PELAKSANAAN FUNGSI SOSIALISASI PADA PASANGAN SUAMI ISTRI YANG BERTEMPAT TINGGAL TERPISAH DI NAGARI KOTO BARU KECAMATAN LUHAK NAN DUO
KABUPATEN PASAMAN BARAT
ARTIKEL
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
ARNA DEWI 11070286
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2017
HALAM PENGESAHAN ARTIKEL
Pelaksanaan Fungsi Sosialisasi Pada Pasangan Suami Istri Yang Bertempat Tinggal Terpisah Di Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo
Kabupaten Pasaman Barat
Nama : Arna Dewi
NPM : 11070286
Progaram Sudi : Pendidikan Sosiologi
Jurusan : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Institusi : Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat
Artikel ini telah disetujui oleh dosen pembimbing skripsi, untuk diserahkan ke Prodi Pendidikan Sosiologi.
Padang, Februari 2017
Pembimbing I Pembimbing II
(Drs. Wahyu Pramono, M.Si) (Ikhsan Muharma Putra, M.Si)
PELAKSANAAN FUNGSI SOSIALISASI PADA PASANGAN SUAMI ISTRI YANG BERTEMPAT TINGGAL TERPISAH DI NAGARI KOTO BARU KECAMATAN LUHAK NAN DUO
KABUPATEN PASAMAN BARAT
Arna Dewi
1Drs. Wahyu Pramono,M.Si
2Ikhsan Muharma Putra,M.Si
3Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
Sebaiknya atau idealnya keluarga inti tinggal ditempat tinggal yang sama (satu rumah) baik suami, istri dan anak sehingga fungsi keluarga bisa berjalan dengan baik. Jika sudah terjadi interaksi yang baik antar seluruh anggota keluarga maka perbedaan peran dan waktu. Kondisi yang terpisah juga akan berpengaruh pada pelaksanaan fungsi sosialisasi. Dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, individu tentu harus mempunyai pekerjaan, serta harus mampu bekerja serta bersaing dengan individu lain, karena kita ketahui bersama bahwa pada saat ini khususnya di negara Indonesia masih banyak penduduk yang kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Di Nagari Koto Baru banyak keluarga yang tinggal terpisah karena tuntutan pekerjaan. Tujuan dari dilakukan penelitian ini adalah mendesripsikan gambaran keluarga pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah dan mendeskripsikan pelaksanaan fungsi sosialisasi pada pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah di Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktural fungsional yang dikemukan oleh Talcott Parsons. Jenis penelitian ini adalah pendekatan kualitatif tipe deskriptif, teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan studi dokumen.
Teknik pemilihan informan adalah purposive sampling (informan bertujuan) dimana informan ditetapkan secara sengaja oleh peneliti, jumlah informan berdasarkan kebutuhan dan kecukupan data penelitian, keakuratan data dengan analisis menggunakan teknik Milles dan Huberman.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran keluarga pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah adalah kepala keluarga yang merantau yang berusia di bawah 50 tahun terdir dari 7 KK sedangkan yang berusia 50 tahun terdiri dari 1 KK. Pelaksanaan fungsi sosialisasi pada pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah tersebut yaitu: 1) Komunikasi, komunikasi yang dilakukan melalui perantara HP (handphone) untuk memperlancar komunikasi dengan orang yang berjauhan dengannya. 2) Mengajarkan nilai-nilai, a) Nilai agama, orang tua menanamkan nilai-nilai agama kepada anaknya dengan cara mengingatkan anaknya untuk selalu menjauhi segala larangannya dan mentaati segala perintahnya. b) Nilai kesopanan, keluarga mengajarkan nilai-nilai yang berlaku didalam masyarakat sehingga anak bisa membedakan mana nilai-nilai yang baik dan mana nilai-nilai yang buruk untuk dirinya. 3) Mengajarkan norma, a) Norma adat istiadat, keluarga mengajarkan norma adat kepada anak-anaknya dengan ikut goro dan pergi melayat jika ada yang meninggal. b) Norma hukum, orang tua selalu mengingatkan kepada anaknya bahwa setiap tindakan yang dilakukan baik itu positif maupun negatif pasti ada konsekuensi dan hukumannya.
Kata Kunci :Fungsi Sosialisasi, Pasangan Keluarga
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat 2017
2Pembimbing I Dosen Unand
3Pembimbing II Dosen STKIP PGRI Sumtera Barat
PELAKSANAAN FUNGSI SOSIALISASI PADA PASANGAN SUAMI ISTRI YANG BERTEMPAT TINGGAL TERPISAH DI NAGARI KOTO BARU KECAMATAN LUHAK NAN DUO
KABUPATEN PASAMAN BARAT
Arna Dewi
1Drs. Wahyu Pramono,M.Si
2Ikhsan Muharma Putra,M.Si
3Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
Arna Dewi (11070286), Function Implementation Socialization Couple On The Set Live Separated in Nagari Koto Nan Duo Luhak New District of West Pasaman, Thesis, Department of Educational Sociology STKIP PGRI West Sumatra. Padang, 2017.
Nuclear family should ideally stay or stay the same place (the house) a good husband, wife and children so that families function can run well. If it happens a good interaction between all members of the family and the role of the time difference. Separate conditions will also affect the implementation of the functions of socialization. In economic needs, the individual would have to have a job, and must be able to work and compete with other people, because we know that at this time, especially in the country of Indonesia there are still many people are having trouble finding jobs. In Nagari Koto Baru many families were living apart because of the demands of the job. The purpose of this research is mendesripsikan family picture couples who live apart and describe the implementation of the socialization functions spouses residing separately in Nagari Koto Nan Duo Luhak New District of West Pasaman.
The theory used in this research is the structural-functional theory raised by Talcott Parsons. This research is a descriptive qualitative approach, the technique used in data collection are observation, interviews and document research. Informant selection technique is purposive sampling (informant aims) where the informants are set intentionally by the researchers, the number of informants based on the needs and the adequacy of research data, the accuracy of the data analysis using techniques Milles and Huberman.
The results of this study indicate that the picture of the family couples who live apart is the head of a family who migrated under the age of 50 years terdir of 7 families, while 50-year old made up of 1 KK. Implementation of the functions of socialization on couples who live apart are:
1) Communication, communication through intermediaries HP (handphone) to facilitate communication with the remote to him. 2) Teach values, a) Value religion, parents instill religious values to his son by way of reminding her to always stay away from all prohibitions and obey all his instructions. b) The value of modesty, teach family values prevailing in society so that children can distinguish where the values are good and which values are bad for him. 3) Teach the norm, a) Norma customs, customary norms teach families to their children by participating Goro and go mourn if someone died. b) The rule of law, parents are always reminding her that every action be it positive or negative, there must be consequences and punishment.
Keyword: Fungtion Sosialisation, Patner Family.
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat 2017
2Pembimbing I Dosen Unand
3Pembimbing II Dosen STKIP PGRI Sumtera Barat
PENDAHULUAN
Keluarga adalah wadah yang sangat penting diantara individu dan merupakan kelompok sosial pertama dimana anak-anak menjadi anggotanya (Ahmadi, 2007: 108).
Keluarga merupakan lembaga yang bertugas meneruskan pewarisan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat, karena keluarga merupakan lembaga pertama tempat seseorang melakukan sosialisasi dalam kehidupannya. Ketika keluarga menjadi tempat sosialisasi pertama tentunya dalam keluarga harus tercipta suasana bahagia dan kondisi makmur. Kebahagian dan kemakmuran akan tetap ada dalam masyarakat jika semua orang bertindak benar sebagai anggota keluarga dan menyadari bahwa orang harus mentaati kewajibannya sebagai anggota masyarakat (Goode, 2007: 2).
Manusia tentu sudah ditakdirkan untuk hidup berpasangan sesuai garis kehidupannya. Menikah adalah langkah awal untuk menjadi sebuah keluarga yang sah, baik menurut agama maupun hukum yang berlaku di negara Indonesia. Setiap pasangan tentu mendambakan sebuah keluarga yang bahagia dan mempunyai keturunan yang dirasa cukup bagi setiap pasangan. Pengertian perkawinan menurut ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa : “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Sebagai lembaga paling kecil didalam masyarakat keluarga memiliki fungsi bagi individu yang ada di dalamnya.
Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan didalam atau di luar keluarga. Fungsi disini mengacu pada peran individu dalam mengetahui yang pada akhirnya mewujudkan hak dan kewajiban.
Menurut (Suhendi, 2001: 44-53) fungsi keluarga ada beberapa macam diantaranya:
1) Fungsi biologis, 2) Fungsi sosialisasi anak, 3) Fungsi afeksi, 4) Fungsi edukasi, 5) Fungsi religious, 6) Fungsi protektif, 7)
Fungsi rekreatif, 8) Fungsi ekonomis, 9)Fungsi penentuan status.
Dibalik peranan keluarga juga terdapat anggota keluarga yang menjalankan fungsi masing-masing. Anggota keluarga tersebut terdiri dari individu dengan peran sebagai ayah, ibu dan anak semuanya mempunyai fungsi masing-masing.
Keharmonisan sebuah keluarga tergantung pada fungsi masing-masing individu. Setiap individu tersebut menjalankan fungsinya dengan baik atau tidak akan berkonsekuensi pada berjalannya fungsi keluarga tersebut.
Suami merupakan orang yang paling mempunyai peran dalam mengatur keluarganya. Terutama terkait dengan fungsi kepala keluarga. Kehidupan yang dialami oleh setiap individu pasti tidak akan berjalan lancar sesuai dengan apa yang diinginkannya, begitupun sebuah keluarga yang telah lama menjalin suatu kehidupan bersama, pasti tidak akan luput dari permasalahan yang ada di dalamnya. Semua itu terjadi begitu saja seiring dengan berjalannya waktu, maka dituntut suatu kedewasaan dalam memecahkan setiap permasalahan yang terjadi. Suatu permasalahan tentunya tidak selalu dapat diselesaikan dengan mudah.
Apalagi ketika suatu masalah dalam keluarga muncul dan berkembang menjadi masalah besar, hal ini tentu dapat mengakibatkan munculnya kekacauan dalam keluarga sehingga keutuhan dalam keluarga itu tidak lagi terjadi. Keutuhan dalam keluarga ialah keutuhan dalam struktur keluarga, yaitu di dalam keluarga itu ada ayah, ibu dan anaknya. Apabila ayah atau ibu jarang berkumpul atau terpisah dalam jangga waktu lama atau berbulan-bulan meninggalkan rumah, karena tugas-tugas lain maka struktur keluarga itupun sebenarnya tidak utuh lagi. Selain keutuhan dalam struktur keluarga di maksud pula keutuhan dalam interaksi keluarga, jadi bahwa didalam keluarga berlangsung interaksi yang wajar (harmonis) (Ahmadi, 2007:239-240).
Menghadapi permasalahan yang muncul, ada keluarga yang dapat mempertahankan keluarganya agar tetap
1
harmonis dan ada juga keluarga yang tidak dapat mempertahankan keluarganya ketika dilanda permasalahan keluarga yang dapat berujung pada perceraian. Ada kalanya sebuah keluarga mengalami sebuah krisis keluarga, seperti yang dijelaskan oleh (Willis, 2011: 13) bahwa: Krisis keluarga artinya kehidupan dalam keadaan kacau, tak teratur dan terarah, orang tua kehilangan kewibawaan untuk mengendalikan kehidupan anak-anaknya terutama remaja, mereka melawan orang tua, dan terjadi pertengkaran terus menerus antara ibu dengan bapak terutama mengenai soal mendidik anak-anak. Krisis keluarga seperti ini tentu tidak ingin dialami oleh setiap keluarga, maka perlu adanya suatu pola kehidupan yang tertata rapih serta selalu menyesuaikan kehidupan dengan nilai-nilai dan norma yang ada di masyarakat, hal ini harus dilakukan untuk dapat menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga.
Sebagaimana dikemukakan oleh (Ramulyo, 1996:89) bahwa: Sesuai dengan penghasilannya suami menanggung: a) Nafkah, dan tempat kediaman bagi istri, b) Biaya rumah tangga, biaya perawatan, dan biaya pengobatan bagi istri dan anak, c) Biaya pendidikan bagi anak.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Widayanti (2014), dengan judul Faktor-Faktor Penyebab Perceraian Pada Keluarga Tenaga Kerja Wanita (TKW) Di Desa Citembong, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap mengatakan bahwa salah satu faktor penyebab perceraian adalah kurangnya komunikasi yang disebabkan tempat tinggal yang terpisah. Kurangnya komunikasi diantara suami dan istri menyebabkan retaknya keutuhan rumah tangga pasang suami istri tersebut.
Komunikasi yang baik merupakan salah satu penguat keharmonisan dalam keluarga, apabila komunikasi tersebut tidak berjalan dengan baik maka akan menyebabkan rusaknya suatu hubungan dalam keluarga dan akan menyebabkan perceraian. Angka perceraian menurut data Kementrian Agama 3 tahun terakhir ini mencapai 350. 000 kasus mulai dari tahun 2012-2015.
Sebaiknya atau idealnya keluarga inti tinggal ditempat tinggal yang sama (satu rumah) baik suami, istri dan anak sehingga fungsi keluarga bisa berjalan dengan baik.
Jika sudah terjadi interaksi yang baik antar
seluruh anggota keluarga maka perbedaan peran dan waktu. Kondisi yang terpisah juga akan berpengaruh pada pelaksanaan fungsi sosialisasi. Dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, individu tentu harus mempunyai pekerjaan, serta harus mampu bekerja serta bersaing dengan individu lain, karena kita ketahui bersama bahwa pada saat ini khususnya di negara Indonesia masih banyak penduduk yang kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Di Nagari Koto Baru banyak keluarga yang tinggal terpisah karena tuntutan pekerjaan. Berdasarkan observasi sementara di Nagari ini ada beberapa keluarga yang bertempat tinggal terpisah, terlihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1
Data Suami Yang Merantau No Nama
Suami
Umur Tempat Merantau
Lama Merantau 1. Suwarno 40
Tahun
Malaysia 10 Tahun 2. Boyadi 44
Tahun
Jakarta 12 Tahun 3. Wasit 50
Tahun
Malaysia 15 Tahun
4. Bares 47
Tahun
Malaysia 24 Tahun 5. Ngaliman 46
Tahun
Malaysia 18 Tahun 6. Rudianto 48
Tahun
Batam 10 Tahun
7. Sarni 46
Tahun
Malaysia 15 Tahun
8. Yudi 46
Tahun
Jambi 13 Tahun Sumber: Data Primer
Dari tabel di atas terdapat 8 kepala keluarga yang bekerja di luar kota atau merantau ke luar negeri dengan tidak membawa istrinya sehingga mereka menjalani suatu hubungan jarak jauh. Suatu pilihan hidup yang harus mereka jalani dengan berat, karena ketika mereka harus bertempat tinggal terpisah bukan tidak mungkin keberlakuan fungsi-fungsi ideal keluarga akan berkurang atau bahkan akan hilang. Biasanya mereka yang hidup dalam suatu keluarga dengan bertempat tinggal terpisah akan memiliki intensitas waktu bertemu secara langsung sangat terbatas, mereka selalu mencari celah dan kesempatan yang ada ketika memang mereka memiliki waktu yang cukup serta keuangan yang
2
memadai untuk bisa kembali ke kampung halaman untuk bertemu dengan anggota keluarga lainnya. Mereka yang merantau di dalam negeri biasanya memiliki intensitas waktu yang lebih cepat, mereka pulang kekampung halamannya satu kali dalam setahun ketika memperingati hari besar islam yaitu hari raya idul fitri, sementara itu yang merantau keluar negeri mereka pulang 2 tahun sekali dikarenakan memakan biaya yang banyak untuk pulang. Ketika suami memilih untuk bertempat tinggal terpisah, tentu memunculkan banyak kekhawatiran.
Dari 8 KK tersebut tidak ada yang terlibat perselisihan dalam RT sampai perceraian. Hal ini menjadi menarik untuk diteliti terkait dengan bagaimana pelaksanaan fungsi sosialisasi pada keluarga tersebut bangun sehingga pada saat ini keluarga tersebut dapat berjalan dengan baik. Padahal jika kita amati, rasa rindu akan sosok suami pasti ada, peran setiap anggota keluarga akan dirasa kurang, serta jarang berkumpulnya keluarga yang lengkap di rumah cenderung rawan menimbulkan disorganisasi keluarga. Namun, keluarga- keluarga yang ada di Nagari Koto Baru masih bisa mempertahankan keutuhan keluarganya meskipun banyak pasangan yang harus bertempat tinggal terpisah. Maka timbul beberapa pertanyaan dari peneliti untuk bisa memecahkan masalah yang terjadi melihat kenyataan masih bertahannya suatu keluarga meskipun bertempat tinggal terpisah.
JENIS DATA DAN METODE
Penelitian ini dilakukan selama bulan Desember 2016. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif dan tipe penelitian ini adalah deskritif.
Metode pemilihan informan dalam penelitian ini adalah dengan cara purposive sampling (Sugiyono, 2012:216). Adapun jumlah informan dalam penelitian ini adalah 15 orang. Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan data primer dan sekunder.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara. Model analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis data Miles dan Huberman.
HASIL PENELITIAN
1. Pelaksanaan Fungsi Sosialisasi Pada Pasangan Suami Istri Yang Bertempat Tinggal Terpisah
a. Komunikasi
Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang- orang mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antar sesama manusia, melalui pertukaran informasi (pesan, ide, gagasan) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (Cangara, 2009: 19). Dalam kehidupan bersama setiap individu dengan individu lainnya harus mengadakan komunikasi yang merupakan alat utama bagi sesama individu untuk saling kenal dan bekerja sama.
Komunikasi terbagi dua macam yaitu secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung-face to face (tatap muka), secara tidak langsung (melalui perantara atau alat komunikasi lain).
Keluarga pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah juga mengajarkan kepada anak-anaknya bagai mana cara berkomunikasi atau menyampaikan ide, gagasan kepada orang lain, sehingga orang lain paham dengan apa yang disampaikan si anak kepada mereka maupun kepada orang tuanya. Meskipun sosok seorang ayah tidak berada dirumah akan tetapi sosialisasi tetap bisa dijalankan oleh ayah terhadap anaknya dengan cara komunikasi tidak langsung atau melalui perantara HP (handphone) yang sudah banyak digunakan oleh orang zaman kini untuk memperlancar komunikasi dengan orang-orang yang berjauhan dengannya. HP merupakan alat yang paling penting bagi pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah karena dengan menggunakan hp seorang ayah tetap bisa mengetahui kondisi dan keadaan anak dan istri mereka. Suami dari istri yang merantau ini menelpon paling sedikit 2 kali dalam seminggu bahkan ada yang setiap hari jika suaminya tidak terlalu sibuk. Jika suaminya menelpon, perbincangan yang mereka lakukan tidak lepas dari keadaan anggota keluarganya serta perkembangan dari anak mereka. Apapun yang terjadi di dalam keluarganya baik yang bersifat positif maupun yang negatif seorang istri tidak 3
pernah menutup-nutupinya dari suami mereka begitupun sebaliknya.
b. Mengajarkan Nilai-nilai
1. Nilai Agama
Seorang ayah juga harus membimbing keluarganya agar tetap bersyukur kepada Allah yang maha pencipta.
Salah satu cara bersyukur adalah dengan cara mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam. Pada saat waktu sholat suami senantiasa menelpon istrinya sekedar untuk mengingatkan kepada istri dan anak-anaknya untuk sholat, hal ini dilakukan suami agar anak-anak senantiasa melaksanakan sholat tepat waktu. Jika untuk cara-cara sholat itu merupakan kewajiban dari seorang ibu karena ibu merupakan sosok orang tua yang dekat dengan anak-anaknya. Jika suami sudah mengingatkan maka ibu harus menjalankan apa yang sudah diperintahkan oleh suaminya. Selain itu untuk memperdalam nilai agama orang tua juga menyerahkan anak-anaknya kepada TPA dan TPAQ terdekat.
2. Nilai Kesopanan
Pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah juga melakukan hal demikian, meski sosok seorang ayah tidak berada dirumah ia juga memberikan pengajaran kepada anaknya meski hanya via suara, keluarga pasangan suami istri yang hidup terpisah juga mengajarkan nilai-nilai yang berlaku didalam masyarakat sehingga anak bisa membedakan mana nilai-nilai yang baik dan mana nilai-nilai yang buruk untuk dirinya. Tujuannya agar tindakan yang dilakukan oleh anak bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat, sehingga anak bisa bergaul dengan baik ditengah-tengah masyarakat. Disini ibu sangat berperan dalam membentuk kepribadian anaknya.
Nilai kesopanan sangat perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Orang tua harus mengajarkan kepada anak bagaimana cara berpakaian yang baik, yang sopan dan yang rapi di tengah-tengah masyarakat selain itu orang tua juga harus mengajarkan bagaimana berbicara dengan yang lebih tua, dengan yang sebaya dan dengan yang lebih kecil agar anaknya tidak salah dalam pergaulan. Terlebih lagi apabila
sosok seorang ayah tidak berada dirumah maka tidak ada orang yang akan ditakuti dan disegani oleh anak-anak. Akan tetapi apabila nilai kesopanan tersebut sudah tertanam dalam diri anak meski tanpa adanya sosok ayah ia akan tetap menghargai apa yang sudah ditanamkan kedalam dirinya. Tujuan diajarkan nilai kesopanan kepada anak- anaknya supaya anak-anaknya diterima oleh masyarakat dan tidak menjadi pembicaraan oleh masyarakat, dan supaya anak-anaknya bergaul dalam lingkungan masyarakat maka dengan mudah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
c. Mengajarkan Norma 1. Norma Adat Istiadat
Keluarga pasangan suami istri yang tinggal terpisah juga merupakan masyarakat minangkabau yang memiliki norma-norma adat yang berlaku didalam lingkungan tempat tinggalnya. Karena apabila salah satu anggota keluarga melanggar norma yang berlaku didalam masyarakat mereka akan mendapatkan sanksinya. Agar hal ini terhindar dan tidak dialami oleh anggota keluarga sebagai orang tua tunggal istri harus mampu menjalankan tugasnya untuk menananmkan norma-norma yang berlaku kepada anak-anaknya dengan bantuan dari suami secara berjauhan dengan via telpon.
Orang tua berkewajiban menyampaikan kepada anak-anaknya apabila mereka melanggar norma yang berlaku maka mereka tidak akan dihargai lagi oleh masyarakat
Meski berjauhan ayah dari keluarga yang bertempat tinggal terpisah ini juga mengajarkan bagaimana aturan-aturan yang ada di Nagari Koto Baru. Meskipun ajaran yang diberikan hanya lewat telpon saja seorang ayah tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang memimpin sebuah keluarga, ajaran yang disampaikan oleh ayah akan dijalankan oleh ibu yang berada dirumah. Ibu berkewajiban melihat perkembangan anaknya apakah yang diperintahkan oleh suaminya dijalankan atau tidak oleh anaknya. Selain itu meski sudah disampaikan oleh suaminya, istri juga harus selalu mengingatkan kepada anaknya agar tidak melanggar norma adat yang berlaku didalam masyarakat.
4
Keluarga dari pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah mengajarkan norma adat kepada anak- anaknya dengan ikut goro dan pergi melayat jika ada yang meninggal. Selain itu orang tua juga mengajarkan bahwa adanya hal-hal yang dilarang seperti mengadu ayam, karna hal itu dilang oleh adat di Nagari Koto Baru tersebut dan juga dilarang oleh ajaran agama.hal ini dilakukan supaya anaknya bisa memahami norma adat yang ada dilingkungannya dan supaya anaknya bisa diterima oleh masyarakat agar anaknya tidak mendapat label yang buruk dari masyarakatdan keluargapun tidak mendapat pandangan dari masyarakat tempat mereka tinggal.
2. Norma Hukum
Selain mengajarkan norma adat keluarga dari pasangan suami istri yang tinggal terpisah ini juga mengajarkan norma hukum kepada adanya. Sebagai orang tua mereka selalu mengingatkan kepada anaknya bahwa segala apa yang dilakukan atau setiap tindakan yang dilakukan baik itu positif maupun negatif pasti ada konsekuensi dan hukumannya. Orang tua juga mengajarkan bahwa setiap perbuatan jahat akan memiliki konsekuensi yaitu hukuman yang akan berujung kedalam penjara. Pasangan suami stri yang tinggal terpisah sangat takut anaknya melanggar norma hukum, terlebih lagi orang tua laki- laki mereka tidak berada di rumah. Untuk menghindari hal tersebut orang tua selalu bekerja sama untuk mengingatkan anak- anak mereka agar tidak terjerat oleh norma hukum yang berlaku.
Anak-anak dari pasangan suami istri yang tinggal terpisah sangat takut anak- anaknya terjerat pada pergaulan yang tidak jelas. Orang tua mereka pun sering memberikan nasehat kepada anak-anaknya agar tidak berbuat onar. Karena jika sudah berbuat keonaran maka anak tersebut sudah melanggar norma hukum, dan apabila ada yang memberitahukan kepada pihak yang berwajib mereka akan terkena sanksi hukum. Hal ini sangat membuat orang tua terlebih ibu mereka sangat khawatir terlebih lagi sosok seorang ayah tidak berada di rumah. Sosok seorang ayah merupak sosok yang samgat ditakuti oleh anak-anaknya
sehingga jika anak-anak mereka melakukan kesalahan orang tua laki-lakilah yang harus turun tangan menasehati anaknya. Berbeda dengan anak dari pasangan suami istri yang tinggal terpisah, ibulah yang menjadi orang tua tunggal yang mengurus anak-anaknya selama suami tidak berada dirumah.
KESIMPULAN
Sebaiknya atau idealnya keluarga inti tinggal ditempat tinggal yang sama (satu rumah) baik suami, istri dan anak sehingga fungsi keluarga bisa berjalan dengan baik.
Jika sudah terjadi interaksi yang baik antar seluruh anggota keluarga maka perbedaan peran dan waktu. Kondisi yang terpisah juga akan berpengaruh pada pelaksanaan fungsi sosialisasi. Dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, individu tentu harus mempunyai pekerjaan, serta harus mampu bekerja serta bersaing dengan individu lain, karena kita ketahui bersama bahwa pada saat ini khususnya di negara Indonesia masih banyak penduduk yang kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Di Nagari Koto Baru banyak keluarga yang tinggal terpisah karena tuntutan pekerjaan.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan informan di lapangan yang dilengkapi dengan data-data tertulis, skripsi yang relevan dengan penelitian ini maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Gambaran keluarga pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah di Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat adalah kepala keluarga yang merantau yang berusia di bawah 50 tahun terdir dari 7 KK sedangkan yang berusia 50 tahun terdiri dari 1 KK.
2. Pelaksanaan fungsi sosialisasi pada pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah di Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat adalah 1) Komunikasi, meskipun sosok seorang ayah tidak berada dirumah akan tetapi sosialisasi tetap bisa dijalankan oleh ayah terhadap anaknya dengan cara komunikasi tidak langsung atau melalui perantara HP (handphone) yang sudah banyak digunakan oleh orang zaman kini untuk memperlancar komunikasi dengan
5
orang-orang yang berjauhan dengannya.
2) Mengajarkan nilai-nilai, a) Nilai agama, pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah menanamkan nilai-nilai agama kepada anaknya dengan mengingatkan bahwa agama mereka merupakan agama Islam yang memiliki keyakinan terhadap Allah SWT, dengan menjauhi segala larangannya dan mentaati segala perintahnya.
b) Nilai kesopanan, keluarga pasangan suami istri yang hidup terpisah juga mengajarkan nilai-nilai yang berlaku didalam masyarakat sehingga anak bisa membedakan mana nilai-nilai yang baik dan mana nilai-nilai yang buruk untuk dirinya. Tujuannya agar tindakan yang dilakukan oleh anak bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat, sehingga anak bisa bergaul dengan baik ditengah- tengah masyarakat. 3) Mengajarkan norma, a) Norma adat istiadat, keluarga dari pasangan suami istri yang bertempat tinggal terpisah mengajarkan norma adat kepada anak-anaknya dengan ikut goro dan pergi melayat jika ada yang meninggal. b) Norma hukum, Sebagai orang tua mereka selalu mengingatkan kepada anaknya bahwa segala apa yang dilakukan atau setiap tindakan yang dilakukan baik itu positif maupun negatif pasti ada konsekuensi dan hukumannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2007. Sosiologi Pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial.
Jakarta: Rineka Cipta.
Cangara, Hafied. 2009. Komunikasi Politik.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Goode, J.William. 2007. Sosiologi Keluarga Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitaf, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Suhendi, Hendi dan Ramdani Wahyu. 2001.
Pengantar Studi Sosiologi Keluarga. Bandung: CV Pustaka Setia.
Willis,S.S.2011. Remaja dan Permasalahan.
Bandung: Alfabeta.
6