• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Pembelajaran Penjas Karakter

Dalam dokumen Pembentukan Karakter Melalui Olahraga (Halaman 104-109)

BAB 4 NILAI NILAI KARAKTER DALAM PENDIDIKAN

K. Evaluasi Pembelajaran Penjas Karakter

membangun karakter positif suatu bangsa memerlukan perubahan dan perencanaan yang tepat disesuaikan dengan perubahan zaman. Dalam hal ini bangsa sangat mengharapkan peran generasi muda, karena di tangan mereka pembelajaran dapat berlangsung dalam kondisi yang paling produktif.

Gambar 6. Proses Pembudayaan dan Pemberdayaan Perilaku Berkarakter

BAB

5

OLAHRAGA SEBAGAI MINIATUR KEHIDUPAN A. Pendahuluan

Jika kita melihat lebih dekat, kita dapat melihat bahwa jutaan, jika tidak ratusan ribu orang berpartisipasi aktif dalam olahraga setiap hari di seluruh dunia. Mereka merencanakan waktu mereka sehingga mereka bisa berolahraga, teratur, dan bersosialisasi. Mereka siap membayar untuk acara olahraga, kadang-kadang bahkan membayar sejumlah besar uang. Tokoh olah raga sangat bervariasi, mulai dari anak kecil sampai dewasa, dari orang miskin sampai orang kaya, dari orang biasa sampai pejabat. Selain itu, sangat beragam dalam hal ras, budaya, dan agama. Fenomena ini membuat kami bertanya- tanya apa yang sebenarnya mereka cari dalam olahraga, apa yang ingin mereka alami, dan apa yang mereka harapkan dari bermain. Tubuh dan jiwa setiap orang pada dasarnya adalah representasi dari potensi mereka. Potensi berarti sesuatu yang memiliki ruang untuk berkembang. Manusia tidak lagi memandang dirinya sebagai makhluk yang mandiri, melainkan sebagai makhluk yang bergantung pada orang lain, sebagai hasil dari proses mewujudkan potensi dirinya sendiri. Kebahagiaan dan kemakmuran dapat diantisipasi apabila proses tersebut dapat berjalan secara optimal dan selaras baik pada tataran jasmani maupun ruhani (kreativitas, rasa, dan karsa). Tanpa olahraga, kehidupan manusia tidak akan lengkap. Jika seseorang berolahraga secara teratur, perkembangan fisiknya akan mendapat manfaat (Doty, 2006). Olahraga kini diakui secara luas sebagai fakta sosial yang sangat bermanfaat bagi masyarakat

OLAHRAGA SEBAGAI

MINIATUR KEHIDUPAN

secara keseluruhan. Olahraga telah diintegrasikan ke dalam proses sosial yang dinamis yang dengan cepat membentuk seperangkat nilai atau norma yang diyakini berkontribusi secara signifikan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Di luar itu, semua aspek kehidupan manusia telah dipengaruhi oleh dunia olahraga. Olahraga tidak lagi dianggap sebagai cara untuk meningkatkan kebugaran jasmani.

Olahraga baik untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik seseorang serta untuk mempromosikan interaksi dan integrasi. Ketentuan umum Pasal 1 Angka 4 Sistem Keolahragaan Nasional menyebutkan bahwa “Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, dan mengembangkan perkembangan jasmani, rohani, dan sosial, sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang RI Nomor I Bab 3 Tahun 2005. Selanjutnya disebutkan pada poin 11 pembahasan pendidikan olahraga. Bahwa Pendidikan olahraga adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang diselenggarakan sebagai bagian dari proses pendidikan yang teratur dan berkesinambungan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani.

Menurut Pasal 3, Olahraga nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan jasmani, rohani, dan sosial serta membentuk watak dan kepribadian bangsa yang bermartabat.

Kemudian Pasal 4 Olahraga nasional bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia , menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, memperkokoh dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa, memperkokoh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Olahraga juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya internasional.

Olahraga sangat menekankan pada bagaimana tubuh digerakkan, yang berhubungan dengan tubuh atau tubuh manusia secara keseluruhan. Tubuh bergerak, tetapi melakukannya dengan cara yang telah dipilih untuk tujuan yang lebih manusiawi. Studi olahraga banyak menekankan pada

"gerakan manusia, yang memiliki sifat dan materi pelajarannya sendiri. Olahraga adalah salah satu jenis perilaku gerak manusia yang memiliki arah, tujuan, dan dipraktikkan dalam berbagai cara. France (2009) mengklaim bahwa olahraga telah menjadi bagian integral masyarakat sejak zaman dahulu dalam bukunya Introduction to Physical Education and Sport Science. Sekarang menjadi komponen penting dalam kehidupan sehari-hari.

Olahraga memiliki definisi luas yang mencakup olahraga kompetitif dan hiburan yang menghilangkan kebosanan dan mendorong perkembangan fisik. Olahraga adalah salah satu hiburan yang paling disukai masyarakat, dan dipraktikkan secara luas baik di tingkat makrososial maupun mikrososial, menurut Parks dan Zanger (1990). Olahraga juga dapat dipandang sebagai proses pembinaan dan pembentukan yang memanfaatkan aktivitas fisik, olahraga, atau pengalaman fisik lainnya untuk membantu individu dalam mewujudkan potensinya secara penuh. Pramono (2003) mendefinisikan ilmu olahraga sebagai kumpulan pengetahuan yang disusun dan didasarkan pada pemahaman metodis tentang fenomena olahraga. Informasi ini berasal dari metodologi penelitian ilmiah dan bidang studi.

Fenomena yang paling tampak dalam objek formal ilmu keolahragaan menurut Lutan dan Sumardianto (2000) adalah gerak manusia, khususnya pembelajaran yang berbasis keterampilan gerak. Gerak manusia dilakukan secara sadar dan dengan tujuan, yang juga mencerminkan tingginya kreativitas manusia. Oleh karena itu, orang harus menggerakkan diri mereka secara sadar melalui pengalaman tubuh untuk mencapai tujuan tertentu. Agar terciptanya ragam respon yang dapat diinternalisasi dan memiliki makna yang beragam, lingkungan tidak lepas dari terwujudnya keterampilan gerak. Hal ini menyebabkan gerak manusia menjadi objek formal dalam ilmu keolahragaan, membentuk fenomena sosio-bio-kultural sebagai akibat dari berbagai aktivitas fisik yang terjadi di tengah kehidupan sosial, yang diatur oleh nilai dan norma serta berkaitan langsung dengan kemampuan biologi. Untuk

membuktikan otonomi ilmu keolahragaan sebagai bidang studi, perlu dijelaskan seberapa baik ia dapat memenuhi persyaratan atau kriteria ilmu yang mandiri. Ontologi, epistemologi, dan aksiologi masing-masing ilmu akan dibahas dalam uraian.

Sebelum menjelaskan ketiga landasan tersebut, akan diberikan definisi filosofi olahraga. Dalam esainya Philosophy of Sport, Osterhoudt menegaskan bahwa studi filsafat olahraga berkaitan dengan sifat olahraga dan bidang terkait lainnya (seperti permainan) dan melihat masalah etika, metafisik, dan estetika yang muncul dalam olahraga dan berhubungan dengan aktifitas manusia berkaitan dengan aktivitas dan praktek gerak manusia (Osterhoudt, 2000).

B. Fungsi Olahraga dalam Pendidikan

Pengertian pendidikan sebagaimana yang diberikan oleh Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) adalah sebagai berikut: Pendidikan merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupan perkembangan anak, yang mengandung pengertian bahwa pendidikan berfungsi untuk mengarahkan seluruh kekuatan alam yang ada dalam diri anak. Anak-anak ini sehingga mereka dapat mencapai tingkat keamanan dan kebahagiaan tertinggi sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat. Pendidikan adalah upaya bersama untuk memberikan kepada siswa arah, instruksi, dan/atau pelatihan yang mereka butuhkan untuk berhasil dalam karir masa depan mereka. Sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan lingkungan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan akhlak mulia. Keterampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Meskipun H. Horne menggambarkan penyesuaian yang lebih tinggi sebagai proses yang berkesinambungan (abadi) bagi orang- orang yang telah tumbuh secara intelektual, emosional, dan spiritual, yang bebas, dan yang sadar akan Tuhan. Proses ini

terlihat dalam lingkungan intelektual, emosional, dan interpersonal.

Karena sama-sama berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya dalam arti holistik dan kaitannya dengan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kinestetik, maka olahraga dan pendidikan menjadi bahan kajian yang signifikan seperti yang disebutkan di latar belakang bahwa jika diterapkan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, olahraga memiliki nilai moral yang tinggi. Apa yang sedang diteliti dalam konteks ini adalah bagaimana olahraga mempengaruhi pendidikan dan bagaimana olahraga berkontribusi pada pencapaian tujuan pendidikan. Selain itu, perlu dipahami bahwa pendidikan tidak hanya menekankan pada kemampuan intelektual (IQ), tetapi juga kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual, dan kecerdasan kinestetik.

Hal ini perlu ditekankan, khususnya bagi bangsa Indonesia yang sangat majemuk baik dari segi suku, agama, maupun budaya.

Pertama-tama kita harus mengkaji gagasan dan tujuan pendidikan agar dapat melihat hubungannya dengan jelas. Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 UU RI Nomor 11 Tahun 2022 menyatakan sebagai berikut:

“Olahraga adalah kegiatan yang melibatkan pikiran, raga, dan jiwa secara terintegrasi dan sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, sosial, dan budaya”.

Untuk lebih jelas terkait dengan kontribusi olahraga terhadap pencapaian tujuan pendidikan nasional, dapat dilihat dari skema transformasi dibawah ini:

Sumber buku“menelusuri dan menguak nilai-nilai luhur olahraga 2018.

Dari rencana transformasi dan kontribusi olahraga dalam mencapai tujuan pendidikan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dengan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam olahraga, maka sudah selayaknya olahraga dijadikan landasan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang RI Nomor 20.

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan. Pendidikan Nasional, khususnya: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia. , sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Artinya, diperlukan suatu alat atau formula yang tepat untuk menjalankan sistem ini hingga tujuan pendidikan tercapai agar untuk mencapai apa yang telah direncanakan dan apa tujuan pendidikan Dalam hal ini dapat kita lihat bagaimana olahraga membantu tercapainya tujuan penyelenggaraan pendidikan, maka penting bagi kita untuk menjunjung tinggi dan melindungi nilai-nilai luhur yang terdapat dalam olahraga agar mewujudkan cita-cita pendidikan untuk kemajuan bangsa dan negara dengan pendidikan yang sehat dan berkualitas, baik akademik maupun non akademik .

Seorang sosiolog olahraga Jerman menegaskan bahwa jika kita bertanya tentang mengapa orang terlibat dalam olahraga, kita akan menemukan wahyu yang mengejutkan: motivasi orang untuk berolahraga berbeda-beda karena mereka berasal dari berbagai strata sosial. Konsekuensinya, seiring berkembangnya alasan partisipasi masyarakat dalam olahraga, demikian pula olahraga, berubah dan berkembang terus menerus (Digel: 1983). Fakta yang diketahui bahwa ada banyak motivasi untuk partisipasi masyarakat dalam olahraga, klaim Knut Dietrich dan Ernst Dieter Rossman dalam Helmut Digel, Lehren im Sport, Ein Handbuch für Sportlehrer (1983). Hal ini disebabkan oleh perbedaan orientasi, tujuan, dan keinginan.

Ada kelompok orang yang berorientasi pada tujuan, ada yang dimotivasi oleh ketegangan, sensasi, atau kegembiraan, dan ada pula yang dimotivasi oleh faktor sosial. Ada juga orang yang memiliki orientasi sosialisasi diri.

Olahraga adalah mikrokosmos kehidupan. Persaingan, yaitu persaingan yang sehat, ada dalam olahraga. Aktor dalam olahraga dididik dan dilatih untuk bersaing dalam batasan aturan. Akan ada sanksi atau hukuman bagi yang melanggar aturan. Ada nilai kerjasama dalam olahraga. Pendidikan tentang nilai kerjasama dalam kehidupan sehari-hari sangat penting, terutama mengingat keadaan saat ini. Tidak ada skill yang bisa berfungsi dengan sendirinya. Tidak ada profesi yang dapat berfungsi dalam masyarakat tanpa berkolaborasi dengan orang lain dalam profesi itu. Tanpa klub atau manajemen untuk mengawasi dan mendukungnya, bermain profesional akan berhenti menjadi profesi yang layak. Jika tidak ada pertandingan, tidak akan pernah ada karir sebagai wasit atau juri. Prinsip kerja sama memperjelas bahwa orang bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup. Pemahaman seperti itu juga memungkinkan seseorang untuk menempatkan orang lain pada peran penting dalam kehidupannya. Olahraga juga mengajarkan pemain bahwa untuk berhasil, mereka harus aktif, bergerak dengan baik untuk posisinya, dan berusaha sebaik mungkin. Kesimpulan dari hal ini adalah partisipasi dalam

olahraga mengajarkan seseorang untuk aktif dan produktif dimanapun dia berada. Agar olahraga dapat dimainkan dengan baik, aman, jujur, dan adil, terdapat pula aturan-aturan konkrit yang mengatur bagaimana olahraga itu harus dimainkan.

Artinya, olahraga mengajarkan masyarakat secara keseluruhan untuk terbiasa hidup dengan seperangkat aturan. Dalam olahraga, posisi seorang pemain ditentukan oleh tingkat keterampilan atau tingkat kompetisinya.

Nilai-nilai luhur dan universal yang terdapat dalam olahraga antara lain kedisiplinan, kejujuran, sportivitas, kerjasama, ketundukan dan ketaatan pada aturan, persahabatan, dan interaksi sosial. Olahraga memiliki banyak potensi untuk dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan yang handal dan efektif karena nilai-nilai luhur yang dijunjungnya. Potensi ini perlu digali, dikembangkan, dan dikemas sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai alat pengajaran. Olahraga merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan pendidikan dalam proses perkembangan manusia sehingga dapat menjadikan dirinya sebagai penunjang fungsi hati, otak dan indera. Domain kognitif, motorik, afektif, dan emosional semuanya berperan dalam bagaimana manusia dibangun.

Domain-domain ini terlibat dalam interaksi dan saling mempengaruhi ketika menunjukkan suatu perilaku atau tindakan. Berbagai ranah tersebut harus dirangsang dan diperlakukan secara seimbang agar pertumbuhan dan perkembangan manusia dapat terjadi secara normal. Dalam berolahraga, khususnya dalam olahraga, manusia harus dipandang sebagai gabungan dari berbagai sistem, khususnya sebagai sistem bio-psiko-sosio-kultural (Mutohir, 2002).

Olahraga berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan mental dan fisik peserta. Olahraga harus menjadi pilar keharmonisan dalam situasi seperti ini, menyeimbangkan kehidupan yang sehat dan harmonis dengan kehidupan sosial.

Dengan demikian, olahraga juga mengajarkan bahwa penempatan seseorang pada suatu jabatan harus didasarkan pada keterampilan dan kompetensinya baik dalam kehidupan sosial maupun dunia kerja. Dengan cita-cita luhurnya, olahraga bahkan dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan integratif, yaitu dapat mengajarkan siswa tentang aspek kognitif, motorik, afektif, dan emosional. Olahraga secara bersamaan dapat mengembangkan kecerdasan kinestetik, kecerdasan sosial dan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan intelektual seseorang. Semua orang mengenal dan dapat dengan mudah menemukan nilai-nilai olahraga tersebut di atas dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bagaimana olahraga sebenarnya mewujudkan kebajikan yang mendasar bagi kemanusiaan dan kehidupan. Mencermati uraian di atas, semakin jelas bahwa olahraga dapat dimanfaatkan sebagai alat yang amanah dan berdaya guna dalam proses pembangunan karakter bangsa.

C. Konsep Pendidikan Jasmani di Sekolah

Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional menyebutkan pendidikan olahraga sebagai salah satu komponen proses pendidikan yang berlangsung melalui pendidikan formal dan nonformal pada setiap jenjang pendidikan. Sedangkan Undang-Undang Sisdiknas mengatur bahwa pendidikan jasmani dan olahraga (PJO) yang bahan kajiannya untuk membentuk watak peserta didik agar sehat jasmani dan rohani serta menumbuhkan rasa sportifitas, harus masuk dalam mata pelajaran dasar dan dasar. Kurikulum pendidikan menengah. Selain itu, PJO ditetapkan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dengan nama Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PenJasOrKes = PJOK) sesuai dengan peraturan Menteri Pendidikan Nasional (kurikulum 2006) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (kurikulum 2013).

Menurut kurikulum 2006 dan 2013, PJOK merupakan komponen pendidikan yang sangat penting secara keseluruhan dan bertujuan untuk mempromosikan gaya hidup sehat dan

pengenalan lingkungan yang bersih melalui kegiatan fisik, olahraga, dan kesehatan yang dipilih dengan cermat yang direncanakan secara metodis untuk memenuhi tujuan pendidikan nasional.

Dalam menginterpretasikan isi PJOK, pendidikan nasional menggunakan tiga konsep utama: 1) PJOK adalah pendidikan, 2) PJOK bertujuan untuk mengembangkan potensi psikomotor-kognitif-afektif, dan 3) pembelajaran PJOK terjadi melalui kegiatan jasmani olahraga kesehatan yang diselenggarakan. Sebagai bagian dari pendidikan, PJOK diselenggarakan dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri. , dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tercapainya tujuan kurikulum PJOK akan menghasilkan terwujudnya tujuan pendidikan nasional tersebut. Dengan kata lain, tujuan PJOK adalah tujuan utama dari kurikulum PJOK dan berfungsi sebagai tujuan sementara untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Jika tujuan PJOK tidak tercapai, tujuan pendidikan nasional juga tidak akan terpengaruh. Gagasan ketiga menggambarkan perlunya aktivitas fisik sebagai bagian dari proses pembelajaran PJOK.

Hal ini sejalan dengan temuan teori pendidikan jasmani yang dikemukakan dalam buku David L. Gallahue Development physical education for today’s children yang menyatakan bahwa psikomotorik, kognitif, dan perilaku afektif merupakan aspek perkembangan siswa yang harus dikembangkan dalam program pendidikan jasmani, yaitu belajar bergerak dan belajar melalui gerak. Pola gerak dasar (lokomotor, stabilitas, dan manipulatif) dan kebugaran jasmani merupakan bagian dari belajar gerak (dimensi psikomotor). Pesan kognitif dan afektif disampaikan selama pembelajaran berbasis gerakan.

Standar nasional pendidikan harus menjadi pedoman pelaksanaan PJOK di dalam kelas. Di Indonesia, ada 8 standar yang dijadikan pedoman: (1) standar kompetensi lulusan, (2)

standar isi, (3) standar proses, (4) standar penilaian, (5) standar guru dan tenaga kependidikan, (6) standar sarana dan prasarana, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar pengelolaan.

Kedelapan standar ini (standar 1 sampai 5) adalah satu-satunya yang melibatkan guru secara langsung. Dengan kata lain, jika ingin meningkatkan kualitas PJOK, tingkatkan kompetensi para guru. Menurut Permendiknas nomor 16 tahun 2007, ada empat jenis kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional (tergantung bidang studi).

Kompetensi profesional guru PJOK ada sembilan, antara lain kemampuan menjelaskan (1) filosofi pendidikan jasmani, termasuk etika sebagai aturan dan profesi (2) sejarah pendidikan jasmani (3) anatomi manusia (4) kinesiologi (5) fisiologi manusia dan pengaruh kinerja latihan (6) psikologi (7) sosiologi (8) teori perkembangan gerak (9) teori pembelajaran gerak. Kesembilan kompetensi profesi tersebut pada hakekatnya merupakan pondasi/pondasi keilmuan PJOK, yang proses pembelajaran/penguasaannya telah dilalui di bangku kuliah atau berbagai pelatihan/pendalaman materi sebagai guru PJOK, sesuai dengan berbagai sumber pelatihan dan materi. Selain itu, menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, guru PJOK diwajibkan menguasai kurikulum yang bersangkutan, yang menjadi pedoman bagi mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, antara lain mengajar, mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, mengevaluasi, dan menilai.

Perhatian dan pengetahuan ilmiah yang berkaitan dengan studi PJOK itu sendiri diperlukan untuk prinsip-prinsip sistematik dalam pembelajaran PJOK. Hasil penerapan prinsip sistematis ini pada tingkat makro adalah adaptasi. Siswa yang mengadaptasi dan menginternalisasikan pembelajaran PJOK yang meliputi dimensi psikomotorik, kognitif, dan afektif, akan menghasilkan siswa yang sehat, bugar, dan terampil, pemikir cerdas-kreatif-kritis, dan berkarakter (berbudi pekerti/moral).

Sangat penting bahwa guru PJOK memilih dan memutuskan bahan ajar. Perencanaan dan penyusunan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP), pelaksanaan proses pembelajaran (termasuk kebutuhan sarana prasarana), dan penilaian semuanya akan dipengaruhi oleh kesalahan dalam memilih dan menentukan materi pembelajaran. Memasuki dunia olahraga prestasi di PJOK (olahraga pendidikan) merupakan peluang dan tantangan terbesar yang memungkinkan terjadinya kesalahan.

Topik yang diangkat adalah pendidikan olahraga (PJOK), namun olahraga prestasi cenderung mendominasi.

Tujuan pendidikan jasmani sudah tercakup dalam pemaparan diatas yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk mempelajari berbagai kegiatan yang membina sekaligus mengembangkan potensi anak, baik dalam aspek fisik, mental, social, emosional dan moral. Singkatnya, pendidikan jasmani bertujuan untuk mengembangkan potensi setiap anak setinggi- tingginya. Dalam bentuk bagan, secara sederhana tujuan penjas meliputi tiga ranah (domain) sebagai satu kesatuan, sebagai berikut:

Gambar 7. Cakupan Ranah Pendidikan Jasmani

8 Tujuan Pendidikan Jasmani tersebut di atas menjadi pedoman bagi guru-guru pendidikan jasmani dalam menjalankan tugasnya. Tujuan ini harus dipenuhi melalui kegiatan pendidikan yang dipikirkan secara matang yang diinformasikan oleh ilmu pendidikan. Oleh karena itu, hal yang paling penting untuk dipahami oleh seorang guru pendidikan

jasmani adalah bahwa ia harus menganggap dirinya sebagai seorang pendidik, bukan hanya sebagai pelatih atau perencana kegiatan. Tujuan pembelajaran pendidikan jasmani meliputi misi pendidikan jasmani dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perkembangan pengetahuan atau sifat sosial terjadi bukan hanya efek samping dari keterampilan gerak.

Tujuan ini harus dimasukkan ke dalam skenario perencanaan dan instruksi. Tujuan pembelajaran untuk pengembangan ranah psikomotor menempati posisi yang sama. Dalam situasi ini, guru harus terbiasa mengajar anak-anak tentang apa yang akan dipelajari berdasarkan pemahaman prinsip-prinsip yang mendasarinya untuk mencapai tujuan tersebut. Interaksi yang terjadi dalam adegan pendidikan dimaksudkan untuk mengembangkan kesadaran emosional dan sosial anak dengan berbagai cara. Akibatnya, anak akan tumbuh secara holistik, mendukung perkembangan berbagai keterampilan.

Oleh karena itu konsep ruang lingkup olahraga harus dipahami oleh para guru PJOK. Walaupun ketiga cabang olahraga tersebut saling berhubungan, namun olahraga pendidikan berbeda dengan olahraga prestasi dan olahraga rekreasi. Fondasi yang kuat untuk memasuki olahraga prestasi disiapkan melalui pendidikan olahraga (PJOK). Membangun dan mengembangkan prestasi olahraga secara bertahap dan berkesinambungan dengan memperkuat pondasi. Akan sulit untuk maju ke tingkat yang lebih tinggi, seperti nasional atau bahkan internasional, jika kesuksesan awal dalam olahraga dibuat tanpa dasar yang kuat. Diharapkan dengan memahami dan menguasai pengertian keolahragaan, kita semua khususnya guru PJOK akan dibimbing oleh pemahaman dan penguasaan keilmuan (PJOK), kemampuan membaca dan memahami kebijakan pemerintah (UU, Peraturan Menteri), serta sebagai kapasitas dan keterampilan untuk melaksanakan tugasnya dalam mempraktekkan kebijakan. Berdasarkan sains. Ketika ia terlibat dalam kegiatan intra dan ekstrakurikuler, ia berstatus guru. Namun, ketika dia terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan minat dan bakat (terutama yang

Dalam dokumen Pembentukan Karakter Melalui Olahraga (Halaman 104-109)