Ujian Akhir Semester
Paper Reflektif Membaca Etnografi
The Cocktail Waitress: Woman's Work in a Man's World Oleh James P.
Spradley dan Brenda J. Mann
Ditulis untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Membaca Etnografi
Oleh:
Muhammad Ahsan Haritsah Pramudita 13040221140076
Kelas B
PROGRAM STUDI S-1 ANTROPOLOGI SOSIAL ANTROPOLOGI PARIWISATA
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2023
Pertama, saya ingin memberikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, sekaligus mengapresiasi Ibu Tari Purwanti S.Ant.,M.A selaku dosen pengampu mata kuliah Membaca Etnografi yang telah membekali dan membimbing kami para mahasiswa-mahasiswi selama keseluruhan semester 5 dengan materi-materi menarik, kajian-kajian seputar ilmu Etnografi, serta sharing session yang mempermudah interaksi antara dosen dengan mahasiswa- mahasiswi. Kedua, penulisan paper reflektif yang saya akan tulis ini adalah hasil dari ilmu dan pengetahuan yang sudah diperoleh serta dipelajari selama semester 5. Saya akan merefleksikan perjalanan yang ditempuh dalam mata kuliah Membaca Etnografi dengan mengaitkan suatu buku terhadap fenomena atau realita hidup yang ada.
Di pembukaan buku ini menceritakan gambaran luas tentang hubungan antara bar, wanita, dan juga budaya. Latar dari cerita dalam buku ini diawali dengan suatu tempat yakni Brady’s Bar dimana tempat tersebut menjadi wadah bagi manusia untuk melakukan berbagai macam interaksi sosial seperti berbincang dengan teman sambil meminum minuman beralkohol bersama, berjudi, melakukan aktivitas bisnis, atau hanya sekedar menikmati suasana saja. Suatu topik yang menjadi highlight dalam pembukaan buku ini adalah bahwasannya tempat bar menjadi suatu wadah bagi manusia untuk melakukan “ritus” yang menandakan adanya transisi perilaku dari anak-anak menuju kedewasaan. Hal ini dibuktikan dari interaksi sosial salah satu individu yang datang masuk kedalam untuk membeli minuman keras karena usianya sudah memasuki umur legal dalam mengonsumsi minuman beralkohol. Spradley dan Mann disini mengobservasi bagaimana berbagai tindakan yang dilakukan dalam bar ini menunjukkan adanya perbandingan pria dan wanita dalam berperilaku serta bertindak.
Saya sendiri merefleksikan fenomena yang serupa pernah terjadi juga ketika awal-awal saya sudah berenjak memasuki usia “dewasa”, dimana saya mulai berani melakukan aktivitas yang umumnya tidak pernah dilakukan ketika masih berusia anak-anak. Saat menginjak usia 17-20 tahun (usia ini sudah dianggap dewasa di Indonesia) saya mulai pergi datang ke tempat hiburan malam seperti ke bar untuk minum-minuman keras dan mencari mencari suasana baru. Karena bagi saya, ini adalah sebagian tindakan yang berada di dalam lingkup aktivitas yang hanya dilakukan orang-orang dewasa saja dan berada di luar zona aman saya sendiri. Dari tindakan tersebut juga saya merasakan bahwa saya sudah dapat menentukan “keputusan” bagi diri sendiri untuk melakukan apa saja yang diinginkan, karena sebelumnya terjadi konflik internal secara batin yang selalu mengisyaratkan untuk tidak meminum alkohol.
Di Indonesia sendiri budaya seperti meminum minuman beralkohol tersebut dapat dikatakan masih tabu, “menyimpang” dan bahkan haram untuk dilakukan, karena Indonesia sendiri adalah negara yang didominasi oleh masyarakat beragama Islam serta banyak norma-norma sosial yang masih dilandaskan oleh norma agama. Mengingat kembali tindakan yang sudah saya pernah lakukan tersebut, seharusnya tidak saya lakukan karena bukan keputusan yang tepat, tindakan meminum alkohol bertolak belakang dengan kepercayaan yang saya anut dan juga tidak pantas untuk dilakukan karena peraturan undang-undang Indonesia yang menyatakan bahwa usia legal untuk mengonsumsi minuman beralkohol adalah 21 tahun, sehingga dapat dikatakan saya melanggar undang-undang tersebut. Namun, ada suatu dilemma yang terjadi dalam diri sendiri, karena saya sendiri mengobservasi bahwa tindakan seperti ini sudah banyak dilakukan oleh masyarakat yang berusia sebaya dengan saya, atau bahkan dibawah usia saya. Saya merasakan dengan meminum minuman beralkohol, terdapat sedikit rasa “senang” yang didapat dan suatu euphoria dari melakukan tindakan tersebut. Hingga pada akhirnya, tindakan datang ke bar untuk meminum bir, whiskey, dan minuman beralkohol lainnya dibawah usia legal atau “hampir legal” sebenarnya sudah menjadi hal yang cukup biasa terjadi.
Spradley dan Mann menggunakan bar sebagai tempat penelitian, karena menurut mereka bar memberikan kesempatan unik untuk mempelajari nilai-nilai dan norma-norma tertentu dalam masyarakat, serta perilaku dan interaksi sosial yang ada di dalamnya. Secara spesifik, kehidupan sosial yang ada di bar melibatkan interaksi yang sering terjadi di antara orang-orang, sering kali antara pria dan wanita. Suasana dan atmosfir yang dirasakan dalam bar biasanya santai dan menyenangkan, sehingga individu dapat mengekspresikan diri mereka sendiri tanpa batasan. Namun dengan demikian, mereka juga mengekspresikan nilai-nilai yang dipegang teguh dan sering kali tidak dinyatakan yang menjadi dasar dari tatanan sosial. Maka dari itulah saya dapat menghubungkan buku ini dengan sedikit dari pengalaman hidup pribadi. Poin penting yang ditekankan kedua penulis dalam buku ini adalah bagaimana nilai-nilai seputar identitas seksual sering kali menjadi fokus interaksi sosial, serta bagaimana aturan budaya dan
“ritus” dalam kehidupan bar dapat menegaskan kembali definisi atau status yang melekat pada maskulinitas dan feminitas. Maka dari itu penulis memulai penelitian mereka dengan mengobservasi perbedaan perilaku antara pria dan wanita yang sebagian besar dipengaruhi oleh budaya, bukan melalui faktor biologis.
Menurut saya, memang benar bahwasannya suatu perilaku itu dibentuk dan sebagian besar dipengaruhi oleh budaya serta lingkungan sosial. Mengapa demikian? Karena berdasarkan apa yang dianut budaya tersebut dapat melekat apabila sudah ditutur dan diajarkan sejak usia anak- anak. Sebagai masyarakat dengan latar belakang suku Jawa, saya selalu dituntut serta diajarkan oleh mama dan papa untuk menjadi pribadi yang humble, sopan kepada siapapun dan dimanapun kita berada, legowo (ikhlas), dan hormat kepada individu yang lebih tua. Kemudian, sikap dan sifat tersebut pun melekat kepada saya hingga saat ini, sampai membentuk adanya suatu prinsip dalam pribadi dimana saya selalu mengutamakan basic manners and social etiquettes disaat memasuki suatu lingkungan atau berkenalan dengan teman baru.
Saya mempelajari dari buku ini juga bahwasannya kita harus menyesuaikan perilaku, sikap, dan sifat sesuai dengan tempat dimana kita berada, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang sangat adaptif. Dari studi kasus dalam The Cocktail Waitress, jika kita melihat dari pengalaman seorang pramusaji koktail wanita, mereka sering sekali diganggu dan merasa khawatir akan keamanan dari pekerjaan mereka. Tak jarang para pengunjung bar sering menggoda atau menyentuh anggota tubuh sang pramusaji wanita secara tidak nyaman.
Menanggapi tindakan seperti ini, bagi saya walaupun kita berada di tempat yang konteksnya selalu mengarah ke hal yang negatif (seperti bar dalam buku ini), kita juga harus menghormati serta menghargai siapapun individu yang berada dalam tempat tersebut. Karena bar ini juga merupakan tempat umum. Pengalaman saya berada di dalam suatu bar, memang terkadang situasi dapat kacau dan suasana memanas karena orang-orang yang sudah mabuk dapat melakukan berbagai tindakan yang membahayakan. Maka dari itu walaupun saya berada ditempat bar untuk minum, saya harus mengontrol diri dengan tidak mabuk dan tetap menjaga pandangan, perkataan, serta selalu waspada pada sekitar. Bagi saya perilaku tersebut adalah bagian dari saya menghargai serta menghormati semua orang yang berada dalam bar, karena kita semua hanya ingin bersenang-senang di dalam tempat tersebut.
Spradley dan Mann menyinggung pentingnya peran dari suatu gender serta identitas seksual dalam pekerjaan. Setelah membaca buku ini, saya mengetahui bahwa profesi pramusaji koktail merupakan perluasan dari peran seorang perempuan tradisional dalam rumah. Ini dapat terjadi dikarenakan norma dan adat istiadat setiap budaya yang selalu menciptakan peran feminin dan juga peran maskulin dalam lingkup sosial. Dalam buku ini perempuan tidak hanya menjalankan peran mereka, baik yang tradisional maupun yang baru, mereka juga belajar untuk mengadaptasikannya dengan cara yang dapat dikenali orang lain sebagai peran yang feminin.
Misalkan, Seorang wanita dapat menjadi seorang profesor atau dosen perguruan tinggi, ahli bedah, redaktur pelaksana, presiden bank, atau pemain tenis, tetapi "dia harus tetap bertindak seperti seorang wanita." Saya merefleksikan hal ini dengan budaya patriarki yang berkembang pesat di jaman modern, sehingga membuat adanya suatu komodifikasi dari peran yang biasanya dijalani dalam suatu budaya tertentu. Budaya patriarki membuat potensi berkembangnya suatu pekerjaan bagi seorang perempuan, lantaran adanya anggapan bahwa seorang perempuan tidak harus sekolah atau mencari ilmu tinggi-tinggi, perempuan hanya stay at home untuk memasak dan merawat anak, atau bahkan hanya sebagai pemuas laki-laki saja menjadi latar belakang terjadinya perluasan peran perempuan. Menurut saya, ada suatu kemajuan dan keinginan untuk terbebas dari stereotip perempuan, maka dari itulah sekarang mulai banyak perempuan yang merintis karir dan tidak hanya terikat pada peran perempuan pada umumnya.
Dijelaskan dalam buku ini bahwa di Brady’s Bar terdapat pembagian kerja berdasarkan kelamin yang menunjukkan adanya simbolisme seksual dalam mempertegas nilai-nilai feminitas dan maskulinitas. Para pekerja pria disini mengurusi hampir semua aktivitas dalam bar, mulai dari membuat minuman, mengatur transaksi pembayaran, dan mengerjakan pekerjaan berat lainnya. Sementara pekerja wanita hanya berfokus pada melayani para pelanggan saja. Menurut saya, pembagian kerja berdasarkan kelamin ini hanya menguntungkan laki-laki dan memastikan mereka tetap di pusat perhatian sosial, sementara perempuan tetap di posisi pinggiran dan hanya dianggap sebagai “pesuruh” saja.
Terakhir sebagai penutup, dengan mempelajari mata kuliah Membaca Etnografi akan memberikan pengalaman serta perasaan yang dirasakan secara tidak langsung atas suatu perspektif dan sudut pandang dari suatu masyarakat tertentu. Sehingga bagi saya, ilmu Etnografi itu sendiri sangat membuka pikiran kita semua untuk menghargai, merasakan, dan mendalami berbagai macam budaya yang ada di dunia. Buku The Cocktail Waitress: Woman's Work in a Man's World memberikan pandangan baru terhadap pentingnya peran gender dalam pekerjaa serta hubungannya dengan perilaku, dan bagaimana konstruksi dari perilaku seorang individu dapat dipengaruhi oleh budaya atau adat istiadat tertentu.
Hadirnya ilmu Etnografi sangat membantu kami para mahasiswa-mahasiswi dalam perjalananan kedepannya nanti sebagai seorang calon antropolog, karena ilmu Etnografi memberikan kemudahan dalam memahami suatu kebudayaan serta berbagai tradisi yang ada di dalamnya.