1 PERATURAN DIREKTUR UTAMA
RUMAH SAKIT ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG NOMOR :
TENTANG
PEDOMAN PELAYANAN ROHANI PASIEN
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIM
DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG
Menimbang: a. bahwa RS. Roemani Muhammadiyah sebagai institusi yang bergerak dalam pelayanan kesehatan harus mampu meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tinginya
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksudkan dalam huruf (a), perlu ditetapkan dengan Peraturan Direktur Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah.
Mengingat : 1. Undang – Undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan;
2. Undang – Undang RI nomor 34 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
3. Peraturan Pemerintah (PP) RI nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan;
4. PMK nomor 14 tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan;
5. Kepmenkes No 1128 tahun 2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit
6. Pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah NO. 02/PED/I.0/B/2021 tentang Amal Usaha Muhammadiyah Bidang Kesehatan.
7. Standar Islami Rumah Sakit Muhammadiyah-A’isyiyah (SIRSMA) edisi Pertama tahun 2019
B-1.8/1571/RSR/VII/2022
2 8. Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Nomor :
445/1297 Tahun 2015 tentang Izin Operasional dan Penetapan Klasifikasi Rumah Sakit;
9. Keputusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang Nomor 16/KEP/III.0/D/2018 tentang Pengangkatan Direksi Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT ROEMANI
MUHAMMADIYAH TENTANG PEDOMAN PELAYANAN
ROHANI PASIEN
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
1) Pelayanan bimbingan rohani passien merupakan bagian integral dari bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan bio-psyco-socio-spiritual, yang komprehensif karena pada dasarnya setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar spiritual.
2) Rumah sakit adalah rumah sakit Roemani Muhammadiyah Semarang
BAB II
PELAYANAN BIMBINGAN ROHANI PASIEN Pasal 2
Pelayanan bimbingan rohani pasien berisi :
1) Pelayanan bimbingan rohani pasien rawat inap 2) Pelayanan bimbingan sakaratul maut
3) Pelayanan pemulasaraan jenazah
3 Pasal 3
Bimbingan rohani pasien
1) Pasien yang dirawat di rumah sakit Roemani akan mendapatkan bimbingan rohani pasien dari petugas bagian kerohanian
2) Pasien non Muslim akan dikunjungi dari kemenenag kota Semarang selama Keluarga pasien menghendaki
3) Pasien yang mmengalami syakaratul maut berhak mendapatkan bimbingan talqin dari bagian Kerohanian
Pasal 6
Pemulasaraan jenazah
Pasien yang meninggal di Rumah sakit Roemani, apabila keluarga menghendaki dimandikan di rumah sakit. Maka bagian kerohanian melaksanakan kegiatan tesebut sesuai tuntunan Islam
BAB III PENUTUP
Pasal 5
Pedoman ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : Semarang
Pada tanggal : 09 Dzulhijjah 1443 H
Direktur Utama
dr. Sri Mulyani, SpA, M.Kes, FISQua NBM. 1286.386
08 Juli 2022 M
4 LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR UTAMA
RUMAH SAKIT ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG NOMOR :
TANGGAL : 12 JANUARI 2022
TENTANG PEDOMAN PELAYANAN ROHANI PASIEN
PEDOMAN PELAYANAN ROHANI PASIEN
BAB I
PENGERTIAN DAN BATASAN A. Pengertian
1. Pelayanan rohani pasien adalah proses pemberian bimibingan oleh petugas bagian kerohanian kepada pasien rawat inap dalam rangka membantu pasien untuk mengembalikan kondisi psikologisnya kepada kondisi yang lebih baik dan menuntun pasien agar mau menerima sakit sebagai ujian dari Allah dengan ikhlas dan sabar serta tawakal kepada Allah
2. Pelayanan rohani pasien non muslim adalah proses pemberian bimibingan oeh petugas yang ditunjuk oleh Kemenag Kota Semarang dalam rangka membantu pasien untuk mengembalikan kondisi psikologisnya kepada kondisi yang lebih baik dan menuntun pasien agar mau menerima sakit sebagai ujian dengan ikhlas dan sabar
3. Petugas rohani adalah pegawai RS. Roemani yang bertugas di bagian kerohanian B. Batasan Operasional
1. Pasien rawat inap lebih dari 24 jam mendapatkan pelayanan kerohanian 2. Pasien yang mengalami sakaratul maut
3. Asuhan Ibu dan anak
4. Pasien yang meninggal dan keluarga permintaan pemulasaraan jenazah B-1.8/1571/RSR/VII/2022
5 BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. KUALIFIKASI DAN JUMLAH TENAGA
Sumber daya manusia yang terkait dengan pelayanan rohani di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang :
1. Tenaga kerohanian yang beraga Islam : a. Minimal Lulusan S1 Sarjana Agama b. Mampu membaca al-Qur’an
c. Usia masuk menjadi tenaga maksimal 35 tahun
d. Memiliki niat yang kuat dan panggilan hati untuk membimbing pasien dengan segala kondisi kesehatannya
2. Tenaga Kerohanian non muslim sesuai dengan petunjuk dari Kemenag Kota Semarang atau sesuai dengan permintaan dari pasien dan keluarganya sendiri
No Nama Jabatan
Kualifikasi Formal Masa Jml
Kerja
Sertifikat 1 Kabag Kerohanian
Sarmadi, S Ag, M PdI
S1 / S2 10 Th / lebih
Pelatihan pemulasaraan jenazah
Bimtek Pelayanan Psikospiritual bagi pasien
Tinjauan medis dan agama tentang mati
1
2 Kasubag pelayanan kerohanian
3 Kasub Bagian Bina Islami Pegawai
Khaerul Anwar, SHI. MSI
S1 / S2 5 Th /
lebih Pelatihan pemulasaraan jenazah
1
4 Pelaksana:
1) Mukeri, S.Ag, 2) Nur Badriah, S Ag 3) M.Shunhaji, S.Sos.I 4) Amiril Edi Pranomo, SHI 5) Mukhamad Aliun. S.Pd 6) Raad Noor Fattah, S.Ag
S1 S1 S1 S1 S1 S1
20 thn 14 thn 10 thn 4 thn 1 thn 6 bln
Pelatihan PMJ Pelatihan PMJ Pelatihan PMJ PelatihanPMJ Pelatihan PMJ Pelatihan PMJ
6
6 B. DISTRIBUSI TENAGA
Dalam rangka terpenuhi pelayanan rohani pasien perlu diatur kebutuhan tenaganya
No Nama Jabatan Ruang
1 Sarmadi, S Ag., M.Pd.I Kabag Kerohanian 2 Khaerul Anwar, SHI, MSI Kasubag Bina Islami
Pegawai
3 Mukeri S,Ag, Pelaksana Sulaiman lantai 3 dan 4
4 Nur Badriyah, S Ag Pelaksana Ayyub 1
5 M. Shunhaji, S. Sos.I Pelaksana Ismail 2 dan ICU
6 Amiril Edi Pranomo, SHI Pelaksana Ayyub 3
7 Mukhamad Aliun. S.Pd Pelaksana Ayyub 2
8 Raad Noor Fattah.S.Ag Pelakasana Suliman 5 dan 6
Dalam pelaksanannya masing-masih pelaksana saling membantu untuk terpenuhinya pelayanan
C. PENGATURAN JAGA
Pelayanan kerohanian pasien dilaksanakan dengan system shif pagi, siang dan malam, hal ini diterapkan agar pelayanan 24 jam terpenuhi
Shif pagi, kunjungan ke pasien antara jam 09.00 – 11.30 WIB
Shif siang, kujungan pasien antara jam 16.00 – 17.30 WIB
Shif malam, kunjungan dilakukan pada pagi harinya jam 06.00 – 06.45 WIB
Waktu yang tersisa digunakan untuk pembinaan karyawan (Konsultasi, tahsin dll sedangkan konsultasi pasien sesuai permintaan dan bahkan pasien terimal segera menuju tempat dimana pasien dirawat
Untuk Pelayanan pemulasaraan jenazah, petugas melaksanakan kegiatannya setelah kordinasi dengan keluarga pasien yang meninggal
7 BAB III
STANDAR FASILITAS
1. Pelayanan kepada pasien diberikan oleh petugas keohanian adalah Pemberian buku tuntunan bagi orang sakit dan buku wanita muslimah
2. Pelayanan pemulasaraan jenazah dengan fasilitas 1) Ruang Pelaksana
2) Almari Logistik 2 buah
3) Brangkart stainlis dewasa 2 buah 4) Brangkart stainlis anak-anak 1 buah 5) Brangkart Ambulance 2 buah 6) Meja Pelaksana 1 buah 7) Almari APD 1 buah 8) Almari Stainlis 1 buah 9) Almari Box Logistik 1 buah
10) Tempat memandikan jenazah 1 buah 11) Meja bed mengkafani jenazah 1 buah
8 BAB IV
KEMAMPUAN PELAYANAN
A. EDUKASI
Edukasi adalah upaya mengubah sikap dan perilaku seseorang atau kelompok dalam bentuk pemahaman dan pendewasaan melalui proses latihan maupun melalui proses pembelajaran, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak tahu mengatasinya sampai tahu solusinya.
Edukasi ini diberikan kepada pasien yang baru masuk rawat inap terkait tata cara beribadah dalam kondisi sakit.
B. MEMBIMBING
Membimbing adalah memberikan penyuluhan, tuntunan, asuhan, petunjuk dan penjelasan lebih dulu tentang sesuatu yang akan dirundingkan/diamalkan, yang tujuan utamanya agar setiap amal perbuatan yang dikerjakan sesuai dengan tuntunan syariah, norma dan tata tertib.
Membimbing dalam hal ini adalah membimbing pasien dalam pelaksanaan ibadah. Pasien diberikan pelatihan bagaimana bertayamum dan bagaimana melaksanakan ibadah shalat yang benar dalam kondisi sakit.
C. PENDAMPINGAN
Pendampingan merupakan suatu aktivitas yang dilakukan dan dapat bermakna pembinaan, dan pengarahan pada seseorang atau kelompok yang lebih berkonotasi pada menguasai, mengendalikan dan mengontrol. Kata pendampingan lebih bermakna pada kebersamaan, oleh karena itu kedudukan antara keduanya (pendamping dan yang didampingi) sederajat. Hal ini membawa implikasi bahwa peran pendamping hanya sebatas pada memberikan saran, alternatif dan bantuan konsultatif.
Pendampingan dalam hal ini diberikan kepada pasien yang mengalami sakaratul maut.
D. EVALUASI (NILAI)
Nilai adalah keyakinan dasar. Nilai adalah prinsip yang digunakan untuk mendefinisikan mana yang benar, baik dan adil. Nilai memberikan panduan saat kita
9 menentukan yang benar dengan salah, baik dan yang buruk. Nilai adalah sebuah standar.
Dapat diistilahkan dengan kata "evaluasi". Ketika kita mengevaluasi sesuatu, kita membandingkannya dengan standar. kita menentukan apakah hal tersebut memenuhi standar atau tidak, mendekati atau jauh melebihi. Mengevaluasi berarti menentukan kelayakan suatu hal atau tindakan dibandingkan dengan standar.
Evaluasi dalam hal ini dilakukan setelah adanya permasalahan dan intervensi, baik kepada pasien ataupun keluarga.
E. PEMULASARAAN JENAZAH
Pemulasaraan jenazah adalah proses perawatan jenazah yang meliputi kegiatan memandikan, mengkafani, menshalatkan dan memakamkan jenazah.
Pemulasaraan jenazah di sini dilakukan kalau ada pasien yang meninggal dunia dan keluarga meminta untuk dimandikan di RS. Roemani, maka petugas melaksanakan kegiatan tersebut.
10 BAB V
TATA LAKSANA
A. ASUHAN ROHANI PASIEN MUSLIM
Bagi pasien Muslim, secara umum tata laksana petugas kerohanian kepada seluruh pasien adalah mempersiapkan diri dengan data yang telah diperoleh dari pendaftaran melalui komputer, selanjutnya melakukan:
a. Ketuk pintu dengan lembut, ucapkan salam dan perkenalkan diri secara singkat.
b. Jika pasien dalam keadaan siap dan tidak mengganggu maka pelayanan dapat dimulai.
c. Lakukan wawancara singkat apabila pasien masih sadar tentang penyakit dan harapan pasien dengan bersahabat dan penuh empati.
d. Tidak larut dalam kesedihan pasien.
e. Berikan sentuhan tangan sebagai rasa empati.
f. Berikan pengertian untuk tetap bersabar dalam mengahdapi cobaan.
g. Tuntunan ibadah sedang sakit wajib disampaikan, agar tetap menjalankan ibadah.
h. Ajaklah berdoa semoga Allah memberikan kesabaran dan kesembuhan kembali.
i. Apabila ada pasien non muslim yang dirawat kemudian menghendaki bimbingan dari agama yang diyakininya, maka bagian kerohanian menghubungi rohaniawan Kemenag Kota Semarang.
Untuk memperoleh informasi status spiritual keagamaan pasien. Maka diperlukan, 1. Asesmen Spiritual Pasien
Asesmen spiritual keagamaan merupakan hal penting untuk memperoleh informasi status spiritual keagamaan pasien. Informasi ini diperlukan untuk kepentingan perencanaan pelayanan pasien, terutama untuk bimbingan rohani. Adapun aspek-aspek yang ditetapkan dalam melakukan asesmen meliputi:
a. Aqidah
Aqidah merupakan semua sistem kepercayaan atau keyakinan, disebut juga dengan iman. Iman adalah segala kegiatan, aktivitas, jalan pikiran, pertimbangan semua tertuju kepada Allah, seluruh sikap hidupnya hanya bergantung kepada Allah, dan hanya memandang dari segi keridaan Allah saja.
11 Untuk mengetahui bagaimana aqidah pasien; apakah sakit yang dialami datangnya dari Allah atau berkeyakinan sakit yang diderita karena terkena sihir atau lainnya
b. Akhlaq
Akhlaq merupakan tingkah laku atau tabiat seseorang yang didorong oleh sesuatu keinginan secara sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan yang baik maupun buruk.
Untuk mengetahui bagaimana akhlak pasien; apakah sakit yang dialami dia mengeluh berlebihang lainn, menyalahkan Tuhan dan orang lain atau menerima kemudia berusaha sesuai tuntunan
c. Ibadah
Ibadah ialah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan jalan menta'ati segala perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya, dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah. Ibadah itu ada yang umum dan khusus.
Adapun yang umum ialah segala amal yang diizinkan Allah, sedangkan yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan cara-caranya yang tertentu (seperti halnya Thoharoh, shalat, zakat, dll).
Untuk mengetahui bagaimana ibadah pasien; apakah pasien mampu thoharoh atau tidak tahu tata caranya, begitu juga terkait sholat, sudah paham atau belum d. Muamalah
Muamalah adalah sebuah hubungan manusia dalam interaksi sosial sesuai syariat, karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.
Dalam hubungan dengan manusia lainnya, manusia dibatasi oleh syariat tersebut, yang terdiri dari hak dan kewajiban.
2. Rumusan Masalah dan Intervensi a. Aqidah
Asesmen aspek aqidah difokuskan pada persepsi dan keyakinan tentang penyakitnya, apakah ada unsur-unsur syirik.
12 1) Masalah
a) Pasien belum faham tentang pengertian syirik, takhayul dan khurafat.
b) Pasien belum faham tentang hukum syirik, takhayul dan khurafat.
c) Pasien telah menodai dan mengingkari keimanannya dengan berbuat syirik, takhayul dan khurafat.
2) Intervensi
a) Menjelaskan pengertian syirik, takhayul dan khurafat.
b) Menjelaskan hukum syirik, takhayul dan khurafat.
c) Memotivasi dan edukasi pasien agar menjadikan iman dan tauhid sebagai sumber seluruh kegiatan hidup termasuk sakit yang diderita, tidak boleh mengingkari keimanan berdasarkan tauhid itu, dan tetap menjauhi serta menolak syirik, takhayul, dan khurafat yang menodai iman dan tauhid kepada Allah SWT.
Apabila pasien sudah paham terkait akidah, maka staf tinggal memberikan penguatan, motivasi dan doa
b. Akhlaq
Asesmen aspek akhlaq difokuskan pada akhlaq terhadap Allah yang menyangkut keikhlasannya menerima penyakit dan kemampuannya berdoa.
1) Masalah
a) Pasien belum faham hakekat tentang ikhlas dan doa.
b) Pasien belum menjaga hubungan baik dengan Allah.
c) Pasien belum menunjukkan akhlaq yang mulia (belum ikhlas menerima penyakit)
d) Pasien belum membiasakan segala aktifitasnya dengan berdoa, khususnya sakit yang dideritanya.
2) Intervensi
a) Menjelaskan hakekat tentang ikhlas dan doa.
b) Memotivasi dan edukasi pasien agar menjaga hubungan baik dengan Allah, selalu beribadah dan berdoa kepada-Nya.
c) Memotivasi dan edukasi pasien agar menunjukkan akhlaq yang mulia (ikhlas menerima penyakit) dan menjauhkan diri dari akhlaq yang tercela (tidak ikhlas menerima penyakit).
13 d) Mengajarkan dan membimbing pasien dalam berdoa serta agar membiasakan segala aktifitasnya dimulai dengan berdoa kepada Allah SWT, khususnya doa saat sakit.
Apabila pasien sudah paham terkait akhlak, maka staf tinggal memberikan penguatan, motivasi dan doa
c. Ibadah
Asesmen aspek ibadah difokuskan pada pengetahuan dan pengamalan shalat, khususnya dalam kondisi sakit.
1) Masalah
a) Pasien belum faham hukum beribadah.
b) Pasien belum tahu perihal tatacara tayamum.
c) Pasien belum tahu tatacara shalat kondisi sakit (berdiri/duduk/berbaring).
2) Intervensi
a) Menjelaskan hukum ibadah.
b) Memotivasi agar tetap menjalankan shalat 5 waktu.
c) Mengajarkan tatacara tayamum yang benar.
d) Mengajarkan shalat saat kondisi sakit (berdiri/duduk/berbaring) sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
e) Melakukan evaluasi perkembangan spiritual pasien
Apabila pasien sudah paham terkait ibadah, maka staf tinggal memberikan penguatan, motivasi dan doa
d. Muamalah
Asesmen aspek muamalah difokuskan pada hubungannya dengan keluarga dan tetangga.
1) Masalah
a) Pasien sering bertikai dengan anggota keluarganya
b) Pasien belum menciptakan suasana harmonis di lingkungan keluarga dan tetangga.
14 2) Intervensi
a) Memotivasi dan edukasi pasien agar mewujudkan kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah yang dikenal dengan Keluarga Sakinah.
b) Memotivasi dan edukasi pasien agar menciptakan suasana yang harmonis baik dengan keluarga, tetangga maupun anggota masyarakat lainnya.
Apabila pasien sudah paham terkait akidah, maka staf tinggal memberikan penguatan, motivasi dan doa
3. Evaluasi
Setelah diberikan bimbingan, perlu d evaluasi sejauh mana dampaknya terhadap penerimaan pasien, apabila belum berhasil dalam bimbingan yang disampaikan, maka perlu bimbingan ulang dan bekerjasama dengan PCM setempat dan apabila sudah paham maka akan terlihat seperti di bawah ini :
a. Aqidah
1) Alhamdulillah pasien mampu memahami pengertian syirik, takhayul dan khurafat.
2) Alhamdulillah pasien mampu memahami hukum syirik, takhayul dan khurafat.
3) Alhamdulillah pasien sudah memiliki prinsip hidup dan kesadaran imani berupa tauhid kepada Allah SWT dengan benar, ikhlas, dan penuh ketundukkan.
b. Akhlaq
1) Alhamdulillah pasien mampu memahami hakekat tentang ikhlas dan doa.
2) Alhamdulillah pasien sudah menjaga hubungan baik dengan Allah, selalu beribadah dan berdoa kepada-Nya.
3) Alhamdulillah pasien menerima dengan ikhlas penyakit yang dideritanya dan telah meneladani perilaku Nabi SAW dalam mempraktikkan akhlaq yang mulia, sehingga menjadi uswah hasanah yang diteladani oleh sesama.
4) Alhamdulillah pasien sudah mulai membiasakan segala aktifitasnya dimulai dengan berdoa kepada Allah SWT, khususnya doa saat sakit.
c. Ibadah
1) Alhamdulillah pasien sudah memahami hukum ibadah.
15 2) Alhamdulillah pasien sudah melaksanakan shalat wajib meskipun dalam kondisi
sakit
3) Alhamdulillah pasien mampu melakukan tayamum dengan benar.
4) Alhamdulillah pasien mampu melaksanakan shalat dengan kondisi sakit (berdiri/duduk/berbaring) sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
5) Alhamdulillah pasien mampu mengerjakan tayamum dan shalat dengan didampingi PPJA.
d. Muamalah
1) Alhamdulillah pasien sudah memulai mewujudkan kehidupan Keluarga Sakinahnya dengan menciptakan suasana harmonis bersama keluarga saat berada di Rumah Sakit.
2) Alhamdulillah pasien akan berkomitmen memberikan keteladanan (uswah hasanah), bergaul dengan ma’ruf, saling menyayangi dan mengasihi, saling menghargai dan menghormati dan menjalin persaudaraan dan kebaikan dengan sesama keluarga, tetangga maupun anggota masyarakat lainnya.
Bagi pasien non Muslim rumah sakit Roemani memiliki MOU dengan Kemenag Kota Semaang
B. PELAYANAN ROHANI PASIEN NON MUSLIM
1. Pelayanan kerohanian bagi pasien non Muslim berdasarkan dengan keyakinan Islam adalah sebagai berikut:
a. Mengetuk pintu atau dengan minta persetujuan kepada pasien atau keluarga dengan mengucapkan permisi, kulonuwun atau yang sejenisnya. Memperkenalkan diri sebagai petugas
b. Memberikan nasehat sabar, motivasi, edukasi, dan ucapan lekas sembuh.
c. Keluar dengan mengucapkan terima kasih, dan salam.
2. Pasien menghendaki pelayanan kerohanian sesuai dengan agamanya adalah sebagai berikut:
a. Keluarga atau pasien menyampaikan kepada perawat.
b. Perawat menghubungi petugas kerohanian yang jaga.
c. Petugas kerohanian menghubungi Kemenag Kota Semarang.
16 d. Kemenag menunjuk petugas kerohanian yang sesuai dengan agama atau keyakinan
pasien tersebut.
3. Petugas kerohanian dari Kemenag
a. Menemui petugas kerohanian dan mengisi formulir kunjungan pasien.
b. Memperkenalkan diri kepada perawat bangsal dan menanyakan pasien yang dimaksud.
c. Mengunjungi pasien dengan ramah dan sopan.
d. Mengikuti aturan yang berlaku di Rumah Sakit.
e. Dalam proses pelayanan kerohanian tidak diperkenankan mengganggu pasien lain dan lingkungan Rumah Sakit.
f. Biaya ditanggung oleh pasien sesuai dengan yang sudah ditetapkan.
C. ASUHAN ROHANI PASIEN IBU HAMIL DAN MELAIRKAN 1) Rumusan Masalah dan Intervensi
a. Masalah
1) Pasien belum faham tentang IMD, KB dan imunisasi.
2) Pasien belum faham hukum aqiqah.
3) Pasien belum faham fiqh haid dan nifas.
b. Intervensi
1) Memotivasi dan edukasi agar menyiapkan IMD, menyusui hingga 2 tahun, pemilihan metode Keluarga Berencana (KB) dan imunisasi.
2) Menjelaskan hukum aqiqah.
3) Membimbing fiqh haid/nifas.
Apabila sudah paham, maka staf memberikan penguatan, motivasi dan doa 2) Evaluasi
Setelah diberikan bimbingan, perlu d evaluasi sejauh mana dampaknya terhadap penerimaan pasien, apabila belum paham dan pasien sudah pulang, maka perlu bimbingan ulang dan bekerjasama dengan PCM setempat dan apabila sudah paham maka akan terlihat seperti di bawah ini :
1) Alhamdulillah pasien sudah menyiapkan IMD, akan menyusui hingga 2 tahun, pemilihan metode Keluarga Berencana (KB) dan imunisasi.
17 2) Alhamdulillah pasien sudah memahami hukum aqiqah.
3) Alhamdulillah pasien sudah memahami fiqh haid/nifas.
D. ASUHAN ROHANI PASIEN BAYI DAN ANAK 1. Rumusan Masalah dan Intervensi
a. Masalah
1) Pasien gelisah dan tidak tenang.
2) Pasien tidak sabar dan terus menangis atas penyakit yang dideritanya.
3) Pasien malu dan menutup diri untuk bercerita.
b. Intervensi
1) Memberikan ketenangan batin, keteguhan hati dan doa kepada pasien/keluarga dalam menghadapi penyakitnya.
2) Memberikan motivasi dan dorongan kepada pasien/keluarga untuk tetap bersabar dan bertawakkal dalam menghadapi ujian dari Allah.
3) Menumbuhkan suasana keakraban kepada pasien/keluarga untuk saling berbagi rasa dan cerita.
2. Evaluasi
Setelah diberikan bimbingan, perlu dievaluasi sejauh mana dampaknya terhadap penerimaan pasien, apabila sudah paham maka akan terlihat seperti di bawah ini : a. Alhamdulillah pasien/keluarga sudah merasa tenang batinnya dan hatinya semakin
teguh dalam menghadapi penyakit yang dideritanya.
b. Alhamdulillah pasien/keluarga sudah bersabar dan bertawakkal dalam menghadapi ujian dari Allah.
c. Alhamdulillah pasien/keluarga sudah saling berbagi rasa dan cerita, sehingga menumbuhkan suasana keakraban dengan petugas.
E. ASUHAN PASIEN KRITIS DAN DARURAT / SAKARATUL MAUT
Pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal pada satu atau lebih sistem tubuh dan tergantung pada penggunaan peralatan monitoring dan terapi. Sedangan Pasien darurat adalah pasien dengan kondisi yang bila tidak segera ditolong dapat terancam jiwanya 1. Rumusan Masalah dan Intervensi
a. Masalah
1) Pasien gelisah
18 2) Pasien berprasangka buruk terhadap Allah.
3) Pasien belum berwasiat (harta) kepada sanak keluarga.
b. Intervensi 1) Pasien
a) Bersikap sabar dan senantiasa berikhtiar.
b) Berprasangka baik kepada Allah dan merasa takut sekaligus penuh pengharapan (khauf dan raja’).
c) Berwasiat (harta) kepada sanak keluarga.
2) Petugas / Keluarga / Lembaga Dakwah
a) Menalkinkan (menuntun) dengan lafadz “Laailaaha Illallaah”, menghadapkannya ke arah qiblat (bila memungkinkan) dan mendoakan pasien.
b) Menalkinkan (menuntun) dengan lafadz “Laailaaha Illallaah”, menghadapkannya ke arah qiblat, memejamkan matanya dan mendo’akannya setelah meninggal, menutupinya dengan kain yang bagus, menyegerakan perawatannya, mengumumkan kepada kerabat dan temantemannya, melunasi hutang dan melaksanakan wasiat.
2. Evaluasi
Setelah diberikan bimbingan, perlu dievaluasi sejauh mana dampaknya terhadap penerimaan pasien, apa bila belum paham. Maka staf secara terus menerus mentalkin, dan apabila sudah dapat menerima dan berzdikir, maka akan terlihat seperti di bawah ini :
a. Pasien
1) Alhamdulillah pasien/keluarga sudah bersikap sabar dan senantiasa berikhtiar.
2) Alhamdulillah pasien/keluarga sudah berprasangka baik kepada Allah dan merasa takut sekaligus penuh pengharapan (khauf dan raja’).
3) Alhamdulillah pasien/keluarga sudah melaksanakan wasiat (harta) kepada sanak keluarga.
b. Petugas / Keluarga / Lembaga Dakwah
1) Alhamdulillah petugas/keluarga/lembaga dakwah telah menalkinkan (menuntun) dengan lafadz “Laailaaha Illallaah”, menghadapkannya ke arah qiblat (bila memungkinkan) dan mendoakan pasien.
2) Alhamdulillah petugas/keluarga/lembaga dakwah telah menalkinkan (menuntun) dengan lafadz “Laailaaha Illallaah”, menghadapkannya ke arah qiblat,
19 memejamkan matanya dan mendo’akannya setelah meninggal, menutupinya dengan kain yang bagus, menyegerakan perawatannya, mengumumkan kepada kerabat dan teman-temannya, melunasi hutang dan melaksanakan wasiat.
F. ASUHAN PASIEN TERMINAL
Pasien terminal adalah pasien yang secara medis penyakitnya tidak bisa disembuhkan.
Rumah sakit memberikan asuhan pasien terminal dengan membimbing pasien dan keluarganya untuk berbaik sangka kepada Allah, berserah diri dan mendekatkan diri kepada-Nya, banyak berdzikir, serta ikhlas menerima semua ketentuan Allah.
1. Rumusan Masalah dan Intervensi a. Masalah
1. Pasien gelisah
2. Pasien berprasangka buruk terhadap Allah.
b. Intervensi
Petugas keohanian memberikan asuhan kepada Pasien untuk bersikap sabar dan senantiasa berikhtiar.
Berprasangka baik kepada Allah dan merasa takut sekaligus penuh pengharapan (khauf dan raja’).
2. Evaluasi
Setelah diberikan bimbingan, perlu dievaluasi sejauh mana dampaknya terhadap penerimaan pasien, apabila belum maka perlu bimbingan ulang dan bekerjasama dengan PCM setempat dan apabila sudah paham maka akan terlihat seperti di bawah ini :
a. Pasien
1) Alhamdulillah pasien/keluarga sudah bersikap sabar dan senantiasa berikhtiar.
2) Alhamdulillah pasien/keluarga sudah berprasangka baik kepada Allah dan merasa takut sekaligus penuh pengharapan (khauf dan raja’).
b. Petugas / Keluarga / Lembaga Dakwah
3) Alhamdulillah petugas/keluarga/lembaga dakwah telah membim bing dengan mengajak pasien untuk berprasangka baik kepada allah dan sabar dan selalu ingat kepada Allah
4) Tindak Lanjut
20 1) PCM/PRM.
2) Takmir Masjid/Mushola.
3) Lembaga Dakwah lainnya.
G. PEMULASARAAN JENAZAH
Pasien yang meninggal di RS. Roemani tidak semua dimandikan di RS. Roemani diserahkan kepada keluarga, apakah dimandikan di RS. Roemani atau di rumah, apabila diserahkan ke RS. Roemani maka petugas perlu menyiapkan:
1. Lakukan cuci tangan.
2. Petugas menyiapkan peralatan berupa:
a. Satu ember besar berisi air bersih.
b. Sabun cair dituangkan di baskom sesuai kebutuhan.
c. 2 (dua) buah waslap.
d. 1 (satu) buah samphoo e. 1 (satu) gunting
f. 3 (tiga) pasang handscoon g. 3 (tiga) masker
h. 3 (tiga) pasang sepatu boot i. 3 (tiga) tutup kepala
j. 3 (tiga) buah baju pelindung k. 2 (dua) buah handuk besar.
3. Memakai alat pelindung diri: Handscund, sepatu boot, tutup kepala, baju pelindung, googels, dan masker.
4. Mengangkat jenazah ditempatkan pada meja memandikan.
5. Melepas pakaian atau kain yang masih menempel pada jenazah.
6. Menekan perut jenazah ke bawah dan kemudian membersihkan kotoran yang keluar dari jalan depan dan belakang.
7. Membersihkan kuku-kuku, jari dan tangan jenazah menggunakan kapas dan atau cottonbuth.
8. Niat (dalam hati) memandikan jenazah dengan membaca basmalah.
9. Menyiramkan air dengan gayung ke anggota badan jenazah dimulai dari anggota badan sebelah kanan dan anggota wudlu.
10. Menyiram jenazah dengan air sabun keseluruh tubuh jenazah.
21 11. Membersihkan seluruh tubuh jenazah sambil menggosok dengan menggunakan
waslap, dan kepala dibersihkan dengan shampoo.
12. Membilas jenazah dengan air bersih sampai bersih.
13. Mengeringkan jenazah dengan dua handuk besar.
14. Menyisir rambut jenazah, dan kalau jenazahnya wanita, rambutnya dipintal jadi tiga.
15. Menutup jenazah dengan kain bersih.
Kemudaian setelah selesai dimandikan, maka urutan berikutnya adalah dikafani:
1. Pasang tali dengan jumlah ganjil.
2. Pasang 2 (dua) lapis kain yang sudah dipotong dengan ukuran sepanjang jenazah ditambah dua jengkal, pasang dengan cara ditalikan (lapis 1).
3. Pasang kain ukuran satu depa (160 cm) sebagai sarung yang berfungsi menutup dada sampai lutut dengan dipasang melintang (lapis ke 2).
4. Pasang pempers bila perlu.
5. Taburkan kapur barus halus di atas kain.
6. Percikkan minyak wangi di atas permukaan kain.
7. Letakkan jenazah di atas kain yang sudah ditata dengan tetap tertutup auratnya.
8. Sedekapkan kedua tangannya di atas dada seperti sedekapnya orang shalat.
9. Letakkan kapas disela-sela jari, lubang hidung, telinga dan ketiak.
10. Sisir dan rapikan rambut kepala.
11. Tutup jenazah dengan kain kafan satu depa, untuk menutup jasad jenazah dari dahi sampai mata kaki (lapis 3).
12. Bungkus jenazah dari arah kanan jenazah mulai dari lipatan kain yang paling atas.
13. Ikat jenazah dengan tali kafan, pastikan simpul tali di sebelah kiri.
14. Apa bila jenazahnya wanita, maka ditambah dua lapis kain (kerudung dan kain basahan).
22 BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
A. PENGERTIAN
Keselamatan pasien adalah suatu system yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lemih aman. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI no 1691 tahun 2011, maka yang perlu dilakukan staf adalah:
1. Ketepatan identifikasi pasien
2. Peningkatan ketepatan komunikasi yang efektif 3. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur
4. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan 5. Pengurangan resiko pasien jatuh
B. TUJUAN
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat 3. Menurunnya KTD di rumah sakit
4. Terlaksananya program pencegahan, sehingga tidak terjadi pengulangan KTD
C. KEGIATAN
Proses kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi pasien
2. Komunikasi secara benar dan efektiif
3. Pastikan tindakan yang benar dalam memberikan asuhan
a. Dalam upaya program tersebut Petugas Kerohanian mengidentifikasi bimbingan pasien dengan melihat data dikomputer pasien rawat inap yang baru dan buku laporan kunjungan pasien yang ada di Kantor Kerohanian.
b. Petugas Kerohanian memberikan pelayanan bimbingan rohani dengan kondisi pasien dengan memperhatikan : aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah, selanjutnya dibimbing, dimotivasi dan ajak do’a
c. Evaluasi pelayanan bimbingan rohani pasien dilakukan selama dan setelah bimbingan diberikan
23 d. Monitoring pelayanan bimbingan rohani pasien dilakukan dalam rangka menjaga
mutu pelayanan.
Apabila Pasien Non-Muslim
1. Pelayanan kerohanian bagi pasien non Muslim berdasarkan dengan keyakinan Islam adalah sebagai berikut:
a. Mengetuk pintu atau dengan minta persetujuan kepada pasien atau keluarga dengan mengucapkan permisi, kulonuwun atau yang sejenisnya.
Memperkenalkan diri sebagai petugas
b. Memberikan motivasi, memberikan nasehat sabar, dan mengucapkan semoga lekas sembuh.
c. Keluar dengan mengucapkan terima kasih, dan salam
2. Apabila pasien menghendaki pelayanan kerohanian sesuai dengan agamanya adalah sebagai berikut:
a. Keluarga atau pasien menyampaikan kepada perawat.
b. Perawat menghubungi petugas kerohanian yang jaga.
c. Petugas kerohanian menghubungi Kemenag Kota Semarang.
d. Kemenag menunjuk petugas kerohanian yang sesuai dengan agama atau keyakinan pasien tersebut.
3. Petugas Kerohanian dari Kemenag
a. Menemui petugas kerohanian dan mengisi formulir kunjungan pasien.
b. Memperkenalkan diri kepada perawat bangsal dan menanyakan pasien yang dimaksud.
c. Mengunjungi pasien dengan ramah dan sopan.
d. Mengikuti aturan yang berlaku di Rumah Sakit.
e. Dalam proses pelayanan kerohanian tidak diperkenankan mengganggu pasien lain dan lingkungan Rumah Sakit.
f. Biaya ditanggung oleh pasien sesuai dengan yang sudah ditetapkan.
24 BAB VI1
KESELAMATAN KERJA
A. PENGERTIAN
Keselamatan kerja adalah sarana utama untuk pencegahan kecelakaan, cacat dan kematian. Segala upaya untuk mengurangi resiko kemungkinan terjadinya kecelakaan pada saat kerja.
B. TUJUAN
Tujuannya adalah untuk melindungi keselamatan pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya, untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produktifitas.
C. KEGIATAN
Dalam melaksanakan tugas, pelaksana harus memperhatikan keselamatan kerja:
1. Bimbingan pasien:
a. Cuci tangan sebelum kontak dengan pasien begitu juga setelah selesai b. Menggunakan masker apabila bimbingan pasien yang infeksius 2. Pemulasaraan jenazah:
a. Masker
b. Penutup kepala, Hanscoon, Kaca mata gogle, Sepatu boot, dan Skot.
25 BAB VI11
PENGENDALIAN MUTU
A. MUTU PELAYANAN KEROHANIAN 2022 1. Prosentase asuhan rohani pasien
Judul Indikator Prosentase asuhan bina rohani
Dimensi mutu Kesinambungan pelayanan
Tujuan Untuk penguatan mental spiritual pasien, memberi motivasi, dan tuntunan ibadah serta berdo’a
DefinisiOperasional Kunjungan asuhan bina rohani terhadap pasien baru raawat inap minimal 1 x selama dalam perawatan Frekuensipengumpulan
Data 1 bulan
Periode Analisis 3 bulan
Numerator Jumlah pasien rawat inap yang terkunjungi Denumerator Jumlah seluruh pasien rawat inap
Sumber Data Catatan /register di bag kerohanian
Standar 90 %
Penanggung
Jawab Kepala unit kerohanian
2. Prosentase pendampingan pasien kritis atau pasien gawat (sakarotul maut)
Judul
Indikator Prosentase pendampingan pasien sakarotul maut Dimensi Kesinambungan Pelayanan
Tujuan Tergambarnya prosentase pendampingan pasien sakaratul maut
DefinisiOperasional Bimbingan pasien terminal (sakaratul maut) adalah
26 bimbingan /pendampingan yang dilakukan sejak pasien dinyatakan terjadi penurunan kondisi dan menjelang sakaratul maut
Frekuensi
pengumpulan Data 1 bulan Periode Analisis 3 bulan
Numerator Jumlah pasien yang dilakukan kunjungan < 10 menit
Denumerator Jumlah pasien yang dilakukan kunjungan setelah mendapatkan panggilan
Sumber Data Catatan /buku registrasi di bag kerohanian
Standar 90 %
Penanggung Jawab Kepala unit kerohanian
B. MONITORING
Kegiatan monitoring dilakukan untuk mengetahui proses kegiatan yang dilakukan di bagiah kerohanian terhadap mutu pelayanan. Monitoring dilakukan setiap bulan dengan mengambil data, sehingga dapat diketahui berapa proses yang dapat dilaksanakan sesuai target atau tidak selanjutnya dibuatlah evaluasi, dan analisa. Diperlukan tindak lanjut dari hasil monitoting dan analisa tersebut yang kemudian dilaporkan ke Komite Mutu dan Direktur untuk mendapatkan respon
27 BAB IX
PENUTUP
Demikian Pedoman pelayanan rohani pasien dari Bagian Kerohanian yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam membimbing pasien yang dirawat di RS. Roemani Muhammadiyah, dan dapat dilaksanakan oleh petugas kerohanian dengan sebaik-baiknya.
Ditetapkan di Semarang
Pada tanggal : 09 Dzulhijjah 1443 H
Direktur Utama,
dr. Sri Mulyani, Sp.A, M.Kes, FISQua NBM : 1286.386
08 Juli 2022 M