PENAMPILAN FISIK NEONATUS
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Neonatus
Dosen Pengampu: Dede Gantini, SST, M.Keb
Disusun oleh:
Kelompok 1
Aisyah Meilani Yuliani P P20624522001 Alya Rahmalani P20624522003 Astri Fitriyani P20624522006 Ega Ratna Melia P20624522014 Gina Aulia Aprilianti P20624522019 Ira Rahmawati P20624522024 Rafi Nurhalimah P20624522031
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN DAN PROFESI BIDAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TASIKMALAYA KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2024
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat- Nya makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penyusunan makalah yang berjudul
“Penampilan Fisik Neonatus” ini dalam rangka memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Neonatus.
Makalah ini dapat selesai berkat adanya bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, terutama dosen mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Neonatus yaitu Ibu Dede Gantini, SST, M.Keb yang telah memberikan masukan demi kelancaran dan kelengkapan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kekurangan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki. Oleh karena itu, semua kritik dan saran pembaca sangat kami harapkan dan akan kami terima demi perbaikan tugas kedepannya.
Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat untuk pembaca semuanya dan bisa menambah pengetahuan yang lebih baik sebagaimana yang tertera dalam tujuan dibuatnya tugas ini.
Tasikmalaya, 7 Agustus 2024 Kelompok 1
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI...ii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah... 1
1.3 Tujuan ... 1
BAB II ... 2
PEMBAHASAN ... 2
2.1 Penampilan Fisik Neonatus... 2
2.2 Perilaku Neonatus ... 3
2. 3 Reaksi Awal Neonatus ... 5
BAB III ... 11
PENUTUP ... 11
3.1 Kesimpulan ... 11
3.2 Saran ... 11
DAFTAR PUSTAKA ... 12
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya bayi baru lahir sudah memiliki penampilan atau ciri-ciri dan perilaku yang khusus. Kebanyakan bayi baru lahir memiliki tubuh yang tidak proporsional. Ukuran kepala dan badannya tidak sebanding. Berbeda sekalidengan penampilan anak-anak dan orang dewasa pada umumnya. Perbedaanyang mencolok ini disebabkan oleh titik tengah tinggi badan bayi berada di pusatsedangkan orangdewasa berada di bagian kelamin. Bayi baru lahir cukup bulanyang sehat memiliki pola perilaku alami yang menyebabkan bayi mencari payudara ibu dan menghisapnya pada jam pertama setelah kelahiran bayi
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana penampilan fisik neonatus?
2. Bagaimana perilaku neonatus?
3. Bagaimana reaksi awal neonatus?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana penampilan fisik neonatus 2. Untuk mengetahui bagaimana perilaku neonatus
3. Untuk mengetahui reaksi awal neonatus
2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Penampilan Fisik Neonatus
Bayi baru lahir yang sehat harus mampu menjalani fungsi biologi/ fisiologis dan fungsi perilaku agar dapat tumbuh normal. Bayi baru lahir telah diciptakan dengan kemampuan untuk memulai interaksi sosial dengan orang tua segera setelah lahir (Saputra, 2014).
1. Penampilan bayi baru lahir(Saputra, 2014).
a. Kulit dan Wajah
Kulit bayi baru tampak sedikit keriput dan cenderung agak kering. Awalnya, wajah bayi akan tampak sembab, begitu pula dengan kelopak mata.
Timbul jerawat/bintil kecil putih pada wajah bayi (miliaria)
Beberapa hari setelah kelahiran timbul lapisan tebal seperti ketombe yang disebut cradle cap (kerak kepala)
Periksa kesimetrisan pada wajah bayi, pastikan gerakan pada wajah saat bayi menangis, adakah gerakan yang asimetris, kedua mata, simetris/ tidak, perhatikan kotoran dan perdarahan, ukuran telinga, bentuk, kondisi kulit, dan apakah ada serumen yang berlebihan periksa dengan menggunakan penlight, kondisi lubang hidung bayi, adakah lesi, cairan (mucus) pastikan tidak ada sumbatan karena adanya mukosa yang berlebihan dan tidak ada pernafasan cuping hidung, mulut bayi simetris/tidak, apakah ada tanda sianosis, apakah ada labioskizis sampai palotoskizis.
Dalam beberapa hari atau minggu, jerawat-jerawat itu akan terjadi hilang dengan sendirinya dan untuk membersihkan kerak kepala pada bayi cukup dibersihkan dengan sampo khusus bayi.
a. Kepala
Bayi yang lahir secara normal (per vagina) berbentuk agak lonjong. Hal ini karena tekanan ketikamelewati jalan lahir. Kaji kepala yang meliputi, kondisi sutura, fontanel mayor dan minor, molase, bulging, cephal hematoma, caput succedenum b. Rambut
3
Kondisi rambut bayi (seperti warna dan ketebalannya) tidak selalu menunjukkan kondisi aslinya kelak. Rambut 'bayi' ini akan rontok dengan sendirinya dan akan digantikan oleh rambut permanen. Tubuh hayi baru lahir, terutama pada bagian dahi, bahu dan punggung dikelilingi oleh rambut-rambut halus yang disebut lanugo c. Perut
Perut bayi mula-mula tampak besar dan penuh hal ini normal. Seiring dengan menambah panjang badan bayi, perut akan proporsional dengan dirinya sendiri.
d. Payudara dan Kemaluan
1) Payudara bayi baru lahir, baik perempuan maupun laki-laki. tampak agak membesar dan bahkan ada yang meneteskan air susu. Hal ini karena sedikit hormon ibu yang merangsang produksi ASI dibawa ke dalam tubuh bayi.
2) Skrotum bayi laki-laki terlihat besar karena masih berisi air dan akan 'mengempis' dengan sendirinya dalam 3 sampai 6 bulan.. Bayi perempuan kadang-kadang juga mengeluarkan semacam itu cairan berwarna putih, atau bahkan ada semburat darah, dari vaginanya. Dan itu semua disebabkan oleh hormon ibu yang dibawa oleh tubuh bayi.
2.2 Perilaku Neonatus
Menurut Khoirunnisa dan Sudarti (2010) perilaku bayi baru lahir adalah sebagai berikut:
1. Keadaan tidur-terjaga, Brazelton mengklasifikasikan enam status perilaku bayi baru lahir sebagai berikut:
a. Status terjaga meliputi: menangis, banyak aktivitas motorik, sadar dan mengantuk.
b. Status tidur meliputi tidur aktif (ringan) dan tidur dalam.
2. Reflek Bayi Baru Lahir
Reflek yaitu suatu gerakan yang terjadi secara otomatis dan spontan tanpa disadari bayi normal, dibawah ini akan dijelaskan beberapa penampilan dan perilaku bayi, baik secara spontan karena adanya rangsangan atau bukan.
a. Tonik neck reflek
Yaitu gerakan spontan otot kuduk pada bayi normal, bila ditengkurapkan akan secara spontan memiringkan kepalanya
4 b. Rooting reflek
Yaitu bila jarinya menyentuh daerah sekitar mulut bayi, maka ia akan membuka mulutnya dan memiringkan kepalanya ke arah datangnya jari
c. Grasping reflek
Bila jari kita menyentuh telapak tangan bayi, maka jari-jarinya akan langsung menggenggam sangat kuat
d. Moro reflek
Reflek yang timbul diluar kemauan kesadaran bayi. Contoh: bila bayi diangkat atau direnggut secara kasar dari gendongan kemudian seolah-olah bayi melakukan gerakan yang meangkat tubuhnya pada orang yang mendekapnya
e. Startle reflek
Reaksi emosional berupa hentakan dan gerakan seperti mengejang pada lengan dan tangan dan sering diikuti dengan tangis
f. Stapping reflek
Reflek kaki secara spontan apabila bayi diangkat tegak dan kakinya satu persatu disentuhkan pada satu dasar maka bayi seolah-olah berjalan.
g. Sucking reflek
Areola puting susu tertekan gusi bayi, lidah, dan langit-langit sehingga sinus laktiferus tertekan dan memancarkan ASI dan bayi berusaha untuk menghisap h. Swallowing reflek
Dimana ASI dimulut bayi mendesak otot didaerah mulut dan faring sehingga mengaktifkan reflek menelan dan mendorong ASI kedalam lambung
3. Kemampuan Sensori
a. Kemampuan sensori terkait sangat erat dengan usia gestasi
b. Bayi baru lahir memiliki kemampuan untuk membedakan bau badan yang khusus.
Bayi baru lahir dapat membedakan bau payudara ibunya dari bau payudara wanita menyusui lain
c. Bayi baru lahir memiliki pendengaran yang tajam dan mampu melokalisasi suara di lingkungan
d. Bayi baru lahir lebih tertarik pada suara dengan pola yang sama dengan pola bicara.
5
e. Kemampuan bayi baru lahir untuk berespons terhadap sentuhan terlihat jelas dengan munculnya berbagai refleks eksteroseptif seperti rooting, menggenggam, refleks abdomen dan pelekukan spinal.
2. 3 Reaksi Awal Neonatus
Begitu lahir, bayi harus menangis. Ini merupakan reaksi pertama yang bisa dilakukan.
Dengan menangis, otomatis paru-parunya berfungsi. Paru-paru akan membuka dan mengisap oksigen. Selain itu, menangis juga sebagai reaksi dari perubahan yang dialami si bayi. Ketika di kandungan, ia merasakan kehangatan dan kenyamanan; ia merasa terlindungi. Suasana di rahim pun gelap.
Sementara begitu lahir, ia merasakan udara luar yang dingin dan ada cahaya terang, perubahan ini disikapinya dengan menangis. Itu sebab, jika setelah lahir bayi tak menangis, berarti tak normal. Biasanya, in mengalami asfiksia, yaitu kurang masukan oksigen ke dalam tubuhnya. Bahayanya, otak pun akan kekurangan oksigen hingga dapat merusak otak. Kejadian ini biasanya berkaitan dengan keadaan sejak di kandungan. Maka itu, bila ada sesuatu dengan kandungan ibu yang bermasalah, harus segera mendapat penanganan yang adekuat dan benar dari ahlinya. Ini untuk menghindari, salah satunya kejadian bayi tak menangis.
Ketika bayi menangis, anggota geraknya pun ikut aktif. Tangisan bayi yang sehat bila suaranya keras, bukan merintih atau melengking. Jika suara tangisannya merintih/melengking, pertanda ada sesuatu pada si bayi atau ia sakit.
Menangis pada bayi juga merupakan ungkapan ekspresinya. Bayi akan menangis lantaran minta perhatian, lapar, basah popoknya karena BAB/BAK, atau lainnya. Jadi, bayi menangis tak selalu berarti lapar.Berikut ini akan digambarkan beberapa reaksi bayi baru lahir yaitu sebagai berikut:
1. Kaget.
Bayi akan bereaksi seperti kaget. Ini merupakan refleks naluriah. Sejauh refleks ini tak berlebihan terjadinya, tak masalah. Bila ia kaget, biasanya tubuhnya bergerak semua.
Gerakannya itu harus simetris semua, tak hanya sebagian tubuhnya saja yang bergerak.
Kalau tidak, harus dicurigai ada sesuatu di otaknya. Segera periksakan ke dokter.
Gerak refleks ini bisa karena ia melihat cahaya yang menyilaukan atau lantaran ia sudah bisa mendengar suara bunyi yang mengagetkannya. Itu sebab, jika bayi sedang tidur,
6
biasanya orang di sekitarnya diminta untuk tak terlalu berisik. Refleks ini masih boleh ada sampai usia 5 bulan. Jika setelah itu masih tetap ada, berarti tak normal, ada sesuatu pada diri si bayi hingga mesti dicari penyebabnya. Kemungkinan ada kerusakan diotaknya.
2. Bersin
Jika sesekali atau tak berlebihan, wajar saja. Sebenarnya, bersin. pertanda ia ingin mengeluarkan sesuatu/kotoran dari hidungnya. Lagi pula hidung bayi itu sensitif, dengan bersin, lubang hidungnya dibersihkan. Jadi, bersin merupakan reaksi bayi untuk pertahanan tubuhnya. Selain itu, bersin bisa juga karena ia terekspos udara dingin. Jadi, bersin tak selalu berarti bayi akan flu. Tapi jika keseringan, misal, tiap jam bersin, memang bisa jadi pertanda si bayi sakit. Mungkin ketularan pilek dari ibunya.
Karena itu, untuk menghindarinya dari sakit, jangan sering-sering menciumi si bayi. Bila di rumah ada orang dewasa yang sedang sakit, sebaiknya tak mencium bayi dan harus menggunakan masker.
3. Mengisap
Refleks ini merupakan refleks paling primitif untuk mempertahankan hidup. Lapar atau tidak, bila kita taruh jari di mulutnya, ia akan mencari dan membuka mulutnya dan jari tersebut akan diisapnya. Kemampuan inilah yang membuatnya bisa menyusu dan mendapatkan makanan. Bila usia kehamilan ibu 34 minggu ke atas dan bayi dilahirkan di usia itu, sudah ada refleks mengisapnya. Jika refleks ini tak ada, berarti si bayi. sakit, apakah infeksi atau sakit berat lainnya, semisal ada kerusakan otak hingga pusat yang mengatur refleksnya tak berfungsi. Refleks mengisap akan terus ada sampai dewasa. Maka itu, adakalanya anak usia setahun pun masih suka mengisap ibu jarinya.
4. Tersedak
Normalnya di tenggorokan ada jalan napas dan jalan makanan atau kerongkongan.
Jika bayi sedang minum/makan, jalan napasnya akan menutup. Pada bayi normal, lahir cukup bulan, dan sehat, ia punya refleks otomatis seperti itu. Jadi, bila kebanyakan minum, ia akan berhenti dulu, tak akan gelagapan tersedak sampai masuk ke paru-paru. Bayi bisa mengatur seberapa banyak harus mengisapnya. Jadi, jarang bayi tersedak. Jika hanya sekali-kali tersedaknya tak apa-apa, asalkan jangan sampai masuk ke jalan napas dan menyebabkannya biru. Bila sampai tersedak pun ia punya refleks untuk membatukkan.
Kecuali jika bayi dicekoki, kebanyakan bisa tersedak.
7
Pada bayi yang menyusu ASI, tak mungkin tersedak karena bayı mengisap dan memompa ASI sesuai isapannya. Tersedak justru lebih. sering terjadi pada bayi yang minum susu botol. Terutama karena posisi dalam memberikan susu botol yang mungkin tak benar/tak hati-hati. Selain itu, susu akan menetes terus dari dotnya hingga bayi sulit mengatur isapannya. Akibatnya, jika kebanyakan netesnya, ia jadi gelagapan. Maka itu, dalam menyusui bayi, mata ibu tak boleh ke mana-mana, harus memperhatikan dengan baik apakah si bayi mengisapnya dengan enak atau tidak. Bila si bayi tersedak, hentikan dulu menyusunya, lalu angkat dan sendawakan.
Ada kelainan pada bayi yang membuatnya sering tersedak, misal, refleks isapnya tak ada karena in sakit berat dan badannya lemah. Sebab, refleks tersebut akan timbul jika si bayi sehat. Karena refleksnya itu tak ada lalu dipaksa, hingga membuatnya tersedak.
Seharusnya bayi-bayi seperti ini dipasangkan selang dari mulut ke lambungnya. Bayi juga bisa tersedak karena kelainan anatomis, misal, fistula esophagus (ada lubang antara jalan napas dan jalan makan). Jadi, makanan/minuman yang masuk. sebagian masuk ke paru- paru hingga membuatnya tersedak. Kelainan ini harus diperbaiki dengan operasi.
5. Mengeluarkan air liur
Air liur diproduksi terus dan harus ditelan. Jika air liur keluar dari mulutnya hanya sekali-kali/tak berlebihan, itu normal. Nanti juga lama- lama hilang sendiri sejalan pertambahan usianya. Tapi, jika air liur sudah terlalu banyak dan berlebihan, berarti ada penyakit. Misal, ada atresia esophagus (buntunya saluran kerongkongan), hingga bayi tak bisa menelan dan produksi air liurnya berlebihan. Mengatasinya, dengan operasi. Biasanya kelainan ini harus dicurigai ada pada bayi bila ibunya dalam kehamilan mengalami polihidramnion atau air ketuban banyak atau yang orang bilang dengan hamil kembar air.
6. Buang air besar dan buang air kecil
Sebenarnya, bayi di kandungan sudah makan dan ususnya sudah bisa membentuk yang namanya kotoran. Itu sebab, umumnya bayi baru lahir dalam waktu 24 jam sudah BAB dan BAK. Jika dalam waktu 48 jam tidak BAB/BAK, berarti ada yang tak beres.
Kalau tidak BAB, mungkin ada sumbatan di jalan ususnya hingga kotoran tak bisa keluar. Bisa karena memang jalannya buntu atau karena kotoran yang sudah terbentuk di kandungan begitu keras (mekonium plak). Untuk mengeluarkannya, kotoran ini harus distimulasi dan ini dilakukan di RS.
8
Pada tiga hari pertama, kotoran bayi masih berwarna hitam kehijauan. Tapi lama- lama warnanya berubah jadi kuning. Pada bayi yang mendapatkan ASI, frekuensi BAB - nya lebih sering. Dalam sehari bisa sampai 10 kali, tapi hanya sedikit-sedikit. Jadi, kita tak perlu bingung dan menganggapnya diare. Yang penting bukan frekuensinya, tapi konsistensinya. Jika konsistensinya berupa cairan dan jumlahnya banyak, berarti diare.
Kalau tidak BAK, biasanya karena bayi sakit berat (syok) hingga aliran darah ke ginjal kurang. Dalam keadaan syok, aliran darahnya diutamakan ke otak dan jantung hingga aliran darah yang ke ginjal kurang Bayi akan lebih sering BAK jika ia memang banyak minum. Atau, bisa juga karena udara dingin membuatnya lebih sering BAK. Bisa 10-12 kali ganti popok dalam sehari. Jika sudah BAK, otomatis cairan tubuhnya berkurang dan bayi pun akan minta minum kembali. Jadi berikan saja, tak perlu pakai jam-jaman.
7. Tangan dan kaki lebih sering menekuk
Ketika ditaruh dalam posisi telentang, biasanya tubuhnya tak lurus sama sekali, tapi menekuk di siku tangan dan lututnya. Tubuhnya pun lebih banyak bergerak. Posisi anggota gerak bayi normal ini, Namanya fleksi. Mungkin posisi secara fisiologis ini seperti kala di kandungan, bayi dalam keadaan meringkuk.
Jadi, posisinya ini tak perlu dikhawatirkan, apalagi sampai membedongnya kuat- kuat dengan tujuan agar tubuhnya jadi lurus. Biarkan saja. Sebetulnya, bedong digunakan hanya agar bayi tak kedinginan. Namun bila tubuhnya menekuk berlebihan, dalam arti menekuk sekali dan tampak kaku atau tak relaks, namanya spastis. Ini berarti ada saraf yang tak beres. Umumnya, setelah usia 5-6 bulan posisinya mulai tidur lurus. Tapi jika dari awal sudah lurus dan kaku, namanya ekstensi. Kemungkinan ada sesuatu di otaknya.
8. Melihat ke atas
Bayi baru lahir cuma bisa membedakan terang dan gelap, ada sinar atau tidak.
Fungsi penglihatannya belum sempurna. Jadi, jika bayi tampak seolah sering melihat ke atas, sebenarnya bukanlah demikian. Itu hanya reaksi karena ada sinar yang membuatnya silau dan matanya tampak bergerak-gerak. Mungkin karena ia melihat bayangan saja atau sesuatu seperti bayangan yang bergerak. Usia 2 bulan penglihatannya masih kabur dan buram, ia tahu hanya ada bayangan. Setelah 4 bulan, barulah penglihatannya lebih jelas.
9. Perut sering tampak bergerak
9
Pernapasan bayi masih dominan dengan menggunakan otot perut. Itu sebab, otot perutnya akan bergerak. Setelah 6 bulan, pernapasannya berganti dengan otot dada. Maka itu, para ibu jangan memakaikan gurita/bedong pada bayinya. Sebab, pemakaian gurita/bedong tak hanya mengekang pergerakan dinding perut, tapi juga gerakan usus untuk mencerna makanan pun akan terganggu. Bahkan, makanan yang masuk bisa keluar alias muntah lagi. Bila khawatir si kecil kedinginan, sebaiknya jangan dibedong kuat-kuat, gunakan saja celana, popok dan kaos singlet. Biarkan bayi bernapas lega.
10. Gumoh/muntah
Tak apa-apa bayi gumoh. Itu bagian dari refleksnya. Apalagi jarak antara kerongkongan dan jalan nasofaring ini pendek, hingga mudah terjadi gumoh. Gumoh pertanda bayi kebanyakan minum atau sudah kenyang. Lambung bayi itu kecil, jika makanan/minumannya terlalu banyak akan membuatnya gumoh. Bila gumoh terus-terusan, kita tak boleh berpikir terlalu jelek seperti halnya muntah. Mungkin saja karena kita mencekoki si bayi susu terus. Apalagi kadang bila bayi menangis, umumnya ibu akan menjejalkan mulut si bayi dengan susu. Padahal, mungkin saja si bayi tak lapar, tapi pipis atau hanya ingin digendong. Tak apa-apa juga bila gumoh keluar lewat hidung, selama bayi tak tampak biru. Jika sampai biru dan tersedak, artinya sudah masuk ke jalan napas. Kita harus bisa membedakan antara gumoh dan muntah. Gumoh keluar begitu saja dari mulut dan sedikit. Sedangkan muntah, ada tekanan negatif dari perut mendorong diafragma. Jika muntahnya hanya sekali, mungkin. bisa dipikirkan kekenyangan. Tapi jika muntahnya lebih dari 3 kali atau setiap minum muntah, mungkin ada obstruksi/sumbatan, baik di sekitar lambung atau lebih ke bagian bawahnya. Jika demikian, harus dibawa ke dokter.
Kalau ternyata ada obstruksi, harus dilakukan operasi.
11. Tidur
Dalam sehari, bayi baru lahir bisa tidur sampai 18 jam. Bangunnya hanya untuk minum, lalu tidur lagi. Secara perlahan, makin usia bertambah, waktu tidurnya akan berkurang atau makin sedikit. Bayi kalau perutnya kenyang, badan kering dan hangat, ia akan tidur. Kalau tidak, ia gelisah. Ada juga bayi-bayi yang susah tidurnya, berarti termasuk bayi rewel atau ada sesuatu yang dirasanya atau sakit. Lebih ekstremnya, jika bayi banyak tak tidurnya alias melotot terus, ia akan sangat aktif, bertemperamen tinggi,
10
seperti mengamuk, dan sebagainya. Biasanya bayi seperti ini karena ada keracunan dari sang ibu, misal, ibunya pecandu narkoba. Harus ditangani dokter untuk pengobatannya.
Saat ditidurkan, sebaiknya bayi tak ditaruh telentang tapi menyamping agar jika muntah tak akan ditelannya. Bayi bisa memilih sendiri posisi tidurnya yang dirasakannya nyaman.
12. Menguap
Normal, jika bayi sesekali menguap, bisa berarti ia mengantuk. Tapi, jika sebentar- sebentar menguap atau sering, bisa termasuk dalam salah satu sindrom keracunan obat- obatan, misal, dari ibu yang pecandu narkotika. Harus ditangani dokter untuk pengobatannya.
13. Menggeliat
Menggeliat berarti menggerakkan otot-ototnya. Normal, kok, karena ia belum bisa tengkurap atau membalikkan badannya, maka gerakannya hanya sebatas menggeliat. Bayi memang harus banyak bergerak. Di kandungan saja, bayi banyak menendang-nendang.
Hanya, seberapa banyak aktifnya bergerak, sangat individual sifatnya, entah bayi laki atau perempuan. Justru kalau bayi diam saja, harus dicurigai, berarti ada sesuatu atau sakit.
14. Tersenyum
Orang tua dulu mengatakan, jika bayi tersenyum berarti sedang tersenyum dengan saudaranya atau malaikat. Sebenarnya, senyumnya itu tak berarti apa -apa. Apalagi bayi belum bisa melihat dengan jelas, masih berupa bayangan saja. Bayi tersenyum sekadar reaksinya menggerakkan otot-otot wajahnya.
11 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Bayi baru lahir yang sehat harus mampu menjalani fungsi biologis/ fisiologis dan fungsi perilaku agar dapat tumbuh dengan normal. Meliputi penampilan bayi baru lahir kulit bayi baru tampak sedikit keriput dan cenderung agak kering, timbul jerawat / bintil kecil putih pada wajah bayi (miliaria). Kepala bayi yang lahir secara normal (per vaginal) kepalanya berbentuk agak lonjong, rambut ada rambut - rambut halus yaitu lanugo, perut bayi mula-mula tampak besar dan penuh hal ini normal. Payudara bayi baru lahir, baik perempuan maupun laki-laki, tampak agak membesar dan bahkan ada yang meneteskan air susu. Skrotum bayi laki-laki terlihat besar karena masih berisi air dan akan 'mengempis' dengan sendirinya dalam 3 sampai 6 bulan. Bayi perempuan kadang-kadang juga mengeluarkan semacam cairan berwarna putih, atau bahkan ada semburat darah, dari vaginanya. Dan itu semua disebabkan oleh hormon ibu yang terbawa oleh tubuh bayi. Perilaku bayi baru lahir yaitu keadaan tidur-terjaga, reflek neonatus, dan kemampuan sensori.
3.2 Saran
Dari makalah yang berjudul “Penampilan Fisik Neonatus” ini semoga dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya. Pengetahuan mengenai masa nifas dan menyusui hendaknya dimiliki oleh semua bidan, calon bidan, serta tenaga kesehatan yang lainnya yang berkaitan dengan kehamilan. Pada saat pembuatan makalah kami menyadari bahwa banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Dengan sebuah pedoman yang bisa dipertanggungjawabkan dari banyaknya sumber. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik serta saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan diatas.
12
DAFTAR PUSTAKA
Rukiyah, A. Y., & Yulianti, L. (2013). Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita.Jakarta : CV. Trans Info
MediaSaputra, L. (2014).Pengantar Asuhan Neonatus, Bayi, dan Balita. Jakarta :BINARUPA AKSARA Publisher.
Sudarti, & Khoirunnisa, E. (2010). Asuhan Kebidanan Neonatus Bayi dan Anak Balita.
Yogyakarta : Nuha Medika