Pengaruh Faktor Keuangan dan Non Keuangan Perusahaan terhadap terjadinya Underpricing pada
Pasar Perdana di Bursa Efek Indonesia (Studi pada Perusahaan Go Publik di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2017-2018)
JURNAL ILMIAH
Disusun oleh :
Ica Febri Ramadini 145020401111004
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
Pengaruh Faktor Keuangan dan Non Keuangan Perusahaan terhadap terjadinya Underpricing pada Pasar Perdana di Bursa Efek Indonesia (Studi pada Perusahaan Go Publik di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-
2018)
Yang disusun oleh :
Nama : Ica Febri Ramadini
NIM : 145020401111004
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi
Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 11 Oktober 2018
Malang, 11 Oktober 2018 Dosen Pembimbing,
Puspitasari Wahyu A., SE., M.Ec.Dev
NIP. 20140587070032001
Pengaruh Faktor Keuangan dan Non Keuangan Perusahaan terhadap terjadinya Underpricing pada Pasar Perdana di Bursa Efek Indonesia
(Studi pada Perusahaan Go Publik di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2018) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya
Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh faktor keuangan dan non keuangan perusahaan terhadap tingkat underpricing pada pasar perdana di Bursa Efek Indonesia periode Agustus 2017- Agustus 2018. Terdapat 50 perusahaan yang melakukan IPO namun, 4 perusahaan mengalami overpricing dan 1 perusahaan lainnya tidak memiliki laporan keuangan yang lengkap. Total perusahaan yang digunakan dalam penelitian adalah 45 perusahaan. Variabel keuangan yang digunakan adalah Return On Assets (ROA),Return On Equity (ROE) dan Earning Per Share (EPS). Sedangakan untuk variabel non keuangan yang digunakan adalah Persentase saham yang ditawarkan kepada publik dan umur perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor keuangan yang berpengaruh terhadap tingkat underpricing adalah Return On Assets (ROA) dan variabel non keuangan yang berpengaruh terhadap tingkat underpricing adalah umur perusahaan.
Kata kunci: Underpricing, IPO, Faktor Keuangan, Faktor Non Keuangan
A. PENDAHULUAN
Pasar modal memiliki peran penting bagi pembangunan ekonomi sebagai salah satu sumber pembiayaan eksternal perusahaan dan wadah investasi bagi masyarakat. Melalui pasar modal, suatu perusahaan dapat menjual saham kepada publik. Dalam mencari sumber pendanaan, terdapat beberapa alternatif perusahaan yaitu dengan melakukan utang kepada perbankan, menjual beberapa aset perusahaan atau melakukan penerbitan saham perusahaan kepada publik. Menurut Tandelilin (2001), suatu perusahaan akan memilih salah satu alternatif pendanaan yaitu dengan melakukan penjualan saham perusahaan tersebut kepada publik (go public) di pasar perdana. Di pasar perdana, perusahaan untuk pertama kalinya menjual sahamnya dan proses tersebut disebut dengan istilah Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum perdana. Setelah saham suatu perusahaan tersebut dijual pada pasar perdana, kemudian saham-saham perdana tersebut diperjualbelikan oleh para investor di pasar sekunder. Transaksi yang dilakukan antar investor di pasar sekunder tidak akan memberikan dampak berupa tambahan dana bagi perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Meskipun perusahaan tidak memperoleh tambahan dana, akan tetapi perdagangan pada pasar sekunder sangat penting untuk menentukan likuiditas saham di pasar perdana.
Harga saham yang akan diterbitkan pada publik tidak ditentukan atas dasar permintaan dan penawaran para investor, melainkan telah ditetapkan sebelumnya oleh penjamin utama emisi efek. Setelah dilakukannya go publik, saham tersebut akan masuk kedalam pasar sekunder dimana pada pasar tersebut harga saham akan ditentukan oleh permintaan dan penawaran oleh para investor. Jika permintaan akan saham tersebut banyak maka harga saham akan meningkat dan juga sebaliknya. Perusahaan menginginkan penawaran harga saham di pasar perdana yang lebih tinggi, sedangkan underwriter sebagai penjamin emisi lebih suka untuk menetapkan harga yang lebih rendah dari hasil estimasinya, hal tersebut digunakan untuk mengantisipasi melemahnya
harga setelah di pasar perdana dan untuk menghindari banyak saham yang tidak laku terjual dan untuk menjaga reputasi underwriter tersebut (Sitompul, 1996).Menurut Anwar (2005) perusahaan sering berhati-hati dalam menentukan jumlah saham yang akan diterbitkan karena semakin besar jumlah saham yang beredar dengan jumlah permintaan yang tidak seimbang atau bahkan melemah, maka akan menyebabkan melemahnya harga saham di pasar sekunder.
Menurut Iskandar (2013) Dana dari hasil penjualan saham tersebut dapat digunakan untuk ekspansi usaha, memperbaiki struktur permodalan atau untuk melakukan investasi sehingga struktur permodalan dari perusahaan tersebut bisa semakin kuat dan pertumbuhan perusahaan semakin baik. Masalah yang sering ditimbulkan dari kegiatan Initial Public Offering adalah terjadinya underpricing yang menunjukkan bahwa harga saham pada waktu penawaran perdana relatif lebih rendah dibanding harga saham pada waktu penawaran di pasar sekunder (Safitri,2013). Menurut Ismiati dkk.,(2010) saat terjadinya underpricing menyebabkan kehilangan kemakmuran (wealth loss) bagi pemilik perusahaan yang melakukan penawaran saham perdananya serta dana yang akan diperoleh dari hasil penjualan saham perdana menjadi tidak maksimal. Para pemilik perusahaan tentunya menginginkan agar dapat meminimalisir terjadinya underpricing atau bahakan menghilangkan terjadinya underpricing. Namun, disisi lain underpricing memberikan keuntungan bagi investor karena investor tersebut akan memperoleh initial return dari pembelian saham perdana. Menurut Safitri (2013) asimetri informasi berpengaruh terhadap underpricing. Untuk meminimalisir terjadinya asimetri informasi maka dilakukan penerbitan prospektus oleh perusahaan yang dimana di dalamnya terdapat informasi mengenai keuangan dan non keuangan dari perusahaan tersebut.
Dimana informasi keuangan dapat meliputi rasio-rasio keuangan perusahaan tersebut, sedangkan informasi non keuangan meliputi umur perusahaan, persentase saham yang ditawarkan kepada masyarakat, reputasi underwriter, ukuran perusahaan dan reputasi auditor. Prospektus berisi gambaran detail tentang sejarah keuangan perusahaan tentang produk dan jasa-jasa dan latar belakang serta pengalaman manajemen perusahaan (Anwar 2005). Prospektus ringkas perusahaan dipublikasikan melalui iklan surat kabar yang di dalamnya mengandung informasi-informasi yang layak untuk diketahui oleh para calon investor. Penelitian tentang tingkat underpricing dan harga saham yang dihubungkan dengan informasi pada prospektus merupakan hal yang menarik bagi peneliti untuk mengetahui perilaku investor dalam membuat keputusan dalam berinvestasi di pasar modal.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Saham
Saham adalah tanda bukti kepemilikan perusahaan. Bukti bahwa seseorang dapat dianggap sebagai pemegang saham adalah apabila seseorang tersebut sudah tercatat sebagai pemegang saham dalam buku daftar pemegang saham. Saham merupakan salah satu komoditas keuangan yang diperdagangkan dipasar modal yang paling populer.
Kegiatan investasi saham yang dilakukan oleh para investor diharapkan memberikan keuntungan, namun dalam saham itu sendiri mengandung risiko (Hadi 2013).
Harga Saham
Menurut Widiatmodjo (2006;43), harga saham adalah nilai dari penyertaan atau kepemilikan seseorang dalam suatu perusahaan. Harga saham yang dijual di pasar perdana ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penjamin emisi (underwriter) dan emiten (issuers), sedangkan harga di pasar sekunder ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran para investor. Semakin banyak investor yang ingin membeli atau menyimpan suatu saham, maka harga saham tersebut akan meningkat. Dan sebaliknya jika semakin banyak investor yang menjual atau melepaskan saham tersebut
maka akan berdampak pada menurunnya harga saham tersebut.Menurut Hin (2008), Pada bursa saham terdapat beberapa istilah yang terkait dengan harga saham, seperti open, high, low, close, bid, dan ask. Berikut penjelasan dari beberapa istilah harga saham tersebut :
1. Open (pembukaan) : harga yang terjadi pada transaksi pertama satu saham.
2. High (tertinggi) : harga tertinggi transaksi yang tercapai pada satu saham.
3. Low (terendah) : harga terendah transaksi yang tercapai pada satu saham.
4. Close (penutupan) : harga yang terjadi pada transaksi terakhir satu saham.
5. Bid (minat beli) : harga yang diminati pembeli untuk melakukan transaksi.
6. Ask (minat jual) : harga yang diminati penjual untuk melakukan transaksi.
Penawaran Umum Perdana (IPO)
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.8 Tahun 1995 tentang pasar modal mendefinisikan Penawaran Umum adalah kegaitan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam Undang- Undang dan peraturan pelaksanaannya. Perusahaan yang belum going public, pada awalnya saham perusahaan tersebut dimiliki oleh para manajer, sebagian pegawai dan sebagian kecil pemilik saham adalah investor (Hartono,2017). Menurut Darmaji dan Hendy (2001) terdapat beberapa manfaat dari dilakukannya penawaran umum saham yaitu :
1. Dapat memperoleh dana yang relatif besar dan diterima sekaligus 2. Biaya go public relatif murah
3. Proses relatif mudah
4. Pembagian deviden berdasarkan keuntungan
5. Perusahaan dituntut lebih terbuka, sehingga hal ini dapat lebih meningkatkan kinerja perusahaan
6. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk turut serta memiliki saham perusahaan, sehingga dapat mengurangi kesenjangan sosial
7. Emiten akan lebih dikenal oleh masyarakat dengan dilakukannya penawaran saham 8. Memberikan kesempatan bagi koperasi dan karyawan untuk membeli saham perusahaan tersebut.
Selain adanya manfaat dari Penawaran saham perdana atau IPO terdapat juga beberapa konsekuensi Menurut Darmaji dan Hendy (2001) dari penawaran umum saham yaitu : keharusan perusahaan tersebut untuk melakukan keterbukaan informasi, keharusan untuk mengikuti peraturan-peraturan Pasar modal mengenai kewajiban pelaporan, perubahan gaya manajemen perusahaan dari informal menjadi formal, kewajiban membayar deviden bila perusahaan tersebut mendapatkan laba, dan senantiasa untuk meningkatkan tingkat pertumbuhan perusahaan.
Undepricing
Fenomena yang sering kali terjadi pada penawaran saham perdana adalah terjadinya underpricing saham, hal ini menggambarkan adanya perbedaan harga pada penawaran saham di pasar primer danharga saham di pasar sekunder pada hari pertama. Menurut Gumanti dan Alkaf (2011) underpricing saat penawaran saham perdana adalah sinyal yang diberikan emiten untuk calon investor atas kualitas perusahaanya. Apabila terjadi underpricing, maka para investor memiliki kesempatan untuk memperoleh abnormal return berupa initial return positif. Menurut Husnan,dkk. (2003) abnormal return adalah selisih antara tingkat keuntungan sebenarnya dengan tingkat keuntungan yang diharapkan. Besarnya underpricing diukur dengan initial return yaitu selisih harga saham atau keuntungan yang didapat investor karena perbedaan harga saham yang dibeli di pasar perdana dengan harga jual yang bersangkutan di pasar sekunder pada hari pertama.
Teori – Teori yang Berhubungan dengan Underpricing
Asimetri informasi merupakan adanya perbedaan informasi antara salah satu pihak dengan pihak lainnya dalam melakukan kegiatan ekonomi. Asimetri informasi ini dapat terjadi antara investor yang akan melakukan investasi di pasar modal dimana seorang investor harus pandai dalam mencari informasi keuangan maupun non keuangan sebelum membeli saham. Namun, terdapat beberapa investor yang hanya mendapatkan informasi perusahaan sangat minim. Adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh para pelaku pasar akan berdampak buruk bagi kelangsungan kinerja pada pasar modal. Dalam melakukan penawaran saham perdana terdapat beberapa pihak yang terlibat diantaranya Emiten, Underwriter dan para investor. Model Baron (1982) dalam Wiguna dan Yadnyana (2015) menganggap bahwa underwriter memiliki informasi yang lebih mengenai pasar modal, sedangkan emiten kurang informasi mengenai pasar modal. Oleh karena itu, underwriter memanfaatkan informasi yang dimiliki untuk menentukan harga perdana yang maksimal, yaitu saham yang memiliki tingkat risiko yang kecil apabila saahm tersebut tidak terjual. Emiten yang kurang memiliki informasi akan menerima keputusan untuk harga perdana yang murah.
Teori Agensi merupakan teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena underpricing pada saat penawaran umum perdana. Teori agensi adalah sebuah kontrak antara manajemen (Agen) dengan pemilik (prinsipal) (Jensen dan Meckling 1976). Teori ini menjelaskan bahwa dalam sebuah hubungan keagenan dalamsebuah kontrak satu pihak yaitu principal dengan pihak lain, yaitu agen. Dalam fenomena underpricing pendekatan teori agensi menjelaskan fenomena underpricing terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara agen(manajer) dengan principal (pemegang saham) dimana investor menginginkan harg saham perdana yang rendah agar mendapatkan return sedangkan emiten menginginkan harga yang tinggi agar dana yang didapatkan bisa maksimal.
Informasi mengenai suatu perusahaan merupakan hal yang penting bagi investor karena informasi menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik mengenai keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan dimasa yang akan datang. Teori sinyal digunakan untuk menjelaskan bahwa suatu informasi digunakan perusahaan untuk memberikan sinyal positif maupun negatif kepada para investor. Dimana perilaku investor terhadap sinyal tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi pasar. Manajemen perusahaan menggunakan laporan keuangan untuk memberikan sinyal dan prediksi untuk masa depan (Godfrey, dkk., 2010). Menurut Enika (2013) Signaling Theory di dasarkan pada premis bahwa manajer dan pemegang saham tidak memiliki informasi perusahaan yang sama.
Kondisi tersebut dapat membawa informasi kepada para pemegang saham yang akan mengakibatkan berubahnya nilai perusahaan, dengan kata lain terjadi pertanda atau sebuah sinyal untuk para pemegang saham. Implikasi dari model penelitian Allen dan Faulhaber (1980) perusahaan yang menggunakan underpricing sebagai sinyal untuk menunjukkan kualitas perusahaan akan menjual sedikit dari sebagian sahamnya pada saat penawaran perdana berlangusung.
Menurut Fama (1970) dalam Samsul (2015) efisiensi pasar terbagi kedalam tiga tingkatan yaitu :
1. The weak efficient market hypothesis
Menurut Samsul (2015) Efisiensi pasar dikatakan lemah (weak form) karena pada proses pengambilan keputusan, investor menggunakan data harga dan volume masa lalu.
Berdasarkan harga dan volume saham dimasa lalu dilakukan berbagai model analisis teknikal untuk menentukan apakah harga saham naik atau turun. Menurut Hartono (2017) jika pasar efisien secara bentuk lemah, maka nilai-nilai masa lalu tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga saham saat ini. Hal ini berarti bahwa pasar efisien bentuk lemah, investor tidak dapat menggunakan informasi masa lalu untuk mendapatkan keuntungan yang tidak normal (abnormal return). Dalam pasar yang efisiensinya masih weak form pergerakan harga saham sangat fluktuatif.
2. The Semistrong efficient market hypothesis
Menurut Samsul (2015) Efisiensi pasar dikatakan setengah kuat (semistrong-form) karena investor dalam proses pengambilan keputusan jual beli saham menggunakan informasi yang dipublikasikan seperti : laporan tahunan, pengumuman bursa, peraturan perundang pemerintah, dan pengumuman informasi lainnya yang mempengaruhi perekonomian nasional yang berdampak pada harga saham. Efisien pasar setengah kuat merupakan pasar yang harga-harga sahamnya secara penuh mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan. Dengan kata lain investor tidak dapat memperoleh ubnormal return dengan memanfaatkan informasi publik.
3. The strong efficient market hypothesis
Efisiensi pasar dikatakan bentuk kuat (strong-form) karena penggunaan data yang lebih lengkap yaitu : harga masa lalu, volume masalalu, informasi yang dipublikasikan dan informasi privat yang tidak dipublikasikan secara umum. Contoh dari infomasi privat adalah hasil riset yang ditebitkan sendiri oleh unit kerja riset yang ada dalam perusahaan tersebut. Jika pasar efisien dalam bentuk ini maka tidak ada investor yang dapat memperoleh abnormal return karena memiliki informasi privat.
C. KERANGKA TEORITIS Gambar 1. Kerangka Pikir
D. METODE PENELITIAN Definisi Variabel Operasional
Variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi variabel terikat dan variabel bebas.
1. Variabel Dependen (Y)
Variabel dependen atau variabel terikat yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Dalam penelitian ini, variabel dependen yang digunakan adalah tingkat underpricing yang diproxykan dalam initial return. Initial return dirumuskan sebagai berikut:
𝐼𝑛𝑖𝑡𝑖𝑎𝑙 𝑟𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 =(CP − OP)
OP X 100%
Keterangan :
CP : Close Price (harga penutupan hari 1 di pasar sekunder) OP : Open Price (harga penawaran perdana)
2. Variabel Independen (X)
Variabel independen atau variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab berubahnya variabel dependen Erwan dan Dyah (2017). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel keuangan perusahaan yaitu Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Return On Equity (ROE). Dan variabel non keuangan perusahaan yaitu persentase saham yang ditawarkan kepada masyarakat, dan umur perusahaan.
A. Variabel Keuangan Perusahaan Return On Equity (ROE)
Return On Equity ini mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumberdaya yang dimiliki untuk memberikan laba atas equitas. Adapun rumus ROE adalah :
ROE = pendapatan setelah pajak Shareholder s′Equity
Return On Assets (ROA)
Retrurn On Assets (ROA) digunakan untuk menggambarkan sejauh mana kemampuan aset-aset yang dimiliki perusahaan bisa menghasilkan laba (Tandelin, 2001).
ROA digunakan untuk mengetahui kinerja perusahaan berdasarkan kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan jumlah aset yang dimiliki. Adapun rumus dari ROA adalah sebagai berikut :
ROA = Laba Sebelum Pajak
total Assets × 100%
Earning Per Share (EPS)
Rasio ini merupakan merupakan perbandingan antara laba bersih dengan jumlah saham beredar (Darmadji dan Fakhrudin. 2006). Secara matematis EPS dapat dirumuskan sebagai berikut:
EPS = pendapatan setelah Pajak jumlah saham beredar B. Variabel Non Keuangan Perusahaan
Persentase saham yang ditawarkan kepada masyarakat
Persentase penawaran menunjukkan kepemilikan perusahaan oleh public setelah IPO. Informasi kepemilikan perusahaan akan digunakan oleh investor sebagai sinyal positif bahwa prospek perusahaannya baik. Pengukuran variabel persentase penawaran saham akan diukur dengan persentase saham yang ditawarkan kepada publik.
Umur Perusahaan
Umur perusahaan merupakan kemampuan perusahaan dapat bertahan dalam segala kondisi ekonomi dan banyaknya informasi yang dapat diambil oleh publik. Variabel umur perusahaan dapat dihitung dengan menghitung selisih tahun yaitu tahun berdiri perusahaan tersebut sampai perusahaan tersebut melakukan penawaran saham perdana.
Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda yang digunakan untuk mengukur hubungan antara variabel dependen dan variabel independen (Gujarati, 1998). Jenis data yang digunakan dalam analisis regresi linear berganda adalah cross section. Untuk menguji hipotesis diatas digunakan model sebagai berikut :
Yᵢ = α + β₁EPS + β₂ROA + β₃ROE + β₄PS + β₅UP + e Keterangan :
IR : Initial Return α : Konstanta β : Koefisien
EPS : Earning Per share ROA : Return On Assets ROE : Return On Equity
PS : Persentase saham yang ditawarkan kepada publik UP : Umur perusahaan
e : distribusi error Metode Analisis A. Uji Asumsi Klasik
Untuk menghasilkan nilai taksiran parameter yang bersifat Best, Linear, Unbiased Estimator (BLUE), maka model regresi yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan asumsi klasik. Uji Asumsi Klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji autokorelasi dan uji multikolinearitas. Dimana hasil dari uji asumsi klasik adalah :
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah model yang memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Dasar pengambilan keputusannya adalah :
1) Apabila nilai probabilitas jaquere-bera < 0,05, secara statistik maka H0 ditola k, yang berarti data terdistribusi tidak normal.
2) Apabila nilai probabilitas jaquere-bera > 0,05, secara statistik maka H0 diterima, yang berarti data terdistribusi normal.
2. Uji Multikoleniaritas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi berganda ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau tidak Ghozali (2006).
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi yang tinggi diantara variable bebas. Dalam melakukan uji keberadaan multikolinearitas dapat menggunakan matriks korelasi, dimana deteksi multikolinearitas dilakukan dengan cara menganalisis nila-nilai korelasi di antara variabel bebas. Gujarati (2004) mengatakan bahwa bila korelasi antar dua variabel bebas melebihi 0,8 maka multikolinearitas menjadi masalah yang serius.
Apabila korelasi antara variabel penjelas tidak lebih besar dibanding korelasi variabel terikat dengan masing- masing variabel penjelas maka dapat dikatakan tidak terdapat masalah yang serius.
3. Uji Heteroskedastisitas
Menurut Setyo (2016) Heteroskedastisitas merupakan kondisi yang berkaitan dengan nilai residual dalam model yang memiliki sifat tidak minimum dan berubah sepanjang waktu. Jika terdapat suatu model yang mengalami permasalahan heterokedastisitas hal ini bukanlah masalah yang serius menbgingat residual bukanlah faktor yang diperhitungkan dalam menghasilkan koefisien parameter (Rosadi, 2012). Meskipun terjadi heteroskedastisitas, koefisien parameter tidak menjadi bias dan konsisten, namun tidak efisien. Keberadaan heteroskedastisitas dalam suatu model dapat dideteksi dengan menggunakan Breusch-Pagan-Godfrey test. Dalam metode ini mengasumsikan bahwa varian residual adalah tidak konstan maka akan berhubungan dengan satu atau lebih variabel dalam spesifikasi yang linear. Dengan kata lain, varian akan memiliki sifat variabel dan akan saling berhubungan.
4. Uji Autokorelasi
Menurut Nachrowi dan Usman (2006) autokorelasi adalah suatu kondisi dimana terdapat korelasi antar disturbance term untuk periode yang berbeda atau korelasi yang terjadi antar observasi dalam satu variabel. Pengujian autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Durbin Watson (DW-test). Tahapan yang perlu dilakukan dalam pengujian autokorelasi menggunakan pendekatan uji Durbin-Watson yakni :
a. Lakukan regresi terhadap model dan dapatkan nilai residual Ɛ𝑡
b. Hitung nilai d-statistic dengan melihat hasil estimasi model.
c. Lihat pada tabel Durbin Watson dan dapatkan nilai d𝐿 (durbin lower) dan d𝑈 (durbin upper).
d. Buat daerah distribusi Durbin Watson letakkan nilai-nilai untuk d𝐿 dan d𝑈 kemudian plotkan nilai d-statistik pada daerah tersebut.
e. Buat kesimpulan posisi d-statistik :
0< d< d𝐿 : terdapat autokorelasi positif
d𝐿 < d < d𝑈 : daerah ragu-ragu
d𝑈 < d < 4‐ d𝑈 : Tidak terdapat autokorelasi
4‐ d𝑈 < d < 4‐ d𝐿 : daerah ragu-ragu
4‐ d𝐿 < d < 4 : terdapat autokorelasi negatif Uji Koefisien Determinasi (R²)
Koefisien determinasi (R²) bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2011). Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1. Nilai R² yang kecil berarti mencerminkan kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskna variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Bila terdapat niali adjusted R² bernilai negatif maka nilai adj R² dianggap bernilai 0.
Uji Statistik F
Uji statistik F bertujuan untuk mengukur apakah semua variabel independen yang dimasukan dalam model memiliki pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali,2011). Pengujian secara simultan ini dilakukan dengan cara membandingkan antara tingkat signfikan F dari hasil pengujian dengan nilai signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini. Tahapan untuk melakukan pengujian simultan yaitu:
1. Jika tingkat signifikansi F yang diperoleh dari hasil pengolahan nilainya lebih kecil dari nilai signifikansi yang digunakan yaitu sebsar 5 %, maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen.
2. Jika tingkat signifikansi F yang diperoleh dari hasil pengolahan nilainya lebih besar dari nilai signifikansi yang digunakan yaitu sebesar 5%, maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
Uji Statistik t
Uji t digunakan untuk mengukur seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Uji ini dilakukan dengan beberapa syarat:
1. Bila t hitung < t tabel maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya bahwa secara bersama-sama variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen
2. Bila t hitung > t tabel maka H0 ditolak dan menerima Ha artinya bahwa secara bersama-sama variabel indepnden berpengaruh terhadap variabel dependen.
E. HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Deskriptif
Tabel 2. Statistik Deskriptif
Minimum Maximum Mean
Y 0.45 70.00 47.17
ROE -37.10 306.05 18.32
ROA -24.35 38.88 4.75
EPS -903494.00 130155.00 -26417.54
PS 0.27 47.43 22.83
UP 2.00 60.00 21.31
Sumber : Output spss 2018, (data diolah)
Dalam penawaran umum perdana periode Agustus 2017- Agustus 2018 tingkat underpricing yang terjadi memiliki nilai rata-rata sebesar 47.17%. Nilai underpricing tertinggi sebesar 70% yang terjadi pada beberapa perusahaan yaitu : PT. Kapuas Prima Coal Tbk., PT. Asuransi Jiwa Syariah jasa Mitra Abadi Tbk., PT Jaya Trishindo Tbk., PT Charnic Capital Tbk., PT Sriwahana Adityakarya Tbk., dan PT Batavia Prosperindo Trans Tbk. dan PT Andira Agro Tbk. Hal tersebut mencerminkan bahwa beberapa perusahaan tersebut memiliki harga yang lebih tinggi saat dipasar sekunder dibandingkan harga saat melakukan IPO. Sedangkan untuk tingkat underpricing terendah yaitu sebesar 0.45% terjadi pada perusahaan PT Sarimelati Kencana Tbk.
Hasil Regresi Model Terpilih
Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengukur hubungan antar variabel dependen dengan variabel independen. Pengujian regresi berganda menggunakan software eviews dengan hasil sebagai berikut:
Variable Coefficient t-Statistic Prob. keterangan ROE -0.016908 -0.235312 0.8152 Tidak signifikan ROA -0.838749 -2.288895 0.0276 signifikan
EPS 1.47 0.716616 0.4779 Tidak signifikan PS 0.097759 0.327586 0.7450 Tidak signifikan UP -0.617835 -3.454337 0.0013 signifikan
C 62.36550 6.959407 0.0000
R-square 0.353641 Mean dependent var 46.74600 Adjusted R-square 0.270775 Durbin-Watson stat 1.675409
F-statistic 4.267605 Prob(F-statistic) 0.003432
Sumber : Hasil Regresi EViews 9 2018, (data diolah)
Dari hasil analisis regresi berganda, dapat dilihat dari variabel yang digunakan dalam penelitian ini (ROE, ROA, EPS, PS dan UP) hanya dua variabel yang berpengaruh terhadap tingkat underpricing. Nilai probabilitas menunjukkan bahwa variabel keuangan (ROE,ROA dan EPS) yang tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing adalah ROE dan EPS, sedangkan variabel keuangan yang berpengaruh terhadap tingkat underpricing adalah ROA. Berpengaruhnya ROA terhadap tingkat underpricing dapat dilihat pada nilai probabilitasnya yaitu sebesar 0.0276. Dimana nilai tersebut lebih kecil atau kurang dari nilai alpha sebesar 0.05. Sedangakan nilai koefisien bertanda (-) menunjukkan bahwa variabel ROA berpengaruh secara negatif atau berbanding terbalik terhadap underpricing.
Sedangkan untuk variabel non keuangan, yang tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing adalah persentase saham yang ditawarkan pada masyarakat dan yang berpengaruh terhadap tingkat underpric ing adalah Umur Perusahaan. Berpengaruhnya umur perusahaan terhadap tingkat underpricing dapat dilihat pada nilai probabilitasnya yaitu sebesar 0.0013. Dimana nilai tersebut lebih kecil atau kurang dari nilai alpha sebesar 0.05. Sedangakan nilai koefisien bertanda (-) menunjukkan bahwa variabel umur perusahaan berpengaruh secara negatif atau berbanding terbalik terhadap underpricing.
Pengujian Hipotesis Uji Parsial (Uji t-Statistik) 1. Return On Equity (ROE)
Hasil pengujian pada tabel 4.5 diperoleh nilai signifikansi t sebesar 0,81 > 0,05. Hal ini berarti H0 diterima dengan kata lain variabel Return On Equity tidak berpengaruh terhadap variabel tingkat underpricing. Dan hipotesis yang menyatakan “Return On Equity berpengaruh negatif terhadap tingkat underpricing” ditolak.
2. Return On Assets (ROA)
Hasil pengujian pada tabel 4.5 diperoleh nilai signifikansi t sebesar 0,027 < 0,05. Hal ini berarti H0 ditolak dengan kata lain variabel Return On Assets berpengaruh terhadap variabel tingkat underpricing. Dan hipotesis yang menyatakan “Return On Assets berpengaruh terhadap tingkat underpricing” diterima.
3. Earning Per Share (EPS)
Hasil pengujian pada tabel 4.5 diperoleh nilai signifikansi t sebesar 0,477 > 0,05. Hal ini berarti H0 diterima dengan kata lain variabel Earning Per Share tidak berpengaruh terhadap variabel tingkat underpricing. Dan hipotesis yang menyatakan “Earning Per Share berpengaruh positif terhadap tingkat underpricing” ditolak.
4. Persentase penawaran kepada publik
Hasil pengujian pada tabel 4.5 diperoleh nilai signifikansi t sebesar 0,745 > 0,05. Hal ini berarti H0 diterima dengan kata lain variabel Persentase penawaran kepada publik tidak berpengaruh terhadap variabel tingkat underpricing. Dan hipotesis yang menyatakan “Persentase penawaran kepada public berpengaruh negatif terhadap tingkat underpricing” ditolak.
5. Umur Perusahaan
Hasil pengujian pada tabel 4.5 diperoleh nilai signifikansi t sebesar 0,0013 < 0,05.
Hal ini berarti H0 ditolak dengan kata lain variabel umur perusahaan berpengaruh terhadap variabel tingkat underpricing. Dan hipotesis yang menyatakan “umur perusahaan berpengaruh terhadap tingkat underpricing” diterima.
Uji Simultan (Uji F-Statistik)
Uji F digunakan untuk mengukur apakah semua variabel independen yang dimasukan dalam model memiliki pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen apakah terdapat hubungan signifikan antara X dan Y. Apabila nilai signifikansi F < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen. Dan apabila tingkat signifikansi > 0,05 maka semua variabel independen secara simultan tidk berpengaruh terhadap variabel dependen. Dari hasil uji regresi diperoleh nilai signifikansi f sebesar 0,003 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel Return On Equity, Return On Assets, Earning Per Share, persentase saham yang ditawarkan kepada publik dan umur perusahaan secara simultan berpengaruh terhadap tingkat underpricing.
Uji Koefisien Determinasi (R²)
Pada hasil uji regresi diperoleh nilai Adjusted R-square sebesar 0,27. Hal ini menunjukkan bahwa variasi tingkat underpricing yang dapat dijelaskan oleh variabel ROE, ROA, EPS, Persentase penawaran saham dan umur perusahaan sebesar 27%
sedangkan sisanya sebesar 73% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini seperti variabel makro, mikro ekonomi, dll.
Pengaruh Return On Equity (ROE) terhadap tingkat underpricing
Return On Equity (ROE) merupakan rasio profitabilitas yang menunjukkan berapa persen tingkat perolehan laba bersih jika diukur dengan modal pemilik perusahaan. Dalam hasil penelitian ini didapatkan hasil perhitungan yang menunjukkan bahwa hubungan antara ROE terhadap tingkat underpricing tidak terdapat pengaruh.
Penelitian ini tidak dapat membuktikan teori sinyal yang mengatakan bahwa underpricing pada penawaran perdana merupakan suatu mekanisme untuk memberikan sinyal yang baik dan perusahaan yang mengalami underpricing memiliki cerminan kualitas perusahaan yang baik. Tidak berpengaruhnya ROE pada underpricing dapat dikarenakan oleh rasa ketidakpercayaan investor terhadap informasi yang diberikan oleh emiten.
Dalam hal ini investor menduga adanya manajemen laba yang dilakukan oleh emiten dalam memberikan laporan keuangan. Dilakukannya manajemen laba oleh emiten dengan tujuan untuk memberikan informasi kinerja perusahaan yang baik agar pasar perdana dapat merespon secara positif. Laporan yang disajikan oleh emiten yang mengalami underpricing bertujuan untuk memberikan cerminan perusahaan yang baik namun, hal tersebut tidak direspon dengan baik oleh para investor yang mengakibatkan Return On Equity (ROE) tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing. Selain itu, tujuan investor dalam melakukan pembelian saham mungkin hanya untuk investasi jangka pendek, karena rasio ini merupakan rasio yang digunakan investor dalam melihat kemampuan laba dimasa yang akan datang. Hasil Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Aini (2013) yang mengatakan bahwa ROE tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing.
Namun, Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zhou dan Lao (2012) yang mengatakan bahwa variabel ROE berpengaruh signifikan negatif terhadap tingkat underpricing.
Pengaruh Return On Assets (ROA) terhadap tingkat underpricing
Dalam hasil penelitian ini didapatkan bahwa variabel Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap tingkat underpicing. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil bahwa efektifitas perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan aktiva yang dimiliki diukur dengan ROA. Profitabilitas yang tinggi dari suatu perusahaan akan menjadi penilaian utama seorang investor sebelum berinvestasi. Suatu perusahaan yang dapat menghasilkan laba yang besar, sahamnya akan lebih banyak diminati oleh para investor. Hal tersebut dikarenakan semakin besar laba yang dihasilkan maka pengalokasian laba yang akan dibagikan kepada investor akan besar pula. Pada laporan prospektus perusahaan yang melakukan IPO pada periode Agustus 2017- Agustus 2018 rata-rata mendapatakan laba bersih sebesar 4.5% yang berarti hampir semua perusahaan mampu menghasilkan laba dengan menggunakan aktiva. Hal tersebut dikarenakan salah satu tujuan investor adalah untuk mendapatkan return yang tinggi. Maka dari itu, profitabilitas yang tinggi akan mengurangi ketidakpastian bagi investor sehingga akan menurunkan tingkat underpricing. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori agensi yang mengatakan bahwa pemegang saham menilai kinerja berdasarkan kemampuan seorang manajer dalam menghasilkan laba perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Erlina dan Widyarti (2013). Dimana hasil penelitian tersebut Namun, Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Agathee,dkk. (2012) yang menunjukkan hasil bahwa variabel ROA berpengaruh negatif terhadap underpricing.
Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap tingkat underpricing
Dalam hasil penelitian ini, variabel Earning Per Share tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing. Hal tersebut disebabkan karena dari beberapa perusahaan yang menjadi sampel penelitian mengalami kerugian dengan kata lain nilai EPS perusahaan tersebut bernilai negatif. Namun, pada periode yang digunakan dalam penelitian ini banyaknya nilai EPS yang rendah menyebabkan variabel Earning Per Share tidak
digunakan oleh investor sebagai pertimbangan dalam membeli saham perusahaan IPO.
Selain itu, tidak semua perusahaan yang melakukan IPO memiliki nilai EPS yang tinggi, walaupun nilai EPS perusahaan tersebut tinggi tidak mempengaruhi permintaan saham dan harga saham saat diperjual belikan di pasar sekunder. Dalam fenomena underpricing, sebagian besar investor mengharapkan keuntungan jangka pendek yaitu capital gain dari saham yang telah dibeli. Sedangkan EPS merupakan menunjukkan keuntungan jangka panjang yang dapat diperoleh investor yaitu berupa deviden. Sehingga variabel EPS menjadi salah satu informasi yang kurang digunakan investor dalam pengambilan keputusan. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori efisien pasar bentuk setengah kuat dimana investor tidak dapat memperoleh ubnormal return dengan memanfaatkan informasi publik. Hasil penelitian ini sejalan dengan Isynuwardhana (2014) yang mengatakan bahwa informasi Earning Per Share (EPS) tidak berpengaruh terhadap underpricing. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Subadar, dkk. (2012) yang mengatakan bahwa EPS memiliki pengaruh terhadap tingkat underpricing.
Pengaruh persentase saham yang ditawarkan kepada publik terhadap tingkat underpricing
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh persentase saham yang ditawarkan kepada publik terhadap tingkat underpricing. Hal ini dapat disebabkan karena asumsi para masyarakat yang telah berubah. Rendahnya persentase saham yang ditawarkan kepada publik dengan rata-rata dibawah 50% yaitu sebesar 23.65% membuat para investor merasa tingkat kepemilikan terhadap saham perusahaan rendah. Persentase saham yang ditawarkan kepada publik belum bisa mencerminkan tingkat underpricing, hal ini mungkin disebabkan karena para investor tidak berorientasi pada jumlah saham yang ditawarkan melainkan lebih mempertimbangkan faktor yang dapat mencerminkan hasil laba dimasa yang akan datang. Selain itu, dalam kegiatan penawaran umum perdana, persentase saham yang ditawarkan kepada masyarakat tidak akan melebihi persentase mayoritas pemegang saham di portepel perusahaan karena tujuan dari dilakukannya IPO adalah untuk mendapatkan tambahan modal perusahaan, bukan untuk mengambil alih perusahaan kepada para investor di pasar modal. Sehingga besar kecilnya persentase saham yang ditawarkan tidak menjadi pertimbangan yang digunakan oleh investor. Dari hasil penelitian ini tidak mencerminkan teori efisiensi pasar bentuk kuat yaitu pasar yang harga sahamnya mencerminkan seluruh informasi termasuk informasi privat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2013) yang mengatakan bahwa persentase saham yang ditawarkan kepada publik tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing.
Pengaruh Umur Perusahaan terhadap tingkat underpricing
Dalam penelitian ini, variabel umur perusahaan berpengaruh terhadap tingkat underpricing. Hal ini dikarenakan Umur perusahaan merupakan cerminan kemampuan perusahaan dalam bersaing dan dapat mengambil kesempatan bisnis yang ada dalam perekonomian (Ardiansyah, 2004). Semakin lama umur dari perusahaan tersebut maka semakin banyak publikasi informasi yang telah didengar dan diperoleh oleh masyarakat.
Semakin lama suatu perusahaan berdiri atau semakin tua umur perusahaan maka dapat semakin menarik minat investor karena diyakini bahwa perusahaan yang sudah lama berdiri dan lebih berpengalaman dalam menghasilkan return bagi perusahaan yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya return yang akan diterima investor dalam jangka panjang. selain itu, semakin tua umur perusahaan maka akan mencerminkan kekuatan suatu perusahaan bahwa perusahaan tersebut mampu bertahan dalam keadan perekonomian apapun. Perusahaan yang telah lama berdiri dalam kondisi yang baik tidak akan banyak melakukan publikasi mengenai perusahaan jika dibandingkan dengan perusahaan yang baru saja berdiri. Perusahaan yang sudah lama beroperasi maka dapat
dikatakan bahwa investor dapat memilih perusahaan tersebut dikarenakan ketidakpastian dimasalalu perusahaan tersebut kecil dalam artian tingkat resiko perusahaan tersebut rendah. Berpengaruhnya Umur Perusahaan terhadap tingkat underpricing sejalan dengan teori sinyal yaitu informasi mengenai suatu perusahaan yang menyajikan catatan atau gambaran baik mengenai keadaan masa lalu mempengaruhi perilaku investor.
Dalam periode penelitian yang digunakan PT Sarimelati Kencana Tbk. memiliki usia perusahaan 31 tahun. Usia tersebut berarti bahwa perusahaan sudah cukup lama berada dalam industri selain itu informasi yang dimiliki masyarakat tentang perusahaan tersebut sudah cukup banyak. Saat melakukan penawaran perdana, perusahaan tersebut menjual sahamnya seharga Rp. 1100 untuk setiap lembar sahamnya, dengan ekspektasi saham tersebut dapat menarik minat investor. Namun, pada kenyataannya harga penutupan pada hari pertama di pasar sekunder hanya meningkat 5 rupiah yaitu Rp.1105 dengan tingkat underpricing 0.45%, dimana perusahaan tersebut juga menjadi perusahaan dengan tingkat underpricing terendah pada periode penelitian. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin lama usia perusahaan maka akan semakin rendah tingkat underpricing hal tersebut disebabkan karena ekspektasi tinggi yang dimiliki emiten dan underwriter terhadap saham tersebut. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Zhou dan Lao (2012) dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa umur perusahan berpengaruh positif terhadap underpricing. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2013) yang mengatakan bahwa umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap underpricing.
F. PENUTUP Kesimpulan
1. Faktor keuangan perusahaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Return On Equity (ROE), Return On Asset (ROA) dan Earning Per Share (EPS). Dimana hanya Return On Asset (ROA) yang berpengaruh terhadap tingkat underpricing. Hal tersebut dikarenakan para investor telah mengukur tingkat profitabilitas perusahaan yang akan go publik, Semakin tinggi nilai Return On Assets perusahaan maka menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba di masa yang akan datang. Sedangakan untuk Return On Equity (ROE) dan Earning Per Share (EPS) tidak mempengaruhi tingkat underpricing.
2. Faktor non keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah persentase saham yang ditawarkan kepada publik dan umur perusahaan. Dimana umur perusahaan berpengaruh terhadap tingkat underpricing. Hal tersebut dikarenakan semakin lama umur perusahaan maka semakin tinggi ekspektasi emiten terhadap harga di pasar sekunder dan berdampak pada menurunnya tingkat underpricing. Sedangkan untuk variabel persentase saham yang ditawarkan kepada publik tidak memliki pengaruh terhadap tingkat underpricing.
Saran
1. Bagi Perusahaan yang akan melakukan kegiatan IPO, lebih disarankan untuk mempertimbangkan harga saham yang akan digunakan agar tingkat underpricing semakin berkurang dan agar antara pemilik perusahaan, underwriter dan investor dapat merasakan kesejahteraan yang sama.
2. Bagi investor, harus lebih banyak mendapatkan informasi mengenai perusahaan yang hendak melakukan IPO. Informasi yang harus didapatkan oleh seorang investor bukan hanya dari laporan prospektus perusahaan tersebut, melainkan faktor-faktor diluar laporan prospektus seperti kondisi makro ekonomi yang akan berdampak pada perusahaan seperti kurs, inflasi, suku bunga,dll.
DAFTAR PUSTAKA
Adjasi, Charles K.D., Osei, Kofi A. & Fiawoyife, Eme U. 2011. Explaining underpricing of IPOs in frontier markets: Evidence from the Nigeria Stock Exchange. Research in International Business and Finance, (online), 25: 255-265, (http://10.1016/j.ribaf.2011.01.005) , diakses 1 Februari 2018.
Agathee, Ushad Subadar., Sannassee, Raja Vinesh, & Brooks, Chris. 2012. The underpricing of IPOs on stock exchange of maritius. International business and finance, (online), 26: 281-303, (https://doi.org/10.1016/j.ribaf.2012.01.001), diakses 1 Februari 2018
Agus Erwan, Purwantoro. & Ratih Dyah, Sulistyastuti. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif Untuk Administrasi Publik Dan Masalah-Masalah Sosial. Yogyakarta:
Gava Media.
Allen, Franklin dan Gerald R. Faulhaber. 1989. Signaling by underpricing in the IPO market. Journal of Financial Economics, (online), 23: 303-323, diakses 30 Juni 2018.
Akyol, Alic., Cooper, Tommy., Meoli, Michele. & Vismara, Silvio. 2014. Do Regulatory Changes Affect the Underpricing of European IPOs?. Journal of Banking &
Finance, (online), 45: 43-58, (http://dx.doi.org), Diakses 27 Maret 2018.
Ardiansyah, Misnen. 2004. Pengaruh Variabel Keuangan terhadap Return awal dan return 15 hari setelah IPO serta moderasi besaran perusahaan terhadap hubungan antara variabel keuangan dengan return awal dan return 15 hari setelah Ipo di Bursa Efek Jakarta. The Indonesia Journal of Accounting Research, (online), 7(2), (http://ijar- iaikapd.or.id) , diakses 13 Maret 2018
Anwar, Jusuf. 2005. Pasar Modal Sebagai Sarana Pembiayaan Dan Investasi (Jilid1).
Jakarta: PT. Alumni.
Boulton, Thomas J., Campbell T. Collin. 2016. Managerial Confidence and initial public offerings. Journal of corporate finance 37 : 375-392.
Brigham, E. F. dan Houston, J. F. 2001. Fundamental Of Financial Management. Jakarta : Erlangga.
Brigham, F. Eugene dan Joel, F. Houston. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Buku 1. Edisi Kesepuluh. Jakarta: Salemba Empat.
Bursa Efek Indonesia. Prospektus. http://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/prospektus/.
(Diakses 10 Agustus 2018).
Carter, Ricard & Manaster, Steve. 1990. Initial Public Offering and underwriter Reputation. The Journal of Finance, (Online), XLV(4) : 1045-1067, (https://onlinelibrary.wiley.com), diakses 20 februari 2018
Darmaji, Tjiptono & Fakhruddin, Hendy M. 2001. Pasar Modal di Indonesia Pendekatan Tanya Jawab. Jakarta : Salemba Empat.
Darmadji, Tjiptono dan Hendy M Fakhruddin,2006. Pasar Modal Di Indonesia Pendekatan Tanya jawab, PT Salemba Empat, Jakarta
Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi Kedua. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Cetakan Keempat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Edisi Kelima. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Godfrey, J., A. Hodgson, S. Holms , dan A. Tarca. 2010. Accounting Theory. John Wiley
& Sons: Australia.
Gujarati, D. 2004. Ekonometrika Dasar. Sumarno Zain Penerjemah. Jakarta: Erlangga.
Gumanti, Tantang Ary & Alkaf, Nafisah. 2011. Underpricing Dalam Penawaran Saham Perdana dan Penawaran Saham Susulan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, (Online), 8(1): 21-35, (http://jaki.ui.ac.id), diakses 29 Januari 2018.
Hadi, Nor. 2013. Pasar Modal Acuan Teoritis dan Praktis Investasi di Instrumen Keuangan Pasar Modal. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Hakiman. 2005. Model Penentuan Harga IPO Di Bursa Efek Jakarta Dengan Menggunakan Metode Real Option. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bandung.
Hartono, Jogiyanto. 2017. Teori Portofloio dan Analisis Investasi (Edisi Kesebelas).
Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta.
Hin, L. Thian. 2008. Panduan Berinvestasi Saham. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.
Humaira, Enika. 2013. Pengaruh Profitabilitas, Price Earning Ratio, Dan Financial Leverage Terhadap Underpricing. (Online), Diakses 1 April 2018.
Ikhsan, Arfan dan Suprasto, Herkulanus Bambang. 2008. Teori Akuntansi dan Riset Multiparadigma (Edisi 1). Yogyakarta : Graha Ilmu.
Iskandar,S. 2013. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya (Edisi 2). KOTA: In Media.
Ismiati, Fitri & Armansyah, Fuad. 2010. Motif Go Public, Herding, Ukuran Perusahaan,
& Underpricing Pada Pasar Modal Indonesia. (Online), (https://e- journal.unair.ac.id), diakses 12 April 2018.
Jensen, C. Michael & Meckling, William H. 1976. Theory the Firm : Managerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of financial economics,(Online),3(4):305-360,(https://doi.org/10.1016/0304-405X(76)90026- X), diakses 13 April 2018.
Latumaerisssa, J.R. 2013. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta : Salemba Empat.
Maya, Rista. 2013. Pengaruh Kondisi Pasar, Persentase Saham Yang Ditawarkan, Financial Leverage, Dan Profitabilitas Terhadap Underpricing Saham Yang Ipo Di Bei Periode 2007-2011. Jurnal Akuntansi, (online), 1(2), (http://ejournal.unp.ac.id) , diakses 13 April 2018
Nachrowi, Nachrowi Djalal dan Usman, Hardius. 2006. Pendekatan Populer dan Praktis Ekonometrika untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Nur Indriartono dan Melly S., 1999, Ketepatan Ramalan Laba pada Prospektus Penawaran Umum Perdana. Journal bisnis dan Akuntansi, (online), Vol. 1 April, diakses 10 April 2018.
Purwanto Agus, Erwan dan Sulistyastuti, Ratih Dyah. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif .Edisi 2. Yogyakarta : Gava Media
Richardson, V.J. 1998. “Information Asymmetry and Earnings Management:
Some Evidence.” Dissertation, University of Kansas, March.
Ritter, Jay R. & Welch Ivo. 2002. A riview of IPO Activity, Pricing and Allocations. The Journal of Finance, (online), Vol.57. (https://doi.org/10.1111/1540-6261.00478) , diakses 17 April 2018
Rosadi, Dedi. 2012. Ekonometrika dan Analisis Runtun Waktu Terapan dengan Eviews.
Yogyakarta : Andi Offset
Safitri, Tety Anggita. 2013. Asimetri Informasi dan underpricing. Jurnal Dinamika Manajemen, (Online), 4(1) : 1-9, (http://Journal.unnes.ac.id), diakses 29 Januari 2018.
Samarakoon, Lalith P. 2010. The Short-run Underpricing Of Initial Public Offerings In the Sri Lanka Stock Market. Journal of multinational finnce mnagement 20 : 197- 213.
Samsul, Mohamad. 2015. Pasar Modal & Manajemen Portofolio (Edisi 2). Jakarta:
Erlangga.
Siregar, Syofian. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif Dilengkapi Dengan Perbandingan Perhitungan Manual dan SPSS. Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri.
Sitompul, Asril. 1996. Pasar Modal (Penawaran Umum dan Permasalahannya).
Bandung: PT. Cinta Aditya Bakti.
Suryani & Hendryadi. 2015. Metode Riset Kuantitatif Teori Dan Aplikasi Pada Penelitian Bidang Manajemen dan Ekonomi Islam Edisi Pertama. Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri.
Suyatmin dan Sujadi. (2006). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underpricing Pada Penawaran Umum Perdana di Bursa Efek Jakarta . Benefit. Vol 10 No 1 Juni 2006 Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi (Edisi 1).
Yogyakarta: Kanisius.
Tri Setyo, Wahyudi. 2016. Konsep dan Penerapan Ekonometrika Menggunakan Eviews.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Wahyusari, Ayu, 2013. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham Saat IPO di BEI. Accounting Analysis Journal, (online), 2(4):386-394.
(http://journal.unnes.ac.id), diakses 2 Februari 2018.
Wardani, Sinta dan Fitriati, Rahma. 2010. Analisis Komparasi Profitabilitas Sebelum dan Sesudah Penawaran umum Saham Perdana. Jurnal Ilmu Administrasi Dan Organisasi 17(2) : 90-100.
Welch, and Ritter.2002. A Review of IPO Activity, Pricing, and Allocations, The Journal of Finance, (online) 57 : 4, diakses 20 Agustus 2018
Widiatmodjo, Sawidji. 2006. Cara Sehat Investasi di Pasar Modal. Edisi Revisi. Jakarta:
PT.Gramedia.
Wiguna,I.N.G.H., & Yadnyana, K. 2015. Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Initial Return Pada Penawaran Saham Perdana. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, (online), 4.12: 921-946, diakses 5 Juni 2018.
Wijayanto, Andhi .2010. Analisis Pengaruh ROA, EPS, Financila Leverage, Proceed Terhadap Initial Return. Jurnal Dinamika Manajemen, (Online), 1(1): 68-78, (http://journal.unnes.ac.id), diakses 20 Februari 2018
Yadynyana, Ketut dan Gd, I Nandra Hary Wiguna. 2015. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Initial Return Pada Penawaran Saham Perdana, (Online), 4.12 : 921-946.
Zhou, Jin & Lao, Lon-Jun. 2012. Analysis of Influencing Factors of IPO Underpricing in Chinext. Physics Prodia, (online), 33 : 846-851. (https://doi.org/10.1016/j.phpro.) diakses 7 Februari 2018