• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan gerakan literasi madrasah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "penerapan gerakan literasi madrasah"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENERAPAN GERAKAN LITERASI MADRASAH DALAM PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK

DI MAN 2 BANYUWANGI

SKRIPSI

Oleh :

MOHAMMAD FARHAN WILDHANI NIM : T20191214

UNIVERSITAS NEGERI KH. ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

APRIL 2023

(2)

ii

PENERAPAN GERAKAN LITERASI MADRASAH DALAM PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK

DI MAN 2 BANYUWANGI SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiyai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar sarjana pendidikan (S.Pd.) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh :

MOHAMMAD FARHAN WILDHANI NIM : T20191214

Disetujui Pembimbing,

Dr. NINO INDRIANTO, M.Pd.

NIP 198606172015031006

(3)

iii

PENERAPAN GERAKAN LITERASI MADRASAH DALAM PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK

DI MAN 2 BANYUWANGI

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu Persyaratan memperoleh gelar sarjana pendidikan ( S.Pd. )

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Program Studi Pendidikan Agama Islam

Hari : Selasa Tanggal : 11 April 20233

Tim Penguji

Ketua, Sekretaris,

Zeiburhanus Saleh, S. S, M.Pd. Shidiq Ardianta, M. Pd.

NIP 198008162009011012 NIP 198808232019031009

Anggota :

1. Dr. H . Abd. Muhith, M.Pd.I. ( )

2. Dr. Nino Indrianto, M.Pd. ( )

Mengetahui

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan,

Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I.

NIP 196405111999032001

(4)

iv

MOTTO























Artinya : Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu lupa diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-kitab (Taurat) ? Maka tidaklah kamu berpikir? (Q.S Al- Baqarah : 44)1

1 Al Qur‟an, Al- Baqarah ayat 44

(5)

v

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan teruntuk:

1. Kedua Orang Tua saya tercinta, ibu Masruroh dan bapak Imron Rosadi S.Ag.

yang sangat saya hormati dan sangat saya sayangi, yang tidak pernah berhenti mendoakan, memberikan kasih sayang, dan mendukung tanpa mengeluh demi mewujudkan pendidikan putra nya untuk meraih gelar sarjana.

2. Adik saya yang saya sayangi yaitu Arin Nadia Sofwa begitu menyayangi, memberi nasehat dan support yang tak terhenti bagi pendidikan saya untuk meraih gelar sarjana.

3. Paman dan Bibi saya yang saya hormati, yaitu paman bapak Dr. Ali Yusuf M.Pd, bibi Dewi lukwati, bibi Malikatun, bapak Durrahman yang selalu mendoakan dan mensupprot saya untuk meraih gelar sarjana

4. Kakak dan adik sepupu saya, mas Rois, dek bela yang sangat saya sayangi dan cintai, yang selalu menjadi motivasi untuk menyelesaikan penelitian ini.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

ِمْيِحَّرلا ِنّٰمْحَّرلا ِهّٰ للا ِمْسِب

Alhamdulillah segenap puji syukur penulis haturkan kepada Allah Swt, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, perencanaan, pelaksanaan dan penyelesaian skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program Sarjana dapat tereliasisasikan dengan lancar. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Baginda Rasulullah Saw.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis memperoleh bimbingan, bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis ucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, M.M. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiyai Haju Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember yang telah mendukung dan memfasilitasi kami selama proses perkuliahan di lembaga ini.

2. Prof. Dr. Hj. Mukni‟ah, M.Pd.I. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KHAS Jember yang telah memberikan izin dan kesempatan dalam penyelesaian karya ilmiah ini.

3. Dr. Rif‟an Humaidi M.Pd.I. selaku ketua Jurusan program studi Pendidikan Islam dan Bahasa UIN KHAS yang telah memberikan semangat peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.

4. Dr. Hj. Fathiyaturrahmah, M.Ag. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN KHAS Jember yang telah mendukung dan memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian.

5. Dr. H. Rusydi Baya‟ Gub, S.Ag, M.Pd.I. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan waktu serta dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.

(7)

vii

6. Dr. Nino Indrianto, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan dukungan serta perhatian baik waktu, tenaga dan usahanya guna menyelesaikan skripsi ini.

7. Dosen dan seluruh staff karyawan UIN KHAS Jember yang telah memberikan ilmu, membimbing serta melayani segala urusan akademik.

8. Drs. Saerodji, M.Pd. selaku kepala Madrasah Aliyah Negeri 2 Banyuwangi, yang telah memberikan izin dalam melaksanakan penelitian dan memberikan informasi mengenai lembaganya.

9. Guru-guru terhormat, yang telah ikhlas mendidik dan membimbing saya sejak dibangku MI, MTs, MA dan sejak saat ini.

10. Almamater saya UIN KHAS Jember yang selalu saya banggakan.

Semoga karya ilmiah ini bisa bermanfaat dan memberi sedikit wawasan untuk peneliti lainnya dan berguna sebagaimana mestinya. Akhirnya, semoga segala amal baik yang telah Bapak/Ibu dan teman-teman berikan kepada penulis mendapat balasan yang baik dari Allah Swt. Aamiin ya Rabbal „Alamin.

Jember, 12 Maret 2023

Mohammad Farhan Wildhani NIM. T20191214

(8)

viii

ABSTRAK

Mohammad Farhan Wildhani, 2023, Implementasi Gerakan Literasi Madrasah dalam pembelajaran Akidah Akhlak di MAN 2 Banyuwangi

Kata Kunci : Gerakan Literasi Madrasah, Pembelajaran Akidah Akhlak

Madrasah Aliyah Negeri 2 Banyuwangi merupakan sekolah terletak di kota Banyuwangi dan sekolah yang sudah menerapkan program Gerakan Literasi Madrasah.

Mengatasi rendahnya minat baca siswa yang terkadang menghambat pelajaran di kelas menumbuh-kembangkan minat baca peserta didik serta meningkatkan kualitas peserta didik dalam berfikir secara kritis, inovatif dan mampu mencetak generasi-generasi literat yang unggul dan mempunyai pribadi yang ber-akhlakul karimah.

Penelitian ini memiliki fokus penelitian sebagai berikut : 1) Bagaimana kebijakan madrasah adanya gerakan literasi di MAN 2 Banyuwangi? 2) Bagaimana penerapan Gerakan Literasi Madrasah dalam pembelajaran akidah akhlak di MAN 2 Banyuwangi?

3) Apa faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan gerakan literasi di MAN 2 Banyuwangi?.

Pendekatan pada penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Penentuan subyek pada penelitian ini meliputi : kepala madrasah, waka kurikulum, pembina duta literasi dan pembina perpustakaan, guru mata pelajaran akidah akhlak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu model interatif dari Miles huberman dan Saldana.

Hasil penelitian Gerakan Literasi Madrasah dalam pembelajaran akidah akhlak menunjukan bahwa : 1) kebijakan madrasah adanya gerakan literasi di MAN 2 (GELEM) membuat kegiatan literasi seperti halnya membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, adanya gerakan literasi outdoor bersama, pojok baca, resume materi, festival literasi dan elektronik literasi. 2) hasil penelitian selanjutnya yaitu guru mata pelajaran akidah akhlak mempunyai manfaat dalam ber-literasi dampak pelaksanaan pembelajaran akidah akhlak dalam gerakan literasi madrasah di MAN 2 banyuwangi yaitu Pemantauan teks materi pembelajaran, penggunaan berbagai model selama pembelajaran, Instruksi yang jelasdan eksplisit oleh guru, Respon terhadap berbagai pertanyaan, membuat pertanyaan, meringkas isi materi. 3) Faktor pendukung dan penghambat dalam gerakan literasi madrasah dalam pembelajaran akidah akhlak di MAN 2 Banyuwangi meliputi: A).

Faktor pendukung : 1. Fasilitas meliputi perpustakaan yang memadai, pojok baca, koneksi internet yang baik, ruang lab komputer yang memadai, lcd/proyektor. 2. Siswa- siswi MAN 2 Banyuwangi memiliki antusias yang tinggi dalam ber-literasi. 3. Guru dan Staff di MAN 2 Banyuwangi mengomandani seluruh kegiatan seluruh kegiatan dalam program literasi madrasah. B). Faktor penghambat dalam pelaksanaan program literasi adalah niat dan stimulus yang harus teratur diberikan kepada siswa agar semangat dan semakin giat mengikuti program literasi yang dilaksanakan di MAN 2 banyuwangi.

(9)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Konteks Penelitian ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Istilah ... 9

F. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 12

A. Penelitian Terdahulu ... 12

B. Kajian Teori ... 18

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 39

B. Lokasi Penelitian ... 40

C. Subyek Penelitian ... 41

D. Tehnik pengumpulan Data ... 41

E. Analisis Data ... 47

F. Keabsahan Data ... 50

(10)

x

G. Tahapan-tahapan Penelitian ... 52

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS... 54

A. Gambaran Objek Penelitian ... 54

B. Penyajian Data dan Analisis... 62

C. Pembahasan Temuan ... 93

BAB V PENUTUP ... 107

A. Simpulan ... 107

B. Saran ... 109

DAFTAR PUSTAKA ... 110

LAMPIRAN-LAMPIRAN 1. Matriks Penelitian ... 113

2. Rencana Pelaksana Pembelajaran (RPP) ... 114

3. Pernyataan keaslian Tulisan ... 118

4. Pedoman Pengumpulan Data ... 119

5. Jurnal Penelitian ... 122

6. Surat izin Penelitian ... 123

7. Surat ACC izin penelitian ... 124

8. Surat selesai Penelitian ... 125

9. Struktur Keorganisasian Madrasah ... 126

10. Dokumentasi ... 127

11. Biodata Penulis ... 130

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 15

Tabel 4.1 Sarana Prasarana ... 57

Tabel 4.2 Data Pendidik ... 58

Tabel 4.3 Data Nama Pendidik ... 59

Tabel 4.4 Data Jumlah siswa ... 61

Tabel 4.5 Hasil Temuan ... 91

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Data analisis mils Huberman dan saldana ... 48

Gambar 4.1 GELEM 15 menit sebelum pembelajaran ... 68

Gambar 4.2 GLOBE ( Gerakan literasi outdoor bersama) ... 69

Gambar 4.3 Pojok baca/ Perpustakaan mini di kelas ... 71

Gambar 4.4 Festival Literasi ... 72

Gambar 4.5 ELITE (Elektronik Literasi ... 74

Gambar 4.6 Pembelajaran Akidah akhlak di kelas ... 76

Gambar 4.7 Guru memberikan bimbingan ke siswa ... 78

Gambar 4.8 Faktor pendukung fasilitas LCD/Proyektor ... 86

Gambar 4.9. Siwa Mengerjakan tugas di perpustakaan ... 88

(13)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitan

Zaman sekarang, masyarakat diharuskan untuk mengerti kemajuan informasi. Teknologi yang semakin berkembang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, terlebih dikalangan anak muda. Diantara segi positifnya ialah dengan tersedianya media sosial (Medsos) yang memudahkan kita untuk mencari informasi, komunikasi secara cepat dan luas. Sebaliknya ada juga yang menyalahgunakan adanya media sosial, kebanyakan masyarakat lebih suka memakai gadgetnya untuk sekedarnya, atau sesuatu yang jauh dari berfaedah dari pada untuk menggali materi atau bacaan bersumberkan dari media sosial atau buku.

Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatnya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya.2

Pendidikan merupakan suatu usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi yang telah dimilikinya melalui proses pembelajaran baik itu di lembaga formal maupun lembaga non formal. Pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut pemerintah agar tercipta masyarakat yang gemar membaca dan bisa lebih semangat lagi dalam membaca. Sesuai dengan firman Allah Swt, yang terdapat dalam al-qur‟an

2 Tim Penyusun Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, Kemendikbud,(Jakarta : 2018), 2-7

1

(14)

2

surah Al-„Alaq [96]: ayat 1-5 yang menjelaskan tentang membaca merupakan perintah pertama bagi umat islam yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada nabi Muhammad Saw. yang berbunyi :



















































Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah. Yang mengejar (manusia) dengan perantara qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.3

Budaya membaca sangat berpengaruh pada tumbuh kembangnya literasi siswa. Ironisnya prestasi literasi siswa di Indonesia hingga sekarang tergolong rendah. Rendahnya tingkat baca bangsa kita sekarang ini, akan menurunkan daya saingnya di era global di masa yang akan datang.1 menyangkut literasi, di tahun 2000 dari 41 negara, negara kita diposisi ke 39, ditahun 2003, urutan ke 48 di tahun 2006 dari 56 negara, tahun 2009 urutan ke 57 dari 65 negara dan urutan ke 69 ditahun 2015 dari 76 negara.2 begitu pentingnya literasi karena kemampuan dan kesadaran literasi sangat menentukan dalam sebagian besar proses belajar mengajar. Literasi bisa dijadikan media pemahaman, pengenalan dan penerapan ilmu yang sudah diperoleh di sekolah. Literasi juga berkaitan dengan kehidupan di rumah dan lingkungannya.4

3 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan Terjemah Semarang: CV. TOHA

PUTRA, 2008

4 Muhamad Mufid, Kebijakan Kepala Sekolah tentang Program Literasi Berbasis Pendidikan

Agama Islam dan Implementasinya Dalam Upaya Meningkatkan Religiusitas Peserta didik di SMK Bhakti Nusantara, Salatiga, IAIN Salatiga. 2017.

(15)

3

Menengok data dari UNESCO tentang indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001, yang artinya dalam setiap 1.000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat baca. Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Indonesia, satria darma, turut melengkapi data dari hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA), bahwa di tahun yang sama budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk kedua dari 65 negara di dunia. PISA juga menempatkan Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti terkait kemampuan membaca siswa.5

Melihat pentingnya budaya ini pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang GLS/GLM (Gerakan Literasi Sekolah/Gerakan Literasi Madrasah).

Kebijakan ini tertuang dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 untuk menumbuhkan minat baca melalui kegiatan 15 menit setiap hari membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai.6Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Sehingga melalui gerakan ini diharapkan kemampuan literasi Indonesia akan semakin meningkat dan generasi mudanya akan semakin siap menghadapi persaingan internasional.7 Selain itu, GLS ini digagas dengan tujuan meningkatkan kemampuan literasi melaui kegiatan menanggapi buku pengayaan. Selain itu

5 Majalah Mimbar, no. 357/Sya‟ban-Ramadhan 1437 H/ Juni 2016/ th. XXXI hal 36.

6 Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,

Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah, 3

7 Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,

Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah, 4

(16)

4

untuk meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran yaitu menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran Dalam agama Islam pun perintah yang diberikan Allah Swt. kepada nabi Muhammad Saw. adalah أرقا) iqra‟) yang artinya bacalah. Iqra‟!adalah sebuah perintah dari Allah Swt.kepada kita untuk membaca, karena arti kata dari iqro' sendiri adalah "bacalah!".8

Madrasah merupakan media terdepan dan strategis dalam menyebarluaskan nilai-nilai mulia agama Islam kepada masyarakat luas.

Barang siapa telah menjadi bagian didalamnya baik sebagai pendidik maupun tenaga pendidiknya, maka harus dan wajib menjadi pengemban tugas mulia ini. Ada pesan singkat dari Ali bin Abi Thalib r.a. terhadap pelajar kaum muslimin, agar benar-benar mengikat ilmu dengan tulisan. Ini adalah pesan untuk berliterasi serta anjuran agar pencari ilmu segera menulis ilmu yang diperolehnya setelah membaca/mendengar. Pesan ini menjadi icon (budaya) literasi bagi umat islam dan bagi institusi madrasah.9

Dalam menghadapi abad 21, siswa memerlukan beberapa keterampilan diantaranya adalah literasi dasar, kompetensi, dan karakter. Literasi dasar berhubungan dengan kemampuan siswa menggunakan keterampilan berliterasi yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi sendiri yaitu kemampuan siswa dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Kesadaran warga sekolah sendiri tentang manfaat kemampuan literasi yang mereka miliki untuk kehidupan mereka masih sangat rendah. Selain itu, masih

8 Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As

Syuyuthi, Tafsir Jalalain, (Surabaya: Al Haramain, 2007), 2.

9 Majalah Mimbar, no. 357/Sya‟ban-Ramadhan 1437 H/ Juni 2016/ th. XXXI 38

(17)

5

terbatasnya penggunaan buku atau bacaan lain di sekolah selain buku pelajaran sehingga menyebabkan kegiatan pengembangan kemampuan literasi untuk guru dan siswa belum maksimal. Selama ini kegiatan membaca yang dilakukan di sekolah-sekolah masih sebatas membaca buku pelajaran dan sedikit yang membaca buku atau bacaan jenis lainnya.10

MAN 2 Banyuwangi memiliki sebuah kegiatan yaitu wajib membaca diperpustakaan dan di kelas nya masing-masing. Selain itu, siswa juga diwajibkan meresume buku dalam beberapa waktu. Misalnya ketika kegiatan literasi setiap 2 minggu sekali, siswa yang berhalangan akan diarahkan ke perpustakaan untuk mencari buku, lalu dibaca dan dirangkum intisarinya.

Perpustakaan sekolah sebagai sarana pendidikan yang amat penting harus diselenggarakan secara efektif dan efisien. Lebih-lebih jika kita lihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini demikian pesatnya maka peranan buku sebagai sumber informasi sangat kuat dan mutlak diperlukan disekolah-sekolah.

Berdasarkan hasil Observasi dalam gerakan literasi madrasah Setiap pagi setelah melaksanakan Ngaji Al- qur‟an, siswa-siswi Man 2 Banyuwangi melaksanakan kegiatan literasi yang dibimbing oleh Bapak/ibu guru di kelas . Dengan adanya literasi dilaksanakan dengan baik berdasarkan pembagian kelas Ipa, Ips, Agama. Sehingga dengan pembagian itu bapak/ibu guru pembimbing mata pembelajaran akan lebih mudah mengondisikan sesuai dengan kemampuan siswa. Dan Pada jam istirahat pelajaran, siswa yang ingin

10 Wendri Wiratsiwi Penerapan Gerakan Literasi Sekolah Di Sekolah Dasar Refleksi Edukatika:

Jurnal Ilmiah Kependidikan, Nomor 10Volume 2, Juni 2020,230-238 232.

(18)

6

intensif membaca buku biasanya berada di perpustakaan karena di sana suasananya nyaman dan jauh dari keramaian.

Tim penggerak literasi juga mengadakan program gerakan literasi outdoor bersama Dan ketika 1 bulan sekali, siswa-siswi MAN 2 Banyuwangi di wajibkan untuk membaca di luar ruangan kelas (Outdour) dengan membawa buku di rumah baik itu buku fiksi, novel, cerita dll. Dan para siswa- siswi tetep diwajibkan merangkum baik dalam kegiatan literasi di kelas maupun kegiatan literasi di luar kelas setiap bulanya. Dari beberapa kegiatan yang dijalankan di Man 2 Banyuwangi tersebut, secara tidak langsung siswa dibiasakan untuk berpikir kritis dalam beberapa hal yakni membaca dan menulis. Selain itu, adanya tugas-tugas dari guru mata pelajaran terutama guru Akidah akhlak yang mengintrusksikan siswa untuk mencari bahan bacaan yang berkaitan dengan materi atau tugas-tugas tertentu yang mana menuntut siswa untuk mencari buku di perpustakaan.

Peserta didik mempunyai kewajiban-kewajiban yang dituntut baik dari madrasah ataupun guru mata pelajaran secara tidak langsung memacu siswa untuk mencari bahan bacaan sebagai referensi tambahan atas tugas dan kewajiban yang dibebankan tadi. Sehingga dengan ini siswa akan terbiasa mencari informasi membaca, memahami dan mengungkapkannya dalam bahasa lisan maupun tulisan. Dan dengan kebiasaan ini diharapkan siswa dapat tumbuh minat dan kegemaran dalam membaca buku.

Minat baca dan kegemaran siswa dalam membaca buku, menjadikan siswa dapat lebih mudah memahami pelajaran di kelas. Sehingga dengan

(19)

7

kebiasaan tersebut dapat mendukung prestasi siswa di dalam atau di luar kelas.

Melihat hal di atas maka peneliti mengajukan sebuah penelitian terkait kegiatan literasi untuk meningkatkan prestasi dalam bidang akidah akhlak yang tertuang dalam judul penelitian: PENERAPAN GERAKAN LITERASI MADRASAH DALAM PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MAN 2 BANYUWANGI. Penelitian ini mendeskripsikan implementasi literasi yang diterapkan di MAN 2 banyuwangi yang implikasinya dalam meningkatkan prestasi siswa dalam bidang akidah akhlak.

B. Fokus Penelitian

Mengacu pada latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana kebijakan madrasah terkait gerakan literasi madrasah yang di laksanakan di MAN 2 Banyuwangi?

2. Bagaimana Penerapan Gerakan Literasi Madrasah dalam pembelajaran Aqidah akhlak di MAN 2 Banyuwangi?

3. Apa faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan gerakan literasi dalam pembelajaran akidah akhlak di MAN 2 Banyuwangi ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan kebijakan madrasah terkait gerakan literasi madrasah yang di laksanakan di MAN 2 Banyuwangi

(20)

8

2. Mendeskripsikan Penerapan Gerakan Literasi Madrasah dalam pembelajaran Aqidah akhlak di MAN 2 Banyuwangi

3. Mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan gerakan literasi dalam pembelajaran akidah akhlak di MAN 2 Banyuwangi D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelitian lain terkait kegiatan literasi untuk meningkatkan minat baca dan prestasi siswa di seluruh tingkat sekolah/ madrasah.

2. Secara Praktis a. Bagi peneliti

1) Penelitian ini dapat menambah wawasan peneliti dan memberikan pengalaman tersendiri dalam mengembangkan potensi diri.

2) Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan acuan oleh peneliti dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

3) Penelitian ini sebagai bagian dari syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam KH Achmad siddiq (UIN KHAS) Jember.

b. Bagi Guru

Penelitian ini dapat dijadikan referensi guru dalam memberikan pengalaman dan budaya belajar yang baik khususnya untuk meningkatkan prestasi siswa dengan adanya kegiatan literasi. Sehingga dengan adanya minat baca yang tumbuh dari dalam diri siswa, dapat

(21)

9

menunjang keberlangsungan kegiatan pembelajaran di madrasah serta meningkatkan prestasi siswa.

c. Bagi Siswa

Siswa menjadi mudah mengerti dan memahami terhadap materi yang diajarkan serta termotivasi dalam proses belajar baik di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah dan dalam Penelitian ini dapat menjadikan motivasi tersendiri bagi siswa untuk meningkatkan minat baca dan meningkatkan prestasi melalui program literasi di madrasah.

d. Bagi Madrasah

Diharapkan dapat digunakan oleh Madrasah Aliyah Negeri 2 Banyuwangi sebagai bahan acuan untuk mengevaluasi hasil dari pelaksanaan program GELEM yang dilaksanakan oleh madrasah sehingga dalam pelaksanaan berikutnya dapat berjalan dengan lebih efektif.

E. Definisi Istilah

1. Gerakan literasi Madrasah

Gerakan literasi madrasah atau yang biasa disebut GELEM merupakan suatu program gerakan ayo membangun madrasah yang dilaksanakan oleh Kementrian Agama Provinsi Jawa Timur yang mengacu pada program pemerintah Pendidikan dan kebudayaan yaitu Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dengan tujuan yang sama dan kegiatan yang sama.

(22)

10

2. Pembelajaran Aqidah Akhlah

Pembelajaran aqidah akhlak adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk dapat menyiapkan peserta didik agar beriman terhadap ke- Esaan Allah Swt, yang berupa pendidikan yang mengajarkan keimanan, masalah ke-Islaman, kepatuhan dan ketaatan dalam menjalankan syari‟at Islam menurut ajaran agama, sehingga akan terbentuk pribadi muslim yang sempurna iman dan Islamnya.

Dengan demikian yang penulis maksudkan tentang gerakan literasi madrasah di MAN 2 Banyuwangi dengan pembelajaran akidah akhlak adalah: kegiatan gerakan literasi madrasah yang mana salah satu bagian dari mata pelajaran pendidikan agama islam yang digunakan sebagai wahana pemberian pengetahuan, bimbingan dan pengembangan kepada siswa agar dapat memahami, meyakini dan menghayati kebenaran ajaran islam sehingga dapat membentuk prilaku-prilaku siswa yang sesuai dengan norma dan syariat yang ada.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang akan kita kaji pada penelitian kali ini adalah sebagai berikut :

Bab Satu : Pendahuluan. Pada bagian ini akan dijelaskan latar belakang masalah yang menjadi alasan penyebab peneliti mengambil penelitian yang berupa penerapan gerakan literasi madrasah dalam pembelajara akidah akhlak ini. Kemudian yang kedua akan dijelaskan mengenai fokus penelitian yang menjadi rumusan masalah yang akan dipecahkan pada penelitian ini. Ketiga

(23)

11

akan dijelaskan mengenai tujuan dari penelitian. Keempat akan dijelaskan mengenai manfaat penelitian. Kelima akan dijelaskan mengenai definisi istilah yang menjelaskan tentang istilah-istilah yang terdapat pada judul penelitian. Dan yang terakhir akan dijelaskan mengenai sistematika penulisan yang menjadi urutan-urutan pembahasan pada penelitian ini.

Bab Dua : Kajian Kepustakaan. Berisi mengenai penelitiaan terdahulu dan kajian teori yang erat kaitannya dengan masalah yang sedang diteliti yaitu

“Penerapan Gerakan literasi madrasah dalam pembelajaran akidah akhlak di Man 2 Banyuwangi”

Bab Tiga : Metode Penelitian. Terdiri dari pendekatan dan jenis penelitiaan, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan tahapan-tahapan penelitian. Sehingga dalam penelitian ini sudah jelas objek yang akan ditujuk dalam penelitiannya.

Bab Empat : Pada bab ini berisi paparan data dan analisis data tentang objek penelitian, penyajian data, dan analisis serta pembahasandan temuan yang di peroleh ketika di lapangan.

Bab Lima : Penutup, pada bab ini yang berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dan saran-saran yang bersifat konstruktif.

(24)

12

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan kemudian membuat ringkasanya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan maupun yang belum terpublikasikan (skripsi, tesis, disertasi, artikel yang dimuat pada jurnal ilmiah, dan sebagainya). Dalam penelitian terdahulu akan dapat dilihat sampai sejauh mana orisinalitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.11

1. Penelitian yang dilakukan oleh Restina, 2022, yang berjudul skripsi

“ Implimentasi gerakan literasi untuk meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran aqidah akhlak di Mts Muhammadiyah sukarame Bandar lampung”.

Hasil Penelitian dari restina sama-sama membahas tentang Gerakan literasi dalam pembelajaran akidah akhlak. Pada penelitian ini menggunkan pendekatan penelitian kualitatif- deskriptif yaitu berupa data-data yang tertulis maupun lisan dari orang dan perilaku yang diamati. Penelitian ini fokus sebagai acuan dalam penelitian terkait kegiatan literasi untuk meningkatkan minat baca dan prestasi siswa

2. Penelitian yang dilakukan oleh Moh. Saiful Aziz, 2017, yang berjudul skripsi : “Implementasi Kultur Literasi dalam Meningkatkan Kemampuan

11 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 46

12

(25)

13

Membaca, Menulis dan Berpikir Kritis Siswa SD Plus Al-Kautsar Malang.

Hasil penelitian nya yaitu penelitian menggunakan metode Penelitian kualitatif deskriptif , hasil penelitianya yaitu budaya literasi yang sudah diterapkan di SD Plus Al-Kautsar Malang yang kemudian diarahkan pada kemampuan membaca, menulis dan berpikir kritis siswa.

Dan hasilnya terjadi peningkatan kemampuan membaca, menulis dan berpikir kritis Siswa SD melalui pelaksanaan kultur literasi yang disudah diterapkan.

3. Penelitian yang disusun oleh Banatul Khoiriah Ulfa, mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung tahun 2021 yang berjudul Pengaruh Budaya Literasi Mahasiswa Terhap Penguasaan Materi Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung).

Hasil penelitianya yaitu peneliti menggunakan metode kuantitatif hasil penelitianya yaitu memaparkan bagaimana kondisi budaya literasi dan pengaruhnya terhadap penguasaan materi pendidikan agama islam mahasiswa di UIN raden Intan Lampung. Sedangkan penelitian ini lebih berfokus pada pelaksanaan kegiatan literasi dalam pembelajaran akidah akhlak serta outputnya dalam jenjang pendidikan menengah.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Fina Noor Amalia, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dam Keguruan, UIN Sunan

(26)

14

Kalijaga Yogyakarta tahun 2017 dengan judul: Pengaruh Gerakan Literasi Sekolah (Reading Groups) sebagai Program Penunjang Kurikulum terhadap Peningkatan Kompetensi Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa di SDIT Luqman Hakim Internasional Yogyakarta.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan hasil penelitianya dilatar belakangi, dapat meningkatkan kompetensi berpikir kritis siswa di SDIT Luqman Hakim Internasional. Persamaan penelitian tersebut dan penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang kegiatan literasi. Perbedaannya adalah penelitian tersebut lebih berfokus pada program Reading Groups didalam kelas saja pada jenjang pendidikan dasar. Sedangkan penelitian ini lebih berfokus pada pelaksanaan kegiatan literasi dalam pembelajaran akidah akhlak serta outputnya pada jenjang pendidikan menengah

5. Penelitian yang dilakukan oleh Munirotul Hidayah, Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2018. Dengan judul: Implementasi Kebijakan Program Literasi (GLS) di SD Muhammadiyah Bantul Kota.

Penelitian ini menggunkan pendekatan kualitatif deskriptif Dan hasil dari penelitian tersebut yakni diketahui bahwa program GLS adalah membaca, menulis, berbicara, melihat atau menyimak sudah dilaksanakan. Kegiatan ini dianjurkan untuk siswa dan guru yang kemudian di evaluasi. Penelitian ini membahas tentang kebijakan sekolah

(27)

15

terkait program literasi dan berfokus pada kebijakan GLS di sekolah saja dan tidak ada dalam pembelajaran aqidah akhlak dan lebih berfokus pada jenjang pendidikan dasar.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No. Nama Judul Persamaan Perbedaan Orisinilitas

1. Restina,

2022 “Implimentasi gerakan literasi untuk

meningkatkan prestasi siswa dalam

pembelajaran aqidah akhlak di Mts

Muhammadiya h sukarame Bandar lampung”

 Menggunakan metode Kualitatif.

 membahas tentang Gerakan literasi dalam pembelajaran Aqidah Akhlak

 Teknik pengumpulan data

menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi.

 Waktu penelitian

 antara program literasi yang di adakanya yaitu siswa- siswi MTs

Muhammadiyah Sukarame melaksanakan kegiatan literasi quran yang dibimbing oleh ustadz/ustadzah yang mumpuni di bidang al- quran

 kegiatan literasi untuk

meningkatkan minat baca dan prestasi siswa.

 Fokus penelitan Implimentasi Gerakan Literasi Madrasah dalam

pembelajaran Aqidah akhlak di Man 2 Banyuwangi

2. Saifu

l aziz, 2017

“Implementasi Kultur Literasi dalam

Meningkatkan Kemampuan Membaca, Menulis dan Berpikir Kritis Siswa SD Plus Al-Kautsar Malang”

 Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif- deskriptif

 Menggunakan teknik

pengumpulan data melalui observasi, wawancara

 Waktu penelitian

 Pada penelitian ini fokus) pada prestasi siswa, dan kemampuan membaca dan menulis serta berfikir kritis dan jenjang pendidikan nya berfokus ke

 Fokus Penelitian Implimentasi Gerakan Literasi Madrasah dalam

pembelajaran Aqidah akhlak di Man 2 Banyuwangi

(28)

16

dan

dokumentasi.

 penelitian tersebut berfokus pada pembiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran, sudut baca kelas dan perpustakaan

sekolah dasar.

3. Bana

tul Khoi riah Ulfa, 2021

“Pengaruh Budaya Literasi Mahasiswa Terhap Penguasaan Materi Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung)”.

 Penelitian ini sama-sama membahas tentang Gerakan literasi

 Waktu penelitian

 Penelitian ini fokus Literasi Mahasiswa Terhap Penguasaan Materi

 Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif

 Fokus Penelitian Implimentasi Gerakan Literasi Madrasah dalam

pembelajaran Aqidah akhlak di Man 2 Banyuwangi

4. Fina

Noor Amal ia, 2017

“Pengaruh Gerakan Literasi Sekolah (Reading Groups) sebagai Program Penunjang Kurikulum terhadap Peningkatan Kompetensi Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa di SDIT

 Penelitian ini sama- sama membahas tentang literasi

 Mengguna kan teknik

pengumpulan data melalui observasi,waw ancara dan dokument asi.

 Sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif

 Waktu penelitian

 lebih berfokus pada program Reading Groups didalam kelas saja pada jenjang pendidikan dasar

 Fokus Penelitian Implimentasi Gerakan Literasi Madrasah dalam

pembelajaran Aqidah akhlak di Man 2 Banyuwangi

(29)

17

Luqman Hakim Internasional Yogyakarta”

5. Muni

rotul Hida yah, 2018

“Implementasi Kebijakan Program Literasi (GLS) di SD

Muhammadiya h Bantul Kota”

 Penelitian ini sama- sama membahas tentang gerakan

literasi sekolah

 Mengguna kan teknik

pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokument asi.

 Menggunakan penelitian kualitatif dan menggunakan jenis

penelitian studi kasus.

 Waktu penelitian

 yakni diketahui bahwa program GLS adalah membaca, menulis, berbicara, melihat atau menyimak sudah

dilaksanakan

 Fokus Penelitian Implimentasi Gerakan Literasi Madrasah dalam

pembelajaran Aqidah akhlak di Man 2 Banyuwangi

Berdasarkan dari hasil penelitian terdahulu diatas, dapat di simpulkan bahwa penelitian terdahulu dengan penelitian yang di lakukan mempunyai persamaan dan perbedaan. Persamaan pertama yaitu sama-sama menggunakan penelitian kualitatif deskriptif kedua, sama-sama membahas tentang gerakan literasi Madrasah. Ketiga, sama-sama menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi, sedangkan perbedaanya yaitu pertama, pada waktu penelitian. Salah satu penelitian terdahulu lebih fokusnya kepada kegiatan literasi literasi dalam meningkat kan minat baca siswa dan lebih ber fokus pada reading grub kelas saja pada pendidikan dasar. Selain itu juga lebih ber fokus kepada bahwa program

(30)

18

GLS adalah membaca, menulis, berbicara, melihat atau menyimak sudah dilaksanakan, dan ke banyakan untuk meningkatkan prestasi siswa dan terdapat perbedan – perbedaan pada waktu penelitian.

B. Kajian Teori

1. Implimentasi Gerakan Literasi Madrasah a. Pengertian gerakan literasi Madrasah

Kata “literasi” berasal dari Bahasa latin literatus (littera), yang setara dengan kata letter dalam bahasa inggris yang merujuk pada makna kemampuan membaca dan menulis, kemudian berkembang menjadi kemampuan menguasai pengetahuan bidang tertentu. Pada awalnya literasi dimaknai “keberaksaraan” kemudian dimaknai “melek” atau

“keterpahaman”. “Melek baca dan tulis” awalnya ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal. Pemahaman literasi pada akhirnya tidak hanya merambah pada masalah baca tulis saja, bahkan sampai pada tahap multiliterassi.12

Gerakan literasi madrasah yaitu suatu usaha yang dilakukan pemerintah secara menyeluruh dengan tujuan untuk menjadikan madrasah sebagai organisasi masyarakat pembelajar dalam ranah Pendidikan dan menjadikan masyarakat yang kaya akan literasi sepanjang hayat dengan

12 Pangesti Wiedarti, Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah (Jakarta: Direktorat Jenderal

Pendidikan Dasar & Menengah Kemendikbud. 2018), 7.

(31)

19

melibatkan semua pihak mulai dari pemerintah, pendidik, peserta didik, ataupun orang tua wali.13

Gerakan literasi madrasah atau yang biasa disebut GELEM merupakan suatu program gerakan ayo membangun madrasah yang dilaksanakan oleh Kementrian Agama Provinsi Jawa Timur yang mengacu pada program pemerintah Pendidikan dan kebudayaan yaitu Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dengan tujuan yang sama dan kegiatan yang sama. Literasi sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdasa melalui berbagai aktivitas, seperti membaca, melihat, menyimak, menulis dan/atau berbicara.14

Gerakan Literasi sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.15 Gerakan literasi sekolah merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup manusia dalam menghadapi masa yang akan datang di era globalisasi. Program gerakan literasi sekolah merupakan kegiatan yang melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid), masyarakat dan pemangku kepantingan dibawah koordinasi Direktorat Jenderal

13 Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. “Gerakan Literasi Madrasah (GELEM).

14 Pratiwi Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama

(Jakarta: Direktorat Pembinaan sekolah Menengah Pertama Kemendikbud. 2016), 2.

15 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 2.

(32)

20

Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program ini diharapkan dapat mendorong untuk dilaksanakan bersama-sama dan menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.16

Jadi, gerakan literasi madrasah (GELEM) merupakan suatu upaya perintah dalam meningkatkan kemampuan mengakses, memahami, menggunakan dan juga menjadikan masyarakat yang kaya akan literasi sepanjang hayat melalui gerakan literasi sekolah (GLS) dengan melalui program gerakan literasi sekolah ini diharapkan mampu mendorong siswa untuk memiliki kebiasaan dalam membaca. Apabila pembiasaan membaca sudah terlaksana dan terbentuk maka membaca akan menjadi suatu kebutuhan. Dan jika membaca sudah menjadi suatu kebutuhan, maka membaca akan menjadi suatu kebiasaan yang akan terus dilaksanakan.

b. Tujuan Gerakan literasi sekolah 1) Tujuan Umum

Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.17

16 Dewi Ratna Sari, “Hubungan Kualitas Penerapan Gerakan Literasi Sekolah dengan

Kemandirian Belajar Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Sidoarjo,” Kajian Moral dan Kewarganegaraan 5, No 3 (2017), 993.

17 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 2

(33)

21

2) Tujuan Khusus

a)

Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.

b)

Meningkatkan kapasistas warga dan lingkungan sekolah agar literat.

c)

Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

d)

Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca

c.

Ruang Lingkup Gerakan literasi sekolah

Adapun ruang lingkup GLS di lembaga sekolah menengah Pertama meliputi:

1)

Lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana dan prasarana literasi)

2)

Lingkungan sosial dan efektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi.

3)

Lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).18

d. Tahapan-Tahapan Gerakan Literasi Sekolah

Menurut Pratiwi Retnaningdyah, dkk (2016: 7-40) terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan kegiatan literasi sekolah di sekolah menengah pertama yang dapat dilaksanakan, yaitu

18 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 3

(34)

22

1) Tahap Pembiasaan

Tahapan pertama yaitu tahap pembiasaan, pada tahap ini bertujuan untuk menumbuhkan minat siswa terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca di sekolah. Ada dua jenis kegiatan membaca untuk kesenangan, yaitu membaca dalam hati dan membacakan nyaring oleh guru. Dengan tujuan (1) meningkatkan rasa cinta baca diluar jam pelajaran, (2) meningkatkan kemampuan memahami bacaan, (3) meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik, dan (4) menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan. Dalam tahap ini, iklim literasi sekolah lebih diarahkan pada pengadaan dan pengembangan lingkungan fisik seperti (pengadaan buku-buku non pelajaran, sudut bac akelas untuk koleksi bahan bacaan, dan adanya poster-poster tentang motivasi pentingnya membaca).19

Adapun jenis kegiatan dalam tahap pembiasaan, yaitu : a) Membaca 15 menit sebelum pelajaran

1) Membaca

dalam hati Siswa dan guru bersama-sama membaca buku masing-masing dengan tenang selama 15 menit.

2) Membacakan nyaring

Saat membaca, guru membaca teks dengan pengucapan dan intonasi yang jelas, dan tidak terlalu cepat. Kemudian guru

19 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 7

(35)

23

mengajukan pertanyaan diantara kalimat untuk menggugah tanggapan siswa.

3) Bertanya tentang buku

Bertanya tentang buku penting dilakukan untuk memastikan bahwa siswa dapat menangkap isi buku yang telah dibaca, dan dapat memotivasi siswa untuk terus membaca b) Membangun lingkungan yang literat

1) Sudut baca di sekolah

Sekolah memanfaatkan sudut-sudut ataupun tempat lain yang strategis di sekolah untuk dilengkapi dengan sumber- sumber bacaan. hal ini bertujuan untuk membuka akses siswa pada sumber bacaan dengan lebih luas.

2) Menciptakan lingkungan karya teks

Untuk menumbuhkan budaya literasi, kegiatan 15 menit membaca perlu didukung oleh lingkungan yang kaya teks, seperti: karya-karya siswa (tulisan, gambar, dll), poster-poster terkait pelajaran, mading sekolah, dll.

3) Memilih buku bacaan di sekolah menengah

Jenis buku yang susuai untuk tingkat perkembangan kognitif dan psikologis siswa tingkat menengah pertama meliputi karya fiksi dan nonfiksi. Buku yang mengandung pesan nilai-nilai budi pekerti, mengembangkan kemampuan

(36)

24

berpikir kritis, kreatif, dan inofatif sesuai dengan tumbuh kembang siswa dalam tahap remaja awal.

2) Tahap Pengembangan

Pada tahap pengembangan ini sama dengan kegiatan pada taham pembiasaan, yang membedakannya adalah bahwa kegiatan 15 menit membaca (membaca dalam hati dan membacakan nyaring) diikuti oleh kegiatan tindak lanjut pada tahap pengembangan. Dalam tahap ini, peserta didik didorong untuk menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan. Kegiatan produktif ini tidak dinilai secara akademik.20

Adapun jenis kegiatan pada tahap pengembangan literasi sekolah yakni:

(a) Mengembangkan iklim literasi sekolah

Apabila dalam tahap pembiasaan sekolah mengutamakan pembenahan lingkungan fisik, dalam tahap pengembangan ini sekolah dapat mengembangkan lingkungan sosial dan efektif.

Lingkungan sosial dan efektif dalam iklim literasi sekolah, antara lain mendorong sekolah untuk memberikan penghargaan terhadap prestasi non akademik peserta didik, khususnya dalam kegiatan literasi.

20 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 18.

(37)

25

(b) Menanggapi isi buku secara lisan ataupun tulisan

Dalam kegiatan menanggapi buku yang telah dibaca memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya tentang buku yang telah dibaca.

(c) Menulis komentar singkat terhadap buku yang dibaca di jurnal membaca harian

Jurnal membaca harian peserta didik dan guru dapat membantu untuk memantau jumlah dan jenis buku yang telah dibaca untuk kegiatan membaca 15 menit, terutama membaca dalam hati. Jurnal membaca dapat berupa buku, kartu, atau selembar kertas dalam portofolio kegiatan membaca. Guru dapat memeriksa jurnal membaca secara berkala, biasanya 1-2 minggu sekali.

3) Tahap Pembelajaran

Pada tahap pembelajaran ini, kegiatan berliterasi bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami teks kemudian mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat. Dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, juga kemampuan dalam komunikasi secara kreatif (verbal, tulisan, visual dan digital) melalui kegiatan menanggapi teks dalam buku bacaan dan buku pelajaran.

(38)

26

Adapun jenis kegiatan pada tahap pembelajaran ini yaitu:

(a) Membaca 15 menit setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membaca buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca terpadu dan bersama. Dan juga siswa dituntut untuk mengembangkan kemampuan kritis misalnya dengan bertanya tentang materi pelajaran yang telah dibaca.

(b) Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam sebuah mata pelajaran (menggunakan peta konsep secara optimal), table perbandingan dsb.

(c) Menggunakan lingkungan fisik, sosial dan efektif, dan akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang bias menjadi referensi diluar buku teks pelajaran untuk menambah pengetahuan dalam mata pelajaran.

C. Implimentasi Gerakan Literasi Madrasah dalam Permendikbud No.23 Tahun 2015

Pada abad ke-21 ini, kemampuan literasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis dan reflektif.

Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut. Berbicara tentang kemampuan literasi siswa di Indonesia, kemampuan literasi siswa Indonesia saat ini masih cukup memprihatinkan. Melihat pentingnya budaya ini pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

(39)

27

Kebijakan ini tertuang dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 untuk menumbuhkan minat baca melalui kegiatan 15 menit setiap hari membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Sehingga melalui gerakan ini diharapkan kemampuan literasi Indonesia akan semakin meningkat dan generasi mudanya akan semakin siap menghadapi persaingan internasional.21

GLS yang tertuang pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti diharapkan dapat diterapkan disekolah pada semua jenjang. Sasarannya tidak hanya peserta didik yang melaksanakan kegiatan GLS namun diharapkan semua warga sekolah juga dapat melaksanakan kegiatan GLS.

Pandangan GLS ini dapat kita lihat dari beberapa sudut pandang, antara lain sebagai berikut:

1) Segi pendidikan

Literasi kaitannya dengan dunia pendidikan, penggunaan berbagai jenis bentuk teks dan media memberikan peluang untuk memahami berbagai jenis makna yang berbeda. Teks yang bersifat multimodal juga mendorong untuk berpengalaman

21 “Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik IndonesiaNomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti,” 2015.

(40)

28

menginterprestasikan informasi, baik dalam tataran konteks global maupun lokal. Konsep literasi pada dunia pendidikan sebenarnya tidak terlepas dari konsep pedagogik seni, multiple ways of knowing, dan multiple intelegensi, yang telah terbukti memberikan nilai dalam meningkatkan efektivitas lingkungan belajar bagi siswa.

2) Segi komunikasi

Literasi dipandang sebagai alat yang dapat digunakan untuk beroleh dan mengomunikasikan informasi.

3) Segi budaya (fokus pada kelompok)

Literasi ditujukan agar mampu membentuk makna dalam kaitannya dengan kelompok sosial tertentu, lintas kelompok sosial, norma dan nilai yang berlaku dalam kelompok sosial tersebut.

4) Segi bahasa (fokus pada teks)

Literasi dilakukan agar mampu menggunakan berbagai sistem bahasa untuk mengkonstruksi makna tertentu. Bahasa sendiri mempunyai variasi bentuk makna dalam hubungannya dengan variasi fungsi makna.

5) Segi kognitif (berfokus pada berpikir)

Literasi ditujukan agar menggunakan berbagai proses dan strategi mental untuk membentuk makna tertentu berdasarkan teks, tujuan, dan audiens.

(41)

29

6) Segi pertumbuhan pengetahuan (berfokus pada pengetahuan) Literasi ditujukan agar mampu mengembangkan dimensi literasi yang dimilikinya hingga mampu menegoisasi makna yang terkandung dalam teks.

7) Segi agama Islam

Allah menurunkan surat Al-„Alaq sebelum surat-surat lain, yang memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk membaca sebelum memerintahkan yang lain. Hal ini tentu karena mengingat betapa pentingnya membaca. Makna Iqra‟ bukan sekadar bacalah, tetapi budayakanlah menelaah, menganalisis, mengkaji, dan meneliti.22 2. Pembelajaran Aqidah Akhlak

a). Pengertian Aqidah Akhlak

Mata pelajaran Akidah Akhlak ini merupakan cabang dari Pendidikan Agama Islam. Menurut Zakiyah Darajat Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peseta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Kemudian menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.23 Adapun pengertian pembelajaran adalah proses, cara perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup yang belajar. Pembelajaran dalam proses pendidikan adalah proses interaksi peserta didik dengan

22 Yunus Abidin, Mulyati Tita, dan Hana Yunansah, Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca dan Menulis (Jakarta: Bumi Aksara, 2017),1-4.

23 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Bebasis Kompetensi (Konsep

Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 130.

(42)

30

pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Ruang lingkup pembelajaran dapat terjadi pada setiap waktu, keadaan, tempat atau lingkungan dan cakupan materi ,termasuk dalam hal ini mata pelajaran akidah akhlak yang diajarkan.24

Kata aqidah juga berasal dari bahasa Arab yaitu Aqoda- ya‟qudu-aqidatan. 25 Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Ada juga ahli yang mendefinisikan bahwa aqidah ialah kesimpulan pandangan atau kesimpulan ajaran yang diyakini oleh hati seseorang.Dengan demikian secara etimologis, akidah adalah kepercayaan atau keyakinan yang benar menetap dan melekat dihati manusia.26

Secara terminologi menurut Hasan Al-Bana, aqoid bentuk jamak dari aqidah adalah beberapa perkara wajib yang diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, yang menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu- raguan.Sedangkan menurut Abu Bakar Jabir al-Jaziry sebagaimana dikutip Yunahar Ilyas mengatakan „aqidah‟ adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah. Kebenaran itu di patrikan (oleh

24 M. hidayat Ginanjar, Pembelajaran Akidah Akhlak dan Korelasinya dengan Peningkatan Ahlak

Al Karimah Peserta Didik (Jurnal Edukasi Islam Jurnal Pendidikan Islam Vol. 06 No.12, Juli 2017),7.

25 Taufik Yunansyah, Buku Akidah Akhlak Cetakan Pertama, (Jakata: Grafindo Media

Pratama,2006), 3.

26 hidayat Ginanjar, Pembelajaran Akidah Akhlak dan Korelasinya dengan Peningkatan Ahlak Al-

Karimah Peserta Didik

(43)

31

manusia) di dalam hati serta diyakini kesahihannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.27

Mukminin menggambarkan ciri-ciri Akidah Islam sebagai berikut:

(a) Akidah didasarkan pada keyakinan hati, tidak dengan serba rasional, sebab ada masalah tertentu yang tidak rasional dalam akidah;

(b) Akidah Islam sesuai dengan fitrah manusia sehingga pelaksanaan Akidah menimbulkan ketenangan dan ketrentaman

(c) Akidah Islam di asumsikan sebagai perjanjian yang kokoh, maka dalam pelaksanaannya akidah harus penuh dengan keyakinan tanpa disertai dengan kebimbangan dan keraguan

(d) Akidah Islam tidak hanya diyakini lebih lanjut perlu pengucapan dengan kalimat “thaiyibah” dan diamalkan dengan perbuatan yang baik.

(e) Keyakinan dalam akidah Islam meupakan masalah yang seempiris, maka dalil yang digunakan dalam pencarian kebenaran tidak hanya berdasarkan indra dan kemampuan manusia melainkan membutuhkan usaha yang dibawa oleh Rasul allah swt.28

Menurut Bahasa Yunani istilah Akhlak dipengaruhi istilah Ethos, atau Ethios atau etika (tanpa memakai huruf H) yang mengandung arti

27 Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, Cet. XIV, (Yogyakarta: LPPI (Lembaga Pengkajian dan

Pengamalan Islam), 2011), 1

28 Muhaemin et at. Kawasan dan Wawasan Study Islam, (Jakarta: Kencana Wardana Media, 2005),

2

(44)

32

etika yang bermakna usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Dan etika itu adalah sebuah ilmu bukan sebuah ajaran.29

Dari beberapa pengertian tentang akhlak tersebut mempunyai pengertian dan tujuan yang sama yakni akhlak adalah kehendak yang tetap dalam jiwa manusia yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan dengan mudah. Jadi akhlak adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian sehingga darisitu timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Aqidah dan Akhlak mempunyai hubungan yang sangat erat. Aqidah merupakan akar atau pokok Agama, sedangkan akhlak merupakan sikap hidup atau kepribadian manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh Aqidah yang kokoh. Dengan kata lain, Akhlak merupakan manifestasi dari keimanan(Aqidah).

Dengan demikian dapat disimpulkan pengertian mata pelajaran akidah akhlak yaitu suatu ilmu yang memberikan pengetahuan, pemahaman dan penghayatan tentang keyakinan seseorang yang melekat dalam hati yang berfungsi sebagai pandangan hidup, untuk selanjutnya dapat diwujudakan dalam kehidupan nyata. Pemberian mata pelajaran akidah akhlak sangat penting diberikan di sekolah.

29 Zahrudin A R dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,

2004), 2-3

(45)

33

Yakni sebagai bagian integral dari pendidikan agama islam, meskipun memang bukan satu- satunya faktor dalam pembentukan watak dan kepribadian siswa, tetapi secara substansial mata pelajaran akidah akhlak memiliki konstribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlkaul karimah alam kehidupan sehari-hari.

b). Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah

Pembelajaran adalah proses belajar yang dibangun oleh pendidik untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan pengetahuan baru.

Peraturan Menteri Agama RI Nomor 2 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah BAB VIII butir B, bahwa tujuan pembelajaran akidah akhlak madrasah aliyah yaitu: pertama, menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt; kedua, mewujudkan manusia dalam kehidupan maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah islam.

(46)

34

Pembelajaran akidah akhlak membuat strategi literasi dalam pembelajaran akidah akhlak. Dimana hal tersebut terlihat dari adanya:

1) Pemantauan Pemahaman Teks materi Pembelajaran

Penggunaan pemahaman wacana atau teks dalam pembelajaran merupakan salah satu karakteristik gerakan literasi dalam pembelajaran yang perlu digunakan oleh guru aqidah akhlak, karena dapat membantu peserta didik memahami dengan baik teks yang di bacanya atau materi yang sedang di pelajarinya.

2) Penggunaan Berbagai Moda/ Model selama pembelajaran Istilah teks dalam literasi memiliki makna yang luas, teks dalam literasi ini tidak merujuk pada teks tertulis, namum juga bisa berbentuk audio, visual, audio visual, verbal dan lain sebagainya. Teks sendiri dapat berbentuk digital maupun non digital , berbagai teks tersebut dalam pembelajaran akidah akhlak disebut juga multi modal teks.

3) Instruksi yang jelas dan Eksplisit oleh guru

Guru akidah akhlak yang menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran dengan sadar akan menggunakan instruksi yang jelas khususnya dalam kegiatan berpikir. Pemberian instruksi yang jelas dari guru nantinya dapat memudahkan peserta didik dalam mengerjakan tugas.

4) Respon terhadap berbagai Pertanyaan

(47)

35

Respon terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik merupakan cara guru untuk memahamkan peserta didik tersebut. Jika ada yang bertanya mengenai hal yang belum di fahami maka guru memberikan respon yang positif.

5) Membuat Pertanyaan

Pada kegiatan pembelajaran aqidah akhlak berbasis literasi, membuat pertanyaan merupakan hal yang terpenting , karena kegiatan tersebut dapat membantu mengembangkan rasa ingin tahu peserta didik, rasa ingin tahu juga memiliki kaitan yang erat dengan literasi.

6) Meringkas isi materi

Tidak hanya sekedar membaca, kecakapan literasi juga dapat diasah dengan kegiatan meringkas isi materi teks (Meresume).

Pemahaman yang sudah kita peroleh perlu diungkapkan, baik melalui tulisan, lisan atau lainya. Kebanyakan orang bahwa meringkas merupakan kegiatan menyerdehanakan isi dari sebuah materi. Tetapi, meringkas dalam konteks juga berarti mengidentifikasi gagasan utama, menceritakan kembali teks yang sudah dibaca, membuat isi sintetis, dan membuat isi pertanyaan tentang isi materi.30

Pembelajaran akidah akhlak untuk siswa madrasah merupakan suatu tindakan melatih pikiran siswa sedemikian rupa sehingga dalam

30 Rati syahfitri, kamaliah. Implementasi pembelajaran akidah akhlak berbasis literasi dikelas VIII

Mts Miftahul ula Desa pematang cengal langkat.khazanah: jurnal of islamic studies volume 1, nomor 2, mei 2022)

(48)

36

sikap hidup dan tindakan dipengaruhi oleh nilai spritual. Pembelajaran akidah akhlak sasaranya adalah pembentukan watak, sikap, tingkah- laku bahkan pendewasaan seluruh aspek-aspek kepribadian anak, karena anak lebih banyak waktunya bersama orang tua, maka pembelajaran akhlak juga dilakukan oleh orang tua.

Menurut Zuhari dkk, guru agama Islam (guru Akidah Akhlak) merupakan pendidikan yang mempunyai tanggung jawab dalam membentuk kepribadian Islam anak didik, serta bertanggung jawab terhadap Allah SWT. Zuhairi dkk, juga membagi tugas guru agama Islam sebagai berikut:

(a) Mengajarkan pengetahuan islam, seperti menceritakan awal mula Islam tersebar, pergantian khalifah di zamannya, dan kehidupan Sahabat-sahabat Nabi.

(b) Menanamkan keimanan dalam jiwa, seperti menyelipkan konten Islami ketika bercerita dengan para peserta didik, menceritakan bagaimana cara nabi beribadah, kemudian mengajak anak mengaktualisasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.

(c) Mendidik anak agar taat menjalankan agama. Hal ini bisa terealisasikan apabila guru atau orang tua mengajak peserta didik dengan cara yang baik seperti, mencontohkan selalu membaca Al Quran setiap selesai shalat. Maka peserta didik akan meniru hal tersebut.

(49)

37

(d) Mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia, yakni seperti mengenalkan peserta didik kepada majelis taklim, atau bisa dengan mendorong peserta didik untuk selalu mengingat Allah di segala keadaan, supaya peserta didik bisa menyeimbangkan hubungan antara dengan manusia dan dengan Allah.31

Dengan mengambil pengertian di atas maka yang dimaksud pembelajaran bidang studi akidah akhlak di madrasah adalah sebuah pembelajaran dalam menanamkan pendidikan akidah akhlak dan bertanggung jawab terhadap Allah Swt, serta bertanggung jawab membentuk pribadi anak agar sesuai dengan ajaran islam sehingga nantinya mampu menjalankan tugas- tugasnya menjadi khalifah di bumi ini dengan penuh cinta dan kasih sayang.

C) Tujuan Pembelajaran Aqidah Akhlak

Menurut Asmara AS, pendidikan akhlak bertujuan mengetahui perbedaan-perbedaan dan perangai manusia yang baik dan yang buruk, agar manusia dapat memegang teg

Gambar

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Model Analisi Data Miles Huberman dan Saldana  a.  Pengumpulan data
Tabel 4.4         Jumlah Siswa
Gambar 4.1 Gerakan Literasi 15 Menit sebelum Pembelajaran  b)  Gerakan literasi Outdoor bersama (GLOBE)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada bagian pertama dijelaskan persepsi guru mengenai literasi dan proyek jurnal membaca siswa untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku. Melalui hasil wawancara

Oleh karena itu, kegiatan yang dikembangkan dalam Gerakan Literasi Masyarakat adalah kegiatan yang mencakup enam literasi, yaitu literasi baca-tulis, literasi

Beberapa Kegiatan Literasi Pembaca Awal • Guru membacakan buku bergambar • Guru membaca buku besar bersama peserta didik • Peserta didik menggambar atau menulis

Kegiatan pembiasaan adalah kegiatan penumbuhan minat baca yang dilakukan dengan cara membaca teks atau teks multimodal selain buku teks pelajaran selama 15 menit yang dapat

2. Faktor internal penghambat gerakan literasi baca tulis siswa di MI Nurul Islam Kuta adalah berasal dari siswa dan guru, faktor siswa yaitu rendahnya minat membaca siswa

1) Tahap pembiasaan, yaitu tumbuhnya budaya literasi serta minat baca di sekolah salah satu kegiatan yang dilakukan pada tahap pembiasaan yaitu 15 menit membaca. Pada

Literasi finansial adalah salah satu program literasi yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Gerakan Literasi Nasional bersamaan dengan literasi baca tulis,

Program Gerakan Literasi Sekolah Dalam Menumbuhkan Minat Baca Peserta Didik Sdn Kuripan Lor 01 Kota Pekalongan.. Manual Pendukung Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah.Jakarta: