Nama : Nur Sahrah Thalib
Nim : 2306432
Fakultas : Ilmu Pendidikan
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Mata Kuliah : Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD Kelas Tinggi
Dosen Pengampu : Dwi Heryanto, M.Pd.
Judul Film : Budi Pekerti Sutradara : Wregas Bhanuteja
Produser : Adi Ekatama, Ridla An-Nuur, Willawati, dan Nurita Anandia W
Genre : Drama
Pemeran : Sha Ine Febriyanti sebagai Prani Siswoyo, Dwi Sasono sebagai Didit Wibowo, Angga Aldi Yunanda sebagai Muklas "Animalia" Waseso, Prilly Latuconsina sebagai Tita Sulastri, Omara Esteghlal sebagai Anggoro
"Gora" Sambudi Putra, Ari Lesmana sebagai Tunas Anuraga, Nungki Kusumastuti sebagai Bu Tunggul
Tanggal Rilis : 2 November 2023 Penulis Naskah : Wregas Bhanuteja
Durasi : 1 Jam 51 Menit
Negara Asal : Indonesia
Produksi : Rekata Studio dan Kaninga Pictures Bahasa : Indonesia
Sinopsis
Film Budi Pekerti mengambil latar belakang lokasi di Yogyakarta ketika masa pandemi Covid-19 tengah melanda. Budi Pekerti mengambil setting ketika protokol kesehatan sedang gencar-gencarnya diterapkan seperti SWAB Test secara berkala, Work from home, Sekolah daring, hingga penggunaan masker setiap kali berada di ruang publik.
Film ini berkisah tentang seorang guru Bimbingan Konseling (BK) yang bernama Bu Prani (Sha Ine Febriyanti). Bu Prani digambarkan sebagai sosok guru disiplin dan tegas pada muridnya di sekolah. Ketika muridnya terbukti melakukan kesalahan, Bu Prani menerapkan pola refleksi (penyebutan kata ganti hukuman). Tujuan refleksi ini adalah memberikan penyadaran kepada murid untuk memahami dampak buruk atau akibat dari kesalahan yang telah dilakukan sehingga dapat menimbulkan efek jera. Refleksi yang diterapkan Bu Prani kepada murid saat melakukan kesalahan bermacam-macam bentuknya namun sarat akan pesan moral. Seorang murid mampu menjalaninya dengan penuh kesadaran, bukan paksaan, atau beban hukuman.
Kemudian diceritakan bahwa Bu Prani memiliki dua orang yakni Tita (Prilly Latuconsina) dan Muklas Waseso (Angga Aldi Yunanda). Mereka seringkali berkontribusi terhadap perekonomian keluarga dengan cara mereka sendiri. Muklas dikenal sebagai pembuat konten bertema hewan yang memiliki 100 ribu followers di sosial media, sedangkan Tita menjalankan bisnis jual pakaian bekas alias thrift shop, sekaligus tergabung dalam sebuah band indie.
Cerita bermula ketika Bu Prani sedang merawat suaminya yang diketahui mengalami Bipolar Disorder dan membutuhkan perawatan dari seorang psikiater
dan dalam hal ini Bu Tunggul yang diperankan oleh Nungki Kusumastuti. Bipolar adalah kondisi di mana seseorang mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis, misalnya yang tadinya merasa bahagia, tiba-tiba menjadi murung. Gangguan ini disebut juga dengan manik depresif. Ada dua jenis episode dalam gangguan bipolar, yaitu episode mania (fase naik) dan depresi (fase turun).
Ketika mengalami episode mania, pengidap akan terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan berbicara dengan cepat. Sedangkan pengidap yang mengalami periode depresi akan terlihat sangat sedih, lesu dan putus asa. Hal tersebut yang dialami oleh Pak Didit (Dwi Sasono) dalam film Budi Pekerti, dimana terlihat Pak Didit kesulitan untuk mengontrol suasana hati yang ia miliki.
Dari sinilah, masalah pertama Bu Prani mulai terlihat ketika ia harus membayar resep Pak Didit yang relatif mahal untuk kondisi perekonomian yang ia miliki. Meski begitu, Bu Prani tetap menebus obat tersebut dengan sisa tabungan yang ia miliki.
Pada suatu sesi konseling yang dijalani oleh Pak Didit, Bu Prani bertemu dengan salah seorang muridnya yang telah lulus bernama Gora (Omara Esteghlal) yang belakangan diketahui juga memiliki sesi konseling bersama Bu Tunggul. Bu Prani dan Gora pun kemudian terlibat percakapan singkat terkait apa pekerjaan Gora saat ini serta kehidupannya setelah lulus SMP. Gora lalu merekomendasikan Bu Prani agar membeli cemilan tradisional yakni putu legendaris di Yogyakarta.
Putu tersebut terletak di sebuah pasar tradisional, dimana para pelanggan rela mengantri selama berjam-jam untuk dapat mendapatkannya.
Masalah kedua berlatar ketika Bu Prani dan sang suami baru saja sampai di rumah mereka setelah sesi konseling bersama Bu Tunggul. Saat itu terlihat pemilik kontrakan rumahnya sedang menawarkan kontrakan tersebut kepada orang lain. Ternyata Muklas (Angga Aldi Yunanda) yang mengizinkan hal tersebut. Bu Prani lalu marah kepada pemilik kontrakan dan menyuruhnya untuk pergi, ia juga menegaskan tak berniat meninggalkan kontrakan tersebut. Bu Prani lalu diingatkan oleh pemilik kontrakan bahwa ia telah menunggak pembayaran kontrakan selama dua bulan.
Tak cukup dengan semua itu, masalah ketiga pun muncul. Masalah ketiga
inilah yang menjadi salah satu poin penting dari alur film ini. Berawal dari Bu Prani yang mendatangi pasar tradisional tempat putu legendaris tersebut dijual. Bu Prani sedang terburu-buru sebab harus mengikuti kegiatan latihan lompat tali di sekolah. Ketika sedang menunggu antrian untuk membeli, Bu Prani menghadapi permasalahan lain yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Hidup Bu Prani tiba-tiba berubah ketika sebuah video perselisihannya dengan seorang pengunjung pasar yakni pemuda berjaket kulit hitam dan bapak- bapak dengan gambar elang di bajunya tersebar di media sosial. Video yang beredar tersebut menampilkan konfrontasi emosional antara Bu Prani dan Bapak dengan baju bergambar elang di tengah kerumunan orang-orang yang tengah mengantri membeli putu.
Ketika perselisihan itu sedang terjadi, tanpa sepengetahuannya ada seseorang yang merekam dan mengunggahnya pada media sosial. Video tersebut kemudian viral, dibagikan, dan ditonton oleh banyak orang. Selanjutnya video yang telah diunggah tersebut akhirnya viral dan mendapatkan komentar negatif dari netizen. Netizen menilai sebagai seorang guru, sikap Bu Prani tidak mencerminkan seorang guru yang baik. Hal tersebut kemudian menimbulkan sorotan negatif terhadap citra Bu Prani sebagai seorang guru.
Dari video tersebut kemudian permasalahan datang bertubi-tubi dalam kehidupan Bu Prani, mulai dari fitnah, perlakuan kasar, ketidakpercayaan orang sekitar, konflik keluarga, hingga krisis ekonomi yang melanda keluarganya akibat pandemi Covid-19. Hal ini membuat Bu Prani harus merasakan banyak sekali penderitaan dan tekanan.
Video yang telah viral tersebut akhirnya didengar oleh kepala sekolah tempat Bu Prani mengajar. Atas kejadian tersebut pihak sekolah mengancam akan mengeluarkannya dari sekolah apabila Bu Prani tidak segera menyelesaikan masalahnya. Di sisi lain film, Bu Prani sedang mengikuti seleksi naik jabatan sebagai wakil kepala sekolah, dengan bekal kredibilitasnya selama mengajar bertahun-tahun. Alasan Bu Prani bersedia mengikuti seleksi naik jabatan ini sederhana. Ia ingin memiliki uang lebih untuk biaya berobat suaminya, sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Selain berdampak pada sekolah, kejadian itu juga ikut berdampak pada keluarganya. Keluarga Bu Prani tidak bisa tenang karena identitas mereka selalu dicari-cari kesalahannya. Selain itu, mereka dihakimi dan dikecam atas kejadian tersebut.
Tak hanya berkutat dengan masalah pribadi, Bu Prani juga harus menjalankan tugasnya sebagai seorang guru dan membantu mengatasi masalah- masalah pribadi siswanya. Disinilah integritas Bu Prani sebagai seorang guru, ibu, dan istri harus diuji.
Resensi
Kisah ini menceritakan kehidupan milik Bu Prani seorang guru BK salah satu SMP di Yogyakarta. Kehidupan Bu Prani ditimpa oleh berbagai macam masalah pelik yang kerap kita saksikan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Dimana tanpa kita sadari, masalah tersebut sangat dekat dengan realita yang kita lihat saat ini.
Ada berbagai macam isu yang diangkat dalam film ini, salah satu yang cukup menyita perhatian yakni tindakan menyebarkan video tanpa persetujuan dengan tujuan untuk memperoleh popularitas dan viral semata tanpa memikirkan bagaimana video tersebut dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Seperti yang dialami oleh Bu Prani dalam film ini yakni ia menegur Bapak dengan baju bergambar elang sebab menyelak antrian. Setelah beradu mulut dan situasi kian ramai, Bu Prani kemudian mengalah dan pergi. Kata-kata yang diucapkan oleh Bu Prani sebelum meninggalkan pasar kemudian disalah artikan oleh banyak orang. Dimana Bu Prani mengatakan Ah Suwi (Ah Lama) namun disalah artikan menjadi Asui (Anjing). Video saat bu Prani mengatakan kata tersebut kemudian viral dan bahkan diangkat menjadi lagu viral. Bu Prani kemudian terkenal sebagai guru yang memiliki kontrol emosi yang kurang dan tidak mencerminkan pribadi seorang guru.
Hal lainnya yang di highlight dalam film ini adalah bagaimana masyarakat saat ini dengan mudah menghakimi orang lain berdasarkan potongan klip pendek yang ia lihat. Padahal hal tersebut belum tentu kebenarannya.
Masyarakat dengan mudah menilai hanya dari satu sisi saja tanpa mempertimbangkan bagaimana kebenaran yang sebenarnya terjadi.
Dalam film Budi Pekerti, kebenaran seolah hanya milik sekelompok orang, kebenaran hanya ditentukan dari banyaknya orang yang menganggap hal yang sama sebagai sesuatu yang benar, kebenaran hanya seperti adu kekuatan.
Seperti dalam petikan dialog yang diucapkan oleh Muklas bahwa kebenaran hanya milik mereka yang bicaranya lebih banyak.
Padahal lebih dari itu, kebenaran seharusnya berakar dari hati nurani.
Kebenaran yang hakiki harus disuarakan dengan lantang, dan tidak takut akan diskriminasi serta ancaman dari orang lain.
Film ini juga mengangkat isu penting terkait bahaya dari Sosial Media itu sendiri. Dimana ketika telah mengalami kecanduan maka akan berdampak buruk pada kehidupan. Dalam film ini diceritakan bahwa Muklas telah mengalami kecanduan parah. Di salah satu adegan ia berbohong kepada followersnya bahwa Bu Prani bukanlah ibunya yang tentu saja melukai hati Bu Prani. Adegan lainnya yang cukup menyita perhatian serta menyayat hati adalah ketika Muklas bersama seorang temannya menyiram Bu Prani dan Tita di pinggir jalan dengan air kuburan. Hal tersebut dilakukan oleh Muklas sebab ia ingin netizen membela ibunya atas dasar rasa kasihan. Padahal tindakan muklas tersebut jelas salah dan tidak dapat dibenarkan sebab hanya menimbulkan masalah baru bagi Bu Prani.
Kelebihan :
Film ini mengangkat banyak isu yang menarik dan dapat kita saksikan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa adegan terasa sangat real dan membuat penonton menganggung-angguk tanda setuju terhadap isu yang tengah ditampilkan dalam film. Selain itu, film ini dapat menjadi bentuk aware bagi masyarakat terhadap bahaya bersosial media dengan tak bijak.
Kekurangan :
Kekurangan yang saya rasakan terletak pada beberapa adegan. Misalnya
ketika Tita mendatangi kantor Gaung Tinta. Dimana dialog Tita bersama beberapa anggota Gaung Tinta terasa kurang natural, terkesan kaku, dan based on script. Selain itu, pada adegan dimana Pak Didit hilang terasa kurang bagi saya sebab pada awalnya dijelaskan bahwa Tita, Bu Prani dan Muklas bekerja sama agar Pak Didit tidak mengetahui masalah yang ia hadapi, namun di akhir cerita justru Pak Didit lah yang menjadi salah satu kunci dari penyelesaian masalah mereka, dimana ternyata Pak Didit diam-diam mendatangi Bu Tunggul untuk mencari cara menyelesaikan masalah yang ada.