• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MONEY ATTITUDE DAN SOCIAL INFLUENCE TERHADAP PERILAKU BERUTANG (Studi Pada Karyawan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH MONEY ATTITUDE DAN SOCIAL INFLUENCE TERHADAP PERILAKU BERUTANG (Studi Pada Karyawan "

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH MONEY ATTITUDE DAN SOCIAL INFLUENCE TERHADAP PERILAKU BERUTANG (Studi Pada Karyawan

PT. Intidragon Suryatama)

Oleh :

Riszkika Swarta Altri Johana

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya [email protected]

Dosen Pembimbing : Risna Wijayanti, SE., MM.,Ph.D

ABSTRACT

This study aims to determine and analyze the effect of money attitude and social influence on the debt behavior of employees of PT. Intidragon Suryatama in Mojokerto City. This type of research is explanatory research using a quantitative approach. The data obtained from questionnaires were distributed to 100 respondents who are employees of PT.

Intidragon Suryatama. The analytical tool used is Statistical Product and Service Solution (SPSS). The results showed that money attitude and social influence had a significant effect on debt behavior.

Keywords : money attitude, social influence, debt behavior ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh money attitude dan social influence terhadap perilaku berutang karyawan PT. Intidragon Suryatama di Kota Mojokerto. Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh dari kuesioner yang dibagikan kepada 100 responden yang merupakan karyawan PT. Intidragon Suryatama. Alat analisi yang digunakan adalah Statistical Product and Service Solution (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa money attitude dan social influence berpengaruh signifikan terhadap perilaku berutang.

Kata kunci : money attitude, social influence, perilaku berutang

(2)

2

I. PENDAHULUAN

Saat ini utang bukan lagi hal yang menakutkan, melainkan menjadi salah satu pilihan perilaku ekonomi yang banyak digunakan (Aqila, 2019). Utang diartikan sebagai uang yang dipinjam dari orang lain dan ada kewajiban untuk mengembalikannya (kbbi.web.id, 2021). Perilaku berutang terkait dengan tindakan atau kegiatan meminjam sesuatu yang sudah direncanakan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan (Pratama, 2015).

Keinginan berutang timbul karena ada kebutuhan yang menuntut persediaan uang melebihi pendapatan (Shohib, 2015).

Pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang memiliki beragam kebutuhan dan tidak pernah merasa puas karena memiliki sifat untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup (Septiana, 2016). Cara konsumsi masyarakat modern telah bergeser dari arti sesungguhnya yaitu cenderung berlebihan dalam mengkonsumsi barang dan jasa tanpa memperhatikan skala prioritas (Aryani, 2006). Seseorang melakukan pembelian bukan karena kebutuhan saja, namun juga didorong oleh keinginan seperti mengikuti trend, gengsi, prestise, dan berbagai alasan lain (Anggraini & Santhoso, 2017).

Kemudahaan yang diberikan oleh pihak jasa keuangan untuk mendapatkan barang mewah seperti kendaraan bermotor, rumah, dan elektronik melalui kredit turut

meningkatkan minat masyarakat untuk berutang (Wibowo, 2016).

Beberapa alasan individu berutang yaitu pendapatan yang rendah, pendapatan tinggi yang diikuti dengan keinginan berbelanja yang tinggi, serta keengganan untuk menabung (Katona, 1975). Utang yang berlebihan dapat memicu berbagai resiko psikologis negatif, seperti stres dan depresi (Reaiding &

Reynolds, 2001).

Berdasarkan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI), pemberian utang konsumsi oleh Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) meningkat (www.go.bi.id, 2019). Pada tahun 2013, jumlah utang konsumsi yang diberikan kepada nasabah sebesar Rp.

934.595 M. Kemudian pada tahun 2016 jumlah utang konsumsi meningkat menjadi Rp. 1.376.893 M.

Hal tersebut mencerminkan niat masyarakat untuk berutang cenderung meningkat. Data yang ditunjukkan oleh CEIC (Cencus and Economic Inormation Center) juga menggambarkan bahwa pertumbuhan utang rumah tangga selama periode 2015-2018 mengalami kenaikan sebesar 26% (Aidha et al., 2020).

Kenaikan ini terjadi karena karena pesatnya transaksi digital. Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2019 dengan valuasi mencapai 40 miliar dolar AS yang didominasi oleh transaksi e- commerce, wisata online, transportasi

(3)

3 online, dan media online (kompas.com, 2019).

Pandemi COVID-19

menyebabkan banyak orang terhimpit utang berlebihan (over-indebtedness) karena mengalami penurunan pendapatan serta pemutusan hubungan kerja. Disisi lain, kesempatan untuk meminjam uang atau melakukan kredit melalui fasilitas daring semakin terbuka dan mudah. Adanya sistem paylater dan pinjaman online dengan syarat yang mudah dipenuhi membuat masyarakat semakin tertarik untuk berutang. Fintech lending mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19.

Tingginya perilaku berutang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah adanya sikap terhadap uang (money attitude). Uang merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh individu untuk berutang. Hal ini karena uang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan, namun juga untuk menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan (Taneja, 2012). Individu yang fokus pada pencapaian kesejahteraan secara materi akan mempertimbangkan berapa banyak uang yang dimiliki, sehingga selisih perbandingan antara pendapatan dan tingkat pemenuhan kesejahteraan akan mengarah pada pilihan perilaku berutang (Shohib, 2015).

Sikap terhadap uang (money attitude) dikonsepkan sebagai persepsi seseorang tentang uang yang

terbentuk karena dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau, pendidikan, serta status ekonomi dan sosial sehingga setiap individu memiliki perbedaan dalam menyikapi uang (Natawibawa et al., 2018).

Sikap terhadap uang berdampak pada kebiasaan belanja, filosofi politik, amal, sikap terhadap lingkungan, dan kinerja (Qamar et al., 2016). Selain itu, juga memberikan wawasan baru tentang perilaku keuangan seperti tabungan, utang, penggunaan kartu kredit, dan pembelian kompulsif (Norvilitis, Szablicki & Wilson, 2003).

Pengaruh sosial (social influence) termasuk wilayah psikologi sosial yang menyelidiki bagaimana orang dipengaruhi oleh tekanan orang atau kelompok lain.

Pengaruh sosial mengacu pada perubahan tindakan, perasaan, pikiran, sikap atau perilaku individu melalui interaksi dengan individu atau kelompok lain (Rana, Osman &

Othman, 2015). Pengaruh sosial akan memicu seseorang untuk berkonformitas agar disukai dan diterima oleh orang atau kelompok lain tersebut (Cialdini & Goldstein, 2004). Konformitas terhadap kelompok dapat terjadi dalam banyak aspek, salah satunya dalam hal gaya hidup yang meliputi pilihan pakaian, musik, bahasa, nilai dan lain sebagainya.

Niat seseorang untuk melakukan utang dapat dijelaskan oleh teori keperilakuan. Pada tahun 1980, Icek Ajzen dan Martin Fishbein

(4)

4 mengemukakan teori keperilakuan yang dikenal dengan Teori Tindakan Beralasan (Theory of Reasoned Action – TRA). Theory of Reasoned Action menjelaskan bahwa terwujudnya perilaku disebabkan oleh adanya niat untuk mewujudkan perilaku (Natawibawa et al, 2018).

Niat untuk melakukan perilaku ditentukan oleh dua konstruk, yaitu sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior) dan norma subyektif (subjective norm).

Sikap diartikan sebagai perasaan positif atau negatif pada diri seseorang dalam melakukan suatu tindakan nyata sedangkan norma subyektif merupakan persepsi seseorang tentang berbagai kepercayaan orang lain yang berpengaruh terhadap niat orang tersebut untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang sedang dipertimbangkan (Jogiyanto, 2007).

Beberapa peneneliti terdahulu telah melakukan penelitian tentang perilaku berutang serta variabel- variabel yang mempengaruhinya salah satunya yaitu money attitude.

Sikap terhadap uang memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku berutang (Shohib, 2015).

Individu dengan sikap positif terhadap utang lebih banyak berutang daripada yang tidak menyukai utang (Lebdaoui & Chetioui, 2021). Hal tersebut membuktikan bahwa sikap seseorang terhadap sesuatu cenderung diikuti oleh perilaku tertentu.

Perilaku berutang dapat didorong oleh adanya intensi yang dipengaruhi oleh norma subjektif (Renanita & Hidayat, 2013).

Keputusan seseorang untuk berutang atau tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial orang tersebut.

Akses seseorang terhadap hutang dapat dipengaruhi oleh keluarga dan komunitas (Okten & Osili, 2004).

Partisipasi terhadap komunitas meningkatkan familiaritas terhadap hadirnya sumber utang yang baru karena komunitas sosial memungkinkan difusi pengetahuan mengenai kesempatan berutang (Okten & Osili, 2004).

PT. Intidragon Suryatama adalah produsen sepatu terbesar di Kota Mojokerto dengan jumlah karyawan mencapai 5.000 orang.

Karyawan yang berada di bagian produksi memperoleh pendapatan bulanan kurang lebih setara dengan UMK Mojokerto sebesar Rp.

2.481.302,97.

Pandemi COVID-19

menyebabkan distribusi hasil produksi alas kaki PT. Intidragon Suryatama ditunda sehingga banyak stok menumpuk di gudang. PT.

Intidragon Suryatama melakukan pengurangan jumlah produksi harian untuk mengatasi hal tersebut.

Kebijakan yang diterapkan membuat karyawan di bagian produksi diliburkan secara bergantian sehingga pendapatan otomatis menurun sebab pendapatan tergantung produksi harian. Pendapatan yang menurun sedangkan kebutuhan yang menuntut

(5)

5 untuk dipenuhi menyebabkan kemungkinan berutang semakin tinggi.

Berdasarkan fenomena dan penelitian terdahulu yang telah dipaparkan, Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul :

“Pengaruh Money Attitude Dan Social Influence Terhadap Perilaku Berutang (Studi Pada Karyawan PT.

Intidragon Suryatama)”

II. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Teori tindakan beralasan (Theory of Reasoned Action)

Teori tindakan beralasan atau Theory Reasoned Action (TRA) digunakan untuk mempelajari perilaku manusia. TRA menunjukkan bahwa setiap perilaku yang disadari (volitional behavior) dipengaruhi oleh intensi atau niat, yang didefinisikan sebagai keputusan untuk melakukan tindakan dengan cara tertentu. TRA menegaskan peran

“niat” atau “intention” seseorang dalam menentukan apakah sebuah perilaku akan terjadi atau tidak. TRA menjelaskan bahwa perubahan perilaku merupakan hasil dari niat, dan niat dipengaruhi oleh norma sosial dan sikap individu terhadap perilaku (Eagle, Dahl, Hill, Bird, Spotswood, & Tapp, 2013, hal. 123).

Attitude toward behavior atau sikap terhadap perilaku adalah evaluasi secara positif atau negatif terhadap suatu benda, orang, instusi, kejadian, perilaku, atau niat (Ajzen, 2005). Sikap dipengaruhi oleh keyakinan akan hasil dari tindakan

yang telah lalu. Subjective Norm atau norma subyektif didefinisikan sebagai persepsi atau pandangan seseorang terhadap kepercayaan- kepercayaan orang lain yang akan mempengaruhi niat untuk melakukan atau tidak perilaku yang sedang dipertimbangkan (Jogiyanto, 2007).

Sejauh mana seseorang memiliki motivasi untuk mengikuti pandangan orang lain terhadap perilaku yang akan dilakukannya.

2.2 Manajemen Keuangan Personal

Manajemen keuangan personal dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengelola uang untuk mencapai kepuasan ekonomi atau kesejahteraan personal (Kapoor, Dlabay & Hughes, 2012). Manajemen keuangan personal menggambarkan prinsip-prinsip dan metode-metode yang digunakan individu untuk mendapatkan dan mengelola pendapatan serta kekayaan (Jump$tart Coalition for Personal Financial Literacy, 2007).

Pengelolaan keuangan (financial management) didefinisikan sebagai bentuk perilaku yang menyangkut perencanaan, implementasi dan evaluasi tentang kas, kredit, investasi, asuransi, dan perencanaan tingkat hidup dan perencanaan masa pensiun (Parrotta & Johnson, 1996).

2.3 Perilaku Berutang

Menurut Collins (1994) perilaku berutang adalah pengeluaran untuk konsumsi yang lebih besar daripada pendapatan, perbedaan ini dibayarkan dari tabungan sebelumnya. Individu akan

(6)

6 melakukan perilaku berutang ketika pendapatan yang didapat lebih kecil daripada konsumsinya. Menurut Keynes (Katona, 1951) bila pendapatan suatu individu meningkat maka konsumsi akan meningkat pula, namun besarnya perubahan tingkat konsumsi tidak selalu sama dengan pendapatan, begitu pula sebaliknya.

Perilaku berutang merupakan perilaku meminjam dimana peminjam diwajibkan untuk membayar kembali pinjaman yang disebabkan oleh kesenjangan antara minimnya pendapatan dengan konsumsi (Wibowo, 2016). Perilaku berutang sering dihubungkan dengan kegiatan kredit, meminjam, mengangsur, dan membeli tidak tunai. Utang merupakan pembayaran yang harus dipenuhi tapi belum dibayarkan. (Brotoharsojo, 2005).

2.4 Money Attitude

Money attitude (sikap terhadap uang) diartikan sebagai cara pandang seseorang tentang bagaimana dan tujuan menggunakan uang. Sikap terhadap uang dapat berdampak pada kebiasaan belanja konsumen, ideologi politik, dan sikap terhadap lingkungan (Roberts et al., 1999). Sikap terhadap uang juga berkontribusi terhadap masalah keuangan pribadi, kebangkrutan, dan hutang kartu kredit. Menurut Tang (1992), sikap terhadap uang dapat memengaruhi kinerja pekerjaan, sistem penghargaan, dan motivasi untuk melakukan suatu tugas.

2.5 Social Influence

Pengaruh sosial merupakan usaha yang dilakukan seseorang atau lebih untuk mengubah sikap, kepercayaan, persepsi, atau tingkah laku orang lain (Kotler dan Armstrong, 2012). Menurut Cialdini (2004) normative social influence adalah pengaruh orang atau kelompok lain yang memicu individu untuk berkonformitas agar disukai dan diterima oleh orang atau kelompok lain tersebut. Tujuan individu berkonformitas adalah agar tidak dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya karena dianggap berbeda.

Individu bertindak sebagaimana yang diharapkan oleh kelompoknya untuk menghindari penolakan.

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian penjelasan (explanatory research). Explanatory research menjelaskan mengenai hubungan antara dua aspek situasi atau fenomena (Kumar, 2018:30).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Mojokerto pada bulan Oktober- November 2020. Objek pada penelitian ini adalah karyawan PT.

Intidragon Suryatama.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi adalah seluruh kelompok orang, acara, atau benda yang ingin diselidiki oleh peneliti (Sekaran & Bougie, 2016:394).

Populasi terdiri dari 5.000 orang

(7)

7 karyawan PT. Intidragon Suryatama lalu diambil 100 orang untuk menjadi sampel responden.

3.4 Sumber Data

Berdasarkan sumbernya, ada dua tipe data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :

1. Data Primer

Menurut Sekaran dan Bougie (2016:395), data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung untuk analisis selanjutnya untuk menemukan solusi untuk masalah diteliti.

2. Data sekunder

Menurut Sekaran dan Bogie (2016:396) data sekunder merupakan informasi yang mengacu pada sumber yang sudah ada.

3.5 Uji Instrumen 1. Uji Validitas

Menurut Sekaran dan Bogie (2016:398), validitas merupakan bukti bahwa instrumen, teknik, atau proses yang digunakan untuk mengukur suatu konsep memang mengukur konsep yang dimaksud.

2. Uji reliabilitas

Uji reliabilitas berguna untuk membuktikan konsistensi dan stabilitas alat ukur (Sekaran dan Bougie, 2016:396).

3.6 Uji Asumsi Klasik

Analisis regresi yang dilakukan dengan metode Analisis Regresi Linier Berganda harus memenuhi syarat uji asumsi klasik

yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolonieritas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas. Uji asumsi klasik terhadap model regresi dilakukan untuk mengindari adanya penyimpangan pada model regresi sehingga mendapatkan model regresi yang lebih akurat. Pengujian asumsi klasik dilakukan untuk menunjukkan apakah model regresi benar-benar memiliki hubungan yang signifikan dan representif.

3.7 Analisis Regresi Linear Berganda

Model analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis linear berganda. Menurut Sugiyono (2017:275), analisis regresi linear berganda digunakan oleh peneliti, apabila peneliti meramalkan bagaimana naik turunnya keadaan variable dependen (kriterium), bila dua atau lebih variabel independen sebagai factor predictor dinaik turunkan nilainya (dimanipulasi).

3.8 Koefisien Determinasi

Ghozali (2016:95) menyatakan bahwa koefisien determinasi (R2) digunakan untuk seberapa jauh kemampuan model dalam rangka menerangkan variasi variabel dependen.

3.9 Uji Hipotesis 1. Uji t

Menurut Ghozali (2016:97), uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.

(8)

8 2. Uji f

Ghozali (2016:96) menyatakan bahwa pada dasarnya uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen.

IV PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Validitas

Tabel 4.1 Uji Validitas Variabel

Item r

Hitung Sig. r Tabel

Ketera ngan X1.1 0.687 0.000 0.196 Valid X1.2 0.739 0.000 0.196 Valid X1.3 0.741 0.000 0.196 Valid X1.4 0.720 0.000 0.196 Valid X1.5 0.663 0.000 0.196 Valid X1.6 0.739 0.000 0.196 Valid X1.7 0.744 0.000 0.196 Valid X1.8 0.742 0.000 0.196 Valid X1.9 0.668 0.000 0.196 Valid X1.10 0.823 0.000 0.196 Valid X1.11 0.746 0.000 0.196 Valid X1.12 0.702 0.000 0.196 Valid X1.13 0.673 0.000 0.196 Valid X1.14 0.652 0.000 0.196 Valid X1.15 0.654 0.000 0.196 Valid X1.16 0.597 0.000 0.196 Valid X1.17 0.591 0.000 0.196 Valid X1.18 0.658 0.000 0.196 Valid X1.19 0.648 0.000 0.196 Valid X1.20 0.593 0.000 0.196 Valid X1.21 0.652 0.000 0.196 Valid X1.22 0.682 0.000 0.196 Valid X1.23 0.673 0.000 0.196 Valid X1.24 0.672 0.000 0.196 Valid X1.25 0.715 0.000 0.196 Valid X1.26 0.672 0.000 0.196 Valid X1.27 0.722 0.000 0.196 Valid

X1.28 0.625 0.000 0.196 Valid X1.29 0.708 0.000 0.196 Valid X1.30 0.600 0.000 0.196 Valid X1.31 0.635 0.000 0.196 Valid X1.32 0.531 0.000 0.196 Valid X1.33 0.549 0.000 0.196 Valid X1.34 0.518 0.000 0.196 Valid X2.1 0.861 0.000 0.196 Valid X2.2 0.704 0.000 0.196 Valid X2.3 0.773 0.000 0.196 Valid X2.4 0.752 0.000 0.196 Valid X2.5 0.761 0.000 0.196 Valid X2.6 0.784 0.000 0.196 Valid Y1 0.822 0.000 0.196 Valid Y2 0.816 0.000 0.196 Valid Y3 0.777 0.000 0.196 Valid Y4 0.713 0.000 0.196 Valid Y5 0.844 0.000 0.196 Valid Y6 0.710 0.000 0.196 Valid Y7 0.821 0.000 0.196 Valid Y8 0.861 0.000 0.196 Valid Y9 0.811 0.000 0.196 Valid Y10 0.829 0.000 0.196 Valid

Sumber: Data Primer Diolah, 2020 Dari Tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa nilai sig. r item pertanyaan lebih kecil dari 0.05 (α = 0.05) atau nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,196) yang berarti tiap- tiap item variabel adalah valid, sehingga dapat disimpulkan bahwa item-item tersebut dapat digunakan untuk mengukur variabel penelitian.

(9)

9 4.2 Hasil Uji Reliabilitas

Tabel 4.2

Uji Reliabilitas Variabel

Sumber: Data primer diolah Dari Tabel 4.2 diketahui bahwa nilai dari alpha cronbach untuk semua variabel lebih besar dari 0,6. Dari ketentuan yang telah disebutkan sebelumnya maka semua variabel yang digunakan untuk penelitian sudah reliabel.

4.3 Hasil Uji Normalitas

Gambar 4.1 P-P Plot

Sumber: Output SPSS Versi 20, 2020 Berdasarkan uji P-P Plot didapatkan bahwa titik – titik data sudah menyebar mengikuti garis diagonal, sehingga dikatakan bahwa residual sudah menyebar secara distribusi normal.

4.4 Hasil Uji Multikolinearitas Tabel 4.3

Hasil Uji Multikolinieritas

Sumber: Data primer diolah, 2020 Berdasarkan Tabel 4.3, berikut hasil pengujian dari masing- masing variabel bebas:

1. Tolerance untuk Money Attitude adalah 0.597

2. Tolerance untuk Social Influence adalah 0.597

Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas. Dengan demikian uji asumsi tidak adanya multikolinearitas dapat terpenuhi.

4.5 Hasil Uji Heterokedastisitas

Gambar 4.2 Uji Heteroskedastisistas Sumber: Output SPSS Versi 20, 2020

Dari hasil pengujian tersebut didapat bahwa diagram tampilan scatter plot menyebar dan tidak membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa sisaan

(10)

10 mempunyai ragam homogen (konstan) atau dengan kata lain tidak terdapat gejala heterokedastisitas.

4.6 Hasil Uji Linearitas Tabel 4.4 Uji Linieritas

Sumber: Data primer diolah, 2020 Berdasarkan Tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa asumsi linearitas data penelitian ini telah memenuhi syarat karena semua memiliki nilai p

< 0,05.

4.7 Hasil Uji Regresi Linear Berganda

Tabel 4.5

Rekapitulasi Hasil Regresi

Sumber: Output SPSS Versi 20, 2020 Berdasarkan tabel hasil uji regresi linier berganda tersebut, maka bentuk persamaan regresi linier berganda dapat dirumuskan sebagai berikut:

Sumber : Sugiyono, 2017

4.8 Hasil Koefisien Determinasi Tabel 4.6

Koefisien Determinasi

Sumber: Output SPSS Versi 20, 2020 Dari analisis pada Tabel 4.6 diperoleh hasil adjusted R2(koefisien determinasi) sebesar 0,589. Artinya bahwa 58,9% variabel perilaku berutang akan dipengaruhi oleh variabel bebasnya, yaitu money attitude (X1) dan social influence (X2). Sedangkan sisanya 41,1%

variabel perilaku berhutang akan dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

4.9 Hasil Uji t

Tabel 4.7 Uji t

Sumber: Output SPSS Versi 20, 2020 Pengambilan keputusan hipotesis adalah sebagai berikut :

a. Jika sig > 0,05 maka H0 diterima atau H1 ditolak.

b. Jika sig < 0,05 maka H0 ditolak atau H1 diterima.

Hasil menunjukkan bahwa H0

ditolak dan H1 diterima sehingga disimpulkan perilaku berutang dapat dipengaruhi secara signifikan oleh money attitude dan social influence.

Model Summaryb

.773a .598 .589 6.12618 1.840

Model 1

R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin- Watson

Predictors: (Cons tant), X2, X1 a.

Dependent Variable: Y b.

Coefficientsa

.250 2.922 .086 .932

.150 .030 .414 4.967 .000

.699 .132 .441 5.286 .000

(Constant) X1 X2 Model 1

B Std. Error Unstandardized

Coefficients

Beta Standardized

Coefficients

t Sig.

Dependent Variable: Y a.

Perilaku berutang = 0,250 + (0,150) Money Attitude + (0,699) Social Influence + (0,552) + e

(11)

11 4.10 Hasil Uji f

Tabel 4.8 Uji f

Sumber: Output SPSS Versi 20, 2020 Berdasarkan Tabel 4.8 nilai F hitung sebesar 72,035. Sedangkan F tabel (α = 0.05 ; db regresi = 2 : db residual = 97) adalah sebesar 3,090.

Karena F hitung > F tabel yaitu 72,035 > 3,090 atau nilai sig F (0,000)

< α = 0.05 maka model analisis regresi adalah signifikan.

V . PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Berikut kesimpulan yaung dapat diambil dari penelitian ini :

1. Berdasarkan hasil penelitian ini money attitude berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku berutang.

Dalam penelitian ini, utang tidak lagi dianggap sebagai hal memalukan oleh responden, namun sebagai tambahan pendapatan apabila pendapatan bulanan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan.

2. Berdasarkan penelitian ini social influence berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku berutang. Perilaku berutang dipengaruhi oleh kecenderungan seseorang yang lebih berorientasi terhadap orang lain (others

oriented) daripada berorientasi terhadap diri sendiri (self oriented). Hal tersebut dilakukan karena seseorang berusaha menyesuaikan diri dan memenuhi ekspetasi orang lain.

3. Berdasarkan hasil uji t didapatkan bahwa variabel social influence mempunyai nilai t hitung dan koefisien beta paling besar. Variabel social influence mempunyai

pengaruh dominan

dibandingkan variabel lainnya terhadap perilaku berutang.

5.2 Saran

Adapun saran yang diberikan, antara lain:

1. Diharapkan pada PT.

Intidragon Suryatama untuk memberikan pendampingan berupa edukasi mengenai perencanaan dan pengelolaan

keuangan kepada

karyawannya agar memiliki literasi keuangan yang baik sehingga mengarah pada financial planning yang baik pula.

2. Bagi karyawan PT. Intidragon Suryatama agar dapat meningkatkan literasi keuangan secara mandiri.

3.

Bagi karyawan PT. Intidragon Suryatama disarankan untuk memiliki self-control yang baik agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya.

ANOVAb

5406.977 2 2703.489 72.035 .000a

3640.413 97 37.530

9047.390 99

Regression Residual Total Model 1

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors : (Constant), X2, X1 a.

Dependent Variable: Y b.

(12)

12

DAFTAR PUSTAKA

Aidha, C. N., Armintasari, F., &

Mawesti, D. 2020. Risiko Keterlilitan Utang Rumah Tangga di Tengah Pandemi COVID-19.

Aidha, C. N., Mawesti, D., Silvia, D., Ningrum, D. R., Armintasari, F., Priambodo, R., ... & Aji, W.

2020. Dampak Sosial Ekonomi Jerat Utang Rumah Tangga di Indonesia. Perkumpulan PRAKARSA.

Ajzen, Icek. 1991. The Theory of Planned Behavior and Human Decision Processes. University of Massahusetts, Amherst.

Ajzen, Icek. 2005. Attitudes, Personality and Behavior (2nded). Open University Press. New York.

Al Amin, M. 2017. Klasifikasi kelompok umur manusia berdasarkan analisis dimensifraktal box counting dari citra wajah dengan

deteksi tepi

canny. MATHunesa: Jurnal Ilmiah Matematika.

Amin, H. 2012. Explaining intention to use the Islamic Credit Card:

An extension of the TRA Model.

Munich Personal RePEc Archive.

Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Ariyanti, Fiki. 2019. Orang Indonesia Ternyata Paling Doyan Belanja Se-ASEAN, Ini Buktinya.

https://www.cermati.com.

Diakses 15 Desember 2020.

Assyauqi, Y. 2018. Pengaruh Motivasi Guru terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik di SMA Negeri 1 Mamasa Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat. (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).

Badan Pusat Statistik. 2020. Ekonomi Indonesia 2019 Tumbuh 5,02 Persen. https://www.bps.go.id/.

Diakses 20 Desember 2020.

Bahari, A. F., & Ashoer, M. 2018.

Pengaruh Budaya, Sosial, Pribadi Dan Psikologis Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Ekowisata. Jurnal Minds:

Manajemen Ide dan Inspirasi.

Baker, P. M., & Hagedorn, R. B.

2008. Attitudes to money in a random sample of adults:

Factor analysis of the MAS and MBBS scales, and correlations with demographic variables.

Journal of Socio-Economics, 37.

Bank Indonesia. 2019. Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia.

https://www.bi.go.id. Diakses 20 Desember 2020.

(13)

13 BPS Mojokerto, 2018. Kota

Mojokerto Dalam Angka.

https://mojokertokota.bps.go.id . Diakses 25 Januari 2021.

Brown, S., Taylor, K., & Price, S. W.

2005. Debt and distress:

Evaluating the psychological cost of credit. Journal of Economic Psychology, 26, (1), 642–663.

Cahyani, Y. 1995. Iklan, Televisi, dan Perilaku Remaja Perkotaan.

Universitas Airlangga.

Surabaya.

Cialdini, R. B., & Goldstein, N. J.

2004. Social influence:

Compliance and

conformity. Annu. Rev.

Psychol., 55, 591-621.

CNNIndonesia. 2019. Orang Indonesia Habiskan 15 Persen Gaji untuk Belanja Online.

https://www.cnnindonesia.com . Diakses 15 Desember 2020 Cosma, S., & Pattarin, F. 2010.

Attitudes, personality factors and household debt decisions: a study of consumer credit.CEFIN Working Papers, 1-35.

Drentea P, & Lavrakas, P. J. 2000.

Over the limit: The association among health, race and debt.

Journal of Social Science &

Medicine.

Fitch, C., Simpson, A., Collard, S., &

Teasdale, M. 2007. Mental health and debt: challenges for

knowledge, prac-tice and identity. Journal of Psychiatric and Mental Health Nursing.

Franzoi, S.L. 2003. Social psychology 3rd. ed. New York: McGraw Hill.

Freud, S. 1959. Character and Eroticism, in Complete Psychological

Works,standard ed., Vol. 9.

Hogarth Press, London.

Furnham, A. 1984. Many sides of the coin: the psychology of money usage. Personality and Individual Differences, 5(5), 501–509.

Furnham, A. and Argyle, M. 1998, The Psychology of Money.

Routledge, London.

Furnham, A. and Lewis, A. 1986, The Economic Mind: The Social Psychology of Economic Behavior. Wheatsheaf Books, Brighton.

Gupta, N. and Shaw, J.D. 1998. Let the evidence speak: financial incentives are effective!.

Compensation and Benefits Review, Vol. 26, March/April, pp. 28-32.

Herdjiono, I., & Damanik, L. A.

2016. Pengaruh financial attitude, financial knowledge, parental income terhadap financial management behavior. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan| Journal of

(14)

14 Theory and Applied Management, 9(3).

Inan, E.A., & Karaca, B. 2011.

Planned behaviour of young consumers shop-ping on the internet. European Journal of Social Sciences.

Ingrid, Desy Nindya. 2016. Pengaruh Sikap Materialisme dan Sikap Terhadap Uang pada Perilaku Pengelolaan Keuangan Keluarga. Artikel Ilmiah Kolaborasi STIE Perbanas.

Ismail, Z. 2011. Buying Behavior : Gender and Sosioeconomic Class Differences on Interpersonal Influence Susceptibility. International Journal of Business and Social Science.

Kompas.com. 2019. Tembus 40 Miliar Dollar AS, Ekonomi Digital RI Terbesar di ASEAN.

https://money.kompas.com.

Diakses 16 Desember 2020.

Kontan.co.id. 2020. Survei BI: Rasio konsumsi terhadap pendapatan turun pada Januari 2020.

https://nasional.kontan.co.id.

Diakses 20 Desember 2020.

Lay, A., & Furnham, A. 2018. A new

money attitudes

questionnaire. European Journal of Psychological Assessment.

Lea, S.E.G., Webly, P. and Walker, C.M. 1995. Psychological factors in consumer debt:

money management, economic socialization, and credit use. Journal of Economic Psychology, Vol.

16 No. 4, pp. 681-701.

Lea, W., & Levine 1993. The economic psychology of consumer debt. Journal of Economic Psychology, 14, 85- 119.

Lidwina, Andrea. 2020. Volume Transaksi Kartu Kredit Indonesia Hampir 350 Juta

pada 2019.

https://databoks.katadata.co.id.

Diakses 16 Desember 2020.

Lim, V. K., & Teo, T. S. 1997. Sex, money and financial hardship:

An empirical study of attitudes towards money among undergraduates in Singapore.

Journal of Economic Psychology, 18, 369–386.

Livingstone, S., & Lunt, P.K. 1992.

Predicting personal debt and debt repayment: Psychological, social, and economic determinants. Journal Of Economic Psychology 13, 111- 134.

Ludvigson, S. 1999. Consumption and credit: A model of time- varying li-quidity constraints.

The Review of Eco-nomics and Statistics.

Manara, M.U. 2011. Sistem tujuan konsumen pada tawaran berhutang. Tesis (Tidak

(15)

15 Dipublikasikan). Yogyakarta:

Fakultas Psikologi UGM.

Mulyono, Fransisca. 2011.

Materialisme: Penyebab dan Konsekuensi. Jurnal Ekonomi Universitas Katolik Parahyang.

Ngadiman, D. W. T., Yacoob, S. E.,

& Wahid, H. 2019. Pengaruh Hubungan Sosial terhadap Gelagat Pembelian Barangan Bukan Asas dan Niat Berhutang dalam Kalangan Isi Rumah B40 (The Influence of Social Relationships Toward Purchasing Behavior of Non- Basic Needs and Debt Intention

Among B40

households). Geografia-

Malaysian Journal of Society and Space, 14(4).

Norvilitis, J. M., Szablicki, P. B., &

Wilson, S. D. 2003. Factors influencing levels of credit‐

card debt in College Students 1. Journal of applied social psychology, 33(5), 935-947.

Nugrahaini, Y.T 2009. Hubungan antara gaya hidup hedonis dengan perilaku dissaving (berhutang) pada mahasiswa di Malang. Thesis Sarjana, Program Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

Okten, C., & Osili, U. O. 2004. Social networks and credit access in Indonesia. World

Development.

Paramita, C. D., & Rita, M. R. 2017.

Money Attitude, Self-Control Dan Perilaku Konsumtif Karyawan. SEGMEN Jurnal Manajemen dan Bisnis, 13(2).

Prasadjaningsih, M. O. 1998.

Pengaruh gaya hidup, nilai, kepribadian, sikap terhadap pilihan perilaku berhutang:

Sebuah kajian lapangan.

Pratama, A. H. 2015. Hubungan Antara Self Control Dengan Perilaku Berutang Pegawai Negeri Sipil (Doctoral dissertation, University of Muhammadiyah Malang).

Priyatmoko, S. A. 2015. Pengaruh Lifestyle dan Social Influence Terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada Pengguna Sepatu Futsal Merek Specs). Doctoral dissertation, Manajemen-FE.

Qamar, Muhammad Ali Jibran., Khemta, Muhammad Asif Nadeem., & Jamil, Hassan.

2016. How Knowledge and Financial Self-Efficacy Moderate the Relationship between Money Attitudes and Personal Financial Management Behavior.

European Online Journal of Natural and Social Sciences.

Rana, S. M. S., Osman, A. and Othman, Y. H. 2015. Factors Affecting Purchase Intentionof Customers to Shop at Hypermarkets. Mediteranean

(16)

16 Journal of Social Science, Vol.

6 No. 3.

Reaiding., & Reynolds. 2001. Debt, social disadvantage and maternal depression.

Renanita, T1991., & Hidayat, R.

2013. Faktor-faktor psikologis perilaku berhutang

pada karyawan

berpenghasilan tetap. Jurnal Psikologi.

Rivis, A., & Sheeran, P. 2003.

Descriptive norms as an additional predictor in the theory of planned behavior: A meta-analysis. Journal of Applied Social Psychology.

Sembiring, J. 2008. Budaya Konsumerisme.

http://indowarta.com. Diakses 17 Desember 2020.

Seni, N. N. A., & Ratnadi, N. M. D.

2017. Theory of planned behavior untuk memprediksi niat berinvestasi. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.

Shohib, M. 2016. Sikap terhadap uang dan perilaku berhutang. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan.

Sihotang, A. 2009. Hubungan antara konformitas terhadap kelompok teman sebaya dengan pembelian impulsif pada remaja (Doctoral dissertation, Universitas Diponegoro).

Sina, P. G. 2013. Money belief penentu financial behavior.

Jurnal Economia.

Sugiyono. 2016. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D.

Bandung: Penerbit Alfabeta.

Sugiyono. 2019. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D.

Bandung: Penerbit Alfabeta.

Taneja, R. M. 2012. Money attitude – an abridgement. Journal of Arts, Science & Commerce.

Tang, T. L. 1992. The meaning of money revisited. Journal Of Organizational Behavior, 13, 197-202.

Wibowo, Kukuh Prasetyo. 2016.

Hubungan Compulsive Buying dengan Perilaku Berhutang (Dissaving). Jurnal Psikologi Fakultas Psikologi. Universitas Muhammadiyah Malang. Hal 1-24.

Xiao, J. J., & Wu, J. 2006. Applying the theory of planned behavior to retain credit counseling client. Business Review

Xiao, J. J., Tang, C., Serido, J., &

Shim, S. 2011. Antecedent and consequences of risk credit behavior among college student: Application of the theory of planned behavior.

Journal of Consumer Studies and Home Economics, 21: 271 – 90.

Yamauchi, K. T., & Templer, D. J.

1982. The development of a

(17)

17 money attitude scale. Journal of personality assessment, 46:

522-528.

Zebua, A & Nurdjayadi, R. 2001.

Hubungan Antara Konformitas dan Konsep Diri Dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri. Phronesis.

Zuchdi, D. 1995. Pembentukan sikap. Cakrawala Pendidikan.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Norma Subyektif, Persepsi Kontrol Perilaku, dan Sikap Wirausaha Terhadap Minat Berwirausaha (Survey di SMK Muhammadiyah I Kadungora dan SMKN 12 Garut). Saat

6 Untuk menguji secara empiris pengaruh sikap, norma subyektif, efikasi diri, dan kepribadian secara bersama-sama terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Program Studi

Mengingat pentingnya norma subyektif, sikap positif, dan citra diri terhadap minat beli atau kemauan dalam pembelian produk, maka penulis bermaksud

Jogiyanto (2007) menjelaskan bahwa norma-norma subyektif adalah persepsi atau pandangan seseorang terhadap kepercayaan- kepercayaan orang lain yang akan mempengaruhi

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi dan sikap), maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau

Berdasarkan hasil penelitian tentang variabel independent (Sikap, Norma Subyektif, Kontrol Perilaku, dan Pengalaman) terhadap perilaku membeli melalui internet, dimana

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ketiga variabel yang diuji yaitu persepsi norma subyektif, sikap pada perilaku dan persepsi kontrol perilaku tidak terbukti berpengaruh

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh sikap, Norma subyektif dan persepsi kontrol perilaku terhadap keputusan investasi investor Generasi Z, dengan literasi keuangan