TIGA PILAR DALAM OLAHRAGA
Pendahuluan
Lebih lanjut pada Pasal 17 Bab VI disebutkan bahwa ruang lingkup olahraga meliputi kegiatan (a) olahraga pendidikan, (b) olahraga rekreasi, (c) olahraga prestasi. Ayat 3 menyatakan bahwa sistem keolahragaan nasional adalah seluruh aspek keolahragaan yang saling berkaitan secara terencana, sistematis, terpadu, dan berkelanjutan sebagai satu kesatuan yang meliputi pengaturan, pendidikan, pelatihan, pengelolaan, pelatihan, pengembangan, dan .
Olahraga Pendidikan
Terakhir menurut Achmad Paturusi (2012) mengatakan “pendidikan jasmani dan olah raga pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang digunakan. Dapat kita simpulkan bahwa tujuan pendidikan jasmani sesuai dengan uraian di atas adalah sebagai berikut :.
Olahraga Prestasi
Jika ingin menjadi juara di tingkat internasional, maka ikutilah standar internasional yang berlaku pada cabang olahraga tersebut. Jika ingin menjadi juara tingkat nasional (misalnya PON), maka ikutilah standar nasional (bahkan internasional karena mungkin saja ada juara internasional yang mengikuti PON) yang berlaku pada cabang olahraga tersebut.
Olahraga Rekreasi
Kemajuan pendidikan jasmani dalam pendidikan nasional baru dimulai dengan diakuinya eksistensinya dalam bidang pendidikan jasmani (dan olah raga). Tujuan akhir dari pendidikan jasmani dan olahraga, menurut De Coubertin (orang Perancis yang memprakarsai kebangkitan Olimpiade modern), adalah agar pendidikan jasmani menjadi sarana pengembangan karakter dan mendorong pengembangan kebajikan moral (Lutan, 2001). .
GAMBARAN OLAHRAGA SECARA UMUM
Nilai-Nilai Olahraga
Sifat watak yang dinilai atau tidak adalah nilai moral.Menurut Mudji Sutrisno (2005), “nilai adalah sesuatu yang dianggap berharga oleh seseorang atau sekelompok orang dan dijadikan acuan tindakan dan penafsiran arahnya. Mengenai peran olahraga dalam memenuhi peran kehidupan bermasyarakat, Husdarta (2011) menyatakan bahwa “nilai-nilai dalam olahraga erat kaitannya dengan tradisi budaya masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya.
Ruang Lingkup Olahraga
Harus diakui bahwa sampai saat ini latihan jasmani di sekolah belum mampu menanamkan nilai-nilai luhur olahraga pada persepsi siswa. Ada nilai-nilai penting yang terkandung dalam pendidikan jasmani seperti sportivitas, tanggung jawab, kerjasama, kejujuran dan lain sebagainya.
OLAHRAGA DAN PARTISIPASI OLAHRAGA
Olahraga dan Kesehatan
Hal ini tentunya tidak hanya disadari oleh para pengambil kebijakan olahraga yang memimpinnya, namun juga oleh tingkat kesadaran masyarakat dalam berpartisipasi dalam olahraga. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam upaya mewujudkan masyarakat sehat dan bugar dengan membangun fasilitas olahraga dan pusat kebugaran berstandar internasional dengan mengedepankan manfaat dari segala aspek.
Olahraga dan Interaksi Sosial
Olah raga yang teratur sudah menjadi suatu kebutuhan sebagai pola hidup sehat bagi masyarakat, hal ini terlihat dalam bentuk olah raga pagi, jalan sehat, fitnes, futsal, bola voli, sepak bola dan rekreasi bersepeda yang juga sering diadakan oleh masyarakat. Sebab, bangsa Indonesia memegang teguh UUD 1945 yang menjadi landasan kelangsungan hidup setiap masyarakat dan kelompok yang selalu damai di tengah perbedaan. Bukan tanpa alasan, pendidikan yang memberikan pengetahuan tentang manfaat olahraga menjadi landasan banyak masyarakat yang mulai menyukai olahraga, bahkan sudah menjadi suatu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.
Olahraga dalam Pembangunan Nasional
Dalam pendidikan jasmani, gerak merupakan salah satu ciri khusus yang patut menjadi tanda pendidikan jasmani. Berdasarkan penjelasan di atas, pendidikan jasmani dan olah raga sarat akan nilai dan dapat membantu membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, pembentukan karakter adil sangat penting untuk ditanamkan pada siswa melalui pendidikan jasmani dan olahraga.
NILAI NILAI KARAKTER DALAM PENDIDIKAN
Konsep Dasar Pendidikan Olahraga
Mengingat pendidikan merupakan hal yang utama, maka tidak heran jika nilai-nilai pendidikan sangat penting untuk ditonjolkan dalam kegiatan olahraga. Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa kegiatan olahraga mengandung nilai-nilai yang sangat penting bagi kehidupan dan kemanusiaan. Sayangnya, meskipun nilai-nilai ini sangat penting dalam olahraga, namun dalam praktiknya jauh dari diinginkan.
Dekonstruksi Nilai-nilai Olahraga
Dengan bermain sepak bola misalnya, siswa tidak hanya belajar keterampilan seperti menendang dan menggiring bola, tetapi juga bagaimana bekerja sama, percaya dan menghormati orang lain. Nilai-nilai luhur olahraga yang wajib diajarkan dan dijunjung tinggi terdistorsi oleh keinginan untuk menang dan mengalahkan orang lain. Permasalahan distorsi nilai-nilai olahraga pada dasarnya bukanlah hal baru dan sudah menjadi permasalahan internasional.
Karakter
Kewarganegaraan, suatu bentuk karakter yang menjadikan seseorang sadar akan hukum dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam. Tanggung jawab, suatu bentuk karakter yang menjadikan seseorang bertanggung jawab, disiplin dan selalu melakukan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 adalah agar pendidikan tidak hanya membentuk manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang berkarakter, guna mewujudkan generasi yang tumbuh dan berkembang dengan karakter yang dijiwai nilai-nilai luhur Pancasila.
Hakikat Pendidikan Karakter
Proses pembinaan dan penguatan ranah afektif dapat terlaksana dengan baik bila dilakukan pada tingkat satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Fokus pembelajaran pada ranah afektif adalah pada perasaan, nilai, perilaku sosial dan sikap yang berkaitan dengan gerak manusia. Pembelajaran ranah afektif dalam konteks pendidikan jasmani dan olah raga artinya siswa mempelajari konsep-konsep seperti sportivitas, fair play, menghargai orang lain, menghargai perlengkapan, pengendalian diri, tanggung jawab dan motivasi.
Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Jasmani Dan
Pada tingkat satuan pendidikan, penanaman nilai-nilai afektif dilakukan secara terpadu dengan proses belajar mengajar (KBM) pada setiap mata pelajaran, melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, dan melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Nilai-nilai afektif pendidikan perlahan mulai hilang di kalangan generasi muda akibat dampak globalisasi dan modernisasi. Pengembangan karakter dalam pendidikan jasmani dan olahraga Kami menyadari bahwa pendidikan jasmani dan. untuk dicapai melalui pendidikan nilai-nilai di sekolah.
Makna Pendidikan Jasmani Berbasis Karakter
Mengapa Perlu Pendidikan Jasmani Berbasis
- Pengembangan Peserta Didik Melalui Penjas
Tommie dan Wendt (1993) mencatat bahwa beberapa tema umum muncul dalam penelitian mengenai aspek psikososial pendidikan jasmani. Dalam posisi yang sangat sentral dan berpengaruh, guru pendidikan jasmani harus menyampaikan nilai-nilai dan filosofi melalui olahraga karena hal ini berdampak langsung pada pengalaman olahraga partisipatif generasi muda (Steelman, 1995). Pengalaman bisnis yang diperoleh siswa dalam pendidikan jasmani merupakan faktor penting dalam meningkatkan aktivitas jasmani dan partisipasi olahraga.
Strategi dan Rekonstruksi Pembelajaran
Identifikasi nilai berkaitan dengan nilai moral apa yang paling sedikit harus dimiliki oleh seorang individu. Dari beberapa literatur, setidaknya terdapat enam nilai moral yang harus dimiliki individu, yaitu: rasa hormat, tanggung jawab (Lickona, 1991); kepedulian, kejujuran, keadilan dan kewarganegaraan (Martens, 2004). Nilai-nilai moral yang melekat pada olahraga harus diintegrasikan, dibangun dan ditransformasikan ke dalam struktur dasar penalaran siswa.
Evaluasi Pembelajaran Penjas Karakter
Bahwa pendidikan jasmani adalah olah raga dan kegiatan jasmani yang dilakukan sebagai bagian dari proses pendidikan yang teratur dan berkesinambungan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani. Karena peluang yang diberikan untuk menunjukkan pengembangan karakter, pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium pengalaman manusia. Di kalangan siswa, karakter bertanggung jawab ini dapat dikembangkan dalam mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga serta kegiatan rekreasi.
OLAHRAGA SEBAGAI MINIATUR KEHIDUPAN
Fungsi Olahraga dalam Pendidikan
Yang diteliti dalam konteks ini adalah bagaimana olahraga mempengaruhi pendidikan dan bagaimana olahraga berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Berdasarkan rencana transformasi dan kontribusi olahraga terhadap pencapaian tujuan pendidikan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam olahraga, sudah sepantasnya olahraga dijadikan landasan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagai tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20. Olahraga merupakan upaya untuk mencapai tujuan pendidikan dalam proses pembangunan manusia sehingga dapat menunjang fungsi jantung, otak, dan indera.
Konsep Pendidikan Jasmani di Sekolah
Kedelapan tujuan pendidikan jasmani tersebut di atas menjadi pedoman bagi guru pendidikan jasmani dalam melaksanakan tugasnya. Undang-undang yang mengatur sistem pendidikan nasional di Republik menetapkan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga harus diajarkan dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah. Jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain, pendidikan jasmani dipandang sebagai pengajaran yang menekankan pada jasmani, sehingga identik dengan menggunakan otot tanpa berpikir atau merasakan (yaitu tanpa menggunakan otak atau hati).
Olahraga dan Keseimbangan Sosial
Momen unik yang terjadi pasca final pencak silat Asian Games 2018 ini menjadi gambaran penting bagaimana olahraga bisa menjadi penstabil sosial. Tentu saja kita dapat menarik kesimpulan bahwa olahraga dapat menjadi cara ideal untuk mengurangi atau bahkan mencegah keluhan. Olahraga dapat dianggap sebagai alat integrasi dalam situasi ini karena dirancang dengan mempertimbangkan subsistem sosial seperti perbedaan kelas, tingkat pendidikan, dan masyarakat.
Fungsi Olahraga dalam Kemasyarakatan
Di forum internasional, olahraga berperan sebagai duta negara dan digunakan dalam perayaan diplomatik pencapaian perdamaian dunia. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan olahraga sebagai alat diplomasi publik telah menciptakan peluang penyelesaian konflik, yang dapat mengarah pada kesepakatan damai antara kedua belah pihak dan pada akhirnya reunifikasi. Hal ini lebih lanjut menyiratkan bahwa titik temu antara olahraga dan pengucilan sosial dalam kebijakan publik mengungkapkan tiga tema utama: akses terhadap olahraga, lingkungan olahraga yang inklusif, dan penggunaan olahraga sebagai alat untuk mencapai tujuan kebijakan sosial.
Fungsi Olahraga dalam Pelestarian dan Aktualisasi
Sedangkan di sisi lain, pertandingan atau kompetisi yang diselenggarakan dalam berbagai bentuk event baik tingkat regional maupun internasional merupakan kegiatan atau wadah sosialisasi olahraga yang pada hakikatnya merupakan dakwah budaya masyarakat global. Suatu hal yang luar biasa dan tanpa kita sadari, perlombaan-perlombaan atau perlombaan tersebut telah tertata dengan baik bahkan menjadi kalender tetap, mulai dari tingkat regional/lokal hingga internasional, seperti Pekan Olahraga Daerah (PORDA), Pekan Olahraga Nasional (PON), Sea Games , ASEAN Games dan Olympic Games, serta kejuaraan dunia yang diselenggarakan oleh masing-masing cabang. Hal tersebut menunjukkan bahwa upaya pelestarian dan penyebaran kebudayaan berlangsung secara terorganisir dan sesuai tanggal yang telah ditentukan, mulai dari tingkat lokal hingga tingkat global.
Fungsi Olahraga dalam Kemanusiaan
Melalui olahraga dan olah raga kesehatan, pendidikan karakter ditanamkan dan dikembangkan, serta pemahaman dan dorongan peserta didik untuk berperilaku terpuji menjadi landasannya. Pendidikan karakter selalu ditanamkan kepada peserta didik dalam dunia pendidikan di luar olahraga dan pendidikan jasmani pada semua mata pelajaran, baik di sekolah menengah atas maupun di perguruan tinggi. Fenomena di atas patut dibagikan kepada para pelaku olahraga di Indonesia, termasuk guru pendidikan jasmani.
KARAKTER YANG MUNCUL DALAM PENDIDIKAN
Karakter
Karakter ini dengan jelas akan menunjukkan jati diri seseorang, meskipun tidak dapat diukur secara empiris, namun dapat dirasakan oleh orang-orang disekitarnya, terlepas dari apakah seseorang tersebut mempunyai karakter yang baik atau tidak. Peduli, suatu bentuk karakter yang menjadikan seseorang mempunyai sikap peduli dan penuh perhatian terhadap orang lain dan kondisi sosial lingkungan sekitarnya. Hal ini sesuai dengan argumen Lickona dalam Hidayat dkk. 2020), yang berpendapat bahwa pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral merupakan tiga komponen karakter yang saling berkaitan dan dapat dipahami.
Konsep Karakter
Dia percaya bahwa perilaku ditentukan oleh sejumlah faktor kompleks dan penilaian serta penilaian moral hanya memainkan peran kecil dalam menjelaskan perilaku moral. Lickona (1991) dalam Joseph (2006)) berpendapat bahwa karakter positif terbentuk sebagai hasil proses emosional dan kognitif. Skinner (1971) dalam Joseph (2006) berpendapat bahwa seseorang bertanggung jawab atas perilakunya karena itu merupakan konsekuensi dari perilaku baik dan buruk.
Olahraga dan Karakter
Untuk menjamin berkembangnya karakter bangsa maka pendidikan karakter harus dilaksanakan secara terus menerus dan tanpa henti. Oleh karena proses pembelajaran pendidikan jasmani olah raga dan kesehatan dilakukan sampai 75% waktunya di lapangan (bisa di luar maupun di dalam kelas), maka kebugaran jasmani siswa merupakan prasyarat terselenggaranya proses pembelajaran karakter. Pengembangan jati diri melalui pendidikan moral bertujuan untuk memperkuat karakter diri sendiri, tetapi juga untuk memperkuat karakter negara secara keseluruhan.
Karakter Dalam Pendidikan Jasmani Dan Olahraga . 147
Penjelasan di atas memperjelas bahwa pendidikan jasmani dan olah raga merupakan sarana pendidikan, sekaligus penanaman budi pekerti yang sekarang kita sebut dengan budi pekerti. Pendidikan jasmani dan olah raga selalu melibatkan komponen sosial selain kriteria jasmani yang menekankan pada keterampilan, ketangkasan dan penampilan. Maksudnya dalam konteks ini adalah agar nilai-nilai dan perilaku yang dipelajari di kelas pendidikan jasmani dan olahraga dapat diterapkan di luar sekolah, di rumah dan di masyarakat (Parker dan Stiehl, 2004).
Implementasi Karakter
Peran seorang guru pendidikan jasmani dalam sistem pembinaan dan pelatihan olahraga di Indonesia sebenarnya tidak mudah, namun juga tidak sulit. Harapan masyarakat terhadap guru pendidikan jasmani hendaknya mampu mengelola tumbuh kembang anak sesuai dengan pembelajaran pendidikan jasmani. Untuk itu perlu pengkajian mendalam terhadap peran guru pendidikan jasmani di era 5.0 agar mampu bersaing dengan kualitas pendidikan global dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.
PERAN GURU PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN
Nilai-nilai Universal dalam Olahraga
Pemecahan masalah, setiap kegiatan olahraga mengandung unsur-unsur penting yang memerlukan kemampuan dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Percayalah, setiap kegiatan olahraga mengandung kesempatan belajar agar orang lain dapat percaya dan dipercaya oleh orang lain. Toleransi, setiap kegiatan olahraga mengandung unsur-unsur yang dapat menumbuhkan sikap toleran terhadap orang lain, bahkan terhadap orang yang berbeda.
Peran Guru dalam Sistem Pembangunan dan
Seorang guru pendidikan jasmani diharapkan dapat menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat khususnya dalam bidang olahraga itu sendiri. Metode mediasi terdiri dari pertemuan tatap muka dengan orang tua siswa dan tokoh masyarakat, baik secara individu maupun kelompok besar, b) Upaya guru pendidikan jasmani dalam peran organisasinya dapat diwujudkan dengan mengorganisir siswa dan anggota masyarakat dalam berbagai cabang olahraga. . kelompok sesuai dengan kesukaan dan keinginannya, selain melalui pembentukan pengurus masing-masing kelompok olahraga tersebut, c) Upaya guru penjas dalam perannya sebagai sumber belajar dapat diwujudkan melalui kerjasama dengan pengawas jasmani kecamatan dan melalui kerjasama dengan departemen olahraga. Peran guru pendidikan jasmani dalam sistem pembinaan dan pengembangan olahraga di Indonesia dapat diwujudkan sebagai penggerak olahraga, yang berperan sebagai motivator, penyelenggara dan sumber belajar bagi seluruh peserta didik dan lapisan masyarakat untuk melakukan olahraga dan berbagai aktivitas jasmani.
Kompetensi Guru Penjas di Era 5.0
Hal ini menjadi tantangan terbesar bagi guru untuk segera bersiap beradaptasi di era society 5.0 dengan segala permasalahan yang akan dihadapinya. Namun saat ini di era 5.0, seperti kita ketahui, guru harus memiliki kompetensi yang memadai. Baik atau buruknya wajah pendidikan kita di era society 5.0 ditentukan oleh guru sebagai agen perubahan yang mempunyai peran kepemimpinan yang sangat strategis.
Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Penjas 181
Program pembelajaran yang efektif dan efisien pada dasarnya dapat membantu siswa memperoleh keterampilan yang mereka butuhkan. Program pembelajaran yang efektif dan efisien juga dapat memperpanjang retensi isi atau materi yang dipelajari. Terakhir, program pembelajaran yang efektif dan fungsional memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari.
Strategi Olahraga dalam Society 5.0
Konsep masyarakat 5.0 merupakan pengembangan dari dampak Revolusi Industri 4.0 yang merupakan era yang akan kembali ke masa pra-industri. Maka dalam manuver society 5.0 ke depan diharapkan para atlet mampu mengembangkan ilmu keolahragaan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang saat ini memasuki era modern. Dan masih banyak lagi manuver-manuver olahraga di masyarakat 5.0 yang dapat dilakukan oleh para atlet agar masyarakat dapat mengambil manfaat dari era yang serba canggih ini.
Keterpurukan Prestasi Olahraga Indonesia
Yang bisa dimaklumi, komunitas olahraga di Indonesia masih menyalahgunakan model latihan yang seharusnya mengikuti model piramida. Guru pendidikan jasmani memiliki tanggung jawab besar untuk memberdayakan olahraga di sekolah dan masyarakat dan di seluruh negeri. Guru pendidikan jasmani hendaknya mempunyai peranan yang jelas dalam pemberdayaan olahraga baik untuk pendidikan, prestasi maupun rekreasi, guna mencapai tujuan pembinaan dan pengembangan olahraga yaitu meningkatkan prestasi olahraga Indonesia.
KONTRIBUSI PENDIDIKAN JASMANI UNTUK
Siapa Generasi Milenial?
Gaya Hidup Generasi Milenial
Manfaat Berolahraga
Tantangan Generasi Millenial
Kontribusi Pendidikan Jasmani
Olahraga Untuk Semua
Olahraga Mengangkat Martabat
Apakah Olahraga Benar-Benar Mengekspresikan
Apakah Olahraga Itu Hak Asasi Manusia?
Apakah Olahraga Benar-Benar Mempromosikan