1. PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Judul Tugas Akhir
Judul proyek tugas akhir ini adalah “Stasiun Kereta Api Semut Surabaya Kota”, ditinjau dari suku katanya judul di atas mempunyai pengertian sebagai berikut:
1.1.1. Sumber Kamus Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta, 2008.
o Stasiun:
o Stasiun dalam sistem transportasi kereta api adalah tempat di mana para penumpang dapat naik-turun dalam memakai sarana transportasi kereta api. Selain stasiun, pada masa lalu dikenal juga dengan halte kereta api yang memiliki fungsi nyaris sama dengan stasiun kereta api. Untuk daerah/kota yang baru dibangun mungkin stasiun portabel dapat dipergunakan sebagai halte kereta.
o Kereta api:
o Kereta api adalah sarana transportasi berupa kendaraan dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di rel.
Kereta api merupakan alat transportasi massal yang umumnya terdiri dari lokomotif (kendaraan dengan tenaga gerak yang berjalan sendiri) dan rangkaian kereta atau gerbong (dirangkaikan dengan kendaraan lainnya). Rangkaian kereta atau gerbong tersebut berukuran relatif luas sehingga mampu memuat penumpang maupun barang dalam skala besar. Karena sifatnya sebagai angkutan massal efektif, beberapa negara berusaha memanfaatkannya secara maksimal sebagai alat transportasi utama angkutan darat baik di dalam kota, antarkota, maupun antarnegara.
o Semut :
o Nama sebuah Stasiun Kereta Api di Surabaya Kota
o Kota :
o Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh sekumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri.
o Surabaya :
o Kota Surabaya sendiri merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa, Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Kata Surabaya konon berasal dari cerita mitos pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya dan akhirnya menjadi kota Surabaya(“Kota Surabaya”, par. 1).
1.1.2. Kesimpulan
Stasiun merupakan suatu fasilitas yang disediakan pemerintah untuk melakukan berbagai macam interaksi, dimana bangunan tersebut merupakan tempat persinggahan dan pertukaran arus kereta api yang berfungsi untuk bepergian bagi masyarakat baik dalam maupun luar kota. Dalam bangunan ini terdapat berbagai macam interaksi, seperti memesan tiket kereta, menunggu kereta dengan bersantai di dalam fasilitas penunjang seperti cafe dan foodcourt, masyarakat juga dapat menanyakan berbagai macam informasi mengenai keberangkatan dan tarif kereta api.
1.2 Latar Belakang dan Pokok Permasalahan
Meningkatnya perekonomian masyarakat di kota Surabaya menyebabkan bertambahnya kebutuhan akan sarana dan prasarana yang menunjang aktifitas.
Salah satu sarana yang vital di Surabaya adalah transportasi yang memudahkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Saat ini sarana transportasi yang ada di kota Surabaya ini masih terbilang memadai, akan tetapi dengan adanya pemusatan aktivitas di Surabaya maka akan timbul masalah-masalah baru dalam hal transportasi, misal kemacetan di jalan-jalan yang padat kendaraan dan polusi udara yang disebabkan oleh gas buangan kendaraan. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan pengurangan jumlah kendaraan pribadi dengan cara mengoptimalkan pemakaian kendaraan umum baik dalam maupun luar kota.
Stasiun kereta api tidak berhenti sampai sebatas hadirnya sebuah bangunan yang berfungsi sebagai sebuah tempat pemberhentian kereta api yang dapat menampung penumpang yang datang maupun pergi, tetapi stasiun kereta api dapat diidentikkan sebagai pusat interaksi yang merupakan titik temu berbagai pergerakan manusia sehingga memungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan yang dihasilkan oleh titik temu jaringan berbagai arah gerakan manusia. Bangunan stasiun juga mewakili sebuah perkembangan karya arsitektur yang terjadi di kawasan tersebut, dimana terjadi proses perpindahan penumpang dari kereta api ke angkutan lainnya atau sebaliknya. Salah satu dari stasiun-stasiun yang harus mengalami revitalisasi dan pengembangan adalah Stasiun Kereta Api Semut Surabaya kota. Stasiun tengah kota merupakan stasiun pangkal atau stasiun akhir dari jalur kereta api arah Selatan Surabaya. Stasiun Semut Surabaya Kota sangat memerlukan pembenahan terutama karena adanya kasus pembongkaran bangunan stasiun yang memiliki nilai histories yang sangat tinggi sehingga ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.
Stasiun Surabaya Kota dibangun ketika jalur kereta api Surabaya-Malang dan Pasuruan mulai dirintis sekitar tahun 1870. Tujuannya untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pedalaman Jatim, khususnya dari Malang, ke Pelabuhan Tanjung Perak yang juga mulai dibangun sekitar tahun itu. Gedung ini diresmikan pada tanggal 16 Mei 1878. Dengan meningkatnya penggunaan
kereta api, pada tanggal 11 Nopember 1911, bangunan stasiun ini mengalami perluasan hingga ke bentuknya yang sekarang ini.
Stasiun Surabaya Kota menjadi stasiun ujung untuk kereta api-keretapi api ekspres terbaik pada masanya, mulai dari Eendaagsche yang menghubungkan Jakarta dengan Surabaya dalam waktu tercepat 11 jam 30 menit pada tahun 1930- an, hingga kereta ekspres malam Bima yang hingga awal 1990-an membawa kereta tidur. Stasiun kereta api ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh walikota Surabaya pada tahun 1996. Stasiun itu ditetapkan sebagai bangunan yang harus dipertahankan bersama 60 bangunan lainnya di kota Surabaya. Keberadaannya terancam dengan rencana pembangunan pusat perbelanjaan dan kawasan pertokoan yang mengancam rusaknya keaslian lanskap stasiun itu (lihat lampiran 4).
Saat ini lokasi Stasiun Surabaya Kota (Semut) di kelilingi pusat perbelanjaan, disebelah selatan terdapat Pengampon Square. Akses menuju Pengampon Square sangat mudah dengan berjalan kaki.Disebelah utara ada Pasar Atom, Semut Mega Plaza bisa dicapai dengan naik becak atau berjalan kaki.
Stasiun besar biasanya diberi perlengkapan yang lebih banyak daripada stasiun kecil untuk menunjang kenyamanan penumpang maupun calon penumpang kereta api, seperti ruang tunggu (VIP ber-AC), restoran, toilet, mushola, area parkir, sarana keamanan (polisi khusus kereta api), sarana komunikasi, dipo lokomotif, dan sarana pengisian bahan bakar. Pada papan nama stasiun yang dibangun pada zaman Belanda, umumnya dilengkapi dengan ukuran ketinggian rata-rata wilayah itu dari permukaan laut, misalnya Stasiun Bandung di bawahnya ada tulisan plus-minus 709 meter.
Kurangnya fasilitas penunjang di dalam Stasiun Surabaya Kotabaru juga ikut ambil bagian dalam mengurangi kenyamanan pengunjung stasiun itu sendiri.
Sehingga hal ini menyebabkan stasiun tidak lagi menjadi entrance bagi pengguna jasa angkutan kereta api di daerah Surabaya pusat, dimana sekarang penumpang lebih memilih masuk melalui Stasiun Gubeng yang relatif lebih bersih, aman, dan memiliki fasilitas yang lebih memadai. Padahal lokasi Stasiun Surabaya Kota ini juga menempati lokasi strategis yang berada di tengah kawasan perdagangan.
Belum lagi bila memasuki hari libur nasional, maka yang terjadi yaitu terjadi
pemusatan aktifitas di stasiu Gubeng dikarenakan orang-orang lebih memilih stasiun ini dikarenakan alas an di atas. Sehingga perlu diadakan relokasi arus masuk penumpang dari titik Stasiun Gubeng menuju Stasiun Semut Surabaya Kota, untuk mengurangi kepadatan pada satu titik.
1.2.1 PengenalanSarana Kereta ApiTerhadapMasyarakat
Sejarah perkembangan kereta api di Indonesia dimulai pada masa pemerintahan Kolonial Belanda diawali sekitar tahun 1864 dengan dibangunnya jalur rel kereta api dari Samarang sampai Tanggung Jawa Tengah dan selanjutnya perkembangan kereta api di masa itu begitu pesat dengan dibangunnya berbagai jalur dan jaringan kereta api yang menghubungkan sejumlah kota di Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi.
Seiring dengan sejarah pergantian zaman dari pemerintahan kolonial Belanda, masa kependudukan Jepang, masa Kemerdekaan sampai dengan sekarang perjalanan panjang perkeretapian di Indonesia telah mengalami berbagai proses suka dan duka dan meninggalkan berbagai aset baik berupa benda,catatan yang bermuatan nilai sejarah sosial budaya maupun bangunan yang memiliki nilai arsitektur yang sangat luar biasa bahkan diantaranya telah berusia diatas 100 tahun.
Mengingat berbagai aset peninggalan tersebut merupakan saksi tumbuh kembangnya sejarah perkeretapian di Indonesia, maka pada tanggal 1 April 2009 PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah membentuk unit organisasi “Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan” dengan tujuan menyelamatkan serta melestarikan berbagai aset peninggalan perkeretapian dengan memakai kaidah konservasi yang baik dan tepat serta mengupayakan aset aset tersebut untuk dapat dimanfaatkan dengan optimal baik untuk kepentingan social dan pendidikan maupun untuk memenuhi kebutuhan komersial perusahaan.
Upaya Pelestarian ini membutuhkan dukungan dari berbagai kalangan agar dapat berjalan dengan berkesinambungan, untuk itu kita berharap partisipasi dari masyarakat umum , kalangan pemerintahan pusat maupun daerah dan juga kalangan dari institusi internasional untuk bersama sama mendukung upaya pelestarian kereta api Indonesia (“Kata Pengantar Stasiun”, par. 2).
1.2.2 Kendala yang Dihadapi Pengguna Sarana Kereta Api
Dalam suatu negara jasa pelayanan publik untuk masyarakat adalah hal penting yang diperhatikan, Jasa pelayanan publik terutama yang berkaitan dengan kepentingan seluruh masyarakat negara tersebut. Namun demikian, seringkali jasa pelayanan publik tersebut khususnya pemerintah yang bertanggung jawab dalam hal ini lambat dalam memahami kebutuhan konsumen .Salah satu sektor jasa penting yang disediakan oleh pemerintah adalah jasa transportasi.Transportasi adalah masalah umum yang sering terjadi pada negara berkembang tak terkecuali pada negara maju hal ini sering timbul.Pengurangan investasi dalam prasana transportasi mempunyai dampak terhadap tidak terpenuhinya kapasitas dan kualitas pelayanan mobilitas ekonomi dan mengecilnya atau hilangnya peluang bisnis dan industri transportasi itu sendiri.
Sebagai modal transportasi massal, tentu saja, kereta api punya masalahnya sendiri. Setidaknya tak kurang lima masalah pokok yang harus segera dibenahi oleh pemerintah :
1. Mulai dari jumlah pengguna jasa kereta api yang jauh melampaui kapasitas angkut
2. Keterbatasan armada, kapasitas lintas yang mendekati jenuh
3. Tarif kereta api kelas ekonomi yang sangat murah bahkan bisa ”naik dengan percuma”, stasiun yang masih sangat terbuka (tidak steril), hingga disiplin pengguna jasa kereta api yang masih kurang.
Dikarenakan masalah yang sering dialami bagi pengguna jasa transportasi khususnya Kereta Api yaitu tarif yang ditetapkan oleh penyedia jasa pelayanan kereta Api yaitu PT KAI,namun bukan tanpa alasan mengapa tarif tersebut dinaikan oleh perusahaan yaitu dikarenakaan kenaikan harga BBM yang tentunya berimbas keseluruh sektor.Namun daiam kondisi krisis sekarang ada dua sisi yang harus dipahami dalam pengoperasian angkutan.
1. Dewasa ini pemerintah masih berkepentingan untuk menetapkan tarif bagi angkutan kelas ekonomi. Sedangkan tarif untuk kelas di atas itu sudah diserahkan kepada para operator.
2. Para operator transportasi ini harus bisa hidup, yang tentu saja bersumber dari pendapatan.
Kepuasan pelanggan pengguna jasa transportasi kereta api mengingat kereta api sebagai salah satu alat transportasi yang disenangi masyarakat karena mempunyai resiko kecelakaan yang relatif rendah. Bagi pengelola jasa angkutan, kereta api mempunyai keunggulan, seperti hemat bahan bakar, rendah polusi, hemat penggunaan lahan (“Analisis Kepuasan Konsumen Pengguna Jasa Transportasi Kereta Api”, par. 3).
1.2.3. Pokok Permasalahan
Bagaimana menghadirkan desain proyek Stasiun Kereta Api yang dapat menjadi tempat berinteraksi dengan berbagai macam aktivitas di dalamnya.
Perancangan Stasiun harus memperhatikan rencana tata ruang kota dengan baik. Kapasitas tampung bangunan terkait dengan luasan ruang yang akan dirancang. Pergerakan segala aspek dalam kota akan mempengaruhi pola pikir maupun kebutuhan masyarakat akan jasa transportasi udara.
Perlu untuk dilakukan pendalaman secara menyeluruh agar proses desain Stasiun Semut ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mencegah jumlah daya tampung yang berlebih kelak di kemudian hari dan mengembalikan fungsi utama dari Stasiun Semut ini. Dimana kondisi yang sekarang sangat jauh dari layak, karena mengingat posisi stasiun yang terletak di kawasan perkotaan (strategis).
Terdapat 4 jalur kereta api pada stasiun ini, dimana berdasarkan survei yang saya lakukan tidak terdapat jalan penyebrangan antar jalur. Jadi pengunjung harus memutar dari ujung jalur untuk berpindah ke seberang. Akan tetapi masyarakat disini sudah terbiasa menyebrang secara langsung untuk menyingkat waktu dan tidak mau repot, jadi rawan terjadi kecelakaan.
Gambar 1.1. Peron stasiun dan jalur kereta Sumber: foto lapangan 21/07/2011
Terlihat banyaknya pengunjung yang duduk di lantai secara beramai-ramai hal ini dikarenakan kurangnya fasilitas area duduk di bagian entrance stasiun, dikarenakan juga kurang displinnya pengelola dalam melaksakan tata tertib di stasiun. Sehingga kurang enak dipandang dan terkesan padat.
Gambar 1.2. Suasana entrance stasiun Sumber: foto lapangan 21/07/2011
1.3. Rumusan Masalah
Pengaturan dan pola sirkulasi yang jelas dan efisien terhadap kebutuhan pengguna jasa pelabuhan. Baik itu pengguna jasa dengan kendaraan bermotor maupun pengguna jasa dengan tanpa kendaraan bermotor. Pemisahkan setiap kegiatan yang ada didalam fisik bangunan maupun luar
Menghadirkan stasiun dengan fasilitas dan fungsi ruang yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengatasi masalah-masalah umum dari bangunan publik berupa stasiun ini, seperti masalah kriminal (pencopetan,calo,dan lain-lain) dengan cara merubah dan mengembangkan sirkulasi, tatanan massa serta zoning.
Menghadirkan solusi desain dan fasilitas-fasilitas yang mendukung tercapainya kembali fungsi utama Stasiun Kota Surabaya ini sebagai stasiun besar seperti Stasiun Gubeng. Karena saat ini Stasiun Semut hanya berfungsi sebagai stasiun kecil dan stasiun barang.
1.4. Batasan Perancangan
Dalam perancangan Stasiun Kereta Api Semut Surabaya Kota memiliki batasan perancangan sebagai berikut :
Desain Arsitektur, yang meliputi desain bentuk, ruang dan tatanan massa yang menanggapi permasalahan yang ada dan tanggap dengan analisis yang telah dilakukan
Desain Struktur, yaitu meliputi desain sistem struktur dan konstruksi yang buildable dan tepat untuk stasiun.
Desain Utilitas, yaitu meliputi desain sistem utilitas yang termasuk didalamnya utilitas penghawaan, air bersih dan kotor, kotoran, dan air hujan
1.5. Fungsi Bangunan
a. Sebagai tempat berinteraksi dengan kebutuhan yang terkait
Pemesanan tiket untuk hari itu maupun hari yang ditentukan. Masyarakat dapat menanyakan informasi terkait dengan kedatangan kereta, informasi harga, serta menggunakan layanan dari stasiun tersebut.
b. Sebagai tempat peralihan atau menunggu kedatangan kereta dalam maupun luar kota.
Masyarakat dapat melakukan transaksi ulang untuk tujuan berikutnya dari stasiun ke stasiun lain, juga dapat menunggu kedatangan kereta lain untuk meneruskan perjalanan. Dibutuhkan fasilitas penunjan yang membuat para penumpang nyaman dalam menunggu kedatangan kereta, seperti area duduk, cafe, foodcourt dan lain-lain.
c. Sebagai tempat berhentinya kereta
1.6 Maksud dan Tujuan Perancangan 1.6.1 Maksud
Maksud dari perancangan Stasiun Kereta Api Semut Surabaya Kota adalah merancang stasiundengan kemampuan yang baik dalam menunjang kegiatannaik turun penumpang dan bongkar muat barang.
1.6.2 Tujuan
Memperlancar dan memperbaiki sirkulasi perpindahan penumpang dari kereta api menuju angkutan umum jalan raya.
Memberikan aneka fasilitas yang terdapat di stasiun sehingga menunjang kenyamanan penumpang dan pengguna jasa kereta api.
Memberikan akses menuju jalur komuter yang berada di luar site.
Menciptakan desain dan bentuk bangunan yang lebih baik dari Stasiun Semut terdahulu.
1.7 Sasaran dan Manfaat Perancangan 1.7.1 Sasaran
Terbangunnya Stasiun Semut Surabaya Kota yang mampu mengakomodasi kebutuhan pengguna.
Tersedianya sarana prasarana yang memadai bagi pengguna dan pengunjung Stasiun.
1.7.2 Manfaat Perancangan 1.7.2.1. Bagi Pengguna
Membuat pengguna merasa nyaman dan merasa ingin kembali memakai jasa dari Stasiun Semut.
Para pengguna dapat merasa aman dan terlindungi dari masalah kriminal yang sering terjadi..
Para pengguna dapat menghabiskan waktu ketika mununggu keberangkatan dan kedatangan dengan fasilitas yang tersedia dan lebih baik.
1.7.2.2. Bagi Pengelola
Adanya fasilitas yang memadai bagi pengelola agar bekerja dengan baik dan maksimal dalam mengelola stasiun secara keseluruhan
1.7.2.3. Bagi Pemerintah
Menekan dan mengurangi angka kriminalitas, dengan adanya pengaturan hubungan antar ruang.
Memberi pilihan masyarakat dalam penyediaan angkutan umum kereta api (memudahkan akses lalu lintas).
1.7.2.4. Bagi Ilmu Arsitektur
Memberikan terobosan dan ide dalam penerapan ilmu Arsitektur Transportasi khususnya pada jalur darat agar dapat menjadi acuan dalam memunculkan ide-ide dan konsep lain dalam dunia Arsitektur khususnya transportasi. Makailmu Arsitektur dan transportasi dapat menjadi dua bagian yang saling menunjang dan mendukung satu sama lain.
1.8 Sasaran dan Lingkup Pelayanan
Adapun sasaran dari proyek Stasiun Surabaya Kota atau Semut ini yaitu :
- Proyek ini ditujukan khususnya untuk dapat melayani masyarakat kota Surabaya yang berdomisili atau bertempat tinggal di daerah lingkup pelayanannya untuk memenuhi kebutuhannya akan sarana transportasi kereta api, namum tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat Surabaya yang lainnya yang membutuhkan sarana transportasi kereta api.
- Masyarakat luar kota yang bepergian menuju kota Surabaya dengan tujuan perdagangan, acara keluarga dan keperluan lainnya.
Dalam hal ini layanan kereta api diharapkan dapat dijadikan sebagai transportasi alternatif bagi masyarakat, sehingga dapat turut serta mengurangi kemacetan lalu lintas (mobil, sepeda motor dan lain-lain).
1.9 Metoda Perancangan 1.9.1 Pendekatan Perancangan
Dari bentuk aktivitas dan rutinitas yang terjadi di stasiun, menghasilkan permasalahan desain yang dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan sirkulasi, dikarenakan bangunan asalnya sampai saat ini memiliki tatanan ruang dan sirkulasi yang kurang baik.Sering terjadi hal-hal negatif seperti kecopetan, antrian loket karcis yang panjang, dan lain-lain.Karena itu kita dituntut untuk mere-desain ruang dan sirkulasi untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut.
Pendekatan spasial berhubungan dengan suasana ruang dalam dan ruang luar, hubungan antar ruang, hirarki, dan bentuk ruang
Jadi pendekatan yang diambil adalah pendekatan sistem, dimana pengaturan jalannya administrasi, sirkulasi pengelola, penumpang, pengantar, staffdan karyawan stasiun merupakan peranan penting dalam desain bangunan
sehingga tercipta kenyamanan dan kelancaran dalam beraktivitas bagi pengguna bangunan ini.
1.9.2 Konsep Perancangan
Konsep perancangan yang diambil merupakan hasil dari analisa pendekatan perancangan dan keterkaitannya dengan site sekitar yang memunculkan hubungan yang terjadi agar ruang-ruang yang ada dalam stasiun dapat berfungsi dengan baik dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.
Sehingga untuk mewujudkan susunan ruang yang ideal bagi pengguna dan pengelola pelabuhan maka diambil konsep perancangan pemisahan alur sirkulasi keberangkatan dan kedatangan.
1.9.3 Pendalaman Perancangan
Pendalaman yang dipakai dalam perancangan yaitu pendalaman karakter ruang, dipakai untuk mendesain ruang secara lebih mendetail untuk menghadirkan suasana ruang yang sesuai dengan aktivitas di dalamnya dan kebutuhan yang khusus bagi pengguna. Pada Stasiun Semut terdahulu terdapat masalah pencahayaan yang kurang, suasana ruangan yang kuno dan kumuh. Hal ini berkaitan dengan pencahayaan alami, ventilasi, dimensi ruang, warna, dan material
1.9.4 MetodePengumpulan Data 1.9.4.1 Metode Observasi Langsung
Studi dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
o Pengamatan secara langsung terhadap site, untuk mengetahui keadaandi dalam site( potensi dan kekurangan ) dan keadaan lingkungan sekitar site.
o Pengamatan secara langsung bagaimana fasilitas-fasilitas yang berada di stasiun untuk mengetahui gambaran secara langsung mengenai tatanan ruang dan mencari tahu kekurangan fasilitas dan suasana yang ada di stasiun.
1.9.4.2 Metode Kepustakaan
Untuk memperoleh data-data dan standart yang menjadi dasar bagi perencanaan dan perancangan bangunan yang meliputi :
o Dasar-dasar teori stasiun dan kebutuhan pengguna
o Pengetahuan mengenai bangunan stasiunyang berada di luar negeri sebagai studi banding dalam desain
o Kebutuhan dan besaran ruang, untuk memenuhi kebutuhan pengguna o Karakteristik ruang, yang mana sebaiknya dapat mendukung karakteristik
pengguna secara psikologis dan perilaku supaya tercipta suatu kenyamanan.
o Pengaplikasian pendekatan dan pendalaman desain ke dalam konsep perancangan dengan tujuan agar dapat mewujudkan sebuah bangunan yang memiliki makna dan sesuai dengan kebutuhan penggunan bangunan.
1.9.4.3 Metode Wawancara / Interview
Wawancara dilakukan dengan pegawai stasiun, pedagang di sekitar stasiun, dan pihak terkait lainnya.Yang memberikan berbagai informasi untuk melengkapi data-data yang telah tersedia.
1.10 Sistematika Pelaporan
Bab 1. Pendahuluan
Dalam bab ini berisikan latar belakang dan pokok permasalahan yang menyebabkan diangkatnya judul proyek,dijelaskan maksud dan tujuan perancangan serta sasaran dan manfaat, dan metoda perancangan.
Bab 2. Perancangan Tapak
Dalam bab ini berisikan pemilihan tapak yang termasuk kriteria dari pemilihan tapak, lokasi tapak yang terpilih termasuk aturan dan ketentuan yang ada, dan analisa tapak berdasarkan pengamatan lapangan dan studi literatur.
Bab 3. Perancangan bangunan
Dalam bab ini dijelaskan pendekatan dan pendalaman perancangan yang diambil dengan pertimbangan mendesain dan memecahkan permasalahan desain.
Bab 4. Penutup
Dalam bab ini berisikan kesimpulan dari perancangan yang sudah dilakukan