BAB 7 PERAN GURU PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN
D. Kompetensi Guru Penjas di Era 5.0
hubungan yang luas antara sumber daya manusia dan teknologi.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi menuntut manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Fenomena yang terlihat adalah siswa dapat belajar tentang perangkat untuk menambah referensi bahan belajar yang digunakan untuk tugas sekolah. Pembelajaran di mana siswa menjadi fokus perhatian belajar juga populer akhir- akhir ini.
Rini (2019) menyatakan bahwa pembelajaran saat ini tidak hanya menggunakan model pembelajaran sepihak dimana guru menjelaskan dan siswa mendengarkan, tetapi pembelajaran yang efektif harus melibatkan siswa dalam proses pembelajaran.
Perkembangan teknologi yang begitu besar tentunya harus disikapi dengan bijak dengan bantuan sumber daya manusia.
Disini tugas guru adalah menunjukkan kepada siswa contoh pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran. Mardhiyah (2021) menjelaskan bahwa di era revolusi 4.0, di mana teknologi digunakan di mana-mana, aspek manusia juga harus diperhatikan seperti pendidikan dan kehidupan kerja, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai panutan bagi siswa, guru dituntut untuk merespon derasnya arus informasi saat belajar dengan bantuan teknologi dengan keteladanan moral dan pembentukan karakter. Rahayu (2021) menjelaskan bahwa perkembangan teknologi yang pesat dan masif menuntut sektor pendidikan mampu beradaptasi dengan digitalisasi sistem pendidikan yang sedang berkembang.
dan solusinya. Masalah pendidikan kita tentunya mencakup banyak hal, mulai dari ketersediaan guru yang memadai, kompetensi guru, sarana dan prasarana pendukung serta keterlibatan orang tua dalam mendukung proses pendidikan anaknya. Kita bisa merasakan solusi dari pemerintah untuk masalah ini. Di sisi lain, pendidikan mengalami masalah besar yang harus dipecahkan secara kolaboratif antara guru, siswa, dan orang tua. Masalah besarnya adalah transformasi pendidikan dari era 4.0 menuju era masyarakat 5.0. Tentu kita akan terburu-buru menghadapi era ini, dimana kita masih beradaptasi dengan era 4.0. Meski terburu-buru menyambut era society 5.0, tampaknya pemerintah telah menyiapkan konsep belajar mandiri, guru penggerak, dan sekolah penggerak sebagai jawaban atas datangnya era society 5.0.
Merdeka belajar yang digaungkan pemerintah merupakan upaya mengubah mindset teacher-centric menjadi collaboration-centric. Artinya guru tidak hanya sebagai sumber informasi, tetapi siswa juga dapat melengkapi apa yang disampaikan guru melalui sumber belajar lain yang dimilikinya.
Sehingga guru dan siswa akan bersama-sama menjadi pemecah masalah dalam proses pendidikan. Kehadiran era society 5.0 yang merupakan penyempurnaan dari era 4.0 merupakan masalah besar sekaligus peluang besar bagi wajah pendidikan kita. Guru yang menjadi penggerak pendidikan di era society 5.0 harus memiliki kompetensi yang memadai. Ia harus mahir dalam memberikan materi pelajaran dan mampu menggerakkan siswa untuk berfikir kritis dan kreatif. Selain penyiapan kurikulum dan fasilitas pendidikan yang memadai di era society 5.0, guru diharapkan mampu memastikan kurikulum berjalan dengan optimal, oleh karena itu guru harus memiliki beberapa kompetensi utama dan penunjang seperti kompetensi pendidikan, kompetensi komersialisasi teknologi, kompetensi dalam globalisasi, kompetensi dalam strategi masa depan serta kompetensi konselor. Guru juga perlu memiliki sikap ramah teknologi, kolaboratif, berani mengambil risiko, memiliki selera humor yang baik, dan mengajar secara keseluruhan. Baik atau
buruknya wajah pendidikan kita di era society 5.0 salah satunya ditentukan oleh guru sebagai agen perubahan yang memiliki peran utama yang sangat strategis. Inilah tantangan terbesar bagi guru untuk segera mempersiapkan diri beradaptasi di era society 5.0 dengan segala permasalahan yang akan dihadapi.
Era Society 5.0 dalam dunia pendidikan menekankan pada pendidikan budi pekerti, moral dan keteladanan. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang dimiliki dapat digantikan oleh teknologi sedangkan penerapan soft skill dan hard skill yang dimiliki oleh setiap siswa tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Dalam hal ini diperlukan kesiapan dalam hal pendidikan berbasis kompetensi, pemahaman dan pemanfaatan IoT (Internet of Things), pemanfaatan virtual atau augmented reality dan penggunaan dan pemanfaatan AI (Artificial Intelligence).
Disinilah letak kerjasama antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Proses kolaboratif ini diharapkan dapat mengakhiri kemarau panjang sistem pembelajaran yang selama ini berpusat pada guru. Meskipun model pembelajaran di era society 5.0 tidak bersifat teacher centric, namun fungsi guru tetap menjadi fungsi utama sebagai penggerak konsep kolaborasi.
Maka ada tiga hal yang harus dimanfaatkan oleh guru di era society 5.0 seperti yang sudah dijelaskan di atas antara lain Internet of Things dalam dunia pendidikan (IoT), Virtual/Augmented Reality dalam dunia pendidikan, Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) ) yang dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh guru dan siswa tentunya. Selain ketiga hal tersebut, guru juga harus memiliki keterampilan dan keterampilan kepemimpinan, literasi digital, komunikasi, kewirausahaan, dan pemecahan masalah. Semua kriteria dan kompetensi tersebut di atas menjadi tantangan bagi guru kita dan pemerintah untuk mempersiapkan secara matang, sistematis, dan terukur untuk pola pembelajaran masa depan yang ramah dan relevan dengan era masyarakat 5.0.
Pendidikan jasmani merupakan salah satu pembelajaran yang terstruktur dan sistematis untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan sikap kepribadian, dan keterampilan melalui aktivitas jasmani. Ada nilai-nilai penting yang terkandung dalam pendidikan jasmani seperti sportivitas, tanggung jawab, kerjasama, kejujuran, dan sebagainya.
Dibutuhkan peran dari seorang guru untuk menerapkan nilai- nilai pendidikan jasmani kepada siswa agar menjadi bekal perilaku, kepribadian, dan kebermanfaatan di masyarakat seperti memberi contoh yang baik, membuat peraturan dalam proses pembelajaran, menghargai perilaku siswa yang baik, dan seterusnya. Dalam menerapkan nilai-nilai pada pendidikan jasmani, guru diharapkan menetapkan seperangkat nilai inti yang dapat ditanamkan melalui pembelajaran proaktif, sehingga memberikan kebebasan kepada siswa untuk memiliki kesempatan dan refleksi diri dalam memahami pembelajaran (Vickerman & Maher, 2018). ). Dari sinilah, guru memiliki peran penting untuk menerapkan nilai-nilai yang ada kepada siswa agar menjadi manusia yang memahami norma, agama, dan adat istiadat di lingkungan masyarakat. Ada beberapa peran penting guru atau praktisi seperti yang disebutkan oleh (Whitehead et al., 2014), antara lain:
1. Apresiasi perilaku yang baik.
Aspek menghargai guru lebih tepatnya adalah memberikan penghargaan atau pujian kepada siswa yang memiliki perilaku yang baik seperti dapat menghormati guru dan teman lainnya, memiliki sikap yang baik seperti santun dan sebagainya. Dari hal-hal kecil tersebut siswa merasa diperhatikan sehingga ketika guru memberikan pembelajaran siswa senang dan mengamati dengan seksama dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Dengan begitu, nilai-nilai yang diajarkan akan mudah tersampaikan kepada siswa.
2. Mengabaikan, atau mungkin menghukum, perilaku yang tidak diinginkan.
Peran guru dalam menghukum lebih tepatnya adalah memberikan teguran atau ketegasan kepada siswa yang melanggar peraturan dan menekankan bahwa peraturan itu untuk dipatuhi dan tidak dilanggar. Dengan demikian akan ditanamkan nilai-nilai pendidikan jasmani khususnya menghormati dan mentaati peraturan yang ada pada siswa, sehingga akan terbawa ke masyarakat untuk mentaati peraturan setempat.
3. Teladan perilaku yang baik.
Guru adalah sosok yang ditiru oleh siswa. Sebagai seorang guru, Anda harus memberi contoh hal-hal baik yang membuat siswa lebih memperhatikan guru. Profesionalisme guru merupakan hal yang penting, baik dalam perilaku maupun saat mengajar. Ketika guru berhasil dalam hal ini, siswa akan mengagumi dan meniru perilaku yang ditunjukkan oleh guru.
Harapan masyarakat terhadap guru pendidikan jasmani harus mampu menguasai tumbuh kembang anak sesuai dengan pembelajaran pendidikan jasmani. Pada setiap karakteristik anak berbeda-beda langkah dan porsinya dalam perkembangan anak. Sehingga dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru mampu mengarahkan siswa sesuai dengan hakikat pendidikan jasmani, sedangkan tuntutan profesi guru adalah pedagogik, profesional, sosial, disiplin. Profesionalisme tenaga pengajar merupakan suatu keharusan yang perlu ditingkatkan.
Kreativitas merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan guru yang profesional. Salah satu guru profesional harus mampu mengajar dengan baik dengan menggunakan pendekatan teori, praktis, pengetahuan, mampu dekat dengan siswa, memahami tumbuh kembang anak. Namun pada kenyataannya, dalam mengajar kelas berapapun, hasilnya sama dengan prosesnya. Hal ini akan mengakibatkan siswa tidak dapat menerima pelajaran sesuai dengan porsi usia anak. Ketika profesionalitas guru tidak sesuai dengan harapan ideal, maka
masyarakat di luar sekolah akan meragukan kualitas guru penjasorkes, dan tidak menutup kemungkinan guru penjasorkes akan tergeser oleh guru asing di era persaingan bebas saat ini.
Untuk itu dalam proses pembelajaran guru perlu meningkatkan profesionalisme dalam menghadapi era 5.0 agar mampu beradaptasi dengan sistem pendidikan yang baru.
Keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah menjadi masalah serius dalam proses pembelajaran di sekolah khususnya pendidikan jasmani, karena tuntutan hasil belajar yang maksimal yang ingin dicapai oleh siswa. Selama ini guru pendidikan jasmani hanya dituntut untuk mampu memodifikasi pembelajaran agar proses pembelajaran tetap berjalan. Namun saat ini di era 5.0 seperti yang kita ketahui, guru harus memiliki kompetensi yang memadai. Ia harus mahir dalam memberikan materi pelajaran dan mampu menggerakkan siswa untuk berfikir kritis dan kreatif. Beberapa kompetensi utama dan penunjang seperti kompetensi pendidikan, kompetensi komersialisasi teknologi, kompetensi globalisasi, kompetensi strategi masa depan dan kompetensi konselor. Guru juga perlu memiliki sikap ramah teknologi, kolaboratif, berani mengambil risiko, memiliki selera humor yang baik, dan mengajar secara keseluruhan. Baik atau buruknya wajah pendidikan kita di era society 5.0 salah satunya ditentukan oleh guru sebagai agen perubahan yang memiliki peran utama yang sangat strategis.
Inilah tantangan terbesar bagi guru untuk segera mempersiapkan diri beradaptasi di era society 5.0 dengan segala permasalahan yang akan dihadapi. Untuk itu diperlukan kajian mendalam terkait peran guru pendidikan jasmani di era 5.0 agar mampu bersaing dengan kualitas pendidikan dunia dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu diperlukan pendidikan mengenai kecakapan hidup abad 21 atau yang lebih dikenal dengan 4C (Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration).