PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PEMBIASAAN SHALAT BERJAMAAH
DI MAN 1 MATARAM
OLEH
Uswatun Khasanah NIM 180101144
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM
2021/2022
ii
PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PEMBIASAAN SHALAT BERJAMAAH
DI MAN 1 MATARAM
Skripsi
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
OLEH
Uswatun Khasanah NIM 180101144
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM
2021/2022
iii
iv
v
vi
vii MOTO
ُُهُعُىُهُنُتُُةىُهُصناُُنُاُُُُةىُهُصناُُمُقُاُوُُبُتُكُناُُهُمُُكٍُُنُاًُُُحُوُاُاُمُُمُتُا
ُُنُىُعُنُصُتُاُمُُمُهُعٌُُُاللهُوُُُُُزُبُكُاُُاللهُُزُكُُذُنُوُ ُُزُكُنُمُناُوُءُاُشُحُفنا
Artinya: “Bacalah (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu
mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan”.1
1 Kemenag, QS. Al-„Ankabut [29] : 45. Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta:
Departemen Agama Republik Indonesia, 2006), hlm. 566
viii
PERSEMBAHAN
“Rasa syukur selalu terucapkan kepada Allah atas segala Rahmat-Nya dan Syafa’at Rasul-Nya, skripsi ini
kupersembahkan tiada lain untuk kedua orang tuaku tercinta (bapak Basuki dan ibu Rohana) dan adik- adikku tersayang (Sri Rahma Wati dan Azzahra Salsabila), seluruh keluargaku yang senantiasa memberikan cinta, kasih sayang, do’a
dan dukungan. Sahabat-sahabatku yang baik hati dengan sejuta karakter, yang senantiasa mensupport, memberikan motivasi dan semangat sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan”
ix
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Wa Syukurillah. Segala puji bagi Allah Swt. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, dengan judul “Pembentukan Karakter Melalui Pembiasaan Shalat Berjamaah Di MAN 1 Mararam”. Meskipun skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Baginda Nabi kita Nabi Muhammad Saw, dan juga kepada seluruh keluarga, sahabat dan semua pengikutnya. Amin.
Dalam terselesaikannya penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini tidak akan berjalan dengan sukses tanpa adanya bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam memberikan bimbingan, motivasi, kritik dan saran yang sangat berharga untuk terselesaikannya skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. H. Nashuddin, M.Pd sebagai pembimbing I dan Dr.
Emawati, M.Ag sebagai pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, motivasi dan koreksi selama proses bimbingan, yang selalu meluangkan waktu ditengah kesibukannya sehingga skripsi ini menjadi lebih sempurna dan cepat terselesaikan.
2. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan khususnya Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam yang telah sabar dan ikhlas dalam memberikan ilmu bagi penulis selama menempuh pendidikan di UIN Mataram.
3. H. Muhammad Taisir, M. Ag dan Erwin Padli, M. Hum selaku ketua dan sekertaris Jurusan Pendidikan Agama Islam.
x
4. Dr. Jumarim, M.H.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram.
5. Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram.
6. Dr. Lalu Sirajul Hadi, S. Ag. M. Pd selaku kepala MAN 1 Mataram yang telah berkenan mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di MAN 1 Mataram.
7. Masjudin Yusi, S.Pd selaku waka kesiswaan di MAN 1 Mataram serta seluruh staf dan pihak yang ada di MAN 1 Mataram yang telah membantu dalam proses pengumpulan data skripsi ini sehingga dapat terselesaikan sebagaimana mestinya.
8. Untuk almamaterku tercinta Universitas Islam Negeri Mataram, semoga selalu jaya dan semakin maju kedepannya.
9. Seluruh pihak yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga segala amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat keberkahan dan dapat menjadi ladang pahala yang berlipat- ganda dari Allah Swt. Dan semoga karya ini bermanfaat bagi siapa semesta. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.
Mataram, 21 Maret 2022 Penulis
Uswatun Khasanah NIM 180101144
xi DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN BIMBINGAN ... iii
NOTA DINAS BIMBINGAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
ABSTRAK ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan dan Manfaat ... 10
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 12
E. Telaah Pustaka ... 14
F. Kerangka Teori ... 21
1. Pembentukan Karakter ... 21
a. Pengertian pembentukan karakter ... 21
b. Pentingnya Membangun Karakter ... 24
c. Pembentukan Karakter Peserta Didik ... 30
2. Sholat Berjamaah ... 38
a. Pengertian Sholat Berjamaah... 38
b. Manfaat Sholat Berjamaah ... 41
c. Sholat Berjamaah Dalam Pembentukan Karakter ... 42
d. Hubungan Karakter Dengan Sholat Berjamaah ... 44
G. Metode Penelitian ... 46
1. Pendekatan Penelitian ... 46
2. Kehadiran Peneliti ... 48
3. Lokasi Penelitian ... 48
4. Sumber Data Penelitian ... 50
5. Teknik Pengumpulan Data ... 50
6. Teknik Analisis Data ... 56
7. Pengecekkan Keabsahan Data ... 60
H. Sistematika Pembahasan ... 62
xii
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 64
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian... 64
1. Sejarah Singkat MAN 1 Mataram ... 64
2. Visi-Misi dan Tujuan ... 66
3. Keadaan Sarana dan Prasarana ... 69
4. Keadaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan ... 70
5. Keadaan Peserta Didik... 74
6. Struktur Organisasi MAN 1 Mataram ... 76
B. Pembentukan Karakter Melalui Pembiasaan Shalat Berjamaah di MAN 1 Mataram ... 78
C. Karakter Yang Dibentuk Kepada Peserta Didik Melalui Pembiasaan Shalat Berjamaah Di MAN 1 Mataram ... 86
BAB III PEMBAHASAN ... 100
A. Pembentukan Karakter Melalui Pembiasaan Shalat Berjamaah di MAN 1 Mataram ... 100
B. Karakter Yang Dibentuk Kepada Peserta Didik Melalui Pembiasaan Shalat Berjamaah Di MAN 1 Mataram ... 107
BAB IV PENUTUP ... 118
A. Kesimpulan ... 118
B. Saran ... 118 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Data sarana dan prasana MAN 1 Mataram, 55 Tabel 2.2 Data Pendidik MAN 1 Mataram, 56
Tabel 2.3 Data Jumlah Peserta didik MAN 1 Mataram, 61
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Struktur Organisasi MAN 1 Mataram, 63
xv
PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PEMBIASAAN SHALAT BERJAMAAH DI MAN 1 MATARAM
Oleh:
Uswatun Khasanah NIM 180101144
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembentukan karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah yang ada di MAN 1 Mataram.
Pembentukan karakter merupakan proses pemberian arahan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam deminsi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pembentukan karakter merupakan salah satu landasan dan dianggap solusi terbaik untuk membentuk dan memperbaiki moral dan karakter bangsa yang pada saat ini terbawa oleh arus globalisasi yang sangat cepat. Pembentukan karakter melalui program wajib shalat berjamaah ini untuk membentuk karakter dalam mengatasi tindakan moral dan perlunya membentuk karakter melalui pembiasaan di madrasah agar pembiasaan tersebut menempel dan menjadi sebuah karakter pada peserta didik.
Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif.
Data penelitian diperoleh melalui teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), conclusion drawing (penarikan kesimpulan). Sedangkan teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan yaitu perpanjangan kehadiran peneliti dan triangulasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) pembentukan karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah di MAN 1 Mataram, dengan upaya atau strategi yang digunakan dalam pembentukan karakter peserta didik, melalui: a) pembiasaan, berupa penerapan dan pembiasaan pada beberapa kegiatan keagamaan seperti shalat berjamah yang harus diikuti oleh peserta didik. b) keteladanan, berupa pemberian contoh teladan yang baik dari para guru baik dari segi ucapan maupun tindakan, khususnya keterlibatan guru dalam mengikuti kegiatan pembiasaan shalat berjamaah.
c) memberikan arahan, berupa arahan dan bimbingan terhadap pembentuk karaktar peserta didik melalui pembiasaan shalat berjamaah. (2) Karakter yang ditanamkan kepada peserta didik melalui pembiasaan shalat berjamaah di MAN 1 Mataram, meliputi: karakter religius, toleransi, disiplin, kerja keras, bersahabat/komunikatif dan tanggung jawab.
Kata kunci : Pembentukan, karakter, pembiasaan shalat berjamaah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pembentukan karakter di madrasah sangat penting. Melihat bahwa Indonesia sekarang sedang mengalami banyak permasalahan. Seperti dalam dunia pendidikan yaitu berkurangnya sikap toleransi antar sesama pelajar yang semakin menurun, serta masalah karakter pada peserta didik yang diantaranya ditunjukkan dengan adanya bullying antar sesama peserta didik, dan maraknya kenakalan, serta masalah kedisiplinan peserta didik yang begitu kurang baik, hal ini menandakan bahwa moral para peserta didik yang semakin memburuk. Moral peserta didik sekarang ini mengalami penurunan yang sangat memprihatinkan, hal ini karena adanya arus globalisasi yang semakin hari semakin pesat. Dengan adanya arus globalisasi ini banyak sekali dampak buruk yang mengakibatkan moral para generasi sekarang merosot drastis.
Realitanya perkembangan era-globalisasi yang sangat pesat, membawa tantangan yang sangat serius bagi dunia pendidikan. Berbagai tantanga globalisasi harus diantisipasi secepatnya untuk menentukan langkah-langkah yang akan
2
dilakukan.2 Oleh karena itu, nilai karakter ini sangat penting diterapkan dalam pendidikan di indonesia untuk mengatasi penurunan moral yang dialami para generasi sekarang ini dan kedepannya. Seorang peserta didik tidak cukup hanya dibekali materi pembelajaran saja melainkan juga harus dibekali oleh karakter yang baik, yang tentunya agar berguna bagi kehidupannya kelak untuk menjadi individu yang berkarakter lebih baik lagi kedepannya. Pendidikan karakter sebaiknya diberikan seiring dengan perkembangan intelektualnya, hal ini berarti pendidikan karakter harus dibentuk sejak dini yang pertama kali diberikan oleh keluarga.3
Karakter ialah sifat-sifat kejiwaan, akhlak, tingkah laku atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.
Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik, baik terpatri dalam diri dan dalam perilaku.4 Intinya karakter adalah sifat yang dimiliki dalam diri manusia, dan karakter tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing pada tiap orang. Dalam pembentukan karakter dimulai dengan pendekatan diri kepada
2 Jamal Ma‟mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jogjakarta: Diva Press, 2013), hlm. 159
3 Septi Wahyu Utami, “Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Kedisplinan Siswa”, Jurnal Pendidikan, Vol. 04, No. 01, Tahun 2019, hlm. 64.
4 Muchlas Samani dan Harianto, Konsep Dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hlm. 42.
3
Allah, manusia dan lingkungan. Yang dimaksud dengan pendekatan diri kepada Allah yaitu berupa beribadah yang dilaksanakan semata-mata ikhlas untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Sedangkan jiwa yang suci mengantarkan manusia menjadi lebih baik. Jadi ibadah juga merupakan melatih sikap dan menyempurnakan akhlak.
Upaya untuk membentuk karakter dalam shalat tidak terlepas dari motivasi seorang pendidik kepada peserta didiknya, yaitu upaya seorang pendidik dalam memberikan bimbingan kepada peserta didik sejak dini untuk tekun, rajin, dan tertib melaksanakan sholat secara ikhlas terhadap Allah SWT. dalam sepanjang hidupnya. Pada prinsipnya mengajarkan sholat terlebih dahulu dimulai dari orang tua dan pendidik (guru) untuk mengajarkan teori disertai dengan memberi contoh yang baik bacaan dan gerakannya. Pembentukan karakter kepada peserta didik akan menjadika pribadi yang baik bagi peserta didik. Hal tersebut menyebabkan peserta didik dapat berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan sosialnya dan sebagai hasilnya keberadaanya diterima dengan baik oleh lingkungannya.
4
Pembentukan karakter sangat penting untuk perkembangan peserta didik agar berhasil mencapai hidup yang bahagia, mencapai penyesuaian yang baik dalam lingkungan sosialnya.
Untuk mencapai keadaan tersebut karakter peserta didik perlu dibentuk sejak awal kehidupan. Upaya dalam membentuk karakter di madrasah mencakup setiap macam pengaruh yang ditujukan kepada peserta didik untuk membantu mereka agar dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
Pembentukan karakter merupakan cara yang tepat untuk membantu peserta didik belajar hidup dengan pembiasaan yang baik, dan bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungannya.5
Pembentukan karakter mulai berkurang seiring berkembangnya zaman. Disinilah pendidik berperan aktif dalam membentuk karakter peserta didik. Berkaitan dengan pemahaman pendidik di madrasah tentang karakter maka ditemukan informasi bahwa masih ada pendidik yang beranggapan bahwa pendidikan karakter dapat dikembangkan hanya melalui pengintegrasian dalam mata pelajaran dan pembiasaan-pembiasaan sikap terhadap peserta didik. Selain itu, madrasah harus berupaya untuk menciptakan
5 Fadillah Annisa, “Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Disiplin Pada Sekolah Dasar”, Jurnal Perspektif Pendidikan dan Keguruan, Vol. 10, No. 1, April 2019, hlm. 3
5
kondisi atau situasi (pengkondisian) madrasah yang sesuai dengan karakter bangsa sehingga peserta didik mampu mengembangkan karakternya, baik di madrasah ataupun di lingkungan masyarakat.
Shalat juga merupakan salah satu media yang mampu mengembangkan pandangan seseorang menjadi luas tak terbatas.
Artinya, seseorang yang mampu memahami makna di balik rahasia shalat itu, cara pandangnya tidak lagi sempit. Ia sanggup menjamah hal-hal yang tidak bisa dinalar oleh otak kiri. Dengan sholat kita juga akan dihindarkan dari pikiran ataupun perbuatan yang tercela.6
Shalat juga ialah salah satu sarana untuk meningkatkan rasa sosial, solidaritas dan kebersamaan antara sesama muslim, ini terlihat dari dianjurkannya untuk melaksanakan sholat secara berjamaah, Sabda Nabi SAW:
ُُمُُمُضُفُأُُتُعاُمُجناُةُلاُص
ُُتُجُرُدُهٌُزُشُعُوُُعُبُسُبُُذُفُناُةُلاُصُ ُه
Artinya: “Sholat berjamaah itu lebih utama dari sholat sendiri (ia mendapatkan balasan) dua puluh tujuh derajat”. (HR.
Muttafaqun „alaih atau Bukhari dan Muslim)
Keistimewaan yang didapatkan oleh umat Nabi Muhammad salah satunya adalah shalat berjamaah. Manusia yang
6 Ahmad, dan Ukasyah Habibu, Didiklah Anakmu ala Rasulullah. (Yogyakarta:
Saufa, 2015), hlm. 38
6
pertama kali melakukan shalat berjamaah adalah Rasulullah Muhammad SAW. Selain itu fungsi shalat berjamaah memiliki fungsi sebagai pembinaan dan pembentukan pribadi seorang muslim juga memiliki fungsi sosial. Dengan menjadi pribadi yang baik maka rasa sosial seorang muslim akan membentuk karakter yang baik. Dalam hal ini islam mensyari‟atkan shalat berjamaah.
Meskipun shalat berjamaah ini tidak wajib namun shalat berjamaah memiliki ganjaran pahala dua puluh tujuh derajat dibanding dengan shalat sendirian.
Untuk berhasil dalam pembentukan karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah perlu memilih metode yang cocok.
Menurut Jamal Ma‟mur Asmani, metode pembiasaan merupakan cara yang sangat efektif dalam membentuk karakter yang baik kedalam jiwa peserta didik. Karakter yang baik dalam dirinya ini kemudian akan terwujud dalam kehidupannya semenjak ia mulai melangkah keusia remaja dan dewasa.
Shalat mempunyai efek positif bagi perkembangan mental dan kepribadian seseorang dengan beribadah, hati menjadi tenang, damai dan tentram, perilaku terkendali serta kehidupan sehari-hari tertata dengan baik. Dekat dengan Allah menjadikan kita sebagai pribadi yang taat dan selalu berfikir positif. Shalat berjamaah
7
dalam Islam, selain menjelaskan betapa pentingnya kerukunan dan persaudaraan, juga menjadi media efektif dalam penyebaran pengetahuan ajaran agama Islam antara sesama kaum muslim.
Sehingga korelasi ilmiah yang bermanfaat bagi semua orang.
Shalat menjadi salah satu komponen penting dalam membentuk karakter seseorang. Dengan adanya sholat, pelan-pelan tapi pasti, moralitas peserta didik akan semakin tertata. Sikap atau perilaku mereka akan terkendali, serta proses perubahan mental dan akhlak akan terjadi secara bertahap.7
Manusia yang sadar akan kedudukan dirinya sebagai hamba tentulah akan senantiasa berusaha menjalankan perintah Allah. Shalat wajib yang dikerjakan dalam waktu-waktu tertentu dapat membentuk disiplin yang kuat pada seseorang dan melatih pembinaan disiplin diri sendiri. Melaksanakan shalat berjamaah pada waktunya, akan menumbuhkan kebiasaan secara teratur dan terus menerus melaksanakan pada waktu yang telah ditentukan.
Shalat berjamaah memberikan berbagai keistimewaan bagi siapa saja yang menjalankannya, terutama kepada orang yang menjalankannya dengan disiplin. Seseorang ingin disiplin maka
7Jamal Ma‟mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi …, hlm. 159-160
8
harus membiasakan diri tepat waktu dalam segala aktivitas. Shalat merupakan ibadah yang mendidik pada karakter peserta didik
Observasi awal yang telah dilakukan peneliti menemukan bahwa MAN 1 Mataram merupakan madrasah yang menerapkan pembiasaan kepada peserta didik untuk melaksanakan shalat berjamaah yang termaksud shalat Dhuha dan sholat Dzuhur serta tadarus Al-Qur‟an, untuk kegiatan shalat dhuha berjamaah pada hari jum‟at pagi dilakukan sebagai pengganti dari shalat berjamaah dzuhur dikarenakan pada hari jum‟at hanya dilaksanakan shalat Dhuha, sedangkan untuk shalat Dzuhur dilaksanakan pada hari senin-kamis tepat waktu sebelum pulang. Di madrasah tersebut sudah memiliki musholah sendiri sehingga memudahkan peserta didik dalam melaksanakan pembiasaan shalat berjamaah.8
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru Al- Qu‟an hadis diperoleh informasi bahwa upaya pembentukan
karakter di MAN 1 Mataram dilakukan melalui pembiasaan shalat berjamaah, diantaranya yaitu upaya dengan menerapkan kegiatan- kegiatan agama dan juga selalu memberikan pencerahan serta arahan kepada peserta didik, kegiatan shalat Dzuhur berjamaah tepat waktu sebelum pulang, pembiasaan shalat Dhuha, Imtaq dan
8 Observasi, MAN 1 Mataram, Senin, 18 Oktober 2021
9
lain sebagainya. Peserta didik beserta jajaran yang ada di madrasah wajib mengikuti sholat fardu yaitu shalat Dzuhur berjamaah, kegiatan shalat berjamaah ini dilakukan untuk melatih dan membiasakan peserta didik dalam menjalankan ibadah. Kegiatan shalat berjamaah ini didampingi guru di madrasah tersebut.
Pelaksanaan kegiatan shalat berjamaah ini memiliki manfaat serta bertujuan agar para peserta didik dapat membiasakan dirinya untuk melakukan kegiatan religi (keagamaan), peneliti berharap dengan adanya pembiasan shalat berjamaah merupakan salah satu cara membentuk karakter yang efektif untuk diterapkan di suatu lembaga pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan karakter religius dan disiplin pada peserta didik, shalat berjamaah dapat mendidik peserta didik agar memiliki kedisiplinan yang tinggi dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya, karena shalat telah diatur waktunya secara jelas. Peserta didik yang selalu menjaga shalatnya, maka akan selalu menjaga kedisiplinannya.
Peserta didik yang menjalankan shalat berjamaah secara disiplin, maka aktivitas lainnya akan dilaksanakan secara disiplin, dan tidak menunda-nunda waktu, dan dapat membentuk karakter yang
10
diharapkan para peserta didik dapat menerapkannya di lingkungannya.9
Berdasarkan dari tema dan paparan masalah tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“Pembentukan Karakter Melalui Pembiasaan Shalat Berjamaah Di MAN 1 Mataram”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan dari latar belakang masalah di atas, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pembentukan karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah di MAN 1 Mataram?
2. Apa saja karakter yang dibentuk kepada peserta didik melalui pembiasaan shalat berjamaah di MAN 1 Mataram?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah di atas, peneliti memiliki tujuan penelitian yaitu:
a. Untuk mengetahui pembentukan karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah di MAN 1 Mataram.
9 Wawancara, Sundu Hartati S.Ag, Selasa, 19 Oktober 2021
11
b. Untuk mengetahui karakter yang dibentuk kepada peserta didik melalui pembiasaan shalat berjamaah di MAN 1 Mataram.
2. Manfaat Penelitian
Adapun setiap penelitian memiliki arti dan manfaat, maka peneliti bisa kemukakan terkait dengan paparan tujuan penelitian manfaat tersebut dapat dibagi menjadi dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
a. Manfaat Teoritis
1. Penelitian ini diharapkan menambah wawasan dan menggambarkan betapa pentingnya pembentukan karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah pada peserta didik di MAN 1 Mataram.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan atau literatur peneliti selanjutnya.
b. Manfaat Praktis 1. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dan bahan evaluasi dalam pembelajaran juga masukan untuk membina dan membentuk karakter peserta didik di MAN 1 Mataram.
12
2. Bagi peserta didik/siswa
Dapat memberikan pengetahuan dan pengelaman dalam menerapkan kegiatan shalat berjamaah dan berharap peserta didik lebih disiplin dalam menjalankan ibadah
3. Bagi penulis
Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana pembentukan karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah.
4. Bagi pembaca
Sebagai informasi tambahan dan dapat dijadikan sebagai rujukan mengenai pembentukan karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah yang dilaksanakan di MAN 1 Mataram.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian
Sesuai dengan tema fokus yang telah dipaparkan diatas, untuk mengetahui bagaimana pembentukan karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah dan apa saja karakter yang dibentuk kepada peserta didik melalui pembiasaan shalat berjamaah di MAN 1 Mataram, serta sasaran yang menjadi
13
subyek penelitian ini adalah seluruh peserta didik yang ada di MAN 1 Mataram. Alasan mengapa peneliti menjadikan peserta didik sebagai subjek dalam penelitian ini dikarenakan peserta didik masih harus dibimbing terhadap karakter yang dimiliki oleh peserta didik. Supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk kedepannya dan bisa bermanfaat bagi dirinya pribadi dan orang-orang disekitarnya.
2. Setting Penelitian
Setiing penelitian merupakan lokasi penelitian untuk melakukan proses penelitian. Adapun yang menjadi setting penelitian yaitu MAN 1 Mataram, tempatnya di Jln. Pendidikan No 31 Mataram, Dasan Agung, Kec. Selaparang, Kota Mataram. Alasan peneliti mengambil lokasi penelitian di MAN 1 Mataram karena memiliki staf, pengajar, peraturan dan tata tertib yang teratur, serta sarana dan prasarana yang memadai.
Madrasah ini mengadakan kegiatan keagamaan seperti melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah setiap hari sebelum pulang serta shalat Dhuha yang dilaksanakan pada hari Jum‟at
pagi, wajib dilakukan oleh seluruh anggota yang berada di ruang lingkup MAN 1 Mataram. Hasil dari pengematan atau observasi awal peneliti menunjukkan bahwa permasalahan
14
yang ada pada peserta didik di MAN 1 Mataram ini tidak jauh dari permasalahan karakter yang dimiliki oleh peserta didik.
Sehingga diperlukan kajian dan pembenahan dalam pembentukan karakter peserta didik melalui pembiasaan shalat berjemaah. oleh sebab itu, peneliti menetapkan madrasah ini sebagai lokasi dalam penelitian.
E. Telaah Pustaka
Sepanjang pengetahuan peneliti, ada beberapa penelitian serupa dengan judul berkaitan dengan judul peneliti, penelitian yang dimaksud dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Hasil penelitian Aset Sugiana, yang berjudul “Penanaman Nilai Karakter Disiplin Dan Tanggung Jawab di SMK Ethika Palembang”.10
Artikel ini mengkaji tentang penanaman nilai karakter disiplin dan tanggung jawab pada peserta didik. Peran pendidik paling harus dilakukan dalam menanamkan nilai-nilai karakter khususnya karakter disiplin dan tanggung jawab siswa, pertama peserta didik dinasehati apabila siswa berkelakuan kurang baik, kalau tidak dinasehati peserta didik akan keterusan melakukan
10 Aset Sugiana, yang berjudul “Penanaman Nilai Karakter Disiplin Dan Tanggung Jawab Di Smk Ethika Palembang”, Jurnal PAI Raden Fatah, Vol. 1, No. 1, Januari 2019.
15
hal tersebut. Berkaitan dengan karakter disiplin peserta didik diingatkan terus supaya sebelum belajar di sekolah, siswa harus belajar dirumah terlebih dahulu, apa yang dipelajari di sekolah selalu di ulang-ulang pada akhirnya hasil belajar siswa dapat meningkat.
Penelitian ini membahas tentang seorang pendidik dalam menanamkan nilai-nilai karater disiplin terdahap peserta didik.
Persamaan dari penelitian ini dan penelitian diatas yaitu sama- sama membahas tentang pendidik dalam menanamkan nilai karakter dalam aktivitas sholat berjamaah serta menggunankan menggunakan penelitian kualitatif. Sedangkan untuk perbedaannya yakni lokasi penelitiannya, pada penelitian tersebut lokasi penelitian di SMK Ethika Palembang.
Sedangkan lokasi penelitian peneliti yakni di MAN 1 Mataram.
2. Hasil penelitian Fadillah Annisa degan judul, “Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Karakter Disiplin Pada Siswa Sekolah Dasar”.11
Artikel ini mengkaji tentang menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter disiplin pada siswa Sekolah Dasar (SD).
11 Fadillah Annisa, “Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Karakter Disiplin Pada Siswa Sekolah Dasar”…, hlm. 4
16
Fokus masalah yang diangkat yakni tentang mendiskripsikan pelaksanaan pendidikan karakter disiplin di sekolah dasar dan dapat menemukan kebijakan yang mendukung keberhasilan pendidikan karakter. Adapun terkait metode yang digunakan, penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif.
Tercapainya keberhasilan nilai karakter dan disiplin, dibuat tujuh kebijakan sekolah, yaitu program pendidikan karakter, menetapkan aturan sekolah dan aturan kelas, melakukan dan Sholat Dzuhur berjamaah, membuat pos afektif di setiap ruangan kelas, memantau perilaku kedisiplinan siswa di rumah melalui buku catatan kegiatan harian, dan melibatkan orang tua, dan melibatkan komite sekolah. Dalam melaksanaan keenam kebijakan tersebut perlu dukungan dari seluruh warga sekolah baik kepala sekolah, pendidik, orang tua, komite sekolah, karyawan, dan peserta didik. Di samping itu, juga perlu perencanaan yang matang untuk menyusun program- program sekolah.
Berdasarkan hasil penelitiannya tersebut, ditemukan adanya persamaan dan perbedaan dengan judul penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Persamaannya yakni sama-sama akan membahas tentang bagaimana proses menanamkan atau
17
membentuk karakter pada peserta didik. Selain itu, terdapat kesamaan pada pendekatan penelitian yang digunakan yakni sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan perbedaannya yaitu objek penelitiannya yaitu di sekolah umum yaitu SD (Sekolah Dasar). Sedangkan objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti di MAN 1 Mataram.
3. Hasil penelitian dari Sri Nurmayanti dengan judul “Strategi Guru PAI Dalam Menanamkan Kebiasaan Shalat Berjamaah Siswa Di SMP Muhammadiyah 12 Makasar Tahun Pelajaran 2011/2011”.12
Kesimpulan penelitian ini adalah memberikan motivasi pada peserta didik agar sholat berjamaah, mengontrol peserta didik, selain itu pendidik juga menjadi teladan bagi peserta didik untuk shalat berjamaah, dan pendidik senantiasa mengingatkan peserta didik untuk shalat berjamaah. selain itu para pendidik membuat program khusus tentang shalat berjamaah diakhir pembelajaran. Penelitian ini mempunyai kesamaan menggunaka pendekatan kualitatif dan dengan pembiasaan shalat berjamaah merupakan salah satu cara
12 Sri Nurmayanti, Strategi Guru PAI Dalam Menanamkan Kebiasaan Shalat Berjamaah Siswa Di SMP Muhammadiyah 12 Makasar Tahun Pelajaran 2011/2011, (Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Alauddin Makasar, 2012).
18
seorang guru pendidikan agama Islam untuk meningkatkan kualitas keagamaan bagi peserta didik. Perbedaan dari penelitian ini adalah menfokuskan pemberian motivasi kepada siswa, melalui pembiasaan shalat berjamaah. Dengan kegiatan ini guru sebagai teladan bagi siswa. Sedangkan peneliti ini tidak hanya fokus pada pemberian motivasi namun bagaimana agar shalat berjamaah mampu membentuk kedisiplinan, rasa tanggung jawab siswa sebagai seorang muslim, serta karakter religius dalam diri peserta didik dibentuk dengan kegiatan shalat berjamaah.
4. Hasil penelitian Ahmad Faiz Mistahul Rahman, yang berjudul
“Penanaman Nilai-Nilai Karakter Melalui Sholat Dhuha Dan Dzuhur Berjamaah Di Madrasah Aliyah Shirothul Fuqoha' Sepanjang Gondanglegi Malang”. Pada Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Kejuruaan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.”13
Skripsi ini mengkaji tentang proses menanamkan nilai-nilai karakter melalui sholat dhuha dan dzuhur berjamaah di madrasah aliyah shirothul fuqaha'. Terkait metode yang
13 Ahmad Faiz Mistahul Rahman, Penanaman Nilai-Nilai Karakter Melalui Sholat Dhuha Dan Dzuhur Berjamaah Di Madrasah Aliyah Shirothul Fuqoha' Sepanjang Gondanglegi Malang, (Skripsi, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang September, 2017)
19
digunakan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interaktif dengan metode studi kasus (case study).
Penelitiannya yaitu tentang proses penanaman nilai-nilai karakter melalui program sholat dhuha dan dzuhur berjamaah dilaksanakan menggunakan tiga metode-metode yang pertama adalah metode pembiasaan, metode yang kedua adalah keteladanan, dan yang ketiga adalah metode pemberian penghargaan dan hukuman. Serta upaya untuk melestarikan nilai-nilai karakter di Madrasah Aliyah Shirothul Fuqoha' adalah dengan menggunakan tak kira yang terselubung dalam kegiatan-kegiatan madrasah di dalam kelas di luar kelas lingkungan madrasah dan masyarakat sekitar kegiatannya meliputi berdoa pemberian pelajaran agama ulangan harian ujian penilaian antar siswa dan sebagainya. Persaamannya yaitu sama-sama menggunakan penelitian kualitatif dan sama- sama membahas tentang betapa pentingnya menanamkan atau membentuk karakter dan kedisplinan dalam sholat. Sedangkan untuk perbedaannya yakni lokasi penelitiannya, pada penelitian tersebut lokasi penelitian di Madrasah Aliyah Shirothul Fuqoha' Sepanjang Gondanglegi Malang. Sedangkan lokasi
20
penelitian peneliti yakni di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mataram, Dasan Agung. Kec. Selaparang, Kota Mataram.
5. Hasil penelitian Munfaridatur Rosyidah, yang berjudul
“Penanaman Nilai-Nilai Karakter (Toleransi Dan Disiplin) Melalui Pembiasaan Shalat Dzuhur Berjamaah di SMP Negeri 18 Semarang.”14
Penelitian ini mengkaji bagaimana nilai-nilai karakter (toleransi dan disipli) dan apa saja yang dilakukan serta bagaimana penerapan nilai-nilai karakter melalui pembiasaan shalat dzuhur berjemaah di SMP Negeri 18 Semarang. Dalam penelitian ini memakai penelitian kualitatif dekritif. Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.
Berdasarkan penelitiannya yaitu peserta didik harus mengikuti semua peraturan yang telah diterapkan oleh pihak madrasah. Tujuan diadakannya pembiasaan shalat dzuhur berjamaah ialah untuk menguatkan pribadi peserta didik agar memiliki karakter yang bermoral serta budi pekerti yang baik.
Persamaan dari penelitian ini dan penelitian diatas yaitu sama-
14 Munfaridatur Rosyidah, Penenman Nilai-Nilai Karakter (Toleransi dan Disiplin) Melalui Pembiasaan Shalat Dzuhur Berjamaah di SMP Negeri 18 Semarang, (skripsi, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2019)
21
sama membahas tentang pendidik dalam membentuk karakter dan kedisplinan dalam aktivitas sholat berjemaah serta menggunankan menggunakan penelitian kualitatif. Sedangkan untuk perbedaannya yaitu pada lokasi serta jenjang sekolahnya, pada penelitian tersebut lokasi penelitiannya di Semarang dan jenjang pendidikannya pada SMP, sedangkan penelitian ini berada di Mataram dan jenjang pendidikannya pada Madrasah Aliyah (MA).
F. Kerangka Teori
1. Pembentukan Karakter
a. Pengertian Pembentukan Karakter
Pembentukan dapat diartikan sebagai proses, cara, ataupun perbuatan membentuk.15 Pembentukan dapat berarti pelatihan, pembinaan, pemupukan, penanaman, pengajaran, pendidikan, pengarahan dan lain sebagainya.
Pembentukan karakter tidak hanya kembali kepada bagaimana setiap individu dengan karakter bawaanya, namun karakter dapat dibentuk dengan apa yang terdapat di sekitar individu tersebut dari pengajaran, keteladanan,
15 https://tesaurus.kemendikbud.go.id/tematik/lema/pembentukan, diakses pada tanggal 10 Desember 2021 Pukul 10:00 WITA
22
pembiasaan, pengalaman, pergaulan, terlebih pembiasaan yang memegang peranan sebagai pondasi sebuah karakter yang akan melekat pada setiap individu.
Karakter menurut Hamdan hamid dan Beni Ahmad Saebani adalah “bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak.” Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Sebagai mana kutipan tersebut, bisa disimpulkan bahwa karakter adalah sebuah perilaku seseorang sesuai dengan keadaan dirinya (kebiasaannya). karakter adalah suatu kehormatan dalam diri seseorang, sebagai harta paling mulia.16
Menurut Haedar Nashir, karakter merupakan watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak dan dapat dipercaya. Pengembangan karakter
16 Hamdan hamid dan Beni Ahmad Saebani, Pendidikan Karakter perspektif Islam, (Bandung: CV.Pustaka setia, 2013), hlm. 30
23
bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu.17 Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Karakter dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.18
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Hal ini mengandung pengertian bahwa karakter merupakan kebajikan yang dibentuk pendidik melalui internalisasi atau memasukkan materi dan nilai yang mempunyai relevansi dalam membangun sistem berpikir dan berperilaku siswa.
Karakter diajarkan dengan mengenalkan, memahamkan hingga mengajak siswa sehingga pada
17 Haedar Nashin, Pendidikan Karakter Berbasis Agama Dan Budaya, (Yogyakarta: Multi Presindo, 2013), hlm. 11.
18 Manur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), cet. 2, hlm. 70.
24
akhirnya mereka mampu mempraktekkan dan memaknainya sebagai sesuatu yang melekat dan menjadi tindakan perenungan (reflective action) serta mengembangkannya menjadi pusat keunggulan insani (center of human exellence).19 Oleh karena itu, karakter harus menunjang peserta didik pada kemajuan bangsa. Jika dimulai dari karakter pastinya semua aspek pendidikan yang lain juga akan terpenuhi. Dalam Islam, karakter mempunyai kedudukan yang sangat penting dan berfungsi sebagai pengarah kehidupan.
b. Pentingnya Membangun Karakter
Membicarakan karakter merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Orang-orang yang berkarakter kuat dan baik secara individual maupun sosial ialah mereka yang memiliki karakter yang baik.20
Dalam merumuskan 18 karakter pada diri peserta didik sebagai upaya untuk membangun karakter bangsa yang baik. Diantarannya yaitu: religius, jujur, toleransi,
19 Aji Sofanudin, “Internalisasi Nilai-nilai Karakter Bangsa Melalui Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Pada SMA Eks-Rsbi Di Tegal”, Jurnal SMaRT, Vol.
01, No. 02, Desember 2015.
20 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi Dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan, cet-1 (Jakarta: Kencana Prenada Grup, 2011), hlm 1.
25
disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, rasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestesi, komunikatif, cintai damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. 18 nilai karakter ini telah disesuaikan dengan kaidah-kaidah ilmu pendidikan secara umum, sehingga lebih cocok untuk diterapkan dalam dunia pendidikan.21
Adapun penjelasan dari 18 karakter yang telah disebutkan diatas diantaranya sebagai berikut:
1) Religious, sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2) Jujur, perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3) Toleransi, sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
21 Maksudin, Pendidikan Karakter Non-Dikotomik, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2013), hlm. 7-9.
26
4) Disiplin, suatu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5) Kerja keras, perilaku yang membuktikan upaya sungguh-sungguh dalam menghadapi dan mengatasi berbagai masalah hambatan belajar dan tugas, serta menyelesikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6) Kreatif, bisa berfikir dan menghasilkan sesuatu karya yang inovatif dan berguna bagi banyak orang.
7) Mandiri, sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung dan mengandalkan orang lain dalam menyelesaikannya.
8) Demokratis, cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9) Rasa Ingin Tahu, sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat dan didengar.
10) Semangat Kebangsaan, cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan
27
bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.
11) Cinta Tanah Air, cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.
12) Menghargai Prestasi, sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
13) Bersahabat/Komunikatif, sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
14) Cinta damai, sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.22
22 Raihan Putry, “Nilai Pendidikan Karakter Anak DI Sekolah Perspektif Kemendiknas”, Jurnal Gender Equality, Vol. 4, No. 1, Maret 2018, hlm. 45.
28
15) Gemar Membaca ,kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16) Peduli Lingkungan, ialah sikap dan tindakan yang selalu ditunjukkan dengan senantiasa menjaga lingkungan dan memperbaiki kerusakan lingkungan alam di sekitarnya, dan meningkatkan upaya untuk memperbaiki. Hal ini sangat penting mengingat bahwa peserta didik sering kali berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
17) Peduli Sosial, sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membuthkan.
18) Tanggung Jawab, sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.23
23 Retno Listyarti, Pendidikan Karakter Dalam Metode Aktif, Inovatif, Dan Kreatif, (Jakarta: Esensi, 2012), hlm. 5-8.
29
Dari delapan belas karakter diatas yang menjadi titik fokus bagi seorang pendidik dalam membangun karakter melalui pembiasaan shalat berjamaah yaitu religius, toleransi dan disiplin dan karakter yang lainnya dapat dibentuk kepada peserta didik dalam kegiatan keagamaan serta mata pelajaran yang ada di madrasah. Terdapat hal yang harus diperhatikan, seperti contoh sikap peduli sosial, kesadaran peserta didik sendiri membentu temannya ketika mengalami kesusahan.
Dari berbagai jenis karakter yang telah disebutkan, maka sangatlah penting bagi setiap individu untuk membentuk karakter yang ada pada dirinya, khususnya karakter yang religious. Karakter memberikan gambaran tentang suatu bangsa, sebagai penanda, penciri sekaligus pembeda suatu bangsa dengan bangsa lainnya. Karakter memberikan arahan tentang bagaimana bangsa itu melewati suatu zaman dan mengantarkannya pada suatu derajat tertentu. Bangsa yang besar dan makmur adalah bangsa yang memiliki karakter yang mampu membangun sebuah
30
peradaban besar yang kemudian mempengaruhi perkembangan dunia.24
c. Pembentukan Karakter Peserta didik
Pembentukan karakter pesrta didik di sekolah ataupun madrasah adalah dengan membentuk pemahaman mengapa mereka harus berbuat baik. Jadi, untuk membentuk karakter, siswa tidak hanya diberikan pengetahuan mengenai hal-hal yang baik, akan tetapi mereka juga harus diberikan pemahaman mengapa perlu melakukan hal tersebut. Sehingga peserta didik dapat pula mengetahui alasannya. Pada pendidikan di madrasah, peserta didik sebaiknya difahamkan pentingnya memiliki atribut karakter dan menyadari manfaatnya bagi kehidupan di masyarakat.25
Pembentukan karakter peserta didik dapat terbentuk jika adanya usaha atau dorongan dari luar diri peserta didik tersebut, misalnya usaha yang dilakukan oleh pihak lembaga pendidikan yakni salah satunya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan di madrasah
24 Akh. Muwafik Saleh, Membangun Karakter Dengan Hati Nurani : Pendidikan Karakter Untuk Generasi Bangsa, (Jakarta : Erlangga), hlm. 1.
25 Ridwan Abdullah Sani dkk, Pendidikan Karakter : Mengembangkan Karakter Anak Yang Islami, (Jakarta : Bumi Aksara, 2016), hlm. 27.
31
yang melibatkan peserta didik secara langsung, sebagai upaya pembentukan karakter pada diri peserta didik.26 Pembentukan karakter peserta didik, lembaga pendidikan khususnya pihak madrasah tentunya mempunyai strategi dan proses untuk mewujudkan hal tersebut. Diantara strategi pembentukan karakter yang dapat diterapkan kepada peserta didik yaitu pembiasaan, pemahaman, melalui keteladanan yang baik, dan kedisiplinan.
1) Pembiasaan
Pembiasaan dilakukan guna meperkuat obyek yang telah dipahami dan diyakini sehingga dapat menjadi suatu bagian yang terikat pada dirinya. Kemudian menjadi suatu kebiasaan perbuatan atau akhlak. Sebagai contoh dengan membiasakan diri untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah di madrasah atau pun masjid, ketika tidak melaksanakan shalat berjamaah akan menimbulkan rasa yang kurang, seakan ada hal berharga yang hilang.27 Inti dari metode pembiasaan ini sebenarnya adalah pengalaman. Karena sesuatu yang
26 Fahrul Rozi, Strategi Pembentukan Karakter Melalui Kegiatan Keagamaan Pesrta Didik Kelas VII MTs Nurul Qur‟an Pagutan Tahun 2019/2020, (Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram, Mataram 2020), hlm. 2
27 Ibid, hlm. 38-39.
32
dibiasakan itu sesuatu yang diamalkan.28 Membiasakan para peserta didik shalat, lebih-lebih dilaksanakannya secara berjamaah itu penting.
Dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena banyak dijumpai orang berbuat dan berprilaku hanya karena kebiasaan semata-mata. Tanpa pembiasaan hidup seseorang akan berjalan lamban, karena sebelum melakukan sesuatu harus memikirkan terlebih dahulu yang akan dilakukannya.29 Dalam pembiasaan shalat peserta didik, dilaksanakan secara berjemaah itu lebih baik, karena akan terwujud pembinaan karakter yang utuh segala unsurnya, baik aqidah, ibadah, kemasyarakat dan perasaan. Ciri khas dari metode pembiasaan adalah kegiatan yang berupa pengulangan dari sesuatu yang sama.
Pembentukan karakter sebenarnya harus dibiasakan dan dipraktikkan secara berulang-ulang agar bisa
28 Suaidi dkk, “Membangun Karakter Anak Didik Melalui Keteladanan Kepemimpinan Kepala Sekolah/Madrasah”, Jurnal Pendidikan Karakter (JAWARA)
“JPKJ”, Vol. 07, No. 01, Juni 2021, hlm. 120.
29 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hlm. 166.
33
menjadi sebuah kebiasaan dan dapat membentuk sebuah karakter sesuai yang diinginkan.
a. Macam-Macan Pembiasaan
- Pembiasaan ibadah ialah pembiasaan yang ditekankan dalam ajaran agama Islam, seperti pembiasaan sholat berjamaah, membaca basmallah ketika hendak makan dan memakan dengan menggunakan tangan kanan.
- Pembiasaan ketauhidan ialah mencintai Allah, memohon pertolongan kepada-Nya, dan Iman kepada qadha dan qadar
b. Tujuan Pembiasaan
Pembiasaan merupakan proses dalam membentuk kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada.
Tujuannya supaya peserta didik mendapatkan karakter yang baik serta kebiasaan-kebiasaan baru yang tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuan ruang dan waktu. Selain itu, arti dari tepat dan positif diatas ialah selaras dengan norma
34
dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius, tradisional, dan kultural.
2) Pemahaman
Pemahaman dengan cara memberitahukan tentang hakikat dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, pemahaman yang diberikan setiap saat sehingga dapat dipahami dan diyakini bahwa obyek itu benar-benar berharga dan bernilai. Dengan demikian akan menimbulkan rasa suka atau tertarik di dalam hatinya sehingga peserta didik akan melakukan perbuatan yang baik dikeseharianya sesuai dengan apa yang ia pahami dan yakini.30
3) Keteladanan
Keteladanan yang baik merupakan pendukung terbentuknya karater yang mulia. Ini akan lebih berpengaruh melalui orang-orang terdekat seperti orang tua, pendidik, dan lain sebagainya, mempunyai peran penting di dalam kehidupan sehari-harinya.
Kecenderungan manusia meniru belajar lewat peniruan,
30 Mohammad Nasirudin, Pendidikan Tasawuf, (Semarang: RaSAIL Group, 2010), hlm. 36-37
35
menyebabkan keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses belajar mengajar. Ketika peserta didik tinggal di lingkungan yang baik secara otomatis di dalam dirinya akan terbentuk karakter yang baik begitu pula sebaliknya ketika ia berada di lingkungan yang buruk tentunya akan muncul perilaku tercela yang kemudian akan menjadi karakteristik anak tersebut.
Keteladanan dari orang tua dan pendidik sangatlah diperlukan dalam membentuk kepribadian peserta didik sehingga dapat menjadi muslim yang berkarakter.
Kepribadian pendidik mempunyai efek dan pengaruh terhadap kehidupan serta kebiasaan-kebiasaan belajar para peserta didik di madrasah. Sejumlah percobaan dan hasil pengamatan menguatkan fakta bahwa banyak sekali hal yang dapat ditiru, dipelajari oleh peserta didik dari gurunya. Peserta didik secara tidak langsung menyerap sikap-sikap pendidik, mengutarakan perasaan-perasaannya, menyerap keyakinan-
36
keyakinannya, meniru tingkah laku dan mengutip pernyataan-pernyataan para pendidik.31
4) Kedisplinan
Kedisiplinan sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter peserta didik yang mampu bekerja keras dengan gigih dan semangat yang tentu saja harus dilakukan secara cerdas (kognitif). Aspek disiplin juga dapat membentuk karakter peserta didik yang bertanggung jawab dalam melakukan aktivitas dengan sungguh-sungguh dalam berupaya mencapai sesuatu yang diinginkan. Hal yang di harapkan dengan pembentukan kedisiplinan ini adalah munculnya sikap disiplin terhadap diri sendiri, yakni peserta didik memiliki energi dan semangat secara mandiri untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa harus diperintahkan oleh orang lain. Untuk dapat melakukan sesuatu tanpa menunggu diminta atau diperintah oleh orang lain harus dimulai dari kesadaran diri sendiri secara mandiri. Kemandirian harus disertai dengan rasa
31 Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2012), hlm. 34.
37
percaya diri sehingga peserta didik akan gigih dan lebih bergairah dalam dalam melaksanakan aktivitas yang dicanagkan.
Penerapan kedisiplinan di madrasah perlu dilakukan dengan pemantauan dan sanksi yang jelas juga tegas dari pihak sekolah. Sementara itu, kegiatan disiplin dirumah cukup dipantau oleh orang tua. Kegiatan refleksi harus tetap dilakukan dalam upaya mengintegrasikan kepemilikan karakter disiplin sehingga peserta didik mampu menerapkann disiplin diri secara berkesinambungan.
Untuk membentuk kedisplinan, dalam lembaga pendidikan khususnya pihak madrasah perlu membuat aturan dan jadwal kegiatan yang harus dipatuhi peserta didik, guru dapat memahamkan peserta didik tentang aturan beserta sanksinya, peserta didik juga perlu diajak untuk bertukar fikiran mengenai tujuan dan manfaat pelaksanaan kegiatan. Kegiatan pembentukan kedisiplinan juga dapat dilakukan dengan melibatkan peserta didik dalam kegiatan di masyarakat. Dalam hal
38
ini, anggota masyarakat dan orang tua dapat menjadi mitra sekolah dalam pendidikan karakter.32
Dari semua upaya pembentukan karakter tersebut akan memunculkan beberapa sikap atau perilaku yang melekat pada dirinya atau biasa disebut dengan karakteristik. Pada dasarnya setiap muslim wajib melaksanakan sikap berbuat jujur, baik antar sesama muslim dengan muslim, maupun antar muslim dan non muslim. Demikian pula berbuat toleran, menepati janji, sportif, kerja sama, pemurah dan lain sebagainya.
2. Shalat Berjamaah
a. Pengertian shalat berjamaah
Shalat menurut bahasa Arab berarti doa, sedang menurut istilah adalah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudaih dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat yang telah ditentukan. Shalat yang diwajibkan tiap-tiap orang dewasa dan berakal ialah lima kali dalam sehari semalam. Shalat-shalat tersebut yaitu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Shalat Dzuhur adalah shalat yang
32 Ridwan Abdullah Sani dkk, Pendidikan Karakter …, hlm. 27-29.
39
dilaksanakan pada waktu tergelincirnya matahari dari pertegahan langit sampai bayang-bayang waktunya telah sama dengan panjangnya, selain dari bayang-bayang ketika matahari menonggak (tepat diatas ubun-ubun). Oleh karena itu, sholat ialah sikap berharap hati (jiwa) kepada Allah SWT. menumbuhkan rasa kebesaran dan kekuasaan- Nya dengan khusyuk dan ikhlas dalam seluru ucapan dan perbuatan, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.33
Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: [2] ayat 43, yang berbunyi:
ُُهٍُُعُكُزناُُعُماُىُعُكُراُوُُةىُكُزنااىُتُاُوُُةىُهُصنااىُمٍُُقُاُو
Artinya: “Dan laksanakanlah sholat, tunaikan zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’”. (QS. Al- Baqarah: [22] ayat 43).
Kata jamaah bersumber dari kata “al-ijtima‟” yang berarti kumpul. Sementara al-jama‟ah, “al-jami”, yang berarti orang yang berhimpun dalam satu tujuan. Secara syara‟ ialah interaksi antara shalat imam dan shalat
33 Sulaiman Rasjid, Fikih Islam, (Bandung: Sinar Baru, 1992), hlm. 64-71.
40
makmum atau hubungan yang terikat antara keduanya di dalam shalat.34
Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan secara bersama-sama yang terdiri dari imam dan makmum, dan paling sedikit dikerjakan minimal dua orang. Shalat berjamaah juga ialah shalat yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, dimana salah seorang diantara mereka menjadi imam dan lainnya menjadi makmum. Orang yang diikuti dinamakan imam, dan yang mengikuti di belakang dinamakan makmum.35 Orang dalam melaksanakan shalat berjamaah akan diberikan pahala yang besar dibandingkan pahala orang yang melaksanakan shalat sendirian.
Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:
ُُة ُلاُصُُمُهُسُوُُوٍُُهُعُُاللهُىُهُصُاللهُُلىُسُرُُلاُقُزُمُعُهباُ ُهُع
ُهاور(ُُتُجُرُدُ ُهٌزشُعُؤُُعبُسُبُذُفناُُة ُلاُصُىُهُعُُمُضفُتُُتُعاُمُج نا )مهسموُيراخبنا
Artinya: “Dari Ibnu Umar ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, kebaikan shalat berjamaah melebihi shalat sendirian sebanyak 27 derajat” (HR.
Bukhori dan Muslim).36
34 Akhmad Muhaimin Azzez, Tuntunan Sholat Fardhu dan Sunnah, (Yogyakarta: Darul Hikmah, 2014), hlm. 90.
35 Ibid, hlm. 110
36 Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam…, hlm. 107.
41
Hadis diatas menjelaskan tentang sebenarnya muatan perintah shalat berjamaah, sekaligus perintah agar umat Nabi Muhammad selalu shalat berjamaah dalam konteks keberagamaan.
Sholat fardhu sangat dianjurkan terutama dalam sholat berjamaah. Hukum shalat fardhu berjamaah ialah sunnah mu’akkad, dan fardhu kifayah menurut beberapa ulama.37
b. Manfaat Shalat Berjamaah
Banyak keutaman dan manfaat yang baik diperoleh ketika seseorang dalam menunaikan shalat berjamaah. Ada keutamaan yang diperoleh di dunia dan ada juga keutamaan dan manfaat yang diperoleh nanti di akhirat, diantaranya adalah Allah SWT akan melipat gandakan pahala shalat berjamaah sampai dua puluh derajat, menjauh dari sikap munafik, diampuni dosannya oleh Allah SWT, mengembangkan disiplin diri, tumbuhnya persaudaraan, kasih sayang dan persamaan.
37 Syarif Yahya dan Irwan Kurniawan, Tuntunan Shalat: Dari Fikih Sampai Hikmah, Dari Wajib Hingga Sunnah, (Bandung: Marja, 2012), hlm. 86.
42
Shalat berjamaah merupakan amalan yang baik mendatangkan banyak manfaat. Dalam hal ini ada beberapa manfaat (keutamaan) shalat berjamaah bagi umat muslim yang mengerjakannya, sebagai berikut:
Amalan yang dapat menghindarkan dari siksaan api neraka sekaligus dapat menyelamatkan diri dari sifat munafik
Diampuni segala dosa oleh Allah SWT.
Diberi pahala yang berlipat ganda, yaitu orang yang mengerjakan shalat berjamaah mendapatkan pahala sebanyak 27 derajat.
Shalat berjamaah bisa menjauhkan diri dari godaan setan yang bisa bersemayam dalam tubuh manusia.
c. Shalat Berjamaah dalam Pembentukan Karakter
Shalat menjadi jembatan penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Allah mensyari‟atkan kepada umat
Islam melaksanakan sholat fardhu lima waktu dalam sehari semalam dan juga sholat berjemaah yang tujuannya untuk mempererat ikatan sosial antar umat Islam, tidak ada perbedaan status sosial, terjalinnya ukhuwah Islamiah, dan
43
membentuk karakter yang disiplin. Oleh karena itu, pendidikan shalat harus diajarkan sejak anak usia dini.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, yang artinya:
“Perintahlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika umur tujuhntahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat bila berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan)”.
(HR. Abu Dawud).38
Cara membiasakan shalat berjamaah pada peserta didik, maka diharapkan peserta didik melaksanakan shalat berjemaah dengan tertib dan disiplin. Shalat berjemaah sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian peserta didik. Pada shalat berjamaah peserta didik dilatih untuk bersikap saling menghargai satu sama lain, menghargai perbedaan status sosial dan berlatih disiplin waktu.
Melaksanakan ajaran Islam secara teratur, maka akan berdampak pada kepribadian seseorang. Misalnya seseorang yang rajin melaksanakan sholat berjemaah maka semakin rajin pula seseorang dalam menaati tata tertib yang lainnya. Dan dengan rajin melaksanakan shalat berjemaah,
38 Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy‟ats A. A, Ensiklopedia Hadits Sunan Abu Dawud, (Jakarta: Almahira, 2013), Cet. 1, hlm. 103.
44
pada diri seseorang akan muncul sikap toleransi antar sesama, saling menghargai perbedaan sosial. Karena pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah dengan keadaan sama yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaannya.
d. Hubungan Karakter Dengan Shalat Berjamaah
Karakter merupakan tabiat, watak, akhlak dan sifat- sifat kejiwaan yang melekat dalam diri seseorang. Pendidik harus kreatif dalam membina peserta didik untuk membentuk karakter agar secara tidak sadar peserta didik dapat menerima apa yang diperintahkan, terutama dalam hal ibadah karena dibutuhkan sebuah pembiasaan sehingga peserta didik bisa menerima dan menyadari apa yang telah diperintahkan dalam hal-hal kebaikan. Melakukan shalat Dhuha dan sholat Dzuhur berjamaah dapat meningkatkan kedisiplinan peserta didik. menerapkan sikap disiplin pada peserta didik tidaklah mudah terkadang diperlukan sikap yang tegas bahkan dapat berujung pada sanksi berupa hukuman. Namun seiring berjalannya waktu, kesadaran peserta didik terhadap pentingnya melaksanakan sholat Dhuha dan sholat Dzuhur berjamaah mulai tumbuh.
45
Dari sinilah karakter peserta didik mulai terbentuk dengan adanya kegiatan shalat Dhuha dan shalat Dzuhur berjamaah. sehingga peserta didik tidak hanya disiplin dalam hal shalat berjamaah tetapi disiplin dalam hal lain juga. Selain itu dapat menumbuhkan sikap untuk saling menyayangi terhadap teman yang lain, berjabat tangan dapat mempersatukan hubungan silaturahmi, mengenal teman yang selama ini belum kita kenal sebelumnya, membuktikan bahwa Islam mengajarkan untuk bersikap ramah terhadap orang lain, menjauhkan peserta didik dari perilaku yang kurang terpuji. Orang yang selalu melaksanakan perintah Allah akan terhindar dari sifat-sifat kurang terpuji, karena mereka tahu Allah selalu mengawasi apa yang mereka lakukan. dengan melaksanakan sholat berjamaah, mematuhi perintah Allah dan melaksanakan seperti apa yang Rasulullah beserta para sahabatnya kerjakan.39
Shalat berjamaah sebagai suatu keharusan dapat dilaksanakan dengan adanya kesadaran yang berasal dari
39 Ahmad Mustafa ath-Thahthawi, Salatnya Para Kekasih Allah, (Surakarta:
Insan Kamil, 2008), cet. 1, hlm. 15-16.