PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DISERTAI POWER POINT TERHADAP HASIL BELAJARBIOLOGI SISWA KELAS XI
SMAN 1 KOTO BARU KABUPATEN DHARMASRAYA TAHUN PELAJARAN 2014/2015
Yellia Sari, Siska Nerita, Febri Yanti
ProgramStudi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumbar E-mail : [email protected]
ABSTRACT
The learning process at SMAN 1 Koto Baru Dharmasraya was in low avhievement likely under KKM (75). It was caused that the teachers did not use the various strategy of learning yet. Besides, media used in teaching learning process were not varied. So that, the students were not motivated in learning.
The effort that teacher could do to overcome the problem above was learning strategy implementation, one of the stategy was Discovery Learning Strategy with Power Point. The research had purpose to find out the effect of Discovery Learning Strategy with power point toward the learning outcomes Biology achievement of Eleventh grade students at SMAN 1 Koto Baru, Dharmasraya. The research method was experimental research by using Randomized Control-Group Postest Only Design. The technique of sampling was Simple Random Sampling, so that the sample of the research was MIA 1 and MIA 3 students. The data analysis used was t-test. The research result which was done to the sample classes indicated that the achievement of experiment class had higher mean score than control class, they were, 77.33 and 67.97. From hypothesis testing done was gott >t whereas t = 3.12 and t= 1.67, thus the hypothesis was accepted. Referring to the data analysis, the affective competence of experimental class was in B (3.34) predicate and the control class was also in B (3.19) predicate. Then, the cognitive competence of experimental class had B (3.08), meanwhile the control class hadB (2.71) predicate. The psycomotor competence of experimental class was inB (3.19) predicate and the control class was in B (3.00) predicate. Briefly, It can be concluded that Discovery Learning strategy with power poin could increase the learning outcomes of biology of eleventh grade students at SMAN 1 Koto Baru Dharmasraya.
Key word : Discovery Learning, Power Point, Learning Outcomes.
PENDAHULUAN
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ialah dengan melalui perubahan dan pengembangan proses belajar mengajar. Sesuai dengan perubahan dan pengembangan yang ditetapkan oleh Permendikbud No. 81 A Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum, prinsip-prinsip kegiatan pembelajaran adalah: (1) berpusat kepada peserta didik, (2) mengembangkan kreatifitas peserta didik, (3) menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang, (4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika, (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efesien dan bermakna (Permendikbud, 2013). Pembelajaran pada kurikulum 2013 dilaksanakan dengan pendekatan saintifik.
Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan saintifik dilakukan melalui proses
mengamati, menanya, mencoba,
mengasosiasi/menalar, dan mengkomunikasikan.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan seorang guru biologi di SMAN 1 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya dapat disimpulkan bahwa belum bervariasinya model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Proses pembelajaran masih berlangsung satu arah yaitu dari guru ke siswa dengan kata lain proses pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Selain itu penggunaan media kurang menunjang pada proses pembelajaran. Hal lain yang penulis temukan juga adalah kurangnya siswa yang aktif dalam proses pembelajaran dan kadang siswa kurang memperhatikan guru menjelaskan materi pembelajaran. Salah satu materi yang dianggap sulit oleh siswa kelas XI adalah materi sistem gerak pada manusia. Materi ini tergolong sulit karena perlu pemahaman tentang rangka, tulang,
sendi, mekanisme kerja otot dan kelainan pada sistem gerak. Hal ini menyebabkan hasil belajar biologi siswa masih rendah dan berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75.
Berdasarkan kurikulum 2013 untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada proses pembelajaran dan dapat membuat siswa belajar lebih aktif, kreatif, termotivasi, menyenangkan serta lebih memahami konsep-konsep biologi dan saling berbagi ilmu pengetahuan. Sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 adalah menerapkan model pembelajaran melalui pendekatan saintifik.
Model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum saat ini salah satunya menerapkan model pembelajaran Discovery Learning, untuk menunjang model pembelajaran ini memerlukan media pembelajaran, media yang sesuai dengan model pembelajaran Discovery Learning salah satunya adalah media power point
Mengacu pada Suprihatiningrum (2013:242) model pembelajaran Discovery Learning dapat menciptakan interaksi yang positif dalam proses pembelajaran. Model ini dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilan yang dimilikinya.
Selain itu, dengan disertai power point dapat memotivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Media power point merupakan gambar transparan dalam bentuk kecil yang bersifat individual dalam arti dipertujukan satu persatu. Salah satu keuntungan dari penggunaan media power point ini mudah diproyeksikan dan dapat menampilkan gambar-gambar maupun video yang sesuai dengan materi pembelajaran (Anitah, 2009:31). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Discovery Learning disertai Power Point terhadap hasil belajar biologi siswa kelas X1 SMAN 1 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya Tahun Pelajaran 2014/2015.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan di SMAN 1 Koto Baru di kelas XI semester 1 pada bulan November Tahun Pelajaran 2014/2015.
Jenis penelitian yang digunakan adalah peneltian Randomized Control-Group Posttest Only Designd dan pengambilan sampel menggunakan
teknik simple random sampling (Lufri 2005:69- 85). Prosedur penelitian terdiri dari tiga bagian yaitu tahap persiapan, pelaksanaan,dan tahap akhir. Instrumen tes yang digunakan pada ranah kognitif berupa soal pilihan ganda dengan empat options berjumlah 37 butir. Instrumen tes berupa soal pilihan ganda di uji cobakan pada kelas yang berbeda. Agar instrumen tes tersebut menjadi alat ukur yang baik, maka perlu dilakukan analisis soal melalui validitas tes, reliabilitas soal (Arikunto, 2010: 70-103), indeks kesukaran soal dan daya beda (sudijono, 2011: 373-389).
Teknik analisi data terdiri atas tiga kompetensi yaitu, kompetensi sikap yang dilihat adalah nilai modus, kompetensi pengetahuan yaitu skor rerata, untuk mengetahui hipotesisnya diterima maka dilakukan uji-t. Sebelum uji hipotesis dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variens kedua kelas sampel (sudjana 2005:249). Selanjutnya kompetensi keterampilan dilihat dari capaian optimum. Teknik penilaian ini mengacu pada Permendikbud No 104, dimana pada penilaian kompetensi sikap diperoleh darai nilai modus ( nilai yang sering muncul), penilaian kompetensi pengetahuan diperoleh dari skor rerata, dan penilaian kompetensi keterampilan diperoleh dari capaian optimum (nilai tertinggi).
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Hasil belajar yang diperoleh pada saat penelitian, maka didapatkan nilai ketuntasan kompetensi pengetahuan sikap dan keterampilan siswa seperti Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Skor dan Predikat Hasil Belajar Untuk Setiap Kompetensi.
No Kelas
Sikap Pengetahuan Keterampilan
Modus Prediket Skor
Rerata Huruf Capaian
Optimum Huruf
1 Eksperimen 3,34 B 3,08 B 3,19 B+
2 Kontrol 3,19 B 2,72 B- 3,00 B
Pembahasan
Berdasarkan Tabel 1 terjadi perbedaan hasil belajar pada kedua kelas sampel baik pada penilaian kompetensi sikap, penilaian kompetensi pengetahuan, maupun pada penilaian kompetensi keterampilan. Penilaian kompetensi sikap pada kelas eksperimen berada pada predikat B (3,34) dan penilaian kompetensi sikap pada kelas kontrol berada pada predikat B (3.19). Aspek yang diamati dari penilaian kompetensi sikap yaitu, menghargai pendapat orang lain, bertanggungjawab dalam kelompok dan bekerja sama dalam kelompok.
Berdasarkan aspek yang diamati pada kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dapat menciptakan interaksi yang positif dalam proses pembelajaran. Seperti siswa bekerjasama dalam mencari dan memecahkan permasalahan secara berdiskusi dalam kelompok. Siswa dapat berkomunikasi dengan teman dan gurunya pada saat proses pembelajaran. Siswa juga mampu berpendapat secara ilmiah dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu siswa juga bertanggung jawab memecahkan permasalahan dalam kelompoknya pada saat proses pembelajaran.
Menurut Berlyne (1988) dalam Suprihatiningrum (2013:244) mengatakan bahwa model pembelajaran Discovery Learning (penemuan) mempunyai beberapa keuntungan, model pembelajaran ini mengacu pada keingintahuan siswa, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawabannya. Siswa juga belajar memecahkan masalah baik secara mandiri maupun berkelompok dan memiliki keterampilan berpikir kritis karena mereka harus menganalisis dan menangani informasi yang didapatkan.
Sedangkan pada kelas kontrol proses pembelajarannya menggunakan pendekatan saintifik dan metode diskusi, dengan pendekatan saitifik dan metode diskusi ini siswa hanya berdiskusi dalam kelompok yang homogen, sehingga terlihat kurangnya minat siswa dalam bekerja sama dengan kelompok, siswa cenderung mengandalkan teman kelompok yang lebih pintar dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Pada saat berdiskusi masih banyak siswa yang main-main dan tidak saling bekerja sama dengan anggota kelompoknya dan siswa tidak dapat berkomunikasi secara baik dengan teman dan gurunya pada saat proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran tidak terlaksana dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Lie (2010:34) bahwa keberhasilan suatu kelompok juga bergantung
pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
Apabila suatu proses pembelajaran itu dimulai dengan sikap dan minat yang baik maka penilaian pengatahuannya juga meningkat dengan baik. Sesuai dengan pendapat Latisma (2011:192) bahwa orang yang tidak memiliki minat pada mata pelajaran tertentu, sulit diharapkan akan mencapai keberhasilan belajar secara maksimal. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari pembelajaran tersebut, sehingga diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang memuaskan.
Penilain kompetensi pengetahuan dilakukan pada hari terakhir penelitian dengan soal pilahan ganda yang berjumlah 37 soal.
Kompetensi penilaian pengetahuan pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol yaitu pada kelas eksperimen dengan rata-rata 77,33 jika dikonfersikan maka berada pada predikat berada pada predikat B (3,08), sedangkan pada kelas kontrol dengan rata-rata 67,97 jika dikonfersikan maka berada pada predikat Bˉ (2,71). Perbedaan penilaian pengetahuan pada kedua kelas sampel ini disebabkan karena pada kelas eksperimen diterapkan model pembelajaran Discovery Learning disertai power point. Dimana dengan model pembelajaran ini siswa dituntut untuk mencari dan memecahkan permasalahan yang didapatkan dari mengamati power point.
Melalui power point ini dapat memotivasi siswa dalam membuat pertanyaan dan mengumpukan data dari sumber yang relevan untuk menjawab pertanyaan dengan kelompoknya, sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar dan berfikir siswa. Menurut Suprihatiningrum (2013:163) menyatakan Discovery Learning adalah sebuah model pembelajaran yang mana guru melibatkan kemampuan berfikir kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik melalui proses identifikasi persoalan, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan mengambil kesimpulan dengan melalui langkah-langkah tersebut siswa mampu menemukan suatu prinsip, hukum, ataupun teori.
Sedangkan pada kelas kontrol hasil belajar dengan pendekatan saintifik lebih rendah dari pada model Discovery Learming.
Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan karena pada kelas kontrol proses pembelajarannya tidak disertai dengan media pembelajaran, siswa hanya mengamati materi
pembelajaran dari berbagai buku sumber, kemudian hasil pengamatannya didiskusikan dengan kelompok, sehingga siswa kurang aktif dan kurang termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yaitu 77,33 yang berada di atas KKM, sedangkan kelas kontrol yaitu 67,97 berada di bawah KKM. Dimana KKM yang ditetapkan di SMAN I Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah 75.
Adanya kompetensi penilaian sikap dan penilaian pengetahuan pada kedua kelas sampel maka didapatkan penilaian keterampilan siswa. Dimana pada penilaian keterampilan kelas eksperimen berada pada predikat B+.
(3,19), sedangkan penilaian keterampilan pada kelas kontrol berada pada predikat B (3,00).
Aspek penilaian keterampilan yang diamati yaitu kesesuaian materi dengan isi, kelengkapan isi, dan kebersihan dalam penulisan.
Berdasarkan aspek yang diamati pada kompetensi keterampilan kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Pada kelas eksperimen dengan model pembelajaran Discovery Learning disertai power point siswa sudah mulai menunjukkan keseriusan dalam belajar ditandai dengan adanya kerja sama antar kelompok sehingga siswa mampu membuat kesesuaian isi materi dengan permasalahan dan pemecahan masalah yang didapatkan siswa, serta kelangkapan isi hasil diskusi dan kebersihan dalam penulisan juga sudah baik, sehingga terjadinya kenaikan pada aspek yang diamati pada setiap pertemuan.
Pada kelas kontrol dengan menggunakan pendekatan saintifik siswa masih kurang menunjukan keseriusan dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga kesesuaian isi materi dan kelengkapan isi hasil diskusi beberapa kelompok masih kurang lengkap, sehingga penilaian keterampilan siswa masih rendah. Penilaian keterampilan ini bertujuan untuk mengetahuai pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran setalah proses pembelajaran berlangsung. Menurut Anwar (2009:87) penilaian keterampilan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keterampilan (skill) yang dimiliki siswa setelah mereka memahami proses pembelajaran kognitif dan afektif. Penilaian keterampilan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berupa hasil diskusi kelompok. Penilaian keterampilan ini dilakukan setelah pembelajaran. Pada kedua kelas sampel penilaian keterampilan sama-sama dilakukan melalui laporan hasil pengamatan siswa pada saat diskusi kelompok. Menurut Nitko (2006) dalam Anwar (2009:85) menyatakan penilaian psikomotor adalah
penilaian yang bertujuan menggali potensi keterampilan atau penampilan seseorang dalam mengaplikasikan bidang studi keilmuannya.
Ditinjau dari ketiga kompetensi penilaian dapat disimpulkan bahwa kompetensi penilaian sikap dapat mempengaruhi kompetensi penilaian pengetahuan, karena apabila dalam proses pembelajaran penilaian sikap siswa dapat merespon pembelajaran, maka siswa akan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran sehingga didapatkan hasil belajar yang memuaskan. Apabila penilaian sikap dan penilaian pengetahuan siswa tercapai maka penilaian keterampilan siswa akan terlihat, karena adanya respon yang positif dan kemauan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Menurut Hamalik (2008:155) mengatakan bahwa hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan sikap dan keterampilan.
Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, misalnya dari yang tidak tahu menjadi tahu, sikapnya kurang sopan menjadi sopan, dan sebagainya.
Menurut Permendikbud No. 104 (2014:12)bahwa ketuntasan belajara untuk pengetahuan ditetapkan dengan skor rerata 2,67, untuk keterampilan ditetapkan dengan capaian optimum 2,67, dan untuk sikap diambil dari nilai modus.ketiga penilaian kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) saling berkesinambungan/holostik. Berdasarkan uraian diatas, proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning disertai power point dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penerapan model Discovery Learning disertai Power Point dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas XI SMAN 1 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya. Berdasarkan kesimpulan maka dikemukakan saran yaitu Guru biologi khususnya dan guru-guru bidang studi lain umumnya dihara pkan dapat menerapkan model Discovery Learning sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar dan penilitian yang berminat untuk peniliti lanjutan tentang materi dan sekolah yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Anitah, Sri.( 2009). Media Pembelajara.
Surakarta: UNS Press
Anwar, Syafri. (2009). Penilaian berbasis Kompetensi. Padang: UNP Press Arikunto, Suharsimi. 2010. Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar. (2008). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Latisma. 2011. Evaluasi Pendidikan. Padang:
UNP Press
Lie, Anita. 2010. Cooperatif Learning Mempraktikan Cooperatif Learning di Ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.
Lufri. M,S. (2005). Metodologi Penelitian. Padang: UNP.
Permendikbud No.81. 2013. Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta
Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung:
Transito.
Suprihatiningrum, Jamil. Strategi pembelajaran.
2013. Jogjakarta: Ar-ruz Media.