• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Guru dalam Sistem Pembangunan dan

Dalam dokumen Pembentukan Karakter Melalui Olahraga (Halaman 176-183)

BAB 7 PERAN GURU PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN

C. Peran Guru dalam Sistem Pembangunan dan

20. Resilence, setiap kegiatan olahraga selalu bersinggungan dengan nilai-nilai berjuang dan mudah menyerah. Secara fisik, sikap tidak terburu-buru ini berhasil meningkatkan skor kebugaran, dan secara psikologis menciptakan stamina mental yang luar biasa.

21. Team Work, setiap kegiatan olahraga mengandung unsur kerjasama, termasuk olahraga perorangan. Kerja tim dan sikap kooperatif mendapat tempat yang baik dalam olahraga, bukan hanya elemen kompetitif.

22. Dicipline, kegiatan olahraga melibatkan unsur kedisiplinan, ketepatan waktu, kepatuhan terhadap jadwal dan keinginan untuk kemajuan yang serius. Nilai-nilai tersebut harus didukung dengan melatih berpikir positif tentang konsekuensi logis dan hasil positif dari proses pendidikan.

Oleh karena itu, pengembangan disiplin memiliki tempat yang baik dalam olahraga.

23. Confidence, kegiatan olahraga tidak terlepas dari postur dan performa dari waktu ke waktu, semakin kita sadar bahwa kita bisa melakukan ini, semakin berkembang rasa percaya diri secara mental. Banyak nilai-nilai dalam kegiatan olahraga yang membangun rasa percaya diri serta meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri dalam menghadapi rintangan dan tantangan.

C. Peran Guru dalam Sistem Pembangunan dan Pembinaan

efektifitas olahraga tersebut. Sistem operasi. Semakin efisien sistem bekerja, semakin baik kualitas yang dihasilkan dan sebaliknya. Konseling dan pengembangan pada hakekatnya adalah pekerjaan pendidikan baik formal maupun informal yang dilakukan secara sadar, terencana, terarah, terorganisasi dan bertanggung jawab untuk memperkenalkan, memelihara, membimbing dan mengembangkan basis kepribadian yang seimbang, holistik dan harmonis.

Pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan sesuai dengan keterampilan, kecenderungan/keinginan dan keterampilan sebagai usulan untuk berkembang di masa yang akan datang atas prakarsa sendiri dan untuk meningkatkan dan mengembangkan diri sendiri, orang lain dan lingkungannya menuju manusia yang bermartabat, berkualitas dan memiliki kemampuan manusia yang optimal serta mandiri. Abdul Gafur, 1983). Kajian sistem pembangunan olahraga Indonesia pada hakekatnya adalah pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Dengan kata lain, kerja pembinaan ini tidak lepas dari upaya membentuk kepribadian Indonesia yang seutuhnya.

Niemen (1993) mengemukakan bahwa hasil yang signifikan diharapkan dari pembinaan olahraga yang sistematis, teliti dan berkesinambungan. Proses pembinaannya memakan waktu lama, dimulai sejak bayi atau anak usia dini, hingga anak mencapai tingkat daya saing tertinggi. Pelatihan dimulai dengan program pelatihan dasar umum yang mengarah ke pengembangan kinerja olahraga yang komprehensif, dan kemudian dengan pelatihan khusus untuk olahraga tertentu.

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa sistem pembinaan dan pengembangan olahraga yang digunakan di Indonesia adalah skema piramida, dari sisi lain skema piramida juga dapat mencakup tiga tahapan yaitu 1) Pemassalan, 2) Pembibitan dan 3) meningkatkan prestasi.

Gambar 14. Pembinaan prestasi olahraga ditinjau dari Teori Piramida, Usia Berlatih, Tingkat Atlet Dan Tingkat Pertumbuhan Dan Perkembangan Atlet (M. Furqon H., 2005)

Promosi olahraga adalah keahlian multifaset dan model kebugaran dan dasar spesialisasi. Promosi olahraga bertujuan untuk mendorong dan menggerakkan masyarakat agar lebih memahami dan merasakan secara langsung hakekat dan manfaat olahraga sebagai kebutuhan vital, khususnya olahraga yang mudah, murah, menarik, bermanfaat dan massal. Tujuan dari pijatan adalah untuk melibatkan sebanyak mungkin atlet dalam meningkatkan performa atletiknya. Pemasaran massal olahraga adalah dasar dari teori piramida dan pada saat yang sama menjadi dasar promosi dan pencarian bakat olahraga.

Mempromosikan kegiatan olahraga untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat Indonesia untuk membangun manusia yang terampil dengan menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, dalam pembangunan olahraga selalu diperlukan peningkatan dan perluasan mass-market masyarakat Indonesia, pembangunan kesehatan dan kebugaran jasmani, mental dan rohani masyarakat, serta pembentukan watak dan kepribadian, serta disiplin dan sportivitas yang tinggi, yang merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas penduduk Indonesia. Iklan juga bisa digunakan untuk mencari bibit-bibit

untuk melatih atlet-atlet hebat. Sosialisasi olahraga dan pembinaan masyarakat merupakan salah satu bentuk promosi olahraga. Dalam olahraga kompetitif, pemijatan harus dimulai sejak dini, dalam hal tumbuh kembang anak, sangat baik jika dimulai sejak masa kanak-kanak, terutama di akhir masa kanak- kanak (6-12 tahun) merupakan tahap perkembangan keterampilan gerak dasar.

Pedagogi olahraga adalah upaya untuk menemukan dan menemukan individu-individu yang memiliki potensi untuk mencapai prestasi olahraga masa depan seperti olahraga populer tingkat atau tinggi. Ibarat seorang petani menanam padi, ia tidak mengambil cangkul untuk mencari benih di hutan, ia menabur benih atau membuat benih dengan cara tertentu, misalnya dengan menggarap sebidang tanah sebagai tempat menabur benih. Penyemaian dapat dilakukan dengan identifikasi bakat (Talent) Identifikasi, selanjutnya masuk ke fase pengembangan bakat (Talent Development). Dengan cara ini, proses taman kanak-kanak seharusnya berjalan lebih baik.

Mengenai pertumbuhan dan perkembangan gerak anak merupakan kelanjutan dari akhir masa kanak-kanak yaitu masa remaja (M. Furqon H dan Muchsin Doewes, 2000).

Penyelenggaraan dan pembibitan olahraga ini menjadi tanggung jawab direktur olahraga tingkat manajerial dan juga bertanggung jawab terhadap pembinaan di tingkat yang lebih rendah yaitu fase olahraga beregu. Adanya kejuaraan reguler merupakan salah satu cara untuk merangsang dan mendorong para atlet berlatih lebih giat untuk meningkatkan prestasinya.

Prestasi olahraga adalah prestasi puncak yang dicapai oleh seorang atlet dalam suatu pertandingan atau pertandingan setelah berbagai latihan atau tes. Permainan/kompetisi diselenggarakan secara teratur dan tepat waktu. Pencapaian tertinggi merupakan puncak dari semua proses pelatihan, baik melalui mass marketing maupun melalui pembibitan. Dari hasil proses reproduksi tersebut, terpilih atlet-atlet yang semakin menunjukkan prestasi olahraga yang diusungnya. Peran pengelola olahraga di tingkat politik dan strategis bertanggung

jawab untuk mempromosikan atlet-atlet tersebut dengan penampilan berkualitas di tingkat nasional. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan program pelatihan jangka panjang dapat dikatakan bahwa: (1) masa kanak-kanak berisi program latihan pemula (junior awal) yang merupakan usia mulai berolahraga dalam tahap pemassalan; (2) masa adolesensi berisi program latihan junior lanjut yang merupakan usia spesialisasi dalam tahap pembibitan; dan (3) masa pasca adolesensi berisi program latihan senior yang merupakan usia pencapaian prestasi puncak dalam tahap pembinaan prestasi.

Peran seorang guru pendidikan jasmani dalam sistem pembinaan dan pelatihan olahraga di Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang mudah, namun juga tidak sulit. Melihat sistem pembinaan dan pembinaan olahraga Indonesia yang mengikuti model piramida, maka peran guru pendidikan jasmani sangat besar dengan program pendidikan jasmaninya di tingkat massa, juga di taman kanak-kanak dengan program klub olahraganya, peran jasmani guru pendidikan dalam pengembangan sistem dan pendidikan olahraga ini adalah sebagai berikut:

1. Dalam memberikan pengabdian kepada masyarakat sebagai penggerak dalam olahraga, guru pendidikan jasmani dapat berperan antara lain: a) Motivasi, guru penjasorkes harus mampu memotivasi siswa dan warga masyarakat untuk mau berolahraga, b) Penyelenggara, guru penjasorkes harus mampu mengorganisasikan siswa dan warga masyarakat untuk mengikuti kegiatan olahraga sehingga dapat terlaksana dengan baik, sistematis dan lancar, dan c) sumber belajar. Seorang guru pendidikan jasmani diharapkan dapat menjadi panutan bagi siswa dan masyarakat khususnya dalam bidang olahraga itu sendiri.

2. Upaya guru pendidikan jasmani untuk memenuhi perannya sebagai penggerak olahraga adalah sebagai berikut. a) Tujuan guru pendidikan jasmani dalam memenuhi perannya sebagai motivator agar siswa dan warga masyarakat mau berolahraga adalah untuk membangkitkan motivasi pada

siswa dan warga. Jelaskan manfaat olahraga sejelas mungkin, misalnya olahraga membuat tubuh sehat, memiliki daya tahan tubuh yang baik, lebih produktif, dll. Metode mediasi terdiri dari pertemuan tatap muka dengan orang tua siswa dan tokoh masyarakat, baik secara individu maupun kelompok besar, b) Upaya guru pendidikan jasmani dalam peran organisasinya dapat diwujudkan dengan mengorganisasikan siswa dan warga masyarakat ke dalam beberapa kelompok olahraga sesuai dengan kesukaan dan keinginannya, selain membentuk pengurus masing-masing kelompok olahraga ini, c) Upaya guru pendidikan jasmani dalam perannya sebagai sumber belajar dapat diwujudkan melalui kerjasama dengan pengawas jasmani kecamatan dan melalui kerjasama dengan dinas olahraga.

Pendidikan jasmani memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Peserta didik dapat mempelajari tentang materi pembelajaran (aspek kognitif), gerak belajar (aspek psikomotorik) dan kepedulian, sikap dan tanggung jawab (aspek afektif). Kelas pendidikan jasmani dapat direncanakan untuk memberikan siswa inisiatif untuk menikmati aktivitas fisik. Latihan dapat menyegarkan karena siswa lelah belajar di kelas lain yang berlangsung setelah atau sebelumnya. Karena olahraga pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan sekaligus kebutuhan manusia.

Oleh karena itu olahraga merupakan bagian integral dari pembangunan dan pembangunan bangsa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama kesehatan fisik dan mental, serta bertujuan untuk mengembangkan watak dan kepribadian yang disiplin tinggi dan sportif.

Selain itu, pembangunan olahraga juga dijadikan sebagai alat untuk membuktikan eksistensi suatu bangsa dengan mengedepankan keunggulan. Untuk melaksanakan pembinaan dan pembinaan olahraga, diperlukan berbagai upaya untuk mengangkat dan memetakan potensi yang ada sesuai dengan sistem piramida yang selama ini diterapkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penguatan peran guru pendidikan

jasmani khususnya dalam memajukan pendidikan jasmani dan jenjang pembibitan melalui kelas pendidikan jasmani di sekolah dan di masyarakat. Peran guru pendidikan jasmani dalam sistem pembinaan dan pengembangan olahraga di Indonesia dapat diwujudkan sebagai penggerak olahraga, berperan sebagai motivator, penyelenggara dan sumber belajar bagi seluruh siswa dan lapisan masyarakat untuk melakukan olahraga dan berbagai aktivitas jasmani.

Untuk menerapkan fungsi rekreatif dalam pembelajaran, guru dapat menggunakan permainan untuk membuat siswa merasa tertantang dan terhibur. Barus (2019) menyatakan bahwa guru diharapkan mengetahui bagaimana menerapkan model pembelajaran terbaik yang sesuai dengan kondisi, lingkungan belajar dan ketahanan anak. Kaum muda biasanya menyukai permainan kelompok karena kompetisi kelompok, kerja tim, dan emosi positif. Saat ini terdapat era baru pendidikan, dimana sumber belajar tidak hanya buku, tetapi juga teknologi seperti internet dan robot untuk pembelajaran. Gumilar (2021) menjelaskan apa pentingnya menjaga kualitas pembelajaran melalui perbaikan terus-menerus, sehingga kesenjangan dalam pembelajaran dapat diminimalkan dan ditingkatkan. Oleh karena itu, guru harus mampu merancang pembelajaran yang menarik dengan kolaborasi teknologi untuk mendukung keberlangsungan pembelajaran dengan segala cara yang memungkinkan untuk mendukung pembelajaran tersebut. Agar tujuan pedagogik tercapai, jika pemanfaatan teknologi dan kemampuan guru memadukannya sudah tepat.

Saat ini, siswa dapat membawa perangkat seperti laptop, smartphone, dan tablet ke sekolah untuk keperluan belajar.

Membandingkan pembelajaran masa lalu dengan pembelajaran saat ini adalah inti dari pembelajaran mindfulness. Di masa lalu, guru benar-benar menjadi pusat perhatian murid-muridnya. Ini juga bisa disebut (Teacher Centris). Hal ini dikarenakan guru dikatakan memiliki pengetahuan yang luas terhadap materi yang dipelajari dari buku. Sesuatu yang berbeda dengan saat ini, ketika kita telah memasuki Age of Society 5.0, dimana terdapat

hubungan yang luas antara sumber daya manusia dan teknologi.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi menuntut manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Fenomena yang terlihat adalah siswa dapat belajar tentang perangkat untuk menambah referensi bahan belajar yang digunakan untuk tugas sekolah. Pembelajaran di mana siswa menjadi fokus perhatian belajar juga populer akhir- akhir ini.

Rini (2019) menyatakan bahwa pembelajaran saat ini tidak hanya menggunakan model pembelajaran sepihak dimana guru menjelaskan dan siswa mendengarkan, tetapi pembelajaran yang efektif harus melibatkan siswa dalam proses pembelajaran.

Perkembangan teknologi yang begitu besar tentunya harus disikapi dengan bijak dengan bantuan sumber daya manusia.

Disini tugas guru adalah menunjukkan kepada siswa contoh pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran. Mardhiyah (2021) menjelaskan bahwa di era revolusi 4.0, di mana teknologi digunakan di mana-mana, aspek manusia juga harus diperhatikan seperti pendidikan dan kehidupan kerja, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai panutan bagi siswa, guru dituntut untuk merespon derasnya arus informasi saat belajar dengan bantuan teknologi dengan keteladanan moral dan pembentukan karakter. Rahayu (2021) menjelaskan bahwa perkembangan teknologi yang pesat dan masif menuntut sektor pendidikan mampu beradaptasi dengan digitalisasi sistem pendidikan yang sedang berkembang.

Dalam dokumen Pembentukan Karakter Melalui Olahraga (Halaman 176-183)