PEMBELAJARAN AQIDAJ AKHLAK TAHUN PELAJARAN 2016/ 2017.
AYU AZHARI NIM. 151131089
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNEVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM 2016/2017.
PEMBELAJARAN AQIDAJ AKHLAK TAHUN PELAJARAN 2016/ 2017.
Skripsi Diajukan kepada
Uneversitas Islam Negeri (UIN) MataramUntuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam
Oleh:
AYU AZHARI NIM.151131089
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNEVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM 2016/2017.
Guru dalam Meningkatkan Kedisiplinan di Kelas VII MTs Al-Madaniyah Jempong Barat dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Tahun Ajaran
2016/2017” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk di-munaqasyah- kan. Disetujui pada tanggal 4 April 2017 .
Di bawah bimbingan:
Pembimbing I
Dr. H. M. Natsir, M.Pd NIP: 19551231198031015
Pembimbing II
Jumarim, MHI, S. Ag NIP:197612312005011006
Mataram, 5 April 2017 Kepada
Yth. Rektor IAIN Mataram di –
Mataram Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Setelah diperiksa dan diadakan perbaikan sesuai masukan pembimbing dan pedoman penulisan skripsi, kami berpendapat bahwa skripsi saudara:
Nama : Ayu Azhari NIM : 15.1.13.1.089
Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakuktas : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Judul : Upaya Guru dalam Meningkatkan Kedisiplinan di Kelas VII MTs Al-Madaniyah Jempong Barat dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Tahun Ajaran 2016/2017 Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Mataram. Untuk itu, kami berharap agar skripsi ini dapat dimunaqasyahkan.
Demikian, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Pembimbing I
Dr.H.M Natsir, M.Pd
NIP: 19551231198031015
Pembimbing II
Jumarim,MHI,S.Ag NIP:197612312005011006
VII MTs Al-Madaniyah Jempong Barat dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Tahun Ajaran 2016/2017, oleh Ayu Azhari, Nim: 15.1.13.1.0.89, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram telah dimunaqasyahkan pada hari tanggal 2017 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam.
Dewan Munaqasyah
1. Ketua Sidang / : Dr.H.M Natsir, M.Pd ( ) Pembimbing I NIP. 19551231198031015
2. Sekretaris Sidang / : Jumarim, MHI, S.Ag ( ) Pembimbing II NIP. 19712312005011006
3. Penguji I : Drs. H. Baehaqi, M.Pd ( ) NIP. 1968123119930331028
4. Penguji II : Drs. Ziyad, M.Ag ( ) NIP. 19008281997031003
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Mataram
Dr. Hj. Nurul Yakin, M.Pd NIP. 1964123119911032006
MOTTO:
Disiplin adalah bentuk kebebasan. kebebasan dari kemalasan dan kelesuan, bebas dari harapan dan tuntutan orang lain, bebas dari kelamahan, ketakutan dan dari kerguan.
Skripsi ini saya persembahkan untuk :
1.
يمأ و يبأ
Ayahanda (Salahudin) dan ibundaku ( Nurmi ), sebagai tanda bakti, hormat, dan rasa terimakasih yang tiada terhingga kupersembahkan karya kecil ini kepada ibu dan ayah yang telah memberikan kasih sayang, dukungan, cinta kasih yang tak terhingga yang tiada mungkin dapat kubalas. Terima kasih ibu.… terima kasih ayah….
2.
ة
وخاا و ن
وخا
Saudara-saudaraku tersayang ( Bang Yadi, K‟Vivi, K‟Try, Dek Faradilla, terima kasih atas do‟a dan dukungan serta semangat yang selalu kalian berikan selama ini, aku akan selalu menjadi yang terbaik untuk kalian semua.
3. Untuk Haritsa, terimakasih untuk waktu dan tenaganya, terimakasih untuk nasehatnya sehingga saya bisa menyelesaikan tugas akhir saya dengan baik 4. Dosen pembimbing
Jumarim, MHI,S.Ag dan Dr.H. M.Natsir, M.Pd selaku dosen pembimbing tugas akhir saya, terima kasih bapak, saya sudah dibantu selama ini, dinasehati, dan diajari, saya tidak akan lupa atas bantuan bapak, terima kasih banyak bapak.
5. Teman- teman kelas C yang kusayangi.
6. Almamater IAIN mataram yang kubanggakan.
Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah mencurahkan segala bentuk kasih sayangnya, sehingga peneliti dapat menyelsaikan skripsi ini.
Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan manusia tentang arti kebijakan .
Dengan terselesaikannya skripsi ini, penulis menyampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu membimbing dan dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis tujukan kepada yang terhormat :
1. Dr.H.M Natsir, M.Pd selaku pembimbing pertama dan Bapak Jumarim, MHI,S.Ag selaku pembimbing kedua yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan arahan serta bimbingan kepada penulis dalam menyelsaikan skripsi ini.
2. Kepada para dosen, yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Terimakasih telah begitu banyak menyalurkan ilmunya kepada penulis selama mengeyam ilmu di IAIN Mataram
Penulis menyadari begitu banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat penulis harapkan bagi kemajuan dimasa mendatang.
Akhirnya, semoga skripsi ini bisa menambah keilmuan bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Mataram, 7 Mei 2017 Penulis
HALAMAN SAMPUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN NOTA DINAS... iv
PERNYATAAN KEASLIAN ... v
HALAMAN PENGESAHAN ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
ABSTRAK ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Konteks Penelitian ... 1
B. Fokus Penelitian ... 3
C. Tujuan Dan Manfaat ... 4
1. Tujuan Penelitian ... 4
2. Manfaat Penelitian ... 4
D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian ... 5
1. Ruang Lingkup Penelitian ... 5
2. Setting Penelitian ... 5
E. Telaah Pustaka ... 6
F. Kerangka Teoritik ... 7
1. Pengertian kedisiplinan ... 7
2. Unsur-Unsurs pembentuk disiplin siswa ... 8
a. Kebisaan dan lingkuangan ke1uarga ... 8
b. Pendidikan Agama ... 9
c. Kesadaran mempersiapakan diri ... 9
d. Kejelasan penegak hokum... 10
3. Karakteristik disiplin ... 11
4. Konsep penerapan disiplin dalam pendidikan... 12
5. Pengertian guru ... 14
6. Tugas Guru ... 16
7. Pendidikan akhlak ... 17
G. Metode Peneliian ... 23
1. Pendekatan Penelitian ... 23
2. Kehadiran Peneliti ... 24
3. Sumber Data ... 25
4. Prosedur Pengumpulan Data ... 26
5. Teknik Analisis Data ... 29
6. Validitas Data ... 31
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 44
A. Gambaran Umum lokasi penelitian ... 33
1. Letak Geografis MTs Al-Madaniyah Jempong Barat ... 33
2. Visi daa misi MTs Al-Madaniyah Jempong Barat ... 34
3. Profil MTs Al-Madaniyah Jempong Barat ... 35
4. Letak geografis MTs Al-Madaniyah Jempong Barat ... 35
5. Keadaan pendidik dan tenaga kependidikan MTs Al-Madaniyah Jempong Barat ... 36
6. Keadaan Siswa-Siswi MTs Al-Madaniyah Jempong Barat ... 38
7. Keadaan dan prasarana MTs Al-Madaniyah Jempong Barat ... 29
8. Struktur Organisasi ... 52
B. Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam Meningkatkan kedisiplinan di Kelas VIII MTs Al-Madaniyah Jempong Barat dalam Pelajaran Akidah Akhlak ... 54
C. Problem-Problem yang dihadapi oleh Guru Aqidah Akhlak dalam Meningkatkan kedisiplinan di Kelas VIII MTs Al-Madaniyah Jempong Barat dalam Pelajaran Akidah Akhlak ... 57 D. Solusi yang di Tempuh oleh Guru dalam Mengatasi Problem ketika
BAB III PEMBAHASAN ... 56
A. Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam Meningkatkan kedisiplinan di Kelas VII dalam Pelajaran Akidah Akhlak di MTs Al-Madaniyah Jempong Barat ... 56
B. Problem-Problem Apakah yang dihadapi oleh Guru dalam Meningkatkan kedisiplinan siswa Kelas VIII MTs Al-Madaniyah Jempong Barat dalamPembelajaran Aqida Aklak... 59
C. Problem- Proeblem apakah yang dihadapi oleh Guru dalam meningkatkan kedisipilanan siswa Kelas VII Mts Al-Madaniyah Jempong Barat ... 59
BAB IV PENUTUP ... 66
A. Kesimpulan ... 66
B. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 87 LAMPIRAN
Tabel 2.1 Keadaan Guru dan Pegawai MTs Al-Madaniyah ... 37 Tabel 2.2 Keadaan Siswa-Siswi MTs Al-Madaniyah ... 38 Tabel 2.3 Keadaan Sarana dan Prasarana MTs Al-Madaniyah... 39
AQIDAJ AKHLAK TAHUN AJARAN 2016/ 2017.
Ayu Azhi 151131089
ABSTRAK
Skripsi Ayu Azhari, Nim: 151131089, dengan judul skripsi “Upaya Guru Meningkatkan kedeisiplina siswa Kelas VII MTs Al-Madaniyah Jempong Barat dalam Pelajaran Akidah Akhlak Tahun Ajaran 2016/2017”, Pembimbing I Dr. H. M Natsir, M.Pd., Pembimbing II Jumarim MHI,S.Ag
Penelitian ini difokuskan kajian terhadap Upaya Guru Meningkatkan kedisiplinan siswa Pendidikan di madrashnya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Al-Madaniyah Jempong Barat. Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan adalah metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Upaya Guru Meningkatkan kedeisiplina siswa Kelas VII MTs Al-Madaniyah Jempong Barat dalam Pelajaran Akidah Akhlak Tahun Ajaran 2016/2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya meningkatkan kedisiplinan yang dilakukan oleh guru akidah akhlak lebih menekankan pada nilai kesopan
Problem-Problem yang dihadapi guru akidah akhlak dalam upaya meningkatkan kedisiplinan siswa kelas VII di MTs Al-Madaniyah Jempong Barat yaitu karena faktor dari siswa itu sendiri, faktor keluarga, dimana anak selalu membawa masalah yang dirumah ke madrasah. Cara mengatasinya yaitu dengan cara guru melakukan pendekatan dengan siswa, guru juga melakukan pendekatan dengan orang tua siswa tersebut.
Kata Kunci : Meningkatkan Disiplinan, Aqidah Akhlak.
PENDAHULUAN A. Konteks Penelitiian
Pendidikan merupakan salah satu bidang pembangunan yang sangat penting untuk dikembangkan dalam pembangunan nasional.Tidaklah berlebihan jika pemerintah selalu meningkatkan usaha-usaha dibidang pendididkan, baik formal maupun non formal dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, seperti yang telah di tetapkan dalam UU NO. 20/2003 tentang sistem nasional yaitu“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya peserta didik menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, dan kreatif, disiplin dan menjadi Negara yang demokrasi serta bertanggu jawab.”1
Dalam hubunganya dengan tujuan pendidikan, seorang pendidik harus mampu mempertahankan nilai-nilai positif dalam meningkatkan kedisiplinan siswa.Salah satu tujuan pendidikan yang tertera dalam UU No.20 Tahun 2003 adalah menjadi manusia disiplin.Disiplin terhadap tata tertib merupakan salah satu masalah yang sangat mempengaruhi tujuan pendidikan.Karena itu, dalam setiap lingkungan baik keluarga, masyarakat maupun sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya harus tertib dalam mewujudkan disiplin.Didalam kelas, jika seseorang pendidik tidak dapat menerapkan kedisiplinan dengan baik maka peserta didik menjadi kurang termotivasi, dan suasana menjadi kurang kondusif untuk mencapai prestasi belajar peserta didik.2
Sebutan orang yang memiliki kedisiplinan biasanya tertuju pada orang yang selalu hadir tepat waktu taat terhadap aturan, berprilaku sesuai dengan norma–norma yang berlaku.Sebaliknya, sebutan orang yang kurang disiplin biasasnya ditujukan kepada orang yang kurang atau tidak dapat menaati peraturan dan ketentuan yang berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat,
1 A. Rusdiana, Pendidikan profesi Keguruan, (Jakarata:Pustaka Setia, 2014), h. 15.
2 Suyanto,Penelitian Tindakan Kelas,(Yogyakarta:Multipress,2009), h. 4.
pemerintah, atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu lembaga tertentu, misalnya sekolah.
Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebih efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang akan disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut. Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidkan Nasional yaitu:
Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti luhur, berakhlakul karimah, berdisiplin, pekerja keras, tangguh, tanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, sjuga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetia kawanan.3
Sejalan dengan itu pendidkan nasiaonal akan mampu mewujudkan manusia–manusia pembangun dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa, berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proseses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina, meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa.
Berdasarkan hasil penelitian penduhuluan tanggal 09 juni 2016 diperoleh data bahwa siswa kelas VII MTs Al-Madani kurang disiplin, terutama pada tingkat kehadiran, penggunaan seragam yang tidak sesuai dan pulangnya di luar jadwal yang telah ditentukan, ketiga hal ini belum dilaksanakan secara
3Ibid, h. 8.
efektif. Bagi siswa yang telat memasuki ruangan kelas akan ditahan selama 5- 7 menit, pola guru dalam memberikan hukuman bertolak dengan teori yang berlaku.
Dari uraian konteks penelitian diatas maka penulis mengambil judul:
“Upaya Guru Meningkatkan Kedisiplinan di Kelas VII Mts Al-Madaniyah
Jempong Barat dalam Pembelajaran Akidah Akhlak Di 2016/2017”. B. Fokus Penelitian
Masalah merupakan “kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, maka rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.”4 Permasalahan dalam suatu penelitian perlu dikemukakan sebab akan membatasi permasalahan, sehingga analisis data tidak akan meluas. Adapun permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini, adalah:
1. Bagaimanakah upaya guru akidah akhlak dalam meningkaakan kedisiplinan di kelas VII MTs Al-madaniyah Jempong Barat dalam pembelajaran aqidah Ahlak tahun pelajaran 2016/2017?
2. Problem-Problem apakah yang dihadapi oleh guru Aqidah Ahklak dalam meningkatkan kedesiplinan siswa kelas VII MTs Al-madaniyah Jempong Barat dalam pembelajaran akidah akhlak dalam pembelajaran tahun ajaran 2016/2017?
3. Solusi apakah yang ditempuh oleh guru dalam mengatasi problem ketika meningkatkan kedisiplinan siswa di kelas VII MTs Al-madaniyah Jempong Barat dalam pembelajaran Aqidah khlak tahun ajaran 2016/2017?
4 Sugiyono, Metode Penelitian Pendekatan Kuanti Kuali dan R&D (Bandung:
Alfabeta,2011), h.55.
C. Tujuan dan manfaat 1. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk emngetahui upaya guru dalam meningkatkan kedisiplinan siswa kelas VII MTs Al-Madaniyah Jempong barat dalam pembelajaran Aqidah Akhlak.
b. Untuk mengetahui problem-problem yang dihadapi guru dalam VII MTs Al-Madaniyah JempongBaratdalam pembelajaran Aqidah Akhlak.
c. Untuk mengtahui solusi yang ditempuh oleh guru dalam mengatasi problem ketika meningkatkan kedisiplinan di kelas VII MTs Al- Madaniyah jempong barat dalam pembelajaran Aqidah Akhlak.
2. Manfaat
Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis.
1. Kegunaanan secara teoritis
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan tentang tenggung jawab guru dalam menegakkan aturan disiplin
2. Kegunaan secara praktis.
a. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar tolak ukur perkembangan yang telah dicapai oleh sekolah dan sebagai pertimbangan bagi unsur-unsur yang ada dalam lembaga pendidikan
agar lebih memperhatikan setiap tenaga pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran yang tidak hanya dari aspek kognitif saja melainkan juga dari aspek apektif dan psikomotorik.
b. Bagi guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membentuk kesadaran kepada siswa akan prilaku kurang disiplin ynang dilakukan selama ini.
c. Bagi siswa
Hasil penelitian diharapkan dapat membentuk kesadaran kepada siswa akan perilaku kurang disiplin yang dilakukan selama ini.
d. Bagi Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada peneliti lain untuk mengadakan penelitian yang belum terjangkau dalam penelitian ini.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang lingkup penelitian
Ruang lingkup pada penelitian ini memfokuskan kajian tentang upaya guru dalam kedisiplinansiswa, problem yang dihadapi guru dalam meningkatkan disiplin siswa dan solusi mengatasinya di kelas VII MTs Al- Madaniyah Jempong Barat tahun ajaran 2016/2017.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan di MTsAl-Madaniyah Jempong Barat tahun ajaran 2016/2017.Penelitian ini di lakukan dengan melihat kondisinyata sesuai hasil penelitan pendahuluan, bahwa siswa kelas VII MTs Al-
Madaniyah, kurang disiplin dalam kehadiran penggunaan seragam dan waktu pulang.
E. Telaah Pustaka
Penelitian-penelitian tentang tema ini sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para penulis, antara lain:
1. Juwita Muhammad (Institut Agama Islam Negeri Mataram tahun 2007) dalam skripsinya yang berjudul “Implikasi Tingkat Kedisiplinan siswa Dalam Prestasi Belajar bidang Studi Aqidah Akhlak XI SMA Muhammadiyah Mataram”5
Perbedaannya, 1) Juwita Ahmad melakukan penelitian terhadap iplikasi tingkat kedisipilan siswa dalam prestasi belajar sedangkan peneliti melakukan penelitian pada tingkat ke disiplinan siswa, 2) Juwita Muhamad melalukan penelitian pada kelas XI SMA. Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Juwita Muhammad dengan penulis, yaitu:Penelitian yang dilakukan oleh kedua peneliti sama-sama fokus pada matapelajaran aqidah akhlak dan pendakatan yang digunakan sama-sama pendakatan kualitatif.
2. Azmi (Institut agama islam Negeri Mataram 2009), dalam skripsinya yang berjudul “ Urgensi pendidikan Akhlak dalam membentuk kepribadian siswa dalam mata pelajaran pendidikan akidah akhlak di MI Al- madaniyyah”.6
Perbedaan dan persamaan juduk skripsi Azmi, dengan judul yang disusun oleh penulis, yaitu :
5 Juwita Muhammad, Implikasi Tingkat Kedisiplinan Siswa Dalam Prestasi Belajar bidang Studi Aqidah Akhlak XI SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2007.
6Azmi, Urgensi Pendidikan Akhlak dalam Membentuk Kepribadian Siswa dalam Mata Pelajaran Pendidikan Akidah Akhlak di MI Al-madaniyyah Tahun pelajaran 2009.
1. Azmi melakukan penelitian yang memfokuskan pada akhlak sedangkan peneliti melakukam penelitian yang berkaitan dengan disiplin.
2. Azmi melakukan penelitian memfokuskan pada kepribadian sedangkan penulis memfokuskan pada kedisiplinan.
Persamaannya:
Azmi dan penulis sama-sama menekankan pada pendekatan kualitatif.
F. Kerangka Teoritik
Ada beberapa hal yang menurut peneliti dirasakan perlu untuk dijelaskan dalam kaitannya dengan judul penelitian ini, antara lain :
1. Pengertian Kedisiplinan
Kata disiplin berasal dari bahasa latin ”discipline” yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan kerohanian, dan pengembangan tabiat.
Disiplin yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tenang dan tetap taat walaupun dalam situasi yang sangat menekan.Disiplin merujuk pada intruksi sistimatis yang diberikan kepada murid.7
Untuk mendislipkan berarti mengintruksikan orang untuk mengikuti tatanan tertentu melalui aturan-aturan tertentu. Biasanya kata ”disiplin”
berkonotasi negatif. Ini karena untuk melangsukan tatanan melalui hukuman. Dalam arti lain, disiplin berarti suatu ilmu tertentu yang diberikan kepada murid. Orang dulu menyebutnya vak (disiplin) ilmu.
Disiplin diri merujuk pada latihan yang membuat orang merelakan dirinya untuk melakukan tugas tertentu atau menjalankan pola perilaku tertentu, walaupun bawaannya adalah malas.8
Misalnya, adalah orang yang memilih membaca pelajaran pada saat malam minggu, ketika orang lain santai-santai, adalah orang yang tengah mendisiplikan dirinya. Maka, disiplin diri adalah penundukan diri untuk
7 Didik Suhardi nilai, Karakter Refleksi Untuk Pendidikann (Jakart: PT Grafindo Persada, 2014), h.36.
8 Suharsimi Arikontu Menejemen Pengajaran Secara Manusiawi (Jakarta: PT Rineka cipta,1990), h.110.
mengatasi hasrat-hasrat yang mendasar. Disiplin diri biasanya disamakan artinya dengan ”kontrol diri” (self-control).
”Penggantungan cita-cita merupaka proses kognitif yang menuntut fokus, disiplin,dan keputusan.”9 Disini para pelajar perlu membuat pilihan- pilihan yang sepantasnya berdasarkan sistem motivasi diri mereka, dengan itulah motivasi akan dapat dicapai.
Bagi pelajar untuk bisa berdisiplin, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Spesifik, pelajar harus tepat dan jelas dengan apa keperluannya dapat dilaksanakan
2. Tingkat kesulitan, Target harus bersifat pertengahan, terlalu mudah berati tidak ada tantangan, dan terlalu susah juga akn banyak gagal dan bawaannya akan malas dan menyerah.10
2. Unsur-unsur pembentuk disiplin siswa
Menurut Soejitno dan Rochim, yang dikutip dari buku M. Hosnan dan Suherman, dalam buku yang berjudul Disiplin Kiat Menuju Sukses, unsur-unsur pembentukan disiplin antara lain: a). Kebiasaan lingkungan keluarga b). Pendidikan Agama c). Kesadaran dan mempersiapkan diri e). Teman Bergaul.11
a. Kebiasaan dan lingkungan keluarga
”Kebiasaan dan budaya lingkungan berpengaruh besar pada seseorang dalam membangun disiplin diri. Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak, dilingkungan pertama-tama anak
9 Abdurrakhman Gintings,Belajar Pembelajaran, (Bandung:Humaniora,2012),h.85.
10Ibid, h. 78.
11 M. Hosnan Dan Suherman,Disiplin Kiat Menuju Sukses, (Jakarta: Yudhistira, 2010), h.56.
mendapatkan pengaruh sadar”.12 Karena itu keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, yang bersifat informal dan kodrati, seperti yang dinyatakan oleh Sikun yang dikutip dari buku Fuad Ihsan (Dasar-Dasar kependidikan)”Lingkungan keluarga sering disebut lingkungan pertama dalam pendidikan”.13
b. Pendidikan Agama
Tak dapat dipungkiri bahwa ”agama memegang peranan penting dalam pembangunan disiplin diri”.14 Agama menganjurkan banyak hal tentang kedisiplinan. ”Semua ajaran agama jika dilaksanakan dengan baik maka membentuk kepribadian manusia yang berdisiplin tinggi.”15 Hal tersebut dapat dibuktikan dalam ajaran agama islam, Misalnya di agama islam diatur bahwa, ketika usianya tujuh tahun seorang anak dianjurkan untuk sholat, dan ketika usianya menginjak usia sepuluh tahun seorang anak tidak mampu melaksanakannya maka orang tua bisa memukulnya (dengan maksud mendidik).
c. Kesadaran dan Mempersiapkan Diri
Belajar adalah ”idealnya, sebelum mengajak diri sendiri atau orang lain membangun disiplin diri, langkah awal yang kita lakukan adalah memiliki presepsi yang pas tentang disiplin itu sendiri”.16
Disiplin merupakan kemampuan diri untuk setia melakukan apa yang harus dilakukan, terlepas dari mood yang menyertai, suka atau tidak suka, adapun manfaat dari disiplin diri yaitu:
12Ahmad Juntika Nuhrisan, Mubiar Agustin, Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT Refika Aditama,2013),h. 11.
13 Fuad Ihsan, Dasar- Dasar Kepindidikan , ( Jakarta: PT Renika Cipta, 2005), h. 17
14 Ibid,.h.8
15 Beni Ahmad Saebani, Abdul Hamid, Ilmu Akhlak, (Bandung: CV. Pustaka setia, 2010), h. 7.
16Ibid, h. 110
a. Menjadi lebih produktif
b. Membangun pola pikir yang sehat dan kuat c. Tetap fokus pada tujuan semula.17
Dengan presepsi yang benar maka akan dimperoleh pemahaman yang jelas tentang disiplin. Pemahaman yang jelas dan akurat akan memberikan dorongan kepada diri dalam membangun disiplin diri.
d. Kejelasan Penegak Hukum
Unsur yang terpentinf dalam kedisiplinan adalah ketegasan. Kalau mendambakan sesuatu berjalan dengan terartur dan tertib, satu-satunya cara adalah menegakkan hukum. Setiap bentuk pelanggaran harus dihukumi secara adil dan profesional, hukum harus menjadi panglima, setiap orang mempunyai kedudukan yang sama dimata hukum.18
e. Teman bergaul.
”Anak yang bergaul dengan anak yang kurang baik, maka anak itu akan terpengaruh dengan teman dia bermain.”19 Maka benarlah apayang disabdakan oleh Rasulullah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy‟ari radiyallahuanhu Nabi SAW bersaba:
ْسِمْلا ُلِماَحَف ،ِرْيِكْلا ِخِفاَنَو ِكـْسِمْلا ِلِم اَحَك ِءْوـسلا ِسْيِلَجْلاَو ِحِل اصلا ِسْيِلَجْلا ُلَثَم اَمنِإ ِك
مِإ ِرْيِكْلا ُخِفاَنَو ، ًةَبِيَط اًحـْيِر ُهْنِم َدِجَت ْنَأ امِإَو ُهْنِم َع اَتْبَـت ْنَأ امِإَو َكْي ِدْحُي امِإ َأ ا
َق ِرْحَي ْن
.ًةَثْيِبَخ اًحْيِر ُهْنِم َدِجَت ْنَأ امِإَو َكَب اَيِث
Artinya ”Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pande besi. Seorang penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi, ataupun kamu membelinya, atau pun kamu akan menadapti aroma harum darinya. Sedangkan tukang pande besi, maka bisa jadi akan membakar bajumu,
17 Ike Junita, Meningkatkan Minat Belajar Anak, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 51.
18Ibid, h. 31.
19 Nada Abu Ahmad, 300 Dosa Yang Diremehkan Wanita, (Jakarta:Kiswa,2014), 57.
atau bisa pula kamu akan mendapati aroma yang busuk darinya.”20
Dalam penjelasan hadist ini, Imam Nawawi Rahimahullah mengatakan, hadist ini mengukapkan keutamaan berteman dengan orang-orang shalih, baik, memiliki kepribadian yang luhur, berakhlak mulia, bersahaja, berilmu dan beradab.
Disiplin yang dihubungkan dengan hukuman adalah didiplin yang ada hubungannya dengan orang lain. Hukumaan disini beararti konsekuensi yang harud dihadapi ketika kita melakukan pelanggaran hukum.
Disiplin seperti ini penting, mengingat manusia memang harus dipaksa.
Tanpa pemaksaan, kita mungkin tidak bisa makan nasi. Kita bisa makan segala macam karena orang tua kita mengajarkan cara makan, termasuk memberi makan dari yang paling lunak, sampai yang paling keras secara teratur. Di sekolah, disiplin berarti taat pada peraturan sekolah.
Seorang murid dikatakan berdisiplin apabila ia mengikuti pengaturan yang ada disekolah. Disini pihak sekolah haus melaksnakannya secara adil dan tidak memihak, jika disiplin secara sosial tetap dipertahankan, lama-lama tiap individu pun mengimternalisasi disiplin itu untuk dirinya sendiri.21
Dengan demikian, penegakan disiplin merupakan aktivitas yang menyenangkan yang membawa pada konsepsi masyarakat yang lebih luas dan pada perkembangan fakultas intelektual dan moral kita.
3. Karakteristik disiplin
Menurut Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan dalam Ardimanto disiplin mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
1. Melaksanakan tata tertib dengan baik, baik bagi guru atau siswa karena tata tertib yang berlaku merupakan aturan dan ketentuan yang harus ditaati. Oleh siapapun demi kelancaran proses pendidikan tersebut yang meliputi:
a. Patuh terhadap aturan sekolah atau lembaga pendidikan
20 Imam Buhkari, Shahi Bukhari, (bab anjuran untuk berteman, No.hadis 5534 dan Imam Muslim, Penerjemah, Rohimi dan Zaenal Mutaqin, Shahih Muslim, (Bandung: Jabal, 2013 Hadist 2628 bab: Anjuran untuk mencari teman yang berakhlak baik dan menjauhi teman yang berakhlak buruk)
21 Zakia Daradjat,Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Pratama, 2008), h.89.
b. Mengindahkan petunjuk-petunjuk yang berlaku di sekolah atau satu lembaga tertentu
c. Tidak membangkang pada peraturan berlaku d. Tidak membohong
e. Tingkah laku yang menyenangkan f. Rutin dalam mengajar
g. Tidak suka malas dlam mengajar
h. Tidak menyuruh orang untuk bekerja demi dirinya i. Tepat waktu dalam belajar mengajar
j. Tidak pernah keluar dalam belajar mengajar k. Tidak pernah membolos dalam belajar mengajar
2. Taat terhadap kebijaksanaan atau kebijaksanan yang berlaku:
a. Menerima, menganalisis dan mengkaji berbagai pembaharuan pendidikan
b. Berusaha menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pendidikan yang ada.
c. Menguasai dan intropeksi diri.22
4. Konsep penerapan sikap disiplin dalam pendidikan
Dalam yang luas disiplin mencakup setiap macam pengaruh yang ditunjuskan untuk membantu siswa agar dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan yang mungkin ingin di tujukan siswa terhadap lingkungannya. Dengan disiplin siswa diharapkan bersedia untuk tunduk dan mengikuti peraturan tertentu dan menjauhi larangan tertentu.23
Kesediaan semacam ini harus dipelajari dan harus secara sabar diterima dalam rangka memelihara kepentingan bersama atau memelihara kepentingan sekolah, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Jadi menegakkan disiplin tidak bertujuan untuk mengurangii kebebasan dan kemerdekaan siswa tetapi sebalik nya ingin memberikan kemerdekaan yang lebih besar kepada siswa dalam batas-batas kemampuannya. Akan tetapi jika kebebasan siswa terlampau dikurangi, dikekang dengan peraturan maka peserta didik akan berontak dan mengalami frutasi dan kecemasan.
22 Ardimanto, Disiplin Kiat Menuju Sukses, (Jakarta: Pradika Pramita, 2013), h. 86.
23 Ahmad Rohani,Pengelolaan Pengajaran(Jakarta:PT Rineka Cipta, 2003), h. 156.
Namun demikian mulianya tujuan penegakkan disiplin sering kali tidak mendapat responn yang positif dari siswa, hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yaitu:
1. Kepemimpinan guru yang otoriter yang menyebabkan sikap siswa agresif ingin berontak akibat kekangan dan perlakuan yang otoriter.
2. Kurang diperhatikannya kelompok minoritas baik yang berada diatas rata-ratas maupun yang berada dibawah rata-rata dalam berbagai aspek yang ada hubunganya dengan kehidupan sekolah.
3. Siswa kurang dilibatkan dan diikutsertakan dalam tanggung jawab sekolah.
4. Latar belakang kehidupan keluarga dan sekolah kurang mengadakan kerja sama san saling melepas tanggung jawab.24
Diantara penyebab pelanggaran tersebut, pelanggaran yang umum sering terjadi karena:
1. Kebosanan siswa dalam kelas, dikarenakan yang dikerjakan siswa monoton tidak ada variasi dalam proses pembelajaran.
2. Siswa kurang mendapat perhatian dan apresiasi bagi mereka yang berhasil.
3.1. Penerapan disiplin melalui pembiasaan
Pembiasaan disiplin melalui sekolah akan mempunyai pengaruh yang positif bagi kehidupan peserta didik di masa yang akan datang. Pada mulanya memang disiplin dirasakan sebagai suatu aturan yang mengekang kebebasan peserta didik. Akan tetapi bila aturan ini dirasakan sebagai suatu aturan yang memang seharusnya untuk dipatuhi secara sadar untuk kebaikan diri sendiri dan kebaikan bersama, maka lama kelamaan akan menjadi kebiasaan yang baik menuju ke arah disiplin diri sendiri (self discipline).25 Disiplin tidak lagi merupakan suatu yang datang dari luar yang memberikan keterbatasan tertentu, akan tetapi disiplin merupakan aturan yang datang dari dalam dirinya sebagai sesuatu hal yang wajar dilakukan dalam kehidupan sehaei-hari. Pengalaman utama dalam
24 David Hopkins, Panduan Guru(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2011),h. 35.
25 E.Mulyasa, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung:Rosda,2013),h. 37.
pelaksanaan disiplin akan memberikan kerangka keteraturan hidup selanjutnya. Disiplin diri sendiri hanya akan tumbuh dalam suatu suasana dimana antara guru dan para peserta didik terjallin sikap persahabatan yang berakar pada saling mempercayai.
3.2. Penerapan disiplin melalui tanggung jawab.
Dalam buku ”on becoming A personal Excellent,” tahun 2006, hal 104, oleh Drs. Waidi MBA.Ed, yang dikutip dari buku ”Quantun teaching, Dobbi deporter menyebutkan bahwa salah satu keberhasilan mendidik siswa adalah dengan cara memberinya tanggung jawab. Tanggung jawab merupakan indikator pentig bahwa seseorang memiliki nilai lebih. Untuk itulah seorang anak yang dalam proses pendidikan baik formal maupun non formal perlu dilatih untuk memiliki rasa tanggung jawab.26
5. Pengertian Guru
Pengertian guru menurut undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Guru adalah pendidik Profesional dengan tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Guru merupakan salah satu yang banyak dipakai untuk menyebut seseorang yang dijadikan panutan. Penggunaan istilah ini tidak hanya dipakai dalam dunia pendidikan, tetapi hampir semua aktivitas yang memerlukan seorang pelatih, pembimbing atau sejenisnya.27
Sosok guru menyiratkan pengaruh yang luar biasa terhadap murid- muridnya sehingga baik tidaknya murid sangat ditentukan oleh guru.
Guru adalah orang yang memikul tanggungjawab untuk membimbing dimana dia tidak hanya bertannggungjawab menyampaikan materi pelajaran kepada dia tidak hanya bertanggungjawab untuk materi pelajaran kepada peserta didik tetapi juga bertanggungjawab membentuk kepribadian (moral/akhlak) anak didik bernilai tinggi.
Lebih jauh dijelaskan bahwa guru adalah orang dewasa yang bertanggungjawab memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasan,
26 Lies Sudibyo,dkk.Ilmu SocialBudaya Dasar(Yogyakarta:PT Rineka cipta, 2013),h.142.
27 Ibid, h.70
mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk, mahkluk sosial sebagainya individu yang mampu berdiri sendiri.28
Definisi lain guru sebagai pendidik dalam mengubah dan meningkatkan moral peserta didik bukanlah yang asing lagi untuk dibicarakan. Guru adalah orang yang diberi amanah dan tanggungjawab untuk membimbing.29 Menurut Imam Al-Ghazali, guru adalah ”orang yang berilmu atau orang yang mengemban amanah dalam pembelajaran agama Islam dan memiliki kepribadian yang saleh.”30 Adapun definisi yang lain dijelaskan bahwa guru adalah ”tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan bimbingan, pelatihan, dan pengabdian kepada masyarakat.”31
Masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberikan pencerahan dan Guru juga mempunyai peran penting ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Setiap nafas kehidupan masyarakat tidak bisa melepaskan diri dari peranan seorang guru sehingga eksistensi guru dalam kehidupan kehidupan kemajuan pola hidup manusia. Jadi, guru adalah orang yang mengemban tugas mengajar, mendidik, dan membimbing.
Jika ketiga sifat tersebut tidak melekat pada seorang guru, maka ia tidak dapat di pandang sebagai guru.32
Bahkan guru juga merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai sebagai guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat tertentu, apalagi sebagai guru profesional yang harus menguasai seluk-beluk pendidikan dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu atau pendidikan prajabatan.33
28 Kunandar, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 2005), h.56.
29Oemar. H. Malik, Psikologi Belajar Mengajar (Bandung:Sinar Baru Algensindo, 2014),h.43.
30Ibid, h. 48.
31Ibid, h. 69.
32 Nur Uhbiaty,Ilmu Pendidikan Islam (Bandung:PT. Pustaka Setia,1990), h. 65.
33 Said Hamid Hasan,dkk, Pengembangan Pendidikan Budaya Islam, (Jakarta: Cinta ilmu,1997), h. 45.
”Guru sebagai suatu komponen di sekolah menempati profesi yang memainkan peranan penting dalam proses belajar mengajar.”34 Kunci keberhasilan sekolah ada di tangan guru. Ia mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan siswanya self concept, pengetahuan, keterampilan, kecerdasan, dan sikap, serta pandangan hidup siswa. Oleh karenanya, masalah sosok guru yang di butuhkan adalah guru tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan pada setiap jenjang sekolah.
”Guru pada hakekatnya berhadapan dengan peserta didik calon guru.
Guru yang mendidik calon guru mempunyai tugas dan tanggungjawab lebih besar lagi, karena penampilannya akan menjadi contoh bagi pelaku peserta didiknya dikemudian hari.”35
6. Tugas Guru
Guru adalah sosok manusia yang harus digugu dan ditiru. Predikat itu disandang dari pagi kala dia bangun tidur sampai mala saat itu dia masuk peraduan. Peran tersebut akan sangat terasa apabila sosok guru mengajar di daerah atau desa-desa yang jauh dari hingar bingar manusia. Tugas guru sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesinalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi. Tugas guru sebagai pendidik berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan kepelatihan dan menerapkannya dalam kehidupan demia masa depan anak didik.36
Hal diatas baru menampakkan sebagian tugas dari seorang guru sebagai pendidik. Selain itu juga guru sebagai pengajar, sebagai pelatih, dan sebagai pembimbing. Apabila tugas mulia guru tersebut dilaksanakan tanpa pamrih, ikhlas, sabar dan profesional, Insya Allah akan dapat meningkatkan guru iru sendiri, dan pada gilirannya (tidak mustahil) akan menjadi guru kaya.37
34 Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia,2001), h. 19.
35Ibid.,h. 65.
36 Isjoni, Menuju Masyarakat Belajar (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009), h.26.
37 Zainal Aqib, Guru Profesional Berstandar Nasional (Bandung: Yrama Widya, 2010),
Menurut Amir Tengku Ramlydalam buku, Muhaimin Paradigma Pendidikan Islam, guru kaya dapat di artikan dalam empat hal utama terkait dengan dirinya dan dunia pengajaran Disebut guru kaya, karena:
1. Apabila seorang guru memiliki cara pandang bahwa jabatan guru itu adalah profesi, oleh karena itu senantiasa harus dilatih keahliannya sehingga melahirkan sosok guru pemilik dan perancang.
2. Apabila guru memiliki pola khusus dengan siswa yang mengedepankan sikap proaktif da mentalitas yang kaya
3. Apabila guru mampu melakukan proses pengajaran yang senantiasa tidak mematikan potensi siswa terkait antara dunia pengajaran dengan realitas.
4. Apabila seorang guru belajar mengintegrasikan otak kiri, otak kanan, panca indra dan hatinya untuk memperoleh sumber ilmu yang hakiki.38 7. Pendidikan Akhlak
Pendidikan akhlak adalah “pendidikan mengenai dasar-dasar akhlak dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak dia kecil hingga ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah.”39Pendidikan akhlak adalah “usaha sadar dan tidak sadar yang di lakukan oleh seorang pendidik untuk membentuk kepribadian yang baik dari segi jasmani maupun rohani, sehingga terbentuk manusia yang taat kepada Allah.”40Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wata‟aala:
Artinya” mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oelh Allah maka ikutilah mereka.” (QS. Al-An‟am: 90).”41
1. Mendidik dengan Kebiasaan
h.3.
38 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), h.96.
39Ibid,.h 123
40Juhaya, ilmu akhlak ( Bandung : CV Mustika Setia, 2012), h. 201
41 Depertemen RI., Al-Qur‟an dan terjemahan(Ponerogo: CV Penerbit, 2014), h. 138.
Telah ditetapkan dalam syari‟at Islam bahwa anak semenjak lahir sudah diciptakan dalam keadaan bertauhid yang murni, agama yang lurus, dan iman kepada Allah.Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wata‟ala:
Artinya“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, ( tetaplah atas ) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui .”(QS. Ar-Ruum : 30).”42
Dari sini, tibalah saatnya pembiasaan, pendidikan, dan pendisiplinan mengambil perannya dalam pertumbuhan anak dan menguatkan tauhid yang murni, akhlak yang mulia, jiwa yang agung, dan etika syari‟at yang lurus.Sudah tidak diperselisihkan lagi bahwa pketika anak memiliki dua faktor ini: factor pendidikan Islam yang luhur dan factor lingkungan yang kondusif, sudah bisa dipastikan anak tersebut akan tumbuh dalam iman yang kuat, memiliki akhlak Islam, serta mencapai puncak keagungan jiwa dan pribadi yang mulia.
2. Mendidik dengan Nasihat
Satu lagi metode pendidikan yang efektif dalam membentuk keimanan anak, akhlak, mental, dan sosialnya, adalah metode mendidik dengan nasihat.Metode yang digunakan Rasulullah Shalallu „alaihi wa sallam sebagai guru utama dan pertama kita
42Ibid.,h. 407.
adalah yang terbaik dalam menyampaikan nasehat. Berikut metode yang digunakan Beliau:
1. Metode berkisah
2. Metode dialog dan bertanya (yang menuntut jawaban) 3. Metode dialog dan bertanya (yang menuntut jawaban)
4. Memulai penyampaian nasihat dengan sumpah atas nama Allah Subhanahu wa Ta‟ala
5. Menyisipkan canda dalam penyampaian nasihat
6. Mengatur pemberian nasihat untuk menghindari rasa bosan 7. Membuat nasihat yang sedang disampaikan dapat menguasai
spendengar
8. Menyampaikan nasihat dengan memberikan contoh 9. Menyampaikan nasihat dengan peragaan tangan
10. Menyampaikan nasihat melalui media gambar dan penjelasan 11. Menyampaikan nasihat dengan memanfaatkan momen atau
kesempatan
12. Menyampaikan nasihat dengan menunjukkan perkara yang di haramkan.43
3. Mendidik dengan Perhatian dan Pengawasan
Maksud dari pendidikan dengan perhatian adalah mengikuti perkembangan anak dan mengawasinya dalam pembentukan akidah, akhlak, mental, dan sosialya.Dengan terus mengecek keadaanya dalam pendidikan fisik dan intelektualnya.44
43 Said hamid Hasan, ddk, pengembangan pendidikan budaya islam, (Jakarta: Cinta Ilmu, 1997), h. 85.
44Ibid,.h. 40.
Tujuan mata pelajaran Aqidah Akhlak Kelas VII MTs Al-Madaniyah yang tertera di silabus yaitu:
KOMPETENSI INTI KOMPETENSIDASAR
1.Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
1.1Menghayati Al-Quran sebagai implementasi dari pemahaman rukun iman.
1.2Beriman kepada Allah SWT 1.3Beriman kepada malaikat Allah SWT 1.4Menerapkan ketentuan bersuci dari hadas
kecil dan hadas besar berdasarkan syariat Islam
1.5Menunaikan shalat wajibberjamaah
sebagai implementasi dari pemahaman rukun Islam 1.6Menunaikan shalat Jumat sebagai implementasi dari
pemahaman Q.S. Al- Jumu„ah (62): 9
1.7Menunaikan shalat jamak qasar ketika bepergian jauh (musafir) sebagai implementasi dari pemahaman ketaatan beribadah
2.Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
2.1Menghargai perilaku jujur sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al- Baqarah (2): 42 dan hadis terkait 2.2Menghargai perilaku hormat dan patuh
kepada orang tua dan guru sebagai implementasi dari Q.S.
Al-Baqarah (2): 83 dan hadis terkait
2.3 Menghargai perilaku empati terhadap sesama sebagai implementasi dari Q.S. An-Nisa (4): 8 dan hadis terkait 2.4Menghargai perilaku ikhlas, sabar, dan pemaaf sebagai
implementasi dari
pemahaman Q.S. An-Nisa (4):146, Q.S. Al Baqarah (2):153, dan Q.S. Ali Imran (3):
134, dan hadis terkait
2.5Menghargai perilaku amanah sebagai implementasi dari Q.S. Al- Anfal (8): 27 dan hadis terkait
2.6Menghargai perilaku istiqamah sebagai implementasi dari pemahaman QS Al-
Ahqaf (46): 13 dan hadis terkait 2.7Menghargai perilaku semangat menuntut
ilmu sebagai implementasi dari pemahaman sifat Allah (Al-
‟Alim, al- Khabir, as-Sami‟, dan al-Bashir) dan Q.S. Al- Mujadilah (58): 11 dan Q.S. Ar-Rahman (55):33 serta hadis terkait
2.8Meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW periode Mekah dan Madinah 2.9Meneladani sikap terpuji
Khulafaurrasyidin 3.Memahami pengetahuan (faktual,
konseptual, dan prosedural)
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
3.1 Memahami makna al-Asmaul-Husna: Al-
‟Alim, al-Khabir, as-Sami‟, dan al-Bashir 3.2Memahami makna iman kepada malaikat
berdasarkan dalil naqli 3.3 Memahami kandungan Q.S. Al-
Mujadilah (58): 11 dan Q.S. Ar-Rahman (55):
33 serta hadits terkait tentang menuntut ilmu.
3.4 Memahami makna empati terhadap sesama sesuai kandungan Q.S. An-Nisa (4): 8 dan hadis terkait
3.5 Memahami kandungan Q.S. An-Nisa (4) : 146, Q.S. Al-Baqarah (2): 153, dan Q.S.
Ali Imran (3): 134 serta hadis terkait tentang ikhlas, sabar, dan pemaaf 3.6 Memahami makna amanah sesuai
kandungan Q.S. Al-Anfal (8): 27 dan hadis terkait
3.7 Memahami istiqamah sesuai kandungan Q.S. Al-Ahqaf (46): 13 dan hadis terkait 3.8 Memahami ketentuan bersuci dari hadas
besar berdasarkan ketentuan syari‟at Islam
3.9 Memahami ketentuan shalat berjamaah 3.10Memahami ketentuan shalat Jumat 3.11Memahami ketentuan shalat Jamak
Qasar
3.12Memahami sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW periode Mekah 3.13Memahami sejarah perjuangan Nabi
Muhammad SAW periode Madinah 3.14Mengetahui sikap terpuji
khulafaurrasyidin 4.Mencoba, mengolah, dan menyaji
dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah
abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
4.1 Menyajikan contoh perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al- Asmaul-Husna: Al-‟Alim, al-Khabir, as- Sami‟, dan al-Bashir.
4.2 Menyajikan contoh perilakuyang mencerminkan iman kepada malaikat.
4.3.1 Membaca Q.S. Al- Mujadilah (58):11,
Q.S. Ar-Rahman (55): 33, Q.S. An-Nisa (4):
146, Q.S. Al-Baqarah (2): 153, dan Q.S. Ali Imran (3): 134 dengan tartil
4.3.2 Menunjukkan hafalan Q.S. Al- Mujadilah (58):
11, Q.S. Ar-Rahman (55): 33, Q.S. An-Nisa (4):146, QS. Al Baqarah (2):153, dan Q.S. Ali Imran (3):
134 dengan lancar.
4.4 Mencontohkan perilaku empati terhadap sesama sesuai kandungan QS An-Nisa (4): 8 dan hadis terkait
4.5.1 Membaca Q.S.An-Nisa (4): 146, Q.S. Al- Baqarah (2):
153, dan Q.S. Ali Imran (3): 134 dengan tartil 4.5.2 Menunjukkan hafalan Q.S. An-Nisa (4):146, QS. Al
Baqarah (2):153, dan Q.S. Ali Imran (3): 134 dengan lancer
4.6 Mencontohkan perilaku amanah sesuai kandungan Q.S.
Al-Anfal (8): 27 dan hadis terkait
4.7 Mencontohkan perilaku istiqamah sesuai kandungan QS. Al-Ahqaf (46): 13 dan hadis terkait
4.8 Mempraktikkan tata cara bersuci dari hadas besar 4.9 Mempraktikkan shalat berjamaah
4.10 Mempraktikkan shalat Jumat
4.11 Mempraktikkan shalat jamak dan qasar
4.12 Menyajikan strategi perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. periode Mekah
4.13 Menyajikan strategi perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. periode Madinah
4.14 Mencontohkan perilakuterpuji dari Khulafaurrasyidin
Penjelasan: setiap yang dikasi titik merah memiliki kaitan dengan tujuan pembelajaran di madrasah.
IPK ( Indikator Pencapaian Kompetensi )
Silabus MTs Al-Madaniyah.45
KOMPETENSI INTI IPK
1.Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
1.7 Meyakini adanya malaikat Allah Subhanahu wata‟ala sehingga menambah keimanan kepada Allah Subhanahu wata‟ala.
2.Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
2.2 Membiasakan diri dengan hidup disiplin, prilaku jujur, tanggung jawab, peduli dan santun dalam kehidupan sehar-hari.
3.Memahami pengetahuan (faktual,
konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
3.7 Menjelaskan pengertian malaikat dan membandingkan dengan manusia dan jin.
45Silabus MTs Al-Madaniyah.
pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
3.8 menjelaskan tugas-tugas malaikat.
4.Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah
abstrak (menulis, membaca,
menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
4.7 Menunjukan prilaku berima pada Allah ta‟ala.
G. Metode Penelitian
a. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian merupakan rencana tentang cara mengumpulkan dan menganalisa data agar dapat dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan tujuan penelitian itu. Dalam penulisan proposal ini pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat kualitatif.Penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan dalam melakukan penelitian yang berorientasi pada gejala-gejala yang bersifat alamiah.Karena orientasinya demikian, maka sifatnya naturalistik dan mendasar atau bersifat kealamiahan serta tidak bisa dilakukan dilaboratorium melainkan lapangan.
Pendekatan kualitatif menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong Lexy J adalah sebagai “Prosedur penelitian yang smenghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku syang diamati”46.
Sedangkan menurut Margono yang dikutip dari buku Hani Handoko dalam buku “Sistem PengendalianManajemen” menegaskan bahwa
46 Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Rosda Karya, 2010), h.13.
“pendekatan penelitian kualitatif perhatianya lebih banyak ditujukan pada pembentukan teori subtantif berdasarkan dari konsep-konsep yang timbul dari data empiris.47
Menurut Margono penelitian kualitatif mempunya karakteristik yaitu:
1. Natural Setting, data yang dikumpulkan secara langsung dari lingkungan nyata dalam situasi sebagaimana adanya keadaan subyek peneliti.
2. Manusia sebagai instrument peneliti atau dengan bantuan orang lain (responden)
3. Bersikap deskriptif
4. Lebih mementingkan proses dari pada hasil 5. Analisa data secara induktif
6. Desain yang bersifat sementara
7. Adanya batas yang ditentukan oleh fokus adanya kriteria khusus untuk keabsahan data
8. Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.48 Dalam hal ini peneliti akan mendapatkan data tentang:
a. Bagaimana upaya guru Aqidah Akhlak dalam meningkatkan kedsiplinan di kelas VII MTs Al-Madaniya Jempong Barat dalam pembelajaran Aqidah Akhlak tahun ajaran 2016/2017.
b. Problem-problem yang dihadapi oleh guru Aqidah Aklak dalam meningkatkan kedisiplinan siswa kelas VII MTs Al-Madaniya Jempong Barat dalam pembelajaran Aqidah Akhlak tahun ajaran 2016/2017, c. Solusi yang di tempuh oleh guru dalam mengatasi problem ketika
meningkatkan kedisiplinan siswa kelas VII MTs Al-Madaniya Jempong Barat dalam pembelajaran Aqidah Akhlak tahun ajaran 2016/2017.
b. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan sebagai instrument
sekaligus sebagai pengumpul data sehingga keberadaannya di lokasi penelitian mutlak diperlukan.Kehadiran peneliti di lokasi penelitian
47Hani Handoko, Sistem Pengendalian Manajemen,( Jakarta : Binarupa Askara, 2010) h.
54
48Ibid,. h. 18.
perlu digambarkan secara eksplisit dalam laporan penelitian.Perlu juga dijelaskan apakah kehadiran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh.Demikian pula, perlu dijelaskan apakah subjek atau informan mengetahui kehadiran peneliti dalam statusnya sebagai peneliti.49
Kehadiran peneliti di tempat penelitian harus terbuka dan menjelaskan maksud penelitian yang dilakukan kepada subyek yang diteliti sehingga peneliti lebih bebas bertindak untuk mencari dan mengumpulkan data yang diibutuhkan.
c. Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini adalah
“subyek dari mana data di peroleh.”50Data adalah “segala keterangan, (informasi) mengenai segala hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian.Sedangkan sumber data merupakan subjek darimana data di peroleh.”51 Data di klasifikasikan maupun dianalisis untuk mempermudah dalam menghadapi pemecahan permasalahannya. Dan mengingat penelitian ini bukan hanya bersifat praktis tapi juga teoritis, maka sumber data dalam penelitian ini adalah hasil penelitian lapangan dan kepustakaan, yaitu :
1. Data Kepustakaan (Data Sekunder/Dokumentasi)
Data kepustakaan adalah “data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau dari sumber-sumber lain yang tersedia dinamakan data sekunder”.52 Bahan-bahan sumber sekunder dapat berupa artikel-artikel,
49 Tim Revisi Pedoman-pedoman Penulisan Skripsi IAIN Mataram, Pedoman Penulisan Skripsi, h. 49.
50 Ibid,. h. 64.
51 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan( Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 144.
52 Pudjo bintoro, Metode Penelitian, (Bandung: Renike Partama, 2002), h. 86.
buku-buku, majalah, surat kabar, dan pendapat para ahli, serta tulisan- tulisan yang lain yang ada kaitannya dengan masalah yang di teliti.
Sumber data dari kepustakaan ini peneliti gunakan sebagai data sekunder (pelengkap) dari penelitian ini.
2. Data Lapangan (Data primer)
Data lapangan adalah data yang di peroleh melalui tekhnik wawancara dan observasi dari informan seperti dalam sebuah keluarga khususnya orang tua yang berperan penting dalam proses pendidikan akhlak anak. Adapun tekhnik dalampenentuan subjek ini adalah Purposiv samplingyaitu tekhnik penetuan sample dengan pertimbangan tertentu.53
d. Prosedur Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data diperlukan alat pengumpul data.Alat untuk mengumpulkan data tersebut adalah metode.Data diperlukan untuk menjawab masalah penelitian.
Dalam proses pengumpulan data peneliti akan menggunakan beberapa prosedur dan tekhnik pengumpulan data sebagai berikut.
a. Metode Observasi
Metode observasi adalah penelitian yang dilakukan dengan cara pengamatan terhadap obyek, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.Sedangkan Hadi, juga menjelaskan tentang pengertian observasi yaitu suatu tekhnik untuk mendapatkan data melalui pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena yang diselidiki.54
Adapun jenis- jenis observasi yaitu :
1. Observasi partisipasi, merupakan salah satu dari jenis Sobservasi.observasi partisipasi pada umumnya dipergunakan untuk peneliitian yang bersifat ekspolaratif.
53 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D ( Bandung: Alfabeta, 2011), h.85.
54Ibid, h. 87
2. Observasi sistematik, observasi sistimatis biasa disebut dengan observasi berkerangka.
3. Observasi eksperimental.
4. Observasi partisipan.
5. Observasi nonpartisipipan.55
Adapun jenis observasi yang digunakan adalah Observasi nonpartisipan, adalah observasi yang dilakukan oleh pengamat tanpah mengikuti kegiatan yang sedang diamati (diteliti) untuk memperoleh data tentang:
1. Upaya guru akidah akhlak dalam meningkaakan kedisiplinan di kelas VII MTs Al-madaniyah Jempong Barat dalam pembelajaran aqidah Ahlak tahun pelajaran 2016/2017.
2. Problem-Problem yang dihadapi oleh guru Aqidah Ahklak dalam meningkatkan kedesiplinan siswa kelas VII MTs Al-madaniyah Jempong Barat dalam pembelajaran akidah akhlak dalam pembelajaran tahun ajaran 2016/2017.
3. Solusi yang ditempuh oleh guru dalam mengatasi problem ketika meningkatkan kedisiplinan siswa di kelas VII MTs Al-madaniyah Jempong Barat dalam pembelajaran Aqidah khlak tahun ajaran 20 16/2017.
b. Metode Wawancara ( interview )
Interview adalah “sebuah kegiatan wawancara yang dilakukan oleh pewawancara sebagai penanya dan nara sumber sebagai orang yang ditanya.”56 Kegiatan ini dilakukan untug tentamencari inforamasi,
55 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, h. 88.
56 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 165.
meminta keterangan atau menanyai pendapa tentang suatu permasalahan kepada seseorang dengan kata lain, bisa disimpulkan bahwa interview adalah kegiatan menggali informasi dari narasumber dengan cara tanya jawab.
Adapun jenis-jenis interview sebagai berikut:
Ada beberapa kegiatan wawancara yang dikelompokan berdasarkan cara pelaksanaanya yaitu :
a. Wawancara tertutup, adalah sebuah kegiatan yang dilakukan secara tertutup.
b. Wawancar terbuka, yaitu wawancara yang dilakukan degan tidak merahasiakan informasi mengenai narasumbernya dan juga memiliki pertanyaan yang tidak terbatas atau tidak terikat jawabanya.
c. Wawancara konverensi, adalah wawancara yang dilakukan oleh seorang pewawancara dengan sejumlah nara sumber dan sebaliknya.
d. Wawancar kelopmpok, adalah wawancara yang dilakukan oleh sejumlah pewawancara kepada nara sumber dan dilaksanakan dalam waktu bersamaan.
e. Wawancara individual, adalah wawancara yang dilakukan oleh pewawancara dengan seorang narasumber.
f. Wawancara terpimpin, wawancara ini disebut juga wawancara terstruktur.
g. Wawancara bebas, adalah jenis wawancara yang pertanyaanya tidak disiapkan terlebih dahulu.57
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawanacara terbuka, Wawancara individual, Wawancara bebas, untuk menggali informasi tentang:
1. Upaya guru akidah akhlak dalam meningkaakan kedisiplinan di kelas VII MTs Al-madaniyah Jempong Barat dalam pembelajaran aqidah Ahlak tahun pelajaran 2016/2017.
2. Problem-Problem yang dihadapi oleh guru Aqidah Ahklak dalam meningkatkan kedesiplinan siswa kelas VII MTS Al-madaniyah
57Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 82.