PENDEKATAN
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH DASAR
MODUL 5
anggota
KELOMPOK
Dzuni’matin Nadzifah Eliza Amelia
Lina Sofiana
Lia Eka Septiarini
Rica Sevtia Kusyaroh
Kegiatan Belajar 1
A. LATAR BELAKANG
Pendekatan Whole Language (PWL) tidak secara eksplisit disebut-sebut
dalamkurikulum bahasa dan sastra Indonesia. Pada awalnya, PWL lebih banyak
dibahas pada tataran diskusi-diskusi. Ini berbeda dengan “pendekatan komunikatif”
atau “pendekatan kebermaknaan” yang secara eksplisit disebut dalam kurikulum 1984 dan kurikulum –kurikulum selanjutnya.
Pendekatan Whole Language dalam
Pembelajaran
Bahasa dan Sastra
Indonesia
B. LANDASAN TEORETIS
Whole Language adalah salah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran bahsa secara utuh, tidak terpisah-pisah.
Pendekatan Whole Language (PWL) atau pendekatan integrated whole language (PIWL), menurut Richards. Platt, & Platt (1992:405-
406), adalah pendekatan pengajaran bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2) yang dilaksanakan untuk merefleksikan prinsip- prinsip pemerolehan B1 dan B2 yang didasarkan pada prinsip-prinsip
berikut.
1. Bahasa disajikan dalam keutuhan.
2. Aktivitas pembelajaran lebih bergerak dari keseluruhan ke bagian.
3. Keempat keterampilan berbahasa dioptimalkan.
4. Bahas dipelajari melalui interaksi sosial dengan orang lain.
C. KOMPONEN WHOLE LANGUANGE
1. Membaca Nyaring (Reading Aloud) 2. Menulis Jurnal (Jurnal Writing)
3. Membaca Diam (Sustained Silent Reading) 4. Membaca Bersama/Berbagi (Shared Reading)
5. Membaca Terbimbing (Guided Reading) 6. Menulis Terbimbing (Guided Writing) 7. Membaca Bebas (Independent Reading)
8. Menulis Bebas (Independent Writing)
D. MERANCANG PENGAJARAN
BERPENDEKATAN WHOLE LANGUAGE
1. Tujuan Pengajaran 2. Materi Pengajaran
3. Peran Siswa dan Guru 4. Teknik Mengajar
5. Teknik Penelitian
Kegiatan Belajar 2
A. LATAR BELAKANG
Pendekatan Komunikatif (PK) adalah sebuah pendekatan pengajaran
bahasa, khusunya pengajaran bahasa kedua (B2) dan pengajaran bahasa asing.
Dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, PK ramai dikembangkan dan diterapkan setelah pemberlakuan Kurikulum 1984.
Pendekatan
Komunikatif dalam Pembelajaran
Bahasa dan Sastra
Indonesia
B. LANDASAN TEORETIS
Pendekatan Komunikatif mendapat dukungan dari dua kelompok ahli linguistik, yakni
1. Ahli sosiolinguistik yang dipelopori oleh Dell Hymes (di Amerika)
2. Ahli lingusitik sosial yang dipelopori oleh Firth dan Halliday (di Inggris)
Kedua kelompok memiliki pandangan yang sama tentang hakikat bahasa, yakni “bahasa sebagai alat komunikasi yang tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial-budaya”.
Bahasa haruslah dipandang dari sudut fungsi dan aspek sosial.
C. MERANCANG PENGAJARAN BERPENDEKATAN KOMUNIKATIF
1. Tujuan Pengajaran
Tujuan yang ingin dicapai dalam pengajaran berpendekatan komunikatif adalah terbina dan terkembangnya kemampuan komunikatif atau kompetensi
komunikatif siswa.
2. Materi Pengajaran
Materi yang diajarkan pada kurikulum 1975 menekankan pada sistem
gramatikal disusun berdasarkan analisis kontras. Dalam penyusunan materi selalu didasarkan pada kesederhanaan, keteraturan, frekuensi kemunculan, dan
tingkat kesukaran struktur tersebut.
3. Peran Siswa dan Guru
Dalam pengajaran bahasa komunikatif, peran siswa adalah sebagai negosiator antara dirinya sendiri, proses belajar, dan objek yang dipelajari. Siswa
sendirilah yang harus aktif berinisiatif untuk melakukan kegiatan komunikatif.
Guru hanya berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai pengarah dan pengoordinasi kegiatan.
4. Teknik Mengajar
Dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yang menekankan pada kompetensi komunikatif, pelbagai teknik dapat digunakan secara bersama-
sama. Teknik-teknik itu antara lain tanya jawab, diskusi, latihan, simulasi, produksi, dan demonstrasi.
5. Teknik Penilaian
Sesuai dengan orientasi pengajaran yang digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dititikberatkan pada tes kompetensi komunikatif (TKK).
TKK adalah tes yang menitikberatkan pada kemampuan berkomunikasi pada situasi tertentu.
Kegiatan Belajar 3
A. Latar Belakang
Selalu menjadi sebuah kemestian bahwa pembaharuan selalu terjadi dalam dunia pendidikan. Dalam pembaharuan pendidikan itu beberapa
konsep kunci dielaborasi(kembali). Salah satu pembaharuan dalam
pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa adalah dikenalkannya konsaep pembelajaran kontekstual atau contenxtual teaching and
learning(CTL).
Pendekatan
Kontekstual dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra
Indonesia
B. Landasan Teori
terdapat dua teori yang melatarbelakangi munculnya
pembelajaran kontekstual, yakni filsafat Progresivisme dan teori kognitif.
Pembelajaran kontekstual berakar pada filsafat
progresivisme, yang diringksd oleh Nurhadi sebagai berikut:
• Siswa belajar dengan baik jika mereka terlibat aktif
sehingga mampu mengkontruksi pemahaman nya sendiri
• Siswa harus bebas agar dapat berkembang dengan wajar
• Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang belajar
• Guru sebagai pembimbing dan peneliti
• Harus ada kerja sama antar sekolah dan masyarakat
• Sekolah progresif merupakan laboratorium untuk melakukan eksperimen
sementara dalam pandangan teori kognitif, siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlihat secara aktif dalam segala
kegiatan di kelasdan berkesempatakanuntuk menemukan
sendiri. Siswa akan menunjukan hasil belajar dalam bentuk apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan.
Siswa tidak harus menghasilkan fakta-fakta, sebaliknya, siswa lebih diarahkan membentuk pengetahuan atau mengkontruksi
sendiri dialam otak mereka sendiri.
C. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
menurut Johnson adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan
pembelajaran yang bereka pelajari dengan cara
menghubungkannya dengan koneks kehidupan mereka
sehari-hari baik itu lingkungan pribadi, sosial, dan budayanya
D. Komponen Pendekatan Kontekstual 1) Konstruktivisme
2) Bertanya 3) Inkuiri
4) Masyarakat belajar 5) Permodelan
6) Refleksi
7) Asesmen autentik
F. Merancang kelas bahasa dan sastra dengan pendekatan kontekstual
1) Kerja sama
2) Saling menunjang 3) Gembira
4) belajar dengan bergairah 5) Pembelajaran terintegrasi
6) Menggunakan berbagai sumber 7) Siswa aktif
8) Suasana kelas menyenangkan, tidak membosankan 9) sharing ‘berbagi’ dengan teman
10)Siswa kritis 11)Guru kreatif