BAB 6 KARAKTER YANG MUNCUL DALAM PENDIDIKAN
E. Karakter Dalam Pendidikan Jasmani Dan Olahraga . 147
Tujuan utama pendidikan yang dirancang untuk mengembangkan karakter adalah untuk mengembangkan karakter bangsa sehingga dapat mewujudkan nilai-nilai Pancasila yang terpuji. Instruksi praktis dalam karakter; 1 memupuk kemampuan mendasar untuk perbuatan baik, penilaian yang sehat, dan perilaku yang benar, 2 penguatan dan pengembangan perilaku multikultural bangsa, 3 Peradaban
bangsa semakin kompetitif dalam urusan global. Pendekatan sistematis dan komprehensif digunakan untuk mengembangkan karakter, melibatkan keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, masyarakat sipil, media, bisnis, dan industri.
Namun, karena pendidikan diperlukan untuk semua orang, pendekatan ini sangat layak dan akan efektif di semua tingkatan.
Pendidikan karakter selalu ditanamkan kepada siswa dalam dunia pendidikan disamping mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga di setiap mata pelajaran, baik di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi.
Penjasorkes memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter peserta didik dalam mempersiapkan diri menjadi warga negara Indonesia seutuhnya karena merupakan komponen penting dalam pendidikan secara keseluruhan.
Kurikulum pendidikan jasmani Indonesia yang ditawarkan di semua jenis sekolah bertujuan untuk mewujudkan bangsa yang sehat jasmani dan rohani dengan menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan perkembangan jiwa. (UU no 4 tahun 1950, tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah pasal IV pasal 9). Berikut ini adalah tujuan pendidikan pendidikan jasmani:
1. Perkembangan organ-organ tubuh untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani.
2. Perkembangan neuro muskuler.
3. Perkembangan mental emosional.
4. Perkembangan sosial.
5. Perkembangan intelektual.
Tujuan akhir pendidikan jasmani dan olahraga adalah sebagai sarana khusus pembinaan watak, sebagai sarana pembinaan kepribadian yang tangguh, budi pekerti yang baik, dan akhlak mulia. Penjelasan di atas memperjelas bahwa pendidikan jasmani dan olahraga adalah alat pendidikan, sekaligus penanaman budi pekerti yang sekarang kita sebut sebagai budi pekerti. Pendidikan jasmani dan olahraga selalu melibatkan komponen sosial di samping kriteria jasmani yang menekankan keterampilan, ketangkasan, dan penampilan
kemampuan. Pendidikan adalah segala usaha yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian, termasuk perubahan tingkah laku. Hubungan antar manusia, termasuk antar siswa yang bertindak sebagai fasilitator atau sutradara, merupakan bagian dari dimensi sosial.
Etika dan moral bangsa telah “memudar”, budaya luhur bangsa perlahan terkikis, dan situasi kehidupan bangsa Indonesia saat ini tidak lepas dari persoalan-persoalan tersebut.
Banyak anak tidak menghormati guru mereka atau bahkan orang tua mereka. Banyak anak yang enggan mengikuti kelas pendidikan jasmani karena dianggap membosankan dan melelahkan, yang merupakan fenomena terkini di lapangan.
Karena kesempatan yang ditawarkannya untuk mendemonstrasikan pengembangan karakter, pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi pengalaman manusia. Paling sering, perilaku atau contoh digunakan untuk mengajarkan etika dalam pendidikan jasmani. Jika seorang guru tidak memperlakukan muridnya dengan adil, dia akan menyuruh muridnya untuk memperlakukan orang lain dengan adil. Selain itu, pendidikan jasmani dan olah raga sarat dengan pengalaman emosional. Ada beberapa emosi berbeda yang berperan.
Kegiatan olahraga dan pendidikan jasmani berbasis permainan, keterampilan, dan ketangkasan menuntut pengeluaran energi untuk menghasilkan hasil yang terbaik.
Sudah sepantasnya kita sepakat berpendapat bahwa pendidikan jasmani dan olahraga merupakan landasan atau alat pendidikan dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik serta perilaku dalam pembentukan manusia yang berkarakter. Bagaimana pendidikan jasmani dan olahraga dapat digunakan untuk mengajarkan karakter di sekolah. Seperti kata pepatah, tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata, jadi pendidikan karakter harus lebih dicontoh. Nilai-nilai karakter dari pendidikan jasmani dan olahraga berikut juga tercakup dalam pembahasan esai tentang Enam Pilar Karakter ini:
1. Jujur (Dapat dipercaya)
Kata jujur digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa ada mengubah dari realita yang sebenarnya. Sesuatu atau fenomena yang di hadapi dapat berada pada diri sendiri atau di luar diri sendiri. Bagi seorang guru dan siswa, memperoleh kepercayaan salah satunya sangat ditentukan oleh kejujuran dalam mengatakan sesuatu apa adanya. Seorang guru Penjas dengan jiwa yang matang berani mengatakan bahwa ia tidak dapat mendemonstrasikan (mencontohkan) suatu gerak keterampilan senam lantai (handspring) ia hanya mampu menjelaskan cara melakukannya, tanpa perasaan bahwa prestisenya akan jatuh di depan siswanya. Seorang siswa dengan jujur mengatakan ia meniru pekerjaan temannya karena kesulitan dalam penyelesaiannya. Siswa tidak curang saat ujian teori, dengan menyontek/ meniru jawaban teman atau cacatan. Siswa tidak bertindak curang saat praktek olahraga bolavoli dengan mengatakan pointnya bertambah padahal belum terjadi pemambahan angka, dan memprotes wasitnya. Kejujuran dan kebajikan selalu terkait dengan kesan terpercaya, dan terpercaya selalu terkait dengan kesan tidak berdusta, menipu atau memperdaya. Hal ini terwujud dalam tindak dan perkataan. Semua pihak percaya bahwa wasit dapat mempertaruhkan integritasnya dengan membuat keputusan yang fair. Ia terpercaya karena keputusannya mencerminkan kejujuran. Kejujuran ini sangat penting, karena jika tidak ada kejujuran dalam diri seseorang, maka tidak hanya orang disekitarnya saja yang semakin rusak, melainkan seluruh aspek-aspek lain juga bobrok, yang mengakibatkan bangsa semakin hancur. Oleh sebab itu pembentukan karekter jujur adalah sangat penting ditanamkan bagi peserta didik melalui pendidikan jasmani dan olahraga.
2. Berlaku Hormat (respect)
Menghormati adalah "merasa atau menunjukkan rasa hormat untuk orang lain" (American Heritage Dictionary, 1982). Ini adalah penghormatan terhadap nilai dan martabat mendasar setiap manusia (Marrella, 2002). Banyak orang menyebut rasa hormat sebagai Aturan Emas. Rasa hormat bukanlah sesuatu yang dapat ditiru, tetapi sesuatu yang harus diwujudkan seseorang memiliki kecenderungan untuk bertindak dengan hormat, hanya dalam tindakan hormat individu kualitas menjadi aktual rasa hormat dipertahankan oleh tindakan hormat individu (Lawrence-Lightfoot, 2000).
Definisi ini termasuk menghormati rekan tim, lawan, penggemar, pelatih, dan wasit. Contoh perilaku hormat termasuk berjabat tangan, membantu rekan satu tim atau lawan, dan mendengarkan. Perilaku yang menunjukkan kurangnya rasa hormat termasuk mengejek, mengoceh, meneriaki pelatih atau wasit, berbuat curang, atau menaikkan skor melawan lawan yang lebih rendah.
Selain itu. Hormat, bukan berarti menghormati seperti kita hormat kepada bendera merah putih pada setiap upacara bendera atau menghormati Pembina upacara pada saat perayaan hari-hari besar kenegaraan. Namun hormat disini maksudnya adalah sopan dan menghargai orang lain. Dalam pengamatan sehari-hari sikap hormat itu dapat dilihat berdasarkan bahasa tubuh seseorang dari cara mereka bersalaman dengan orang yang lebih di tuakan apalagi kepada orang tua atau guru. Anak atau siswa selalu meletakkan tangan guru kekeningnya. Sikap hormat ini juga tercermin dari keakraban antara siswa yang berbeda budaya dan agama. Bukan hanya dengan bersalaman, dengan tersenyum dan sedikit menundukkan kepala juga sudah tercermin bahwa berlaku hormat itu telah tertanam dalam diri seseorang. Perilaku hormat ini juga penting dalam menjaga kestabilan hubungan baik dengan seseorang, bayangkan jika seorang pemain dalam suatu pertandingan cabang olahraga, tidak menghargai keputusan wasit dimana
wasit telah berlaku jujur dan adil atau tidak menghormati keputusan pelatihnya ketika menentukan pemain inti atau cadangan maka akan terjadi perselisihan diantara mereka dan hasilnya akan terjadi perpecahan bahkan perkelahian.
3. Tanggung jawab (Responsibility)
Tanggung jawab berarti berani menanggung resiko atas perbuatan yang dilakukan. Seorang siswa yang bertanggung jawab berarti ia telah menunjukkan perilaku yang benar, melakukan yang terbaik, disiplin dan menghadapi resiko dari perbuatannya. Pada kalangan siswa karakter bertanggung jawab ini dapat dikembangkan dalam mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler. Siswa dibiasakan memakai pakaian olahraga ketika praktek lapangan, mengumpulkan tugas tepat waktu, masuk dan keluar kelas tepat waktu, membereskan dan merapikan peralatan olahraga bersama- sama yang dipergunakan saat praktek. Mengumpulkan dan membariskan teman-teman sekelas secara bergantian juga akan menanamkan rasa tanggung jawab bagi anak.
Tanggung jawab merupakan nilai moral penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tanggung jawab ini adalah pertanggungan perbuatan sendiri. Seorang atlet harus bertanggung jawab kepada timnya, pelatihnya dan kepada permainan itu sendiri. Tanggung jawab ini merupakan nilai moral terpenting dalam olahraga.
4. Kepedulian (Caring)
Salah satu karakter yang penting untuk dikembangkan dan ditanamkan bagi anak didik adalah kepedulian atau perhatian karena dalam kepedulian ini tertanam rasa kasih sayang dan senang membantu orang lain. Rasa perduli terhadap sesama teman dapat ditanamkan dengan cara mengajak anak-anak sekelasnya mengunjungi/ menjenguk salah satu siswa yang sakit. Diingatkan agar saling membantu dalam mengerjakan tugas sekolah, terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Membatu teman
yang ditugaskan guru penjas mengumpulkan perlengkapan praktek lapangan.
5. Keadilan
Keadilan sangat sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya manusia akan berlaku adil kepada orang lain, namun menuntut lebih untuk dirinya. Lebih buruk lagi, mengurangi keadilan pada orang lain, dan menambah jumlah pada diri sendiri. Seorang guru pendidikan jasmani dan olahraga harus mampu bersikap adil kepada anak-anak didiknya, terutama dalam memberikan penghargaan atau penilaian, jangan sampai anak yang kurang mampu dalam psikomotoriknya lebih baik penghargaan atau nilai yang diberikan dari pada anak yang lebih baik darinya, hal ini akan menimbulkan rasa diperlakukan tidak adil terhadap dirinya. Kemungkinan hal ini juga akan dilakukannya dikemudian hari. Keadilan ada dalam beberapa bentuk; distributif, prosedural, retributif dan kompensasi. Keadilan distributif berarti keadilan yang mencakup pembagian keuntungan dan beban kerja secara relatif. Keadilan prosedural mencakup persepsi terhadap prosedur yang dinilai sportif atau fair dalam menentukan hasil. Keadilan retributif mencakup persepsi yang fair sehubungan dengan hukuman yang dijatuhkan bagi pelanggar peraturan yang berlaku. Keadilan kompensasi mencakup persepsi mengenai kebaikan atau keuntungan yang diperoleh penderita atau yang diderita pada waktu sebelumnya.
Dalam dunia olahraga keadilan ini sangat penting terutama bagi seorang yang berperan sebagai pengadil (wasit). Seorang wasit bila ragu memutuskan apakah pemain penyerang berada pada posisi off-side dalam sepakbola, ia minta pendapat penjaga garis. Semua pemain penyerang akan protes, meskipun akhirnya harus dapat menerima, jika misalnya wasit dalam kasus lainnya memberikan hukuman tendangan penalti akibat pemain bertahan menyentuh bola dengan tanganya, atau sengaja menangkap bola di daerah
penalti. Tentu saja ia berusaha berbuat seadil mungkin. Bila ia kurang yakin, mungkin cukup dengan memberikan hukuman berupa tendangan bebas.
6. Kedamaian
Kedamaian mengandung pengertian: a) tidak akan menganiaya, b) mencegah penganiayaan, c). menghilangkan penganiayaan, dan d) Berbuat baik. Bayangkan bila ada guru yang menyakiti anak didiknya, kemungkinan anak tersebut tidak akan mau lagi kesekolah untuk belajar, ia lebih memilih dirumah atau yang lebuh buruknya lagi, anak berangkat dari rumah tetapi tidak masuk ke sekolah, malah pergi ketempat- tempat yang tidak sepantasnya di jam-jam sekolah, hal ini disebabkan karena anak tidak merasa nyaman dan damai disekolah. Seorang anak yang merasa damai dan nyaman bersama temannya, mereka akan selalu bersama dan perselisihan itu kecil kemungkinan terjadi, mereka saling mengunjungi, saling mengiangatkan dan saling membantu, bayangkan bila hal ini terjadi dalam lingkub yang lebih besar dan terjadi dalam segala aspek, maka damainya kehidupan ini.. Pendidik jasmani dan olahraga dalam proses pendidikan sebaiknya mengembangkan karakter, karakter menurut David Shield dan Brenda Bredemeir adalah empat kebajikan dimana seseorang mempunyai karakter bagus menampilkan;
compassion (rasa belas kasih), fairness (keadilan), sportsmanship (ketangkasan) dan integritas. Dengan adanya rasa belas kasih, murid dapat diberi semangat untuk melihat lawan sebagai kawan dalam permainan, sama-sama bernilai, samasama patut menerima penghargaan. Keadilan melibatkan tidak keberpihakan, sama-sama tanggung jawab.
Ketangkasan dalam olahraga melibatkan berusaha secara intens menuju sukses. Integritas memungkinkan seseorang untuk membuat kesalahan pada yang lain, sebagai contoh meskipun tindakannya negatif penerimannya oleh wasit, teman satu tim ataupun fans.
F. Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
Karakter tidak dikembangkan melalui latihan. Dalam lingkungan olahraga, moral dapat diajarkan dan diperoleh.
Hanya lingkungan yang terstruktur dengan tujuan yang dinyatakan dengan jelas dan terencana dengan baik untuk mengembangkan karakter yang memungkinkan pengembangan karakter selama pengalaman olahraga. Setiap orang (pelatih, manajemen, orang tua, peserta, dll.) harus menjadi bagian dari lingkungan tersebut yang menjadi peserta dalam lingkungan olahraga. Coakley (2001) telah mengadvokasi lingkungan olahraga di mana pemain dihargai lebih untuk bagaimana mereka bermain dengan sportivitas daripada menang dan kalah.
Ciri-ciri karakter positif (seperti tanggung jawab sosial dan pribadi) dapat dan harus diajarkan dan dipelajari dalam lingkungan olahraga atau aktivitas fisik, menurut Hellison (2003), Parker (2003), dan Stiehl (2004). Program olahraga di semua tingkatan dapat dibuat secara khusus untuk mempromosikan gaya hidup aktif dan karakter yang baik (Alberts, 2003). Maksud dalam konteks ini adalah agar nilai dan perilaku yang dipelajari dalam kelas pendidikan jasmani dan olahraga dapat diterapkan di luar sekolah, di rumah, dan di masyarakat (Parker dan Stiehl, 2004).
Selain itu, Bredemeier dan Shields (1995) menunjukkan bagaimana pengembangan karakter dapat ditekankan melalui pengembangan karakter dalam olahraga dan aktivitas fisik ketika metode pengajaran dan pembinaan sesuai. Karena guru pendidikan jasmani harus berusaha untuk mengajarkan etika dan nilai-nilai selama proses belajar mengajar, yang menciptakan peluang untuk membentuk karakter anak, maka pendidikan jasmani dan olahraga harus dianggap sebagai laboratorium untuk pengalaman manusia. Selain harus dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga, karakter anak didik yang bersangkutan tentunya tidak dapat dipisahkan dari karakter bangsa Indonesia dan keseluruhan anak. Bisa juga
ditempuh melalui pendidikan nilai di sekolah. Berikut ini adalah beberapa saran yang mungkin:.
1. Bersama dengan keluarga dan komunitas yang lebih besar, sekolah adalah lingkungan sosial terdekat yang dihadapi siswa setiap hari. Dengan demikian, suasana dan iklim sekolah secara keseluruhan harus mencerminkan penghargaan yang tulus terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang ingin diperkenalkan dan ditumbuhkan oleh siswa.
Misalnya, jika suatu sekolah ingin menanamkan nilai keadilan pada siswa, tetapi siswa secara terbuka menyaksikan berbagai bentuk ketidakadilan di lingkungan sekolah, maka iklim dan suasana di sekolah tersebut tidak kondusif bagi keberhasilan pendidikan nilai. (Misalnya kebiasaan jual beli soal ulangan, pemberian nilai, mewajibkan siswa membeli buku atau seragam olah raga, dll).
2. Siswa akan menanggapi tindakan nyata dan penghargaan pendidik terhadap kehidupan mereka atau sikap keteladanan mereka dalam menegakkan nilai-nilai yang mereka ajarkan secara naluriah. Guru akan lebih dihormati jika, misalnya, mencontohkan disiplin dalam kehidupannya sendiri dan mengajarkan siswanya untuk memiliki sikap dan nilai yang sama.
3. Semua guru di sekolah, terutama yang mengajar pendidikan jasmani, harus aktif dalam melihat peluang yang muncul untuk memberi tahu siswa tentang pentingnya melalui kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. Di dalam keluarga, di sekolah, atau di masyarakat, tunjukkan sikap dan perilaku yang positif saat berinteraksi dengan orang lain.
Untuk menyelaraskan antara saran dengan metode yang dapat dilakukan dalam proses pendidikan dalam pembentukan karakter, dapat kita pahami alur atau skema dibawah ini:
Gambar 12. Peranan Proses Pendidikan Dalam Pembentukan Karakter
Sumber Buku Implementasi Pendidikan Karakter 2018
Pada paparan sebelumnya telah diuraikan pengertian karakter dan juga pendidikan jasmani dan olahraga, yaitu upaya mengembangkan kecerdasan dalam berpikir dan penghayatan bentuk sikap, serta pengalaman yang didapatkan dalam berolahraga untuk mengembangkan karakter peserta didik secara optimal. Hal ini tentunya sejalan dengan pendapat (Wiyani, 2012) bahwa, Pendidikan karakter adalah proses pemberian sebuah tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga serta rasa dan karsa.
Pendidikan untuk membentuk kepribadian peserta didik dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan watak, pendidikan budi pekerti, dan pendidikan moral yang bertujuan untuk menuntun peserta didik membuat keputusan baik-buruk, memelihara yang baik dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, (Zubaedi, 2015) mengartikan pendidikan karakter sebagai “The deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development “