PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY BERBASIS MIND MAP TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA PADA SISWA KELAS X SMAN 2 GERUNG PADA MATERI STRUKTUR ATOM DAN SISTEM
PERIODIK UNSUR TAHUN PELAJARAN 2017/2018
JURNAL SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Sarjana (S1) Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Mataram
Oleh:
DWI AL-FIALISTYANI NIM. E1M 013007
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MATARAM
2018
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS MATARAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Jl. Majapahit No. 62 Mataram NTB 83125 Telp. (0370) 623873, Fax. 634918
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING JURNAL SKRIPSI
Jurnal skripsi yang disusun oleh: Dwi Al-fialistyani (E 1 M 013 007) , Program Studi Pendidikan Kimia dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Berbasis Mind Map Terhadap Hasil Belajar Kimia Pada Siswa Kelas X Sman 2 Gerung Pada Materi Struktur Atom Dan Sistem Periodik Unsur Tahun Pelajaran 2017/2018” telah diperiksa dan disetujui oleh:
Mataram, Mei 2018
Dosen Pembimbing Skripsi I, Dosen Pembimbing Skripsi II,
(Prof. Drs. H. Agus Abhi Purwoko, M.Sc. Ph.D.) (Dr. rer. nat. Lalu Rudyat Telly Savalas, S.Si., M.Si.) NIP. 19590823 198502 1 001 NIP. 19750626 200312 1 002
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY BERBASIS MIND MAP TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA
Dwi Al-fialistyani1, Agus Abhi Purwoko 2 , Lalu Rudyat Telli Savalas 3 Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP Universitas Mataram
Jln.Majapahit No.62 Mataram, e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh hasil belajar kimia antara siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran inquiry berbasis mind map dengan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Sampel yang dipergunakan dalam penelitian yakni kelas X.1 dan X.2 karena jumlah kelas X di SMA ini hanya 2 kelas sehingga teknik sampel yang digunakan adalah teknik sampel jenuh. Data yang dikumpulkan yaitu data nilai pretest dan posttest. Data hasil belajar siswa dianalisis menggunakan uji ANAKOVA dan nilai pretest digunakan sebagai kovariat, diperoleh Fhitung 1,78 Ftabel 4,11, maka H0
diterima dan Ha ditolak, artinya tidak terdapat perbedaan hasil belajar kimia antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran inquiry berbasis mind map dengan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inquiry berbasis mind map tidak berpengaruh terhadap hasil belajar kimia. Tetapi berdasarkan lembar hasil observasi dan hasil belajar siswa menunjukkan bahwa nilai pretest, posttest dan total skor proses belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.
Kata kunci: inquiry, mind map, hasil belajar.
THE INFLUENCE OF INQUIRY LEARNING MODEL BASED MIND MAP OF THE LEARNING OUTCOME CHEMISTRY
ABSTRAC
The purpose of this research is to know the influence of study results chemistry between students are taught with learning model inquiry based mind map with students are taught with conventional learning model .Sample be used in research the class x.1 and x.2 because the number of classes x in high school this only 2 class so sample techniques used is a technique sample saturated.The data collected by scores pretest and posttest .Data analyzed use student learning test anacova and value pretest used as covariat , obtained Fcalculate 1.78 Ftable 4,11 , so h0 received and ha rejected , this means not there is a difference study results chemistry between students who studied through learning model inquiry based mind map with students who studied through learning model conventional. Based on the results of the research we can conclude that kind of classroom inquiry based mind maps will not affect the chemical study results .But rather on sheets of observations and results showing that the pretest student learning , and the total score posttest activity students experiment higher than class control.
Key words : inquiry, mind map, learning outcome.
PENDAHULUAN
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran kimia dan siswa kelas x SMAN 2 Gerung bahwa kesiapan siswa dalam menerima materi pelajaran sangat kurang, karena siswa merasa bahwa pelajaran kimia sangat membosankan dan sulit dimengerti sedangkan guru lebih aktif dalam proses belajar mengajar dibanding siswa. Rata-rata jumlah siswa yang berpartisipasi aktif dalam setiap proses pembelajaran yaitu kurang lebih 10 % saja dari jumlah siswa. Partisipasi siswa hanya pada saat mengerjakan LKS, akan tetapi selama proses penanaman konsep, siswa lebih banyak menyimak dan mendengarkan informasi dari guru tanpa mencatatnya. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terlihat kurang aktif sehingga akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan data hasil nilai UAS kelas X yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih rendah, seperti yang terdapat pada tabel berikut:
Tabel 1.1 Hasil UAS Mata Pelajaran Kimia Kelas X Semester I SMAN 2 Gerung Tahun Pelajaran 2016/2017
No Kelas Jumlah Siswa
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah
Nilai rata-rata
Jumlah Siswa Tuntas
Ketuntasan Klasikal %
1. X MIA 1 26 84 24,5 55,44 3 11,5
2. X MIA 2 25 84 18 41,29 2 8
Sumber Data: Arsip Guru Kimia Kelas X SMAN 2 Gerung.
Berdasarkan tabel 1.1 di atas bahwa rendahnya hasil belajar siswa diukur berdasarkan belum tercapainya KKM minimal 75, dimana rata-rata nilai siswa hanya 55,44 dari 26 siswa dan 41,29 dari 25 siswa.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti perlu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan supaya pembelajaran melibatkan siswa adalah menerapkan model pembelajaran inquiry berbasis mind map. Pembelajaran berdasarkan inquiry merupakan seni penciptaan situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi-situasi ini siswa berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam, mengajukan penjelasan-penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan melakukan pengujian, menganalisis data, menarik kesimpulan dari data eksperimen, merancang dan membangun model, atau setiap kontribusi dari kegiatan tersebut di atas (Zuldafrial, 2012, p.125).
Penerapan model pembelajaran inquiry terbimbing dapat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan metakognitif yang terdiri dari keterampilan merencanakan,
keterampilan memonitor, dan keterampilan mengevaluasi dengan keterampilan metakognitif paling dominan adalah keterampilan merencanakan (Sugiarto dan Fitri, 2013). Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan proses penelitian yang didorong oleh pertanyaan demi pertanyaan dan membuat penemuan dalam usaha mencari kefahaman atau jawaban baru sehingga aktivitas siswa dapat meningkat (Suma, 2011).
W. Gulo dalam Anam (2015, p.28) mengungkapkan bahwa “Pembelajaran Inquiry berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri”. Proses inquiry memberi kesempatan kepada siswa untuk memiliki pengalaman belajar yang nyata dan aktif, siswa dilatih bagaimana memecahkan masalah sekaligus membuat keputusan sehingga penerapan model pembelajaran inquiry dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Damayanti & Mintohari, 2014).
Pemaparan tentang penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan pembelajaran inquiry yaitu penelitian Dewi, Nyoman & Wayan (2013) bahwa pembelajaran inquiry berpengaruh signifikan terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa. Pembelajaran dengan model inquiry dinyatakan lebih efektif daripada pembelajaran konvensional. Hasil penelitian Deborah et al (2015) menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis inquiry pada pembelajaran sains menunjukkan peningkatan hasil akademik, tingkah laku dan penggalian informasi.
Menurut Sanjaya (2013, p.32) pembelajaran Inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Penerapan model inquiry juga mampu membuat siswa saling bekerja sama melalui diskusi kelompok yang mengharuskan siswa memberikan masukan kepada siswa lain sehingga siswa yang kurang mampu lebih termotivasi dalam mempelajari materi yang kurang dimengerti. Penggunaan media juga mempunyai peranan penting dalam menyampaikan pembelajaran. Salah satu media dalam pembelajaran adalah mind map. mind map merupakan cara mencatat yang kreatif, efektif, memetakan pikiran-pikiran secara menarik, mudah serta berdaya guna sehingga pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa yang pembelajarannya menggunakan mind mapping lebih baik dari pada yang cara konvensinal (Darusman, 2014).
Efektivitas penggunaan mind map dalam pembelajaran telah diteliti. Widiari, Agung &
Jampel (2014) yang kesimpulan hasil penelitiannya bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang signifikan antar kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran mind mapping dan yang menggunakan pembelajaran ekspositori. Faelasofi, Yunni & Ana (2015) mengemukakan bahwa ada peningkatan rata-rata kemampuan komunikasi matematis siswa melalui pembelajaran mind mapping yang ditunjukkan melalui hasil perolehan ada perbedaan kemampuan komunikasi matematika siswa dalam memecahkan masalah sebelum ataupun sesudah perlakuan dan ada perbedaan rata-rata kemampuan komunikasi matematika siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Syam & Ramlah (2015) menyimpulkan hasil penelitiannya yaitu terjadi peningkatan hasil belajar IPS melalui penerapan model pembelajaran Mind Mapping pada siswa kelas IV SDN 54 Kota Parepare. Dan Herlina (2012 mengemukakan bahwa pembelajaran mind map memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.
Mind map (peta pikiran) menggunakan pengingat visual dan sensorik dalam suatu ide yang berkaitan, seperti peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorganisasikan, dan merencanakan (Deporter & Mike, 2009, p.152). Mind map adalah media yang dirancang untuk membantu siswa dalam proses belajar, menyimpan informasi berupa materi pelajaran yang diterima oleh siswa pada saat pembelajaran. mind map dalam penelitian ini berupa LKS yang di dalamnya terdapat bagian-bagian materi yang belum lengkap yang harus dilengkapi oleh siswa.
Proses inquiry menonjolkan proses mental dan fisik namun kurang leluasa dalam mengarahkan siswa membuat dokumentasi materi. Padahal salah satu cara belajar yang efektif, siswa harus dapat membuat catatan. Membuat catatan tidak sama dengan menyalin.
Catatan harus merupakan outline atau garis besar suatu materi. Penggunaan mind map membantu siswa dalam membuat dokumentasi materi pelajaran dengan kreatif dan mengulangnya kembali dirumah, memudahkan mengingat dan menghubungkan sebuah ide dengan ide lainnya. Hasil penelitian relevan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Sihombing & Setia (2016) bahwa penerapan model inquiry training berbasis mind mapping dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.
Mahardika, Putri & Indrawati (2016) mengatakan penerapan pembelajaran model inquiry terbimbing berbantuan mind map dapat meningkatkan hasil belajar kognitif dan psikomotorik siswa. Dan hasil penelitian Hilman (2014) yaitu pembelajaran inquiry dengan mind map memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap keterampilan proses sains
dan hasil belajar IPA siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Papalang dibandingkan dengan pembelajaran inkuiri terbimbing dan konvensioanl.
Model pembelajaran inquiry berbasis mind map memiliki karakteristik yang dapat mendorong siswa belajar aktif, mandiri, berpikir kritis dan bertanggung jawab melalui pengalaman menemukan informasi dan data yang diperlukan untuk menemukan konsep yang dipelajari. Dalam pembelajaran inquiry siswa ditekankan untuk mencari dan menemukan sendiri materi yang akan diajarkan dengan menggunakan bantuan mind map sebagai media pembelajaran. Dalam penelitian ini siswa akan diharuskan melengkapi mind map yang telah dibuat oleh guru. siswa mengeluarkan pendapat dan kemampuannya untuk menampilkan pemikiran kritisnya melalui mind map tersebut, yang mana akan membuat pemahaman materi lebih efektif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 2 Gerung tahun pelajaran 2017/2018. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Desain yang digunakan dalam eksperimen semu ini yaitu kelompok kontrol yang tidak setara. Pada penelitian ini melibatkan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu model pembelajaran inquiry berbasis mind map. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini yaitu hasil belajar kimia.
Sampel yang dipergunakan dalam penelitian yakni siswa kelas X.1(25 siswa) dan X.2 (31 siswa). Teknik sampel yang digunakan yaitu teknik sampel jenuh karena semua populasi dijadikan sampel penelitian. Pengambilan sampel melalui sampling jenuh dikarenakan jumlah kelas tidak banyak yakni hanya dua kelas X dengan nilai rata-rata pretest yang digunakan sebagai data awal. Dengan demikian sampel yang digunakan terdiri atas dua kelas, kelas pertama yaitu kelas X.1 sebagai kelas eksperimen dan kelas kedua yaitu kelas X.2 sebagai kelas kontrol.
Pemberian perlakuan dimulai pada minggu ke 2 bulan Agustus 2017 dan berakhir pada minggu ke 3 bulan September 2017. Penerapan model dilakukan sebnyak 6 kali pertemuan selama 18 Jam Tatap Muka (JTM) atau 3 x 45 menit dalam satu minggu untuk tiap kelas, setiap minggunya dibuat catatan kelas untuk mengisi lembar observasi proses belajar siswa selama pembelajaran. Penelitian ini diawali dengan memberikan tes kemampuan awal dengan materi partikel materi dan bahan kimia dalam kehidupan dalam bentuk soal pilihan ganda sebanyak 30 soal. Hasil dari tes kemampuan awal ini digunakan juga sebagai
kovariat dalam uji hipotesis agar pengaruh perlakuan yang diberikan lebih jelas. Kemudian dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inquiry berbasis mind map pada kelas eksperimen, mind map ini dijadikan sebagai media pembelajaran yang dibuat dalam bentuk LKS yang akan didiskusikan oleh tiap kelompok pada tahap mengumpulkan data dan dilakukan model pembelajaran langsung pada kelas kontrol yang diajarkan dengan metode caramah, tanya jawab dan penugasan. Pada akhir penelitian dilakukan tes kemampuan akhir dengan materi struktur atom dan sistem periodik unsur dalam bentuk soal pilihan ganda sebanyak 30 soal.
Analisis data menggunakan rumus Aiken’s v untuk uji validitas isi/ahli (lampiran 8 &
9) dan KR-20 untuk uji reliabilitas instrumen (lampiran 10 & 11) serta statistik anacova untuk menguji hipotesis penelitian. Sebelum melakukan uji hipotesis anacova perlu dilakukan uji Normalitas dan uji Homogenitas karena pada prinsipnya didalam uji anacova data harus terdistribusi normal dan homogen. Kemudian dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji ANAKOVA untuk mengetahui hasil penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data hasil penelitian di SMAN 2 Gerung, data hasil belajar yang diperoleh kedua kelas setelah diberikan pretest sebelum penerapan model dilakukan dan posttest setelah penerapan model dilakuan dengan bentuk soal pilihan ganda diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol yang disajikan dalam tabel 3.1 :
Tabel 3.1 Data Hasil Belajar Siswa
Kelas
Pretest Posttest
Kelas Eksperimen
Kelas Control
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Nilai Rata-rata 41,31 40,65 67,54 61,76
Nilai Tertinggi 60 53,3 90 83,3
Nilai Terendah 20 13,3 46,7 30
Data hasil belajar siswa sebelum dianalisis menggunakan uji ANAKOVA dilakukan uji homogenitas dan normalitas. Hasil uji homogenitas nilai pretest dan posttest yang didapat merupakan data yang homogen, karena Fhitung < Ftabel. Dalam perhitungan normalitas X2 hitung yang diperoleh dibandingkan dengan X2 tabel apabila X2 hitung < X2 tabel berarti bahwa data terdistribusi normal. Oleh karena itu, data pretest dan posstest kelas eksperimen dan kontrol yang diperoleh terdistribusi normal.
Uji hipotesis dengan analisis statistik Anakova untuk hasil belajar menunjukkan Fhitung 1,78 Ftabel 4,11, maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya tidak terdapat perbedaan hasil
X.2 (Kontrol) 32 33 36 33 33 37 204
*P = Pertemuan
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa total skor proses b elajar s
belajar kimia antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran inquiry berbasis mind map dengan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional.
Model pembelajaran inquiry berbasis mind map memiliki karakteristik yang dapat mendorong siswa belajar aktif, mandiri, berpikir kritis dan bertanggung jawab melalui pengalaman menemukan informasi dan data yang diperlukan untuk menemukan konsep yang dipelajari. Sehingga aspek-aspek yang dinilai dalam lembar observasi proses belajar siswa yaitu motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran, keaktifan siswa dalam pembelajaran, kemandirian dalam belajar, kemampuan berpikir kritis siswa dan bertanggung jawab dalam belajar.
Berdasarkan hasil observasi proses belajar siswa selama pembelajaran, diperoleh total skor proses belajar siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol pada pertemuan 1 sampai 6 dapat dilihat pada tabel 3.2 di bawah ini.
Tabel 3.2 Total skor proses belajar siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol Kegiatan Pembelajaran
Perlakuan
X.1 (Eksperimen) 39 40 48 45 44 41 257
iswa di kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Siswa berpartisipasi aktif pada saat proses pembelajaran berlangsung dimana siswa kelas eksperimen ini diberikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry berbasis mind map.
Tingginya aktivitas belajar siswa kelas eksperimen ini menunjukkan bahwa unsur- unsur model pembelajaran inquiry berbasis mind map terlaksana dengan baik. Unsur-unsur tersebut menurut Beamon dalam Lang (2008, P.108) melibatkan interaksi guru dengan siswa, siswa dengan siswa yang mana guru berperan sebagai fasilitator dalam tahap merumuskan masalah dan menghubungkan konten pembelajaran dengan permasalahan yang diangkat, siswa secara aktif berdiskusi, mengeksplorasi informasi bacaan atau data untuk menyelesaikan masalah, serta adanya penugasan tambahan dan pemberian penguatan konsep oleh guru dibagian akhir pembelajaran.
Hasil penelitian Almuntasheri (2016) menyatakan bahwa inquiry dapat mendorong siswa dalam mengumpulkan data secara mandiri sehingga siswa mampu membangun ide-ide sebelum menyiapkan penjelasan mereka sendiri. Siswa yang belajar menggunakan inquiry
P1 P2 P3 P4 P5 P6 Total
memiliki tingkat kemampuan menjelaskan secara ilmiah yang lebih baik daripada siswa yang belajar menggunakan pembelajaran langsung.
Pencapaian hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran inquiry berbasis mind map secara statistik tidak lebih baik daripada siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran langsung. Dalam konteks ini siswa kelas eksperimen belum mencapai hasil belajar yang maksimal namun siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam mencari dan menemukan inti pembelajaran seperti para ilmuwan bekerja dibidangnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inquiry berbasis mind map tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar kimia materi struktur atom dan sistem periodik unsur siswa kelas X SMAN 2 Gerung. Tetapi berdasarkan hasil belajar dan lembar observasi proses beljar siswa. Nilai pretest, posttest dan total skor hasil observasi proses belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.
DAFTAR PUSTAKA
Anam, K. (2015). Pembelajaran Berbasis Inkuiri:Metode dan Aplikasi. Pustaka Belajar.Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Almuntasheri, S., Gillies, R.M dan Wright, T. (2016). The Effectiveness of a Guided Inquiry- Based, Teacher Profesional Development Programme on Saudi Students Understanding of Density. Science Education International. 27(1). 16-39.
BSNP. (2013). Permendibud RI No.64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.
Damayanti, I dan Mintohari. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPA Sekolah Dasar. Jurnal Universitas Negeri Surabaya. 02(03). 12-23.
Darusman, R. (2014). Penerapan Metode Mind Mapping (Peta Pikiran) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa SMP. Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung. 3(2).164-173.
Deborah, O., Maxwell., Dawn T., Lambeth dan Cox, J.T. (2015). Effects of Using Inquiry- Based Learning on Science Achievement for Fifth-Grade Students. Asia-Pasific Forum on Science Learning and Teaching. 16(1). 1-22.
Deporter, B dan Mike, H. (2009). Quantum Learning:Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung : Kaifa.
Dewi, N.L., Dantes, N dan Sadia, W.I. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Sikap Ilmiah Dan Hasil Belajar IPA. e-Journal Program Pascaserjana Universitas Pendidikan Ganesha. 3(1). 25-31.
Faelasofi, R., Arnidha, Y dan Istiana, A. (2015). Metode Pembelajaran Mind Mapping untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika. Jurnal e-DuMath.1(2). 122-136.
Herlina, L. (2013). Penggunaan Metode Mind Map (Peta Pikiran) untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Materi Sistem Organ di SMP Negeri 281 Jakarta. Jurnal Lemlit UHAMKA.4(1). 47-52.
Hilman. (2014). Pengaruh Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dengan Mind Map terhadap Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar IPA. Jurnal Pendidikan Sains. 2(4). 221- 229.
Lang, Hallmut. (2008). Models Strategies and Methods For Effective Teaching. Unted States of America: Pearson Education.
Mahardika, K.I., Putri, H.K dan Indrawati. (2016). Penerapan Model Inkuiri Terbimbing berbantuan Mind Map Dalam Pembelajaran Fisika Di SMA. Jurnal Pembelajaran Fisika. 4(4). 321-326.
Sanjaya, W. (2013). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Bandung : Kencana.
Setyosari, P. (2013). Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Sihombing, E dan Setia R. (2016). Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Training Berbasis Mind Mapping untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Materi Pokok Suhu dan Kalor di SMAN 1 Simanindo. Jurnal Inpafi. 4(1). 163-169.
Sugiarto, B dan Fitri A. (2013). Keterampilan Metakognitif Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing pada Materi Hidrolisis Garam. Journal of Chemical Education. 2(3). 36-41.
Sugiyono. (2013). Statistik untuk Peneitian. Bandung : Alfabeta.
Suma, K. (2011). Pengembangan Model Pembelajaran Bilingual Preview-Review Berbasis Inkuiri. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran.1(3). 8-17.
Syam, N dan Ramlah. (2015). Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping dalam Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IV SDN 54 Kota Parepare. Jurnal Publikasi Pendidikan. 5(3). 6-14.
Vaishnav, R.S. (2013). Effectiveness of Inquiry Training Model for Teaching Science.
Journal of Chirayu, K C Bajaj College of Education. 1(5). 100-109.
Widiari, M., Agung, G.A dan Jampel, N.I. (2014). Pengaruh Metode Pembelajaran Mind Mapping dan Ekspositori terhadap Hasil Belajar Matematika di SD Gugus 1X Kecamatan Buleleng. e-Journal Edutech Universitas Pendidikan Ganesha. 2(1). 1-12.
Zuldafrial. (2012). Strategi Belajar Mengajar. Surakarta: Cakrawala Media.