Bapak/Ibu Dosen Universitas Kusuma Husada Surakarta yang telah memberikan segudang ilmu kepada penulis. Dimana sebelum diberikan teknik relaksasi otot progresif responden menyatakan nyeri dismenorea sedang (4,23), setelah diberikan teknik relaksasi otot progresif responden menyatakan nyeri dismenore berkurang menjadi ringan (2). Berdasarkan hasil wawancara tersebut, peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian terkait teknik relaksasi otot progresif pada remaja putri.
Rumusan Masalah
Untuk mengetahui hasil penerapan teknik relaksasi otot progresif pada remaja penderita dismenore di Klinik Rama Husada Sragen. Untuk mengetahui derajat dismenore sebelum penerapan teknik relaksasi otot progresif pada remaja di Klinik Rama Husada Sragen. Untuk mengetahui derajat dismenore pasca penerapan teknik relaksasi otot progresif pada remaja di Klinik Rama Husada Sragen.
Manfaat Penelitian
Remaja
Pengertian Masa Remaja
Batas Usia Remaja
Pada tahap ini, remaja mulai fokus dalam pengambilan keputusan, baik di rumah maupun di sekolah. Remaja juga mulai menggunakan istilahnya sendiri dan mempunyai pendapat, seperti olahraga apa yang sebaiknya dimainkan, memilih kelompok mana yang akan diajak bergaul, ingin menjadi orang seperti apa, dan mengetahui cara berpenampilan menarik. Dengan menggunakan pengalaman dan pemikiran yang lebih kompleks, remaja pada tahap ini sering bertanya, menganalisis lebih dalam, dan memikirkan bagaimana mengembangkan identitas “siapa aku” pada masa remaja ini.
Perkembangan Fisik
Pada masa remaja akhir, proses berpikir yang kompleks digunakan untuk fokus pada isu-isu idealisme, toleransi, keputusan karir dan pekerjaan, serta peran orang dewasa dalam masyarakat. Gejala perubahan fisik pada masa remaja mulai terlihat ketika anak mulai memasuki masa remaja awal sebagai bagian pertama dari masa remaja secara keseluruhan. Tidak sedikit ketidakseimbangan yang terjadi pada remaja karena perubahan tersebut merupakan pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelum masa remaja (Dewi, 2012).
Karakteristik Perkembangan Fisik Remaja
Pada wanita, siklus menstruasi rata-rata berlangsung sekitar 28 hari, meskipun hal ini berlaku umum, namun tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, terkadang siklus tersebut terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Lalu, ada juga kondisi oligomenore di mana siklus menstruasi berlangsung lebih dari 35 hari, sedangkan jumlah perdarahannya tetap sama. Ada pula polimenore, yaitu kondisi yang terjadi ketika seorang wanita mengalami siklus menstruasi yang lebih sering (siklus menstruasi lebih pendek, yakni kurang dari 21 hari).
Proses terjadinya haid atau menstruasi
Tanda dan Gejala haid atau menstruasi
Nyeri haid atau dismenore adalah suatu kondisi medis yang terjadi pada saat menstruasi atau haid dan dapat mengganggu aktivitas serta memerlukan pengobatan yang ditandai dengan nyeri atau perih pada daerah perut atau panggul (Judha, 2012). Gejala nyeri haid umumnya berupa nyeri yang datang secara tidak teratur dan tajam, serta kram pada perut bagian bawah yang biasanya menjalar hingga punggung dan menjalar hingga ke kaki, selangkangan, dan vulva (bagian luar alat kelamin wanita (Laila, 2011).
Etiologi
Zat ini terdapat pada lapisan rahim yang bertugas merangsang kontraksi hingga melepaskan lapisan rahim saat proses menstruasi dimulai. Nyeri haid juga bisa disebabkan oleh kondisi atau penyakit, misalnya endometriosis, penyakit menular seksual, penyakit radang panggul, tumor, kelainan posisi rahim, selaput dara tidak berlubang, stres, kista ovarium atau masalah pada alat kontrasepsi dalam rahim ( IUD).
Klasifikasi
Biasanya terjadi selama 2-3 hari selama siklus dan wanita yang mengalami dismenore sekunder biasanya memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur atau tidak normal.
Patofisiologi
Dismenore sekunder berhubungan dengan kelainan kongenital atau kelainan organik pada panggul yang terjadi pada masa remaja. Dismenore sekunder, yang tidak dapat dikaitkan dengan kelainan tertentu, biasanya dimulai sebelum usia 20 tahun, namun jarang terjadi pada tahun-tahun pertama setelah menarche (Judha, 2012).
Skala atau Pengukuran Nyeri
Pengkajian Terhadap Nyeri
Penatalaksanaan
Istirahat yang cukup diperlukan untuk mengendurkan otot-otot yang tegang saat berkontraksi untuk melepaskan lapisan endometrium. Relaksasi otot atau relaksasi progresif adalah suatu metode atau metode yang terdiri dari peregangan dan relaksasi sekelompok otot. Serta memusatkan perhatian pada perasaan rileks (Sholehati dan Cecep menyatakan bahwa ketika dilakukan teknik relaksasi otot progresif, otot yang mengalami spasme/ketegangan menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah di perut sehingga peredaran darah menjadi lancar, mencegah iskemia dan produksi zat kimia. yang akan mencegah rangsangan nyeri.
Teknik relaksasi otot progresif memusatkan perhatian pada aktivitas otot dengan cara mengidentifikasi otot-otot yang tegang kemudian melepaskan ketegangan dengan melakukan teknik relaksasi untuk mencapai perasaan rileks, dan dengan memadukan latihan pernafasan dalam dengan rangkaian kontraksi dan relaksasi otot-otot tertentu (Setyoadi dan Kushariyadi, 2011).
Patofisiologi
Endorfin bekerja dengan mengikat reseptor opiat di sistem limbik, otak tengah, sumsum tulang belakang, dan usus. Ikatan antara opiat dan reseptor ini dapat mengurangi nyeri dengan mencegah pelepasannya sebagai neurotransmiter penghasil nyeri (Akbar et al., 2014).
Tujuan
Manfaat
Indikasi dan Kontraindikasi
Cara kerja
Kerangka Teori
Kerangka Konsep Penelitian
Hipotesis Penelitian
Keaslian Penelitian Tabel 2.1 Keaslian Penelitian Tabel 2.1 Keaslian Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penerapan teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan kejadian dismenore pada remaja di Klinik Rama Husada Sragen. Penelitian ini menggunakan kelompok pretest dan posttest, yaitu sebelum menguji kelompok tanpa kelompok kontrol terlebih dahulu dilakukan penilaian atau pengukuran terhadap kelompok tersebut. Pretest ini bertujuan untuk mengetahui tingkat dismenore pada remaja sebelum penerapan teknik relaksasi otot progresif.
Post test topik ini juga digunakan untuk mengetahui penurunan tingkat dismenore pada remaja di Klinik Rama Husada Sragen. Sampel terdiri dari sebagian atau seluruh anggota populasi dari seluruh objek yang diteliti dan dianggap mewakili keseluruhan populasi (Noatoadmodjo, 2010). Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan pengambilan sampel secara acak (probability sampling) dengan teknik pengambilan sampel sistematik yaitu sampling sistematis, populasi dibagi dengan jumlah sampel yang diperlukan (n) dan sampel diperoleh dengan mengambil kelipatan berapa pun (n) (Nursalam, 2011). .
Instrumen penelitian adalah alat atau alat bantu yang digunakan peneliti untuk menggunakan data guna mempermudah pekerjaan dan hasil yang lebih baik. Sebelum intervensi dilakukan penilaian skala nyeri, diukur intensitas nyerinya, dan setelah intervensi diukur kembali intensitas nyerinya. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pre dan post test yaitu dengan mengukur derajat dismenore sebelum dan sesudah menggunakan teknik relaksasi otot progresif.
Data sekunder diperoleh dari Klinik Rama Husada Sragen berupa sejarah singkat, visi dan misi, data mengenai Klinik Rama Husada Sragen, dan data pendukung lainnya yang diperlukan dalam penelitian ini.
Uji Validitas dan Reliabilitas
Teknik Pengolahan dan Analisa Data 1. Pengolahan Data
Analisis univariat pada penelitian ini adalah untuk variabel independen (teknik relaksasi otot progresif) dan variabel dependen (penurunan derajat dismenore) di Klinik Rama Husada Sragen. Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan statistik analitik untuk melaporkan hasil penelitian dalam bentuk distribusi frekuensi atau persentase (%) pada setiap item atau variabel. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen dengan menghitung rasio prevalensi.
Ho ditolak jika p < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh pemberian teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan angka kejadian dismenore pada remaja di Klinik Rama Husada Sragen. Ho diterima jika p > 0,05 yang berarti tidak terdapat pengaruh pemberian teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan angka kejadian dismenore pada remaja di Klinik Rama Husada Sragen.
Etika Penelitian 1. Informed consent
- Deskripsi Lokasi Penelitian
- Analisis Univariat
- Analisis Bivariat
Klinik Pratama "Rama Husada" merupakan klinik swasta yang melayani 24 jam yang berlokasi di Banyuning Rt 11/ Rw 03, Singopadu, Sidoharjo, Sragen, Jawa Tengah. Klinik Rama Husada dibangun dengan harapan dapat melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongan dan perawatan, sebelum menjadi klinik 10 tahun yang lalu merupakan pengobatan mandiri atas nama Endang. Setelah mendapat izin pusat pengobatan pada tahun 2014, Pusat Perawatan tersebut diubah menjadi Klinik Pratama “Rama Husada” hingga sekarang.
Dengan sumber daya manusia yang unggul di bidangnya masing-masing, Klinik Pratama “Rama Husada” mampu memberikan pelayanan yang lengkap kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan layanan kesehatan. Dari tabel diatas diperoleh data tingkat dismenore pada remaja di Klinik Rama Husada Sragen sebelum dan sesudah pemberian teknik relaksasi otot progresif. Sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif, 5 orang atau 7,1% remaja tidak merasakan nyeri, 7 orang atau 10,0% mengalami nyeri ringan, 9 orang atau 12,9% mengalami nyeri sedang, dan 14 orang merasakan nyeri berat.
Sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif, sebagian besar remaja merasakan nyeri sedang hingga berat saat menstruasi, sehingga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Setelah dilakukan penerapan teknik relaksasi otot progresif didapatkan 17 orang remaja tidak merasakan nyeri atau 24,3%, 8 orang mengalami nyeri ringan atau 11,4%, 6 orang mengalami nyeri sedang atau 8,6%, dan 4 orang merasakan nyeri berat. Setelah menggunakan teknik relaksasi otot progresif, sebagian besar remaja tidak merasakan nyeri atau nyeri ringan.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan chi-square diperoleh nilai p-value sebesar 0,005 (p ≤ 0,05), sehingga secara statistik dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan angka kejadian dismenorea remaja di rumah sakit. Klinik Pratama Rama Husada Sragen.
Pembahasan
- Tingkat dismenorea pada remaja di Klinik Pratama Rama Husada Sragen Sragen
- Pengaruh pemberian teknik releksasi otot progresif terhadap penurunan tingkat dismenorea pada remaja di Klinik Pratama penurunan tingkat dismenoreapada remaja di Klinik Pratama
Relaksasi otot progresif merupakan terapi relaksasi dengan gerakan-gerakan yang sekaligus mengencangkan dan mengendurkan otot. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Setyawanti (2011) yang menyimpulkan bahwa relaksasi otot progresif dapat menurunkan nyeri haid dan tanda-tanda vital. Studi eksperimental yang dilakukan oleh Praseetha (2012) di Brazil menunjukkan bahwa relaksasi otot progresif dapat menurunkan persepsi nyeri pada 61 responden.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akbar, Putria dan Afriyanti (2012) yang menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan relaksasi otot progresif sebelum dan sesudah terhadap nyeri dismenorea pada mahasiswi keperawatan A angkatan 2012. UNAND. 2012) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh teknik relaksasi otot progresif sebelum dan sesudah pertunjukan terhadap nyeri haid. Puspa Kirana Dewi, dkk (2018) menyatakan terdapat pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan skala nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III.
Selain itu, gerakan relaksasi otot progresif dapat merangsang pelepasan hormon endorfin yang memberikan rasa nyaman pada tubuh. Oleh karena itu, relaksasi otot progresif sangat tepat digunakan pada saat mengalami nyeri haid (dismenore) dan harus dilakukan secara mendalam agar pengurangan nyeri dapat dirasakan secara spesifik. Pernapasan dan relaksasi otot progresif telah terbukti berpotensi meningkatkan pengendalian nyeri akut (Heffline, 1990 dalam Rakel & Faass, 2006).
Relaksasi progresif ini merupakan teknik relaksasi yang menggabungkan latihan pernapasan dalam dan serangkaian kontraksi dan relaksasi otot-otot tertentu.
Keterbatasan Penelitian
Saran
Dianjurkan untuk mencoba relaksasi otot progresif untuk semua kategori dismenore, dengan frekuensi yang lebih besar dan lebih teratur. Deskripsi pencegahan dan pengobatan dismenore pada remaja putri di Kecamatan Limapuluh Kota Pekan Baru. Setelah mendapat penjelasan mengenai penelitian ini, saya memahami bahwa segala informasi mengenai penelitian ini akan dijaga kerahasiaannya dan digunakan untuk kepentingan penelitian saja.
Judul : Penerapan Teknik Relaksasi Otot Progresif Untuk Menurunkan Skala Dismenore Pada Pasien Remaja Di Klinik Rama Husada Sragen.
Identitas Responden Nama Responden
Scala Nyeri