• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-nilai Universal dalam Olahraga

Dalam dokumen Pembentukan Karakter Melalui Olahraga (Halaman 171-176)

BAB 7 PERAN GURU PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN

B. Nilai-nilai Universal dalam Olahraga

Di semua negara, olahraga telah mendapat dukungan luas dari data penelitian sebagai alat pendidikan untuk membimbing pesertanya, tidak hanya dalam memperoleh keterampilan fisik dan motorik, tetapi juga dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang kuat dengan kepemimpinan, dan diyakini memiliki dampak positif. Kemampuan mempengaruhi perkembangan kecakapan hidup seseorang. Dampak dari perbincangan ini sungguh luar biasa karena begitu banyak orang yang saat ini terlibat dalam berbagai klub olah raga di seluruh dunia mengingat olah raga merupakan lingkungan belajar yang paling efektif untuk mengintervensi pembentukan karakter manusia. David Shield dan Brenda Bredemeier (1995), dalam buku mereka Character Development and Physical Activity, berpendapat bahwa meskipun masalah baru-baru ini meningkat

dalam olahraga kompetitif, olahraga memiliki banyak peluang untuk menemukan, mempelajari, mengubah, dan menjalankan nilai-nilai moral. Ketegangan moral yang sering dialami para partisipan, misalnya antara standar fair play dan keinginan untuk menang, merupakan ketegangan yang nilainya sama di hampir semua situasi konflik moral. Perbedaan terbesar antara olahraga dan kehidupan sehari-hari adalah bahwa pengalaman moral dalam olahraga sangat padat dan terbuka dan merupakan konteks yang berharga dalam pendidikan moral. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2004 menegaskan bahwa setidaknya ada 23 nilai universal dalam olahraga yang dapat diajarkan dan diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata. Nilai- nilai tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Cooperation, bahwa kegiatan olahraga mengandung muatan yang dapat mengembangkan budaya gotong royong/gotong royong Untuk memiliki kehidupan yang berkualitas, masyarakat perlu membiasakan diri dengan kerjasama, dan olah raga merupakan arena yang dalam suasana ringan memiliki kepentingan yang paling utama, bahagia dan terbuka.

2. Communication, bahwa kegiatan olahraga dapat dijadikan sebagai ajang untuk mengkomunikasikan kemampuan dan kemauan berkomunikasi, baik secara pribadi maupun kelompok, dalam artian olahraga ditempatkan sebagai alat transportasi dan perlunya latihan untuk mencapai tujuan kelompok.

3. Respect for the rules, bahwa setiap atlet dikelilingi oleh aturan yang selalu menjadi acuan dan aturan yang harus diikuti karena mengatur jalannya kegiatan olahraga. Adat istiadat sistem hukum masyarakat dalam kehidupan sehari-hari ditransmisikan melalui pendidikan jasmani secara teratur dan berkesinambungan.

4. Problem solving, setiap kegiatan olahraga mengandung unsur-unsur penting yang memerlukan kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Pertandingan olahraga, baik permainan maupun cabang olahraga yang

sifatnya adanya kontak fisik yang biasanya mengandung masalah yang merangsang berpikir kritis dan dapat mengajarkan individu untuk mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana.

5. Understanding, kegiatan olahraga banyak mengandung informasi melalui olah raga. Kegiatan olahraga memiliki banyak prinsip gerak, prinsip hidup, bahkan banyak peristiwa kehidupan, dan memiliki sejarah yang panjang.

Kajian ilmiah bahkan menemukan bahwa keterampilan motorik erat kaitannya dengan beberapa hal lain, seperti:

spiritual, moral, sosial dan lain-lain.

6. Connection with others, dengan orang lain berarti bahwa kegiatan olahraga mengandung unsur-unsur yang dapat menciptakan koneksi (hubungan) antara individu dengan orang lain. Hubungan yang dihasilkan terus berlanjut dan menjadi aset berharga untuk menciptakan komunikasi sosial di kemudian hari, bahkan di luar konteks olahraga.

7. Leadership, kegiatan olahraga mengantarkan seseorang pada penguasaan dan sekaligus kepemimpinan.Kunci kepemimpinan adalah pilihan atau kompetisi dan pengambilan keputusan. Dalam dunia olahraga, nilai belajar kompetisi dan pengambilan keputusan sangatlah kaya.

8. Respect to others, dalam olahraga adalah menghormati atlet lain, baik rekan satu tim maupun lawan. Saling menghargai kelebihan dan kekurangan lawan atau rekan satu tim merupakan wujud nyata yang harus dikuasai setiap cabang olahraga guna menjunjung tinggi rasa saling menghargai antar sesama.

9. Value of effort, kegiatan olah raga meliputi nilai kepahlawanan, kepeloporan, perjuangan dan keteladanan, pantang menyerah dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut harus ditekankan agar atlet terinspirasi dengan nilai-nilai yang seharusnya dimiliki. Dampak dari nilai-nilai bela diri tersebut dapat berkembang melampaui batas lingkungan olahraga, sehingga setiap warga negara memiliki keinginan

yang besar untuk menjadi pahlawan di berbagai bidang kehidupan.

10. How to win, kegiatan olahraga melibatkan unsur strategi dan taktik untuk memenangkan permainan, yang selalu disertai dengan kerja keras dan nilai yang tulus. Persiapan jangka panjang, sistem pelatihan modern harus diperkenalkan dan elemen perencanaan matang, maka Anda dapat mengandalkan kemenangan. Oleh karena itu, memenangkan pertandingan merupakan konsekuensi logis dari taruhan, yaitu bukan kemenangan olahraga instan.

11. How to Lose, kegiatan olahraga termasuk unsur belajar memahami kekalahan; Bukankah setiap pemain atau tim memiliki peluang yang sama untuk menang dan kalah.

Dalam dunia olahraga, kekalahan dan kemenangan adalah dua sisi mata uang yang sama, yang tentunya lebih dominan sangat bergantung pada usaha. Olahraga yang baik juga mengajarkan pemain untuk menerima kekalahan tanpa kehilangan harga diri.

12. How to manage competition, kegiatan olahraga mengandung unsur pembelajaran manajemen persaingan yang dirumuskan melalui penerapan prinsip-prinsip manajemen tertentu. Pada saat yang sama, atlet harus belajar bagaimana mengarahkan kompetisi yang sebenarnya sehingga mereka belajar memimpin dan mengelola pada saat yang bersamaan.

13. Fair play, kegiatan olahraga menyampaikan nilai-nilai fair play, dimana setiap pelaku memiliki kesempatan yang sama. Sikap ini akan melatarbelakangi etika fundamental olahraga, yang mengisyaratkan bahwa yang paling serius mencapai hasil yang lebih baik. Etika fair play dengan demikian diwujudkan dalam sikap yang terkait dengannya.

14. Sharing, sering-seringlah membagikan atau menambah kegiatan olahraga, baik antar teman (kelompok) maupun antar lawan. Keadaan hidup yang harus diselesaikan meningkatkan kesadaran bahwa tidak ada seorangpun yang dapat hidup sendiri. Kehadiran teman dibagi. Begitu

pula kehadiran lawan di lapangan pada hakekatnya ada untuk saling melengkapi dan membantu.

15. Self-esteem, setiap kegiatan olahraga berpeluang untuk membentuk pribadi yang menghargai dan mengevaluasi diri secara benar. Tidak terlalu banyak dan tidak cukup.

Ketika harga diri anak berkembang dengan baik, tingkat kepercayaan diri yang tinggi tumbuh dan berkembang, yang menjadi dasar perkembangan anak di semua bidang kehidupan.

16. Trust, setiap kegiatan olahraga mengandung peristiwa belajar agar bisa dipercaya orang lain dan dipercaya orang lain. Peristiwa yang berulang ini merupakan sarana untuk membentuk identitas yang jelas, termasuk kemampuan bersosialisasi yang baik dengan orang lain, sehingga ia berani keluar rumah demi pengembangan diri dan kepribadiannya.

17. Honest, Olah raga yang jujur juga memiliki kemampuan untuk membentuk orang yang jujur. Nilai-nilai integritas tersebut dapat ditransmisikan dengan mengikuti aturan- aturan ketika olahraga menghadirkan rintangan-rintangan yang menjadi norma universal. Tentunya jika standar tersebut dilanggar, hal ini berkaitan langsung dengan pengenaan sanksi.

18. Self-respect, kegiatan olahraga yang penuh dengan harga diri, yang juga menjadi dasar untuk menghargai orang lain.

Mengenal diri (eksistensi) secara utuh, serta kelebihan dan kekurangan, dapat dicapai melalui olahraga.

19. Tolerance, setiap kegiatan olahraga mengandung unsur- unsur yang dapat menumbuhkan sikap toleran terhadap orang lain, bahkan terhadap mereka yang berbeda.

Mengembangkan nilai-nilai tersebut sangat penting, terutama dalam masyarakat dengan nilai-nilai pluralisme yang tinggi (agama, suku, ras, golongan, suku, dll). Dalam olahraga terdapat banyak elemen untuk mengembangkan sikap toleran, dimana hambatan atas keragaman dapat dihancurkan.

20. Resilence, setiap kegiatan olahraga selalu bersinggungan dengan nilai-nilai berjuang dan mudah menyerah. Secara fisik, sikap tidak terburu-buru ini berhasil meningkatkan skor kebugaran, dan secara psikologis menciptakan stamina mental yang luar biasa.

21. Team Work, setiap kegiatan olahraga mengandung unsur kerjasama, termasuk olahraga perorangan. Kerja tim dan sikap kooperatif mendapat tempat yang baik dalam olahraga, bukan hanya elemen kompetitif.

22. Dicipline, kegiatan olahraga melibatkan unsur kedisiplinan, ketepatan waktu, kepatuhan terhadap jadwal dan keinginan untuk kemajuan yang serius. Nilai-nilai tersebut harus didukung dengan melatih berpikir positif tentang konsekuensi logis dan hasil positif dari proses pendidikan.

Oleh karena itu, pengembangan disiplin memiliki tempat yang baik dalam olahraga.

23. Confidence, kegiatan olahraga tidak terlepas dari postur dan performa dari waktu ke waktu, semakin kita sadar bahwa kita bisa melakukan ini, semakin berkembang rasa percaya diri secara mental. Banyak nilai-nilai dalam kegiatan olahraga yang membangun rasa percaya diri serta meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri dalam menghadapi rintangan dan tantangan.

C. Peran Guru dalam Sistem Pembangunan dan Pembinaan

Dalam dokumen Pembentukan Karakter Melalui Olahraga (Halaman 171-176)