• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh kebijakan moneter terhadap kredit : Bank Umum Indonesia 2009-2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2025

Membagikan "Pengaruh kebijakan moneter terhadap kredit : Bank Umum Indonesia 2009-2016"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP KREDIT: BANK UMUM

INDONESIA 2009 - 2016

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

Gelischa Presticha Hedyaratih 2013110046

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM SARJANA EKONOMI PEMBANGUNAN

Terakreditasi Berdasarkan Keputusan BAN-PT No. 211/SK/BAN-PT/Ak-XVI/S/X/2013

BANDUNG

2018

(2)

PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP KREDIT: BANK UMUM

INDONESIA 2009 – 2016

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Ekonomi

Oleh:

Gelischa Presticha Hedyaratih 2013110046

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM SARJANA EKONOMI PEMBANGUNAN

Terakreditasi Berdasarkan Keputusan BAN-PT No. 211/SK/BAN-PT/Ak-XVI/S/X/2013

BANDUNG

2018

(3)

THE IMPACT OF MONETARY POLICY ON LENDING: INDONESIA COMMERCIAL BANKS

2009 – 2016

UNDERGRADUATE THESIS

Submitted to complete part of the requirements for Bachelor’s Degree in Economics

By

Gelischa Presticha Hedyaratih 2013110046

PARAHYANGAN CATHOLIC UNIVERSITY FACULTY OF ECONOMICS

PROGRAM IN DEVELOPMENT ECONOMICS Accredited by BAN – PT No. 211/SK/BAN-PT/Ak-XVI/S/X/2013

BANDUNG

2018

(4)
(5)
(6)

v

ABSTRAK

Terhambatnya akses pembiayaan untuk modal kerja, investasi, dan konsumsi bisa mendatangkan dampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi. Padahal bagi sebagian besar negara, pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang sangat penting. Di Indonesia, sebagian besar penyediaan dana untuk modal kerja, investasi, dan kredit disediakan oleh bank umum. Hal ini mengindikasikan adanya peran penting jalur kredit dalam mentransmisikan kebijakan moneter. Akan tetapi, pembiayaan dana melalui kredit yang tidak didukung oleh kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit dapat memberikan dampak sebaran ke berbagai sektor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebijakan moneter terhadap pertumbuhan kredit Bank Umum Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data time series periode 2009:1 – 2016:7 dari berbagai sumber. Pemilihan periode data penelitian didasari oleh penetapan kebijakan BI Rate sebagai acuan suku bunga sejak 2005:7 – 2016:7. Penelitian ini berbeda dengan studi empiris terdahulu dari sisi teknik analisis dan variabel yang digunakan dalam model penelitian. Penulis merumuskan dua buah hipotesis. Pertama, penulis menduga BI Rate, suku bunga DPK, dan suku bunga kredit akan memiliki pengaruh negatif terhadap pertumbuhan total kredit. Hipotesis kedua diduga terdapat hubungan positif antara pertumbuhan total DPK dan pertumbuhan total kredit serta terdapat hubungan positif antara BI Rate dan suku bunga kredit dan juga terdapat hubungan positif antara BI Rate dan suku bunga DPK. Hasil penelitian menggunakan path analysis menunjukkan bahwa BI Rate secara statistik signifikan memengaruhi suku bunga DPK dengan arah negatif, tetapi suku bunga DPK secara statistik tidak signifikan memengaruhi pertumbuhan total DPK. Hal tersebut membuat pengaruh kebijakan moneter terhadap kredit melalui suku bunga DPK tidak signifikan. Pengaruh langsung BI Rate terhadap suku bunga kredit secara statistik signifikan dengan arah positif dan besar 0.416. Pengaruh suku bunga kredit terhadap pertumbuhan total kredit sebesar -0.172. Penelitian ini juga berhasil menemukan pengaruh total BI Rate terhadap pertumbuhan total kredit yang secara statistik signifikan dengan arah dan besar -0.072.

Kata Kunci: Kebijakan Moneter, Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Jalur Kredit, Pertumbuhan Total Kredit Bank Umum

(7)

vi

ABSTRACT

The inhibition on financing access for working capital loans, investment loans and consumption credit can have devastating effects on economic growth. Whereas for most countries, economic growth is very important. In Indonesia, most of the provision of funds for working capital, investment and credit are provided by commercial banks. This indicates an important role of lending channel in transmitting monetary policy. However, financing of funds through credit that is not supported by banking prudence in lending can give the impact to various sectors.

This study aims to analyze the effect of monetary policy on credit growth of Indonesia’s Commercial Banks. This study uses secondary data in the form of time series data for the period 2009: 1 - 2016: 7 from various sources. The selection of the research data period based on the determination of the BI Rate policy as the benchmark interest rate since 2005: 7 - 2016: 7. This study differs from previous empirical findings in terms of analytical techniques and variables used in the research model. The author formulates two hypotheses. First, the authors suspect the BI Rate, the interest rate of third-party funds, and lending rates will have a negative effect on total loan growth. The second hypothesis is that there is a positive relationship between total growth of third-party funds and total loan growth and there is positive relationship between BI Rate and lending rate and there is also a positive relationship between BI Rate and interest rate of third-party funds. The result of the research using path analysis shows that BI Rate is statistically significant has an effect on the interest rate of third-party funds with the negative direction, but the interest rate of third-party funds is statistically insignificant affect the total growth of third-party funds. Therefore, it can be concluded that the effect of monetary policy on lending through the interest rate of third-party funds is not significant. The direct effect of BI Rate on lending rate is statistically significant with a positive direction and magnitude of 0.416. The effect of lending rate on total credit growth is -0.172.

This study also found the total effect of BI Rate on total credit growth which is statistically significant with direction and magnitude of -0.072.

Keywords: Monetary Policy, Bank Lending Channel of Monetary Policy Transmission Mechanism, Growth of Total Credit of Commercial Banks

(8)

vii

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kasih, sayang, rahmat, hidayah, petunjuk, kekuatan, kesehatan, dan kelancaran, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Kebijakan Moneter terhadap Kredit: Bank Umum Indonesia 2009 – 2016. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memeroleh gelar Sarjana Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Penulis terbuka menerima segala kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Proses penyusunan skripsi ini merupakan sebuah perjuangan yang tidak mudah. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan, saran, dukungan, doa, serta bimbingan kepada penulis. Dengan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Hedy Setiawan, S.H., M.H dan Ratih Sediati, S.H. selaku orang tua penulis. Terimakasih penulis ucapkan kepada Papa dan Mama yang selalu memberikan dukungan dalam bentuk materil dan nonmaterial. Segala doa dan dukungan papa dan mama menjadi salah satu faktor paling besar, sehingga penulis mendapatkan restu Allah S.W.T untuk menyelesaikan skripsi ini.

2. Terima kasih penulis ucapkan kepada Aldy Gelardy H, S.H. selaku kakak dan sahabat penulis. Terima kasih atas dukungan materil dan nonmaterial, canda tawa, dan kebersamaannya. You inspired me to think differently.

3. Ibu Dr. Miriyam B. L. Wijaya, selaku Ketua Program Ekonomi Pembangunan Universitas Katolik Parahyangan sekaligus dosen pembimbing skripsi penulis. Terima kasih Ibu Miryam atas segala ilmu yang diberikan kepada penulis. Kesabaran Ibu selama proses pembelajaran dalam memberikan waktu, masukan, dan arahan sangat bermanfaat bagi penulis. Semoga ilmu yang Ibu berikan bisa saya aplikasi dan menjadi manfaat bagi orang banyak.

4. Pak Charvin Lim, S.E., M.Sc, selaku ko-pembimbing skripsi penulis. Thank you for being so good to me. I salute you for your patience. You’ve been an exemplary and visionary co-advisor. I appreciate everything you’ve taught me. Terima kasih atas dukungan, waktu, diskusi yang berkualitas, dan nasihat selama bimbingan.

5. Terima kasih kepada Dr. Fransiscus Haryanto, S.E., M.M. dan Ibu Ivantia S.

Mokoginta, Ph.D., selaku dosen penulis. Ilmu yang diberikan pada saat

(9)

viii perkuliah sangat menyenangkan dan memberikan banyak manfaat bagi penulis. Terima kasih kepada Ibu Hilda L. Masniarita Pohan, Ph. D selaku dosen wali penulis yang selama ini telah memberikan informasi dan membantu penulis terkait segala hal yang berhubungan dengan perkuliahan.

6. Terima kasih kepada Ibu Noknik Karliya, Pak Aswin, Pak Chandra, Pas Ishak, Pak Eko, dan seluruh dosen beserta staff Program Ekonomi Pembangunan yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

7. Terima kasih kepada Shabrina, Shafira, Sirin, Nanda, Daniar, Sendy, dan Pera selaku sahabat penulis. Lemme say thank you for being such a wonderful friend. Through thick and thin, you've always been there for me and I can't thank you enough. Thank you for your supports. Guys, you’re awesome!

8. Terima kasih kepada Helena selaku teman seperjuangan penulis sekaligus teman yang pertama kali penulis kenal pada masa orientasi jurusan. Terima kasih telah menemani penulis dalam menyusun skripsi. Thank you for being such a good listener! Terima kasih kepada Chyntia selaku teman seperjuangan penulis di Ekonomi Pembangunan. Terima kasih atas dukungan dan kebersamaan selama dua tahun terkahir, semoga bisa menjadi teman yang selalu mendukung satu sama lain kedepannya. College life is about the game and how you play it. It’s all about pain and who’s gonna make it. Thank you for being a great companion!

9. Terima kasih kepada Faisal, Ben, dan Jodi selaku teman seperjuangan penulis di EMK. Terima kasih atas segala dukungannya selama perkuliahan dan terima kasih atas kebersamaan melalui lika-liku kehidupan seminar kajian dan masa bimbingan, serta penyusunan skripsi

10. Terima kasih kepada Deboora, Nadia, Runi, Rizal, Fiat, Trisfian, Imun, Rania, Tsana, Mariska, Dikcit, Kekey, Faza, Hanan, Darryl, Igun, Timboy, Icul, Arga, Arda, Bang Fer, Yossi, Mang Fei, Nur, Dikgem, Deka, Ajeng, Ifara, Getha, Kaka, Ellen, Shafly, Eno, Aldwyn, Fina, Momo dan seluruh keluagaku di IESP 2013 yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu terima kasih atas doa, dukungan, dan kebersamaan selama masa perkuliah.

11. Terima kasih Anastasia, Shafiah, Uti, Kemal, Regina, Tara, Barata, Indhira, Bilaa, Kak Satrio, Nauli, dan Utami selaku teman-teman seperjuangan penulis di Ekonomi Pembangunan atas doa dan dukungannya.

12. Terima kasih kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang turut serta memberikan dukungan kepada penulis selama proses penyusunan skirpsi ini.

Bandung, 17 Januari 2018

(10)

ix

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5

1.4 Kerangka Pemikiran ... 5

2. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Kebijakan Moneter ... 8

2.2 Teori Bank Lending Channel ... 15

2.3 Peran Kebijakan Moneter terhadap Kredit Perbankan ... 16

2.4 Studi Empiris mengenai Mekanisme Transmisi Jalur Kredit ... 19

2.5 Efektivitas Mekanisme Transmisi Jalur Kredit ... 22

3. METODE DAN OBJEK PENELITIAN ... 24

3.1 Metode Penelitian ... 24

3.1.1 Data ... 24

3.1.2 Teknik Analisis ... 25

3.1.3 Model Penelitian ... 26

3.1.4 Persamaan Struktur ... 27

3.1.5 Hipotesis Penelitian ... 28

3.2 Objek Penelitian ... 29

3.2.1 Pertumbuhan Total Kredit Bank Umum ... 29

3.2.2 Suku Bunga Kebijakan atau Acuan ... 30

3.2.3 Suku Bunga DPK Bank Umum ... 31

3.2.4 Suku Bunga Kredit Bank Umum ... 32

3.2.5 Pertumbuhan Total DPK Bank Umum ... 33

(11)

x

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 34

4.1 Hasil Pengolahan Data ... 34

4.2 Pembahasan ... 40

5. PENUTUP ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 45 RIWAYAT HIDUP PENULIS ... A-1

(12)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Pemikiran ... 6

Gambar 2. Efek Dinamis Kebijakan Moneter Ekspansif ... 9

Gambar 3. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter sebagai "Black Box" ... 11

Gambar 4. Jalur Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter ... 12

Gambar 5. Mekanisme Transmisi Jalur Kredit ... 13

Gambar 6. Mekanisme Transmisi Jalur Kredit ... 14

Gambar 7. Model Penelitian ... 26

Gambar 8. Sub-struktur 1 ... 27

Gambar 9. Sub-struktur 2 ... 27

Gambar 10. Sub-struktur 3 ... 27

Gambar 11. Sub-struktur 4 ... 28

Gambar 12. Pertumbuhan Total Kredit Periode Januari 2009 - Juli 2016 ... 29

Gambar 13. BI Rate Periode Januari 2009 - Juli 2016 ... 30

Gambar 14. Suku Bunga DPK Bank Umum di Indonesia ... 31

Gambar 15. Suku Bunga Kredit Bank Umum di Indonesia ... 32

Gambar 16. Pertumbuhan Total DPK Bank Umum di Indonesia ... 33

Gambar 17. Path Diagram Model Penelitian-1 ... 34

Gambar 18. Path Diagram Model Penelitian-2 ... 38

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Variabel dan Sumber Data ... 24

Tabel 2. Hasil Estimasi Regression Weights Model Penelitian-1 ... 35

Tabel 3. Hasil Estimasi Direct Effects ... 36

Tabel 4. Hasil Estimasi Indirect Effects... 37

Tabel 5. Hasil Estimasi Total Effects ... 37

Tabel 6. Hasil Estimasi Regression Weight Model Penelitian-2 ... 39

Tabel 7. Hasil Estimasi Direct Effect Model Penelitian-2 ... 39

Tabel 8. Hasil Estimasi Indirect Effect Model Penelitian-2 ... 39

Tabel 9. Hasil Estimasi Total Effect Model Penelitan-2 ... 40

(14)

1

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kinerja perbankan yang buruk dapat mengganggu efektivitas transmisi kebijakan moneter terutama melalui jalur kredit. Mekanisme transmisi jalur kredit yang terganggu berisiko menurunkan peran perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Padahal menurut Suzuki (2004) peran perbankan terutama kredit yang tersalurkan dalam memengaruhi aktivitas perekonomian sangat besar. Ketersediaan kredit perbankan memegang peran penting dalam pembiayaan perekonomian nasional dan bisa menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi. Suzuki (2004) juga menjelaskan bahwa pinjaman bank menjadi sumber utama keuangan perusahaan kecil maupun besar untuk melakukan ekspansi di sebagian besar negara.

Di Indonesia, pembiayaan untuk modal kerja, investasi, dan konsumsi didominasi oleh sektor perbankan. Menurut Utari, Arimurti, dan Kurniati (2012), pembiayaan kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi kepada sektor swasta didominasi oleh sektor perbankan dengan rata-rata sebesar 85%. Dengan kata lain, di Indonesia, industri perbankan memegang kendali dalam penyediaan dana atau ketersediaan kredit di Indonesia yang kemudian akan berdampak pada sektor riil dan kemudian pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut juga mengindikasikan adanya keterkaitan yang tinggi antara sektor riil dan ketersediaan kredit di Indonesia, sebab biaya modal untuk ekpansi bisnis dan konsumsi masyarakat kurang lebih 85% disediakan oleh lembaga keuangan yakni bank.

Besarnya peran perbankan dalam penyediaan dana untuk sektor swasta di Indonesia, ditambah penyaluran kredit merupakan salah satu fokus dan kegiatan utama perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasinya menjadikan pertumbuhan total kredit yang disalurkan penting untuk dikaji. Fungsi intermediasi bank merupakan terapan dari konsep asset allocation approach. Konsep tersebut merupakan pendekatan manajemen aktiva-pasiva, dimana sumber dana pihak ketiga (DPK), borrowing (pinjaman atau simpanan yang diterima dari bank lain atau pinjaman lainnya), dan equity capital. Akan tetapi, dalam menjalankan fungsi intermediasi industri perbankan harus memerhatikan regulasi yang ditetapkan otoritas moneter, di Indonesia yakni Bank Indonesia, diantaranya penyediaan giro wajib minimun, batas maksimum pemberian kredit, posisi devisa, dan kecukupan penyediaan modal minimum yang merupakan pilar pertama dalam arsitektur perbankan Indonesia (API).

(15)

2 Merujuk pada peran penyaluran kredit terhadap perekonomian dan bahaya yang ditimbulkan dari nonperforming loans sektor perbankan apabila terlalu tinggi dapat menyebabkan ketidak percayaan masyarakat terhadap bank yang kemudian lebih lanjut dapat menyebabkan bank runs serta dampaknya dapat menyebar ke berbagai sektor atau timbul contagion effect. Oleh karena itu, laju pertumbuhan penyaluran kredit kepada private sector penting untuk diperhatikan.

Salah satu hal yang memengaruhi laju pertumbuhan total penyaluran kredit adalah kebijakan atau regulasi yang diterapkan bank sentral. Kebijakan moneter yang dilaksanakan bank sentral secara teoritis akan memengaruhi suku bunga kredit dan suku bunga simpanan, yang kemudian akan memengaruhi total kredit yang tersalurkan. Penjelasan mengenai pengaruh kebijakan moneter terhadap pertumbuhan total kredit dapat dijelaskan melalui kerangka mekanisme kebijakan moneter jalur suku bunga kredit.

Besarnya peran kredit yang disalurkan perbankan membuat otoritas moneter harus mampu membuat kebijakan yang bisa membuat penyaluran kredit optimal, sehingga dapat memberikan dampak postif terhadap perekonomian. Ketersediaan kredit memungkinkan rumah tangga untuk melakukan konsumsi yang lebih baik dan memungkinkan perusahaan untuk melakukan investasi yang tidak bisa dilakukan dengan dana sendiri. Dengan kata lain, kredit dapat berdampak positif terhadap pertumbuhan suatu negara. Utari, Arimurti, dan Kurniati (2012) juga menjelaskan bahwa tingginya pertumbuhan kredit dapat dipandang normal dan merupakan konsekuensi positif dari meningkatnya financial deepening dalam perekonomian.

Akan tetapi, Utari, Arimurti, dan Kurniati (2012) juga menjelaskan bahwa pada saat yang bersamaan juga muncul pemikiran mengenai implikasi dari pertumbuhan kredit terhadap stabilitas keuangan dan kondisi makro, terutama ketika pertumbuhan kredit yang cepat juga diiringi dengan kerentanan sektor keuangan. Lebih lanjut, mereka menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit yang berlebihan dapat mengancam kestabilan ekonomi makro.

Pertumbuhan kredit yang dimaksud adalah apabila terjadi penumpukan pinjaman yang berpotensi menjadi bad loans. Pada umumnya, hal tersebut terjadi akibat lembaga perbankan cenderung kurang berhati-hati dalam memberikan kredit kepada golongan nasabah dengan risiko yang cenderung tinggi. Bad loans dapat terjadi saat periode perekonomian kontraktif dimana pada awalnya perekonomian menerapkan kebijakan ekspansi kemudian perbankan cenderung terlalu optimis pada kemampuan bayar nasabah. Oleh karena itu, terjadi penumpukan pinjaman yang berpotensi menjadi bad loans pada periode ekonomi kontraksi.

(16)

3 Guna mencegah terjadinya bad loans diperlukan kebijakan moneter yang tepat.

Kebijakan moneter sendiri memiliki tujuan tunggal yakni untuk menjaga tingkat inflasi yang dalam prosesnya harus ditempuh melalui serangkaian jalur, salah satu diantaranya adalah melalui jalur kredit. Dengan demikian, otoritas moneter harus cermat dalam menerapkan regulasi agar bisa berdampak positif terhadap perekonomian. Menurut Severe (2016), perbankan memegang peran mendasar dalam kemampuan sistem keuangan untuk memperpanjang dan memperluas kredit, sehingga menguntungkan untuk perekonomian. Akan tetapi, apabila terjadi penumpukan pinjaman yang bisa berujung pada gagal bayar, maka dampak buruk yang muncul dapat menyebar ke berbagai sektor dalam perekonomian. Oleh karena itu, perbankan melalui kredit yang disalurkan merupakan salah satu elemen penting dalam mencapai efektivitas kebijakan moneter.

Temuan empiris Fase dan Abma (2003) menjelaskan bahwa industri perbankan sebagai jalur untuk mekanisme kebijakan moneter, menjadi sumber dana utama untuk kegiatan bisnis di negara berkembang. Hal tersebut karena industri perbankan memegang peran vital terhadap perekonomian dan apabila terjadi krisis di sektor perbankan dampak yang muncul bisa menyebar ke berbagai sektor dan mengganggu perekonomian.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa krisis perbankan yang terjadi di suatu negara telah mengakibatkan kerugian bagi perekonomian dan masyarakat (Simorangkir, 2011). Terhambatnya akses pembiayaan untuk dunia usaha dapat mengakibatkan kontraksi ataupun perlambatan ekonomi, sehingga dapat mendorong peningkatan pengangguran. Selain itu, penyehatan perbankan akibat krisis juga memerlukan biaya fiskal yang besar dan pada akhirnya akan dibebankan kepada pembayar pajak (tax payer). Output loss yang dialami negara-negara yang mengalami krisis perbankan bervariasi tergantung kedalaman dan lamanya krisis.

Menurut Simorangkir (2011), Indonesia mengalami kerugian output (output loss) sebesar 35% hingga 39% dari PDB pada periode krisis 1997-2002. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sektor perbankan memegang peran penting terhadap perekonomian, melihat sumbangan proporsi yang terbilang cukup tinggi terhadap PDB. Selain itu, terdapat hal lain yang menunjukkan bahwa besarnya peran perbankan terutama kredit dalam memengaruhi aktivitas perekonomian yakni pinjaman bank menjadi sumber utama keuangan perusahaan kecil maupun besar (Suzuki, 2004).

Di Indonesia, peranan bank cenderung lebih penting dalam pembangunan, karena bukan hanya sebagai sumber pembiayaan, tetapi juga mampu memengaruhi siklus

(17)

4 usaha dalam perekonomian secara keseluruhan. Hal ini karena bank lebih superior dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya dalam menghadapi informasi yang asimetris dan mahalnya biaya dalam melakukan fungsi intermediasi. Bank Umum (Commercial Bank) memiliki peranan yang sangat penting dalam menggerakkan roda perekonomian nasional, karena lebih dari 95% Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan nasional yang meliputi Bank Umum, Bank Syariah, dan Bank Perkreditan Rakyat berada di Bank Umum. DPK ini yang selanjutnya digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit.

Dana berlebih (surplus fund) yang disalurkan secara efisien bagi unit yang mengalami defisit atau kekurangan dana dalam sementara waktu akan meningkatkan kegiatan produksi yang kemudian kegiatan tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pada level mikro, adanya kendala dalam penyaluran kredit dapat berdampak pada kehancuran usaha-usaha kecil.

Penerapan kebijakan moneter yang terlalu longgar dapat membuat para pelaku usaha, terutama di sektor finansial, lengah dan mengabaikan risiko dan cenderung menjadi risk-taker dalam menyalurkan kredit, sehingga terjadi credit bubble dan risiko default menjadi membesar yang pada akhirnya dapat menimbulkan risiko sistemik.

Merujuk pada besarnya peran industri perbankan terhadap penyediaan dana untuk modal kerja, investasi, dan konsumsi masyarakat terutama dana kredit dalam mendorong perekonomian serta melihat pentingnya menjaga pertumbuhan dan pengendalian kredit, maka pengaruh kebijakan moneter terhadap kredit perbankan di Indonesia penting untuk diteliti. Peneltian ini berkontribusi terhadap keberadaan mekanisme transmisi jalur kredit di Indonesia. Selain itu, penelitian ini berbeda dengan temuan-temuan empiris terdahulu dari sisi teknik analisis dan variabel yang digunakan dalam model penelitian. Penelitian ini menggunakan path analysis untuk menganalisis pengaruh kebijakan moneter terhadap kredit perbankan. Selain itu, model yang dibangun dalam penelitian ini terdapat beberapa perbedaan atau modifikasi dengan model-model yang terdapat dalam penelitian terdahulu yang dijadikan acuan.

1.2 Rumusan Masalah

Secara teoritis seharusnya kebijakan moneter yang diterapkan akan berpengaruh positif terhadap suku bunga kredit dan suku bunga simpanan (DPK) serta berpengaruh negatif terhadap total pertumbuhan kredit. Akan tetapi, terdapat penelitian terdahulu yakni Morris dan Sellon (1995), Carerra (2010), dan (2012)

(18)

5 yang menemukan bahwa kebijakan moneter yang direpresentasikan oleh suku bunga acuan belum mampu memengaruhi total pertumbuhan kredit secara signifikan. Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan mucul pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Apakah kebijakan moneter memengaruhi pertumbuhan total kredit bank umum di Indonesia?

2. Jika ya, apakah pengaruh tersebut selaras dengan teori ekonomi moneter dan mekanisme transmisi bank lending channel?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kebijakan moneter terhadap kredit perbankan di Indonesia. Kegunaan dari penelitian ini untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai pengaruh kebijakan moneter terhadap kredit perbankan di Indonesia. Selain itu, bagi dunia akademis, studi mengenai mekanisme transmisi kebijakan moneter diharapkan akan semakin memperkaya pemahaman mengenai bagaimana kebijakan moneter berpengaruh terhadap kredit perbankan dan pengembangan teori maupun asumsi-asumsi yang melandasinya.

1.4 Kerangka Pemikiran

Teori mengenai mekanisme transmisi kebijakan moneter pada mulanya mengacu pada peranan uang dalam perekonomian, yang pertama kali dijelaskan oleh Quantity Theory of Money (Fisher, 1911). Teori ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan langsung dan sistematis antara pertumbuhan uang beredar dengan inflasi dan output riil. Akan tetapi, dengan semakin berkembangnya perbankan dan sektor keuangan, muncul pandangan yang mengkritisi pendekatan tradisional dalam teori ekonomi moneter yang mendasarkan pada permintaan uang untuk transaksi tersebut.

Bernanke dan Blinder (1992 dan 1988) menemukan bahwa kebijakan moneter dapat memengaruhi ekonomi riil melalui mekanisme transmisi bank lending channel.

Bernanke dan Blinder (1988) mengemukakan teori mengenai bank lending channel dimana mereka memperkenalkan model CC-LM dengan asumsi bank loans tidak dapat disubstitusi sempurna oleh obligasi dan mempertegas bahwa perubahan kebijakan moneter tidak hanya menggeser kurva LM, tetapi juga kurva commodity dan credit. Hal ini diperkuat oleh penelitan Holtemoller (2002) yang menemukan

(19)

6 bahwa jalur kredit merupakan salah satu penjelasan mekanisme transmisi yang lebih baik dibandingkan teori tentang transmisi kebijakan moneter lainnya. Argumen utama untuk beroperasinya jalur kredit ini adalah adanya ketidaksempurnaan pasar seperti masalah informasi dan biaya transaksi. Selain itu, Stiglitz dan Greenwald (2003) berpandangan bahwa kunci untuk memahami ekonomi moneter adalah permintaan dan penawaran dana pinjaman, sehingga memerlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya peran bank dan konsekuensi dari ketidaksempurnaan informasi yang sering terjadi di pasar keuangan.

Berdasarkan teori dan diperkuat dengan beberapa temuan empiris yakni Khundrakpam (2013), Hsing (2014), Xiong (2013), dan Severe (2016) diduga bahwa BI Rate, suku bunga DPK (SDPK), suku bunga pinjaman (SKREDIT), dan dana pihak ketiga (DPK) berpengaruh terhadap kredit perbankan. Dengan demikian, dapat dirumuskan kerangka pikir penelitian sebagai berikut:

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Gambar 1 menggambarkan mekanisme pengaruh kebijakan moneter terhadap pertumbuhan total kredit bank umum di Indonesia. BI Rate sebagai suku bunga acuan akan memengaruhi suku bunga simpanan (SDPK) dan suku bunga kredit.

Pemikiran tersebut didasari oleh temuan dan model yang disusun oleh Kaushal dan Pathak (2012), Khundrakpam (2013), Hsing (2014), Xiong (2013), dan Severe (2016). Secara khusus Kaushal dan Pathak (2012) menjelaskan bahwa dalam pandangan kredit, suku bunga kebijakan akan secara langsung memengaruhi suku bunga simpanan dan suku bunga kredit. Oleh karena itu, kerangka pemikiran penelitian berawal dari suku bunga kebijakan yang akan langsung memengaruhi suku bunga DPK dan suku bunga kredit.

Suku bunga simpanan (SDPK) akan memengaruhi total DPK di bank dengan asumsi suku bunga simpanan memberikan insentif terhadap perilaku nasabah.

Bank sebagai lembaga perantara antara surplus unit dan deficit unit dalam

(20)

7 menjalankan kegiatan bisnisnya menggunakan DPK untuk dana kredit yang merupakan usaha utama dari perbankan, sehingga jumlah DPK akan memengaruhi besarnya kredit yang disalurkan ke masyarakat.

Suku bunga kebijakan akan memengaruhi pertumbuhan total kredit melalui suku bunga kredit dan pertumbuhan total DPK. Hal tersebut didasari oleh teori ekonomi moneter, credit view, dan beberapa studi empiris. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki alur berpikir seperti yang dijelaskan pada gambar 1.

Meskipun demikian, selain kebijakan moneter, tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku penawaran kredit perbankan juga dipengaruhi oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan kondisi perbankan itu sendiri seperti pemodalan (CAR), jumlah kredit macet (NPL), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) (Bank Indonesia, 2004). Tidak semua permintaan kredit debitur dapat dipenuhi oleh bank-bank, khususnya apabila kondisi keuangan debitur yang dinilai oleh bank tidak feasible (layak) antara lain karena tingginya rasio utang terhadap modal (leverage), risiko kredit macet, moral hazard, dan sebagainya.

Variabel-variabel tersebut tidak dimasukkan dalam model penelitian karena tidak sejalan dengan tujuan dari penelitian ini. Seperti yang dijelaskan pada bagian tujuan penelitian, penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kebijakan moneter terhadap pertumbuhan total kredit Bank Umum di Indonesia melalui mekanisme transmisi jalur kredit. Oleh karena itu, CAR, NPL, dan LDR tidak dimasukan kedalam model penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Metode tersebut digunakan untuk melihat bagaimana hubungan antara kebijakan ekonomi yang dilakukan pemerintah (kebijakan fiskal dan moneter) dan pertumbuhan ekonomi baik dalam

Metode tersebut digunakan untuk melihat bagaimana hubungan antara kebijakan ekonomi yang dilakukan pemerintah (kebijakan fiskal dan moneter) dan pertumbuhan ekonomi baik dalam

pertumbuhan ekonomi, serta kebijakan moneter didalam suku bunga SBI. Kebijakan moneter sering kali digunakan untuk menguatkan

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebijakan moneter yang diukur melalui tingkat suku bunga kebijakan bank sentral (X 1 ) terhadap

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon return pasar modal Indonesia (return JCI) dengan adanya perubahan pada kebijakan moneter domestik (Bank Indonesia)

Pertumbuhan Kredit Bank Umum Konvensional dan pembiayaan Bank Umum Syariah yang juga terus tumbuh membaik setiap tahunnya diharapkan dapat mendorong keberhasilan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon return pasar modal Indonesia (return JCI) dengan adanya perubahan pada kebijakan moneter domestik (Bank Indonesia)

Kebijakan moneter adalah semua upaya atau tindakan Bank Sentral dalam mempengaruhi perkembangan variabel moneter (uang beredar, suku bunga, kredit dan nilai tukar) untuk