• Tidak ada hasil yang ditemukan

NOVITA SARI 191101121 psikoso (1)

Shelin Novaliya

Academic year: 2023

Membagikan "NOVITA SARI 191101121 psikoso (1)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

TINDAKAN PENANGANAN KECEMASAN PADA KESEHATAN MENTAL PETUGAS KESEHATAN DI MASA PANDEMI COVID-19

NOVITA SARI / 191101121 [email protected]

ABSTRAK

Penyebaran Virus Corona (COVID-19) di seluruh dunia telah menyebabkan krisis kesehatan masyarakat dan menjadi masalah bagi kelangsungan hidup setiap orang sehingga mengakibatkan gangguan psikologis yang akan berdampak pada kesehatan mental petugas kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi kesehatan mental sebagai komponen integral dari penanggulangan COVID-19. Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam mewujudkan kesehatan yang menyeluruh. Pandemi COVID-19 dengan transmisi penularan yang masif dan tingkat kematian yang tinggi menyebabkan masalah yang mengarah pada gangguan psikologis. Fokus perhatian yang kurang terhadap kesehatan psikologis tenaga kesehatan berpotensi mengganggu kesehatan mental dan kecemasan bahkan mematikan pelayanan kesehatan dan akan berpengaruh pada penanganan pandemi Covid-19.

Masalah yang sama juga terjadi pada Kecemasan yang merupakan gejala gangguan psikologis awal dan masih sangat mungkin diatasi dengan penanganan kecemasan yang dideteksi sejak dini. Tenaga kesehatan bekerja sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien di tengah Pandemi Covid-19 dengan tekanan yang tinggi, sehingga berdampak pada peningkatan masalah psikologis. Tujuan: untuk mengetahui Psikologis Pada Petugas Kesehatan yaitu kesehatan mental dan kecemasan petugas kesehatan di masa pandemic Covid-19 dan cara untuk menanganinya Metode: Metode penulisan ini adalah Literature Review, dengan menganalisis jurnal yang relevan dan berfokus pada tema yaitu Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Psikologis Pada Petugas Kesehatan dan dengan menggunakan analisis pada menggunakan sumber dari buku teks dan jurnal tahun 2019-2021. Hasil: Hasil dari pengkajian ini dengan menggunakan metode literatur review adalah dengan membaca pengkajian ini pembaca dapat mengetahui bahwa pandemic Covid-19 sangat berpengaruh terhadap Psikologis Pada Petugas Kesehatan.

Kata kunci : Covid-19 , Psikologis, Petugas Kesehatan, kesehatan mental, Kecemasan.

(2)

ABSTRAC

The spread of the Corona Virus (COVID-19) around the world has caused a public health crisis and is a problem for the survival of everyone, resulting in psychological disorders that will impact the health of mental health workers. The World Health Organization (WHO) identifies mental health as an integral component of the response to COVID-19. Mental health is an important aspect of achieving overall health. The COVID-19 pandemic with its massive transmission and high death rate is causing problems that lead to psychological disorders.

Insufficient focus on the psychological health of health workers which disturbs health and results in health problems and even turns off health services and will affect the handling of the Covid-19 pandemic. The problem also occurs in Anxiety, which is a symptom of the initial disorder and it is possible to overcome problems that are detected early. Health workers work as the front line in handling patients in the midst of the Covid-19 Pandemic with high pressure, which has an impact on increasing psychological problems. Purpose: Knowing the Psychology of Health Workers, namely mental health and reports of health workers during the Covid-19 pandemic and how to deal with it. Method: This method is a Literature Review, by analyzing relevant journals and focusing on the themes that the Impact of the Covid-19 Pandemic on Psychology on Health Officers and using analysis using sources from textbooks and journals for the years 2019-2021. Result: The result of this study using the literature review method is that by reading the assessment, it can be seen that the Covid-19 pandemic has a very strong influence on the Psychology of Health Care workers.

Keywords: Covid-19, Psychology, Health Workers, Mental Health, Anxiety.

PENDAHULUAN

Penyebaran Virus Corona (COVID-19) di seluruh dunia telah menyebabkan krisis kesehatan masyarakat dan menjadi masalah bagi kelangsungan hidup setiap orang. Wabah pneumonia virus korona baru muncul di Wuhan, Cina beberapa hari sebelum Tahun Baru 2020, dan selanjutnya telah menarik perhatian dunia. Pada akhir April Tahun 2020, penyakit Corona virus 2019 (COVID-19) telah menyerang

sebagian besar negara dengan hampir 20 juta kasus dikonfirmasi Kasus gangguan pernapasan akut yang lebih dikenal dengan virus Corona atau COVID-19 masih menjadi berita utama di sebagaian besar media masa dunia tahun 2020 ini.

Angka kematian akibat Covid-19 berdasarkan data World Health Organization (WHO) pertanggal 19 April 2020 telah berjumlah 152551 jiwa. Angka

(3)

terbesar ada di Amerika Serikat.

Berdasarkan data Senin (13/4), sebanyak 22.115 orang meninggal dunia atau 19,4%

dari total 114.247 kematian di seluruh dunia. Adapun Italia ada di urutan kedua sebanyak 19.899 orang atau 17,4%

kematian di dunia akibat Covid-19.

Selanjutnya Spanyol, terdapat 112.065 kasus positif virus corona. Jumlah pasien positif virus corona yang berhasil pulih sebesar 26.p743 orang. Sementara jumlah korban mininggal mencapai 17.000 jiwa, Inggris 11.000, Iran sejumlah 4.600 jiwa, Belgia 3.500 jiwa dan Tiongkok sumber utama wabah mencapai 3000 jiwa.2 Indonesia berdasarkan data resmi dari situs pemerintah pada tanggal 22 Juni 2020 korban yang meninggal dunia telah mencapai 2.500 jiwa.

COVID-19 ini merupakan virus yang sangat berbahaya terbukti dengan pernyataan WHO yang mengatakan bahwa virus ini merupakan pandemi global setelah jumlah infeksi di seluruh dunia mencapai lebih dari 121.000 kasus. Kasus kematian akibat COVID-19 Peningkatan jumlah kasus yang dikonfirmasi dan jumlah kematian akibat COVID-19 menjadi tantangan yang besar bagi sistem pelayanan kesehatan untuk menjalankan tugasnya.

Jumlah kasus global COVID-19 dari 216 negara terkonfirmasi sebanyak 8.061.550, dan yang meninggal sebanyak 440.290.

Para ahli maupun WHO memberi nama virus baru ini dengan sebutan Covid-19 atau COVID-19 yang merupakan akronim dari coronavirus disease 2019. Coronavirus adalah keluarga virus yang beberapa di antaranya menyebabkan penyakit pada manusia, ada pula yang tidak. Virus korona tipe baru yang tengah menjadi pandemic saat ini bernama SARS-CoV-2 (severe acute respiratory syndrome-coronavirus-2).

Data di Indonesia menunjukkan peningkatan kasus terkonfirmasi COVID- 19 cenderung meningkat terus. Ketika jumlah pasien dengan COVID-19 bertambah, semakin banyak sumber daya kesehatan, termasuk petugas, tempat tidur dan fasilitas. Sumber daya yang terbatas, berdampak pada munculnya tekanan dan kesusahan yang besar, terutama petugas kesehatan.

Maka kondisi saat ini tidak boleh disepelekan karena dalam sepanjang sejarah hanya terdapat beberapa penyakit yang digolongkan sebagai pandemi. Pada 11 Maret 2020 lalu, World Health Organization (WHO) sudah mengumumkan status pandemi global untuk penyakit virus corona 2019 atau yang juga disebut corona virus disease 2019 (COVID-19). Pandemi sendiri merupakan sebuah epidemic yang menyebar ke beberapa Negara dan menjangkiti banyak orang. Istilah pandemi

(4)

ditunjukan pada tingkat penyebarannya saja bukan digunakan untuk menunjukan tingkat keparahan suatu penyakit.

Seluruh petugas kesehatan yang menghadapi tekanan luar biasa akibat COVID-19, terutama yang berhubungan dengan dugaan atau kasus yang dikonfirmasi, karena risiko infeksi yang tinggi, perlindungan yang tidak memadai, kurangnya pengalaman dalam mengendalikan dan mengeloa penyakit, waktu kerja yang lebih panjang, adanya umpan balik negative dari pasien, stigma yang muncul, dan kurangnya dukungan sosial dari lingkungan sekitar dapat meningkatkan munculnya masalah psikologis pada petugas kesehatan mental seperti ketakutan, kecemasan, depresi, insomnia,yang pada akhirnya mempengaruhi efeisiensi kerja.

Menurut Pieper dan Uden (2006), kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.

Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang.

Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi (Savitri Ramaiah, 2003:10).

Pemahaman beban psikologi yang lebih komprehensif pada petugas kesehatan selama pandemi COVID-19 sangat penting untuk memberikan dukungan psikologis yang mendukung, meningkatkan dan memperkuat layanan kesehatan mental dan menurunkan tingkat kecemasan pada petugas kesehatan.

METODE

Metode penulisan ini adalah Literature Review, dengan menganalisis jurnal yang relevan dan berfokus pada tema yaitu Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Psikologis Pada Petugas Kesehatan dan pada kajian ini adalah metode kualitatif yang memberikan penjelasan dengan menggunakan analisis pada referensi- refensi yang digunakan. Adapun sumber yang digunakan dalam literature ini menggunakan sumber dari buku teks dan jurnal dengan memasukan kata kunci Covid-19 , Psikologis, Petugas Kesehatan, kesehatan mental dan Kecemasan. Adapun

(5)

referensi yang digunakan dari jurnal nasional dan internasional dalam rentang tahun 2019-2021.

HASIL

Hasil dari pengkajian ini dengan menggunakan metode literatur review adalah dengan membaca pengkajian ini pembaca dapat mengetahui bahwa pandemic Covid-19 sangat berpengaruh terhadap Psikologis Pada Petugas Kesehatan.

Gangguan psikologis yang muncul pada tenaga kesehatan baik berupa kecemasan, depresi maupun insomnia selama pandemic ini meningkat karena muncunya perasaan cemas terhadap kesehatan pada dirinya dan pada keluarganya sehingga mempengaruhi keprofesionalannya dalam bekerja sebagai garda terdepan melawan COVID- 19.

Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb (Fitri Fauziah & Julianti Widuri, 2007:73) kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup. Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun. Namun cemas yang berlebihan, apalagi yang sudah menjadi gangguan akan menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya.

Petugas kesehatan mengalami gangguan psikologis karena kurangnya APD dan kelelahan karena peningkatan rasio kerja.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan ketersediaan panduan pengendalian infeksi yang ketat, peralatan khusus untuk menangani pasien COVID-19, pengakuan atas usaha mereka oleh manajemen rumah sakit dan pemerintah, dan pengurangan kasus COVID-19 yang dilaporkan. Perawat juga merasa lebih gugup dan cemas ketika bekerja di bangsal bila dibandingkan dengan unit lainnya. Sedangkan, petugas kesehatan merasa lebih cemas menularkan COVID-19 ke anggota keluarga dari pada mendapatkan infeksi itu sendiri. Selama pandemi COVID-19, petugas kesehatan melaporkan mengalami gejala fisikyang paling sering terjadi yaitu sakit kepala, sakit tenggorokan, kecemasan, lesu dan insomnia. Petugas kesehatan yang menunjukkan gejala fisik cenderung mengalami depresi, kecemasan, dan stres.

Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam mewujudkan kesehatan yang menyeluruh. Pandemi Corona virus-19 (COVID-19) menjadikan kesehatan mental menjadi isu penting bagi dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi kesehatan mental sebagai komponen integral dari penanggulangan COVID-19.

Pandemi COVID-19 dengan transmisi penularan yang masif dan tingkat kematian

(6)

yang tinggi menyebabkan masalah yang mengarah pada gangguan mental.

Fokus perhatian yang kurang terhadap kesehatan mental tenaga kesehatan berpotensi mengganggu bahkan mematikan pelayanan kesehatan dan akan berpengaruh pada penanganan pandemi Covid-19.

Kecemasan merupakan gejala gangguan psikologis awal dan masih sangat mungkin diatasi dengan penanganan kecemasan yang dideteksi sejak dini. Tenaga kesehatan bekerja sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien di tengah Pandemi Covid-19 dengan tekanan yang tinggi, sehingga berdampak pada peningkatan masalah psikologis. Tenaga kesehatan yang bekerja menangani pasien positif Covid-19 cenderung lebih tinggi mengalami kecemasasan, depresi, dan insomnia dibandingkan dengan yang tidak mengalami hal tersebut.

COVID-19 dianggap sebagai ancaman kesehatan masyarakat paling signifikan yang pernah dihadapi dunia modern.

Petugas kesehatan yang menghadapi tekanan sangat besar karena beban kerja yang berlebihan, emosi negatif, kelelahan, kurangnya kontak dengan keluarga mereka, dan risiko tertular infeksi dan kematian.

Sejak awal kemunculan penyakit, telah diakui bahwa personel yang bekerja di fasilitas perawatan kesehatan dan merawat

pasien dengan COVID-19 berada di bawah tekanan yang luar biasa Pengalaman sebelumnya dari wabah virus Corona seperti Pernapasan Akut Parah Sindrom- Coronavirus-1 (SARS CoV-1) dan Tengah East Respiratory Syndrome Corona virus (MERS-CoV) menunjukkan berbagai tingkat kecemasan dan kegugupan di antara petugas perawatan kesehatan garis depan (petugas kesehatan).

Data tentang bahaya pajanan petugas kesehatan karena pekerjaan dalam keadaan darurat saat ini kurang optimal.10 Data yang tersedia di Cina menunjukkan bahwa 3000 petugas kesehatan terinfeksi, dan setidaknya 22 meninggal.11 Sebagian besar petugas kesehatan berpengalaman kecemasan, depresi, dan insomnia.

Stigmatisasi yang diterima dan menjadikan para tenaga medis seakan-akan pembawa virus merupakan sikap yang bisa memicu terjadinya gangguan psikologis pada tim medis (Tsamakis, Triantafyllis, Tsiptsios, Spartalis, Mueller, Tsamakis, Chaidou, Spandidos, Fotis, Economou, Rizos, 2020).

Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang tindakan pencegahan dan penanganan dini terhadap Covid-19 serta bisa juga memberikan sanksi masyarakat jika tidak melakukan protokol kesehatan juga membantu membatasi beban kerja petugas kesehatan dalam mencegah dan

(7)

mengobati untuk mengurangi jumlah pasien yang harus dirawat karena terjangkit virus Corona. Minim edukasi yang diberikan kepada masayarakat di tengah wabah Covid.19, merupakan hal yang membuat corona semakin berkembang.

Betapa banyak masyarakat yang menganggap virus corona hal yang sepele dan enteng disebabkan ketiadaan pengetahuan. Akibatnya dalam beberapa bulan wabah corona Covid.19 bertambah dengan cukup pesat.

PEMBAHASAN

Penyebab gangguan psikologis tersebut akan berdampak pada kesehatan mental petugas kesehatan, dimana antara negara satu dengan lainnya yang terdampak COVID-19 akan menunjukkan gangguan kesehatan mental yang berbeda pada petugas kesehatan. Selama ini, penanganan gangguan kesehatan mental lebih fokus pada masyarakat dari pada petugas kesehatan.

Memahami dampak psikologis yang besar bagi petugas kesehatan dari wabah ini dan menghambat aktivitas kerja maka penulisan ini melakukan upaya untuk mengurangi tekanan kecemasan sehingga dapat memperbaiki mental petugas kesehatan dan intervensi itu dapat menjaga kesejahteraan psikologis petugas kesehatan.

Anxiety atau cemas maupun kegelisahan adalah perasaan campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut.9 Cemas ini muncul dari reaksi stres yang terjadi akibat suatu kejadian luar biasa (stressor), datang secara tiba-tiba dan tanpa dapat diprediksi sehingga membuat korban merespon dengan melawan atau menghindar (fight or flight).

Efek psikologis di Wuhan, tempat dimana virus corona baru ini muncul yaitu stres, kecemasan, depresi, susah tidur, penolakan, kemarahan dan ketakutan. Tekanan psikologis secara langsung menghambat kemampuan petugas kesehatan dalam memberikan perawatan, dengan mempertahankan kesehatan mental dari petugas kesehatan dapat berguna untuk mengendalikan infeksi secara maksimal.

Efek tidak langsung yang terjadi petugas kesehatan terkait kesehatan mental sangat penting untuk diperhatikan dengan cara meningkatkan perawatan, perencanaan perawatan kesehatan mental dan pencegahan langkah-langkah selama potensi pandemi berikutnya. Penilaian, dukungan, dan perawatan kesehatan mental adalah bagian penting dari respons terhadap wabah COVID-19.

Petugas kesehatan menghadapi beberapa bahaya pekerjaan psikososial yang intrinsik

(8)

dengan pekerjaan mereka, termasuk beban kerja yang berat dan pekerjaan shift.

Petugas kesehatan ditemukan memiliki prevalensi gangguan mental minor yang lebih tinggi daripada pekerja umum, dan mereka lebih cenderung memiliki jam kerja yang lebih lama, tuntutan pekerjaan psikologis yang lebih tinggi, kontrol pekerjaan yang lebih tinggi, lebih banyak tuntutan di tempat kerja, dan prevalensi kerja shift yang lebih tinggi.

Petugas kesehatan mengalami kecemasan, depresi, dan stres, hal tersebut karena kurangnya aksebilitas dukungan psikologis secara formal, kurang informasi medis mengenai wabah, kurang instensif pelatihan tentang penggunaan alat pelindung diri dan langkah-langkah mengendalikan infeksi.

Sama sseperti hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar petugas kesehatan yang terlibat dengan pandemi COVID-19 mengalami masalah kesehatan mental, seperti gejala PTSD, depresi berat, kegelisahan, susah tidur, dan stres yang dirasakan tinggi, masalah tersebut muncul karena adanya teman sejawat yang meninggal, dirawat di rumah sakit atau dikarantina. Petugas medis yang mengalami kecemasan, stres dan berpengaruh pada kualitas tidur.

Menimbulkan ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan kecemasan diri sendiri maupun orang-orang terdekat. Arti

kecemasan itu sendiri menurut Linda L.

Davidov (1991) adalah emosi yang ditandai oleh perasaan akan bahaya dan diantisipasikan, termasuk juga ketegangan dan stress yang menghadang dan oleh bangkitnya syaraf simpatetik. Sedangkan Kartini Kartono (2002) mengungkapkan bahwa kecemasan merupakan semacam kegelisahan, kekhawatiran dan ketakukan terhadap sesuatu yang tidak jelas, serta mempunyai cirri mengazab pada seseorang.

Apabila seseorang merasa bahwa kehidupan ini terancam oleh sesuatu walaupun sesuatu tersebut tidak jelas kebenarannya, maka ia menjadi cemas.

Seseorang pun akan merasa cemas apabila ia khawatir kehilangan seseorang yang disayangi dan cintai, ataupun dengan seseorang yang telah menjalin ikatan-ikatan emosional yang kuat. Perasaan bersalah serta bertentangan dengan hati nurani, dapat juga menimbulkan banyak kecemasan.

Hal ini lah yang menjadi faktor yang meningkatkan rasa kecemasan yang ada.

Selain itu, stigma yang ada juga meningkatkan munculnya gangguan psikologis. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu mendapatkan dukungan yang besar dari berbagai pihak, termasuk pemerintah agar dapat mengurangi gangguan psikologis yang terjadi.

(9)

Mekanisme Koping Dan Kebutuhan Perawatan Kesehatan Mental

Mencegah cacat terkait kesehatan mental jangka panjang pemantauan dan intervensi khusus pada petugaskesehatan di seluruh pandemi COVID-19 secara berurutan.

Penanganan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan mental antara lain menyediakan tempat istirahat untuk mengisolasi diri, memberikan makanan terjamin dan persediaan kehidupan sehari-hari, merekam aktifitas selama bekerja untuk dibagikan ke keluarga, pelatihan penanganan kecemasan pada pasien COVID-19, manajemen Rumah Sakit untuk pengadaan APD dan mendatangkan konselor psikologis. Selain itu, intervensi multi disiplin untuk menangani gejala fisik maupun psikologis, pelatihan kegawat daruratan COVID-19, pelatihan ketrampilan psikologis bagi petugas kesehatan, mengoptimalkan kepatuhan petugas layanan kesehatan, interevensi khusus untuk kesejahteraan kesehatan mental petugas kesehatan dan pengingat untuk tidak mengabaikan kesehatan mental pada petugas kesehatan.

Selama wabah COVID-19, petugas kesehatan agar tidak terjadi gangguan psikologis menggunakan cara dengan beraktivitas fisik atau olahraga serta melakukan konseling mandiri secara online kepsikolog. Selain itu, pemerintah harus

menyediakan persediaan kebutuhan dasar, keamanan dan subsidi kerja untuk petugas kesehatan sebagai garis depan dan keluarga mereka. Menyesuaikan gangguan tidur petugas kesehatan, membangun dan mendorong komunikasi antara petugas kesehatan dan keluarga mereka sangat membantu untuk mengurangi tekanan psikologis yang mereka alami.

Ketakutan khususnya pada peningkatan risiko terpapar, terinfeksi dan kemungkinan menginfeksi orang yang mereka cintai juga menjadi beban tersendiri. Banyak tenaga kesehatan harus mengisolasi diri dari keluarga dan orang terdekat meski tidak mengalami Covid-19, hal ini keputusan sulit dan dapat menyebabkan beban psikologis yang signifikan pada tenaga kesehatan.

Upaya Yang Bisa Dilakukan Untuk Mengurangi Tekanan Pada Tenaga Kesehatan

Krisis psikologis pada tenaga kesehatan yang diakibatkan pandemi Covid‑19 diperkirakan akan memicu kebutuhan mendesak untuk merancang dan mengimplementasikan dukungan psikososial dan intervensi program untuk mengurangi tekanan psikologis. Pada saat terjadi krisis kesehatan dan perubahan tekanan kerja yang hebat, program trauma healing, hypnoterapi, dan pendampingan

(10)

ahli kejiwaan yang secara rutin melakukan penyegaran psikologis bagi para tenaga kesehatan, sebaiknya menjadi pertimbangan strategi selain strategi kuratif yang berfokus pada kesembuhan fisik pasien.

Penggunaan teknologi untuk mengurangi interaksi juga sangat perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan penularan dan mengurangi kelelahan pada tenaga kesehatan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan telemedicine yang merupakan penggunaan komunikasi elektronik untuk meningkatkan status kesehatan klinis pasien.

Dalam situasi krisis global saat ini yang disebabkan oleh Pandemi COVID-19, kebanyakan orang terpapar kondisi stres, cemas dan lelah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan durasi yang tidak diketahui (Matias dkk., 2020). Ini mungkin tidak hanya menambah tingkat stres, kecemasan dan depresi tetapi juga mengganggu tidur. keleleahan sebaik mungkin selama di rumah pengurungan dapat membatasi stres dan mungkin mencegah gangguan hubungan sosial dan kelelahan (Altena et al., 2020).

Melakukan Relaksasi Pada Pikiran Dan Tubuh

Selain memahami tentang corona, menyadari prilaku cemas yang timbul juga

sangat diperlukan guna mengantisipasi dan menemukan jalan kelaur saat prilaku tersebut muncul. Misalkan saat anda tidak focus, atau sulit tidur maka pilihan terapi tertentu dapat dilakukan misalnya dengan realaxsasi ataupun berkonsultasi pada konselor yang berkompeten. Mengatasi cemas tentu dapat juga dilakukan beberapa terapi psikologis sederhana, yang inti tujuannya adalah menstimulasi pikiran berpikir logis agar perasaan dan pikiran negative dapat di halau. Terapi yang cukup popular dan mudah dilakukan adalah realksasi. Relaksasi adalah suatu proses untuk melepaskan ketegangan yang ada secara sengaja atau disadari. Dengan melakukan relaksasi, maka diri tetap tenang dan dapat terkontrol meskipun sedang menghadapi situasi yang penuh dengan tekanan. Relaksasi juga dapat menghindarkan perasaan cemas, gelisah dan amarah yang dapat menjadi penghalang untuk berpikir jernih.

Hasil penelitian menunjukan bahwa jika melakukan relaksasi selama beberapa minggu, maka akan:

a. mengurangi perasaan cemas yang sering timbul;

b. mengurangi sakit kepala dan tekanan darah tinggi;

c. mengurangi munculnya penyakit sulit tidur;

(11)

d. mencegah sesak nafas;

e. membantu mengatasi serangan panik;

f. menurunkan stres; g merasa lebih tenang;

h. membuat lebih kreatif.

Selain Relaksasi penderita cemas juga dapat melakukan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). dengan cara mengetuk titik titik saraf di seputar wajah dan tubuh yang dapat membuat rilek seraya melakukan tune up lewat gerakan ibadah.

Bisa juga dilakukan dengan membawa aroma terapi yang disukai untuk menstimulasi kenyamanan pada otak dan pikiran, dengan mencium aromanya dan menarik nafas sedalam-dalamnya serta menghembuskan secara perlahan nafas sambil memikirkan bahwa semuanya dapat dilewati dan akan baik-baik saja.

Langkah-Langkah Yang Disarankan Berikut Ini Dapat Diterapkan Untuk Mengatasi Kurangnya Kesehatan Mental Yang Ada Sumber Daya

Pertama, harus ada komunikasi yang jelas antara rumah sakit dan petugas kesehatan laboratorium, tidak hanya untuk memungkinkan rujukan cepat ke perawatan psikiatri yang tersedia atau sumber konseling psikologis jika diperlukan, tetapi juga untuk memastikan bahwa petugas kesehatan laboratorium memperolehnya pembaruan rutin dan akurat tentang situasi

COVID-19 terbaru yang dapat membantu mereka dalam mendahului potensi mereka beban kerja dan menghilangkan ketakutan dan ketidakpastian yang berkaitan bekerja.

Kedua, meski sudah ada inisiatif untuk menangani kesehatan staf (hotline konseling dan klinik), lebih banyak yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang tindakan ini sebagai saat ini hanya dua pertiga dari petugas kesehatan laboratorium menyadari tindakan ini.

Beberapa cara diatas semuanya bisa dilakukan dimulai dari bagaimana seseorang bisa mengontrol sendiri dan membuat stigma bahwasannya semuanya akan berjalan dengan baik, dan kita sebagai petugas kesehatan yang di amanatkan melayani dan mengobati pasien yang terjangkit pandemi ini harus lebih memiliki kesehatan mental yang sehat dibandingkan pasien yang dirawat karena itu harus dimulai dari mengimpuls diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

PENUTUP

Pandemik Covid-19 tidak dapat dipungkiri telah melanda dan menjdi pusat perhatian seluruh umat manusia berbagai belahan dunia. Penyebarannya yang masih dan begitu cepat lewat iteraksi sesama disertai teror ribuan jiwa mengalami kematian akibat serangan virus corona tersebut

(12)

mengakibatkan kepanikan, ketakutan dan kecemasan pada manusia.

Tenaga kesehatan yang bekerja menangani pasien positif Covid-19 cenderung lebih tinggi mengalami kecemasasan, depresi, dan insomnia dibandingkan dengan yang tidak. Persepsi tenaga kesehatan yang merasa berisiko terpapar Covid-19 signifikan berhubungan dengan masalah psikologis seperti gangguan kecemasan, depresi, dan insomnia.

Dukungan psikologis dapat mencakup layanan konseling dan pengembangan

sistem pendukung di antara rekan kerja petugas kesehatan serta dukungan orang terdekat seperti keluarga menjadi hal dasar yang paling utama untuk membangun kesehatan mental yang baik dan mengurangi kecemasan yang berlebih.

Langkah-langkah ini sangat penting untuk memastikan perawatan berkualitas tinggi bagi petugas kesehatan untuk bisa menjalankan tugasnya sebagai garda terdepan melawan Covid-19 dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien yang terjangkit.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina Zaka, A. Z. (2020). COVID-19 pandemic as a watershed moment: A call for systematic psychological health care for frontline medical staff.

Journal of Health Psychology, 25(7),

883-887. DOI:

10.1177/1359105320925148

Beesan Maraqa, Z. N. (2020, august).

Palestinian Health Care Workers' Stress and Stressors During COVID- 19 Pandemic: A Cross-Sectional Study. Journal of Primary Care &

Community Health, vol (11):1-7.

doi:https://doi.org/10.1177/2150132 7209550

Bozdag, F. (2020). Psychological Resilience of Healthcare Professionals During COVID-19 Pandemic. Psychological Reports, 5- 16. doi: 10.1177/0033294120965477 Brooks SK, Webster RK, Smith LE, Woodland L, Wessely S, Greenberg N, Rubin GJ. 2020. The psychological impact of quarantine and how to reduce it: rapid review of the evidence. Lancet.

395(10227):912–920.

Cao J, Wei J, Zhu H, Duan Y, Geng W, Hong X, Jiang J, Zhao X, Zhu B.

2020. A study of basic needs and

(13)

psychological wellbeing of medical workers in the fever clinic of a tertiary general hospital in Beijing during the COVID-19 outbreak.

Psychother Psychosom. 89(4):252–

254.

Ebru Morgul, A. B. (2020). COVID-19 pandemic and psychological fatigue in Turkey, International Journal of Social Psychiatry. Doi:

10.1177/0020764020941889

Gupta S, Kohli K, Padmakumari P,dkk.(2020). Psychological health among armed forces doctors during COVID-19 pandemic in India. Indian J Psychol Med. 42(4): 374–378.

Hannah Dobson, C. B.-B. (2021). Burnout and psychological distress amongst Australian healthcare workers during the COVID-19 pandemic.

Australasian Psychiatry, 29(1), 26- 30.

doi:ps://doi.org/10.1177/1039856220 965045

Khanam A, Dar SA, Wani ZA, Shah NN, Haq I, Kousar S.(2020). Healthcare providers on the frontline: A quantitative investigation of the stress and recent onset psychological impact of delivering health care services during COVID-19 in

Kashmir. Indian J Psychol Med.

42(4): 359–367.

Li-qun Xing, M.-I. X.-X.-d. (2020).

Anxiety and depression in frontline Anxiety and depression in frontline outbreak of Covid-19. International Journal of Social Psychiatry, 1-8.

doi:oi.org/10.1177/00207640209681 19

Nurishaq,. (2020). MENGELOLA CEMAS

DI TENGAH PANDEMIK

CORONA. JURNAL AT-TAUJIH BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM, vol 3 (1), 60- 68. Diambil kembali dari (http://jurnal.ar- raniry.ac.id/index.php/Taujih)

Ridlo, I.A. (2020, November 2).

PANDEMI COVID-19 DAN

TANTANGAN KEBIJAKAN

KESEHATAN MENTAL DI

INDONESIA. (A. D. Ariana, Penyunt). journal INSAN Psikologi dan Kesehatan Mental, Vol. 5(2), 155-164.

doi:10.20473/jpkm.v5i12020

Salma Matla ilpaj, N. N. (2020, juli).

ANALISIS PENGARUH TINGKAT KEMATIAN AKIBAT COVID-19

TERHADAP KESEHATAN

MENTAL MASYARAKAT DI

INDONESIA. Jurnal Pekerjaan Sosial, Vol. 3(1), 16 - 28.

(14)

Susanto, B. N. (2020, agustus). DAMPAK

GANGGUAN KESEHATAN

MENTAL PADA PETUGAS

KESEHATAN SELAMA

PANDEMI CORONA VIRUS

DISEASE 2019. journal of clinical medicine (medica hospitalia), vol.7 no.(1A), 261-270. doi:

https://doi.org/10.36408/mhjcm.v7i1 A.462

Winnie Z.Y. Teo, Y. E. (2020). The psychological impact of COVID-19 on 'hidden' frontline healthcare

workers. International Journal of Social Psychiatry. doi:

10.1177/0020764020950772

Yaoyao Sun, H. S. (2020). Occupational stress, mental health, and self- efficacy among community mental health workers: A cross-sectional study during COVID-19 pandemic.

International Journal of Social

Psychiatry, 1-10.

doi:https://doi.org/10.1177/0020764 0209721.

Referensi

Dokumen terkait

` Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi petugas kes- ehatan terutama bidan dalam menurunkan risiko terjadinya malnutrisi pada balita dengan diharapkan

Pendahuluan : jenis-jenis konstruksi penahan tanah; Tekanan lateral : aktif - at rest – pasif; Penentuan besarnya tekanan lateral - analitis : Rankine, Coulomb, dan akibat beban

Sedangkan diagnosa yang di dapat berdasarkan hasil studi kasus yang sudah dilakukan yaitu: Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik, Risiko Infeksi berhubungan

melakukan sosialisasi risiko penularan infeksi COVID-19 beserta pencegahan dan pengendaliannya kepada seluruh pegawai di lingkungan rumah sakit;a. menyebarluasan

Pertama, adanya tekanan persaingan dari organisasi lain (terutama organisasi nonKoperasi). Kedua, adanya perubahan kebutuhan manusia sebagai akibat perubahan waktu

Penelitian tentang berbagai faktor risiko pada anak yang dirawat di PICU yang menyebabkan terjadinya infeksi kandidiasis sistemik, berhubungan dengan berbagai prosedur penting

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, ada 207.855 kasus yang dikonfirmasi dan 8648 kematian akibat COVID-19 pada 19 Maret 2020 dan telah terus meningkat pesat hingga saat

Dekubitus adalah kerusakan struktur anatomis dan fungsi kulit akibat tekanan dari luar yang berhubungan dengan penonjolan tulang dan tidak bias sembuh dengan urutan waktu yang biasa,