• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KANDUNGAN ABU BATUBARA TERHADAP

Jangkung Wibowo

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH KANDUNGAN ABU BATUBARA TERHADAP"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KANDUNGAN ABU BATUBARA TERHADAP PEMBAKARAN DAN POTENSI PEMBENTUKAN SLAGGING DAN FOULING

BERDASARKAN ABU DASAR PADA PT KEMASAN CIPTA NUSANTARA DI KIMA MAKASSAR

Aji Marwadi 1, Awwal Raafiandy 1, Ir. Ruth Bunga, Msi 2

1 Magister Teknik Pertambangan (MTA), Konsentrasi Lingkungan Pertambangan, UPN “Veteran”

Yogyakarta.

2Dosen Teknik Pertambangan, Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) Makassar.

Pogung Baru A/4 Jl. Kaliurang km 5 Email : [email protected]

ABSTRAK

Terbentuknya slagging dan fouling adalah dua hal yang saling berkaitan, sebab terjadinya slagging dan fouling berawal dari reaksi pembakaran batubara. Slagging adalah keadaan dimana abu batubara meleleh di zona pembakaran, untuk abu batubara yang sifatnya light slagging dan moderate slagging dapat dicegah dengan blower tetapi untuk heavy slagging ash mengharuskan operasi boiler dihentikan. Fouling adalah endapan yang terjadi di superheater atau reheater yang sulit dibersihkan dari susuan pipa yang rapat. Fouling ini merupakan sumber terjadinya korosi dan menghambat aliran gas yang dimana endapannya bersifat lengket sehingga dengan terbentuknya endapan alkali, partikel abu terbang akan mudah melekat di permukaannya. Selain itu endapan alkali ini juga bersifat dapat pengabsorb gas sulfur oksida dari aliran gas, akibatnya dinding pipa akan mudah terkorosi. Nilai indeks slaging dan indeks fouling memberikan gambaran kecendrungan abu batubara untuk mengakibatkan terjadinya slagging dan fouling.

Proses pengamatan dilakukan di pembakaran batubara, dimana pengamatan dilakukan mulai dari batubara masuk ke dalam crusher sampai pada hasil akhir pembakaran. Adapun prosedurnya berupa; (1) pengambilan data-data yang diperlukan, seperti total moisture dengan menggunakan Standar Acuan ISO 331-1983 (E), Kadar Abu dengan ISO 1171, nilai kalori dengan ISO 1928 dan total sulfur dengan AS 1038.6.3-1986, (2) menentukan indeks slagging dari data-data tersebut setelah menganalisa unsur-unsur utama abu batubara seperti, SiO, Al2O3, Fe2O3, TiO2, CaO, MgO, K2O, Na2O, LOI, SO2, P2O3, MnO, H2O dari empat sample yang diambil, kemudian (3) membandingkan indeks slagging yang dihitung dengan standar yang digunakan.

Kata kunci: slagging, fouling

(2)

I. PENDAHULUAN

PT Kemasan Cipta Nusantara merupakan perusahaan yang bergerak dibidang usaha pembuatan atau produksi styropor, yang berlokasi di kawasan Industri Makassar. Hasil produksi dalam bentuk box dan bahan bakunya yaitu Polistyrene. Dalam produksi tersebut, digunakan uap air untuk mengembangkan polystyrene. uap air berasal dari pemanasan boiler dengan bahan bakar batubara, batubara yang di gunakan di kirim dari kalimantan dengan kualitas tertentu sesuai dengan kebutuhan dan permintaan perusahaan. Dalam pemanfaatannya, batubara harus diketahui terlebih dulu kualitasnya. Hal ini dimaksudkan agar spesifikasi mesin atau peralatan yang memanfaatkan batubara sebagai bahan bakarmya sesuai dengan mutu batubara yang akan digunakan sehingga mesin-mesin tersebut dapat berfungsi optimal dan tahan lama. Walaupun permintaan batubara disesuaikan dengan kualitas yang cocok untuk jenis alat dan sistem pembakaran yang digunakan, namun seringkali terjadi permasalahan yang ditimbulkan dari pembakaran tersebut, yang berupa korosi pada jaringan sistem alat, suhu tidak stabil dan produk hasil pembakaran berupa abu. Untuk itu perlu ditinjau dan dianalisis kualitas batubara yang di gunakan yaitu dengan analisa ultimate dan potensi terbentuknya korosi (slagging dan fouling) dengan analisa abu produk pembakaran batubara.

II. METODELOGI

Terbentuknya slagging dan fouling adalah dua hal yang saling berkaitan, sebab teriadinya slagging dan fouling berawal dari reaksi saat pembakaran batubara. Pada setiap pembakaran batubara selalu menghasilkan abu, baik abu dasar (bottom ash) maupun abu terbang (fly ashy), bottom ash membentuk slagging sedangkan fly ash membentuk fouling.

Reaksi Pembakaran batubara

Proses pembakaran batubara akan berlangsung dengan baik jika tersedia udara dalam jumlah yang cukup. Proses pembakaran batubara merupakan ilmu kompleks karena adanya variasi kondisi fisika maupun kimia batubara, tetapi biasanya reaksi pembakaran batubara digambarkan dengan reaksi oksidasi karbon menghasilkan karbon mono-oksida atau karbon dioksida:

2C + O2 2CO2 atau C + O2 = CO2

Gas CO yang terbentuk dapat bereaksi dengan oksigen membentuk gas CO sesuai reaksi:

2CO + O2 2CO2

Gas CO2 yang terbentuk dapat pula bereaksi dengan karbon membentuk gas CO CO2 + C 2CO

Dan reaksi pembentukan uap air : 2H + ½ O2 Diikuti dengan reaksi : C + H2O CO + H2

Setelah ada nyala api, pembakaran batubara dimulai diikuti dari penguapan air, penyalaan zat terbang. Selain unsur hydrogen dan karbon unsur-unsur lain yang terdapat di dalam batubara juga mengalami oksidasi, misalnya unsur sulfur (S) dan Nitrogen.

S + O2 SO2 (g)

Diikuti dengan reaksi : 2SO2(g) + ½ O2 2SO3(g)

2N + O2 2NO(g)

Diikuti dengan reaksi : 2NO + O2 2NO2(g)

Adanya uap air di udara terbuka akan bereaksi dengan gas-gas hasil pembakaran membentuk asam sulfat atau asam nitrat yang merupakan sumber terjadinya korosi dan hujan asam. Reaksi reaksi yang mungkin terlibat dalam pembentukan asam ini adalah :

2SO2(g) + H2O H2SO3 dan SO3(g) + H2O H2SO4 (asam Sulfat)

Atau

2SO2(g) + O2 + 2 H2O 2 H2SO4

NO2 + NO + H2O + O2 2 HNO3

Atau

2 NO + 3/2 O2 + H2O 2 HNO3

Atau dengan reaksi :

Fe + H2SO4 FeSO4 + H2

(3)

Dan akan sangat mungkin ferro sulfat teroksidasi membentuk ferri sulfat : 4 FeSO4 + 2 H2SO4 + O2 2 Fe2(SO4)3 + 2 H2O

Sesuai persamaan reaksi di atas, maka terlihat bahwa terdapat gas SO3 yang sangat mudah bereaksi dengan H2O membentuk H2SO4 (asam sulfat), pada jaringan alat yang terdiri dari Fe (besi) akan bereaksi dengan H2SO4 membentuk FeSO4, FeS04 ini bereaksi dengan uap (O2) yang menghasilkan 2Fe2(SO4)3 yang dapat menempel di dinding, kemudian abu akan lengket sangat kuat oleh adanya Fe2(SO4)3, pada dinding atau pipa-pipa sebagai korosi yang diawali oleh slagging atau fouling.

Pengukuran Index Slagging dan Fouling

Slagging adalah keadaan dimana abu batubara meleleh di zone pembakaran akibat dari suhu operasi yang melebihi titik leleh abu (spherical temperature). Untuk abu batubara yang sifatnya light slagging dan moderate slagging dapat dicegah dengan cara soot-blower, tetapi untuk heavy slaging ash mengharuskan operasi boiler di hentikan. Fouling terutama disebabkan oleh adanya interasksi antara uap natrium dan kalium dengan oksida belerang, membentuk garam dengan titik leleh rendah (±400 0C) yang kemudian membentuk semi-fluida, yang lengket di dalam boiler. Partikel abu dan batubara dapat mengendap di permukaan semi-fluida ini yang lama-kelamaan bisa menebal, mengganggu aliran gas dan menimbulkan korosi.

Parameter Rumus kimia

Nilai silika Nisbah basa/asam Total basa Total asam

Nisbah silika / alumina Nisbah feri / lime Dolomite

Nisbah feri / dolomite

SiO2 x 100 /( SiO2 + Fe2O3 + CaO + MgO ) Total basah/ total asam

Fe2O3 + CaO + MgO + K2O + Na2O SiO2 + Al2O3 + TiO2

SiO2/ Al2O3 Fe2O3/CaO

(CaO + MgO) x 100/total basa Fe2O3/ (CaO + MgO) Sumber : Pengantar dan preparasi batubara (Arief S. Sudarsono)

Penentuan indeks slagging suatu abu batubara dimaksudkan untuk memperkirakan derajat pembentukan endapan lelehan terak di dinding tungku suatu boiler. Nilai indeks slagging tergantung pada jenis batubaranya, dan dapat dihitung dari kandungan oksida asam, oksida basa, dan kadar sulfurnya.

Indeks slagging dihitung dari persamaan:

Indeks slagging (Rs) = Nisbah basa/ asam x kadar sulfur

Indeks slagging dan tipe slagging untuk batubara bituminous dan batubara lignit dapat dihitung dan kemudian dikelompokkan atas tipe low, medium, high dan severe.

Indeks Slagging Rs-bituminus

Tipe Slagging

Indeks Slagging Rs-lignitik

Tipe Slagging

Indeks Slagging Rviskositas

Tipe Slagging

< 0,6 Low > 1340 Low > 1340 Low

0,6 – 2,0 Medium 1230 - 1340 Medium 1230 - 1340 Medium 2,0 – 2,6 High 1150 - 1230 High 1150 - 1230 High

> 2,6 Severe < 1150 Severe < 1150 Severe Sumber : Pengantar dan preparasi batubara (Arief S. Sudarsono)

Index Fouling.

Fouling adalah endapan yang terjadi di superheater atau reheater. Endapan ini sulit dibersihkan dari susunan pipa yang rapat. Fouling ini merupakan sumber terjadinya korosi dan menghambat aliran gas. Endapan fouling biasanya bersifat lengket, sehingga dengan terbentuknya endapan alkali, partikel abu terbang akan muda melekat di permukaannya. Selain itu endapan alkali ini juga bersifat dapat pengabsorb gas sulfur oksida dari aliran gas, akibatnya dinding pipa akan muda terkorosi.

Nilai indeks fouling memberikan gambaran kecenderungan abu batubara untuk mengakibatkan

(4)

terjadinya fouling dan korosi di permukaan konveksi. Seperti halnya indeks slagging, indeks fouling juga dapat dihitung dari data komposisi abunya.

Indeks Fouling (Rf) = Nisbah basa/asam x kadar alkali total (Na2O) batubara.

Indeks fouling dan tipe fouling untuk batubara bituminous dan batubara lignit dapat dihitung dan kemudian dikelompokkan atas tipe low, medium, high dan severe.

Indeks Fouling Rf-bituminus

Tipe Fouling

Indeks Fouling Rf

-

lignitik

Tipe Fouling

< 0,2 Low < 0,3 Low

0,2 – 0,5 Medium 0,30 - 0,45 Medium

0,5 – 1,0 High 0,45 – 0,60 High

> 1,0 Severe > 0,60 Severe

Sumber : pengantar dan preparasi batubara (Arief S. Sudarsono)

Peristiwa fouling terjadi terutama karena tingginya kadar alkali di dalam abu batubara. Garam- garam natrium dan kalium akan tervolatisasi selama pembakaran, kemudian terkondensasi pada partikel abu terbang dan boiler membentuk lapisan yang lengket. Benturan partikel-partikel tersebut dapat membentuk endapan pada dinding dan selanjutnya membentuk sinter. Akhirnya menjadi keras dan menempel dengan sangat kuat. Harga fouling index sampai 0,5 masih dalam toleransi yang dibolehkan. Pada dasarnya, semakin rendah kadar alkali didalam abu batubara, semakin rendah pula kecenderungan untuk teriadinya fouling. Kandungan alkali pada abu batubara biasanya dinyatakan sebagai Na2O. Abu batubara dengan alkali lebih rendah dari 0.1% dianggap sebagai non fouling bila kandungan alkalinya antara 0,1% – 0,4% biasanya dapat menimbulkan tumbuhnya fouling tetapi masih bisa dikendalikan dengan soot-blowing secara berkala, abu batubara dengan kandungan alkali di atas 0,5% cenderung membentuk fouling dan menghasilkan sinter sehingga sulit dihilangkan.

Usaha Penanganan Slagging dan Fouling

Fenomena Slagging dan Fouling adalah fenomena terjadinya penumpukan kerak akibat pembakaran batubara, pada permukaan heat exchanger. Fenomena ini sangat merugikan bagi proses pembakaran di boiler, karena akan mengurangi efisiensi pertukaran panas. Penyebab terjadinya fenomena ini adalah karena kualitas batubara, terutama pada parameter AFI (Ash Fusion Temperature) memiliki nilai yang relatif rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan peningkatan kualitas batubara untuk meningkatkan nilai AFT. Metode yang bisa dilakukan untuk meningkatkan parameter tersebut adalah dengan Coal Blending (Pencampuran Batubara) dan mengurangi kadar sulfur pada batubara yang digunakan. Kemudian meminimal terbentuknya slagging dan fouling dapat dilakukan dengan soot-blowing secara berkala.

III. PROSEDUR DAN HASIL STUDI Prosedur Pengamatan

Proses pengamatan dilakukan dipembakaran batubara, dimana pengamatan dilakukan mulai dari batubara masuk ke dalam crusher sampai pada hasil akhir pembakaran. Adapun prosedur hasil studi yang dilakukan untuk mengetahui potensi pembentukan slagging yaitu:

1. Mengambil beberapa sampel data-data yang diperlukan dari berbagai sumber.

2. Menentukan index slagging dari data-data tersebut.

3. Membandingkan index slagging yang dihitung dengan standar yang digunakan

(5)

Hasil studi

Spesifikasi Batubara Yang Di Butuhkan Analisis Batubara Kandungan

Unsur (%)

Total Moisture 26 %

Ash 5 %

Total Sulfur 1 %

Volatil Matter 40 %

Inherent Moisture 11 %

Fixed Carbon 42, 5 %

GCV 5.800

Sumber : PT Kemasan Cipta Nusantara Keterangan : - Sulfur diuji pada suhu 1350 0C.

- Moisture diuji pada suhu 105 - 110 0C.

- Ash diuji pada suhu 300 0C.

Untuk memastikan bahwa batubara yang di datangkan perusahaan mempunyai standar kualitas yang cocok dengan alat yang digunakan dan memastikan bahwa batubara yang digunakan tidak menimbulkan masalah baik terhadap alat maupun terhadap kesehatan dan lingkungan maka dalam jangka waktu 3 bulan diadakan uji terhadap sisa hasil pembakaran.

Spesifikasi batubara yang ada dipakai

Analisis Batubara Kandungan Unsur

Total Moisture 24,2 %

Ash 7 %

Total Sulfur 1,3 %

Volatil Matter 40 %

Fixed Carbon 42,5 %

GCV 5.800

Sumber : PT Kemasan Cipta Nusantara

Hasil Analisis Unsur-Unsur Utama Abu Batubara (Bottom Ash)

Parameter Abu

Batubara

Abu Batubara

Abu Batubara

Abu Batubara

(%) SP 1 SP 2 SP 3 SP 4

SiO Al2O3

Fe2O3

TiO2

CaO MgO K2O Na2O LOI SO2

P2O3

MnO H2O

45,93 8,04 41,99

0,53 0,85 1,09 0,42 tt 0,04 0,83 0,15 0,13 24,2

40,71 8,02 46,1 0,49 1,19 1,43 0,76 tt 0,06

0,9 0,18 0,16 23,5

27,07 3,74 50,5 0,6 13,5

3,4 0,5 0,02 0,07 0,2 0,1 0,3 20,8

37,35 8,0 49,2 0,51 0,98 1,27 0,54 0,04 0,05 1,75 0,16 0,15 23,9

S 1,5 1,9 2,3 1

Sumber : PT Kemasan Cipta Nusantara

Keterangan : - Contoh diperiksa dari bahan kering (105 0C – 110 0C) kecuali H2O dari bahan asal dan sulfur pada suhu 13000.

- tt = tidak terdeteksi.

- SP = Jenis Sampel.

(6)

Penentuan Jumlah Abu Produk Pembakaran

Berdasarkan penelitian bahwa abu batubara pada pembakaran terbagi 2 yaitu abu terbang (fly ash) ± 80% dan abu dasar (bottom ash) ± 20%, PT Kemasan Cipta Nusantara menggunakan batubara ± 2 ton/hari, dari data tersebut, maka kandungan abu sisa pembakaran pada PT Kemasan Cipta Nusantara dapat di hitung.

Total Bottom Ash = Kandungan abu x Jumlah pemakaian x bottom ash

= 7 % x 2 ton/hari x 20 %

= 0,0028 ton/hari

= 5,6 kg/hari

Penentuan Slagging Index

Dari beberapa data-data sampel yang diberikan dari perusahaan, bahwa unsur-unsur abu batubara yang diperoleh dari abu dasar (bottom ash) maka index slagging dapat dihitung dengan rumus:

Nisba basa

Index Slagging (Rs) = x Kadar Sulfur

Asam

Untuk sampel 1 (SP 1)

Fe2O3 + CaO + MgO + K2O + Na2O

Rs = x S

SiO2 + Al2O3 + TiO2 41,99 + 0,85 + 1,09 + 0,42

Rs = x 1,5 % = 1,22 %

45,93 + 8,04 + 0,53

Untuk sampel 2 (SP 2)

Fe2O3 + CaO + MgO + K2O + Na2O

Rs = x S

SiO2 + Al2O3 + TiO2 46,96 + 1,19 + 1,43 + 0,76

Rs = x 1,9 % = 1,95 %

35,93 + 8,04 + 0,53

Untuk sampel 3 (SP 3)

Fe2O3 + CaO + MgO + K2O + Na2O

Rs = x S

SiO2 + Al2O3 + TiO2 50,5 + 13,5 + 3,4 + 0,02

Rs = x 2,3 % = 4,94 %

27,07 + 3,74 + 0,6

(7)

Untuk sampel 4 (SP 4)

Fe2O3 + CaO + MgO + K2O + Na2O

Rs = x S

SiO2 + Al2O3 + TiO2

49,2 + 0,98 + 1,27 + 0,5 + 0,04

Rs = x 1 % = 1,13 %

37,35 + 8 + 0,51

IV. PEMBAHASAN

Penentuan Slagging Index

Slagging berkaitan dengan masalah transportasi partikel abu yang meleleh atau lengket oleh gas pembakaran dan masalah benturan partikel abu tersebut pada permukaan tanur dan permukaan- permukaan lain. Peristiwa slagging yang berlangsung terus menerus akan menyebabkan korosi pada sistem jaringan alat dan dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan pada alat.

Harga slagging index yang semakin besar menunjukkan kecenderungan abu untuk membentuk deposit terak. Pada kondisi operasi normal, abu dengan harga slagging index dibawah 0.5% tidak akan menimbulkan masalah dengan pembentukan terak, tapi bilamana harga slagging index sampai 1.5% fasilitas soot-blowing yang memadai harus tersedia untuk meminimalisir pembentukan deposit terak dan apabila harga slagging index di atas 2% operasi harus dihentikan. Pada pembakaran boiler batubara, analisis terhadap unsur-unsur yang menyebabkan pembentukan slagging dan fouling harus diketahui secara pasti karena terbentuknya slaging dan fouling akan sangat berpengaruh terhadap efesiensi boiler yaitu perpindahan panas (heat rate), penurunan suhu, dan pembakaran batubara yang tidak sempurna.

Dari hasil perhitungan maka diperoleh hasil seperti pada tabel berikut:

Hasil perhitungan slgging index Jenis Sampel Index Slaggin (%)

Sampel 1 (SP 1) 1,22

Sampel 2 (SP 2) 1,95

Sampel 3 (SP 3) 4,97

Sampel 4 (SP 4) 1,13

Dari hasil perhitungan index slagging diperoleh hasil yaitu SPI 1,22%; SP2 1,95%; SP3 4,97%; SP4 1,13%. pada data awal yaitu sampel satu dengan harga slagging index 1.22%, pada operasi ini masih bersifat normal karena deposit abu yang berbentuk terak masih bisa dikendalikan dengan secara berkala digunakan soot-blower yaitu suatu alat untuk menghilangkan terak yang menempel pada permukaan dengan menggunakan udara sebagai media penghembus (blowing medium).

Pada perhitungan slagging index pada sampel dua (2) harga slagging index relatif tinggi yaitu l 95%, hal ini terjadi karena perbandingan unsur basa lebih tinggi dari asam dan kandungan sulfur yang relatif tinggi, pada kondisi ini sangat berpotensi terbentuk slagging.

Kemudian, pada sampel tiga (SP3) harga slagging index sangat tinggi, yaitu 4,97%, hal ini terjadi karena kandungan sulfur yang berada di atas 2% pada kondisi ini terjadi penurunan suhu yang sangat rendah dan abu sisa pembakaran sangat tinggi. Pada kondisi ini dengan indeks slagging 4.97% termasuk dalam tipe severe, dalam hal ini operasi boiler harus dihentikan dan dilakukan penanganan dengan serius karena pada kondisi ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi jaringan sistem pembakaran.

Selanjutnya pada sampel 4, harga slagging index turun dari sampel 3, dengan nilai slagging index 1.13%.

(8)

Dari hasi perhitungan keempat sampel yang ada diperoleh slagging index yang masih berada di atas standar index slagging yang menjadi acuan yaitu 0,5% - 1.5%, berarti bahwa batubara yang digunakan perlu untuk ditinjau ulang untuk mencegah terjadinya korosi pada jaringan sistem pembakaran dan jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama akan mengakibatkan kerusakan alat pada jaringan sistem pembakaran.

Untuk itu perlu ditinjau ulang kandungan sulfur dari batubara yang digunakan untuk meminimalkan terjadinya korosi pada jaringan alat pembakaran dimana spesifikasi kandungan sulfur dapat di tekan ke kondisi yang lebih stabil.

Pengaruh Kandungan Abu Terhadap Pembakaran

Kadar abu secara sederhana di definisikan sebagai residu anorganik yang terjadi setelah batubara di bakar. Makin banyak mineral yang terdapat dalam batubara semakin tinggi pula kadar abunya.

Kadar abu dalam batubara berpengaruh pada pembakaran, semakin tinggi kandungan abu semakin tinggi produk sisa pembakaran baik yang berupa abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash).

Kandungan abu yang tinggi pada batubara dapat mengurangi suhu pembakaran karena unsur karbon tidak terbakar dengan sempurna, meningkatnya kadar abu batubara menyebabkan menurunnya efisiensi boiler akibat meningkatnya penumpukan abu berpotensial untuk menurunkan perpindahan panas dan termal yang terasosiasi dengan panas sensible pada fly ash. Selain itu, meningkatnya kadar abu batubara akan menurunkan sifat baik batubara, yang mengarahkan pada meningkatnya kadar karbon yang hilang dan meningkatnya slagging.

Sifat abu yang terkandung dalam batubara berpengaruh terhadap pembentukan slagging, abu yang mempunyai sifat basa lebih tinggi dari asam akan mempercepat laju pembentukan slagging dan fouling dan sebaliknya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil studi dan pengolahan beberapa data-data maka di tarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan antara tingginya kandungan abu (ash) dengan pembentukan slagging yaitu semakin tinggi abu yang bersifat basa semakin berpotensi terbentuknya slagging dan kandungan abu sangat berpengaruh pada efesiensi pembakaran dan efesiensi boiler yaitu jika kandungan abu tinggi proses pembakaran tidak sempurna karena sebagian kalor terbuang untuk membakar abu dan efesiensi boiler tidak maksimal karena akibat dari adanya slagging dan fouling transfer panas akan terhalangi.

2. Dari data-data yang diberikan kemudian diolah maka di peroleh index slagging yang masih bervariasi (SP1= 1,22; SP2= 1,95; SP3= 4,97 dan SP4= 1,33) yaitu di atas nilai index slagging yang menjadi acuan yaitu 1,5% berarti bahwa batubara yang digunakan masih relatif membentuk slagging dalam pembakaran. Kemudian cara penanggulangannya ialah dengan meningkatan kualitas batubara untuk menambah nilai AFT. Metode yang bisa dilakukan untuk meningkatkan parameter tersebut adalah dengan Coal Blending (Pencampuran Batubara) dan mengurangi kadar sulfur pada batubara yang digunakan. Kemudian meminimalkan terbentuknya slagging dan fouling dapat dilakukan dengan soot-blowing secara berkala.

Saran

Setelah melakukan studi dan pengolahan beberapa data-data yang ada. maka diberikan beberapa saran kepada pihak perusahaan yaitu sebagai berikut:

1. Untuk meminimalkan terbentuknya slagging sebaiknya meninjau ulang spesifikasi batubara yang digunakan.

2. Sebaiknya memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja bagi setiap karyawan dengan menyediakan alat pelindung bagi setiap karyawan terutama yang berada pada bagian pembakaran yaitu masker, sepatu safety dan kaos tangan karena debu batubara jika dihirup terus menerus dapat menimbulkan penyakit kanker, infeksi saluran pernafasan dan penyakit silikosis yang disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Leonard, Joseph w (1969), Coal preparation, the American institute of Mining, Metalurgical, and petroleum Engineers, INC, New York.

Magdziarz, Aneta. (2016). Chemical composition, character and reactivity of renewable fuel ashes.

Elsevier Scientific Publishing Company: Fuel 16. Halaman 135-145.

Paisal, Yustin. (2005) Studi Pembakaran Batubara Unggun Tetap skala laboratorium, IPTEK, Fakultas Teknik UVRI, Makassar

Paisal, Yustin. (2005) Analisis Karakteristik Batubara Tondongkura, IPTEK, Fakultas Teknik UPRI, Makassar

Sudarsono, S. Arif. (2003), Pengantar Preparasi dan Pencucian Batubara, Departemen Teknik Pertambangan ITB

Sukandarrumidi. (1995), Batubara dan Gambut, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

www.coaltech.com.au/Slagging&Fouling.html, (2017), Coal Technology, Coaltech.com.au.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi kulit kerang dari Tanjung Balai terhadap beton ringan yang terbuat dari abu terbang (fly ash) batubara dari PLTU Labuhan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi abu pelepah pisang sebagai katalisator basa padat terhadap banyaknya kandungan asam lemak bebas

Limbah abu terbang batubara (fly ash), abu dasar batubara (bottom ash) dan limbah padat industri karet (rubber sludge) dapat dipakai sebagai campuran pada

Pada genteng yang tidak menggunakan limbah padat abu terbang batubara (fly ash) dalam campuran komposisi bahan atau campuran fly ash 0% diperoleh nilai pada genteng

Jumlah abu terbang yang dihasilkan lebih banyak (80% dari total sisa abu pembakaran batubara), butiran abu terbang lebih kecil (200 mesh) dan lebih berpotensi

enelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi lingkungan pengendapan batubara, korelasi lingkungan tersebut terhadap perubahan kandungan total sulphur , dan mengetahui

Pada penelitian ini sintesis Faujasite dari abu layang batubara dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu refluks abu layang batubara, peleburan abu layang batubara dengan

Tanpa pemberian mikoriza, hasil analisis menunjukkan kandungan logam berat Ag dalam tanaman Centrosema pubescens menurun sejalan dengan peningkatan pemberian abu batubara