2. LANDASAN TEORI
2.1. Bahaya Kebakaran
Kehilangan harta dan jiwa yang diakibatkan oleh tidak terkendalinya api sudah diketahui oleh banyak orang, dan sudah banyak pula upaya yang dilakukan selama bertahun-tahun untuk mengetahui bagaimana cara menanggulangi bahaya kebakaran, dengan cara meneliti bagaimana kebakaran dapat terjadi dan pola penjalaran apinya.
Berbagai data yang diperoleh dari penelitian atas titik api dan penyebarannya selalu terkait pada kondisi kebakaran yang spesifik, sehingga tidak dapat digunakan untuk semua kasus secara umum. Mengingat tidak ada satu bangunan yang dapat 100% aman terhadap bahaya kebakaran, maka resiko pada tingkat tertentu yang diakibatkan oleh bahaya kebakaran harus dapat diterima.
Oleh karena itu, dalam mendisain sistem pemadam kebakaran perlu diperhatikan objek apa yang akan dilindungi dari bahaya kebakaran. Di rumah sakit objek yang dilindungi adalah orang-orang sakit yang tidak dapat melindungi dirinya sendiri dari kebakaran.
Sistem pemadam kebakaran yang direncanakan terdiri atas otomatis (sprinkler) dan manual (hidran dan tabung pemadam kebakaran). Hidran digunakan hanya oleh orang-orang yang terlatih sedangkan tabung pemadam kebakaran dapat digunakan oleh orang awam untuk memadamkan api kecil dalam waktu singkat. Adapun klasifikasi dari rumah sakit ini sesuai dengan SNI 03 – 1735 – 2000 apendiks B adalah bangunan kelas 9a yang termasuk bangunan perawatan kesehatan.
2.2. Klasifikasi Bahaya Kebakaran
Bahaya kebakaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu (SNI 03 – 3989 – 2000) :
• Bahaya kebakaran ringan
Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas rendah dan menjalarnya api lambat.
• Bahaya kebakaran sedang
Bahaya kebakaran tingkat ini dibagi lagi menjadi dalam tiga kelompok, yaitu:
¾ Kelompok I
Adalah bahaya kebakaran pada tempat di mana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 2.5 meter dan apabila terjadi kebakaran, melepaskan panas sedang sehingga menjalarnya api sedang.
¾ Kelompok II
Adalah bahaya kebakaran pada tempat di mana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4 meter dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang sehingga menjalarnya api sedang.
¾ Kelompok III
Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi dan menjalarnya api cepat(pabrik kertas, dll)
• Bahaya kebakaran berat
Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sangat tinggi dan menjalarnya api sangat cepat (pabrik minyak, dll)
2.3. Klasifikasi Bangunan
Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan, pelaksanaan, atau perubahan yang diperlukan pada bangunan (SNI 03 – 1735 – 2000 apendiks B).
2.3.1. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Satu atau lebih bangunan yang merupakan : a. Klas 1a : bangunan hunian tunggal, berupa :
2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng, yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api, termasuk rumah deret, rumah taman, unit town house, villa, atau
b. Klas 1b : rumah asrama/kost, rumah tamu, hotel, atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap, dan tidak terletak di atas atau di bawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi.
2.3.2. Klas 2 : Bangunan Hunian yang terdiri atas 2 atau Lebih Unit Hunian Yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah.
2.3.3. Klas 3 : Bangunan Hunian di luar Bangunan Klas 1 atau 2
Yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan, termasuk :
• Rumah asrama, rumah tamu, losmen ; atau
• Bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel; atau
• Bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah; atau
• Panti untuk orang berumur, cacat, atau anak-anak; atau
• Bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya.
2.3.4. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran
Tempat tinggal yang berada di dalam suatu bangunan klas 5, 6, 7, 8, atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut.
2.3.5. Klas 5 : Bangunan Kantor
Bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional, pengurusan administrasi, atau usaha komersial, di luar bangunan klas 6, 7, 8 atau 9.
2.3.6. Klas 6 : Bangunan perdagangan.
Bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat, termasuk :
• Ruang makan, kafe, restoran ; atau
• Ruang makan malam, bar, toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel ; atau
• Tempat gunting rambut/salon, tempat cuci umum; atau
• Pasar, ruang penjualan, ruang pamer, atau bengkel.
2.3.7. Klas 7 : Bangunan Penyimpanan/Gudang
Bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan, termasuk :
• Tempat parkir umum; atau
• Gudang, atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang.
2.3.8. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/Industri/Pabrik
Bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi, perakitan, perubahan, perbaikan, pengepakan, finishing, atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan.
2.3.9. Klas 9 : Bangunan Umum
Bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum, yaitu :
• Klas 9a : Bangunan perawatan kesehatan, termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium.
• Klas 9b : Bangunan pertemuan, termasuk bengkel kerja, laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan, hal, bangunan peribadatan, bangunan budaya atau sejenis, tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain.
2.3.10. Klas 10 : Bangunan atau Struktur yang Bukan Hunian
• Klas 10a : Bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi, carport, atau sejenisnya.
• Klas 10b : Struktur yang berupa pagar, tonggak, antena, dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas, kolam renang, atau sejenisnya.
2.3.11. Bangunan-bangunan yang Tidak Diklasifikasikan Khusus
Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 sampai dengan 10 tersebut, dalam standar ini dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai peruntukannya.
2.3.12. Bangunan yang Penggunaannya Insidentil
Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang tidak mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya, dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan dengan bangunan utamanya.
2.3.13. Klasifikasi Jamak
Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah, dan :
• Bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan, dan bukan laboratorium, klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi utamanya;
• Kelas 1a, 1b, 9a, 9b, 10a, dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah;
• Ruang-ruang pengolah, ruang mesin, ruang mesin lif, ruang ketel uap, atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak.
2.4. Jarak Antar Bangunan Gedung
Untuk melakukan proteksi terhadap meluasnya kebakaran harus disediakan jalur akses dan ditentukan jarak antar bangunan dengan memperhatikan tabel dibawah ini :
Tabel 2.1 Jarak Antar Bangunan
No Tinggi Gedung Jarak Minimum
(m) Antar Gedung (m)
1 s/d 8 3
2 > 8 s/d 14 > 3 s/d 6 3 > 14 s/d 40 > 6 s/d 8 4 > 40 > 8
Sumber: (KMNPU nomor 10 tahun 2000)
2.5. Sistem Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran Aktif
Sistem pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran aktif dipasang untuk mencegah perluasan kebakaran yang terjadi dan apabila mungkin turut serta memadamkan kebakaran yang terjadi.
Tinggi bangunan merupakan faktor utama dalam penanggulangan bahaya kebakaran. Pada bangunan yang tidak terlalu tinggi, pemadaman dapat dilakukan dengan mudah dari luar dengan menggunakan tangga dan selang penyemprot yang dibawa oleh petugas pemadam kebakaran. Untuk bangunan yang terlalu tinggi perlu dilengkapi dengan sistem pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran aktif.
2.5.1. Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran
Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku, SNI-3985. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan, atau bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak dipersyaratkan, maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara, alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada bangunan Kelas 9a(Tabel 2.2), sistem penginderaan dan alarm kebakaran otomatis harus :
1. Mempunyai detektor panas jenis laju kenaikan (Rate of Rise) temperatur tipe A, yang akan berbunyi bila dalam 30 detik terjadi kenaikan panas mendadak sampai 32°C yang dipasang di seluruh bangunan, kecuali :
a. Pada bangunan yang seluruhnya bersprinkler
b. Pada setiap lokasi yang dipasang alat pendeteksi asap
Mempunyai detektor panas jenis fixed heat yang suhunya bisa diatur pada panas hingga 65°C dan 76°C yang dipasang pada kamar yang bersuhu tinggi seperti pada dapur, ruang generator dan ruang boiler.
2. Mempunyai alat detektor asap yang dipasang di :
a. Ruang perawatan pasien dan jalur keluar dari setiap daerah tersebut menuju ke ruang umum.
b. Ruang-ruang lainnya yang dibutuhkan dalam rangka efektivitas pengendalian bahaya asap.
3. Dipasang alat manual pemicu alarm yang ditempatkan pada lintasan jalan keluar, sehingga tidak ada satu titikpun pada lantai yang berjarak lebih dari 30 meter dari titik alarm manual tersebut.
Tabel 2.2
Penyediaan Sistem Deteksi dan Alarm Menurut Fungsi, Jumlah dan Luas Lantai Bangunan
Kelompok Fungsi
Nama Kelompok
Fungsi Bangunan
Jumlah Lantai
Jumlah Luas min/
Lantai (M2)
Sistem Deteksi dan Alaram Bangunan
Perawatan
kesehatan 1 T.A.B (M) Umum Lab. 2-4 2 T.A.B (O) 9a
>4 T.A.B (O)
Sumber : (KMNPU nomor 10 tahun 2000)
Keterangan : T.A.B = Tidak Ada Batas
M = Manual
O = Otomatis
2.5.2. Sistem Sprinkler
Sistem sprinkler harus dipasang terpisah dari sistem perpipaan dan pemompaan lainnya, serta memiliki penyediaan air tersendiri. Beberapa definisi mengenai komponen sistem di antaranya(SNI 03-3989- 2000):
- Branch (cabang) adalah pipa di mana sprinkler dipasang, baik secara langsung atau melalui riser.
- Cross main (pipa pembagi) adalah pipa yang mensuplai pipa cabang, baik secara langsung atau melalui riser
- Feed main (pipa pembagi utama) adalah pipa yang mensuplai pipa pembagi, baik secara langsung atau melalui riser.
2.5.2.1. Jenis Sistem Sprinkler
Sistem sprinkler secara otomatis akan bekerja bila segelnya pecah akibat adanya panas dari api kebakaran. Sistem Sprinkler dapat dibagi atas beberapa jenis(SNI 03-3989- 2000), yaitu:
• Dry Pipe System
Adalah suatu sistem yang menggunakan sprinkler otomatis yang disambungkan dengan sistem perpipaannya yang mengandung udara atau nitrogen bertekanan. Pelepasan udara tersebut akibat adanya panas mengakibatkan api bertekanan membuka dry pipe valve. Dengan demikian air akan mengalir ke dalam sistem perpipaan dan keluar dari kepala sprinkler yang terbuka.
• Wet Pipe System
Adalah suatu sistem yang menggunakan sprinkler otomatis yang disambungkan ke suplai air (water supply). Dengan demikian air akan segera keluar melalui sprinkler yang telah terbuka akibat adanya panas dari api.
• Deluge System
Adalah sistem yang menggunakan kepala sprinkler yang terbuka disambungkan pada sistem perpipaan yang dihubungkan ke suplai air melalui suatu valve. Valve ini dibuka dengan cara mengoperasikan sistem deteksi yang dipasang pada area yang sama dengan sprinkler. Ketika valve dibuka, air akan
mengalir ke dalam sistem perpipaan dan dikeluarkan dari seluruh sprinkler yang ada.
• Preaction System
Adalah suatu sistem yang menggunakan sprinkler otomatis yang disambungkan pada suatu sistem perpipaan yang mengandung udara, baik yang bertekanan atau tidak, melalui suatu sistem deteksi tambahan yang dipasang pada area yang sama dengan sprinkler. Pengaktifan sistem deteksi akan membuka suatu valve yang mengakibatkan air akan mengalir ke dalam sistem perpipaan sprinkler dan dikeluarkan melalui sprinkler yang terbuka.
• Combined Dry Pipe-Preaction
Adalah sistem pipa berisi udara bertekanan. Jika terjadi kebakaran, peralatan deteksi akan membuka katup kontrol air dan udara dikeluarkan pada akhir pipa suplai, sehingga sistem akan terisi air dan bekerja seperti sistem wet pipe.
Jika peralatan deteksi rusak, sistem akan bekerja seperti sistem dry pipe.
Sprinkler dapat pula dibagi menjadi dua kategori berdasarkan mode aktivasi pengiriman air.
- Dalam versi “fusible element” (Gambar 2.1), panas mencairkan stopper metal yang menyumbat lubang pengiriman air.
- Dalam versi “bulb” (Gambar 2.1), temperatur tinggi memanaskan cairan dalam bohlam kaca (glass bulb), sampai bulb pecah.
Gambar 2.1 Fusible element type dan bulb type
2.5.2.2. Klasifikasi Jenis Hunian
Klasifikasi ini berkaitan dengan pemasangan sprinkler dan suplai airnya saja. Pengklasifikasian ini didasarkan pada kemudahan terbakarnya barang-barang yang ada pada gedung (SNI 03-3989- 2000).
• Hunian bahaya kebakaran ringan (Light Hazard Occupancies)
Yaitu gedung atau bagian dari gedung yang memiliki kuantitas dan keterbakaran isi gedung rendah dan kecepatan pelepasan panas dari api rendah. Contohnya adalah sekolah, rumah sakit, museum, perpustakaan, kantor, tempat tinggal, area tempat duduk restauran, teater, dan auditorium.
• Hunian bahaya kebakaran sedang (Ordinary/Moderate Hazard Occupancies) Jenis ini terdiri dari dua golongan, yaitu:
Group I adalah gedung atau bagian dari gedung yang memiliki kuantitas dan keterbakaran isi gedung sedang, dan timbunan benda-benda yang mudah terbakar tidak lebih dari 8 ft (2.4 m), kecepatan pelepasan panas dari api sedang. Contohnya tempat parkir mobil, pabrik roti, pembuatan minuman, pengalengan, pengolahan susu, pabrik elektronika, tempat cuci pakaian, dan pabrik gelas.
Group II adalah adalah gedung atau bagian dari gedung yang memiliki kuantitas dan keterbakaran isi gedung sedang, dan timbunan benda-benda yang mudah terbakar tidak lebih dari 12 ft (3.7 m). Contohnya gudang cold storage, pabrik pakaian, tumpukan buku perpustakaan, percetakan, dan pabrik tembakau.
• Hunian bahaya kebakaran tinggi (Extra/High Hazard Occupancies)
Yaitu gedung atau bagian dari gedung yang memiliki kuantitas dan keterbakaran isi gedung tinggi dan memiliki cairan, bubuk, kain, atau benda lainnya yang mudah terbakar (baik flammable maupun combustible), sehingga kecepatan pelepasan panas dari api sangat tinggi. Jenis ini terdiri dari dua group, yaitu:
Group I adalah hunian bahaya kebakaran tinggi yang tidak atau hanya sedikit mengandung cairan yang flammable atau yang combustible.
Group II adalah hunian bahaya kebakaran tinggi yang mengandung cairan
Tabel 2.3
Persyaratan Pemakaian Sprinkler
Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan:
Semua klas bangunan:
1. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran
Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m
2. Tidak termasuk lapangan parkir terbuka, yang merupakan bangunan terpisah
Dalam kompartemenisasi dengan salah satu
Bangunan pertokoan (kls 6). ketentuan berikut:
(a) luas lantai lebih dari 3.500 m2.
(b) volume ruangan lebih dari 21.000 m3.
Bangunan Rumah Sakit. Lebih dari 2 (dua) lantai.
Ruang Pertemuan Umum,Ruang Pertunjukan, Teater.
Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Konstruksi Atrium. Tiap bangunan beratrium Untuk
memperoleh Bangunan berukuran besar dan
terpisah.
ukuran kompartmen yang lebih besar:
(a) bangunan klas 5 - 9 dengan luas maksimum 18.000 m2 dan volume 108.000 m3.
(b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18.000 m2 dan volume 108.000 m3.
Ruang parkir, selain ruang parkir
terbuka Bila menampung lebih dari 40
kendaraan.
Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran
Pada kompartemen, dengan salah satu dari
Amat tinggi 2 (dua) persyaratan berikut:
(a) Luas lantai melebihi 2.000 m2.
(b) Volume lebih dari 12.000 m3.
Sumber: (KMNPU nomor 10 tahun 2000)
Persyaratan Pemakaian Sprinkler (Tabel 2.3), sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multikelas, harus berdiri sendiri tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian lain bangunan yang bukan merupakan ruang parkir, atau bila merupakan bagian atau berhubungan dengan
sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir, harus dirancang sedemikian rupa sehingga bagian sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan ruang parkir dapat diisolasi tanpa mengganggu aliran air ataupun mempengaruhi efektivitas operasi dari bagian yang melindungi ruang parkir.
2.5.2.3. Klasifikasi Sprinkler
Berdasarkan SKBI 3.4.53.1987, UDC 699.81:614.844 klasifikasi sprinkler dibagi menjadi dua macam, yaitu:
• Berdasarkan arah pancaran : a. Pancaran arah keatas b. Pancaran arah kebawah c. Pancaran arah dinding
• Berdasarkan kepekaan terhadap suhu : a. Warna segel:
- Warna putih pada temperatur 93ºC.
- Warna biru pada temperatur 141ºC.
- Warna kuning pada temperatur 182ºC.
- Warna merah pada temperatur 227ºC.
- Tak berwarna pada temperatur 68ºC/74ºC.
b. Warna cairan dalam tabung gelas:
- Warna jingga pada temperatur 57ºC.
- Warna merah pada temperatur 68ºC.
- Warna kuning pada temperatur 79ºC.
- Warna hijau pada temperatur 93ºC.
- Warna biru pada temperatur 141ºC.
- Warna ungu pada temperatur 182ºC.
- Warna hitam pada temperatur 204ºC/260ºC.
2.5.2.4. Penempatan Sprinkler
Sprinkler dengan jenis Standard Pendent and Upright Spray Sprinkler, yaitu sprinkler yang didesain agar pemasangannya sedemikian rupa sehingga air
• Area Proteksi dan Jarak Maksimal antara Sprinkler
Jarak maksimal yang diijinkan antara sprinkler dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.4
Area Proteksi dan Jarak Maksimal antara Sprinkler
Light Hazard Ordinary Hazard Extra Hazard Tipe Konstruksi Area
Proteksi (ft2)
Jarak Maks (ft)
Area Proteksi
(ft2)
Jarak Maks (ft)
Area Proteksi
(ft2)
Jarak Maks
(ft) Non Combustible
Obstructed Non Combustible Unobstructed Combustible Unobstructed
225 15 130 15 100 12
Combustible
Obstructed 168 15 130 15 100 12
Sumber: “Installation of Sprinkler Systems”, NFPA 13(1975)
Dalam berbagai kasus, area maksimal yang dilindungi sprinkler tidak boleh melebihi 225 ft2 (21 m2).
• Jarak Minimal Sprinkler ke Dinding
Sprinkler harus ditempatkan minimal 4 inchi (102 mm) dari dinding.
• Jarak di Bawah Langit-langit
Dibawah konstruksi yang tidak terhalang, jarak antara deflektor sprinkler dengan langit-langit minimal 1 inchi (25.4 mm) dan jarak maksimal 12 inchi (305 mm).
Dibawah konstruksi yang terhalang, deflektor sprinkler harus diletakkan 1-6 inchi (25.4-152 mm) di bawah benda-benda struktur dan maksimal 22 inchi (559 mm) di bawah langit-langit atau dek.
• Jarak antara Penghalang (Obstruction) dengan Keluaran Sprinkler
Sprinkler harus diletakkan sedemikian rupa, sehingga halangan terhadap keluaran sprinkler dapat diminimasi(Tabel 2.5).
Tabel 2.5
Penempatan Sprinkler untuk Mencegah Halangan pada Keluaran Sprinkler Jarak dari Sprinkler ke Sisi
Penghalang (a)
Jarak Maksimal antara Deflektor ke Dasar Penghalang (b)
< 1 ft 1 ft - < 1 ft 6 in 1 ft 6 in - < 2 ft 2 ft - < 2 ft 6 in 2 ft 6 in - < 3 ft 3 ft - < 3 ft 6 in 3 ft 6 in - < 4 ft 4 ft - < 4 ft 6 in 4 ft 6 in - < 5 ft
≥5 ft
0 2 ½ 3 ½ 5 ½ 7 ½ 9 ½ 12 14 16 ½
18
Sumber: “Installation of Sprinkler Systems”, NFPA 13(1975)
Namun jika penghalang terletak disebelah dinding dan lebarnya tidak lebih dari 30 inchi (762 mm).
• Jarak antara Perkembangan Keluaran Sprinkler ke Penghalang
Penghalang menerus atau tidak menerus kurang dari 18 inchi (457 mm) di bawah deflektor sprinkler, yang dapat menghalangi pula perkembangan penuh sprinkler, harus dipasang sebagai berikut:
Sprinkler harus diletakkan sedemikian rupa sehingga berjarak tiga kali lebih besar dari dimensi maksimal penghalang sampai maksimal 24 inchi (609 mm)
2.5.2.5. Persyaratan Kebutuhan Air metode Pipa Schedule
Tabel 2.6 digunakan untuk menentukan penyediaan air minimum yang dipersyaratkan untuk Light dan Ordinary Hazard Occupancies, yang dilindungi oleh suatu sistem perpipaan dengan ukuran pipa menurut Pipa Schedule I dan Pipa Schedule II.
Tabel 2.6
Persyaratan Penyediaan Air pada Sistem Sprinkler Pipa Schedule Klasifikasi
Hunian
Tekanan Residual Min. yang Diperlukan
(psi)
Flow yang Diijinkan pada Dasar Riser
(gpm)
Durasi (menit) Light Hazard
Ordinary Hazard
15 20
500-700 850-1500
30-60 60-90
Sumber: “Installation of Sprinkler Systems”, NFPA 13(1975)
Penyediaan air dari sistem sprinkler dapat diperoleh dari:
• Sistem air PAM, jika tekanan dan kapasitas memenuhi sistem yang direncanakan
• Pompa kebakaran otomatis yang dilengkapi dengan sumber air yang memenuhi keperluan disain hidrolis
• Bejana tekan
• Tangki gravitasi
Jumlah air minimum untuk keperluan kebakaran bagi hunian bahaya kebakaran ringan adalah seperti pada tabel 2.6 yaitu 500-750 gpm, untuk waktu pengoperasian selama 30-60 menit.
Pompa yang digunakan harus yang bekerja otomatis jika terjadi kebakaran.
Selain itu digunakan juga Jockey Pump untuk mengatasi kekurangan tekanan dan flow jika kurang dari jumlah yang seharusnya agar tetap konstan.
Apabila cadangan air untuk pencegahan kebakaran dalam reservoir habis atau pompa yang disediakan tidak bekerja maka air disuplai dari ruas pemadam kebakaran dengan menghubungkan selang pemadam kebakaran pada fire department connection.
2.5.3. Sistem Hidran
Sistem hidran harus dipasang pada bangunan yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m²(Tabel 2.7), dan terdapat regu pemadam kebakaran. Sistem hidran kebakaran, harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku, SNI 1745
dan hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan, kecuali pada satuan peruntukan bangunan, di mana:
- Bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4, dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar,
- Bangunan klas 5, 6, 7, 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua), dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar, asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan.
Sesuai dengan aturan dari SNI 1745 bahwa untuk setiap bangunan yang memiliki penyekat-penyekat ruang maka dibutuhkan 1 buah hidran box untuk setiap luasan 500 m² dan bila tanpa penyekat atau pada area parkir dibutuhkan 1 buah hidran box setiap luasan 1000 m².
Untuk jarak antar hidran perlu ditempatkan pada jarak 35 meter antara hidran yang satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan panjang selang kebakaran dalam kotak hidran adalah 30 meter (panjang minimum), ditambah dengan jarak semprotan air sekitar 5 meter.
Tabel 2.7
Bangunan yang Harus Dilengkapi dengan Hidran Kelas bangunan Kompartmen tanpa
partisi
Kompartmen dengan partisi
Kelas 1 dan 10 Tidak dipersyaratkan Tidak dipersyaratkan Kelas 2,3,4, dan 9a 1 buah per 1000m2 2 buah per 1000m2
Kelas 5,6,7,8, dan 9b 1 buah per 800m2 2 buah per 800m2
Sumber: (KMNPU nomor 10 tahun 2000)
2.5.3.1. Tipe Sistem Stand Pipe Untuk Hidran
• Automatic-Wet
Merupakan suatu sistem stand pipe basah yang memiliki suplai air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sistem secara otomatis.
• Automatic-Dry
Merupakan suatu sistem stand pipe kering, biasanya diisi dengan udara bertekanan dan dirangkaikan dengan suatu alat, seperti dry pipe valve, untuk menerima air ke dalam sistem perpipaannya secara otomatis dengan membuka
- Menghemat kerja pompa
- Pompa akan bekerja secara otomatis pada saat alarm berbunyi, sehingga air akan segera mengalir untuk menanggulangi kebakaran.
• Semi Automatic-Dry
Merupakan sistem stand pipe kering yang dirangkaikan dengan suatu alat seperti deluge value, untuk menerima air ke dalam sistem perpipaannya dengan cara mengaktifkan suatu alat pengontrol jarak jauh yang terletak pada setiap hose connection. Suplai air harus mampu memenuhi kebutuhan sistem.
• Manual-Wet
Merupakan suatu sistem stand pipe basah yang memiliki suplai air yang sedikit, hanya untuk memelihara keberadaan air dalam pipanya, namun tidak memiliki untuk memenuhi seluruh kebutuhan sistem. Suplai air sistem diperoleh dari fire department pumper.
• Manual-Dry
Merupakan suatu sistem stand pipe yang tidak memiliki suplai air yang permanen. Air yang diperlukan diperoleh dari suatu fire department pumper, untuk kemudian dipompakan ke dalam sistem melalui fire department connection.
2.5.3.2. Kelas Sistem Stand Pipe
• Kelas I
Merupakan suatu sistem stand pipe yang harus menyediakan hose connection berdiameter 2½ inchi untuk mensuplai airnya, khususnya digunakan oleh petugas pemadam kebakaran dan orang-orang yang terlatih untuk menangani kebakaran berat.
• Kelas II
Merupakan suatu sistem stand pipe yang harus menyediakan hose connection berdiameter 1½ inchi untuk mensuplai airnya, digunakan oleh penghuni gedung atau petugas pemadam kebakaran selama tindakan pertama.
Pengecualian dapat dilakukan dengan menggunakan hose connection 1 inchi jika kemungkinan bahaya sangat kecil dan telah disetujui oleh instalasi atau pejabat yang berwenang.
• Kelas III
Merupakan suatu sistem yang harus menyediakan baik hose connection berdiameter 1½ inchi untuk digunakan oleh penghuni gedung maupun hose connection berdiameter 2½ inchi untuk digunakan oeh petugas pemadam kebakaran ada orang-orang yang telah terlatih untuk kebakaran berat.
2.5.3.3. Desain/Perancangan
• Penentuan letak hose connection
Pada sistem stand pipe kelas I, jika bagian terjauh dari suatu lantai/tingkat yang tidak bersprinkler melebihi 150 ft (45.7 m) dari jalan keluar (exit) atau melebihi 200 ft (61 m) untuk lantai yang tidak bersprinkler, perlu dilakukan penambahan hose connection pada lokasi yang diperlukan oleh petugas pemadam kebakaran.
• Tekanan minimum sistem
Stand pipe harus didisain secara hidrolis guna memenuhi flow-ratenya, dengan tekanan residual minimal 100 psi (6.9 bar) pada hose connection terjauh untuk yang berdiameter 2½ inchi dan 65 psi (4.5 bar) untuk yang berdiameter 1½ inchi.
• Tekanan maksimum hose connection
Tekanan residual pada hose connection berdiameter 1½ inchi yang digunakan oleh penghuni bangunan tidak boleh melebihi 100 psi (6.9 bar). Ketika tekanan statik pada hose connection melebihi 100 psi, maka pressure regulator device harus digunakan untuk membatasi tekanan statik dan residual pada outlet hose connection pada 100 psi untuk diameter 1½ inchi dan 175 psi untuk hose connection lainnya.
• Flow rate (debit) minimum pada stand pipe
Untuk sistem kelas I dan III, flowrate minimum pada stand pipe terjauh harus 500 gpm (1893 l/menit). Sedangkan untuk tambahannya harus memiliki flow rate minimal 250 gpm (946 l/menit) per stand pipe, dengan jumlah total tidak lebih dari 1250 gpm (4731 l/menit). Pengecualian, jika luas area melebihi 80000 ft (7432 m2), maka stand pipe kedua terjauh harus didisain untuk 500 gpm.
• Prosedur perhitungan
Penentuan ukuran pipa dan kehilangan tekan yang ditimbulkan dilakukan dengan cara yang sama pada sistem penyediaan air bersih, yaitu menggunakan persamaan Hazen-William. Pipa yang digunakan juga merupakan jenis pipa Galvanis baru.
• Drain dan Test riser
Secara permanen drain riser harus disediakan berdekatan pada setiap stand pipe, yang dilengkapi dengan pressure regulating device guna memungkinkan dilakukannya tes pada tiap alat.
Setiap stand pipe harus disediakan draining, suatu drain valve dan pipanya, diletakkan pada titik terendah pada stand pipe.
• Suplai Air (Water Supply)
Untuk Sistem kelas I, water supply harus cukup untuk memenuhi kebutuhan sistem seperti yang telah diuraikan di atas selama sedikitnya 45 menit.
2.5.4. Alat Pemadam Api Portable (APAP)
APAP yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan(Tabel 2.8), kecuali di dalam unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4, yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektif terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan(Tabel 2.9).
APAP memenuhi syarat, jika disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku, kecuali APAP jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel, dan APAP dari jenis bukan kelas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi dan harus pada lokasi yang mudah ditemukan, mudah dijangkau dan mudah diambil.
Tabel 2.8
Jenis APAP dan Jenis Kebakaran yang Sesuai (Panduan Sistem Bangunan Tinggi)
Kelas Zat/bahan pemadam Memadamkan
A
Air bertekanan, zat-zat kimia larut, asam soda, busa, Mono- amonium fosfat, diamonium fosfat, tekstill, dll.
Bahan padat bukan logam, kayu,kertas,plastik, karpet
B
Zat asam arang (CO2), zat kimia kering dengan natrium dan kalium bi-karbonat,
bromiumtifluoromethan karbon tetra klotida, khloro-bromethan
Bahan cair,bensin, minyak tanah, elpiji,solar, dll
C
Zat yang tidak menghantar listrik,zat asam arang (CO2),zat kimia kering dengan natrium dan kalium bikarbonat,
bromiuntifluoromethan karbon tetra klorida,khlorobromethan
Peralatan
listrik,bertegangan, transformator,instalasi listrik,dll.
D Bubuk kering, senyawa
mengandung garam dapur, grafit, grafit -fosfor.
bahan logam,magnesium, lithium, senyawa natrium- kalium, dll
Tabel 2.9
Penempatan APAR (Panduan Sistem Bangunan Tinggi) Jenis Bangunan Berat Minimum Jarak Maksimum
Industri 2 kg 15 m
Umum 2 kg 20 m
Perumahan 2 kg 25 m
Campuran 2 kg 20 m
Parkir 2 kg 25 m
Bangunan Tinggi 2 kg 20 m
Rumah sakit termasuk dalam bangunan umum(PERDA surabaya,1982) yang jarak maksimum penempatan APAP 20 meter dan setiap luasan 200 m² harus ditempatkan 1 buah APAP.
2.5.4.1. Bahan Kandungan APAP
Selain dibedakan berdasarkan besar atau ukurannya, APAP dapat pula dibedakan berdasarkan bahan pemadam (racun api) di dalamnya. APAP mengandung tiga jenis bahan, yaitu :
1. Hallon
Gas halon bila terkena panas api kebakaran pada suhu sekitar 485° C, akan mengalami proses penguraian. Zat-zat yang dihasilkan dari proses penguraian tersebut akan mengikat unsur hidrogen dan oksigen (O2) dari udara, sehingga menghasilkan beberapa unsur baru yang diantaranya adalah Hidrogen flourida (HF), hidrogen bromida (HBr) dan senyawa-senyawa karbon halida (COF2 dan COFBr2). Karena sifat zat baru tersebut beracun, maka cukup berbahaya terhadap manusia
2. Busa (Foam)
Ada dua macam busa, busa kimia dan busa mekanik. Busa kimia dibuat dari gelembung yang berisi antara lain zat arang dan karbon dioksida (CO2), sedangkan busa mekanik dibuat dari campuranzat arang dengan udara. Busa memadamkan api melalui kombinasi tiga aksi pemadaman yaitu: menutupi, melemahkan, dan mendinginkan.
• Menutupi yaitu membuat selimut busa di atas bahan yang terbakar, sehingga kontak dengan oksigen (udara) terputus.
• Melemahkan yaitu mencegah penguapan cairan yang mudah terbakar.
• Mendinginkan yaitu menyerap kalor cairan yang mudah terbakar sehingga suhunya menurun.
3. Air
Ada tiga macam yaitu air dengan pompa tangan, air bertekanan, dan asam soda/soda acid. APAR air tidak dapat dipergunakan untuk memadamkan kebakaran golongan C kecuali sumber tegangan dimatikan.
4. Carbon Dioksida (CO2)
Alat pemadam api CO2 mempergunakan bahan CO2 cair dengan tekanan tinggi. Prinsip kerja gas CO2 dalam memadamkan api adalah reaksi dengan oksigen (O2) sehingga konsentrasinya di dalam udara berkurang dari 21%
menjadi sama dengan atau lebih kecil dari 14%, sehingga api akan padam.
5. Serbuk Kimia Kering
Rumus kimia serbuk kimia kering adalah NH4 H2 PO4 (Amonium hydro Phosphate), 2 Na HCO3 (Natrium bikarbonat) dan 2 Ca HCO3 (Kalsium bikarbonat). Serbuk kimia kering mempunyai berat jenis : 0.91, ukuran serbuk sangat halus kelembapan kurang dari 0,2% dan bila serbuk kimia kering ditebarkan pada permukaan air, maka serbuk kimia kering tidak akan tenggelam dalam waktu 1 jam.
Sebagian besar bahan serbuk kimia kering terdiri dari phosphoring acid bi hydrogenate ammonium 95%, dan garam silicic ditambahkan untuk menghindarkan jangan sampai mengeras serta menambahkan sifat-sifat mengalir, dan juga tiap permukaan butir serbuk dibungkus dengan silicone agar anti air.
Bahan ini mempunyai sifat tidak berbahaya bagi manusia, tidak membekas pada barang-barang logam.
Serbuk kimia kering ini tidak beracun, tetapi dapat menyebebkan untuk sementara sesak nafas dan pandangan mata menjadi terhalang.
Ammonium hydro phosphat merupakan serbuk kimia kering serba guna, dapat digunakan untuk memdamkan kebakaran golongan A,B, dan C, sedangkan Natrium bikarbonat dan kalsium bikorbonat merupakan serbuk kimia kering biasa, dapat digunakan untuk memadamkan kebakaran golongan B dan C.
Daya pemadaman dari serbuk kimia kering bergantung pada jumlah serbuk yang dapat menutupi permukaan yang terbakar. Makin halus butir-butir serbuk kimia kering, makin luas permukaan yang dapat ditutupi.