PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bagi keluarga petani kelapa sawit yang memiliki lahan perkebunan luas, pendidikan bukanlah prioritas utama dalam kehidupan mereka. Sementara bagi keluarga petani sawit yang memiliki perkebunan sawit luas, pendidikan bukanlah hal yang terpenting.
Perumusan Masalah
Tujuan dan Manfaat Penelitian
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan antara petani kelapa sawit kelas bawah dan menengah atas di desa Sialang Pamoran dalam memanfaatkan hasil perkebunan kelapa sawit skala kecil untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan para peneliti, akademisi, instansi pemerintah dan masyarakat mengenai kehidupan masyarakat perkebunan kelapa sawit.
Kerangka Teori
Seseorang dikatakan mempunyai status sosial yang tinggi karena orang lain menempatkannya pada kedudukan yang lebih tinggi darinya atau lebih berharga darinya. Dengan demikian, status sosial dan peran sosial seseorang ditandai dengan sesuatu yang berharga bagi dirinya, sehingga orang lain dapat menempatkan dirinya pada kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat lainnya.
Hipotesis
Menaikkan status sosial seseorang dapat dipengaruhi oleh tingginya tingkat pendidikan, dan juga dapat dipengaruhi oleh luasnya perkebunan kelapa sawit. Ha: Terdapat perbedaan pemanfaatan hasil perkebunan kelapa sawit antara keluarga kelapa sawit kelas bawah dan menengah atas dalam hal pendidikan anak.
Defenisi Konsep
Oleh karena itu pemanfaatan hasil perkebunan kelapa sawit rakyat merupakan pemanfaatan hasil yang sebaik-baiknya agar kelangsungan hidup keluarga dapat terpenuhi, misalnya untuk keperluan pemenuhan kebutuhan hidup keluarga yang meliputi penyediaan kebutuhan pokok keluarga, pendidikan, kesehatan. dan juga untuk bantuan sosial. Prestasi merupakan hasil yang dicapai oleh seseorang/individu, hal ini berkaitan dengan anak-anak dari keluarga petani kelapa sawit yang mencapai prestasi yang cukup baik.
Operasional variabel
Catatan: Yang termasuk dalam kategori keluarga ini adalah keluarga yang memiliki lahan perkebunan kelapa sawit seluas 5-10 hektar dan mempunyai kurang lebih 6 orang pekerja/buruh. Catatan: Yang termasuk dalam kategori keluarga ini adalah keluarga yang memiliki lahan perkebunan kelapa sawit seluas 1-2 hektar dan umumnya keluarga tersebut mempunyai pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan keluarga.
TINJAUAN PUSTAKA
Kebutuhan Dasar Manusia
Semua orang dalam masyarakat membutuhkan atau menginginkan harga diri yang kokoh, mempunyai landasan yang kuat, biasanya mempunyai kualitas yang tinggi, harga diri atau harga diri serta rasa hormat dari orang lain. Kebutuhan aktualisasi diri atau kebutuhan realisasi diri, yaitu keinginan untuk mewujudkan diri sesuai dengan kemampuannya (Maslow.
Motivasi Berprestasi
McClelland mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai suatu kebutuhan yang mendorong seseorang untuk berbuat lebih dari orang lain guna mencapai kesuksesan di masa depan sesuai dengan standar hidup yang ditetapkannya sendiri. Seseorang dengan motivasi berprestasi yang tinggi cenderung menjadi semakin pintar seiring bertambahnya usia, namun perbedaan motivasi berprestasi individu dapat dilihat sejak seseorang berusia lima tahun. Penyebab perbedaan tersebut adalah hubungan antara orang tua dan anak. McClelland mengatakan cara orang tua membesarkan anak mempengaruhi motivasi berprestasi anak.
Pada dasarnya motivasi mengandung tiga komponen utama yaitu menggerakkan, mengarahkan, dan menunjang perilaku manusia.
Peranan Pendidikan
Dimana keinginan seorang anak untuk bersekolah dilatarbelakangi oleh imbalan berupa hadiah yang dapat mendorongnya untuk bersekolah. Kesempatan belajar yang setara diharapkan akan membuka jalan bagi setiap anak untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Wajib belajar atau pendidikan universal memberikan pengetahuan atau keterampilan yang sama bagi semua anak dari semua kelompok sosial.
Pendidikan di sekolah memberikan ilmu pengetahuan yang dapat menjadi pedoman hidup seorang anak untuk mencapai kesuksesan.
METODOLOGI PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Lokasi Penelitian
- Populasi, Sampel dan Informan
- Teknik Pengumpulan Data
- Analisis Data
- Jadwal Kegiatan
- Keterbatasan Peneliti
Tabel sebaran di atas menunjukkan bahwa responden yang menunjukkan status kepemilikannya termasuk dalam golongan bawah, yaitu. Tabel sebaran di atas menunjukkan bahwa responden yang terindikasi kepemilikan perkebunan kelapa sawit merupakan responden kelas. Berdasarkan tabel sebaran di atas terlihat bahwa pentingnya pendidikan disebutkan oleh responden golongan bawah sebanyak 5 orang yang berpendapat sangat penting (25%), yang berpendapat penting sebanyak 15 orang (75 orang). %), yang menganggap kurang penting, tidak ada, dan yang menyatakan sangat penting menjawab tidak penting, tidak ada, sedangkan untuk responden kelas menengah atas yaitu 3 orang menyatakan sangat perlu (7,5%), 25 orang menyatakan penting (62,5%), 10 orang menyatakan tidak penting (25%). ), dan 2 orang (3,33%) menyatakan demikian.
Berdasarkan tabel sebaran di atas diketahui bahwa responden yang menyatakan tingkat pendidikan tertinggi anaknya, untuk responden golongan bawah sebanyak 4 orang yang duduk di bangku SD (20%), 5 orang di bangku SMP (25%). ), 9 orang. SMP sebanyak 9 orang (45%), dan pendidikan tinggi sebanyak 2 orang (10%), sedangkan untuk responden golongan menengah atas sebanyak 10 orang (SD) (25%), SMP sebanyak 18 orang (45%), SLTA sebanyak 8 orang (20%), dan pendidikan tinggi sebanyak 4 orang (10%). .
HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN
Deskripsi Lokasi, Sarana dan Prasarana di Lokasi Penelitian
Jumlah penduduk Desa Sialang Pamoran sebanyak 1405 jiwa yang terbagi berdasarkan jenis kelamin yaitu 409 laki-laki dan 856 perempuan. Dari segi pendidikan, desa ini hanya mempunyai satu sarana pendidikan yaitu Sekolah Dasar, sedangkan Sekolah Menengah Pertama (SLTP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) belum ada. Untuk kegiatan keagamaan di desa ini terdapat masjid sebagai tempat salat Islam.
Sebagai wadah kegiatan sosial di masyarakat, desa ini telah mendirikan beberapa organisasi sosial yaitu STM (Serikat Gotong Royong), Arisan Puja Kesuma dan Pemuda Masjid.
Tabel Distribusi
- Identitas Responden
- Pemanfaatan Hasil Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat (Variabel
- Motivasi (Variabel Antara)
- Pendidikan (Variabel Terikat)
Berdasarkan tabel sebaran di atas diketahui bahwa responden yang menyatakan tidak mempunyai lahan perkebunan kelapa sawit termasuk dalam responden. Berdasarkan tabel sebaran diatas diketahui bahwa diantara responden yang menyatakan hasil panen kelapa sawit per bulan, untuk responden golongan bawah yaitu 1 orang (5%), yang menyatakan tidak ada yang namanya 5 ton yang menyatakan 8 ton tidak ada, dan lainnya sebanyak 14 orang (70%), sedangkan untuk responden kelas menengah atas yaitu yang menyatakan 2 ton tidak ada, yang menyatakan 5 ton sebanyak 4 orang (10 %), yang mengatakan 8 ton sebanyak 6 orang (15%), dan yang lainnya sebanyak 30 orang (75%). Berdasarkan tabel sebaran di atas diketahui bahwa pada responden golongan bawah yaitu yang menyatakan sangat perlu terdapat enam orang (30%) yang menyatakan perlu menerapkan motivasi pendidikan. 14 orang (70%) yang menyatakan tidak perlu ternyata tidak ada. %), yang menyatakan perlu sebanyak 24 orang (60%), yang menyatakan tidak perlu sebanyak 9 orang (22,5%), dan menyatakan tidak perlu sebanyak 3 orang (7,5%).
Dari tabel sebaran di atas diketahui responden yang menyatakan perlunya pendidikan setinggi-tingginya sebanyak 7 orang (25,93%) yang menyatakan sangat perlu, yang menyatakan perlu sebanyak 20 orang (74,07%) yang menyatakan perlu. perlu sebanyak 20 orang (74,07%) yang menyatakan kurang yang tidak perlu dan yang menyatakan tidak perlu, tidak ada, sedangkan untuk responden kelas menengah atas yaitu 2 orang yang menyatakan sangat perlu (3,70%). ), yang menyatakan perlu sebanyak 37 orang (68,52%) yang menyatakan tidak perlu sebanyak 9 orang (16,67%), dan yang menyatakan tidak perlu sebanyak 6 orang (11,11%). Dari tabel sebaran diatas diketahui bahwa responden yang menyatakan perlunya anggaran tersendiri untuk pendidikan, bagi responden golongan bawah yaitu yang menyatakan sangat perlu berjumlah 4 orang (20%), yang menyatakan perlunya anggaran tersendiri untuk pendidikan. perlu sebanyak 15 orang (75%) yang menyatakan tidak perlu, sebanyak 1 orang (5%) dan yang menyatakan tidak perlu tidak ada, sedangkan untuk responden kelas menengah atas yaitu 1 orang orang (2,5%) menyatakan sangat perlu, 22 orang (55%) menyatakan perlu. 15 orang (37,5%) menyatakan memerlukan dan 2 orang (5%) menyatakan tidak memerlukan. Berdasarkan tabel sebaran di atas diketahui responden yang menyatakan pengeluaran pendidikan anak saat ini sebanyak 1 orang (5%) yang menyatakan sangat mahal, 6 orang menyatakan mahal (30%), yang menyatakan mahal. cukup mahal. mahal. 12 orang (60%) dan 1 orang yang menyatakan tidak mahal (5%), sedangkan untuk responden kelas menengah atas yaitu 1 orang yang menyatakan sangat mahal (2,5%), yang menyatakan mahal sebanyak 7 orang (17,5%), yang menyatakan cukup mahal sebanyak 1 orang (2,5%), dan yang menyatakan tidak mahal sebanyak 31 orang (77,5%).
Analisis Perbandingan
Berdasarkan tabel sebaran diatas diketahui responden yang menyatakan manfaat beasiswa pendidikan dalam menurunkan angka putus sekolah, untuk responden golongan bawah yaitu yang menjawab ya ada 20 orang yang menjawab tidak ada (tidak), ada yang menyatakan tidak tahu, tidak ada, dan ada pula yang tidak tahu, sedangkan pada responden kelas menengah atas ada 19 orang yang menyatakan sangat boleh (47,5%), yang menyatakan tidak ada (tidak ada), yang mengatakan tidak tahu sebanyak 21 orang (52,5%), dan lain – lain tidak ada. Dari hasil tabel sebaran di atas diketahui bahwa responden kelas bawah dan menengah atas mengetahui manfaat beasiswa ini yang juga membantu dalam menurunkan angka putus sekolah. Karena U hitung < U tabel maka Ho diterima dengan kata lain data menunjukkan tidak ada indikasi keluarga petani sawit golongan bawah mempunyai tingkat pendidikan anak yang lebih tinggi dibandingkan keluarga petani sawit golongan menengah ke atas.
Yakni tidak ada perbedaan antara keluarga petani sawit kelas menengah ke bawah dan kelas menengah pada keluarga petani sawit kelas bawah dan menengah di desa Sialang Pamoran dalam memanfaatkan hasil kebun sawit manusia untuk pendidikan anak.
Analisis Penelitian
Melihat keinginan orang tua untuk memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada anaknya, terdapat sebanyak 60 responden yang termotivasi untuk menyekolahkan anaknya. Ada alasan tertentu yang memotivasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya, misalnya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang menjamin orang tua dapat memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada anaknya.
Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk memotivasi diri sendiri dan anaknya agar dapat meningkatkan pendidikan anaknya melalui sekolah.
PENUTUP
Kesimpulan
Tidak terdapat perbedaan pemanfaatan hasil perkebunan kelapa sawit antara masyarakat menengah bawah dan menengah atas ditinjau dari pendidikan anak, dimana motivasi orang tua menyekolahkan anaknya rata-rata sama dengan tingkat pendidikan tertinggi anak. . Faktor-faktor yang mempengaruhi orang tua dalam meningkatkan pendidikan anaknya ada yang seperti faktor biaya, faktor motivasi yang terbagi menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, dimana motivasi intrinsik merupakan hal dan kondisi yang berasal dari dalam diri orang tua itu sendiri yang mana dapat mendorong menyekolahkan anak-anaknya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah hal-hal dan keadaan-keadaan yang datang dari luar diri individu yang turut mendorongnya untuk menyekolahkan anaknya.
Saran