• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VII "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VII

SMPN 1 KOTO SALAK KABUPATEN DHARMASRAYA

E- JURNAL

BERLINA ZUNITA

NIM. 10010164

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2015

(2)
(3)

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VII

SMPN 1 KOTO SALAK KABUPATEN DHARMASRAYA

Berlina Zunita, Rina Widiana, Vivi Fitriani

Program Studi Pendidikan Biologi

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat E-mail: Bzunita@yahoo. com

ABSTRACT

This research is based on the low outcomes due to score at learning science, seen from the average scores was under based on the passing grade criteria (KKM) in SMPN 1 Koto Salak. The achievement on scores are caused by the teaching-learning process that is still teacher center learning, the lackness of supporting books such as standard guide books and supplementaries. Besides, the discussion among students and teacher is not interactive.

Furtheremore, the single media like whiteboard could not trigger students to be active and creative. So, this research is aimed to see the effect of the application of Discovery Learning towarding the learning outcome subject science to students grade VII at SMPN 1 Koto Salak Dharmasraya. The kind of this research is eksperimental research, used Randomized Control-Group Posttest Only Design method. The population in this research is all of students in VII SMPN 1 Koto Salak that listed in the academic year 2014/2015.

The sample was taken by using purposive sampling technique, so the sample is VII D as experiment class and VII C as control class. The instrument that used in this research is writing test in multiple choice. The technique of data analysis is T-test. The final result showed that experiment class had high average score than control class, experiment class got 75,75 and control class got 70,38. But both of averages in sample classes are over KKM. Hypotesis test was Ttest = 2,16 and Ttable =1,68. So that Ttest >Ttable, it is mean that hypotesis is received. It can conclude that the students result in learning outcome at VII SMPN 1 Koto Salak, 2014/2015 that used Discovery Learning is better than learning lecture, discussion, and question and answer method.

Keyword: Discovery Learning, learning outcome, experiment.

Pendahuluan

Mata pelajaran biologi mempunyai peranan penting dalam sains dan teknologi.

Biologi merupakan salah satu bidang studi yang penting karena biologi merupakan alat dan sarana pendidikan yang diperlukan berbagai ilmu lainnya. Kemampuan berfikir siswa yang dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan siswa yang beragam berdampak saat siswa menerima pembelajaran. Mata pelajaran biologi yang seharusnya menarik ternyata kurang disukai oleh sebagian besar siswa, karena mereka menganggap biologi adalah mata pelajaran yang sulit dan memiliki banyak bahasa ilmiah.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran IPA

di SMPN 1 Koto Salak tanggal 12 Februari 2014 dan dilakukan observasi ulang tanggal 19 Desember 2014 melihat kenyataan yang ada bahwa proses pembelajaran masih berpusat pada guru dan berlangsung satu arah. Kurangnya buku penunjang siswa dalam proses pembelajaran dikarenakan buku terbatas. Rendahnya interaksi siswa dengan siswa lainnya jika diadakan diskusi.

Kemudian media yang digunakan guru saat proses pembelajaran hanya menggunakan media papan tulis. Sehingga saat pembelajaran berlangsung menyebabkan siswa tidak termotivasi serta tidak bisa mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. Semua ini mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa.

(4)

Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan motivasi siswa dalam belajar yaitu perlu diterapkannya suatu strategi atau model pembelajaran. Guru sebagai pendidik harus bisa mencari solusi agar hasil belajar siswa bisa meningkat.

Seorang guru harus mampu memilih strategi atau model pembelajaran, agar proses pem- belajaran bisa berlangsung secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Leraning. Model pembelajaran Discovery Learning mengarahkan siswa untuk memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005 dalam Kemendikbud, 2013: 10).

Model pembelajaran Discovery Lear-ning disebut juga dengan model penemuan terbimbing, dimana menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keter-libatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran ini me- nempatkan guru sebagai fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan.

Dalam model pembelajaran ini siswa di- dorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang disediakan guru..Sehingga siswa menjadi aktif dalam belajar dan bisa membimbing siswa untuk belajar secara mandiri. Menurut Sagala dan Nova (2009: 90) model Discovery Learning ini merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif karena dengan model ini siswa belajar berfikir analisis dan mencoba meme- cahkan problema yang dihadapi sendiri, dan kebiasaan itu akan ditransfer dengan kehidupan bermasyarakat.

Menurut Suprihatiningrum (2013:

142-143) model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur dalam mengorganisasikan pengalaman pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran

.

Menurut Kemendikbud (2014: 42) Discovery learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya,

tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. Dengan mengaplikasikan model pembelajaran Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. Menurut Zalfendi, Neldi dan Rasyid (2011: 188) model Discovery Learning ialah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri, mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

Menurut Syah (2014 dalam

Kemendikbud, 2014: 43-44)

mengaplikasikan model Discovery Learning di kelas ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut.

a. Stimulation (stimulasi/ pemberian rangsangan).

b. Problem statement (Pernyataan/

identifikasi masalah).

c. Data collection (Pengumpulan Data).

d. Data processing (Pengolahan Data).

e. Verification (Pembuktian).

f. Generalization (menarik kesimpulan).

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis telah melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VII SMPN 1 Koto Salak Kabupaten Dharmasraya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VII SMPN 1 Koto Salak Kabupaten Dharmasraya.

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian telah dilaksanakan bulan Maret- April tahun pelajaran 2014-2015 di Kelas VII Semester II di SMPN 1 Koto Salak Kabupaten Dharmasraya. Rancangan yang digunakan adalah Randomized Control-Group Posttest Only Design, yang mana menggunakan dua kelas sampel yaitu kelas eksperimen dan kontrol. Pada kelas eksperimen yaitu Model Pembelajaran Discovery Learning, sedangkan pada kelas kontrol tidak diberi perlakuan (treatment).

(5)

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII semester II SMPN 1 Koto Salak Kabupaten Dharmasraya Pada Tahun Pelajaran 2014/2015. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kesamaan rata-rata kemampuan siswa atau mendekati sama. Prosedur penelitian ada tiga tahap, yaitu: (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan dan (3) tahap akhir

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar karena yang menjadi objek penelitian adalah hasil belajar siswa. Tes yang digunakan berupa soal pilihan ganda yang disesuaikan dengan pokok bahasan yang diberikan selama perlakuan berlangsung. Teknik penentuan kualitas instrumen yang dilakukan adalah validitas, daya beda, tingkat kesukaran soal dan reliabilitas. Analisis data penelitian dilakukan bertujuan untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam

penelitian. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji-t, sebelum uji-t dilakukan uji normalitas dan homogenitas varians kedua sampel.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh data hasil belajar IPA siswa pada kedua kelas sampel. Data hasil belajar IPA siswa diperoleh dari tes akhir pada materi Ekosistem. Tes hasil belajar berupa tes tertulis dalam bentuk objektif.

Jumlah soal tes akhir yang diberikan adalah 33 soal. Pada kelas eksperimen dan kontrol tes akhir masing-masing diikuti oleh 22 orang siswa dan hasil pengukuran tes hasil belajar kedua kelas tersebut diklasifikasikan berdasarkan data perhitungan tes hasil belajar siswa terlihat pada Gambar 1.

Gambar1. Histogram Rata-rata Nilai Kedua Kelas Sampel Dari Gambar 1 terlihat bahwa rata-rata

kelas eksperimen lebih tinggi dari pada rata- rata kelas kontrol, yaitu nilai rata-rata kelas eksperimen adalah 75,75 sedangkan nilai rata- rata kelas kontrol adalah 70,38. Hasil uji normalitas dan uji homogenitas pada kedua kelas sampel, berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen, sehingga untuk pengujian hipotesis digunakan uji-t. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai thitung = 2,16

sedangkan ttabel = 1,68. Karena thitung > ttabel, maka hipotesis diterima. Uji hipotesis secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 17.

Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SMPN 1 Koto Salak Kabupaten Dharmasraya pada tahun pelajaran 2014-2015 pada kelas VII diperoleh hasil belajar IPA pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan

(6)

hasil belajar kelas kontrol. Hasil ini dapat dilihat dari nilai rata- rata ulangan harian siswa pada kelas eksperimen yaitu 75,75 dan pada kelas kontrol yaitu 70,38. Pada kelas eksperimen dari 22 siswa, yang mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM) sebanyak 14 siswa dengan presentase 63,63%, sedangkan nilai siswa yang di bawah KKM 8 orang dengan presentase 36,36%. Pada kelas kontrol dari 22 siswa, yang mencapai KKM hanya 7 orang dengan presentase 31,81%, sedangkan nilai siswa yang di bawah KKM 15 orang dengan presentase 68,18%.

Berdasarkan presentase ketuntasan pada kelas eksperimen yaitu sebesar 63,63%

dengan penerapan model pembelajaran Discovery Learning, pada kelas kontrol dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab persentase ketuntasan hasil belajar siswa yaitu 31,81%. Hal ini sesuai dengan pendapat Bahri dan Zain (2013: 107) bahwa tingkat keberhasilan dikatakan baik apabila bahan pelajaran yang diajarkan 60%-75% dikuasai oleh siswa. Jadi pada kelas eksperimen bahan pelajaran yang diajarkan sudah dikuasai oleh siswa dengan nilai rata- rata 63,63%, sedangkan pada kelas kontrol ketuntasan hasil belajar siswa 31,81% berarti bahan yang diajarkan kurang dikuasai oleh siswa.

Pada proses pembelajaran IPA Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75.

Dimana proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas eksperimen nilai yang didapatkan hanya meningkat sedikit 0,75 dari KKM yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena sulit mengontrol siswa dalam melakukan kerja kelompok dan siswa cenderung ribut. Sehingga menyebabkan hasil belajar siswa rendah, hal ini dapat dilihat pada Lampiran 13.

Proses pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning siswa didorong untuk menemukan sendiri konsep- konsep yang diberikan atau disajikan oleh guru, sehingga siswa bisa belajar secara mandiri.

Menggunakan model pembelajaran Discovery Learning membuat siswa lebih cepat paham tentang materi pelajaran, karena siswa bisa mengidentifikasi sendiri masalah-masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran dan siswa juga bisa mencari sendiri pemecahan dari masalah yang mereka temukan yaitu dengan cara mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari copyan buku yang mereka miliki dan bisa juga dengan mengamati objek yang

ada. Setelah itu siswa juga dibimbing untuk mengolah informasi yang telah mereka dapatkan untuk memecahkan masalah yang mereka temukan dan pada akhirnya siswa diberi kesempatan untuk membuat kesimpulan dari hasil yang telah mereka dapatkan. Hal ini bisa membuat siswa menjadi aktif dalam proses belajar. Menurut Suprihatiningrum (2013: 248) Guru harus mendorong siswa untuk memecahkan masalah sendiri di dalam kelompoknya, bukan mengajarkan mereka jawaban dari masalah yang dihadapi tersebut.

Penggunaan model pembelajaran Discovery Learning dalam proses pembelajaran membuat siswa lebih mengetahui lagi tentang materi sistem Ekosistem, terutama tentang sub materi macam-macam ekosistem, satuan ekosistem, komponen ekosistem, rantai makanan, jaring-jaring makanan, piramida makanan, siklus energi dan jenis interaksi pada ekosistem. Jadi dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning siswa juga bisa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Sehingga siswa akan lebih mudah menemukan konsep- konsep yang ada pada materi Ekosistem dan materi tersebut akan lebih lama melekat dalam ingatan siswa. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sagala dan Nova (2009: 92-93) bahwa model Discovery Learning sendiri mengajarkan siswa untuk belajar sendiri dengan hasil penemuan mereka sendiri, juga dapat mengembangkan kognitif siswa lebih terarah dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Meningkatnya hasil belajar siswa pada kelas eksperimen ditunjang dengan adanya stimulation dengan cara menampilkan media power point yang akan diamati langsung oleh siswa. Dengan bantuan media power point, seorang guru akan lebih mudah dalam mempresentasikan dan mentransformasikan materi ajar kepada siswanya khususnya materi Ekosistem di kelas. Siswa juga menjadi mudah dalam belajar dan materi yang dirasa sulit akan menjadi mudah dipahami, karena siswa tidak hanya mendengarkan apa yang sedang diterangkan oleh guru, tetapi siswa bisa secara langsung melihat apa yang sedang diterangkan oleh guru secara langsung.

Pelaksanaan pembelajaran pada kelas kontrol tidak menggunakan model pembelajaran Discovery Learning seperti pada kelas eksperimen, tetapi menggunakan ceramah, diskusi dan tanya jawab. Nilai rata- rata kelas kontrol yaitu 70,38, yang mana nilai

(7)

tersebut rendah dari kelas eksperimen dan KKM yang telah ditetapkan. Rendahnya hasil belajar pada kelas kontrol disebabkan siswa tidak memperhatikan guru saat menjelaskan pelajaran. Tidak semua siswa aktif dan termotivasi dalam belajar, hal tersebut dapat dilihat pada saat guru memberikan pertanyaan tidak semua siswa bisa menjawab karena kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.

Ketika guru menerangkan materi pelajaran di depan kelas, siswa banyak yang meribut, sehingga apa yang dijelaskan di depan kelas sulit untuk dicerna atau dipahami oleh siswa. Volume suara siswa hampir sama kerasnya dengan volume suara guru yang sedang menjelaskan materi pelajaran di depan kelas. Pada saat mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru, beberapa siswa cenderung ribut serta siswa malas membaca buku untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang didiskusikan dan siswa tidak menguasai materi yang didiskusikan. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Lufri, Arlis, Yuslidar dan Sudirman (2007: 35) bahwa bila peserta diskusi tidak menguasai masalah atau materi yang didiskusikan maka diskusi tidak akan berjalan dengan baik, pemecahan masalah atau solusi tidak akan ditemukan. Jadi terkadang beberapa siswa hanya mencontoh apa yang telah dibuat oleh temannya, tanpa mau ikut mencari jawabannya. Sehingga terkadang pembelajaran hanya didominasi oleh siswa tertentu saja.

Berdasarkan uraikan di atas, pembelajaran menggunakan model Disccovery Learning di kelas VII SMPN 1 Koto Salak lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran di kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Hal ini terbukti dengan rata-rata nilai kelas eksperimen tinggi dari rata-rata nilai kontrol.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VII SMP N 1 Koto Salak Kabupaten Dharmasraya.

Dari penelitian yang telah dilakukan, maka penulis mengemukakan beberapa saran yaitu: Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian dengan model pembelajaran Discovery Learning pada

sekolah dan pokok bahasan yang berbeda.

Penerapan model pembelajaran Discovery Learning dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Daftar Kepustakaan

Bahri, S.D. dan A. Zain. 2013. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Kemendikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Direktorat Pembinaan SMA.

2013. Model Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

2014. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun Pelajaran 2014/2015 Mata Pelajaran Biologi SMA/SMK. Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjamin Mutu Pendidikan.

Lufri, Arlis, Yuslidar Y. & Sudirman. 2007.

Strategi Pembelajaran Biologi. Padang:

Universitas Negeri Padang.

Sagala, S. & Nova S. 2009. Efektivitas Metode Discovery Learning dengan Metode Diskusi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Sup Pokok Bahasan Mengenal Alat-Alat Kantor Kelas XI SMK Negeri 7 Medan Tahun Pembelajaran 2008/2009. UNIMED.

Hlm 90.

Suprihatiningrum, J. 2013. Strategi pembelajaran teori dan aplikasi. Ar- Ruzz Media.

Zalfendi, H. Neldi dan W. Rasyid. 2011.

Strategi Pembelajaran. Padang:

Sukabina Press.

(8)

Referensi

Dokumen terkait

การพัฒนากิจกรรมเสริมความรู้อาสาสมัครสาธารณสุขประจำหมู่บ้าน เพื่อการใช้ประโยชน์ภูมิปัญญาสมุนไพรพื้นบ้านในการดูแลสุขภาพ THE DEVELOPMENT ACTIVITY FOR KNOWLEDGE OF THE UTILITIES OF