• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh efektivitas kepemimpinan kepala

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengaruh efektivitas kepemimpinan kepala"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DAN LINGKUNGAN KERJA FISIK TERHADAP KINERJA GURU DI MA DARUL HUDA MAYAK PONOROGO TAHUN AKADEMI 2015/2016

TESIS

OLEH

MUHAMMAD KHUSNUDDIN NIM : 212214001

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

TAHUN 2016

(2)

ABSTRAK

Khusnuddin, Muhammad, 2016. Pengaruh Efektivitas Kepemimpinan Kepala Madrasah dan Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Kinerja Guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo Tahun Akademi 2015/2016. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Program Pascasarjana, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Dr. Umi Rohmah, M.Pd.I

Kata Kunci: Efektivitas Kepemimpinan Kepala Madrasah, Lingkungan Kerja Fisik, dan Kinerja Guru.

Kinerja guru merupakan proses pembelajaran sebagai upaya mengembangkan kegiatan yang ada menjadi kegiatan yang lebih baik, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan baik melalui suatu kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru sesuai dengan target dan tujuan. Dalam upaya mewujudkan kinerja guru yang lebih baik maka kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja merupakan faktor yang saling mempengaruhi terhadap kinerja guru.

Tujuan diadakannya penelitian ini sebagai berikut: 1) untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang positif dan signifikan antara efektivitas kepemimpinan kepala madrasah terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016, 2) untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang positif dan signifikan antara lingkungan kerja fisik dengan kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016, dan 3) untuk mengetahui apakah kepemimpinan kepala Madrasah dan lingkungan kerja fisik berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016.

Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket. Adapun untuk menganalisis data, peneliti menggunakan analisis regresi linier berganda.

Dari analisis data ditemukan: 1) ada pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan kepala madrasah terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016, ini dibuktikan dari nilai Fhitung = 39.959 lebih besar dari nilai Ftabel 3,96 sehingga Ha diterima. Dari nilai R2, diketahui bahwa kepemimpinan kepala madrasah berpengaruh sebesar 31.47% terhadap kinerja guru dan 68.52% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain, 2) ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016, ini dibuktikan dari nilai Fhitung = 45,114 lebih besar dari nilai Ftabel = 3,96, sehingga Ha diterima. Dari nilai (R2) diketahui bahwa lingkungan kerja fisik berpengaruh sebesar 34,14% terhadap kinerja guru dan 65,85% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain, dan 3) ada pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016, ini dibuktikan dari nilai Fhitung = 28,734 lebih besar dari nilai Ftabel = 3,96, sehingga Ha diterima. Dari nilai (R2) diketahui bahwa kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja fisik berpengaruh sebesar 40,05% terhadap kinerja guru dan 59,94% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Guru diposisikan sebagai garda terdepan dan posisi sentral dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Berkaitan dengan itu, guru akan menjadi bahan pembicaraan banyak orang, terutama berkaitan dengan kinerja, totalitas dedikasi dan loyalitas pengabdiannya. Sorotan tersebut lebih bermuara kepada ketidakmampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga bermuara kepada menurunnya mutu pendidikan. Kalaupun sorotan itu mengarah pada sisi kelemahan, hal itu tidak sepenuhnya dibebankan kepada guru. Mungkin ada sistem yang berlaku, baik sengaja ataupun tidak akan berpengaruh terhadap permasalahan tersebut.

Banyak hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan, bagaimana kinerja guru akan berdampak pada pendidikan bermutu. Melihat sisi lemah dari pendidikan nasional, dengan gonta-ganti kurikulum pendidikan, secara langsung atau tidak akan berdampak pada guru, sehingga perubahan kurikulum dapat menjadi beban psikologi bagi guru, dan mungkin juga akan dapat membuat guru frustasi akibat perubahan tersebut. Hal ini sangat dirasakan oleh guru yang memiliki kemampuan minimal, dan tidak demikian halnya guru profesional.

Selain itu, kinerja guru juga sangat ditentukan oleh output atau keluaran dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Sebagai

1

(4)

institusi penghasil tenaga guru, LPTK memiliki tanggungjawab dalam menciptakan guru berkualitas, dan tentunya suatu ketika akan berdampak kepada pembentukan SDM berkualitas pula. Oleh sebab itu, LPTK juga memiliki andil besar dalam mempersiapkan guru seperti yang disebutkan di atas, yakni berkualitas, berwawasan serta mampu membentuk SDM mandiri, cerdas, bertanggungjawab, dan berkepribadian.

Era reformasi dan desentralisasi pendidikan menyebabkan orang bebas melakukan kritik. Titik lemah pendidikan akan menjadi bahan dan sasaran empuk bagi para kritikus. Adakalanya kritik yang diberikan dapat menjadi si tawar dan si dingin dalam memperbaiki kinerja guru, akan tetapi tidak menutup kemungkinan pula akan dapat membuat merah telinga guru sebagai akibat dari kritik yang diberikan. Hal ini dapat memberikan dampak terhadap kinerja guru yang bersangkutan.1

Selama ini madrasah dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam yang mutunya lebih rendah daripada mutu lembaga pendidikan lainnya, terutama sekolah umum, walaupun beberapa madrasah justeru lebih maju daripada sekolah umum. Namun, keberhasilan beberapa madrasah dalam jumlah yang terbatas itu belum mampu menghapus kesan negatif yang sudah terlanjur melekat. Ditinjau dari segi penguasaan agama, mutu siswa madrasah lebih rendah daripada mutu santri pesantren. Sementara itu, ditinjau dari penguasaan materi umum, mutu siswa madrasah lebih rendah daripada

1 Isjoni, Gurukah yang Dipermasalahkan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 108.

(5)

sekolah umum. Jadi, penguasaan baik pelajaran agama maupun materi umum serba mentah (tidak matang).2

Oleh karena itu, sebagai lembaga pendidikan formal, madrasah harus mempunyai potensi untuk melahirkan manusia-manusia pembelajar. Dalam menteransformasikan potensi atau sumber daya peserta didik menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner), madrasah harus menjadi pelopor komunitas pembelajar. Dengan demikian, tugas pokok dan fungsi madrasah adalah menjadi “komunitas pembelajar” yang mampu membangun

“manusia pembelajar” sebagai pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) di Indonesia.3 Dengan hal ini diharapkan dapat mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Namun, salah satu tantangan yang saat ini dihadapi di madrasah, perguruan tinggi, maupun universitas adalah bagaimana mengelola sebuah mutu. Tidak dapat dipungkiri bahwa mutu pendidikan di Indonesia jauh dari yang diharapkan, apalagi dibandingkan dengan mutu pendidikan di negara lain. Pendidikan merupakan suatu yang penting bagi suatu bangsa. Bangsa yang maju salah satunya dapat dilihat dari pendidikannya. Namun, pada kenyataannya, pendidikan di Indonesia masih menunjukkan mutu yang belum menggembirakan.4

2 Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, tt), 79-80.

3 Basuki, Mengenal Profil Sekolah/Madrasah: Berdasarkan PP. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (Ponorogo: STAIN Po Press, 2012), 2.

4 Edward Sallis, Total Quality Management In Education: Manajemen Mutu Terpadu, Terjm Ahmad Ali Riyadi (Jogjakarta: IRCiSoD, 2006), 29.

(6)

Merosotnya mutu pendidikan di Indonesia secara umum disebabkan oleh buruknya sistem pendidikan nasional dan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM). Rendahnya sumber daya manusia di Indonesia disebabkan karena rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan.

Oleh karena itu salah satu kebijakan pokok pembangunan pendidikan nasional ialah peningkatan mutu pendidikan dan relevansi pendidikan yaitu dengan melakukan inovasi-inovasi yang pesat pada lembaga pendidikan sehingga membentuk layanan lembaga madrasah yang berkualitas. Dengan adanya layanan lembaga madrasah yang berkualitas itu akan mewujudkan keberhasilan madrasah. 5

Islam mengajarkan bila ingin memberikan hasil usaha baik berupa barang maupun pelayanan/jasa hendaknya memberikan yang berkualitas, jangan memberikan yang buruk atau tidak berkualitas kepada orang lain.

Seperti dijelaskan dalam surat al-baqarah ayat 267, yang artinya “Hai orang- orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya, dan ketahuilah Allah maha kaya lagi maha terpuji”. Pentingnya memberikan pelayanan yang berkualitas disebabkan pelayanan (service) tidak hanya sebatas mengantarkan atau melayani. Service berarti mengerti, memahami, dan merasakan sehingga penyampaiannyapun

5 Abdul Hadis dan Nurhayati B, Manajemen Mutu Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2010), 1-2.

(7)

akan mengenai heart share konsumen dan pada akhirnya memperkokoh posisi dalam mind share konsumen. Dengan adanya heart share dan mind share yang tertanam, loyalitas seorang konsumen pada produk atau usaha jasa pendidikan tidak akan diragukan.6

Keberhasilan madrasah merupakan ukuran yang bersifat mikro yang didasarkan pada tujuan dan sasaran pendidikan pada tingkat madrasah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional serta sejauh mana tujuan itu dapat dicapai pada periode tertentu sesuai dengan lamanya pendidikan yang berlangsung di madrasah. Keberhasilan pada madrasah harus diupayakan secara maksimal.

Dengan adanya perencanaan yang matang serta didukung oleh peran serta seluruh warga madrasah secara aktif, keberhasilan madrasah akan dicapai.7

Salah satu upaya untuk mewujudkan keberhasilan madrasah, dalam meningkatkan kinerja guru adalah kepemimpinan kepala madrasah. Kepala madrasah sebagai pemimpin pendidikan pada tingkat madrasah memang memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di madrasah yang menjadi tanggung jawabnya. Tugas kepala madrasah adalah menjadi agen utama perubahan yang mendorong dan mengelola agar semua pihak yang terkait menjadi termotivasi dan berperan aktif dalam perubahan tersebut. Posisi pemimpin merupakan penentu masa depan madrasah.

Kegagalan dan keberhasilan sekolah banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala madrasah, karena kepala madrasah merupakan pengendali dan penentu

6Aminatul Zahroh, Total Quality Management: Teori & Praktik Manajemen untuk Mendongkrak Mutu Pendidikan (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 63-64.

7 Ibid.

(8)

arah yang hendak ditempuh sekolah menuju tujuannya. Madrasah yang efektif, bermutu, dan favorit tidak lepas dari peran kepala madrasahnya.8

Menurut Imam Suprayogo, posisi dan peran pemimpin di setiap organisasi memang sangat sentral. Maju dan mundurnya organisasi sangat tergantung pada sejauh mana pimpinan mampu berimajinasi memajukan organisasinya. Demikian pula dengan konteks madrasah sebagai organisasi, maka posisi kepala madrasah juga sangat strategis dalam memajukan lembaga yang dipimpinnya. Akan tetapi sering kali terlihat kepala madrasah kurang berdaya karena berbagai sebab dan kendala baik yang bersifat internal pribadi yang bersangkutan maupun eksternal. Yang bersifat internal misalnya: (1) kurangnya keberanian untuk mengambil prakarsa dalam melakukan inovasi yang bersifat strategis, (2) kurangnya pemahaman atas peran-peran yang seharusnya dimainkan, (3) kurangnya keberanian menanggung resiko dan seterusnya. Sedangkan yang bersifat eksternal, misalnya: (1) kekurangan informasi yang seharusnya dikuasai, (2) terlalu banyak peraturan sehingga ruang geraknya terasa terbatas, (3) suasana birokratis yang mengurangi bahkan membatasi ruang gerak dalam upaya pengembangan, dan (4) hubungan primordial yang berlebihan dan seterusnya.9

Sebagai pemimpin pendidikan yang profesional, kepala madrasah dituntut untuk selalu mengadakan perubahan. Kepala madrasah harus memiliki semangat yang berkesinambungan untuk mencari terobosan- terobosan baru demi menghasilkan suatu perubahan yang bersifat

8 Qomar, Manajemen Pendidikan Islam., 287.

9Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an: Pergulatan Membangun Tradisi dan Aksi Pendidikan Islam (Malang: UIN Malang Press, 2004), 211.

(9)

pengembangan dan penyempurnaan, dari kondisi yang memprihatinkan menjadi kondisi yang lebih dinamis, baik dari segi fisik maupun akademik.10

Sebagaimana pendapat yang dikemukakan Isjoni mengatakan bahwa hal penting lain untuk mewujudkan keberhasilan madrasah dalam meningkatkan kinerja guru adalah lingkungan kerja. Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja Guru.

Ditegaskan bahwa jika guru merasakan suasana kerja yang kondusif di sekolahnya, maka diharapkan siswa akan mencapai prestasi akademik yang memuaskan. Kekondusifan lingkungan kerja suatu sekolah mempengaruhi sikap dan tindakan seluruh komunitas tersebut, khususnya pada pencapaian prestasi akademik siswa. Selain itu, prestasi akademik siswa dipengaruhi sangat kuat oleh suasana kejiwaan atau iklim kerja sekolah. Demikian keterkaitan dengan kinerja guru, kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja merupakan faktor yang saling mempengaruhi terhadap kinerja guru . Demikian halnya dengan kinerja Guru ditentukan oleh tingkat sejauh mana kepempinan kepala madrasah dan lingkungan kerjanya.11

Berdasar alasan di atas, peneliti akan meneliti pengaruh kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak. Madrasah Aliyah Darul Huda adalah salah satu lembaga di dalam Pondok Pesantren Darul Huda dengan sistem kepengurusan yayasan, sehingga semua lembaga yang ada di dalamnya memiliki visi dan misi serta tujuan yang sama. Sehingga yang merumuskan

10 Qomar, Manajemen Pendidikan Islam., 289.

11 Isjoni, Gurukah Yang Dipermasalahkan., 109.

(10)

visi tersebut bukan dari masing masing kepemimpinan kepala madrasahnya melainkan dari pimpinan dan pendiri pondok pesantren Darul Huda.12 Jika disesuaikan dengan teori yang disampaikan oleh pakar pendidikan Supardi bahwa seorang kepala madrasah harus memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya,13 maka tidak ada kesamaan antara teori tersebut dengan kepemimpinan kepala madrasah di MA Darul Huda. Hal inilah yang membedakan dan yang menjadi keunggulan sehingga patut untuk dikaji.

Selanjutnya, berdasarkan fakta di lapangan bahwa lingkungan kerja yang berada di MA Darul Huda setiap tahunnya mengalami penambahan yang banyak, sehingga karena banyaknya penambahan kelas, maka kelas yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sebagian ada yang belum ideal, yaitu seperti kelas semi permanen (kelas seng)14. Namun demikian, hal ini justru menarik untuk diteliti, karena walaupun kelasnya sebagian ada yang belum ideal, akan tetapi setiap tahunnya jumlah guru, dan murid mengalami peningkatan yang cukup banyak, terhitung mulai tahun 2009/2010 sebanyak 76 guru dan 1268 murid, tahun 2010/2011 berjumlah 84 guru dan 1309 murid, tahun 2011/2012 berjumlah 94 guru dan 1537 murid, tahun 2012/2013 berjumlah 94 guru dan 1666 murid, tahun 2013/2014 berjumlah 107 guru dan

12Hasil wawancara dengan bapak Drs. Mudafir, selaku Kepala MA Darul Huda pada tangal 19 Mei 2016

13Supardi, Sekolah Efektif:Konsep Dasar dan Praktiknya (Jakarta:Rajawali Pers, 2013), 81-82.

14 Kelas seng adalah kelas yang atap dan dindingnya terbuat dari bahan seng

(11)

1927 murid, tahun 2014/2015 berjumlah 111 guru dan 2112 murid15, dan pada tahun 2015/2016 berjumlah 123 guru16 dan 2316 murid.17

Selanjutnya, jika melihat dari kinerja gurunya, guru MA Darul Huda Mayak memiliki kinerja yang semakin baik. Salah satu indikator tersebut adalah output dari proses belajar mengajar yang mengalami kemajuan di setiap tahunnya. Hal ini diketahui dari jumlah murid pada setiap tahunnya dan hasil Ujian Akhir Nasional tahun 2015 yang menunjukkan hasil dan lulusan yang lebih banyak dan memuaskan, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, terhitung mulai tahun 2009/2010 lulusannya sebanyak 396 dengan presentase 100%, tahun 2010/2011 berjumlah 380 dengan presentase 100%, tahun 2011/2012 berjumlah 385 dengan presentase 100%, tahun 2012/2013 berjumlah 433 dengan presentase 100%, tahun 2013/2014 berjumlah 577 dengan presentase 100%, tahun 2014/2015 berjumlah 544 dengan presentase 100%, dan pada tahun 2015/2016 berjumlah 634 dengan presentase 100% lulusan. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru di MA Darul Huda Mayak mengalami peningkatan setiap tahunnya.18

Dari latar belakang masalah di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian, guna menguji adakah pengaruh antara kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru. Dengan ini

15 Lihat transkrip dokumentasi nomor: 01/D/7-IV/2016 dalam lampiran 28 pada laporan penelitian

ini.16

Lihat transkrip dokumentasi nomor: 02/D/7-IV/2016 dalam lampiran 29 pada laporan penelitian ini.

17 Lihat transkrip dokumentasi nomor: 03/D/7-IV/2016 dalam lampiran 30 pada laporan penelitian ini.

18Lihat transkrip dokumentasi nomor: 01/D/7-IV/2016 dalam lampiran 28 pada laporan penelitian ini.

(12)

peneliti mengambil judul “Pengaruh Efektivitas Kepemimpinan Kepala Madrasah Dan Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Kinerja Guru Di Ma Darul Huda Mayak Ponorogo Tahun Akademi 2015/2016”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat peneliti rumuskan masalahnya sebagai berikut:

1. Adakah pengaruh yang positif dan signifikan antara efektivitas kepemimpinan kepala madrasah terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016?

2. Adakah pengaruh yang positif dan signifikan antara lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016?

3. Apakah efektivitas kepemimpinan kepala Madrasah dan lingkungan kerja fisik berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016?

C. Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah yang telah peneliti kemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh yang positif dan signifikan antara efektivitas kepemimpinan kepala Madrasah terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016

(13)

2. Untuk mengetahui pengaruh yang positif dan signifikan antara lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016

3. Untuk mengetahui efektivitas kepemimpinan kepala Madrasah dan lingkungan kerja fisik berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016 D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan dapat memberi manfaat, antara lain sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan kajian dan penunjang dalam pengembangan pengetahuan penelitian yang berkaitan dengan topik tentang adanya pengaruh kepemimpinan dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan kajian dan penunjang dalam pengembangan pengetahuan peneliti yang berkaitan dengan topik tersebut.

b. Bagi Lembaga

Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah dalam mengambil langkah, baik itu sikap maupun tindakan untuk meningkatkan kinerja guru.

(14)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Terdahulu

Beberapa hasil penelitian tentang kepemimpinan kepala sekolah telah dilakukan oleh beberapa orang. Di antaranya seperti yang dilakukan oleh;

Pertama, Penelitian yang dilakukan oleh Abdullah Munir, dengan judul “Hubungan Antara Kinerja Kepala Sekolah dan Komunikasi Antarpribadi Kepala Madrasah dengan Kepuasan Kerja Guru. Penelitian ini telah dibukukan dengan judul Menjadi Kepala Sekolah Yang Efektif.

Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan teknik korelasi. Teknik korelasi ini dilakukan untuk menganalisis dua variabel, variabel independen yaitu kinerja kepala madrasah sebagai variabel (X1), komunikasi antarpribadi kepala madrasah sebagai variabel (X2) dan Variabel dependen yaitu kepuasan kerja guru negeri madrasah Aliyah Negeri Manna sebagai variabel (Y).

Penelitian ini berhasil mengungkapkan beberapa temuan yang intinya menyimpulkan bahwa ada hubungan yang positif antara kinerja kepala madrasah dengan kepuasan kerja guru. Kesimpulan ini mengandung arti bahwa semakin baik penerapan kinerja kepala madrasah dalam menjalankan kepemimpinan di sekolah akan semakin tinggi kepuasan kerja guru.

12

(15)

Kepuasan kinerja guru dapat terwujud dengan adanya kinerja kepala madrasah.19

Kemudian penelitian kedua, penelitian yang dilakukan oleh Dukhri, dengan judul Hubungan Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Kebijakan Karier Dengan Motivasi Berprestasi Guru SMA Negeri Di Kabupaten Pemalang. Dalam penelitian ini berhasil mengungkapkan beberapa temuan yang intinya menyimpulkan bahwa ada hubungan yang positif antara efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dan kebijakan karier dengan motivasi berprestasi guru SMA Negeri di kabupaten Pemalang.20

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Sumarno, dengan judul

“Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes” Secara deskriptif hasil penelitian menunjukan bahwa kepemimpinan kepala sekolah di SD Negeri di Kecamatan Paguyangan termasuk dalam kategori baik dengan skor rata-rata 58,8028, profesionalisme guru dalam kategori profesional 58,0915, kinerja guru masuk dalam kategori baik dengan rata-rata 61,4155. Dengan analisis regresi sederhana diketahui:

terdapat pengaruh postif dan signifikan kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru SD Negeri Kecamatan Paguyangan sebesar 25,8%, profesionalisme berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru dengan koefisien determinasi sebesar 39,4 %. Hasil analisis regresi berganda

19 Abdullah Munir, Menjadi Kepala Sekolah yang Efektif (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014).

20Dukhori, Hubungan Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kebijakan Karier Dengan Motivasi Berprestasi Guru SMA Negeri di Kabupaten Pemalang, Tesis Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, 2008.

(16)

menunjukkan adanya pengaruh bersama-sama secara positif dan signifikan kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalisme guru terhadap kinerja guru SD Negeri Kecamatan Paguyangan dengan koefisien determinasi sebesar 43,8%. Berdasarkan penelitian ini disarankan kinerja guru perlu ditingkatkan dan guru harus menyadari antara hak dan kewajiban harus seimbang. Profesionalisme yang sudah baik dipertahankan dan ditingkatkan lagi mengingat mempunyai pengaruh dominan terhadap kinerja guru.21

Dari hasil kajian terdahulu, peneliti menemukan adanya persamaan dan perbedaan dalam penelitian ini. Persamaannya adalah penelitian tentang kinerja guru, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Sumarno dengan judul Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. Namun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah bahwa dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah kepemimpinan kepala madrasah, lingkungan kerja fisik dan kinerja guru dengan judul “pengaruh kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun akademi 2015/2016”. Pada akhirnya nanti peneliti ingin mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru di Ma Darul Huda Mayak ponorogo tahun akademi 2015/2016.

21 Sumarno, Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Paguyangan Ka bupaten Brebes, Tesis Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, 2009.

(17)

B. Landasan Teori 1. Kepemimpinan

a. Pengertian Kepemimpian

Istilah kepemimpian (leadership) berasal dari kata leader artinya pemimpin atau to lead artinya memimpin.22 Pemimpin (leader) ialah orang yang memimpin, sedangkan pemimpin merupakan jabatannya. Dalam pengertian lain, secara etimologi istilah kepemimpinan berasal dari kata dasar pemimpin yang artinya bimbing atau tuntun. Dari kata pemimpin ini muncullah kata kerja memimpin yang artinya membimbing dan menuntun.23

Kepemimpinan mempunyai arti yang beragam, bahkan dikatakan bahwa definisi kepemimpinan sama banyak dengan orang yang berusaha mendefinisikannya. Menurut Jemes Lipham, sebagai mana yang dikutip oleh M. Ngalim Purwanto, kepemimpinan didefinisikan sebagai permulaan dari struktur atau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran organisasi atau untuk mengubah tujuan-tujuan dan sasaran organisasi.24 Sedangkan menurut E. Mulyasa kepemimpian adalah sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian

22 Mardiyah, Kepemimpinan Kiai dalam Memelihara Budaya Organisasi (Yogyakarta: Aditya Media Publishing, 2013), 37.

23 Didin Kurniadin dan Iman Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & P rinsip Pengelolaan Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 288.

24 M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), 27.

(18)

tujuan organisasi.25 Sedangkan menurut Didin Kurniadin dan Iman Machali, mendefinisikan kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, momotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membina, membimbing, melatih, menyuruh, memerintah, melarang, dan bahkan menghukum (kalau perlu) dengan maksud agar manusia sebagai bagian dari organisasi secara efektif dan efisien.26 Jadi, Pemimpin diartikan sebagai orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu yang menjadi harapan dan tujuan pemimpin. Pemimpin juga diartikan sebagai orang yang mempunyai wewenang dalam pengambilan keputusan suatu organisasi.27 Sehinga yang dikatakan seorang pemimpin itu adalah orang yang dapat mempengaruhi, menggerakkan, menasehati, membina dan membimbing orang lain untuk melaksanakan tugas- tugas dan mampu mengambil keputusan dan memecahkan dalam berbagai masalah dalam suatu organisasi.

Pemimpin merupakan faktor penentu dalam kesuksesan atau gagalnya sebuah organisasi. Pemimpin yang sukses itu mampu mengelola organisasi, baik mempengaruhi secara konstruktif anggotanya, dan menunjukkan jalan serta perilaku benar yang harus dikerjakan bersama-sama (melakukan kerjasama), dan bahkan

25 E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi (Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya, 2004), 107.

26 Didin Kurniadin dan Iman Machali, Manajemen Pendidikan., 291.

27 Hikmat, Manajemen Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2009), 247.

(19)

kepemimpinan sangat mempengaruhi semangat kerja kelompok.28 Karena seorang pemimpin adalah orang yang memiliki kedudukan utama dalam menjalankan roda organisasi.

Semua manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri, karena dalam diri manusia terdapat akal dan hati.

Akal perlu dipimpin dengan baik sehingga fungsi pikirannya berkembang ke arah yang positif dan maslahat. Hati perlu dipimpin agar tidak menimbulkan gejolak nafsu yang membahayakan dirinya sendiri. Akal dan hati dipimpin ke jalan yang lurus dengan acuan sistem nilai yang berlaku dan ilmu pengetahuan.29

Selain itu, pemimpin diharapkan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya karena apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan tercapai secara maksimal. Kemampuan dalam menjalankan kepemimpinan ini dapat berupa kemampuan berfikir (pengetahuan), kemampuan ini yang merupakan penentu keberhasilan organisasi dalam konteks era kontemporer, sebab di era kontemporer isi man- power dikalahkan man-mid.30

Di sini peneliti lebih condong pada pengertian kepemimpinan sebagai kegiatan mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu yang menjadi harapan dan tujuan

28 Abd. Wahab dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual (Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media, 2011), 79.

29 Hikmat, Manajemen Pendidikan., 248.

30 Wahab dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan., 92.

(20)

pemimpin. Pelakunya disebut pemimpin, seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sehingga seorang pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahannya apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahannya melaksanakan perintahnya sehingga terjalin hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dan bawahannya sehingga terjadi suatu hubungan timbal balik. Namun disisi lain, pemimpin harus sadar bahwa semua aspek yang berada dibawahnya harus diberlakuakan secara humanity untuk mempengaruhi atau mengatasi konflik dalam organisasi tersebut.

b. Kepemimpinan Kepala Madrasah

Madrasah adalah salah satu lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama, termasuk lembaga pendidikan formal.

Kepala madrasah selaku pemimpin dalam institusi pendidikan Islam ini diharapkan dapat menjalankan tugas dengan baik dan mampu mengembangkan diri bersama mitra kerjanya untuk mencapai kemajuan madrasah.

Tanpa kemampuan-kemampuan utama seperti kinerja yang baik, komunikasi antarpribadi yang mumpuni, kemampuan dalam memecahkan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam proses kegiatan belajar dan mengajar, kepala madrasah akan kesulitan dalam mensosialisasikan ide, usulan, saran, atau pikiran-pikiran yang dimilikinya kepada para guru dan karyawan. Oleh karena itu, kepala

(21)

madrasah yang merupakan pemimpin harus bisa menjadi contoh serta mampu mengayomi bawahan dan mampu mengendalikan fungsi kepemimpinannya. Kepala madrasah diharapkan bisa berperan sebagai pemimpin, pengayom, kondusifator, dan harmonisator disegala lini yang menjadi jangkauan kepemimpinannya.31

Kepala madrasah sebagai manajer mempunyai peran yang menentukan dalam pengelolaan manajemen madrasah, berhasil tidaknya tujuan madrasah dapat dipengaruhi bagaimana kepala madrasah menjalankan fungsi-fungsi manajemen. Fungsi-fungsi manajemen tersebut adalah planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pergerakan), dan controlling (pengontrolan).

Kepala madrasah sebagai pemimpin pendidikan pada tingkat madrasah memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di madrasah yang menjadi tanggung jawabnya.

Untuk menunjang keberhasilan kepemimpinan, maka kepala madrasah harus memiliki beberapa keterampilan. Keterampilan tersebut dimaksudkan sebagai bekal untuk dapat melaksanakan manajemen pendidikan secara lebih baik. Keterampilan yang harus dimiliki oleh pemimpin yang efektif adalah keterampilan teknis

31 Abdullah Munir, Menjadi Kepala Sekolah Efektif (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 13-14.

(22)

(technical skill), keterampilan hubungan manusia (human relation skill), dan keterampilan koseptual (conseptual skill).32

c. Kepala Madrasah yang Efektif

Kepemimpinan yang kuat oleh kepala madrasah sangat penting bagi madrasah yang sukses dan inovatif. Fakta menunjukkan adanya pertentangan antara pemenuhan peran kepemimpinan tradisional kepala madrasah dan pelimpahan sebagian otoritas kepada guru. Namun, sedikit terjadi atau tidak akan terjadi konflik dalam latar dimana kepala madrasah dan guru bekerjasama dalam rangka peningkatan madrasah. Mc Clure menyarankan agar kepemimpinan diberikan kepada siapa yang memiliki kompetensi terhadap pekerjaan tertentu. Pada saat bersamaan, kepala madrasah menyusun langkah dan memberdayakan guru yang berdedikasi tinggi untuk melaksanakan agenda kerja. Kepala madrasah mencipakan iklim, menyusun tujuan sekolah, memberi in-service training dalam keterampilan pembelajaran yang efektif, membantu merencanakan dan mengimplementasikan program baru, dan memantau hasil agar mencapai pertumbuhan selanjutnya.33

d. Ciri-ciri Kepala Madrasah (Sekolah) Efektif

Menurut Separdi, bahwa ciri-ciri kepala madrasah yang efektif adalah sebagai berikut:

32 Ibid., 16.

33 Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam (Yogyakarta: Teras, 2009),187-188.

(23)

1. Kepala sekolah efektif memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya, dan ia mendorong semua staf untuk mewujudkan visi tersebut.

2. Kepala sekolah efektif memiliki harapan tinggi terhadap prestasi siswa dan kinerja staf.

3. Kepala sekolah efektif tekun mengamati para guru di kelas dan memberikan umpan balik yang positif dan konstruktif dalam rangka memecahkan masalah dan memperbaiki pembelajaran.

4. Kepala sekolah efektif mendorong pemanfaatan waktu secara efisien dan merancang langkah-langkah untuk meminimalisir kekacauan.

5. Kepala sekolah efektif mampu memanfaatkan sumber-sumber material dan personil secara kreatif.

6. Kepala sekolah efektif memantau prestasi siswa secara individual dan kolektif dan memanfaatkan informasi untuk mengarahkan perencanaan instruksional.34

2. Lingkungan Sekolah/Madrasah

Lingkungan sekolah merupakan aspek penting dalam konsep manajemen berbasis sekolah, sebagai salah satu sumber daya yang harus dimanfaatkan dan menjadi fokus perhatian sekolah. Lingkungan sekolah memiliki keterkaitan baik langsung maupun tidak langsung dengan penyelenggaraan, strategi pengembangan, bahkan berkaitan dengan

34 Supardi, Sekolah Efektif., 81-82.

(24)

proses belajar mengajar, dan kurikulum yang akan dilaksanakan di sekolah.35

Selain hal di atas, pengembangan lembaga pendidikan dengan menggunakan pendekatan manajemen strategis mesti memperhatikan lingkungan strategis. Lingkungan strategis pendidikan yang harus mendapatkan perhatian secara sungguh-sungguh adalah mekanisme kerja, kultur, dan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan, lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya, tempat-tempat bermain dan hiburan, perkembangan iptek, kebutuhan dan karakteristik pangsa pasar, dinamika dan perkembangan lembaga sejenis, pergeseran budaya, dinamika politik, perkembangan ekonomi dan sebagainya.36

3. Lingkungan Kerja

a. Lingkungan kerja fisik

Lingkungan kerja fisik adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan, misalnya adalah kebersihan, pencahayaan, dan sebagainya. Lingkungan kerja merupakan faktor situasional yang berpengaruh terhadap kinerja pegawai, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja dapat diubah sesuai dengan pendesainnya.37

35Nanang Fatah, Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), 95. 36

Dedi Mulyasana, Pendidikan Bermutu (Bandung: PT Remaja Rosdakarya , 2012), 201.

37Barnawi dan Muhammad Arifin, Kinerja Guru P rofessional (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2012), 54.

(25)

Lingkungan kerja yang kondusif akan meningkatkan produktivitas kerja, dan hal ini perlu disadari dengan baik oleh setiap guru maupun peserta didik, sehingga mereka diwajibkan menciptakan suasana yang nyaman dalam lingkungannya. Untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, sedikitnya harus memperhatikan dua hal, yakni guru itu sendiri serta hubungan baik antara guru dengan orang tua dan masyarakat di sekitarnya.

Suasana kerja yang baik harus diciptakan oleh guru itu sendiri karena dengan jelas telah dituliskan dalam salah satu butir dari kode etik yang berbunyi “Guru menciptakan suasana sekolah sebaik- baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar”. Oleh sebab itu, guru harus aktif menciptakan suasana yang baik dengan berbagai cara, baik dengan penggunaan metode pembelajaran yang efektif dan menyenangkan maupun dengan pendayagunaan sumber belajar yang memadai, serta manajemen kelas yang tepat sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.38

Menurut Barnawi dan Muhammad Arifin ada beberapa faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja fisik, yaitu meliputi pencahayaan, pewarnaan, udara, kebersihan, kebisingan, dan keamanan.39

38 E. Mulyasa, Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru (Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, 2013), 193-194.

39 Barnawi dan Arifin, Kinerja Guru Professional,. 54.

(26)

1) Pencahayaan

Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif. Pencahayaan di tempat kerja akan sangat membantu dalam memperlancar proses pekerjaan sehingga harus diupayakan pencahayaan yang baik di tempat kerja.

2) Pewarnaan

Warna dapat mempengaruhi jiwa seseorang yang ada di sekitarnya. Penataan warna di sekolah yang serasi dapat meningkatkan semangat kerja guru. Demikian pula sebaliknya, penataan warna yang tidak serasi akan menurunkan motivasi kerja. Hal ini disebabkan warna memiliki getaran-getaran yang berbeda satu sama yang lain.

3) Udara

Kualitas udara di tempat kerja harus dijaga agar tetap sehat.

Udara yang sehat akan terasa sejuk dan segar pada jasmani sehingga dapat mempercepat pemulihan tubuh akibat kelelahan.

Dengan udara yang sehat guru dapat melaksanakan tugasnya dengan nyaman dan akan merasa senang. Selain itu udara yang sehat dapat menjaga kesehatan guru sehingga dapat meningkatkan kerja.

(27)

4) Kebersihan

Kebersihan akan mempengaruhi kualitas lingkungan kerja.

Tempat kerja yang kotor tidak akan nyaman dijadikan tempat untuk bekerja. Biasanya lingkungan kerja tidak enak dipandang dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Sebaliknya, lingkungan kerja yang bersih memberikan rasa nyaman bagi pegawai.

Biasanya enak dipandang dan tidak berbau sampah atau limbah.

Selanjutnya, kebersihan akan mempengaruhi kinerja pegawai.

5) Kebisingan

Kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga mengganggu pekerjaan atau bahkan membahayakan kesehatan. Dalam perkantoran, tingkat kebisingan di ruang kerja maksimal 85 dBA (kepmenkes RI No. 1405 tahun 2002). Di sekolah kebisingan dapat bersumber dari transportasi, industri, dan dari aktivitas bermain siswa. Tingkat kebisingan yang tinggi dapat mengganggu konsentrasi kerja sehingga menurunkan kinerja. Bahkan, suara bising yang terlalu tinggi dan terus- menerus dapat mengganggu kesehatan pegawai. Oleh karena itu kebisingan harus dihindari supaya aktivitas kerja dapat berlangsung dengan baik dan kesehatan tetap terjaga.

6) Keamanan

Madrasah/sekolah yang efektif pada umumnya memiliki lingkungan belajar yang aman, tertib, dan nyaman sehingga

(28)

proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman.

Oleh karena itu, sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman, dan tertib melalui dengan mengupayakan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan iklim tersebut. Dalam hal ini peranan kepala sekolah sangatlah penting sekali.40

Keamanan di tempat kerja akan menimbulkan ketenangan dalam bekerja. Ketenangan sangat dibutuhkan oleh pegawai untuk mengoptimalkan hasil kerja. Apabila keamanan pegawai tidak terjamin, maka timbulah kegelisahan dan kekhawatiran.

Kegelisahan dan kekhawatiran akan berdampak buruk terhadap kinerja. Oleh karena itu lingkungan keja harus didesain agar dapat melindungi pegawai dan segala aset penting milik organisasi. Lingkungan kerja harus aman dari bahaya gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan kebakaran.

Berdasarkan faktor-faktor lingkungan kerja di atas, lingkungan kerja yang memberikan dampak positif kepada guru memiliki ciri-ciri sebagai berikut.41

1. Memiliki pencahayan yang cukup sesuai dengan kebutuhan kegiatan kerja.

2. Memiliki pewarnaan yang meningkatkan motivasi kerja.

3. Memiliki kualitas udara yang menyehatkan.

40 Agus Wibowo, Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2013),120.

41 Barnawi dan Arifin, Kinerja Guru Professional, 65.

(29)

4. Tempat kerja yang selalu bersih dan nyaman.

5. Memiliki suasana yang tenang atau jauh dari kebisingan.

6. Memberikan rasa aman bagi setiap orang dan aset-aset organisasi.

Dari keenam lingkungan kerja fisik tersebut hampir sama dengan iklim dan budaya yang kondusif, yang ada di sekolah/madrasah. Sekolah yang efektif, perhatian khusus diberikan kepada penciptaan dan pemeliharaan iklim dan budaya yang kondusif untuk belajar. Iklim dan budaya yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan tertib sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.42

b. Lingkungan kerja non fisik

Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan antara sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan bawahan. Lingkungan kerja non fisik ini juga merupakan kelompok lingkungan kerja yang tidak bisa diabaikan.43

42 E. Mulyasa, Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Jakarta: Pt Bumi Aksara, 2013),

90.

43Sedarmayanti, Sumber Daya Manusia dan Produktifitas Kerja , (Bandung: CV. Mandar Maju, 2001), 12.

(30)

4. Kinerja Guru

a. Pengertian kinerja guru

Kata kinerja merupakan terjemah dari bahasa Inggris, yaitu dari kata performance. Kata performance berasal dari kata to perform yang berarti menampilkan atau melaksanakan.

Performance berati prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, unjuk kerja atau penampilan kerja.44 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja.45

Kinerja sering diartikan dengan hasil dan perilaku dalam melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Robbins (dalam Iskandar Agung) mengemukakan, bahwa keberhasilan dalam melakukan suatu pekerjaan sangat dipengaruhi oleh kinerja. Kerja adalah suatu tampilan utuh hasil dan perilaku kerja staf/karyawan selama periode waktu tertentu.46

Sementara itu, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran siswa. Profesionalitas guru ditandai dengan keahlian dibidang pendidikan. Menurut undang-

44 Barnawi dan Arifin, Kinerja Guru, 11.

45Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2001),

46 Iskandar Agung dan Yufridawati, Pengembangan Pola Kerja Harmonis Dan Sinergis Antara Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas (Jakarta: Bestari Buana Murni, 2013), 155.

(31)

undang no 14 tahun 2005 pasal 20, tugas atau kewajiban guru adalah sebagai berikut:47

1) Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

2) Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni

3) Bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.

4) Menjunjung tinggi peraturan perundang-udangan, hukum dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika.

5) Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa b. Standar beban kinerja guru

Standar beban guru mengacu pada Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam pasal 35 disebutkan bahwa beban kerja guru mencakup kegiatan pokok, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai

47 Barnawi Dan Muhammad Arifin, Kinerja Guru Professional.,11.

(32)

hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan48.

1) Merencanakan pembelajaran

Tugas guru yang pertama adalah merencanakan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran harus dibuat sebaik mungkin karena perencanaan yang baik akan membawa hasil yang baik pula. Guru wajib membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada awal tahun atau awal semester, sesuai dengan rencana kerja sekolah. Kegiatan penyusunan RPP ini diperkirakan berlangsung selama dua minggu atau 12 hari kerja. Kegiatan ini dapat diperhitungkan sebagai kegiatan tatap muka.

Dalam upaya meningkatkan efektivitas proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar terbaik sesuai harapan, perencanaan pembelajaran merupakan sesuatu yang mutlak harus dipersiapkan oleh setiap guru, setiap akan melaksanakan proses pembelajaran, walaupun belum tentu semua yang direncanakan akan dapat dilaksanakan, karena bisa jadi kondisi kelas merefleksikan sebuah permintaan yang berbeda dari rencana yang sudah dipersiapkan, khususnya setrategi yang sifatnya opsional.49

48 Ibid., 15

49 Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis (Jakarta: Kencana, 2004), 123.

(33)

Perencanaan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang bermuara pada pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran sedikitnya mencakup tiga kegiatan, yaitu identifikasi kebutuhan, perumusan kompetensi dasar, dan penyusunan program pembelajaran.50

2) Melaksanakan pembelajaran

Tugas guru yang kedua adalah melaksanakan pembelajaran.

Penyusunan rencana kerja dan strategi di atas sebagai acuan atau panduan bagi guru dalam pelaksanaan tugas mengajar.

Dengan demikian penyusunan rencana kerja atau pelaksanaan pembelajaran dapat dikatakan sebagai alat pengendali bagi guru dan pihak lainnya yang terkait terhadap pelaksanaan tugas/kerja guru.51 Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan ketika terjadi interaksi edukatif antara peserta didik dengan guru, kegiatan ini adalah kegiatan tatap muka yang sebenarnya.

Guru melaksanakan tatap muka atau pembelajaran dengan tahapan kegiatan awal tatap muka, kegiatan tatap muka, dan membuat resume proses tatap muka.

Kegiatan pembelajaran di kelas adalah inti penyelenggaraan pendidikan yang ditandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, dan

50 Jamil Suprihatiningrum, Guru Professional (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 102.

51Iskandar Agung dan Yufridawati, Pengembangan Pola Kerja Ha rmonis dan Sinergis Antara Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas., 189-190.

(34)

menggunakan metode serta strategi pembelajaran. Dalam mengelola kelas guru harus mampu menciptakan suasana kondusif yang menyenangkan agar pembelajaran dapat berlangsung lancar. Guru dapat memberlakukan kegiatan piket kebersihan, melakukan presensi setiap memulai pelajaran, dan mengatur tempat duduk secara bergiliran.

Selain mengelola kelas, guru juga menggunakan media dan sumber belajar. Dalam menggunakan media, guru dapat memanfaatkan media yang sudah ada (by utilization) atau sengaja mendesain terlebih dahulu (by design). Media pembelajaran dipilih yang paling sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan yang paling tepat mendukung isi pelajaran.

Selain itu, media sebaiknya praktis, luwes, dan bertahan lama.

Sementara dalam menggunakan sumber belajar, guru dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar yang terpercaya untuk memperluas pengetahuannya. Tidak boleh hanya terpaku pada sumber saja. Berbagai sumber belajar dapat dihimpun menjadi satu dalam bentuk modul belajar.

Kemampuan selanjutnya adalah menggunakan metode pembelajaran. Guru diharapkan dapat memilih dan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Setiap metode memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu, guru diharapkan cakap dalam

(35)

menggunakan berbagai variasi metode agar siswa tetap semangat untuk belajar. Penggunaan metode yang monoton cenderung membuat siswa menjadi jenuh sehingga materi pembelajaran tidak terserap dengan baik oleh siswa.52

Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara murid dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dan pembentukan kompetensi murid. Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal, yaitu pre-tes, proses, dan pos-tes.53

3) Menilai hasil pembelajaran

Tugas guru yang ketiga adalah menilai hasil pembelajaran.

Menilai hasil pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi bermakna untuk menilai peserta didik maupun dalam pengambilan keputusan lainnya.54

Kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanan pembelajaran, kemampuan guru mengembangkan

52 Barnawi dan Arifin, Kinerja Guru Professional.,18.

53Suprihatiningrum, Guru Professional., 102.

54 Barnawi dan Arifin, Kinerja Guru Professional.,18.

(36)

proses pembelajaran serta penguasaan terhadap bahan ajar, dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam penguasaan kelas, tanpa diimbangi dalam melakukan evaluasi terhadap pencapaian kompetensi murid, yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya, atau kebijakan perlakuan terhadap murid terkait dengan konsep belajar tuntas.55

4) Membimbing dan melatih peserta didik.

Tugas guru yang keempat adalah membimbing dan melatih siswa. Guru yang baik adalah guru yang baik melihat tujuan mereka dan mereka bekerja dengan penuh keyakinan, serta memberikan contoh tentang kebiasaan belajar, memberikan perhatian dan usaha yang berencana tentang pengembangan dirinya secara terus menerus melalui belajar.56

Membimbing dan melatih peserta didik dibebankan menjadi tiga, yaitu membimbing atau melatih peserta didik dalam pembelajaran, intrakurikuler, dan ekstrakulikuler.

a. Membimbing atau melatih peserta didik dalam pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan secara menyatu dengan proses pembelajaran.

b. Membimbing dan melatih peserta didik dalam kegiatan intrakurikuler. Hal ini terdiri dari remedial dan pengayaan sesuai dengan mata pelajaran yang diampu guru. Remedial

55 Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis., 188.

56 Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2014), 39.

(37)

merupakan kegiatan bimbingan dan latihan yang ditujukan kepada peserta didik yang belum menguasai kompetensi yang harus dicapai. Sementara pengayaan adalah kegiatan bimbingan dan latihan yang ditujukan kepada siswa yang telah mencapai kompetensi. Pelaksanaan ini dilakukan di dalam kelas dengan jadwal khusus, disesuaikan dengan kebutuhan dan tidak harus dengan jadwal tetap. Beban kerja dalam kegiatan ini termasuk ke dalam beban kerja tatap muka.

c. Membimbing dan melatih peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini merupakan kegiatan pilihan dan bersifat wajib bagi siswa. Ada banyak macam kegiatan ekstrakurikuler, di antaranya pramuka, olahraga, kesenian, olimpiade, paskibraka, pecinta alam, PMR, jurnalistik, UKS, dan keruhanian. Bimbingan dan latihan dalam hal ini merupakan kegiatan yang tergolong dalam tatap muka.57

5) Melaksanakan tugas tambahan

Kemudian, tugas yang kelima guru adalah melaksanakan tugas tambahan yang diberikan kepadanya. Tugas-tugas tambahan guru dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu tugas struktural dan tugas khusus. Tugas struktural

57 Barnawi dan Arifin, Kinerja Guru Professional.,21-22.

(38)

adalah tugas tambahan berdasarkan jabatan dalam struktur organisasi sekolah. Sementara tugas khusus adalah tugas tambahan yang dilakukan untuk menangani masalah khusus yang belum diatur dalam peraturan yang mengatur organisasi sekolah.58

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru

Kinerja guru tidak terwujud dengan begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu.59 Uraian rincian faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

a. Faktor personal/individu, meliputi unsur pengetahuan, keterampilan (skill), kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh setiap guru.

b. Faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas manajer dan tem leader dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan kerja pada guru.

c. Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan, dan keeratan anggota tim.

d. Faktor sistem, meliputi sistem kerja, fasilitas kerja yang diberikan oleh pimpinan sekolah, proses organisasi sekolah dan kultur kerja dalam organisasi sekolah.

58 Ibid,.22.

59 Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru, (Jakarta: Gaung Persada, 2010), 129- 130.

(39)

e. Faktor kontektual (situasional), meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal.

C. Kerangka Berpikir

Berdasarkan landasan teori dan telah pustaka di atas, maka kerangka berfikir dalam penelitian ini adalah:

1. Jika efektivitas kepemimpinan kepala madrasah baik, maka kinerja guru di MA Darul Huda Mayak akan baik.

2. Jika efektivitas kepemimpinan kepala Madrasah tidak baik, maka kinerja guru di MA Darul Huda Mayak akan tidak baik.

3. Jika lingkungan kerja fisik baik, maka kinerja guru di MA Darul Huda Mayak akan baik.

4. Jika lingkungan kerja fisik tidak baik, maka kinerja guru di di MA Darul Huda Mayak akan tidak baik.

5. Jika efektivitas kepemimpinan kepala Madrasah dan lingkungan kerja fisik baik, maka kinerja guru di MA Darul Huda Mayak akan baik

6. Jika efektivitas kepemimpinan kepala Madrasah dan lingkungan kerja fisik tidak baik, maka kinerja guru di MA Darul Huda Mayak akan tidak baik.

D. Hipotesis Penelitian

Untuk mengetahui gambaran jawaban yang bersifat sementara dari penelitian ini diperoleh hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara

(40)

terhadap rumusan masalah penelitian.60 Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir di atas, maka selanjutnya dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H1 : Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara efektivitas kepemimpinan kepala Madrasah dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru di MA Darul Huda Mayak Ponorogo tahun Akademi 2015/2016.

60 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D) (Bandung: Alfabeta, 2006), 64.

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Metode penelitian diartikan sebagai cara individual untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.61 Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang datanya berupa angka-angka.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif yang bersifat korelasional, karena hubungan antara dua variabel. Adapun paradigma analisis datanya sebagaimana gambar 3.1 sebagai berikut:

X1 : Kepemimpinan kepala madrasah X2 : Lingkungan kerja fisik

Y : Kinerja guru

B. Variabel Penelitian dan Definisi Oprasional Variabel

Variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja, baik orang atau obyek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

61 Ibid., 3.

X2

Y X1

39

(42)

untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Variabel itu sendiri ada dua macam, yaitu:

1. Variabel independen atau variabel bebas, yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat. Adapun variabel independen atau variabel bebas dalam penelitian ini adalah efektivitas kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja fisik.

2. Variabel dependen atau variabel terikat, yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.62 Adapun variabel dependen atau variabel terikat dalam penelitian ini adalah kinerja guru.

Penelitian ini diklasifikasikan dalam penelitian kuantitatif korelatif dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara ketiga variabel yang diamati di madrasah.

1. Variabel X1 adalah efektivitas kepemimpinan kepala Madrasah di MA Darul Huda Mayak Ponorogo.

2. Variabel X2 adalah lingkungan kerja fisik di MA Darul Huda Mayak Ponorogo.

3. Variabel Y adalah kinerja guru di MA Daul Huda Mayak Ponorogo.

62 Ibid., 38-39.

(43)

Adapun definisi operasional dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut :

1. efektivitas kepemimpinan kepala madrasah sebagai variabel bebas satu (X1) merupakan faktor penentu dalam kesuksesan atau gagalnya sebuah madrasah.

Dalam penelitian ini, yang di maksud dengan kepemimpinan kepala madrasah adalah kepemimpinan kepala madrasah yang efektif.

Selanjutnya untuk mengukur efektivitas kepemimpinan kepala madrasah adalah dengan menggunakan indikator yang diberikan oleh Supardi yaitu sebagai berikut:63

a) kepala sekolah efektif memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya, dan ia mendorong semua staf untuk mewujudkan visi tersebut.

b) kepala sekolah efektif memiliki harapan tinggi terhadap prestasi siswa dan kinerja staf.

c) kepala sekolah efektif tekun mengamati para guru di kelas dan memberikan umpan balik yang positif dan konstruktif dalam rangka memecahkan masalah dan memperbaiki pembelajaran.

d) kepala sekolah efektif mendorong pemanfaatan waktu secara efisien dan merancang langkah-langkah untuk meminimalisir kekacauan.

e) kepala sekolah efektif mampu memanfaatkan sumber-sumber material dan personil secara kreatif.

63 Supardi, Sekolah Efektif., 81-82.

(44)

f) kepala sekolah efektif memantau prestasi siswa secara individual dan kolektif dan memanfaatkan informasi untuk mengarahkan perencanaan intruksional.

2. Lingkungan kerja fisik sebagai variabel bebas dua (X2) ini memberi pengaruh pada kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah dan menggambarkan keadaan warga sekolah tersebut dalam keadaan harmonis. Lingkungan kerja fisik adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan, misalnya adalah kebersihan, pencahayaan, dan sebagainya. Pentingnya lingkungan kerja fisik mendorong pada situasi kondusif bagi kinerja guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk melaksanakan tugas produktif.

Dalam penelitian ini, untuk mengukur lingkungan kerja fisik menggunakan indikator yang diberikan oleh Barnawi dan Muhammad Arifin, yaitu sebagai berikut:64

a) Memiliki pencahayaan yang cukup sesuai dengan kebutuhan kegiatan kerja.

b) Memiliki pewarnaan yang meningkatkan motivasi kerja.

c) Memiliki kualitas udara yang menyehatkan.

d) Tempat kerja yang selalu bersih dan nyaman.

e) Memiliki suasana yang tenang atau jauh dari kebisingan.

f) Memberikan rasa aman bagi setiap orang dan aset-aset organisasi.

64Barnawi dan Arifin, Kinerja Guru Professional,54.

(45)

3. Kinerja guru sebagai variabel terikat (Y). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja. Standar beban guru mengacu pada Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam pasal 35 disebutkan bahwa beban kerja guru mencakup kegiatan pokok, yaitu:65

a) guru merencanakan pembelajaran b) guru melaksanakan pembelajaran c) guru menilai hasil pembelajaran

d) guru membimbing dan melatih peserta didik, serta e) guru melaksanakan tugas tambahan

C. Instrumen Pengumpulan Data

Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

1. Data tentang efektivitas kepemimpinan kepala MA Darul Huda mayak Ponorogo.

2. Data tentang lingkungan kerja fisik MA Darul Huda mayak Ponorogo 3. Data tentang kinerja guru MA Darul Huda mayak Ponorogo.

Untuk pengumpulan data tentang efektivitas kepemimpinan kepala madrasah dan lingkungan kerja fisik (Variabel X) dan kinerja guru (Variabel Y) digunakan angket. Untuk angket dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 102-104. Adapun kisi-kisi instrumen pengumpul data dapat dilihat pada tabel 3.1 sebagai berikut:

65 Barnawi dan Arifin, Kinerja Guru Professional.,15.

Gambar

Tabel 3.1: Kisi-kisi Instrumen Pengumpul Data
Tabel  3.2    Rekapitulasi  Uji  Validitas  Butir  Soal  Instrumen  Penelitian Tentang Efektivitas Kepemimpinan Kepala Madrasah
Tabel  3.3    Rekapitulasi  Uji  Validitas  Butir  Soal  Instrumen  Penelitian Tentang Lingkungan Kerja Fisik
Tabel  3.4    Rekapitulasi  Uji  Validitas  Butir  Soal  Instrumen  Penelitian Tentang Kinerja Guru
+7

Referensi

Dokumen terkait

sebuah kepemimpinan kepala madrasah terhadap mutu pendidikan pada lembaga yang dipimpinnya, menganalisa strategi kepala madrasah yang digunakan dalam meningkatkan mutu pendidikan

Hasil uji statistik pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru menggunakan SPSS menunjukkan bahwa Ada Pengaruh yang signifikan antara Kepemimpinan

Jadi skripsi dengan judul Efektivitas Kepemimpinan Kepala Madrasah Perempuan Di MI Ma’arif NU 1 Kracak Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas adalah proses atau

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Apakah terdapat hubungan yang positif dan signifikan dengan efektivitas kepemimpinan kepala Madrasah terhadap kinerja guru,

Temuan hasil dari penelitian ini bahwa Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Di MI Darul Ulum Ngaliyan, Kota Semarang menunjukkan bahwa

Untuk mengembangkan ilmu pendidikan Islam yang berhubungan dengan kepemimpinan kepala sekolah, kinerja guru, dan efektivitas pembelajaran agama Islam baik secara

Berdasarkan data dari hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah di MA Miftahul Huda lebih baik jika dibandingkan dengan

Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009. Kepemimpinan kepala madrasah merupakan faktor penting bagi keberhasilan lembaga