• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

N/A
N/A
fitria R

Academic year: 2023

Membagikan "PANDUAN PRAKTIK KLINIS "

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

RSUD – TAS BEUREUNUEN

MIGRAIN

No. Dokumen RSUD-TAS/PELY/2022

No. Revisi

01 Halaman

1/1

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

Tanggal Terbit 01 Maret 2022

Ditetapkan Oleh:

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Tgk.Abdullah Syafi¢i

dr. KAMARUZZAMAN, M. Kes Pembina Utama Muda Nip. 19681228 200212 1 007 Pengertian

(Definisi) Migren adalah suatu istilah yang digunakan untuk nyeri kepala primer. Nyeri kepala berulang dengan manifestasi serangan selama 4-72 jam. Karakteristik nyeri kepala unilateral, berdenyut, intensitas sedang atau berat, bertambah berat dengan aktivitas fisik yang rutin dan diikuti dengan nausea dan atau fotofobia dan fonofobia.

Migren bila tidak diterapi akan berlangsung antara 4-72 jam dan yang klasik terdiri atas 4 fase yaitu fase prodromal (kurang lebih 25 % kasus), fase aura (kurang lebih 15% kasus), fase nyeri kepala dan fase postdromal.

Anamnesis Suatu serangan migren dapat menyebabkan sebagian atau seluruh tanda dan gejala, sebagai berikut:

a. Nyeri sedang sampai berat, kebanyakan penderita migren merasakan nyeri hanya pada satu sisi kepala, hanya sedikit yang merasakan nyeri pada kedua sisi kepala.

b. Sakit kepala berdenyut atau serasa ditusuk-tusuk.

c. Rasa nyerinya semakin parah dengan aktivitas fisik.

d. Saat serangan nyeri kepala penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari.

e. Disertai mual dengan atau tanpa muntah.

f. Fotofobia dan atau fonofobia.

g. Apabila terdapat aura, paling sedikit terdapat dua dari karakteristik di bawah ini:

 Sekurangnya satu gejala aura menyebar secara bertahap ≥5 menit, dan/atau dua atau lebih gejala terjadi secara berurutan.

 Masing-masing gejala aura berlangsung antara 5-60 menit

 Setidaknya satu gejala aura unilateral

 Aura disertai dengan, atau diikuti oleh gejala nyeri kepala dalam waktu 60 menit.

Faktor Pencetus

(2)

RSUD – TAS BEUREUNUEN

RSUD – TAS BEUREUNUEN

MIGRAIN

No. Dokumen

RSUD-TAS/PELY/2022 No. Revisi

01 Halaman

2/1 a. Menstruasi biasa pada hari pertama menstruasi atau

sebelumnya/ perubahan hormonal.

b. Puasa dan terlambat makan

c. Makanan misalnya akohol, coklat, susu, keju dan buah-buahan, mengandung MSG

d. Cahaya kilat atau berkelip.

e. Banyak tidur atau kurang tidur f. Faktor herediter

g. Faktor psikologis: cemas, marah, sedih

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik, tanda vital dalam batas normal, pemeriksaan neurologis normal.

Temuan-temuan yang abnormal menunjukkan sebab- sebab sekunder, yang memerlukan pendekatan diagnostik dan terapi yang berbeda

MIGRAIN

No. Dokumen

RSUD-TAS/PELY/2022 No. Revisi

01 Halaman

2/2 Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis

dan pemeriksaan fisik umum dan neurologis.

Kriteria diagnosis Migren tanpa Aura

A.Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan yang memenuhi kriteria B-D B.Serangan nyeri kepala berlangsung selama 4 – 72 jam (tidak diobati

atau tidak berhasil diobati).

C.Nyeri kepala mempunyai sedikitnya dua diantara karakteristik berikut :

1. Lokasi unilateral 2. Kualitas berdenyut

3. Intensitas nyeri sedang atau berat

4. Keadaan bertambah berat oleh aktivitas fisik atau penderita

menghindari aktivitas fisik rutin (seperti berjalan atau naik tangga).

D.Selama nyeri kepala disertai salah satu dibawah ini : 1. Nausea dan atau muntah

2. Fotofobia dan fonofobia

E. Tidak ada yang lebih sesuai dengan diagnosis lain dari ICHD-3 dan

transient ischemic attack harus dieksklusi

(3)

RSUD – TAS BEUREUNUEN

MIGRAIN

No. Dokumen

RSUD-TAS/PELY/2022 No. Revisi

01 Halaman

2/2

Diagnosis Kerja

Diagnosis Banding

 Tension Type Headache

 Nyeri kepala klaster

 Nyeri kepala servikogenik

Pemeriksaan Penunjang

a. Darah rutin, elektrolit, kadar gula darah, dll (atas indikasi, untuk menyingkirkan penyebab sekunder) b. CT scan kepala / MRI kepala (untuk menyingkirkan

penyebab sekunder) Neuroimaging diindikasikan pada :

 Sakit kepala yang pertama atau yang terparah seumur hidup penderita.

 Perubahan pada frekuensi keparahan atau gambaran klinis pada migren.

 Pemeriksaan neurologis yang abnormal.

 Sakit kepala yang progresif atau persisten.

 Gejala-gejala neurologis yang tidakmemenuhi criteria migren tanpa aura atau hal-hal lain yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

 Defisit neurologis yang persisten.

 Hemikrania yang selalu pada sisi yang sama dan berkaitan dengan gejala-gejala neurologis yang kontralateral.

 Respon yang tidak adekuat terhadap terapi rutin.

 Gejala klinis yang tidak biasa.

Terapi A. Terapi abortif migrain:

a. Abortif non spesifik : analgetik, obat anti- inflamasi non steroid (OAINS)

b. Abortif spesifik : triptan, dihidroergotamin, ergotamin, diberikan jika analgetik atau OAINS tidak ada respon.

Risiko medication overuse headache (MOH) harus dijelaskan ke pasien, ketika memulai terapi migrain akut

 Analgetik dan OAINS

a. Aspirin 500 - 1000 mg per 4-6 jam (Level of evidence : A).

b. Ibuprofen 400 – 800 mg per 6 jam (A).

c. Parasetamol 500 -1000 mg per 6-8 jam untuk terapi migrain akut ringan sampai sedang (B).

d. Kalium diklofenak (powder) 50 -100 mg per hari dosis tunggal.

 Antimuntah

a. Antimuntah oral atau per rektal dapat digunakan untuk mengurangi gejala mual dan muntah dan meningkatkan pengosongan

(4)

RSUD – TAS BEUREUNUEN

MIGRAIN

No. Dokumen

RSUD-TAS/PELY/2022 No. Revisi

01 Halaman

2/2 lambung (B)

b. Metokloperamid 10mg atau donperidone 10mg oral dan 30mg rektal.

 Triptan

a. Triptan oral dapat digunakan pada semua migran berat jika serangan sebelumnya belum dapat dikendalikan dengan analgesik sederhana (A).

b. Sumatriptan 30mg, Eletriptan 40-80 mg atau Rizatriptan 10 mg (A).

 Ergotamin

Ergotamin tidak direkomendasikan untuk migrain akut (A).

Prognosis

Quo ad vitam : dubia ad bonam Quo ad functionam : dubia ad bonam Quo ad sanactionam : dubia ad bonam Penelaah Kritis Dokter Spesialias THT-KL

Kepustakaan

1. Mohz RM. Endoscopy and foreign body removal. In: Paparella NN, Shumrick DD, Stuckman JL, Meyerhoff WL, eds.Otolaryngology 3rd ed. Vol. III, Head and Neck.

Philadelphia,

2. Snow JB. Bronchology. In: Ballenger JJ. Ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 14th ed. Philadelphia, London: Lea &Febiger, 1991: 1278-96.

3. Jackson C, Jackson CL. Diseases of the nose, throat, and ear.

2nd ed. Philadelphia, London: WB Saunders Co, 1963:842-55.

4. Thompson JN, Browne JD. Caustic ingestion and foreign bodies in the aero digestive tract. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. eds. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. I.

Philadelphia: JB Lippincott Company. 1993:725-37.

5. International Classification of Diseases 10th Revision (ICD 10). World Health Organization

6. International Classification of Diseases 9th Revision Clinical Modification (ICD 9CM). World Health Organization

7. Pengurus Pusat PERHATI-KL. 2013-2016. Panduan Praktik Klinis Prosedur Tindakan Clinical Pathways Volume I (Oktober 2015). Jakarta

8. Pengurus Pusat PERHATI-KL. 2013-2016. Panduan Praktik Klinis Prosedur Tindakan Clinical Pathways Volume II (MEI 2015). Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Pada pemeriksaan fisik, terdapat nyeri tekan pada daerah prosesus stiloideus radius, kadang-kadang dapat dilihat atau dapat teraba nodul akibat penebalan

Tingkat aktivitas fisik anak sering dihubungkan dengan kejadian nyeri punggung.Anak dengan aktifitas fisik berat atau rendah memiliki resiko nyeri punggung lebih besar.Selain

disabilitas, dan berat ringannya osteoartritis lutut. 3) Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan nyeri, disabilitas, dan. berat ringannya

Bagian ini berisi hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang spesifik, mengarah kepada diagnosis penyakit ( pathognomonis ). Meskipun tidak memuat rangkaian pemeriksaan

Bagian ini berisi hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang spesifik, mengarah kepada diagnosis penyakit ( pathognomonis ). Meskipun tidak memuat rangkaian pemeriksaan

Sindrom Tolosa-Hunt adalah penyakit yang sangat langka dan ditandai dengan sakit kepala berat, terutama nyeri periorbital dan ophtalmoplegia unilateral yang disebabkan

Perbedaan Aktivitas Fisik Intensitas Sedang dan Intensitas Berat terhadap Kadar Kolesterol Low Density Lipoprotein LDL pada Tikus Putih Rattus norvegicus.. Jurnal Kesehatan dan

ABSTRAK aktivitas fisik yang sedang dan berat secara rutin khususnya pada perokok laki-laki dewasa untuk menurunkan Kata kunci: tekanan darah, laki-laki dewasa, aktivitas fisik,