Pengaruh ROE (Return on Equity), DER (Debt to Equity Ratio), Dan NPM (Net Profit Margin) Terhadap Harga Saham Pada PT. Wijaya Karya Tbk
Periode 2008-2023
Nayla Arifah H (64231113) Aliesyah Zalfa Z (64231686) Shalwa Meysa (64231746) Zarika Amanda (64231766) Abstrak
PENDAHULUAN
Menurut Dika (Adhidarma, 2023), harga saham memiliki peranan penting dalam pasar modal sebagai alat untuk menunjukan nilai perusahaan dan persepsi investor terhadap kinerjanya serta prospek masa depan. Terdapat variabel, baik dari dalam maupun dari luar perusahaan yang sering mempengaruhi fluktuasi harga saham. PT Wijaya Karya Tbk menjadi salah satu perusahaan manufaktur yang menarik perhatian karena berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi negara. Bisnis WIKA meliputi konstruksi bangunan sipil, gedung, energi, dan pembangkit listrik. WIKA juga memiliki anak perusahaan seperti WIKA Beton dan WIKA Industri.
PT Wijaya Karya Tbk merupakan perusahaan yang telah melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility yang tinggi (Putri & Apriliawati, 2020). Sebagai perusahaan terbuka yang perlu memperhatikan indikator-indikator ini untuk persepsi investor dan nilai pasar saham. Terhadap harga saham, penelitian ini menggunakan tiga rasio keuangan yaitu, Return on Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), dan Net Profit Margin (NPM). Ketiga rasio ini menunjukan efisiensi, Profitabilitas, dan daya tarik saham terhadap investor.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh rasio keuangan terhadap harga saham PT. Wijaya Karya Tbk. Hasilnya diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak manajemen dan investor dalam proses
membuat keputusan yang bergantung pada kinerja keuangan.
Demikian, ROE, DER, dan NPM merupakan variabel yang sangat penting karena mencerminkan kinerja keuangan perusahaan dan memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham PT Wijaya Karya Tbk. Pemahaman terhadap keempat rasio ini tidak hanya membantu investor dalam menilai prospek dan nilai perusahaan, tetapi juga menjadi dasar pertimbangan strategis bagi manajemen dalam meningkatkan daya saing serta menjaga kepercayaan pasar terhadap keberlanjutan pertumbuhan perusahaan di masa depan.
TELAAH LITERATUR Harga Saham
Harga saham adalah harga perlembar saham yang berlaku di pasar modal. Harga saham merupakan faktor yang sangat penting dan harus diperhatikan oleh investor dalam melakukan investasi karena harga saham menunjukan prestasi emiten. Harga saham di pasar modal terdiri atas tiga kategori, yaitu harga tertinggi (high price), harga terendah (low price) dan harga penutup (close price) (Ardiyanto et al., 2020).
ROE
Return On Equity (ROE) merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari ekuitas yang dimiliki atau juga dapat dikatakan sebagai estimasi tingkat pengembalian keuntungan atas semua modal yang ada (Taqwa &
Munandar, 2023). Semakin tinggi rasio ini, semakin baik. Artinya, posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya. Rasio ini dapat diketahui dengan membagi laba setelah bunga dan pajak dengan total ekuitas. Return on Equity (ROE) termasuk dalam pengukuran profitabilitas. Return on Equity (ROE) adalah kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba yang didapat dari investasi pemegang saham disuatu perusahaan, ROE merupakan cara untuk para investor mengetahui seberapa efisien suatu perusahaan mengelola uang yang para investor investasikan untuk menghasilkan laba bersih (Wulandari et al., 2020).
ROE=Laba Bersih setelah Pajak
Total Modal ×100 % NPM
Net Profit Margin merupakan rasio antara laba bersih (net profit) yaitu penjualan sesudah dikurangi dengan seluruh pengeluaran termasuk pajak dibandingkan dengan penjualan (Oktaviani et al., 2023). Net Profit Margin merujuk pada kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan relatif terhadap penjualan yang dicapai.
Profit Margin on Sales, atau dikenal sebagai Ratio Profit Margin atau margin laba atas penjualan, adalah indikator ini (Septiano & Sari, 2024).
NPM=Laba Bersih setelah Pajak
Total Penjualan ×100 % DER
Debt Equity Ratio merupakan kelompok rasio leverage. Rasio ini menunjukkan komposisi atau struktur modal dari seluruh pinjaman terhadap total modal perusahaan
untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Rasio hutang terhadap modal dapat memberikan gambaran tentang struktur modal perusahaan untuk memperkirakan tingkat risiko tidak terbayarnya hutang (Kuniasih et al., 2024). Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio yang digunakan untuk menilai hutang dengan ekuitas (Pratiwi et al., 2022). Bagi perusahaan, sebaiknya besaran utang tidak boleh melebihi modal sendiri agar beban tetapnya tidak terlalu tinggi. Debt To Equity Ratio (DER) yang rendah akan meningkatkan respon positif dari pasar dan akan semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjang karena risiko yang ditimbulkan dari penggunaan pendanaan yang bersumber dari hutang akan berkurang, sehingga saham akan meningkat naik (Yunus & Simamora, 2021).
DER=Total Hutang Total Modal
Hubungan Return on Equity (ROE) terhadap Harga Saham
ROE adalah salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur seberapa baik peran pengelolaan ekuitas emiten (Herlambang et al., 2024). ROE digunakan untuk mengukur tingkat efektifitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas yang dimilikinya. Saat laba bersih turun dan modal naik maka ROE turun. Hal ini berarti dari total modal yang ada tidak dapat mempengaruhi harga saham.
Dengan jumlah ekuitas yang tinggi maka mengakibatkan banyak dana yang kurang produktif sehingga perlu adanya pengalokasian dana yang dapat menghasilkan keuntungan (Silvia & Epriyanti, 2021).
Hubungan Net Profit Margin (NPM) terhadap Harga Saham
Salah satu metrik keuangan yang disebut Net Profit Margin (NPM) menunjukkan seberapa besar perusahaan dapat memperoleh laba bersih dari pendapatan operasionalnya (Putra et al., 2024). Net Profit Margin (NPM) yang tinggi sering digunakan sebagai indikator penting untuk menilai profitabilitas dan kesehatan keuangan suatu perusahaan, serta digunakan untuk mengevaluasi operasinya. Sebaliknya, NPM yang rendah dapat menunjukkan masalah dalam struktur biaya atau penurunan kinerja operasional.
Hubungan Debt To Equity (DER) terhadap Harga Saham
Debt Equity Ratio (DER) ialah salah satu bentuk rasio solvabilitas yang merupakan kelompok rasio leverage (Desmon et al., 2022). DER menentukan tingkat biaya utang perusahaan dibandingkan dengan ekuitas. Rasio ini dapat dihitung dengan membandingkan total liabilitas atau kewajiban perusahaan dengan total ekuitasnya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis yaitu mengumpulkan dan menganalisis laporan keuangan PT Wijaya Karya TBK yang didapat dari laman resmi perusahaan dalam lima belas tahun periode 2008 sampai 2023. Pengambilan sampel data bertujuan untuk memenuhi kriteria pada penelitian ini.
Uji analisis dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS 25. Analisis yang diperlukan aedalah sebagai berikut:
1. Uji Asumsi Klasik
Uji ini digunakan untuk melihat apakah data yang digunakan terdapat masalah dengan asumsi klasik model regresi linear.
2. Uji Signifikan
Digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas berpengaruh dengan variabel terikatnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Uji normalitas menentukan apakah data berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal atau pola sebaran normal (Sonjaya et al., 2025).
Tabel 1 Hasil Sample Kolmogorov-Smirnov
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak. Hal ini akan terlihat dari bentuk sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel. Uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Kriteria pengujiannya adalah apabila nilai sig. atau probabilitas > 0,05 maka data dikatakan
berdistribusi normal. Sebaliknya, apabila nilai sig. atau probabilitasnya < 0,05 maka data dikatakan tidak berdistribusi normal. Dalam tabel 1 dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig.
(2-tailed) adalah 0,200 yang dimana syarat untuk dapat dikatakan normal adalah nilai Sig harus > 0,05. Dikarenakan hasil uji di atas berada pada nilai lebih dari 0,05 maka data tersebut normal.
Gambar 1 Uji visual P-plot
Gambar 1 menunjukkan hasil uji visual menggunakan Normal P-Plot terhadap residual yang sudah distandarkan. Berdasarkan gambar tersebut, titik-titik data terlihat menyebar cukup rapat dan mengikuti garis diagonal, yang menandakan bahwa data residual terdistribusi secara normal. Dengan demikian, asumsi normalitas dalam regresi linear telah terpenuhi.
Gambar 2 Hasil Histogram
Gambar histogram di atas menunjukkan data residual yang telah distandarisasi untuk variabel dependen. Distribusi residual tampak mendekati bentuk kurva normal yang
ditandai dengan bentuk simetris dan mengelompok di sekitar nilai nol. Nilai mean residual sebesar -1.80E-16 dan standar deviasi sebesar 0.894, dengan jumlah data (N) sebanyak 16.
Dengan informasi di atas, model regresi yang digunakan dapat dianggap layak secara statistik untuk analisis lebih lanjut.
Uji Multikolinearitas
Tabel 2 Hasil
Berdasarkan hasil output pada Tabel 2, nilai Tolerance dari semua variabel independen, ROE, DER, dan NPM masing-masing adalah 0,294, 0,837, 0,282. Semua nilai Tolerance tersebut berada di atas 0,1 sehingga dapat disimpulkan bahwa data diatas tidak terjadi gejala multikolinearitas. Selain Tolerance, dalam uji multikolinearitas juga harus melihat nilai VIF di dalamnya, pengambilan keputusan apakah data dapat dikatakan normal adalah apabila nilai VIF berada di bawah nilai 10. Dalam tabel, nilai VIF ROE sebesar 3,403, DER 1,195, dan NPM 3,547. Kedua hasil nilai Tolerance dan VIF tersebut memperkuat bahwa tidak terdapat multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi ini.
Uji Heterokedastisitas
Gambar scatterplot di atas menunjukkan hubungan antara regression standardized predicted value dengan regression standardized residual. Titik-titik tersebar secara acak di sekitar garis nol tanpa membentuk pola tertentu, seperti pola lengkung (berbentuk U atau N ) atau mengelompok. Penyebaran ini mengindikasikan bahwa asumsi homoskedastisitas telah terpenuhi.
Uji Autokorelasi
Gambar 4 Durbin Watson
Gambar diatas menunjukkan sebuah tabel yang berisi sebagai ketentuan pengambilan keputusan. K=3 berarti jumlah nilai X atau nilai independen yang ada dalam data, dan N dalam tabel berarti berapa jumlah data yang digunakan. Karena variabel independen yang digunakan ada tiga rasio dan jumlah data yang digunakan ada 16, maka nilai dL nya sebesar 0.8572 dan dU sebesar 1.7277.
Tabel 3
Berdasarkan tabel 3 di atas, nilai durbin watson 2,273. Dalam pengambilan keputusan, nilai dW seharusnya lebih besar dari nilai dU. Nilai dU pada gambar sebelumnya sebesar 1.7277. Hal ini menunjukkan bahwa nilai dU < dW, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi dalam model regresi ini.
Uji Signifikan
Uji T
Tabel 4
Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen, yaitu harga saham. Berikut adalah penjelasan hasil Uji T untuk masing-masing variabel:
1. Return on Equity (ROE)
Nilai signifikansi variabel ROE sebesar 0,061. Karena nilai ini lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ROE tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.
2. Debt to Equity Ratio (DER)
Variabel DER memiliki nilai signifikansi sebesar 0,003, yang berarti lebih kecil dari 0,05. Maka ini dapat disimpulkan bahwa DER berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Koefisien regresinya bernilai negatif (-532,323), sehingga hubungan DER dengan harga saham bersifat negatif, yang berarti semakin tinggi DER, maka harga saham cenderung menurun.
3. Net Profit Margin (NPM)
Variabel NPM memiliki nilai signifikansi sebesar 0,022, yang juga lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa NPM berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Nilai koefisien regresinya adalah -11.368,316 yang berarti pengaruhnya negatif, sehingga kenaikan NPM justru diikuti dengan penurunan harga saham, atau bisa jadi karena faktor lain yang memengaruhi hubungan tersebut.
Uji F
Tabel 5
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Berdasarkan Tabel 6, diperoleh nilai F hitung sebesar 4,978 dengan nilai signifikansi sebesar 0,018.
Karena nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel: ROE, DER, dan NPM secara simultan atau secara bersama-sama berpengaruh terhadap harga saham.
Koefisien Determinan
Tabel 6
Koefsien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen.
Berdasarkan Tabel 6, nilai R Square sebesar 0,554 menunjukkan bahwa 55,4%
variasi yang terjadi pada harga saham dijelaskan oleh variabel independennya. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,443, ini mengindikasikan bahwa setelah disesuaikan dengan jumlah variabel bebas dalam data sekitar 44,3% variasi harga saham masih dapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen.
Persamaan Regresi
Berdasarkan hasil output regresi, didapatkan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
Y = 1549,762+7370,337X1−532,323X2−11368,316X3
1. Jika variabel ROE, DER, dan NPM bernilai 0, maka harga saham diperkirakan sebesar 1549,762.
2. Setiap peningkatan 1 satuan ROE akan meningkatkan harga saham sebesar 7370,337, dengan asumsi variabel lain konstan.
3. Setiap peningkatan 1 satuan DER akan menurunkan harga saham sebesar 532,323, dengan asumsi variabel lain konstan.
4. Setiap peningkatan 1 satuan NPM akan menurunkan harga saham sebesar 11368,316 dengan asumsi variabel lain konstan.
KESIMPULAN
1. ROE tidak berdampak signifikan pada harga saham PT Wijaya Karya Tbk.
2. DER memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap harga saham; dengan kata lain, semakin tinggi DER, semakin besar kemungkinan harga saham akan turun.
3. NPM juga memiliki pengaruh negatif yang signifikan; ini menunjukkan bahwa peningkatan NPM justru diikuti penurunan harga saham, yang mungkin merupakan konsekuensi dari faktor lain yang belum dikaji.
4. Secara keseluruhan, ROE, DER, dan NPM mempengaruhi secara bersamaan.
SARAN
DAFTAR PUSTAKA