• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh good corporate governance dan pengungkapan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh good corporate governance dan pengungkapan"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP NILAI PERUSAHAAN

DENGAN PROFITABILITAS SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (Studi pada Perusahaan Sub Sektor Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

periode 2013-2016)

Oleh:

Putri Maulida NIM 145020300111031

Dosen Pembimbing:

Putu Prima Wulandari, SE., MSA., Ak.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Good Corporate Governance (GCG) dan pengungkapan Corporate Social Responibility (CSR) baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap nilai perusahaan dengan menggunakan profitabilitas sebagai variabel intervening. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 8 perusahaan sub sektor bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2013 sampai 2016 dengan jumlah total obervasi 32. Metode penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling. Model analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Analisis jalur dan uji sobel dilakukan untuk menguji efek mediasi variabel intervening dalam model penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap profitabilitas, sedangkan GCG tidak berpengaruh terhadap profitabilitas. Hasil penelitian lainnya yaitu GCG dan profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, sedangkan pengungkapan CSR tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Profitabilitas memediasi secara penuh hubungan pengungkapan CSR terhadap nilai perusahaan. Sebaliknya, profitabilitas tidak memediasi pengaruh GCG terhadap nilai perusahaan.

Kata kunci: Good Corporate Governance, Corporate Social Responsibilty, Profitability, Corporate Value

1 PENDAHULUAN

Kasus manipulasi laporan keuangan pada perbankan tidak berhenti pada skandal besar yang menimpa Lippo Bank pada 2002 dan Bank Century pada 2009. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa terdapat 62 kasus pidana perbankan pada tahun 2013 dan 108 kasus pidana perbankan dalam kurun waktu 2014-2016. Dari total kasus tersebut, sebanyak 21% merupakan tindak rekayasa pencatatan dalam laporan keuangan

(2)

2

(ekonomi.kompas.com, 2016). Apabila kasus manipulasi terus terjadi tanpa adanya perbaikan, maka kepercayaan terhadap perusahaan akan menurun dan hal tersebut akan menurunkan nilai perusahaan dan bank dianggap gagal dalam memberikan kesejahteraan bagi pemegang saham. Nilai perusahaan yang rendah menunjukkan tidak adanya ketertarikan investor terhadap saham perusahaan. Hal tersebut berbahaya bagi bank mengingat bank memiliki kewajiban untuk menjaga kecukupan modalnya sebagai bentuk pengukuran terhadap kesehatan bank (Dendawijaya, 2003:144). Maka dari itu, maksimalisasi nilai perusahaan merupakan aspek yang krusial karena memberikan dampak yang besar bagi bank apabila tidak dilaksanakan.

Memaksimalkan nilai perusahaan merupakan salah satu tujuan dari perusahaan.

Nilai perusahaan yang tinggi menggambarkan kepercayaan investor terhadap perusahaan sehingga menarik minat calon investor untuk berinvestasi pada perusahaan (Susanto dan Subekti, 2011). Persepsi terhadap nilai perusahaan terus berubah dan tak lepas dari persepsi investor mengenai perusahaan yang dianggap bertanggung jawab, baik terhadap keadaan ekonomi, sosial, dan lingkungannya. Maka dari itu, faktor non- keuangan juga memberikan pengaruh terhadap nilai perusahaan, diantaranya adalah Good Corporate Governance (GCG) dan Corporate Social Responsibility (CSR).

Implementasi GCG dan pengungkapan atas CSR mencerminkan komitmen perusahaan terhadap kepentingan stakeholders dan merupakan bentuk tanggung jawab moril dari perusahaan. Pertanggungjawaban ini penting bagi perusahaan dalam rangka memperoleh legitimasi dan kepercayaan dari para pemangku kepentingan (Jamali, 2008). Dengan begitu, investor akan mempercayai bahwa perusahaan yang mengimplementasikan GCG dan mengungkapkan CSR memiliki prospek dan keberlanjutan yang lebih terjamin.

Faktor non keuangan belum cukup untuk dijadikan sebagai dasar utama dalam pengambilan keputusan oleh investor karena sifat informasinya yang berupa informasi kualitatif. Maka dari itu, pengambilan keputusan investasi terhadap suatu perusahaan membutuhkan informasi yang lengkap dan dapat dibandingkan secara jelas. Dalam hal ini, seringkali laba digunakan sebagai indikator utama karena dalam laba terdapat hak pemegang sebagai bentuk pengembalian investasinya (return). Kemampuan menghasilkan laba tersebut ditunjukkan dengan rasio profitabilitas. Profitabilitas

(3)

3

merupakan indikator untuk mengukur efektivitas keseluruhan manajemen perusahaan dan menunjukkan prospek sebuah perusahaan.

2 TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan menjelaskan bahwa terdapat hubungan keagenan dimana manajemen dipercaya oleh pemilik untuk mengelola perusahaan sehingga mampu menyejahterakan pemilik sebagai bentuk tujuan dari perusahaan. Dalam pelaksanaan kontrak tersebut dapat timbul masalah yang disebut dengan masalah keagenan atau agency problem, yang muncul karena adanya perbedaan kepentingan antara manajemen dengan pemilik perusahaan. Deegan dan Unerman (2006:248) menyatakan bahwa penyebab timbulnya masalah keagenan yaitu berdasarkan asumsi bahwa manusia memiliki sifat dasar yang oportunis dan mementingkan diri sendiri (self-interest). Selain itu, manajemen sebagai pengelola perusahaan mampu menimbulkan asimetri informasi (information asymetry), yaitu adanya. Dalam hal ini, Good Corporate Governance merupakan konsep yang digunakan untuk mengatasi masalah keagenan.

2.1.2 Teori Legitimasi (Legitimacy Theory)

Dalam teori legitimasi dinyatakan bahwa sebuah perusahaan secara terus- menerus mencoba untuk meyakinkan masyarakat bahwa aktivitasnya diterima oleh pihak luar, dengan memastikan bahwa kegiatan bisnisnya sesuai dengan batasan dan norma yang berada di masyarakat (Deegan dan Unerman, 2006:271). Dengan memenuhi kontrak sosial, maka keberlanjutan usaha perusahaan akan lebih terjamin karena operasi perusahaan telah sesuai dengan harapan masyarakat. Namun apabila perusahaan gagal dalam memenuhi kontrak sosial tersebut, maka akan dapat memunculkan ancaman bagi perusahaan, seperti pembatasan sumber daya, pemboikotan produk, hingga pencabutan izin usaha. Bentuk usaha dari sebuah perusahaan untuk memperoleh legitimasi dari masyarakat sekitar adalah dengan melakukan aktivitas tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility) kepada masyarakat.

2.1.3 Teori Sinyal (Signalling Theory)

Teori sinyal membahas tentang dorongan manajemen dalam memberikan informasi kepada investor, dengan maksud untuk mengurangi asimetri informasi diantara

(4)

4

manajemen dan investor (Fauziah, 2016). Informasi yang lebih baik mengenai perusahaan menjadi hal utama yang mendorong manajemen untuk memberikan sinyal tersebut kepada investor dengan harapan mampu menaikkan nilai perusahaan (Scott, 2012:475). Sinyal tersebut kemudian akan direaksi oleh pasar sebagai sinyal yang baik atau sinyal yang buruk. Reaksi pasar ditunjukan dengan berubahnya volume perdagangan saham. Jika informasi ditangkap oleh investor sebagai sinyal positif, investor akan tertarik untuk melakukan pembelian saham karena menganggap bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik di masa depan (Cecilia, et.al, 2015).

2.1.4 Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan merupakan suatu kondisi yang telah dicapai oleh perusahaan, menggambarkan seberapa besar kepercayaan masyarakat setelah melalui suatu proses selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan didirikan hingga saat ini (Sukirni, 2012).

Nilai perusahaan yang tinggi menggambarkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja perusahaan saat ini dan prospek perusahaan di masa depan (Stacia dan Juniarti, 2015).

Nilai perusahaan biasa dikaitkan dengan harga saham. Kesejahteraan pemegang saham dan perusahaan direpresentasikan oleh harga pasar dari saham yang mencerminkan keputusan investasi, pendanaan, dan manajamen aset perusahaan (Reny, 2012).

2.1.5 Good Corporate Governance

Definisi Corporate Governance menurut OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) adalah suatu sistem untuk mengarahkan dan mengendalikan perusahaan, menetapkan hak dan kewajiban untuk masing-masing pihak yang terlibat dalam perusahaan seperti manajer, dewan direksi, pemegang saham, karyawan, dan pemangku kepentingan yang lainnya (Sudana dan Arlindania, 2011).

Menurut Tjondro dan Wilopo (2011), terdapat dua faktor yang mampu mendorong perusahaan dalam mengimplementasikan GCG, yaitu berdasarkan etika (ethical driven) dan peraturan (regulatory driven). Dorongan dari etika berasal dari kesadaran individu para pelaku bisnis untuk menjalankan praktik bisnis yang mengutamakan kepentingan stakeholders, mengutamakan keberlanjutan hidup perusahaan dan menghindari cara yang hanya menciptakan keuntungan sesaat pagi perusahaan. Sedangkan dorongan dari peraturan cenderung memaksa perusahaan untuk patuh terhadap peraturan yang ditetapkan mengenai implementasi GCG dalam perusahaan.

(5)

5 2.1.6 Corporate Social Responsibility

CSR memiliki konsep yang disebut dengan “the tripple bottom line” yang mencakup konsep bisnis 3P (Profit, People, Plant) dan menggantikan konsep bisnis terdahulu, yaitu single P (Profit) (Lindawati dan Puspita, 2015). Pelaksanaan CSR penting dalam mencapai tujuan perusahaan karena dapat meningkatkan nilai perusahaan dan pengungkapannya dapat meningkatkan citra perusahaan citra perusahaan di mata masyarakat, terutama investor.

Menurut Wijayanti, et.al (2011), terdapat dua sifat pengungkapan, yaitu pengungkapan wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure). CSR merupakan bentuk dari pengungkapan yang bersifat sukarela karena pengukuran pengungkapan CSR belum terstandardisasi. Pengungkapan CSR menurut Gray, et.al (2001) adalah suatu penyediaan informasi yang dibuat untuk mengungkapkan akuntabilitas perusahaan kepada lingkungan melalui berbagai media seperti laporan tahunan maupun iklan yang berorientasi sosial.

2.1.7 Profitabilitas

Profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan tingkat penjualan, aset, dan ekuitasnya (Kamil dan Herusetya, 2012). Sudana dan Arlindania (2012) menyatakan bahwa rasio profitabilitas mengukur efektivitas dan kinerja perusahaan, yang pada akhirnya akan menunjukkan efisiensi perusahaan.

2.2 Rerangka Teoritis dan Pengembangan Hipotesis

2.2.1 Good Corporate Governance (GCG) terhadap Profitabilitas

Tobing, et.al (2013) menyatakan bahwa tata kelola perusahaan yang baik akan berpengaruh pada peningkatan kinerja perusahaan, baik dari sisi produktivitas maupun efisiensi dalam perusahaan. Mekanisme GCG menjadi salah satu cara dalam meminimalisir konflik kepentingan dalam perusahaan. Hal tersebut dikarenakan GCG memberikan pengaturan dan pengawasan terhadap praktik pengenyelenggaraan bisnis sehingga meminimalisir asimetri yang terdapat diantara manajemen dan pemilik, serta mencapai praktik bisnis sesuai peraturan yang telah ditetapkan secara sehat dan beretika. Praktik bisnis yang lancar dan sesuai rencana akan mempermudah perusahaan dalam mencapai tujuannya, yaitu untuk mencapai laba setinggi-tingginya. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis yang diuji adalah:

(6)

6

H1: GCG berpengaruh positif terhadap profitabilitas.

2.2.2 Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Profitabilitas Menurut Lindawati dan Puspita (2015), CSR memberikan manfaat bagi perusahaan yaitu meningkatkan citra positif di mata masyarakat. Dengan memperoleh citra yang baik, perusahaan akan mendapatkan legitimasi atau pengakuan dari masyarakat sehingga kegiatan bisnis perusahaan berjalan lancar. Perusahaan dapat melakukan kegiatan operasionalnya secara maksimal, sehingga akan berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan dalam mencapai peningkatan laba yang ditargetkan (Rahman dan Saraswati, 2016). Pada tahun 2001, Booth-Harris Trust Monitor melakukan survei terhadap perilaku konsumen terhadap citra produk suatu perusahaan. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas konsumen akan meninggalkan suatu produk yang mempunyai citra buruk atau diberitakan negatif (Almar, et.al, 2012). Dengan begitu, citra perusahaan yang baik akan mampu meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap produk yang ditawarkan oleh perusahaan, yang kemudian akan memberikan kontribusi dalam peningkatan laba. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis yang diuji adalah:

H2: Pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap profitabilitas.

2.2.3 Good Corporate Governance (GCG) terhadap Nilai Perusahaan

GCG menjadi sistem pengendali untuk agen yang cenderung mementingkan sendiri agar tidak melakukan tindakan yang menimbulkan konflik kepentingan seperti penghamburan dana investor, baik dalam bentuk investasi yang tidak layak maupun dalam bentuk shirking (Siallagan dan Machfoedz, 2006). Dengan begitu, GCG akan memberikan kepercayaan kepada investor atas kemampuan manajemen dalam mengelola kekayaan mereka yang kemudian dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Selain itu, GCG juga dipandang sebagai landasan untuk memberi sinyal kepada investor bahwa kualitas perusahaan yang baik dalam pasar saham dapat tercapai melalui praktik tata kelola yang baik (Subramaniam, et.al, 2009). Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis yang diuji adalah:

H3: GCG berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

2.2.4 Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Nilai Perusahaan

(7)

7

Menurut Hermawan dan Maf’ulah (2014), perusahaan akan mengungkapkan sebuah informasi apabila dapat meningkatkan nilai perusahaan. CSR menjadi landasan bagi perusahaan untuk memberikan sinyal bahwa perusahaan menjalankan bisnisnya secara bertanggung jawab kepada seluruh stakeholders. Maka dari itu, perusahaan perlu untuk melakukan pengungkapan informasi kegiatan CSR nya agar stakeholders mengetahui kegiatan CSR yang dilakukan. Kepercayaan dari masyarakat akan muncul seiring dengan diketahuinya informasi mengenai implementasi CSR, yang kemudian akan meningkatkan nilai perusahaan karena dengan begitu investor meyakini keberlanjutan perusahaan yang mendapatkan legitimasi dari lingkungan sekitarnya. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis yang diuji adalah:

H4: Pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

2.2.5 Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Rasio profitabiltas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan pengelolaannya terhadap sumber daya perusahaan yang dimiliki, seperti aset dan ekuitas (Kamil dan Herusetya, 2012). Rasio ROE menunjukkan efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan ekuitas (shareholder’s equity) yang dimiliki untuk menghasilkan laba atau keuntungan bersih (Wardoyo dan Veronica, 2013). Hermuningsih (2013) menyatakan nilai profitabilitas yang semakin tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang semakin baik. Hal ini ditangkap oleh investor sebagai sinyal positif dari perusahaan sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor serta akan mempermudah manajemen perusahaan untuk meletakkan modal dalam bentuk saham. Apabila permintaan saham suatu perusahaan meningkat, maka harga saham tersebut di pasar modal juga akan ikut naik. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis yang diuji adalah:

H5: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

2.2.6 Good Corporate Governance (GCG) terhadap Nilai Perusahaan melalui Profitabilitas

GCG merupakan mekanisme yang mengandung struktur pengelolaan yang dibuat untuk mengawasi tindakan manajemen agar bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Adanya pengawasan dalam perusahaan akan dapat mendorong manajer untuk selalu menunjukkan kinerja yang baik dalam meningkatkan kinerja keuangan yang salah satunya diukur dengan profitabilitas (Khairiyani, et.al, 2016).

(8)

8

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Nilai profitabilitas yang tinggi menujukkan efektivitas dan efisiensi kinerja perusahaan (Sudana dan Arlindania, 2012). Sehingga, nilai profitabilitas yang tinggi akan memberikan kepercayaan kepada investor atas kinerja perusahaan yang kemudian akan menarik mereka untuk menanamkan modalnya pada perusahaan. Berdasarkan pemaparan teori, maka hipotesis yang diuji adalah:

H6: Profitabilitas mampu memediasi hubungan GCG terhadap nilai perusahaan.

2.2.7 Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Nilai Perusahaan melalui Profitabilitas

Patten (1991) menyatakan bahwa dalam teori legitimasi, CSR merupakan alat untuk membentuk, mempertahankan, dan memperbaiki legitimasi perusahaan dan dapat mengurangi paparan dan tekanan ekonomi, sosial, dan politik dari masyarakat yang menjadi stakeholders perusahaan. Implementasi CSR akan membuat perusahaan didukung keberadaannya, sehingga aktivitas bisnis perusahaan menjadi lancar.

Pengungkapan atas CSR kemudian akan direspon positif oleh masyarakat sehingga memberikan manfaat bagi perusahaan, berupa peningkatan penjualan dan penurunan biaya operasi, yang kemudian akan meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor dan meningkatkan nilai perusahaan (Said, 2009). Berdasarkan pemaparan teori, maka hipotesis yang diuji adalah:

H7: Profitabilitas mampu memediasi pengaruh Pengungkapan CSR terhadap nilai perusahaan.

3 METODE PENELITIAN

3.1 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan sub sektor bank yang terdafatar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2013 hingga tahun 2016. Sampel dalam penelitian ini diperoleh menggunakan metode purposive sampling. Sampel penelitin terdiri dari 8 perusahaan dengan periode 4 tahun sehingga jumlah data dalam penelitian adalah 32.

Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa Laporan Keuangan Tahunan, Laporan Tahunan, dan Laporan Keberlanjutan yang diperoleh dari situs resmi Bursa Efek Indonesia yaitu idx.co.id dan situs resmi perusahaan yang bersangkutan.

(9)

9

3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 3.2.1 Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai perusahaan. Nilai perusahaan

dalam penelitian ini diukur dengan meggunakan rasio Price to Book Value (PBV).

Berikut ini merupakan rumus dari rasio PBV menurut Ross, et.al (2009:93):

𝑃𝑟𝑖𝑐𝑒 𝑡𝑜 𝐵𝑜𝑜𝑘 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 =Harga Pasar per Lembar Saham Nilai Buku per Lembar Saham 3.2.2 Variabel Independen

3.2.2.1 Good Corporate Governance (GCG)

Pengukuran GCG dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan nilai komposit self assessment menurut Bank Indonesia berdasar pada Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 pasal 65 perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum yang kemudian dilakukan penyempurnaan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/15/DPNP tanggal 29 April 2013. Perlu dilakukan reverse terhadap nilai komposit agar sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan, mengingat bahwa nilai komposit menunjukkan bahwa semakin kecil nilainya maka semakin baik penerapan GCG, maka (Tjondro dan Wilopo, 2011).

Reverse nilai komposit dilakukan dengan rumus berikut:

𝑅𝑒𝑣𝑒𝑟𝑠𝑒 Nilai Komposit = 6 − Nilai Komposit GCG 3.2.2.2 Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR)

Dalam penelitian ini, variabel CSR diukur menggunakan indeks pengungkapan berdasarkan Global Reporting Initiative (GRI) G3.1 dan GRI G4 tergantung dari standar pengungkapan yang digunakan oleh perusahaan pada tahun yang bersangkutan.

Indeks pengungkapan yang digunakan terdiri dari indeks umum, khusus, dan indeks sektoral jasa keuangan. Penghitungan indeks dilakukan menggunakan pendekatan dikotomi, yaitu untuk setiap item pengungkapan CSR dalam instrumen penelitian diberi nilai 1 apabila diungkapkan, dan nilai 0 apabila tidak diungkapkan. Kemudian skor dari setiap item dijumlahkan untuk memperoleh keseluruhan skor untuk setiap perusahaan.

Rumus yang digunakan dalam perhitungan adalah sebagai berikut:...

CSRDIij= ∑ Xij Nj

(10)

10 Keterangan:

CSDRIij :Corporate Social Responsibility Disclosure Index perusahaan j

tahun i

Nj :Jumlah item untuk perusahaan j

ΣXij :Jumlah item yang diungkapkan oleh perusahaan j untuk tahun i 3.2.3 Variabel Intervening

Variabel intervening dalam penelitian ini adalah profitabilitas yang diproksikan dengan rasio Return On Rquity (ROE). Persamaan untuk mengukur ROE berdasarakan Ross, et.al (2009:90) adalah sebagai berikut:

ROE = Laba Bersih

Total Ekuitas x 100%

3.3 Uji Hipotesis

3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda

Metode analisis dengan model regresi sederhana digunakan untuk menguji pengaruh langsung variabel, yaitu H1 hingga H5. Terdapat dua model regresi berganda dalam penelitian ini. Persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. M = α + β1X1 + β2X2 + ε1

2. Y = α + β3X1 + β4X2 + β5M + ε2 Keterangan:

M = Profitabilitas (Return On Equity) Y = Nilai Perusahaan (Tobin’s Q) X1 = Good Corporate Governance

X2 = Pengungkapan Corporate Social Responsibility

α = Konstanta

ß1, ß 2, ß 3, ß45 = Koefisien Regresi ɛ1, ε2, ε3, ε4, ε5 = Error

3.3.2 Analisis Jalur dan Uji Sobel

Analisis jalur dan uji Sobel digunakan untuk menguji pengaruh variabel intervening dalam memediasi variabel independen terhadap variabel dependen pada hipotesis 6 dan 7. Analisis jalur hanya digunakan untuk menentukan pola hubungan antara tiga atau lebih variabel berdasarkan koefisien regresi dan signifikansi jalur. Kemudian, untuk

(11)

11

menguji signifikansi H6 dan H7 digunakan uji Sobel. Berikut ini ditampilkan model analisis jalur hipotesis 6 dan hipotesis 7:

Gambar 3.1

Model Struktur Analisis Jalur Hipotesis 6 (Model Mediasi I)

(Sumber: Data diolah)

Gambar 3.2

Model Struktur Analisis Jalur Hipotesis 7 (Model Mediasi II)

(Sumber: Data diolah)

4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif

Berikut adalah tabel hasil olahan data mengenai statistik deskriptif, dapat dilihat pada Tabel 4.1:

Tabel 4.1

Hasil Analisis Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

GCG 32 3.00000 5.00000 4.1637500 .49587817

CSRD 32 .28916 .86260 .4608606 .13337356

Profitabilitas 32 2.99000 34.11000 17.8028125 7.37607433

Nilai_Perus 32 .51618 2.91202 1.1549047 .50777095

Valid N (listwise) 32

(Sumber: Data diolah)

GCG (X1)

Profitabilitas (M)

Nilai Perusahaan (Y)

e1 e2

c1 a1

b

Pengungkapan CSR (X2)

Profitabilitas (M)

Nilai Perusahaan (Y)

e1 e2

c2

a2

b

(12)

12

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa variabel GCG memiliki nilai minimum dan maksimum sebesar 3 dan 5, serta nilai rata-rata sebesar 4,164. Sedangkan standar deviasi pada variabel GCG adalah sebesar 0,496. Variabel CSR memiliki rata- rata nilai sebesar 0,461 dengan nilai minimal dan maksimal sebesar 0,289 dan 0,862.

Standar deviasi pada variabel CSR adalah sebesar 0,133. Variabel profitabilitas memiliki standar deviasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 7,376, dengan nilai minimum dan maksimum variabel yaitu 2,99 dan 34,11. Rata-rata nilai profitabilitas untuk perusahaan sampel cukup tinggi, yaitu 17,80. Kemudian pada variabel nilai perusahaan memiliki standar deviasi sebesar 0,508 dengan nilai minimum sebesar 0,516 dan nilai maksimum sebesar 2,912. Pada variabel nilai perusahaan yang diukur dengan rasio PBV memiliki nilai rata-rata sebesar 1,155.

4.2 Uji Asumsi Klasik 4.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Uji One Sample Kolmogorov- Smirnov yaitu sebagai berikut (Tabel 4.2):

Tabel 4.2

Uji Normalitas One-Sample Kolmogorof-Smirnov

Persamaan Nilai z Sig. Kesimpulan

1 0,468 0,981 Normalitas terpenuhi

2 0,800 0,544 Normalitas terpenuhi

(Sumber: Data diolah)

Berdasarkan tabel 4.2, besarnya nilai kolmogorov-smirnov Z masing-masing adalah sebesar 0,468 dan 0,800. Sedangkan nilai signifikansinya sebesar 0,981 untuk persamaan 1 dan 0,544 untuk persamaan 2. Kedua model persamaan regresi memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa residual persamaan 1 dan persamaan 2 berdistribusi normal.

4.2.2 Uji Multikolinieritas

Berikut merupakan hasil pengujian multikolonieritas (Tabel 4.3):

(13)

13 Tabel 4.3

Hasil Pengujian Multikolonieritas

Persamaan Variabel Tolerance VIF Kesimpulan

1 GCG 0,988 1,012 Tidak terjadi multikolinieritas CSR 0,988 1,012 Tidak terjadi multikolinieritas 2 GCG 0,929 1,077 Tidak terjadi multikolinieritas CSR 0,749 1,335 Tidak terjadi multikolinieritas Profitabilitas 0,737 1,356 Tidak terjadi multikolinieritas (Sumber: Data diolah)

Berdasarkan hasil pengujian multikolonieritas di atas, dapat dilihat bahwa seluruh variabel dari kedua persamaan memiliki nilai Tolerance lebih dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari 10. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas pada kedua persamaan regresi.

4.2.3 Uji Heteroskedastisitas

Berikut ini merupakan hasil pengujian Glejser untuk persamaan 1 dan persamaan 2 (Tabel 4.4):

Tabel 4.4

Uji Heterokedastisitas dengan Uji Glejser

Persamaan Variabel Sig. (RES2) Kesimpulan

1 GCG 0,099 Tidak terjadi heteroskedastisitas CSR 0,951 Tidak terjadi heteroskedastisitas 2 GCG 0,622 Tidak terjadi heteroskedastisitas CSR 0,528 Tidak terjadi heteroskedastisitas Profitabilitas 0,055 Tidak terjadi heteroskedastisitas (Sumber: Data diolah)

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel di atas, seluruh variabel pada masing- masing persamaan regresi memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05. Hal tersebut berarti bahwa variabel independen tidak berpengaruh terhadap absolut residual. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada kedua model regresi.

4.2.4 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Durbin-Watson Test.

Berikut merupakan hasil uji autokorelasi (Tabel 4.5):

Tabel 4.5

Uji Autokorelasi dengan Durbin-Watson Test

Persamaan Durbin-Watson du (DW-Table) 4-du Kesimpulan

1 1,572 1,5019 2,4981 Bebas autokorelasi

2 1,667 1,5736 2,4264 Bebas autokorelasi

(Sumber: Data diolah)

(14)

14

Berdasarkan tabel 4.5, diperoleh hasil bahwa kedua persamaan memenuhi syarat

tidak terjadi autokorelasi, yaitu apabila du < d < 4-du.

4.3 Uji Hipotesis

4.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda 4.3.1.1 Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (Tabel 4.6):

Tabel 4.6 Koefisien Determinasi

Persamaan Adjusted R-Square

1 0,212

2 0,499

(Sumber: Data diolah)

Nilai Adjusted R Square persamaan pertama adalah sebesar 0,212. Hal ini berarti bahwa sebesar 21,2% perubahan yang terjadi pada profitabilitas dapat dijelaskan oleh GCG dan CSR. Sedangkan sisanya sebesar 78,8% dipengaruhi oleh sebab-sebab lain di luar model regresi. Pada persamaan kedua, nilai Adjusted R Square adalah sebesar 0,499 yang berarti bahwa sebesar 49,9% perubahan yang terjadi pada nilai perusahaan dapat dijelaskan oleh GCG ,CSR, dan profitabilitas. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 40,1%

dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian.

4.3.1.2 Uji F

Berikut merupakan hasil uji F untuk persamaan regresi pertama (Tabel 4.7):

Tabel 4.7 Hasil Uji F

Persamaan Sig. (ANOVA)

1 0,012

2 0,000

(Sumber: Data diolah)

Dari tabel 4.7 di atas dapat dilihat bahwa uji F persamaan 1 dan persamaan 2 memperoleh nilai yang siginifian. Hal tersebut mengartikan bahwa pada persamaan 1, variabel GCG dan CSR secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Sedangkan pada persamaan 2, variabel GCG, CSR, dan profitabilitas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

(15)

15 4.3.1.3 Uji t

Berikut merupakan tabel hasil uji t persamaan pertama (Tabel 4.8):

Tabel 4.8 Hasil Uji t

Persamaan Variabel Koefisien B Sig. Hasil

1 Konstanta -8,167

GCG 3,250 0,184 Tidak berpengaruh

CSR 26,986 0,005 Berpengaruh positif

2 Konstanta -1,352

GCG 0,420 0,004 Berpengaruh positif

CSR 0,239 0,672 Tidak berpengaruh

Profitabilitas 0,036 0,001 Berpengaruh positif (Sumber: Data diolah)

Berdasarkan hasil pengolahan pada tabel 4.8, diperoleh persamaan regresi linier sebagai berikut:

1. M = -8,167 + 3,250X1 + 26,986X2 + ɛ1

2. Y = -1,352 + 0,420X1 + 0,239X2 + 0,03M + ɛ2 Keterangan:

Y = Nilai Perusahaan M = Profitabilitas

X1 = Good Corporate Governance (GCG)

X2 = Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) Berdasarkan persamaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Variabel GCG memiliki nilai koefisien regresi positif sebesar 3,250. Secara statistik variabel GCG ini tidak signifikan karena memiliki nilai signifikansi lebih besar daripada 0,05 yaitu sebesar 0,184. Dengan demikian, hipotesis pertama yang menyatakan bahwa GCG berpengaruh positif terhadap profitabilitas ditolak (H1

ditolak).

2. Variabel CSR memiliki nilai koefisien regresi positif sebesar 26,986. Secara statistik variabel CSR ini signifikan karena memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,05 yaitu sebesar 0,005. Dengan begitu, hipotesis kedua yang menyatakan bahwa CSR berpengaruh positif terhadap profitabilitas diterima (H2 diterima).

3. Variabel GCG memiliki nilai koefisien regresi positif sebesar 0,420. Secara statistik variabel GCG ini signifikan karena memiliki nilai signifikansi lebih kecil daripada

(16)

16

0,05 yaitu sebesar 0,004. Dengan demikian, hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa GCG berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan diterima (H3 diterima).

4. Variabel CSR memiliki nilai koefisien regresi positif sebesar 0,239. Secara statistik variabel CSR ini tidak signifikan karena memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05 yaitu sebesar 0,672. Dengan begitu, hipotesis keempat yang menyatakan bahwa CSR berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan ditolak (H4 ditolak).

5. Variabel profitabilitas memiliki nilai koefisien regresi positif sebesar 0,036. Secara statistik variabel profitabilitas ini signifikan karena nilai signifikansinya kurang dari 0,05 yaitu sebesar 0,001. Maka dari itu, hipotesis kelima yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan diterima (H5 diterima).

4.3.2 Analisis Jalur dan Uji Sobel

Berikut merupakan rangkuman koefisien jalur yang diperoleh dari hasil analisis regresi linier berganda (Gambar 4.1 dan Gambar 4.2):

Gambar 4.1

Ikhtisar Koefisien Jalur Model Mediasi I

(Sumber: Data diolah)

Gambar 4.2

Ikhtisar Koefisien Jalur Model Mediasi II

(Sumber: Data diolah)

Keterangan:

S = Signifikan TS = Tidak Signifikan

GCG (X1)

Profitabilitas (M)

Nilai Perusahaan (Y)

0,858

0,673

Pengungkapan CSR (X2)

Profitabilitas (M)

Nilai Perusahaan (Y)

0,858

0,673 b = 0,036 (S)

b = 0,036 (S) c1 = 0,420 (S)

a1 = 3,250 (TS)

a2 = 26,986 (S)

c2 = 0,239 (TS)

(17)

17

Berdasarkan nilai koefisien jalur pada gambar 4.5 dapat dilihat bahwa pada model mediasi I, pengaruh variabel GCG terhadap nilai perusahaan tidak signifikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa profitabilitas tidak menjadi variabel intervening dalam hubungan GCG terhadap nilai perusahaan (H6 ditolak). Selanjutnya, terhadap model mediasi II dilakukan uji Sobel untuk mengetahui signifikansi pengaruh tidak langsung pada model. Penghitungan Sobel test dalam penelitian ini menggunakan Online Sobel Calculator oleh Preacher (2018). Berikut merupakan hasil perhitungan uji Sobel (Tabel 4.9):

Tabel 4.9

Hasil Uji Sobel Model Mediasi II

a b SEa SEb t-statistik Std. Error P-value 26,986 0,036 8,872 0,010 2,162 0,399 0,030 (Sumber: Data diolah)

Berdasarkan data pada tabel 4.9 di atas dapat dilihat bahwa model mediasi kedua memperoleh hasil p-value yang signifikan terhadap 0,05 yaitu 0,03. Hal tersebut berarti bahwa profitabilitas menjadi variabel intervening dalam pengaruh pengungkapan CSR terhadap nilai perusahaan. Efek mediasi pada model merupakan full mediation atau mediasi penuh, karena pengaruh langsung pengungkapan CSR terhadap nilai perusahaan tidak signifikan. Dengan begitu, hipotesis yang menyatakan bahwa profitabilitas menjadi variabel intervening pada pengaruh CSR terhadap nilai perusahaan diterima (H7 diterima).

(1) Koefisien Determinasi Total Analisis Jalur

Berikut merupakan tabel perhitungan koefisien determinasi total dalam model analisis jalur (Tabel 4.10):

Tabel 4.10

Koefisien Determinasi Total Analisis Jalur

Persamaan R-Square Error R2m

1 0,263 0,858 (e1)a 0,666c

2 0,547 0,673 (e2)b

Keterangan:

a) √1 − 0,263 = 0,858 b) √1 − 0,547 = 0,673

c) 1 − (0,858)2(0,673)2= 0,666 (Sumber: Data diolah)

Berdasarkan data pada tabel 4.10, dapat dilihat bahwa koefisien determinasi total model adalah sebesar 0,676. Hal tersebut berarti bahwa sebesar 66,6% keragaman data

(18)

18

dapat dijelaskan oleh model. Sedangkan sisanya sebesar 33,4% dijelaskan oleh variabel lain di luar model dan error.

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian

4.4.1 Pengaruh Good Corporate Governance (GCG) terhadap Profitabilitas

Hasil penelitian menyatakan bahwa GCG yang diproksikan dengan nilai komposit self assessment tidak berpengaruh terhadap profitabilitas. Hal tersebut bisa terjadi karena kewajiban untuk melakukan self assessment dilaksanakan semata-mata sebagai bentuk kepatuhan terhadap peraturan, tanpa menyadari kebutuhan akan pelaksanaan GCG (Risqiyah, et.al, 2014). Sehingga nilai komposit yang diperoleh sebagai hasil self assessment belum tentu menginterpretasikan secara akurat implementasi GCG dalam perusahaan. Dengan demikian, pencapaian produktivitas dan efisiensi operasional perusahaan yang dimaksud juga tidak diinterpretasikan secara tepat oleh self assessment sehingga laba yang ditargetkan juga belum tentu tercapai. Dengan begitu, self assessment GCG tidak memberikan pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan yang diukur dengan ROE.

4.4.2 Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Profitabilitas

Semakin baik pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan akan memberikan pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Hal tersebut dikarenakan pihak eksternal memandang baik segala bentuk pengungkapan pertanggungjawaban sosial (Rahman, 2016). Berdasarkan teori legitimasi, perusahaan yang melakukan pertanggungjawaban sosial akan memperoleh legitimasi atau pengakuan dari masyarakat. Hal tersebut dikarenakan perusahaan telah menjalankan proses bisnisnya secara sesuai dengan nilai- nilai yang ada pada masyarakat beserta lingkungan sekitarnya. Semakin banyak informasi yang diungkapkan, akan menimbulkan citra positif bahwa perusahaan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Citra positif secara tidak langsung menjadi bentuk pemasaran perusahaan terhadap pihak eksternal yang kemudian ikut meningkatkan pendapatan perusahaan. Sehingga, semakin tinggi pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan akan memberikan dampak peningkatan laba yang akhirnya akan meningkatkan profitabilitas perusahaan yang diukur dengan ROE.

4.4.3 Pengaruh Good Corporate Governance (GCG) terhadap Nilai Perusahaan

(19)

19

Semakin tinggi nilai komposit self assessment GCG mencerminkan semakin baiknya implementasi GCG. Tingginya nilai self assessment GCG diterima oleh investor sebagai sinyal positif bahwa perusahaan memiliki kualitas dan prospek yang baik. Hal tersebut dikarenakan GCG mampu menjadi mekanisme dalam meminimalisir kemungkinan terjadinya konflik kepentingan yang akan merugikan pemegang saham.

Optimalnya implementasi GCG memberikan keyakinan kepada investor bahwa perusahaan menggunakan dana yang diinvestasikan untuk mencapai tujuan perusahaan, yakni untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham (Khairiyani, et.al, 2016).

Dengan begitu, pada akhirnya investor akan tertarik untuk melakukan pembelian saham (Cecilia, et.al, 2015). Semakin tinggi permintaan saham akan meningkatkan harga saham, sehingga nilai perusahaan juga ikut meningkat.

4.4.4 Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Nilai Perusahaan

Tidak adanya pengaruh pengungkapan CSR terhadap nilai perusahaan disebabkan karena investor tidak begitu mempertimbangkan pengungkapan CSR dalam keputusan investasinya. Liu dan Zhang (2016) menyatakan bahwa CSR menjadi strategi jangka panjang yang digunakan perusahaan sebagai upaya mempertahanakan keberlangsungan perusahaan melalui perolehan legitimasi dari masyarakat, sehingga informasi pengungkapan CSR juga akan memberikan manfaat yang signifikan dalam jangka panjang. Namun investor di Indonesia cenderung melakukan jual beli saham secara harian tanpa memerhatikan keberlangsungan perusahaan jangka panjang (Cecilia, et.al, 2015). Dengan begitu, berapapun jumlah informasi dalam pengungkapan CSR dianggap tidak memberikan pengaruh secara langsung terhadap kesejahteraan pemegang saham.

Sinyal dari pengungkapan CSR kurang kuat untuk kemudian direspon oleh invstor secara positif dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut, sehingga harga saham tidak akan berubah secara signifikan. Dengan begitu, pengungkapan CSR tidak memberikan pengaruh pada nilai perusahaan yang diukur dengan PBV.

4.4.5 Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Nilai ROE yang tinggi mencerminkan bahwa perusahaan mampu mengelola dana yang berasal dari pemegang saham secara efektif untuk menciptakan laba yang tinggi.

Efisiensi pengelolaan dana oleh manajemen akan meningkatkan kepercayaan investor

(20)

20

terhadap perusahaan bahwa dana yang ditanamkan pada perusahaan tersebut akan memberikan return atau pengembalian yang sesuai harapan. (Hermuningsih, 2015). Hal tersebut direspon sebagai sinyal positif oleh investor sehingga meningkatkan minat investor untuk memiliki saham perusahaan. Tingginya permintaan saham perusahaan akan memicu naiknya harga saham. Di sisi lain, peningkatan nilai perusahaan yang diukur oleh PBV bisa terjadi karena meningkatnya harga saham. Dengan begitu, meningkatnya nilai ROE juga akan memengaruhi peningkatan nilai PBV.

4.4.6 Pengaruh Mediasi Profitabilitas pada Pengaruh Good Corporate Governance (GCG) terhadap Nilai Perusahaan

Implementasi GCG yang diukur dengan nilai self assessment GCG telah mampu direspon secara langsung oleh investor sehingga memengaruhi nilai perusahaan. GCG menjadi mekanisme yang mampu meminimalisir konflik kepentingan antara agen dan principal melalui pengawasan kinerja manajemen dan menjamin akuntabilitas manajemen terhadap stakeholders berdasarkan peraturan yang ada (Nasution dan Setiawan, 2007). Dengan begitu, tingginya nilai reverse komposit self assessment GCG mencerminkan optimalnya implementasi GCG sehingga mampu menanggulangi konflik agensi. Hal tersebut memberikan kepercayaan pada investor bahwa manajemen perusahaan tidak melakukan pelanggaran kontak agensi berupa penyalahgunaan peran dalam mengelola perusahaan. Dengan begitu ketertarikan investor pada saham perusahaan meningkat, kemudian meningkatkan harga saham, dan pada akhirnya mampu meningkatkan PBV sebagai pengukur nilai perusahaan

Selain itu, informasi nilai self assessment GCG yang diungkapkan ditangkap sebagai sinyal positif oleh investor untuk kemudian digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Subramaniam, et.al (2009) yang menyatakan bahwa perusahaan menjadikan GCG sebagai landasan untuk memberikan sinyal bahwa perusahaan memiliki kualitas yang baik melalui implementasi GCG. Maka dari itu, tidak diperlukan profitabilitas sebagai variabel intervening untuk menjelaskan pengaruh GCG terhadap nilai perusahaan.

4.4.7 Pengaruh Mediasi Profitabilitas pada Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Nilai Perusahaan

Pengungkapan CSR belum mampu memengaruhi pasar atau investor secara langsung, karena pasar memerlukan waktu untuk merespon pengungkapan CSR

(21)

21

perusahaan tersebut (Ardiyanto dan Haryanto, 2017). Menurut Liu dan Zhang (2016), pengungkapan CSR memberikan manfaat yang signifikan dalam jangka panjang, namun investor Indonesia yang cenderung melakukan jual beli saham harian kurang memperhatikan keberlangsungan jangka panjang perusahaan yang mampu diinterpretasikan melalui pengungkapan CSR. Dengan demikian, diperlukan profitabilitas sebagai variabel intervening untuk menjelaskan pengaruh pengungkapan CSR terhadap nilai perusahaan.

Semakin tinggi pengungkapan CSR maka perusahaan akan semakin dipandang bertanggung jawab, sehingga memperoleh legitimasi dari masyarakat. Dengan begitu, citra perusahaan di mata masyarakat menjadi semakin baik yang kemudian mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan laba perusahaan. Hal tersebut dikarenakan konsumen lebih memilih produk yang memiliki citra yang baik dan meninggalkan produk yang diberitakan buruk (Sitorus dan Mangoting, 2014). Meningkatnya profitabilitas yang diukur dengan ROE menjadi penarik minat investor untuk berinvestasi pada perusahaan karena mempercayai prospek dan kemampuan perusahaan dalam mengelola dana yang diberikan untuk menghasilkan laba. Tingginya permintaan akan saham kemudian akan meningkatkan harga saham, dan pada akhirnya nilai PBV juga akan ikut meningkat.

5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. GCG tidak berpengaruh terhadap profitabilitas.

2. Pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap profitabilitas.

3. GCG berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

4. Pengungkapan CSR tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

5. Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

6. Profitabilitas tidak menjadi variabel intervening dalam hubungan GCG terhadap nilai perusahaan

7. Profitabilitas memediasi secara penuh pengaruh pengungkapan CSR terhadap nilai perusahaan.

8. GCG dan pengungkapan CSR secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.

(22)

22

9. GCG, pengungkapan CSR, dan profitabilitas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

5.2 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan yang terdapat dalam penelitian ini adalah sedikitnya perusahaan perbankan yang mempublikasikan Laporan Keberlanjutan secara konsisten dalam periode 2013-2016 sehingga sampel perusahaan yang diperoleh tidak banyak.

5.3 Saran untuk Penelitian Berikutnya

Penelitian berikutnya diharapkan dapat menambah rentang waktu penelitian dan menambah sektor perusahaan dalam penelitian selain bank. Dengan begitu sampel penelitian yang diperoleh akan lebih banyak dan hasil penelitian akan lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Almar, M., Rachmawati, R., dan Murni, Asfia. (2012). Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Profitabilitas Perusahaan.

Proceedings. Seminar Nasional Akuntansi dan Bisnis.

Ardiyanto, Taufan dan Haryanto. (2017). Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan Sebagai Variabel Intervening. Diponegoro Journal Of Accounting, Vol. 6, No. 4, Hal. 1-15.

Cecilia, R., Syahrul, dan Torong, M. (2015). Analisis Pengaruh Corporate Social Responsibility, Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Perkebunan yang Go Public di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Prosiding Simposium Nasional Akuntansi XVIII.

Dendawijaya, Lukman. (2003). Manajemen Perbankan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Deegan, Craig dan Unerman, Jeffrey. (2006). Financial Accounting Theory European Edition. New York:The McGraw-Hill Education (UK).

Fauziah, Gusfarini. (2016). Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan pada Indeks Saham LQ45. Tesis. Institut Pertanian Bogor.

Gray, R., Javad, M., Power, D. M., dan Sinclair, C. Donald. (2001). Social and Environmental Disclosure and Corporate Characteristics: A Research Note and Extension. Journal of Business Finance & Accounting, Vol. 28, No. 3&4, Hal. 327- 356. Blackwell.

(23)

23

Hermawan, Sigit dan Maf’ulah, Afiyah Nurul. (2014). Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Nilai Perusahaan dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility sebagai Variabel Pemoderasi. Jurnal Dinamika Akuntansi, Vol. 6, No. 2, Hal. 103- 118.

Hermuningsih, Sri. (2013). Pengaruh Profitabilitas, Growth Opportunity, Sruktur Modal terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Publik di Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2013, Hal. 127-148.

Jamali, D., Safieddine, dan Rabbath, M. (2008). Corporate Governance and Corporate Social Responsibility Synergies and Interrelationships. Journal Compilation, Vol 16. No. 5. Blackwell Publishing Ltd.

Kamil, Ahmad dan Herusetya, Antonius. (2012). Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Luas Pengungkapan Kegiatan Corporate Social Responsibility. Media Riset Akuntansi, Vol. 2, No. 1.

Khairiyani, N. H. dan Rahayu, S. (2016). Pengaruh Struktur Kepemilikan dan Struktur Pengelolaan terhadap Kinerja Keuangan serta Implikasinya terhadap Nilai Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi XIX.

Lindawati, Ang Swat Lin dan Puspita, Maesella Eka Puspita. (2015). Corporate Social Responsibility: Implikasi Stakeholder dan Legitimacy Gap dalam Peningkatan Kinerja Perusahaan. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Vol. 6, No. 1, Hal. 157- 174.

Liu, Xang dan Zhang, Chen. (2017). Corporate Governance, Social Responsibility Information Disclosure, and Enterprise Value in China. Journal of Cleaner Production, No. 142, Hal. 1075-1084. Elsevier.

Patten, Dennis M. (1991). Exposure, Legitimacy, and Social Disclosure. Journal of Accounting and Public Policy, No.10, Hal. 297-308. Elsevier.

Rahman, Raka dan Saraswati, Erwin. (2016). Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Kinerja Keuangan, Nilai, dan Tingkat Leverage Perusahaan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB UB, Vol 4, No. 2.

Reny, D. R. (2012). Pengaruh Good Corporate Governance Dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2010). Skripsi.

Universitas Negeri Yogyakarta.

Ross, Westefield, dan Jordan. (2009). Pengantar Keuangan Perusahaan. Jakarta:

Salemba Empat.

Risqiyah, R., Miqdad, M., dan Kartika. (2014). Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan pada Industri Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Artikel Ilmiah Mahasiswa, Hal.1-6.

Said, R,, Yuserrie, Hj Z., dan Haron, H. (2009). The Relationship between Corporate Social Responsibility and Corporate Governance Characteristics in Malaysian Public Listed Companies. Social Responsibility Journal, Vol. 5, No.2, Hal. 212- 216. Emerald.

Scott, W. R. (2000). Financial Accounting Theory Second Edition. USA: Prentice-Hall Canada Inc.

Siallagan, Hamonangan dan Machfoedz, Mas’ud. (2006). Mekanisme Corporate Governance, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang.

(24)

24

Sitorus, Grace Christy T. S. dan Mangoting, Yenni. (2014). Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Profit Perusahaan Consumer Goods di Indonesia Tahun 2010-2012, Tax and Accounting Review, Vol. 4, No. 1.

Stacia, Evelyn dan Juniarti. (2015). Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan di Sektor Pertambangan, Business Accounting Review, Vol. 3, No. 2, Hal. 81-90.

Subramaniam, N., McManus, L., dan Zhang, J. (2009). Corporate Governance, Firm Characteristics, and Risk Management Committee Formation in Australia Companies. Managerial Auditing Journal, Vol. 24, No. 4, Hal. 316-339. Emerald Insight.

Sudana, I Made dan Arlindania, Putu Ayu. (2011). Corporate Governance dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility pada Perusahaan Go-Public di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan, Vol. 4, No. 1, Hal.

37-49.

Sukirni, Dwi. (2012). Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Kebijakan Deviden dan Kebijakan Hutang Analisis terhadap Nilai Perusahaan. Accounting Analysis Journal, Vol. 1, No.2.

Suryowati, Estu. (2016). Tindak Pidana Perbankan Tambah Banyak, OJK Tingkatkan

Edukasi, (Online),

(http://ekonomi.kompas.com/read/2016/11/14/103239626/tindak.pidana.perbankan.

tambah.banyak.ojk.tingkatkan.edukasi. Diakses pada 5 Januari 2018).

Susanto, Priyatna Bagus dan Subekti, Imam. (2012). Pengaruh Corporate Social Responsibility Dan Good Corporate Governance terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis,Vol. 1, No. 2.

Tobing, A., Arkeman, Y., Sanim, B., dan Nuryartono, R. Nunung. (2013). Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance terhadap Tingkat Kesehatan dan Daya Saing di Perbankan Indonesia. Jurnal Manajemen Teknologi, Vol.12, No.3, Hal.

298-318.

Tjondro, David dan Wilopo, R. (2011). Pengaruh Good Corporate Governance (GCG) terhadap Profitabilitas dan Kinerja Saham Perusahaan Perbankan yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia. Journal of Business and Banking, Vol. 1, No. 1, Hal. 1-14.

Wardoyo dan Veronica,T. (2013). Pengaruh Good Corporate Governance, Corporate Social Responsibility, dan Kinerja Keuangan terhadap Nilai Perusahaan, Jurnal Dinamika Manajemen, Vol. 4, No. 2, Hal.132-149.

Wijayanti, F. T, Sutaryo, dan Prabowo, M. A. (2011). Pengaruh Corporate Social Responibility Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi XIV.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Good Corporate Governance dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek

TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) SEBAGAI VARIABEL MODERASI PADA PERUSAHAAN NON

Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul: “PENGARUH PROFITABILITAS, MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP

Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, dan Rasio Profitabilitas Terhadap Luas Pengungkapan Corporate Social Responsibility Di Indonesia 1.Dewan Komisaris

(2012) Pengaruh Kinerja keuangan terhadap Nilai Perusahaan dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility dan Struktur Good Corporate Governance sebagai variabel

Badjuri, Achmad, 2011, “Faktor-Faktor Fundamental, Mekanisme Corporate Governance, Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan Manufaktur Sumber Daya

Sehingga penelitian ini dibuat dengan judul “Pengaruh Good Corporate Governance dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan Yang Terdaftar

Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan dan Good Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility sebagai Variabel