account ... 60

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semakin berkembang dan modernnya teknologi yang termasuk ke dalam globalisasi teknologi, menciptakan berbagai kemudahan dalam komunikasi sosial salah satunya adalah dengan berkembangnya media sosial.

Apalagi pada saat ini komunikasi semua tersedia di dalam satu genggaman dengan smartphone, maka generasi muda dimudahkan untuk saling terhubung tanpa ada sekatan dan batasan negara. Teknologi sangat berpengaruh besar dalam perubahan sosial yang mengakibatkan perubahan signifikan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan demikian, perubahan-perubahan akibat penggunaan teknologi membawa pengaruh besar. Di satu sisi teknologi dapat memudahkan kehidupan manusia.1

Saat ini negara Indonesia sedang memasuki tahap 4.0 yang dimana dengan mudahnya akses internet dapat terhubung. Pada tahap ini semua aktivitas kita terhubung dengan teknologi utamanya adalah penggunaan internet. Dalam artikel Databoks menurut data dari Internetworldstats, penetrasi internet di Indonesia pada akhir Maret 2021 sebesar 76,8 persen dari total populasi. Pengguna internet di tanah air mencapai 212,35 juta dengan estimasi total populasi sebanyak 276,3 juta jiwa. Dengan capaian tersebut, Indonesia berada di urutan ke-15 di antara negara-negara Asia.2 Karena pengguna internet sangat diminati, maka kita dapat disebut sebagai generasi internet, dimana generasi yang banyak menggunakan teknologi Internet.

Penggunaan internet dapat memudahkan segala kegiatan dalam hal berkomunikasi dan dengan mudahnya dapat bebas berkomunikasi dimanapun

1 Joan Hesti dan Sri Muhammad K, “Perubahan Sosial”, (Klaten: Cempaka Putih, 2018), Hlm. 34

2 Viva Budy Kusnandar, “Penetrasi Internet Indonesia Urutan ke-15 di Asia pada 2021”,

(https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/07/12/penetrasi-internet-indonesia-urutan-ke-15- di-asia-pada-2021), Diakses pada 23/8/21.

(17)

dan kapanpun. Penggunaan media sosial yang semakin berkembang juga banyak diminati oleh masyarakat Indonesia.

Penggunaan media sosial di Indonesia saat ini makin meningkat.

Artikel Databoks berjudul We Are Social menyebutkan bahwa, terdapat 10 media sosial yang paling sering digunakan di Indonesia. Media-media sosial tersebut adalah Youtube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, Line, FB Messenger, Linkedin, Pinterest dan wechat.3

Aplikasi Instagram sangat popular di Indonesia, walaupun pada artikel Databoks sebelumnya menyebutkan Instagram berada diurutan keempat, namun Instagram mengalami lonjakan pengguna yang cukup tinggi tiap tahunnya. Menurut penelitian Napoleon Cat, pada tahun 2019 hampir 22,6%

penduduk di Indonesia adalah pengguna Instagram dengan total mencapai 61.610.000 orang. Data grafik penggunaan Instagram tahun 2019 dapat dilihat pada Gambar 1.1 4

Gambar 1.1 Pengguna Instagram tahun 2019

3 We Are Social, “Media Sosial yang Paling Sering Digunakan di Indonesia”, (https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/02/26/10-media-sosial-yang-paling-sering- digunakan-di-indonesia) Diakses pada 2020/02/26.

4 Napoleon Cat, “Sebanyak Inikah Jumlah Pengguna Instagram di Indonesia

(https://tekno.kompas.com/read/2019/12/23/14020057/sebanyak-inikah-jumlah-pengguna- instagram-di-indonesia) Diakses pada 2019/12/23.

(18)

Tahun 2020-2021 pengguna Instagram di Indonesia terus bertambah.

Pada tahun 2020 pengguna Instagram di Indonesia sebanyak 69.270.000 orang, data ini dapat dilihat pada Gambar 1.2.5 Kemudian pada tahun 2021 ternyata bertambah lagi yaitu mencapai 91.770.000 orang pengguna. Karena Instagram sangat diminati di Indonesia setiap tahunnya pengguna Instagram terus bertambah, dapat dilihat pada data Gambar 1.3 yang mana pengguna Instagram di Indoneisa berada diurutan ke-4 negara yang paling banyak penggunanya. 6

Gambar 1.2 Pengguna Instagram tahun 2020

5 Napoleon Cat, “Pengguna Instagram di Indonesia didominasi Wanita dan Generasi Milenial”, (https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/14/pengguna-instagram-di-indonesia-

didominasi-wanita-dan-generasi-milenial) Diakses pada 2020/06/14.

6 Databoks, “Inilah Negara Pengguna Instagram Terbanyak Indonesia Uruta Berapa”,

(https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/08/03/inilah-negara-pengguna-instagram- terbanyak-indonesia-urutan-berapa). Diakses Pada 23/8/21

(19)

Gambar 1.3 Urutan Negara Penggunan Instagram

Dari data tersebut selama tahun 2019-2021 pengguna Instagram tiap tahunnya terus melonjak, bahkan Indonesia berada diurutan ke 4 paling banyak pengguna di Instagram. Aplikasi Instagram ini diminati oleh banyak orang karena memiliki keunggulan pada pengambilan foto dalam bentuk atau tempat untuk berbagi informasi terhadap penggunanya.7 Instagram juga dapat memberikan inspirasi bagi penggunanya dan juga dapat meningkatkan kreatifitas, karena Instagram mempunyai fitur yang dapat membuat foto menjadi lebih indah, lebih artistik dan menjadi lebih bagus.8

Instagram diminati oleh semua kalangan karena aplikasi ini mudah untuk diakses oleh penggunannya, namun Data Cat menunjukkan bahwa pengguna Instagram di Indonesia didominasi oleh golongan usia produktif, yaitu pada rentang usia 18-24 tahun. Usia ini termasuk dalam generasi milenial. Pada Gambar 1.4 berikut menunjukkan, bahwa pengguna dari golongan generasi tersebut mendominasi penggunanya adalah perempuan yaitu hingga 19,3 persen dari pada laki – laki hanya 17 persen (usia 18-24).

7 Databoks, “Inilah Negara Pengguna Instagram Terbanyak Indonesia Urutan Berapa”,

(https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/08/03/inilah-negara-pengguna-instagram- terbanyak-indonesia-urutan-berapa). Diakses Pada 23/8/21

8 Atmoko, Bambang Dwi, “Instagram Handbook”. (Jakarta: Media Kita, 2012) hlm. 16

(20)

Pengguna Instagram berjenis kelamin perempuan lebih banyak (1-2 %) dibanding laki-laki. 9

Gambar 1.4 Pengguna Instagram Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

Pada data di atas menunjukkan bahwa Instagram mayoritas penggunannya adalah remaja sampai dewasa muda, dan belakangan ini beberapa pengguna akun Instagram tersebut ternyata memiliki akun lebih dari satu. Selain akun Instagram utama (first account atau real account) mereka juga membuat akun kedua yang dimana penggunannya dapat menunjukkan jati diri mereka tanpa bebas dan halangan, atau biasa disebut dengan second account.

Terdapat sejumlah penelitian tentang penggunaan Instagram. Pertama yaitu penelitian yang dipublish oleh Hai.grid.id pada tanggal 22 April 2018.10 Penelitian ini dilakukan terhadap 300 orang responden remaja yang memiliki Instagram. Hasilnya ialah ditemukan 46% remaja tersebut memiliki akun

9 Napoleon Cat, “Pengguna Instagram di Indonesia didominasi Wanita dan Generasi Milenial”, (https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/14/pengguna-instagram-di-indonesia-

didominasi-wanita-dan-generasi-milenial) Diakses pada 2020/06/14.

10 Alvin Bahar, “Survei 46% remaja punya lebih dari satu akun instagram pribadi kebanyakan nggak ngungkap identitas asli apa alasannya?” (https://hai.grid.id/read/07610011/survei-46- remaja-punya-lebih-dari-satu-akun-instagram-pribadi-kebanyakan-nggak-ngungkap-identitas-asli- apa-alasannya?page=all) Diakses pada 2/05/2018.

(21)

kedua (Second account) di Instagram, dan 60% nya akun kedua tersebut diprivate, yang artinya identitas asli pengguna Instagram tersebut tidak diungkapkan. Pengguna second account lebih banyak penggunanya berjenis kelamin perempuan.

Kedua, penelitian oleh Ferisa Nur Kamilah dan Sri Budi Lestari, yang berjudul Manajemen Privasi pada Pengguna Media Sosial Instagram.11 Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial Instagram dijadikan sebagai sarana melakukan pengungkapan diri. Di sisilain pengguna Instagram juga melakukan manajemen privasi pada akun Instagramnya, yaitu dengan memutuskan untuk tidak mengungkapkan sama sekali privasinya di Instagram atau membuat akun kedua Instagram yang dikhususkan untuk mengungkapkan privasinya. Akun kedua yang digunakan hanya di ikuti oleh orang-orang terdekat dan dipercaya oleh pengguna yang membuatnya lebih leluasa mengungkapkan privasinya.

Dari penelitian-penelitian di atas pengguna Instagram ternyata memiliki akun alternatif atau disebut dengan second account. Walaupun pengguna memiliki akun asli (real account) ia juga memiliki akun alternatif yang digunakan untuk mengungkapkan hal-hal privasinya. Hai.grid.id juga menyebutkan pengguna second account tersebut didominasi oleh remaja dan paling banyak penggunannya berjenis kelamin perempuan.

Beberapa pengguna Instagram di kalangan mahasiswa jurusan Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah memiliki second account, yang dapat dilihat dari nama akun Instagram dimana pengguna tidak menunjukkan identitas aslinya dan beberapa second account berteman dengan akun Instagram penulis. Maka dari itu penulis melakukan pengamatan awal terhadap 6 akun pengguna Instagram antara pengguna laki-laki dan perempuan di kalangan Mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah. Berikut pengamatan awal 6 orang pengguna akun Instagram antara real account dan second account:

11 Ferisa Nur Kamilah dan Sri Budi Lestari, “Manajemen Privasi pada Pengguna Media Sosial Instagram”, Jurnal Komunikasi, Vol. 9, 2020.

(22)

Tabel 1.1 konten akun real vs. second account

No Real Account (Akun Asli) Second account (Akun Kedua) 1.  Postingan foto terlihat

bagus dan rapih

Instastory pemandangan atau tempat-tempat bagus

 Berteman dengan banyak orang/pengikut

 Postingan foto instagram random dan cenderung berantakan.

 Memposting kegiatan sehari-hari di instastory

 Berteman dengan teman-teman dekatnya saja

 Menutup identitas aslinya (nama akun pengguna bukan nama aslinya)

 Di privasi 2.  Postingan foto terlihat

bagus dan rapih

 Mengikuti banyak orang

 Jarang memposting instastrory

 Penggemar kpop (korean-pop)

 Membagikan postingan promosi katalog jualannya

 Mengikuti artist korea yang memiliki akun instagram

 Selalu membagikan terkait update akun-akun korea di instastory-nya.

 Di privasi 3.  Memposting hal-hal

tentang organisasi

 Memposting tentang make up

 Mempromosikan make up artist

Instastory pemandangan

Instastory bersama pacarnya

 Menggunakan fitur closefriend

Instastory untuk curhat dan menceritakan semua kesedihannya

 Di privasi

(23)

dan tempat- tempa spot foto bagus

4.  Instastorytentang

postingan gambar-gambar meme/jokes

 Posting tentang kucing, game dan hobi lainnya

 Aktif di akun real

 Jarang instastory

 Memposting tentang hobi di bidang fotografi

 Tidak di privasi

5.  Aktif di instagram

 Membagikan instastory keseharianya

 Membagikan foto di instagram yang isinya tentang hobi

 Jarang aktif

 Hanya mengikuti teman-teman dekat

 Di privasi

6.  Aktif di instagram

 Membagikan instastory di instagram tentang jalan- jalan dan hobi tiap harinya.

 Feeds instagram foto bersama teman dan keluarga

 Cukup aktif di instagram

 Tidak di privasi

 Akun untuk berjualan

Berdasarkan tabel 1.1 di atas terlihat perbedaan antara pengguna real account dan second account di Instagram menurut penulis. Pada pengguna akun nomor 1-3 adalah perempuan dan nomor 4-6 adalah laki-laki.

Perempuan lebih aktif pada second account dibanding di real accountnya sebaliknya laki-laki lebih akif di real accountnya daripada di second account. Perempuan cenderung memprivasi second account nya sedangkan laki-laki tidak. Penelitian yang di publish hai.grid.id juga menyatakan second account banyak digunakan oleh perempuan dibanding laki-laki.

(24)

Sesuai dengan namanya, secara media sosial memiliki fungsi untuk mendukung interaksi sosial penggunanya. Dalam konteks ini, media sosial bisa digunakan untuk mempertahankan atau mengembangkan relasi dan interaksi sosial yang sudah ada dan bisa digunakan untuk mendapatkan teman-teman yang baru.12 Instagram dirancang untuk menampilkan dan berbagi postingan foto dan video dari para penggunanya.

Dari paparan penelitian yang diulas sebelumnya, ditemukan bahwa mahasiswi cenderung mengggunakan second account dibanding real account. Mereka bahkan memprivasi dan menutupi identitas dirinya di Instagram. Hal ini tentu bertolak belakang dengan fungsi instagram sebenarnya yaitu untuk mempresentasikan diri bagi para penggunanya.

Penulis tertarik untuk meneliti apa motif perempuan menggunakan second account di Instagram, karena pada dasarnya Instagram dibuat untuk mempresentasikan diri dan berbagi aktivitas dalam bentuk foto atau video dan berinteraksi dengan teman-teman yang saling terhubung diakun tersebut.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui motif adalah pendekatan fenomenologi oleh Alfred Schutz. Fenomenologi Alfred Schutz menjelaskan bahwa tindakan manusia dilatarbelakangi oleh dua hal, yaitu yang pertama, Because of motive (motif “sebab”) yaitu berkaitan dengan alasan seseorang melakukan sesuatu tindakan sebagai usahanya menciptakan situasi dan kondisi yang diharapkan di masa datang. Dengan kata lain because of motive adalah yang melatarbelakangi seseorang melakukan tindakan tertentu. Kedua, In order to motive (motif “tujuan”) yaitu pandangan retrospektif terhadap faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan tertentu. Dengan kata lain in order to motive adalah tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang yang melakukan suatu tindakan tertentu.

Salah satu golongan pengguna Instagram adalah mahasiswi, termasuk mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis ingin mengetahui motif

12Evra Willya dan Prasetyo Rumondor, “Senarai Penelitian: Islam Kontemporer Tinjauan Multikultural”, (Yogyakarta: CV Budi Utama: 2018). Hlm 178

(25)

sebab dan motif tujuan mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam menggunakan second account di Instagram. Penulis memilih mahasiswi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta karena UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bervisi dan misi Islam. Apakah nilai- nilai keislaman ini menyebabkan mereka dalam menggunakan second account? Apakah mereka menggunakan second account agar tidak mengumbar masalah pribadi secara umum dan hanya memberikan kepada orang terdekatnya saja? Atau ada hal – hal lainya. Untuk itu penulis ingin mendalami fenomena ini sehingga membuat penelitian dengan judul Motif Penggunaan Second account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan pendekatan Fenomenologi Alfred Schutz.

B. Identifikasi Masalah

Berikut adalah beberapa masalah yang ditemui peneliti yang menjadi dasar dilakukannya penelitian ini:

1. Terdapat 46% remaja memiliki dua akun, dan 60% pemilik akun tersebut merahasiakan identitasnya.

2. Beberapa pengguna Instagram di kalangan mahasiswa jurusan Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah memiliki akun kedua (second account).

3. Pengguna second account yang tidak ingin mengungkapkan identitas aslinya dalam besosial media di Instagram

4. Kegunaan Instagram yang tidak ingin diungkapkan oleh pengguna second account.

C. Pembatasan Masalah

Batasan masalah pada penelitian ini yaitu penulis ingin mengetahui motif sebab dan motif tujuan dengan menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz pada Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam menggunakan second account di Instagram.

(26)

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini yaitu:

1. Apa motif sebab (because of motive) penggunaan second account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?

2. Apa motif tujuan (in order to motive) penggunaan second account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?

E. Tujuan Penelitian

Bersasarkan rumusan masaah yang telah diuraikan diatas, tujuan pada penelitian ini yaitu agar dapat mendeskripsikan:

1. Motif sebab (because of motive) penggunaan second account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Motif tujuan (in order to motive) penggunaan second account Instagram di kalangan Mahasiswi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat pada penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan terhadap bahan rujukan tentang teori motif fenomenologi Alfred Schutz, yang nantinya agar dapat memberikan sumbangan keilmuan yang berguna bagi mahasiswa, masyarakat ataupun pihak yang terkait lainnya.

b. Sebagai referensi bagi peneliti lain dan menambah wawasan dalam penggunaan sosial media khususnya Instagram.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(27)

Hasil penelitian ini diharapkan pada mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bervisi dan misi Islam, dapat bijak dan berakhlak dalam menggunakan sosial media.

b. Bagi Pengguna Media Sosial

Hasil penelitian ini agar dapat dijadikan gambaran dan wawasan untuk bijak dalam menggunakan sosial media khususnya Instagram.

c. Bagi Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi bagi para peneliti dalam mengembangkan pengetahuan dan wawasan

penggunaan second account Instagram dengan menggunakan pendekatan motif fenomenologi Alfred Schutz.

(28)

BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori

1. Motif

Motif adalah dorongan yang sudah terikat pada suatu tujuan. Motif menunjuk hubungan sistematik antara suatu respon dengan keadaan dorongan tertentu. Motif yang ada pada diri seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan.13

Dalam buku Alex Sobur (2003) Psikologi Umum terdapat beberapa pendapat para ahli mengenai istilah motif. Menurut Giddens (1991:64)

14motif sebagai impuls atau dorongan yang memberi energy pada tindakan manusia sepenjang lintasan kognitif atau perilaku kearah pemuasan kebutuhan. Motif tak harus dipersepsikan secara sadar. Ia lebih merupakan suatu „keadaan perasaan‟. Sedangkan menurut Sherif & Sherif (1956),15 motif sebagai suatu istilah generic yang meliputi semua faktor internal yang mengarah pada berbagai jenis perilaku yang bertujuan, semua pengaruh internal, seperti kebutuhan (needs) yang berasal dari fungsi- fungsi organisme, dorongan dan keinginan, aspirasi, dan selera sosial, yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut. 16

Dari pendapat para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan motif adalah suatu perasaan yang mendorong seseorang untuk mencapai suatu kepuasan yang menyebabkan seseorang tersebut berbuat suatu tindakan atau sikap tertentu. Motif juga merupakan dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat dan melakukan suatu tindakan atau bersikap tertentu.

Tingkah laku juga disebut tingkah laku secara refleks atau otomatis dan

13 M. Nur Ghufron Dan Rini Risnawita S, “Teori-Teori Psikologi”, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), Hlm. 83

14 Giddens, Anthony. (1991). “Modernity and Self-Identity. Cambridge, UK: Polity

15 Sherif, M., & Sherif, C. W. (1956). “An outline of social psychology”. New York: Harper &

Row 16 Alex Sobur, “Psikologi Umum”, (Bandung: Pustaka Setia, 2003). Hlm. 232

(29)

mempunyai maksud-maksud tertentu walaupun maksud itu tidak senantiasa sadar bagi seseorang.

Schutz juga membedakan dua tipe motif, yakni motif „dalam kerangka untuk‟ (in order to) dan motif „karena‟ (because). Motif pertama berkaitan dengan alasan seseorang melakukan sesuatu tindakan sebagai usahanya menciptakan situasi dan kondisi yang diharapkan di masa datang. Motif kedua merupakan pandangan retrospektif terhadap faktor- faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan tertentu 17

Teori fenomenologi, Schutz memperkenalkan dua istilah motif.

Motif yang pertama adalah motif „sebab‟ (because of motive). Kemudian motif yang kedua adalah motif „tujuan‟ (in order to motive).

a. Motif Sebab (Because of Motive)

Because of motive (motif „sebab‟) adalah berkaitan dengan alasan seseorang melakukan sesuatu tindakan sebagai usahanya menciptakan situasi dan kondisi yang diharapkan di masa datang. Dengan kata lain because of motif adalah yang melatarbelakangi seseorang melakukan tindakan tertentu.

b. Motif Tujuan (In Order to Motive)

In order to motive (motif „tujuan‟) merupakan pandangan retrospektif terhadap faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan tertentu. Dengan kata lain in order to motive adalah tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang yang melakukan suatu tindakan tertentu.18

2. Teori Fenomenologi (Alfred Schutz)

Alfred Schutz lahir di Wina pada tahun 1899 dan meninggal di New York pada tahun 1959. Ia menyukai musik, pernah bekerja di bank mulai berkenalan dengan ilmu hukum dan sosial. Ia mengikuti pendidikan akademik di Universitas Vienna, Austria dengan mengambil bidang ilmu-

17 Haryanto, Sindung. “Spektrum Teori Sosial”. (Jogjakarta: AR-RUZ MEDIA, 2012). Hlm. 149

18 Doni Iskandar dan M. Jacky, “Studi Fenomenologi Motif Anggota Satuan Resimen Mahasiswa 804 Universitas Negeri Surabaya”, (Program Studi S-1 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Surabaya) Hlm. 4

(30)

ilmu hukum dan sosial. Gurunya yang sangat terkenal adalah Hans Kelsen (ahli hukum), Ludwig Von Mises (ekonom), dan Friedrich Von Wieser dan Othmar Spann (keduanya ahli sosiologi).

Pendidikan formal ini dijalankan Schutz setelah ia mengikuti Perang Dunia I. Selama kuliah ia menjadi sangat tertarik pada karya-karya Max Weber dan Edmund Husserl. Setelah lulus ilmu hukum, dia malah bekerja di bidang perbankan untuk jangka waktu yang sangat lama.

Meskipun penghasilannya sangat besar tetapi dia merasa perbankan bukanlah tempat yang cocok baginya untuk mengaktualisasikan diri.

Schutz akhirnya banting setir yang mulai mempelajari sosiologi khususnya fenomenologi yang dianggap memberi makna dalam pekerjaan dan hidup.

Di tahun 1920-an meskipun bukan seorang Dosen, tetapi hampir seluruh temannya adalah dosen perguruan tinggi sehingga dia mulai terjun ke dunia akademik. Dia mulai mengajar dengan bantuan temannya dan bahkan memberikan kuliah di Perguruan Tinggi serta dapat berpartisipasi dalam diskusi dan seminar ilmiah. Setelah menerbitkan Der Sinnhafte Aufbau der sozialen welt Schutz akhirnya berkenalan secara pribadi dengan Edmund Husserl yang menawarinya menjadi asisten tetapi Schutz menolaknya.19

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, Phainoai, yang berarti

„menampak‟ dan phainomenon merujuk pada „yang menampak‟. Istilah fenomenologi diperkenalkan oleh Johann Heirinckh. Meskipun demikian pelopor aliran fenomenologi adalah Edmund Husserl.

Jika dikaji lagi Fenomenologi itu berasal dari phenomenon yang berarti realitas yang tampak. Dan logos yang berarti ilmu. Jadi fenomenologi adalah ilmu yang berorientasi untuk mendapatkan penjelasan dari realitas yang tampak. Fenomenologi berusaha mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep

19 Alex, Sobur. “Filsafat Komunikasi (Tradisi, Teori, dan Metode Penelitian Fenomenologi)”

(Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2020). Hlm.59

(31)

penting dalam kerangka intersubyektivitas (pemahaman kita mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain).

Fenomenologi berasumsi bahwa orang-orang secara aktif menginterpretasi pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengelaman pribadinya. Fenomena yang tampak adalah refleksi dari realitas yang tidak dapat berdiri sendiri, karena ia memiliki makna yang memerlukan penafsiran yang lebih lanjut. Tokoh-tokoh fenomenologi ini diantaranya Edmund Husserl, Alfred Schutz dan Peter. L Berger dan lainnya. Fenomenologi menerobos fenomena untuk dapat mengetahui makna hakikat terdalam dari fenomena tersebut untuk mendapatkan hakikatnya.

Tujuan dari fenomenologi, seperti yang dikemukakan oleh Husser, adalah untuk mempelajari fenomena manusia tanpa mempertanyakan penyebabnya, realitas yang sebenarnya, dan penampilannya. Husserl mengatakan, „Dunia kehidupan adalah dasar makna yang dilupakan oleh ilmu pengetahuan‟ Kita kerap memaknai kehidupan tidak secara apa adanya, tetapi berdasarkan teori-teori, refleksi filosofis tertentu, atau berdasarkan oleh penafsiran-penafsiran yang diwarnai oleh kepentingan- kepentingan, situasi kehidupan, dan kebiasaan-kebiasaan kita. Maka fenomenologi menyerukan zuruck zu de sachen selbst (kembali kepada benda-benda itu sendiri), yaitu upaya untuk menemukan kembali dunia kehidupan. 20

Menurut Schutz, manusia adalah makhluk sosial. Akibatnya, kesadaran akan kehidupan sehari-hari adalah sebuah kesadaran sosial.

Dunia individu merupakan sebuah dunia intersubjektif dengan makna beragam. Kita dituntut untuk saling memahami satu sama yang lain dan bertindak dalam kenyataan yang sama. Ada penerimaan timbal ba lik dan pemahaman atas dasar pengalaman yang bersamaan, dan tipifikasi bersama atas dunia bersama. Melalui proses tipifikasi diri, kita belajar

20 Alex, Sobur. “Filsafat Komunikasi (Tradisi, Teori, dan Metode Penelitian Fenomenologi)”

(Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2020). Hlm. 18

(32)

menyesuaikan diri ke dalam dunia yang lebih luas, dengan melihat diri kita sendiri sebagai orang yang memainkan peran dalam situasi tipikal. Jumlah hubungan sosial tersebut membentuk totalitas masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, individu dapat memakai simbol-simbol yang diwarisinya untuk memberi makna pada tingkah lakunya sendiri. Jadi, sebuah pandangan deskriptif atau interpretative tentang tindakan sosial dapat diterima hanya jika tampak masuk akal bagi pelaku sosial yang relevan.

Schutz meletakkan hakikat kondisi manusia dalam pengalaman subjektif dalam bertindak dan mengambil sikap terhadap dunia kehi dupan sehari-hari. Schutz mengikuti Husserl dengan menyatakan bahwa proses pemahaman aktual kegiatan kita dan memberi makna padanya, dapat dihasilkan melalui refleksi atas tingkah laku. Selanjut nya, kita dapat menyeleksi unsur-unsur pengalaman kita yang mem ung kinkan kita untuk melihat tindakan kita sendiri sebagai sebuah tindakan yang bermakna.

Tujuan Schutz adalah untuk mengingatkan bahwa verstehen merupakan metode yang masuk akal dalam kehidupan keseharian yang mampu menghasilkan kebenaran umum, yang terkontrol, dan dapat dibuktikan. Schutz mengasumsikan bahwa dunia kehidupan dianggap tidak problematis.21

Schutz membedakan antara makna dan motif. Makna berkaitan dengan bagaimana aktor menentukan aspek apa yang penting dari kehidupan sosialnya. Sementara, motif menunjuk pada alasan seseorang melakukan sesuatu. Makna mempunyai dua macam tipe, yakni makna subjektif dan makna objektif. Makna subjektif merupakan konstruksi realitas tempat seseorang mendefinisikan komponen realitas tertentu yang bermakna baginya. Makna objektif adalah seperangkat makna yang ada dan hidup dalam kerangka budaya secara keseluruhan yang dipahami bersama lebih dari sekadar idiosinkratik. Pendekatan yang akan digunakan

21 Prof. Dr. I.B. Wirawan, “Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma (Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Perilaku Sosial)” (Jakarta: Prenadamedia Group, 2012). Hlm. 140

(33)

adalah pendekatan Fenomenologi Alferd Schutz. ini adalah cara untuk menganalisis dan melukiskan kehidupan sehari-hari atau dunia kehidupan sebagaimana yang disadari oleh aktor. Fenomenologi akan menunjukkan kenyataan sosial tidak bergantung kepada makna yang sudah tercipta tetapi juga pada kesadaran subyektif individu. Konsep fenomenologi menekankan bahwa tindakan, identik dengan motif yang mendorong tindakan seseorang yang lazim disebut in order to motive (motif tujuan).

Dengan demikian untuk memahami tindakan manusia secara individu harus dilihat dari motif apa yang mendasari tindakan tersebut. Lebih lanjut lagi bahwa dengan motif yang melatar belakangi suatu tindakan atau because of motive (motif sebab) kita bisa melihat makna tindakan sesuai dengan motif asli yang benar-benar mendasari tindakan yang dilakukan secara individu. Schutz menyebutkan adanya because motive sebelum in order to motive22

Tugas utama sosiologi fenomenologis adalah memperoleh wawasan mengenai karakter pengalaman sosial nyata yang diinterprestasikan secara konvensional. Dalam kaitan ini, Schutz menerangkan bahwa baik konsep ilmiah maupun pengalaman „sehari-hari‟

terbentuk lewat kategori yang terpisah dari segala sesuatu yang serta merta ditentukan kesadaran yang dinamakan fakta konkret presepsi akal sehat tidaklah sekonkret kelihatannya, melainkan sudah melibatkan abstraksi- abstraksi yang rumit.23

3. Media Sosial Instagram a. Media Sosial

Media sosial termasuk dalam internet yang merupakan produk teknologi, maka dapat memunculkan jenis interaksi sosial baru yang berbeda dengan interaksi sosial sebelumnya. Jika pada masa lalu, masyarakat berinteraksi secara face to face, communication, maka dewasa ini masyarakat berinteraksi di dalam dunia maya atau melalui

22 Haryanto, Sindung. “Spektrum Teori Sosial”. (Jogjakarta: AR-RUZ MEDIA, 2012). Hlm. 149

23 Alex, Sobur. “Filsafat Komunikasi (Tradisi, Teori, dan Metode Penelitian Fenomenologi)”

(Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2020). Hlm. 70

(34)

interaksi sosial online. Melalui kecanggihan teknologi informasi, maka masyarakat memiliki alternatif lain untuk berinteraksi sosial. 24

Media sosial tersusun dari dua kata, yakni „media‟ dan „sosial‟.

„Media‟ diartikan sebagai alat komunikasi (Laughey, 2007; McQuail, 2003). Sedangkan kata „sosial‟ diartikan sebagai kenyataan sosial bahwa setiap individu melakukan aksi yang memberikan kontribusi kepada masyarakat. Pernyataan ini menegaskan bahwa pada kenyataannya, media dan semua perangkat lunak merupakan “sosial”

atau dalam makna bahwa keduanya merupakan produk dari proses sosial (Durkheim dalam Fuchs, 2014). 25

Dari pengertian masing-masing kata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa media sosial adalah alat komunikasi yang digunakan oleh pengguna dalam proses sosial. Namun, menurut Nasrullah untuk menyusun definisi media sosial, kita perlu melihat perkembangan hubungan individu dengan perangkat media.

Karakteristik kerja komputer dalam Web 1.0 berdasarkan pengenalan individu terhadap individu lain (human cognition) yang berada dalam sebuah sistem jaringan, sedangkan Web 2.0 berdasarkan sebagaimana individu berkomunikasi (human communication) dalam jaringan antar individu. Terakhir, dalam Web 3.0 karakteristik teknologi dan relasi yang terjadi terlihat dari bagaimana manusia (users) bekerja sama (human cooperation).26

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia

24 Shiefti Dyah Alyusi, “Media Sosial: Interaksi Identitas dan Modal Sosial”, (Jakarta: Kencana, 2016) , Hlm. 1

25 Mulawarman dan Aldila Dyas Nurfitri, “Perilaku Pengguna Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan”,(Jurnal Jurusan Bimbingan dan Konseling, FIP, Universitas Negeri Semarang: 2017), Vol. 25, No. 1. Hlm. 37

26 Nasrullah Rulli, “Media Sosial: Prespektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi”, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2017). Hlm. 8

(35)

virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Menurut Nasrullah media sosial merupakan medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual. Media sosial merupakan medium digital tempat realitas sosial terjadi dan ruang waktu para penggunanya berinteraksi. Nilai-nilai yang ada di masyarakat maupun komunitas juga muncul bisa dalam bentuk yang sama atau berbeda di internet. Namun, pada dasarnya, beberapa akademisi yang meneliti internet melihat bahwa media sosial di internet adalah gambaran apa yang terjadi di dunia nyata, seperti plagiarism.27

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai „sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content‟.28

Dengan demikian, bisa dijelaskan bahwa keberadaan media sosial pada dasarnya merupakan bentuk yang tidak jauh berbeda dengan keberadaan dan cara kerja komputer. Tiga bentuk bersosial, seperti pengenalan, komunikasi, dan kerja sama bisa dianalogikan dengan cara kerja komputer yang juga membentuk sebuah sistem sebagaimana adanya sistem di antara individu dan masyarakat.29

b. Instagram

Media sosial seperti Instagram muncul pada 6 Oktober 2010 yang semakin berjalannya waktu instagram semakin bertambah

27Ibid,. hlm 8

28 Anang Sugeng Cahyono, “Pengaruh Media Sosial Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat di Indonesia”, (PUBLICIANA: Jurnal ilmu sosial dan ilmu politik diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Tulungagung, Vol 9, No 1, 2016) Hlm. 142

29 Mulawarman dan Aldila Dyas Nurfitri, “Perilaku Pengguna Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan”,(Jurnal Jurusan Bimbingan dan Konseling, FIP, Universitas Negeri Semarang: 2017), Vol. 25, No. 1. Hlm . 38

(36)

penggunanya. Instagram ini dirancang oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger. Instagram adalah salah satu aplikasi yang gunanya untuk berbagi foto yang memungkinkan pengguna menggambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik instagram sendiri. Instagram juga menjadi wadah untuk membentuk citra diri, dimana semakin banyak angka followers atau pengikut dan like (menyukai) di beberapa foto si pemilik akun akan semakin terlihat bahwa si pengguna memiliki citra diri yang tinggi, juga dapat menjadi figur bagi remaja-remaja masa kini.30

Menurut Bambang, Instagram adalah sebuah aplikasi dari Smartphone yang khusus untuk media sosial yang merupakan salah satu dari media digital yang mempunyai fungsi hampir sama dengan twitter, namun perbedaannya terletak pada pengambilan foto dalam bentuk atau tempat untuk berbagi informasi terhadap penggunanya.

Instagram juga dapat memberikan inspirasi bagi penggunanya dan juga dapat meningkatkan kreatifitas, karena Instagram mempunyai fitur yang dapat membuat foto menjadi lebih indah, lebih artistik dan menjadi lebih bagus31

Instagram memiliki lima menu utama yang semuanya terletak dibagian bawah, yaitu sebagai berikut:

a) Home Page

Home page adalah halaman utama yang menampilkan (timeline) foto-foto terbaru dari sesama pengguna yang telah diikuti. Cara melihat foto yaitu hanya dengan menggeser layar dari bawah ke atas seperti saat scroll mouse di komputer. Kurang lebih 30 foto terbaru dimuat saat pengguna mengakses aplikasi, Instagram hanya membatasi foto-foto terbaru.

b) Comments

30 Dinda Marta Almas Zakirah, “Mahasiswa Dan Instagram”, (JURNAL S1 SOSIOLOGI FISIP UNIVERSITAS AIRLANGGA). Hlm. 5

31 Atmoko, Bambang Dwi, “Instagram Handbook”. (Jakarta: Media Kita, 2012) hlm. 16

(37)

Sebagai layanan jejaring sosial Instagram menyediakan fitur komentar, fotofoto yang ada di Instagram dapat dikomentar di kolom komentar. Caranya tekan ikon bertanda balon komentar di bawah foto, kemudian ditulis kesan-kesan mengenai foto pada kotak yang disediakan setelah itu tekan tombol send.

c) Explore

Explore merupakan tampilan dari foto-foto populer yang paling banyak disukai para pengguna Instagram. Instagram menggunakan algoritma rahasia untuk menentukan foto mana yang dimasukkan ke dalam explore feed.

d) Profile

Profile pengguna dapat mengetahui secara detail mengenai informasi pengguna, baik itu dari pengguna maupun sesama pengguna yang lainnya. Halaman profil bisa diakses melalui ikon kartu nama di menu utama bagian paling kanan. Fitur ini menampilkan jumlah foto yang telah diupload, jumlah follower dan jumlah following.

e) News Feed

New feed merupakn Fitur yang menampilkan notifikasi terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan oleh pengguna Instagram. News feed memiliki dua jenis tab yaitu „Following‟ dan „News‟. Tab

„following‟ menampilkan aktivitas terbaru pada user yang telah pengguna follow, maka tab „news‟ menampilkan notifikasi terbaru terhadap aktivitas para pengguna Instagram terhadap foto pengguna, memberikan komentar atau follow maka pemberitahuan tersebut akan muncul di tab ini.32

Karena pengguna bisa berinteraksi dengan sesama pengguna. Ada beberapa aktivitas yang dapat dilakukan di Instagram, yaitu sebagai berikut :

a) Follow

32 Atmoko, Bambang Dwi, “Instagram Handbook”. (Jakarta: Media Kita, 2012). Hlm 59

(38)

Follow adalah pengikut, dari pengguna Instagram pengguna satu agar mengikuti atau berteman dengan pengguna lain yang menggunakan Instagram.

b) Like

Like adalah suatu ikon dimana pengguna dapat menyukai gambar ataupun foto pada Instagram, dengan cara menekan tombol like dibagian bawah caption yang bersebelahan dengan komentar.

Kedua, dengan double tap (mengetuk dua kali) pada foto yang disukai.

c) Komentar

Komentar adalah aktivitas dalam memberikan pikirannya melalui katakata, pengguna bebas memberikan komentar apapun terhadap foto, baik itu saran, pujian atau kritikan.

d) Mentions

Fitur ini adalah untuk menambah pengguna lain, caranya dengan menambah tanda arroba (@) dan memasukan akun instagram dari pengguna tersebut.

e) Efek (Filter)

Pada versi awalnya, Instagram memiliki efek-efek yang dapat digunakan oleh para pengguna pada saat mereka hendak menyunting sebuah foto. Di dalam pengaplikasian efek, pengguna juga dapat sekaligus menyunting foto seperti mengatur kecerahan, kontras, warna, dan lainnya. 33

f) Instastory

Instastory merupakan singkatan dari Instagram stories. Instastory ini adalah salah satu fitur instagram yang memungkinkan para penggunanya untuk membagikan foto atau video yang akan terhapus secara otomatis dalam waktu 24 jam setelahnya. Di dalam fitur Instastory juga terdapat efek-efek yang dapat menghibur para penggunanya.

33 Atmoko, Bambang Dwi, “Instagram Handbook”. (Jakarta: Media Kita, 2012). Hlm 28

(39)

g) Arsip Foto

Fitur ini berfungsi sebagai media pribadi atau seperti album pribadi. Jadi, penngguna dapat membagikan foto atau video yang hanya bisa dilihat oleh pengguna tersebut.

h) Closefriend

Pada fitur ini, pengguna dapat membagikan foto atau video yang hanya bisa diakses oleh pennguna lain yang telah dipilih sebagai

„CloseFriend‟.

i) Siaran langsung

Fitur ini memungkinkan pengguna dalam sebuah akun untuk melakukan siaran video secara langsung tanpa berbatas waktu yang akan dinikmati oleh pengikutnya.

j) IG TV

Fitur ini memungkinkan pengguna untuk mengunggah video lebih dari 1 menit, namun tidak tersimpan dalam Feed profil unggahan.34 c. Second Account (Akun Kedua)

Second Account dalam bahasa Indonesia berarti akun kedua.

Maksud dari akun kedua ini adalah adanya akun lain selain akun utama yang kerap digunakan. Jadi, seseorang memiliki 2 akun Instagraam.

Pertama, akun asli / akun utama / first account dan Second Account / Fake account.35

Sebuah studi menunjukkan bahwa mayoritas pengguna Instagram yang masih remaja hingga dewasa muda, memiliki lebih dari satu akun Instagram. Selain akun Instagram utama (first account atau main account) mereka juga membuat akun untuk menunjukkan jati dirinya dengan bebas tanpa halangan. Tempat tersebut adalah Second Account.

34 Vionisepti Darahayu Syahadatina, “BIAS PEREMPUAN DALAM POSTINGAN AKUN INSTAGRAM (Analisis Semiotik pada Akun Indozonelife)” (Skripsi: Universitas Muhammadiyah Malang, 2018). Hlm. 15

35 https://pubiway.com/second-account-instagram/ “second account instagram” (Diakses tanggal 27 Juni 2022)

(40)

Second account atau akun alter atau finstagram (fake instagram) adalah akun di mana penggunanya bisa sesuka hati mengekspresikan dirinya. Kebalikan dengan main account atau first account, tidak ada standar sempurna sama sekali yang memberatkan seseorang.

Banyak alasan di balik terbentuknya second account ini.

Alasan mendasarnya adalah kebebasan. Umumnya second account berisi candaan, video absurd, pandangan sensitif tentang suatu hal, sindiran, curhatan dan lain-lain. Pengguna tidak perlu khawatir tentang komentar negatif karena salah satu syarat utama second account adalah akunnya yang privat.

Ketika sebuah akun diprivate, pemiliknya bisa menentukan siapa saja yang berhak follow atau melihat isi dari akun tersebut.

Karena sudah diseleksi, maka yang melihat isi akun tersebut biasanya sudah terpercaya dan tidak akan merespon negatif terhadap kebebasan dan ke-apa-adaan akun tersebut. 36

Akun private juga memberikan keuntungan anonimitas (tidak beridentitas). Anonimitas ini memberikan kebebasan pengguna untuk berkomentar, men-stalking (melihat-lihat profil Instagram secara diam- diam), mem-follow akun, dan memberikan likes. Anonimitas ini juga didukung oleh salah satu ciri khas second account yaitu nama penggunanya yang nyeleneh atau tidak sesuai nama asli.

Fenomena main account dan second account ini sesuai dengan Teori Dramaturgi oleh Erving Goffman, seorang sosiolog ternama.

Dalam Teori Dramaturgi, interaksi sosial diibaratkan menjadi sebuah panggung pentas dengan serentetan drama. Panggung dibagi menjadi dua, front stage dan back stage. Front stage adalah tempat drama

36 Kezia Kevina Harmok, https://www.mainmain.id/r/5508/kenapa-sih-pada-punya- second-account-

instagram#:~:text=Second%20account%20atau%20akun%20alter,balik%20terbentuknya

%20second%20account%20ini, “Kenapa sih Pada Punya Second Account Instagram?”

(Diakses tanggal 27 Juni 2022)

(41)

ditampilkan sedangkan back stage adalah posisi yang tidak terlihat oleh penonton.

4. Mahasiswa

Mahasiswa adalah seseorang yang sedang dalam proses menimba ilmu ataupun belajar dan terdaftar sedang menjalani pendidikan pada salah satu bentuk perguruan tinggi yang terdiri dari akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas.

Menurut Siswoyo mahasiswa dapat didefinisikan sebagai individu yang sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta atau lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi.

Mahasiswa dinilai memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, kecerdasan dalam berpikir dan kerencanaan dalam bertindak. Berpikir kritis dan bertindak dengan cepat dan tepat merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri setiap mahasiswa, yang merupakan prinsip yang saling melengkapi.37

Mahasiswa merupakan masa memasuki masa dewasa yang pada umum berada pada rentang usia 18-25 tahun, pada masa tersebut mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap masa perkembangannya, termasuk memiliki tanggung jawab terhadap kehidupannya untuk memasuki masa dewasa.38

Ciri – ciri mahasiswa, menurut Kartono (dalam Siregar, 2006), mahasiswa merupakan anggota masyarakat yang mempunyai ciri-ciri tertentu, antara lain:

a. Mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi, sehingga dapat digolongkan sebagai kaum intelektual.

37 Lisa Dwi Lastary, Anizar Rahayu. “Hubungan Dukungan Sosial dan Self Efficacy dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Perantau yang Berkuliah di Jakarta”, (Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia: IKRAITH-HUMANIORA, Vol. 2, No. 2, MARET 2018). Hlm.17

38 Wenny Hulukati, Moh. Rizki Djibran, “Analisis Tugas Perkembangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontal”, (Jurnal Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo: Jurnal Bikotetik. Volume 02 Nomor 01 Tahun 2018). Hlm. 74

(42)

b. Yang karena kesempatan di atas diharapkan nantinya dapat bertindak sebagai pemimpin yang mampu dan terampil, baik sebagai pemimpin masyarakat ataupun dalam dunia kerja.

c. Diharapkan dapat menjadi daya penggerak yang dinamis bagi proses modernisasi.

d. Diharapkan dapat memasuki dunia kerja sebagai tenaga yang berkualitas dan profesional.39

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Setidaknya ada 4 penelitian relevan yang disajikan oleh peneliti, yaitu:

Tabel 2.1 Penelitian Relevan

No Judul Masalah

Penelitian

Metode

Penelitian Hasil Penelitian 1. “Dramaturgi

Dalam Media Sosial: Second account Di Instagram Sebagai Alter Ego” oleh Retasari Dewi dan Preciosa Alnashava Janitra(Fakultas Ilmu

Komunikasi

Panggung depan dan panggung belakang

mahasiswa menggunakan second account di Instagram

Kualitatif dengan pendekatan Cyber

Etnhography dan teori Dramaturgi

Dari hasil penelitian ini dapat

disimpulkan bahwa para informan

membuat akun alter dengan tujuan sebagai buku harian pribadi, sebagai sarana untuk mengomentari

39 Siregar, Ade Rahmawati,“Motivasi Berprestasi Mahasiswa Ditinjau Dari Pola Asuh

(Repository Institusi Universitas Sumatera Utara, 2006).

(43)

Universitas Padjadjaran). 40

negative beberapa

selebritis, untuk merepresentasika n dirinya yang lain, dan untuk kepentingan bisnis.

Latarbelakang mereka memiliki akun kedua adalah sebagai panggung

belakang atau panggung

mereka yang lain, karena akun pertama biasanya menggunakan nama asli dan berisi foto-foto dan caption yg tujuannya untuk pencitraan.

2. “Presentasi Diri Pemilik Dua Akun

Instagram di

Presentasi diri panggung depan dan panggung belakang

Kualitatif dengan pendekatan teori Dramaturgi

Dengan adanya akun alter pemilik akun merasa dapat

40 Retasari Dewi dan Preciosa Alnashava Janitra, “Dramaturgi Dalam Media Sosial: Second account Di Instagram Sebagai Alter Ego”, (Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 8, Nomor 3, Juni 2018)

Gambar

Gambar 1.1 Pengguna Instagram tahun 2019
Gambar 1.2 Pengguna Instagram tahun 2020
Gambar 1.3 Urutan Negara Penggunan Instagram
Gambar 1.4 Pengguna Instagram Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Kesimpulan dalam penelitian ini motif para pengguna tv berlangganan Aora Tv Satelit di Surabaya adalah motif kebutuhan individu ( Individu’s need) yang berdasar

Dengan melihat pembatasan masalah dalam penelitian ini yang diuraikan di atas yaitu yang terfokuskan pada "Seberapa jauh Hubungan Motif Berprestasi dan Kreativitas peserta

Melihat latar belakang yang terjadi seperti di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini yakni “untuk mengetahui apa saja motif penggunaan media sosial instagram

Pada motif ekonomi, penulis membahas keuntungan, kebaikan, maupun kenikmatan yang ingin diraih: harapan pendapatan yang lebih tinggi, fasilitas dan akses yang melimpah, dan

Kebanyakan riset Uses dan Gratifications memfokuskan pada motif sebagai variabel independen yang sama yaitu orang menggunakan media didorong oleh motif-motif tertentu, namun

Kesimpulan dalam penelitian ini motif para pengguna tv berlangganan Aora Tv Satelit di Surabaya adalah motif kebutuhan individu ( Individu’s need) yang berdasar

Pada motif hiburan peneliti melihat bahwa awal mula informan bermain aplikasi Musical.ly hanya ingin mengisi waktu luang dan hanya ingin senang-senang saja, dapat

Putri Aulia Rahmadewi, Penggunaan Second Account Instagram dengan Identitas Pseudonym Studi Kasus Pengguna Second Account di FISIP UHAMKA 342 Menurut Wood and Smith, identitas