Kelompok 7 (Kelas A):
Aurelia Vany Maharani 218114005
Felicia Lim 218114016
Kirana Larasati 218114027 Sulistiana Tasik 218114039 Jonathan Edward Oktavinzo 218114052
DIABETES MELITUS Penugasan Kasus
Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan luka yang tidak sembuh-sembuh setelah terkena gigitan tomcat sejak 3 hari yang lalu. Awalnya luka hanya kecil namun menjadi membesar dan berwarna kemerahan serta nyeri pada kulit di sekitarnya.
Dokter menyarankan pemeriksaan laboratorium, karena pasien juga mengeluhkan berat badan tidak bertambah walaupun sering makan.
Hasil pemeriksaan Laboratorium:
- GDS : 350 (nilai rujukan ≤ 140 mg/dl ) - GDP : 200 (nilai rujukan 75-115 mg/dll )
- HbA1C : 9,0 (rujukan < 5,7%) prediabetes jika kadar HbA1c pada kisaran 5,7 – 6,4%, dan DM jika kadar HbA1c 6,5% ke atas
Analisis SOAP Identitas Pasien
Usia : 50 tahun Jenis kelamin : Laki-laki
Subjective
- Keluhan luka yang tidak sembuh-sembuh setelah terkena gigitan tomcat sejak 3 hari yang lalu.
- Awalnya luka hanya kecil namun menjadi membesar dan berwarna kemerahan serta nyeri pada kulit di sekitarnya.
- Berat badan tidak bertambah walaupun sering makan.
Objective
Hasil pemeriksaan laboratorium - GDS : 350
- GDP : 200 - HbA1C : 9,0 -
Assessment
Dari hasil laboratorium yang didapatkan berdasarkan sumber yang di diacu semua nilai tujukan melebihi dari batas normal maupun prediabetes. Luka yang dialami dan tidak kunjung membaik disebabkan oleh kadar gula darah yang berlebihan dalam serum darah pasien. Berdasarkan panduan tatalaksana masih terdapat pengecekan yang kurang mungkin salah satunya yaitu pemeriksaan gula dua jam postprandial.
Jika pasien sudah didapatkan penegakan diagnosis yang tepat pasien baru dapat dilakukan tindak lanjut untuk terapi, karena pada kondisi pasien dengan nilai hasil laboratorium pasien sudah positif terkena diabetes (Liwang dkk., 2020)
Perlu juga diperhatikan bobot ideal pasien dengan dihitung tinggi badan dan berat badannya. Setelah dilakukan penegakan diagnosis baru dapat terapi farmakologinya, tetapi secara teoritis pasien mengalami dm-2 dan terapi lini pertamanya yaitu metformin. Tetapi karena penggunaan metformin cukup riskan karena efek samping yang dimilikinya.
penggunaan metformin perlu dilakukan monitoring terutama dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan defisiensi vitamin B12, sehingga pemeriksaan kadar vitamin B12 secara berkala perlu dipertimbangkan, terutama pada pasien dengan anemia atau neuropati perifer.
(Kemenkes, 2020). 500 mg 2 kali sehari diminum dengan makan pagi dan malam, atau 850 mg sehari diminum dengan makan pagi, dosisi dapat disesuaikan lagi bila hasil kurang optimal dengan melakukan kombinasi terapi.
Efek samping metformin yang paling sering terjadi yaitudiare, produk yang segera dikeluarkan (53%), dan mual/muntah, produk segera dikeluarkan (25%) (Medscape, 2023)
Planning
Terapi farmakologi:
Pemberian obat lini pertama yaitu metformin
Non Farmakologi
Melakukan olahraga rutin Diet yang sesuai
kurangi atau hindari makanan tinggi gula
Edukasi terkait penggunaan obat apakah perlu PMO atau tidak Edukasi gizi ataupun makanan
Monitoring
Kadar gula darah (GDS, GDP, GD2PP) Efek samping obat metformin
Pertanyaan Diskusi
1. Bagaimana fisiologi pengaturan kadar gula darah dalam tubuh?(Kirana)
Tubuh manusia memiliki sistem pengaturan kadar gula darah yang berfungsi untuk menjaga agar kadar gula darah dalam tubuh tetap dalam batas yang normal.
Organ yang berperan dalam mekanisme pengaturan kadar gula darah ini adalah pankreas (tepatnya sel-sel beta pulau Langerhans pada pankreas) yang mampu menghasilkan hormon insulin dan glukagon. Kenaikan dan/atau penurunan glukosa darah merupakan produk atau hasil glukosa utama yang dihasilkan tubuh akibat adanya konsumsi makanan atau minuman tertentu. Karbohidrat yang dikonsumsi dan dicerna oleh tubuh akan menghasilkan glukosa, galaktosa, dan fruktosa yang akan diangkut ke hati melalui vena porta hepatika. Galaktosa dan fruktosa dapat diubah menjadi glukosa di dalam hati. Selanjutnya, glukosa dapat diubah menjadi glikogen dalam hati dan otot melalui proses glikogenesis.
Hormon insulin merupakan hormon yang berperan untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah. Sementara hormon glukagon merupakan hormon yang berperan untuk meningkatkan kadar glukosa dalam darah. Kedua hormon ini bekerja secara
dinamis dalam mengatur kadar glukosa dalam darah. Kadar glukosa dalam darah yang tinggi akan mendorong sekresi insulin untuk menurunkan kadar glukosa darah karena glukosa akan berpindah dari ekstraseluler menuju intraseluler. Sebaliknya, ketika kadar glukosa dalam darah yang cenderung rendah atau berada di bawah batas normal akan memicu sekresi glukagon untuk kembali meningkatkan kadar glukosa dalam darah (Ugahari dkk., 2016).
2. Bagaimana patofisiologi terjadinya diabetes melitus?(Kirana)
a. Patofisiologi DM tipe I→ rusaknya sel-sel penghasil insulin (sel βpankreas) karena autoimun pada organ pankreas oleh sel T (CD4+ dan CD8+) dan makrofag (Lestari dkk., 2021).
b. Patofisiologi DM tipe II → resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin karena kelainan fungsi selβ(Lestari dkk., 2021).
3. Apa saja faktor resiko terjadinya diabetes?(Sulis)
Faktor/Penyebab terjadi diabetes terbagi menjadi 2 yang yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi.
a. Yang dapat dimodifikasi:
- Kelebihan berat badan
DM tipe 1 dan DM tipe 2 banyak terjadi pada orang-orang yang obesitas atau memiliki BMI > 25kg/m² . Obesitas menyebabkan terjadinya masa adiposa yang dapat meningkatkan resistensi insulin oleh tubuh, sehingga glukosa dalam darah tidak mampu dimetabolisme dengan baik oleh sel dan akhirnya terjadi peningkatan glukosa dalam darah (Destriana, 2013).
- Pola hidup
Saat ini pola makan masyarakat merujuk pada pola makan dengan tinggi kalori, lemak dan makanan siap saji (fast food) yang berdampak meningkatkan resiko obesitas yang nantinya dapat mengarah ke DM.
- Merokok
Pengaruh nikotin pada rokok merangsang kelenjar adrenal dan dapat meningkatkan kadar glukosa (Trisnawati dan Setyorogo, 2013).
- Konsumsi alkohol
Alkohol dapat mengganggu metabolisme gula darah terutama pada penderita DM, sehingga mempersulit regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah.
Seseorang akan meningkat tekanan darah apabila mengkonsumsi etil alkohol secara berlebihan (Fatimah, 2015).
- Penyakit kronis (hipertensi, dislipidemia dan vascular disease
Penyakit-penyakit tersebut merupakan komorbid DM tipe 2, dimana korelasi antara hipertensi dan DMT2, semakin tinggi tekanan darah sistolik semakin meningkat kadar gula darah dan sebaliknya. Dislipidemia merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular pada DM. Gambaran karakteristik dislipidemia pada DM ditandai dengan konsentrasi trigliserida yang tinggi, HDL rendah dan terjadinya peningkatan konsentrasi LDL (Wuet al, 2014).
Yang tidak dapat dimodifikasi:
- Faktor keturunan (genetik)
DM tipe 1 kemungkinan besar terjadi karena adanya keturunan genetik.
Seorang yang menderita Diabetes Melitus diketahui mempunyai gen diabetes. Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat homozigot dengan gen resesif tersebut yang menderita diabetes melitus. Apabila ada keluarga, terutama orang tua yang mengidap diabetes tipe 1 maka kemungkinan besar akan diturunkan pada anaknya. DM tipe 2 juga biasanya terjadi karena adanya riwayat keluarga yang mengidap penyakit ini. DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental. Penyakit ini sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Risiko emperis dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika orang tua atau saudara kandung mengalami penyakit ini.
Gestational diabetes juga dapat terjadi karena adanya riwayat keluarga yang mengidap DM tipe 2
(Fanani, 2020) - Faktor Usia (umur)
DM tipe 1 biasanya terjadi sejak anak-anak atau remaja. Sedangkan DM tipe 2 dapat terjadi pada semua umur, namun lebih besar resikonya pada orang-orang yang berumur lebih dari 45 tahun. Untuk gestational diabetes dapat terjadi pada wanita yang berumur lebih dari 25 tahun.
- Jenis kelamin
Penyakit diabetes mellitus dapat menyerang laki- laki maupun perempuan dengan persentase perempuan lebih banyak dibandingkan laki – laki. Pada wanita terdapat hormon progesteron dimana hormon ini memiliki sifat anti-insulin serta dapat menjadikan sel-sel kurang sensitif terhadap insulin yang menyebabkan terjadinya resistensi insulin dalam tubuh (Rahayu & Rosdiani, 2016). Faktor yang menyebabkan peningkatan insulin pada siklus menstruasi adalah kerja anti insulin dari progesterone Wanita pada usia lanjut (saat menopause) mengalami penurunan fungsi hormon estrogen. Penurunan estrogen ini dapat menyebabkan resistensi insulin dan meningkatkan resiko terkena diabetes melitus.
4. Apa saja gejala dan tanda seseorang mengalami diabetes mellitus?(Feli) a. Gejala Umum Diabetes Mellitus
- Meningkatnya rasa haus karena air dan elektrolit dalam tubuh berkurang (polidipsia) - Meningkatnya rasa lapar karena kadar glukosa dalam jaringan berkurang (polifagia) - Kondisi urin yang mengandung glukosa biasanya terjadi ketika kadar glukosa darah
180 mg/dL (glikosuria)
- Meningkatkan osmolaritas filtrat glomerulus dan reabsorpsi air dihambat dalam tubulus ginjal sehingga volume urin meningkat (poliuria)
- Dehidrasi karena meningkatnya kadar glukosa menyebabkan cairan ekstraseluler hipertonik dan air dalam sel keluar
- Kelelahan karena gangguan pemanfaatan CHO mengakibatkan kelelahan dan hilangnya jaringan tubuh walaupun asupan makanan normal atau meningkat, (7) kehilangan berat badan disebabkan oleh kehilangan cairan tubuh dan penggunaan jaringan otot dan lemak akan diubah menjadi energi
- Gejala lain berupa daya penglihatan berkurang, kram, konstipasi, dan penyakit infeksi candidiasis
b. Gejala Diabetes Melitus Komplikasi - Komplikasi Akut Metabolik
Komplikasi akut metabolik, berupa gangguan metabolit jangka pendek seperti hipoglikemia (kadar gula dalam tubuh mengalami penurunan drastis), ketoasidosis (kadar asam keton dalam tubuh meningkat secara signifikan), dan hiperosmolar (kadar gula darah tinggi dan kekentalan darah tinggi).
- Komplikasi Lanjut
Komplikasi jangka panjang yang mengakibatkan makrovaskular (penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah perifer dan stroke), mikrovaskular (nefropati, retinopati dan neuropati), dan gabungan makrovaskular dan mikrovaskular (diabetes kaki).
(Hardianto, 2020)
5. Pemeriksaan laboratorium apa saja yang dapat digunakan untuk menegakan diagnosis diabetes mellitus?(Vany)
Pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis dan pemantauan pengobatan diabetes melitus adalah kadar glukosa darah dan HbA1c (hemoglobin glikat). Untuk pemeriksaan penyaring (screening) terhadap diabetes melitus dapat dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa, 2 jam postprandial (setelah makan) atau sewaktu, atau kadar HbA1c. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan yang sama dimana apabila sudah ada gejala dan tanda klinis maka cukup 1x. Tetapi apabila tiada tanda klinis maka perlu sedikitnya 2 x. Apabila hasilnya masih meragukan maka dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam setelah pembebanan dengan minum larutan 75 gram glukosa.
Pemeriksaan laboratorium:
a. Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa
Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam, kemudian menjalani pengambilan sampel darah untuk diukur kadar gula darahnya. Pasien diminta untuk melakukan puasa sebelum melakukan tes untuk
menghindari adanya peningkatan gula darah lewat makanan yang mempengaruhi hasil tes. Hasil tes gula darah puasa yang menunjukkan kadar gula darah kurang dari 100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes gula darah puasa di antara 100-125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes. Sedangkan hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes (Rahmasari dan Wahyuni, 2019).
b. Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu
Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu adalah pemeriksaan kadar gula darah yang dilakukan seketika waktu tanpa harus puasa atau melihat makanan yang terakhir dimakan. Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak memerlukan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat didiagnosis menderita diabetes (Fahmi dkk., 2020).
c. Tes toleransi glukosa
Tes toleransi glukosa dilakukan dengan meminta pasien untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian akan menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut dilakukan, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus. Kemudian sampel gula darah akan diambil kembali setelah 2 jam minum larutan gula. Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes tes toleransi glukosa dengan kadar gula antara 140-199 mg/dL menunjukkan kondisi prediabetes. Hasil tes toleransi glukosa dengan kadar gula 200 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes (Santosa, 2018).
d. Pemeriksaan kadar HbA1c
HbA1c adalah zat yang terbentuk dari reaksi antara glukosa dan hemoglobin (bagian dari sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh bagian tubuh).
Makin tinggi kadar gula darah, maka semakin banyak molekul hemoglobin yang berkaitan dengan gula. Pemeriksaan kadar HbA1c bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke belakang. Tes ini akan mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal. Hasil tes HbA1C di antara 5,7-6,4% menunjukkan pasien mengalami kondisi prediabetes. Hasil
tes HbA1C di atas 6,5% menunjukkan pasien menderita diabetes (Sartika dan Hestiani, 2019).
6. Farmakoterapi apa saja yang dapat digunakan untuk mengontrol kadar gula darah pasien?(Jojo)
a. Diabetes Mellitus Tipe I - Terapi Insulin
DMT1 merupakan diabetes yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin akibat rusaknya sel β pankreas (sel yang berfungsi untuk memproduksi insulin) sehingga diobati insulin dari luar tubuh seumur hidup. Dosis umumnya 0,7-1 U/kg/hari
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keperluan insulin untuk diberikan contoh:
- Pada saat honeymoon kebutuhan insulin harian dapat berkurang hingga <0,5 U/ hari
- Selama pubertas kebutuhan insulin akan meningkat hingga 1-2 U//hari
Insulin yang diberikan juga tergantung bentuk sediaannya seperti yang rapid atau sustained release. contoh obatnya yaitu novorapid untuk yang lepas cepat, tetapi ada juga yang kombinasi MR yaitu novomix
Regimen insulin juga disesuaikan dengan usia, durasi menderita DM-1, gaya hidup (pola makan dan olahraga), target kontrol metabolik, dan dari kebiasaan sehari hari
(Liwang dkk., 2020) b. Diabetes Mellitus Tipe II
- Metmorfin
Pilihan utama untuk pengobatan DMT2 adalah metformin. Metformin menjadi pilihan utama karena efektif dengan 2 mekanisme kerja, yaitu mengurangi sekresi glukosa hepatik dan meningkatkan penyerapan glukosa, aman untuk penderita DM tanpa gangguan hati dan ginjal, dan harganya murah. Pemilihan obat DM berdasarkan pada jenis diabetes, usia, situasi, dan faktor lainnya
- Insulin Bagi Pasien Komplikasi Kronis
Pengobatan dengan insulin diperlukan dalam kasus untuk menurunkan glukosa darah sehingga tidak terjadi komplikasi kronis, memiliki kontrol darah yang buruk (HbA1C
> 7,5% atau kadar glukosa puasa > 250 mg/dL), riwayat pankreatomi, mengalami
DMT2 selama 10 tahun, penderita hepatitis kronis, TBC paru, patah tulang, kanker, dan mengurangi efek samping obat oral. Insulin diberikan untuk menormalkan kadar glukosa plasma sehingga mencegah komplikasi diabetes
- Sulfonilure
Sulfonilurea (glibenklamid, gliklazid, glimepiride, gliburid, glipizid, tolbutamide) adalah obat antihiperglikemik oral yang pertama digunakan dan merupakan obat pilihan kedua untuk DMT2. Obat ini biasanya digunakan untuk DMT2 yang lanjut usia. Mekanisme kerjanya meningkatkan sekresi insulin dengan bekerja langsung pada saluran KATP sel β pankreas. Pasien yang menggunakan obat ini dapat mengalami hipoglikemia sehingga pasien harus mengetahui pola makan yang baik dan gejala hipoglikemia. Glyburide menyebabkan hipoglikemia lebih tinggi dibandingkan dengan glipizide. Hipoglikemia yang terjadi pada penderita lanjut usia akan meningkatkan risiko terjadinya kerusakan fungsi ginjal.
- Meglitinide
Meglitinide (Repaglinid dan Nateglinid) merupakan obat antihiperglikemik oral dengan mekanisme kerja membantu pankreas untuk memproduksi insulin dengan menutup saluran kalium dan membuka saluran dari sel β pankreas sehingga meningkatkan sekresi insulin. Obat ini jarang digunakan karena kerja obat yang singkat sehingga pemberian obat lebih sering. Repaglinide sebagian besar dimetabolisme di hati dan sisanya disekresikan melalui ginjal.
- Biguanid
Biguanid (Metformin, Fenformin, Buformin) merupakan obat anti diabetes dengan mekanisme kerja mengurangi sekresi glukosa hepatik dan meningkatkan penyerapan glukosa perifer termasuk otot rangka. Metformin merupakan obat hipoglisemik utama untuk penderita DMT2 pada anak-anak dan remaja serta sesuai untuk pasien yang kelebihan berat badan. Obat ini sebaiknya tidak digunakan oleh pasien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal. Penggunaan pada penderita lanjut usia dapat menyebabkan terjadinya asidosis.
- Tiazolidindion
Tiazolidindion (Rosiglitazon, Pioglitazon dan Troglitazon) dikenal dengan sebutan glitazon. Obat ini bekerja membentuk ikatan dengan peroxisome proliferator-activated receptor-gamma (PPAR-γ) yang mengatur metabolisme glukosa dan lemak serta
mempengaruhi gen sensitivitas insulin sehingga meningkatkan penggunaan glukosa oleh sel. Obat ini mengurangi komplikasi mikrovaskular sebesar 2,6%. Pada beberapa tahun terakhir, penggunaan obat ini dikurangi karena meningkatkan risiko kematian pada penderita penyakit kardiovaskular, edema, patah tulang, gagal jantung, dan kanker.
- Inhibitorα-glikosidase
Inhibitor α-glikosidase (Miglitol, Acarbose, Voglibose) tidak memiliki efek langsung pada sekresi atau sensitivitas insulin. Senyawa ini memperlambat pencernaan pati di dalam usus halus sehingga glukosa dari pati lambat memasuki aliran darah, menunda adsorpsi karbohidrat, dan mengurangi peningkatan glukosa darah. Acarbose telah digunakan untuk pengobatan diabetes lebih dari 20 tahun yang lalu. Manfaat dari acarbose adalah memperlambat perkembangan diabetes dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Penggunaan obat ini harus dihindari bagi pasien dengan gangguan ginjal. Efek samping dari obat ini menyebabkan diare dan kembung.
- Analog Peptida/ DPP4I
Inhibitor dipeptidyl peptidase (Vildagliptin dan Sitagliptin) mempunyai mekanisme kerja menghambat kerja dipeptidyl peptodase sehingga meningkatkan kadar inkretin darah. Fungsi enkretin meningkatkan sekresi insulin dan menekan sekresi glukagon.
Analog peptida yang lain adalah gastrik inhibitory peptida (Eksenatida dan Liraglutida). Agonis GLP (glucagon-like peptide) mengikat reseptor GLP pada membran sel β pankreas sehingga meningkatkan sekresi insulin. GLP endogen mempunyai waktu paruh beberapa menit, demikian juga obat agonis GLP ini sehingga kurang efektif .
- Anolog amilin atau analog agonis amylin
Anolog amilin atau analog agonis amylin mempunyai mekanisme memperlambat pengosongan lambung, memperlambat proses pencernaan makanan, dan menekan glukagon. Biasanya analog amilin diberikan melalui injeksi subkutan sebelum makan dan dapat digunakan untuk DMT1 dan DMT2. Obat ini selain menurunkan kadar glukosa darah juga dapat menurunkan berat badan
(Hardianto, 2020)
(Kemenkes, 2020)
7. Bagaimana pencegahan terjadinya diabetes mellitus?(Feli dan sulis) DM-1
- Pengaturan makan
Pada penyandang DM tipe 1 perlu memperhatikan kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembang pasien. Kebutuhan kalori dapat dihitung berdasarkan BB ideal, usia, dan jenis kelamin
- Makanan terdiri atas 3x makan berat dan 3x makan kecil per hari
- Pengaturan makan perlu menyesuaikan regimen insulin yang diberikan. Semakin sering insulin diberikan semakin flexible frekuensi makanan
- Pasien perlu diajarkan cara pemantauan glukosa darah mandiri - Kontrol metabolik
Ditandai dengan tidak adanya glukosuria, ketonurea, dan ketosis, dan pada pasien dengan kontrol metabolik yang buruk ditandai dengan gejala klinis klasik seperti sering buang air kecil dll
- Olahraga
Berfungsi menjaga BB ideal, meningkatkan kapasitas kerja jantung, dan meningkatkan sensitivitas kerja insulin. Olahraga untuk pasien DM harus memepertimbangkan kontrol glikemik dan kondisi kesehatan secara umum.
- Asupan karbo 1-3 jam sebelum olahraga
- Jika glukosa darah >250 mg/dL dan keton urine/ darah positif tunda olahraga - Jaga hidrasi (250 ml setiap 20-30 menit)
- Disarankan pantau glukosa tiap 30 menit selama olahraga (optional)
(Liwang dkk., 2020)
DM-2 - Diet
Diet dilakukan dengan penurunan kalori individu dan memonitor penanda kardiometabolik seperti tekanan darah, lemak, dan peradangan. Diet dapat membantu mengontrol kadar glukosa darah, menjaga tekanan darah, kadar lemak darah dan berat badan normal, tidur yang cukup, dan meningkatkan kualitas kesehatan
- Olahraga
Olahraga dapat meningkatkan sensitivitas insulin, mengontrol kadar glukosa darah, memperbaiki profil lemak dan tekanan darah, menurunkan berat badan, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, dan mengurangi depresi.
- Pola Makan Sehat
Pola makan bermanfaat bagi penderita pra diabetes meliputi pola makan rendah kalori dan rendah lemak. Penelitian tambahan diperlukan untuk rencana pola makan rendah karbohidrat bagi penderita pra diabetes. Pola makan yang terukur dengan mengkonsumsi makanan berserat tinggi, biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran, dan mengurangi makanan olahan juga penting. Asupan kacang, beri, yogurt, kopi, dan teh dapat menurunkan risiko DMT2, tetapi daging merah dan gula meningkatkan risiko obesitas dan DMT2. Pola makan yang menurunkan kadar HbA1C penting bagi penderita pra diabetes.
(Hardianto, 2020) Untuk komposisinya :
- Karbohidrat
45-65 % asupan energi, karbohidrat minimal 130g/ hari sukrosa <5%kalori. Hindari makanan dengan tambahan gula
- Lemak
20-25% asupan energi, Lemak jenuh < 7%, lemak tidak jenuh ganda <10%, batasi lemak trans, konsumsi kolesterol <200mh/ hari
- Protein
10-20% asupan energi, dengan nefropati diabetik : protein <0,8 g/kgBB/hari atau 10%
dengan hemodialisis: protein 1-1.2 g/kgBB/hari - Serat
20-35% gram/ hari - Natrium
<2.300mg/ hari - Pemanis
DAFTAR PUSTAKA
Destriana, Dina., 2013. Hubungan Obesitas dan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Pada pasien Usia 40-60 Tahun di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Pada Bulan Desember 2012. Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Palembang, Palembang.
Fatimah, R. N., 2015. Diabetes Melitus Tipe 2.J Majority, 4(5): 93-95.
Fahmi, N.F., Firdaus, N., Putri, N., 2020. Pengaruh Waktu Penundaan Terhadap Kadar Glukosa Darah Sewaktu Dengan Metode Poct Pada Mahasiswa.Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan, 11 (2) : 1-7.
Hardianto, D., 2020. A Comprehensive Review of Diabetes Mellitus: Classification, Symptoms, Diagnosis, Prevention, and Treatment. Jurnal Bioteknologi dan Biosains Indonesia, 7 (2) : 304-317.Kemenkes, 2021. Pedoman Nasional
Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Diabetes Tipe 2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hal. 40-41.
Kemenkes, 2021. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Diabetes Tipe 2.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hal. 40-41.
Lestari, Zulkarnain, Sijid, S. A., 2021. Diabetes Melitus: Review Etiologi, Patofisologi, Gejala, Penyebab, Cara Pemeriksaan, Cara Pengobatan dan Cara Pencegahan.
Jurnal UIN Alauddin,1(1): 6-8.
Liwang, F., Yuswar, P.W., Wijaya, E., dan Sanjaya, N.P., 2020. Kapita Selekta Kedokteran.
Media Aesculapius, Depok, hall. 32.
Medscape., 2023. Metformin, URL:
https://reference.medscape.com/drug/glucophage-metformin-342717#4 (diakses tanggal 19/9/2023)
Rahmsari, I., Wahyuni, E.S., 2019. Efektivitas Memordoca carantia (Pare) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah. Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan, 9(1): 57-64.
Santosa, A., 2018. Test Toleransi Glukosa Oral Pada Subjek Dengan Berat Badan Berlebih.
MEDISAINS: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Kesehatan, 16(3) : 143-147.
Sartika, F., Hestiani, N., 2019. Kadar HbA1c pada Pasien Wanita Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Rsud Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya: HbA1c Levels in Patients Female with Type 2 Diabetes Mellitus in RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.Borneo Journal Of Medical Laboratory Technology, 2(1) : 97-100.
Trisnawati, S. K., Setyorogo, S., 2013. Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II Di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(1): 6–11.
Ugahari, L. E., Mewo, Y. M., Kaligis, S. H. M., 2016. Gambaran Kadar Glukosa Darah Puasa pada Pekerja Kantor.Jurnal e-Biomedik,4(2), 1-6.
Wu,L.,Klaus, G.P, 2014. Diabetic Dyslipidemia. URL:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25242435/(diakses tanggal 19/09/2023).