• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI "

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI

SISWA KELAS XI SMAN 2 BAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN

TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Yola Wulandari, Rina Widiana dan Febri Yanti Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI SUMBAR

E-mail: [email protected] ABSTRACT

This research was motivated by the low learning outcome in biology caused by several things, that only some students involved in the learning process, students lazy to asked and unwilling to give an answer or response, lack of understanding of the students' learning material, the lack of variety of learning methods. As a result of these situation, maked poor learning outcome biology at the second grade students of SMAN 2 shadow in the school year 2013/2014.

This research aims to determine the results of students learning by using learning strategies Discovery Learning at the second grade of students of SMAN 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan in 2014/2015 Academic Year. This research is experimental study, using research design Randomized Control-group posttest Only Design. The population of this reserch were second grade of IPA at SMAN 2 Bayang in 2014/2015 Academic Year. The sampling technique was done by purposive sampling. Then second grade IPA1 as (experimental class) and second grade IPA4 (as control class). Data were analyzed using t-test, which is done first test of normality and homogeneity tests. Based on the final test results obtained average value of the experimental class is 81.30 and 71.51 the control class. From the analysis of data obtained T calculation of 3.71 while t table = 1.67 thus t > t table that means the hypothesis is accepted at the level of 95% (α = 0.05).

It can calculation that the Discovery Learning learning model can improve the results of biology learning at second grade students of SMAN 2 Bayang in 2014/2015 Academic Year.

Key Words : Discovery Learning , Learning Outcomes

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi pribadi mandiri yang utuh sehingga menghasilkan peserta didik yang kreatif dan produktif. Hal ini sejalan dengan pendapat Dimyati dan Mudjiono (2002: 7) yang menyatakan bahwa pendid- ikan merupakan satuan tindakan yang memungkinkan terjadinya belajar dan perkembangan. Pendidikan merupakan proses interaksi yang mendorong terjadinya belajar.

Dalam keseluruhan proses pendidi- kan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh

siswa sebagai anak didik (Slameto, 2010: 1).

Proses belajar mengajar akan menjadi lebih menarik apabila seorang guru memberikan pelajaran kepada peserta didik dengan menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi. Hal ini sangat memicu minat dan dapat memotivasi siswa dalam belajar sehingga peserta didik bisa menda-patkan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara penulis dengan guru biologi kelas XI SMAN 2 Bayang diperoleh infor- masi bahwa siswa cenderung pasif dan tidak termotivasi dalam belajar. Kebanyakan sis- wa hanya mengandalkan temannya yang dianggap pintar dalam diskusi kelompok.

Siswa banyak yang malas untuk menjawab ataupun memberikan pertanyaan serta tanggapan selama pembelajaran berlang- sung, hanya satu atau dua orang saja yang berani mengemukakan pendapatnya dalam

(2)

setiap pertemuan, sehingga siswa masih banyak yang kurang memahami materi.

Metode yang digunakan guru pada saat proses pembelajaran kurang bervariasi.

Guru hanya menggunakan metode pembe- lajaran yang konvensional yaitu dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Hal ini dapat menyebabkan siswa cenderung menjadi malas bertanya, bosan dengan pembelajaran yang sedang berlang- sung. Kadang guru juga membentuk kelompok diskusi. Namun diskusi tersebut tidak bisa membuat semua siswa ikut terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari nilai ulangan harian siswa yang masih rendah, dimana siswa masih banyak yang memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sedangkan KKM yang ditetapkan adalah 80.

Salah satu hasil belajar siswa yang rendah yaitu pada materi Sistem Pencernaan. Rata- rata nilai siswa pada materi Sistem Pencer- naan Tahun Pelajaran 2013/2014 semester II pada kelas XI IPA1 yaitu 56,5, kelas XI IPA2

yaitu 67,28, kelas XI IPA3 yaitu 56,64 dan kelas XI IPA4 yaitu 57,38.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diterapkan pembaharuan dalam pembelajaran biologi agar proses pembela- jaran dapat melibatkan semua siswa. Salah satu model yang dapat diterapkan yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.

Menurut Kemendikbud (2013: 10) model Discovery Learning mengarahkan siswa untuk memahami konsep, arti dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.

Penemuan konsep terjadi bila konsep tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi dengan penggunaan model pembelajaran Discovery Learning siswa didorong untuk mengiden- tifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorganisasi atau membentuk (konstruk- tif) apa yang mereka ketahui dan mereka paham dalam suatu bentuk akhir.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Disco- very Learning pada siswa kelas XI semester II SMAN 2 Bayang Kabupaten Pesisir Sela- tan Tahun Pelajaran 2014/2015.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian ini menggunakan dua kelas sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penelitian ini telah dilaksa- nakan pada bulan Januari sampai Februari 2015 di SMAN 2 Bayang pada kelas XI IPA Tahun pelajaran 2014/2015. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rando- mized Control Group Only Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMAN 2 Bayang yang terdaftar pada tahun pelajaran 2014/ 2015.

Teknik pengambilan sampel dengan purpo- sive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Validitas tes, Reabilitas, daya pembeda soal, Indeks kesukaran soal. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipo- tesis.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SMAN 2 Bayang Kabu- paten Pesisisr Selatan Tahun Pelajaran 2014/2015 dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning pada kelas Eksperimen yaitu pada kelas XI IPA1 dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol yaitu kelas XI IPA4 diperoleh hasil belajar biologi. Hasil belajar biologi ini diperoleh dari tes akhir yang dilakukan dengan menggunakan 35 butir soal objektif yang telah diuji cobakan sebelumnya dikelas XI IPA3 dengan menggunakan 62 butir soal.

Data hasil belajar biologi tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1:Nilai Rata-rata, Uji Normalitas, Uji Homogenitas, Uji Hipotesis peng- gunaan model pembelajaran Disco- very Learning terhadap hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA SMAN 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan Tahun Pelajaran 2014/2015

N o

Parame ter

Perlakuan Kete- rangan Eksperi

men

Kontrol 1 Rata-

rata

81,30 71,51 Eksperim en >

Kontrol 2 Uji L0= L0= L0 < Lt

(3)

N o

Parame ter

Perlakuan Kete- rangan Eksperi

men

Kontrol Norma-

litas

0,0796 Lt= 0,15

0,0608 Lt= 0,15

(Normal) L0 < Lt

(Normal) 3 Uji

Homo- genitas

Fh = 0,7 Ft =1,84

Fh < Ft

(homoge n) 4 Uji

Hipote- sis

th = 3,71 tt = 1,67

th > tt maka H1

diterima Keterangan :

Eksperimen :Penggunaan model pembe- lajaran Discovery Learning Kontrol :Menggunakan pembelajaran

konvensional

Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning memiliki rata-rata yang lebih tinggi dari pada kelas kontrol, yang mana pada kelas eksperimen rata-ratanya 81,30 sedangkan pada kelas kontrol rata-ratanya 71,51. Sementara itu Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) di sekolah tersebut adalah 80,00. Uji norma- litas pada masing-masing kelas didapat L0 <

Lt maka data berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas diperoleh Fhitung < Ftabel dimana Fhitung = 0,71 dan Ftabel = 1,84 yang berarti data homogen. Dari uji hipotesis yang dilakukan didapat bahwa thitung > ttabel dimana thitung = 3,71 dan ttabel = 1,67 maka hipotesis diterima.

B. Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SMAN 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan tahun pelajaran 2014/2015 pada kelas XI IPA diperoleh hasil belajar biologi pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan hasil belajar kelas kontrol.

Rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yaitu 81,30 dan pada kelas kontrol yaitu 71,51. Pada kelas eksperimen siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) sebanyak 22 siswa de- ngan presentase 66,67%, sedangkan nilai siswa yang di bawah KKM ada sebanyak 11 siswa dengan presentase 33,33%. Pada kelas kontrol dengan menggunakan pembelajaran secara konvensional siswa yang diatas KKM

ada sebanyak 13 siswa dengan presentase 38,23% dan nilai siswa yang berada dibawah KKM sebanyak 21 orang siswa dengan presentase 61,76%. Berdasarkan presentase ketuntasan hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yaitu sebesar 66,67% berada pada tingkatan yang baik/maksimal dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada kelas eksperimen siswa terlihat aktif dalam proses pembelajaran.

Masing-masing siswa dalam kelompok saling menyatukan pendapatnya dalam diskusi. Model pembelajaran Discovery Learning yang digunakan pada kelas eksperimen dapat meningkatkan motivasi dan rasa ingin tahu siswa dalam belajar.

Menurut Anurrahman (2011: 114) motivasi merupakan tenaga pendorong bagi seseorang agar memiliki energi atau kekuatan melakukan sesuatu dengan penuh semangat.

Motivasi mempunyai nilai dalam menen- tukan keberhasilan, demokratisasi pendi- dikan, membina kreativitas dan imajinitas, pembinaan disiplin kelas dan menentukan efektivitas pembelajaran. Siswa banyak yang termotivasi dengan adanya gambar-gambar berwarna pada lembar pengamatan yang diberikan. Menurut Nasution (1992: 197) gambar-gambar sangat memperluas situasi stimulus untuk dipelajari.

Selain itu, model Discovery Learning juga melatih siswa untuk belajar meme- cahkan masalah sendiri serta menemukan informasi sendiri. Menurut Suryono dan Hariyanto (2011: 136) siswa yang mela- kukan kegiatan pencarian, apalagi yang sistematis dan teratur, kemungkinan besar akan menemukan suatu hasil dari proses pencarian. Menurut Suprijono (2010: 69), belajar Discovery menekankan pada berpikir tingkat tinggi. Belajar ini memfasilitasi pe- serta didik mengembangkan dialektika berpikir melalui induksi logika yaitu berpikir dari fakta ke konsep.

Model Discovery Learning dapat melibatkan siswa dalam proses pembela- jaran, sehingga siswa dapat berperan secara aktif sementara guru hanya sebagai motiva- tor dalam proses pembelajaran. Guru membiarkan siswa untuk menemukan informasi sendiri sehingga memungkinkan siswa tersebut untuk mempelajari konsep- konsep dalam bahasa mereka sendiri.

Menurut Suprihatiningrum (2013: 248)

(4)

siswa akan mendapat keuntungan jika mereka dapat melihat dan melakukan sesua- tu dari pada hanya sekedar mendengarkan ceramah. Siswa didorong dan disemangati untuk belajar sendiri melalui kegiatan dan pengalaman. Guru berperan untuk menim- bulkan rasa ingin tahu siswa sehingga hasil belajar siswa dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Namun, KKM yang dicapai pada kelas eksperimen belum optimal. Masih ada 11 orang yang nilainya belum mencapai KKM. Hal ini disebabkan karena masih ada beberapa siswa yang kesulitan dalam mengidentifikasikan masalah-masalah, membuat pertanyaan maupun dalam pengolahan data, yang terlihat dari kurang sesuainya hasil pengamatan yang didiskusikan oleh siswa dalam kelompok. Hal tersebut dapat mengakibatkan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi dan mengakibatkan nilai siswa dibawah KKM.

Proses belajar yang dilakukan selama penelitian yaitu dengan diskusi kelompok yang dibagi menjadi beberapa kelompok.

Pengelompokan dilakukan secara heterogen yang dibentuk berdasarkan tingkat kemam- puan akademis siswa. Menurut Lie (2002:

46) kelompok yang disusun secara heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung, mening- katkan relasi dan interaksi antar ras, agama, etnik dan gender serta memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten. Siswa yang mempunyai kemampuan tinggi saling berbagi ilmu dan informasi pelajaran kepada siswa yang berkemampuan rendah sehingga mereka mendapatkan partisipasi belajar di kelas secara individual dan secara keseluru- han. Hal ini menyebabkan siswa lebih memahami materi yang dipelajari sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa.

Agar siswa dapat menemukan berba- gai informasi, disini peneliti memberikan bahan pelajaran kepada peserta didik yaitu berupa lembar pengamatan dan buku-buku dari berbagai sumber. Menurut Suryono dan Hariyanto (2011: 88) konsep model Disco- very Learning yaitu menemukan, yang mana siswa mengorganisasikan bahan pelajaran yang dipelajarinya suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak. Dalam model Discovery Learning ini,

bentuk bahan ajar tidak dijadikan sebagai bahan jadi, tetapi berupa bahan setengah jadi.

Dalam penelitian ini, pada tahap Stimulation diberikan gambar-gambar yang harus diamati siswa dalam kelompok. Dari gambar-gambar tersebut siswa disuruh untuk mengidentifikasikan masalah-masalah sesuai dengan gambar yang diamati. Menurut Suprihatiningrum (2013: 248) guru dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit dengan bantuan gambar dan demonstrasi. Setelah mengidentifikasi gam- bar, siswa disuruh untuk menyusun sendiri pertanyaan sesuai dengan masalah-masalah yang telah diamati. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, siswa disuruh untuk membaca bahan ajar dari berbagai sumber, sehingga nantinya siswa dapat menemukan berbagai informasi serta pemecahan masalah dari pertanyaan yang telah disusun. Setelah jawaban didapatkan, siswa disuruh untuk menampilkan hasil diskusi kelompok mere- ka, kemudian siswa disuruh untuk membuat kesimpulan dari seluruh hasil diskusi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Pada kelas kontrol diberikan perlaku- an dengan menggunakan pembelajaran secara konvensional yaitu dengan metode ceramah dan diskusi kelompok. Disini guru memberikan beberapa pertanyaan sesuai dengan tujuan pembelajaran untuk didiskusi- kan dengan anggota kelompok. Pembagian kelompok tidak disusun menurut kemam- puan akademis siswa, tetapi hanya diambil berdasarkan tempat duduk siswa. Setelah pertanyaan yang diberikan oleh guru, kelom- pok disuruh untuk menampilkan hasil diskusi mereka. Dalam diskusi kelompok tersebut, kebanyakan siswa yang lebih pintar saja yang mencari jawaban dari pertanyaan yang diberikan guru. Siswa kurang termoti- vasi dalam belajar, sehingga banyak siswa yang meribut dalam proses pembelajaran dan menyebabkan hasil belajar siswa rendah.

Menurut Maine (1954 dalam Warsono dan Hariyanto 2012: 12) dalam kelompok pem- belajaran berbasis guru (teacher-centered learning) mulai dari ceramah, tugas memba- ca, presentasi guru dengan audiovisual dan bahkan demonstrasi oleh guru, siswa hanya dapat mengingat materi pembelajaran maksimal sebesar 30%.

Disaat proses pembelajaran berlang- sung di kelas kontrol, siswa sering keluar

(5)

masuk disaat jam pelajaran, serta dalam bertanya sering kali pertanyaan yang ditanyakan oleh siswa menyimpang dari pembelajaran dan mengakibatkan proses pembelajaran tidak efektif. Menurut Zalfendi, Neldi dan Rasyid (2010: 334) kelemahan dari metode ceramah yaitu guru tidak mampu mengontrol sejauh mana siswa telah memahami uraiannya. Ketenangan siswa dalam belajar belum tentu siswa tersebut memahami pelajaran yang diberikan guru.

Jika dilihat dari hasil ulangan harian sebelumnya, terdapat peningkatan hasil belajar pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, nilai rata-rata ulangan harian kelas XI IPA1 yaitu 56,50 dan meningkat menjadi 81,30. Pada kelas kontrol, nilai rata-rata ulangan harian kelas XI IPA4 yaitu 57,38 dan meningkat menjadi 71,51. Meningkatnya hasil belajar siswa kemungkinan disebabkan karena disaat proses pembelajaran baik pada kelas XI IPA1 maupun pada kelas XI IPA4 guru hanya menggunakan ceramah dan tanya jawab. Setelah itu, siswa hanya disuruh mencatat apa yang dijelaskan oleh guru.

Menurut Slameto (2010: 65) metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula.

C. Kendala Penelitian

Hal yang menjadi kendala pada saat pembelajaran pada kelas eksperimen adalah masih ada beberapa siswa yang kesulitan dalam mengidentifikasi masalah, membuat pertanyaan maupun dalam mengolah data.

Hal ini disebabkan karena kurangnya kesiapan siswa dalam belajar. Siswa banyak yang tidak mempelajari materi sebelumnya dirumah, sehingga pada saat proses pembe- lajaran, siswa masih banyak yang kesulitan.

Selain itu, penulis juga tidak memberikan lembar pengamatan sebelum dilaksanakan- nya proses pembelajaran. Penulis member- kan lembar pengamatannya disaat proses pembelajaran akan dilaksanakan, karena lembar pengamatan yang penulis sediakan hanya satu lembar pengamatan untuk satu kelompok. Tidak semua siswa mendapatkan lembar pengamatan. Sehingga, kesiapan siswa kurang dalam belajar. Menurut Hamalik (2008: 33) murid yang telah siap

belajar akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil.

Sementara itu, pada kelas kontrol kendala yang ditemukan adalah siswa banyak yang meribut dalam belajar, sebagian besar siswa tidak memperhatikan guru dan sibuk dengan aktifitasnya masing- masing. Begitu juga dalam diskusi kelom- pok. Masih banyak siswa yang tidak termotivasi untuk mencari jawaban yang diberikan oleh guru, sehingga menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas XI SMAN 2 Bayang.

DAFTAR PUSTAKA

Anurrahman. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Asdi Mahasatya.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

2013. Model Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Direktorat Pembinaan SMA.

Nasution. 1992. Belajar dan Mengajar.

Jakarta: Bumi Aksara

Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor

yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Warsono dan Hariyanto. 2012.

Pembelajaran Aktif. Bandung:

Remaja Rosdakarya

Referensi

Dokumen terkait

Discovery Learning berbasis Assessment For Learning , model pembelajaran Discovery Learning , dan model pembelajaran Ekspositori, hasil belajar matematika siswa

Hasil penelitian dengan tingkat signifikansi 5% adalah (1) ada perbedaan pengaruh model pembelajaran Discovery Learning berbasis Numbered Head Together terhadap

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan Model Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Dan

Alhamdullilah, penulisan skripsi yang berjudul “ Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Dan Aktivitas Belajar Terhadap Hasil Belajar Biologi Pada

Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan terlihat bahwa hasil belajar ranah afektif siswa pada kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning

Dengan beberapa indikator tersebut, sudah terlihat bahwa penerapan model discovery learning sangat berpengaruh terhadap hasil belajar dan tingkat pemahaman siswa SD, karena model

Hal ini sesuai pendapat Roza, dkk, 2015 bahwa dengan menggunakan model Discovery Learning siswa didorong untuk menemukan informasi sendiri berdasarkan rangsangan atau informasi yang

vii Pengaruh Model Pembelajaran Discovery Learning Berbantuan Aplikasi Quizizz terhadap Hasil Belajar di SMA Aisyiyah 1 Palembang ABSTRAK Model pembelajaran Discovery Learning