• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DISERTAI LEMBAR DISKUSI

SISWA (LDS) TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS VIII SMPN 35 PADANG

Riri Permata Sari, Siska Nerita, Lince Meriko

Program Studi Pendidikan Biologi Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

The background of the research the missing of interaction between the teacher and the students, model and media that used by teacher not appropriate. So that make a negative impact to the student achievement in the daily test in the first semester 2015/2016 academic year for human of muscular system is 61,18% was under the minimum achievement category (KKM) is 77. The purpose of this research was to find out the effect of implementation cooperative learning model Think Pair Share (TPS) with Students’ Discussion Sheet (LDS) toward students’ biology achievement in the class VIII of SMPN 35 Padang. The kind of the research is experimental, the study design randomized control group posstest only design. The population in this study were all students of class VIII SMPN 35 Padang in the 1 st half 2016/2017 academic year consisting of 5 classes. The sampling technique is purposive sampling that was selected VIII1 experimental class and control class VIII3. Data analysis techniques of cognitive by using t-test. The result of data analysis was obtained thitung= 5,44 and ttabel = 1,67, because thitung > ttabelthe result of studying biology experimental class was higher than the control class, this means that the hypothesis was accepted. The average value of students experimental class was 70,80, and the control class was 58,40. The affective value of the experimental class was at very good predicate (3,90) and the control class was a good predicate (3,28). Value of psychomotor on experimental class is A- (3,56), and control class is A- (3,55). It could be concluded that the implementation of cooperative learning model Think Pair Share(TPS) with a students’ discusion sheet (LDS) good effect on learning outcomes biology at class VIII student of SMPN 35 Padang.

Kata kunci: TPS, LDS, Students, Discussion, Muscular system of human.

PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang berperan dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Dari proses pembelajaran itu akan terjadi hubungan timbal balik antara guru dengan siswa untuk menuju tujuan yang lebih baik. Dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah lepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas sendiri, maupun di dalam suatu kelompok tertentu. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan terjadinya proses belajar

dalam diri siswa. Seseorang dikatakan telah mengalami proses belajar apabila di dalam dirinya telah terjadi perubahan, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan sebagainya. Dalam proses pembelajaran, hasil belajar dapat dilihat secara langsung. Belajar adalah usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu (Abdillah, 2002) dalamAunurrahman, 2010: 35). Dalam proses

(2)

belajar mengajar, guru sesungguhnya dapat mengupayakan banyak hal untuk meningkatkan aktifitas belajar, diantaranya dengan strategi, metode dan model pembelajaran yang tepat, menyenangkan, menggunakan dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa.

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan guru biologi kelas VIII pada bulan Mei 2016 yang dilakukan di SMPN 35 Padang didapatkan informasi bahwa rendahnya motivasi siswa dalam belajar. Hal ini terlihat dari kurang aktifnya siswa dalam proses pembelajarn. Metode yang digunakan guru belum tepat dan media pembelajaran yang digunakan guru adalah buku cetak, dan media charta sehingga belum cukup mampu untuk memotivasi siswa dalam belajar. Selain itu kurang adanya umpan balik siswa dalam proses pembelajaran. Siswa kurang memperhatikan guru saat menjelaskan pelajaran. Hal tersebut mengakibatkan hasil belajar biologi siswa rendah.

Rendahnya hasil belajar siswa terdapat pada materi sistem gerak pada manusia karena pada materi ini dibutuhkan pemahaman siswa tentang berbagai macam rangka penyusun tubuh manusia, hubungan antar tulang, macam-macam otot, cara kerja otot serta kelainan dan penyakit sistem gerak manusia.

Pada materi ini siswa sulit untuk membedakan, mengidentifikasi, mendata macam–macam organ penyusun sistem gerak manusia.

Rendahnya hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian biologi siswa terutama pada materi sistem gerak pada manusia pada kelas VIII SMPN 35 Padang tahun pelajaran 2015/2016 adalah sebagai berikut VIII1 (69,58), VIII2 (67,66) VIII3 (67,11), VIII4 (73,97), VIII5 (70,55).

Berdasarkan data yang diperoleh penulis dari guru biologi siswa kelas VIII SMPN 35 Padang didapatkan nilai siswa di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM), KKM mata pelajaran biologi di sekolah ini adalah 77.

Apabila permasalahan di atas dibiarkan terus menerus maka siswa akan sulit untuk memahami materi selanjutnya dan mengakibatkan siswa yang tidak paham akan mengalami kegagalan dalam pembelajaran

serta tujuan pembelajaran biologi tidak tercapai. Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk menyelesaikan masalah tersebut, guru perlu memilih dan menerapkan metode, model dan media pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satunya adalah dengan menerapkan suatu model pembelajaran kelompok/ kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) disertai Lembar Diskusi Siswa (LDS). Model pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas terstruktur (Lie, 2002 dalam Wena, 2011: 189).

Istarani (2014: 68) mengemukakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) baik digunakan dalam rangka melatih berfikir siswa secara baik. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)ini menekankan pada peningkatan daya nalar siswa, daya kritis siswa, daya imajinasi siswa dan daya analisis terhadap suatu permasalahan yang diberikan guru. Selain itu kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) ini dapat meningkatkan kerja sama antara siswa (Istarani, 2014: 68). Agar informasi dapat disampaikan dengan baik maka pemberian Lembar Diskusi Siswa (LDS) dapat membantu siswa agar lebih mudah mempelajari dan memahami materi dalam pembelajaran. LDS merupakan salah satu sarana untuk membantu dan mempermudah dalam kegiatan belajar mengajar sehingga terbentuk interaksi yang efektif antara siswa dengan guru, sehingga dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam peningkatan prestasi belajar. Salah satu fungsi media yaitu fungsi komunikatif dimana media pembelajaran digunakan untuk mempermudah komunikasi antara penyampai pesan dan penerima pesan (Sanjaya, 2012: 73).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sofia (2016) dalam mata pelajaran pencemaran dan kerusakan lingkungan bahwa penggunaan Lembar Diskusi Siswa (LDS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) disertai LDS diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta dapat meningkatkan motivasi siswa

(3)

dalam pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas, penulis telah melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) disertai Lembar Diskusi Siswa (LDS) Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII SMPN 35 Padang”.

Berdasarkan latar belakang maka telah dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) disertai Lembar Diskusi Siswa (LDS)

terhadap hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMPN 35 Padang.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian Eksperimen. Model rancangan yang digunakan adalah Randomized Control-Group Posstest Only Design, , menurut Lufri (2007a:69) rancangan penelitian ini dapat dilihat pada tabel.

Tabel 2. Rancangan Penelitian

Kelompok Perlakuan Tes Akhir

Eksperimen X T

Kontrol - T

Sumber: Lufri (2007a: 68-69) Keterangan :

X: Pembelajaran dengan menggunakan model Think Pair Share (TPS) disertai LDS - : Pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah

T : Tes akhir pada kelas eksperimen dan kelas kontrol HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SMPN 35 Padang diperoleh data hasil belajar siswa pada ranah kognitif bahwa bahwa thitung > ttabel dimana tt= 1,67 Th= 5,44 maka hipotesis diterima. Dari data yang diperoleh maka pembelajaran menggunakan

model kooperatif tipe Think Pair Share(TPS) disertai Lembar Diskusi Siswa (LDS) terdapat pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada kedua kelas sampel meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor dapat dilihat pada Gambar 3, 4 dan 5 berikut ini.

1. Penilaian Pengetahuan (Ranah Kognitif) Penilaian pada ranah kognitif dilakukan pada akhir penelitian. Rata-rata pada penilaian

ranah kognitif dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini.

Gambar 3. Diagram Penilaian Pengetahuan (Ranah Kognitif) 70.80

58.40

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Rata-rata penilaian ranah kognitif Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

(4)

2. Penilaian Sikap (Ranah Afektif )

Penilaian afektif dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Data hasil

penilaian sikap siswa dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini.

Gambar 4. Diagram Penilaian Sikap (Ranah Afektif)

A: Rasa Ingin Tahu, B: Tanggung Jawab, C: Kerja Sama, D: Berkomunikasi 3. Penilaian Keterampilan (Ranah

Psikomotor)

Data hasil penilaian keterampilan siswa dapat dilihat pada Gambar 5 berikut ini.

Gambar 5. Diagram Penilaian Keterampilan (Ranah Psikomotor)

A: Kejelasan Isi Laporan, B: Kelengkapan Laporan, C: Kerapian dan Kebersihan Laporan Berdasarkan Gambar 3 diatas, hasil

belajar biologi pada ranah kognitif untuk kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar pada kelas eksperimen adalah 70,80 sedangkan kelas kontrol 58,40. Dari hasil penelitian kedua kelas sampel, didapat uji normalitas pada kelas eksperimen adalah Lo= 0,03974 dan Ltabel =0,1591 maka data berdistribusi normal, sedangkan pada kelas kontrol Lo = 0,0368 dan Ltabel = 0,1591 maka data berdistribusi normal karena Lo<Ltabel.

Pada hasil uji homogenitas antara kedua sampel diperoleh Fhitung= 0,63 sedangkan Ftabel

= 1,8409. Dengan demikian Fhitung< Ftabelmaka kedua sampel homogen. Selanjutnya hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji-t hasil analisis data didapat thitung= 5,44 dan ttabel=1,67 pada taraf nyata 0,05 dan dk adalah 60. Jadi thitung>ttabel maka hipotesis diterima, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) disertai Lembar Diskusi Siswa (LDS) berpengaruh terhadap hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMPN 35 Padang.

3.59 3.90

3.22

3.90

3.16 3.28

3.78

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5

A B C D

Nilai Modus Penilaian Sikap

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

3.17

3.72

3.03

2.06

3.71

3.24

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4

A B C

Pencapaian Optimum Penilaian Keterampilan

Kelas Eksperimen

Kelas Kontrol

(5)

Pembahasan

1. Penilaian Pengetahuan (Ranah Kognitif) Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Surayya (2014) diperoleh bahwa model pembelajaran Think Pair Share yang diterapkan dapat meningkatkan hasil belajar baik pada siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis tinggi maupun rendah, dan pada siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis rendah. Tingginya hasil belajar pada kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) disertai Lembar Diskusi Siswa (LDS) disebabkan pada saat proses pembelajaran siswa dituntut untuk berfikir, menemukan dan menjawab pertanyaan yang diberikan guru dalam LDS sehingga dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir secara kritis dan baik.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat menambah dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Diskusi kelompok yang dilakukan siswa dapat membantu siswa dalam memahami materi ajar, memecahkan suatu permasalahan dan melatih siswa bertukar pikiran dalam memecahkan permasalahan yang diberikan.

Hal ini sejalan dengan kelebihan metode diskusi, diantaranya metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide, dan dapat melatih siswa untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan (Majid, 2013:

204). Hal ini sesuai dengan kerucut pada kerucut pengalaman Edgar Dale, bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi memberikan pengalaman belajar yang cukup baik, dimana siswa dapat mengingat sebanyak 50% (Warsono dan Hariyanto, 2012:

12).

Media pembelajaran yang digunakan pada kelas eksperimen juga salah satu hal yang mempengaruhi tingginya hasil belajar pada kelas eksperimen. Dalam proses pembelajaran guru memberikan LDS yang berisi pertanyaan- pertanyaan dan gambar-gambar yang berkaitan

dengan materi pembelajaran. LDS yang penulis berikan dapat membantu dan mempermudah siswa memahami materi yang sedang dipelajari sebagaimana yang dikemukakan oleh Sanjaya (2012: 63) berupa media atau alat peraga pembelajaran dapat membantu proses belajar. Sedangkan menurut Lufri (2007b: 112) tanpa media, penyajian materi pelajaran menjadi kurang menarik, bahkan materi menjadi sulit dipahami dan membosankan.

Rendahnya hasil belajar pada kelas kontrol disebabkan karena salah satu kelemahan metode ceramah dan tanya jawab diantaranya pelajaran berlangsung membosankan, karena hanya berlangsung satu arah sehingga kurangnya interaksi antara siswa dengan guru serta siswa dengan siswa. Ini juga terlihat bahwa siswa hanya mendengarkan materi pembelajaran dari guru saja, kemudian mencatat poin-poin penting tentang materi pembelajaran, selanjutnya hanya didominasi oleh siswa yang aktif berbicara, sedangkan siswa lain diam atau pasif dalam menanggapi pertanyaan dan pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan. Ini sesuai dengan pendapat Lufri (2007b: 32) kekurangan metode ceramah “metode ceramah membosankan bagi anak didik bila terlalu lama dan menyebabkan anak didik pasif”.

2. Penilaian Sikap (Ranah Afektif)

Penilaian ranah afektif berupa lembaran observasi yang telah dilakukan satu orang observer selama proses pembelajaran. Menurut Latisma (2011: 192) hasil afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap mata pelajaran, kedisiplinannya dalam mengikuti proses pembelajaran, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai materi pelajaran, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap pendidik dan sebagainya.

Penilaian sikap pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama mendapatkan nilai predikat Baik, kelas eksperimen 3,90 (A) dan pada kelas kontrol 3,28 (B). Berdasarkan indikator yang diamati, indikator yang memiliki modus tertinggi adalah berkomunikasi dalam proses pembelajaran yang memiliki predikat sangat baik (A),

(6)

dimana masing-masing siswa harus berkomunikasi antara teman dan juga dengan guru saat proses pembelajaran berlangsung dan juga pada saat berdiskusi kelompok.

Berdiskusi untuk memperoleh penyelesaian terbaik, terjadi peningkatan pencapaian karena belajar dalam suatu kelompok kecil akan membuat siswa lebih banyak berkomunikasi dalam proses pembelajaran baik untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang harus dikerjakan oleh kelompok tersebut.

Sejalan dengan pernyataan Silberman (2007:

161) “dua kepala lebih baik dari satu”, dengan adanya saling membantu diantara siswa, maka siswa merasa tidak terbebani dalam menyelesaikan masalah dalam belajar.

Pada penilaian indikator rasa ingin tahu rata-rata kelas eksperimen 3,59 (B) sedangkan kelas kontrol 3,22 (B). Rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol. Kelas eksperimen lebih aktif untuk mencari tahu sendiri jawaban dari pertanyaan yang ada di LDS dari berbagai sumber dan memperhatikan penjelasan yang diberikan guru dalam proses pembelajaran, serta memiliki minat dan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap materi yang dipelajari, sebab pada kelas eksperimen pada proses pembelajaran Think Pair Share (TPS) siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan berfikir secara lebih luas dibanding kelas kontrol. Pada kelas kontrol pada saat proses pembelajaran siswa kurang memiliki rasa ingin tahu dan minat belajar masih rendah hanya beberapa siswa yang memiliki keingintahuan yang tinggi hal ini dapat terlihat pada saat guru menjelaskan materi pelajaran menggunakan metode ceramah dan tanya jawab siswa kurang memperhatikan penjelasan yang disampaikan.

Selain itu dalam membuat resume, siswa kurang bersemangat serta malas membaca buku sumber untuk membuat resume, ini disebabkan kurangnya minat atau ketertarikan terhadap proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (2013:57) minat yang besar berpengaruh terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak adanya ketertarikan baginya.

Penilaian indikator tanggung jawab pada kelas eksperimen dengan rata-rata 3,90 (A) dan kelas kontrol 3,28 (B). Pada penilaian indikator bertanggung jawab kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol. Pada kelas eksperimen dimana siswa dapat melaksanakan tugas individu maupun kelompok dalam diskusi kelompok yaitu dalam membuat laporan diskusi pada Lembar Diskusi Siswa (LDS) dan siswa menyelesaikan laporan dengan baik, menuliskan laporan diskusi dan selesai tepat waktu. Pada kelas kontrol siswa kurang tepat waktu dalam menyelesaikan laporan berupa resume. Kurang tepat waktunya siswa kelas kontrol dalam menyelesaikan laporan berupa resume karena siswa merasa malas untuk membuat resume materi pelajaran yang telah disampaikan guru.

Selain itu ada beberapa siswa yang melihat dan menunggu resume dari teman sebangkunya sehingga siswa tersebut terlambat mengumpulkan resume.

Penilaian indikator kerja sama pada kelas eksperimen 3,22 (B). Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) siswa dituntut untuk bekerja sama dalam kelompok untuk menyatukan pendapat atau saling berbagi informasi, mendengarkan dan menanggapi pendapat teman dalam proses pembelajaran.

Sedangkan pada kelas kontrol penilaian indikator kerja sama tidak dilakukan karena dalam proses pembelajaran guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga tidak ada kerja sama antar siswa dalam proses pembelajaran.

Pada indikator berkomunikasi rata-rata kelas eksperimen 3,90 (A) sedangkan kelas kontrol 3,78 (A). Rata-rata kelas eksperimen lebih bagus dari pada kelas kontrol. Hal ini disebabkan pada kelas eksperimen lebih aktif pada saat proses diskusi dalam menemukan, menjawab pertanyaan yang ada di LDS serta saling berbagi informasi pada saat proses diskusi.

3. Penilaian Keterampilan (Ranah Psikomotor)

Pada penilaian hasil belajar psikomotor kelas ekperimen diperoleh dari laporan siswa dan kelas kontrol melalui pembuatan laporan berupa ringkasan materi (resume). Nilai

(7)

psikomotor yang dilihat adalah kejelasan isi laporan, kelengkapan laporan, kerapian dan kebersihan laporan. Hal ini sesuai dengan pendapat Wakhinuddin (2010: 89) mengatakan bahwa “Memberi penilaian terhadap hasil belajar siswa merupakan kewajiban seorang guru dan mutlak dilakukan”.

Dilihat dari rata-rata nilai predikat yang didapatkan pada kelas eksperimen adalah A- (3,56) dan predikat pada kelas kontrol adalah predikat A- (3,55). Penilaian kompetensi psikomotor pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama memiliki predikat A-. Penilaian psikomotor pada indikator kejelasan isi laporan di kelas eksperimen 3,17 (B) dan kelas kontrol 2,86 (B). Tingginya rata-rata penilaian indikator kejelasan isi laporan pada kelas eksperimen disebabkan siswa sudah mampu membuat isi laporan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Sedangkan pada kelas kontrol isi laporan (resume) yang dibuat siswa kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Hal ini dikarenakan siswa hanya membuat beberapa ringkasan sehingga hanya beberapa tujuan pembelajaran yang terwakilkan.

Penilaian pada indikator kelengkapan laporan kelas eksperimen 3,72 (A-) dan kelas kontrol 3,71 (A-). Penilaian indikator kelengkapan laporan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki rata-rata yang mendekati. Hal ini disebabkan kelengkapan laporan yang dibuat siswa telah mencantumkan semua komponen seperti identitas, topik, isi laporan dan sistematis.

Penilaian pada indikator kerapian dan kebersihan laporan kelas eksperimen 3,03 (B) dan kelas kontrol 3,24 (B+). Dari rata-rata dan predikat penilaian kerapian dan kebersihan laporan terlihat pada kelas kontrol lebih tinggi dari kelas ekspeimen. Rapi dan bersihnya laporan yang dibuat siswa disebabkan siswa hanya meringkas materi yang telah dijelaskan guru dan melihat dari buku.

Pada kelas eksperimen kurang rapi dan kurang bersihnya laporan yang dibuat siswa disebabkan siswa mencari sendiri dan menyatukan pendapat dengan teman kelompoknya dengan membuat jawaban dari pertanyaan yang diberikan guru melalui LDS.

Pada pemberian pertanyaan yang ada di LDS dimungkinkan siswa kurang memahami dalam

menjawab pertanyaan sehingga banyak coretan dalam penulisan yang membuat laporan siswa kurang bersih dan kurang rapi.

Penilaian psikomotor bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran setelah proses pembelajaran berlangsung. Menurut Anwar (2009:87) penilaian keterampilan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keterampilan (skill) yang dimiliki siswa setelah mereka memahami proses pembelajaran kognitif dan afektif. Hal ini sejalan pendapat Kunandar (2013: 256) “ kelebihan penilaian psikomotor dapat memberikan informasi tentang keterampilan peserta didik secara langsung yang bisa diamati oleh guru.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) disertai Lembar Diskusi Siswa (LDS) berpengaruh baik terhadap hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMPN 35 Padang.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Syafri. 2009. Penilaian Berbasis Kompetensi. Padang: UNP Press.

Istarani. 2014. 58 Model Pembelajaran Inovatif: Medan. Media Persada.

Kunandar. 2013. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013) Suatu Pendekatan Praktis Disertai Contoh. Jakarta: Rajawali press.

Surayya. L, I W. Subagia, I N. Tika. 2014.

“Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share Terhadap Hasil Belajar Ipa Ditinjau Dari Keterampilan Berpikir Kritis Siswa”.

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha. 4 : 1-11.

Latisma. 2011. Evaluasi Pendidikan. Padang:

UNP Press Padang.

(8)

Lufri. 2007a. Kiat Memahami dan Melakukan Penelitian. Padang: UNP Press.

. 2007b. Strategi Pembelajaran Biologi.

Padang : UNP Press.

Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sanjaya, Wina. 2012. Media Komunikasi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Silberman, Melvin L. 2007. Active Learning:

101 Cara Belajar Siswa aktif.

Bandung: Nuansa Cendikia.

Slameto. 2013. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta:

Rineka Cipta.

Sofia, Ikhwani. 2016. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VII SMPN 1 Hiliran Gumanti. Skripsi. STKIP PGRI Sumatera Barat. Padang.

Warsono dan Hariyanto. 2012. Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.

Wakhinuddin. 2010. Merencanakan Pembelajaran Teknik Otomotif.

Padang: UNP Press.

(9)

Referensi

Dokumen terkait

“Pengaruh Penerapan Pendekatan Problem Based Learning (PBL) Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share (TPS) Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan