“PENGARUH POSITIVE THINKING DALAM MENINGKATKAN SELF ACCEPTANCE PADA SISWA KELAS XII MADRASAH ALIYAH NAHDLATUL WATHAN DINIYAH ISLAMIYAH SAKRA”
Oleh:
Baiq Hardianti NIM: 180303040
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (BKI) FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI (FDIK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM 2022
ii
“PENGARUH POSITIVE THINKING DALAM MENINGKATKAN SELF ACCEPTANCE PADA SISWA KELAS XII MADRASAH ALIYAH NAHDLATUL WATHAN DINIYAH ISLAMIYAH SAKRA”
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram
Untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Sosial(S.Sos).
Oleh:
Baiq Hardianti NIM: 180303040
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (BKI) FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI (FDIK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM 2022
iii
iv
v
vi
vii
viii MOTTO
“Terima dirimu, cintai dirimu sendiri dan teruslah maju. Jika kamu ingin terbang, kamu harus melepaskan apa yang membebanimu.” – Roy T. Bennet.
ix
PERSEMBAHAN
“Kupersembahkan skripsi ini untuk kedua orang tuaku Lalu Rusdi dan Ismayati atas segala Do’a, pengorbanan dan dukungan. Kepada almamater kebanggaanku, semua guru dan dosen Bimbingan Konseling Islam di Universitas Islam Negeri Mataram, khususnya bapak H. Masruri, Lc. M.A dan Iqbal Bafadal, M.Si., selaku dosen pembimbing, tanpa mengurangi rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan, nasehat dan ilmunya yang selama ini diberikan dengan tulus dan ikhlas. Serta kepada semua sahabatku, penulis mengucapkan terima kasih untuk support yang luar biasa.”
x
xi
xii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL………...………...…..……....i
HALAMAN JUDUL………....……....…..……...ii
HALAMAN LOGO………...….…..…...……iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING………...…..…...….iv
NOTA DINAS PEMBIMBING………...….…..v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI………...…....vi
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI………...vii
HALAMAN MOTTO………..…………...viii
HALAMAN PERSEMBAHAN………...ix
KATA PENGANTAR………....x
DAFTAR ISI……….…………..………….……...xii
DAFTAR TABEL………...………...xiv
DAFTAR BAGAN………...………...xv
DAFTAR LAMPIRAN………...………...xvi
ABSTRAK………...…………...xvii
BAB I PENDAHULUAN……….….……...………...1
A. Latar Belakang Masalah………...…………...1
B. Rumusan Masalah……….………...4
C. Tujuan dan Manfaat……….…...4
D. Definisi Operasional………..………...……5
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN…...6
A. Kajian Pustaka………...6
1. Self Acceptance (Penerimaan Diri)……...…...6
2. Positive Thinking (Berpikir Positif)………....………..13
B. Kerangka Berpikir………...24
C. Hipotesis Penelitian………....……...24
BAB III METODE PENELITIAN………...25
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian………...…….25
B. Populasi dan Sampel………...25
C. Waktu dan Tempat Penelitian………...………...26
D. Variabel Penelitian………..…...…...27
E. Desain Penelitian………...27
F. Instrumen/Alat dan Bahan Penelitian………...29
G. Teknik Pengumpulan Data/Prosedur Penelitian………..………34
xiii
H. Teknik Analisis Data………...35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…………...37
A. Profil Lokasi dan Hasil penelitian………...37
B. Pembahasan……….……...48
BAB V PENUTUP……….………...52
A. Kesimpulan………...…...52
B. Saran……….…………...52
DAFTAR PUSTAKA………...54
LAMPIRAN………...……….….…...58
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Populasi dan Sampel Penelitian………….………26
Tabel 3.2 Desain Penelitian………...28
Tabel 3.3 Penilaian Skala……….……….……...30
Tabel 3.4 Kisi-kisi Instrumen Skala Self Acceptance Sebelum Uji Validitas……….……...….30
Tabel 3.5 Kisi-kisi Instrumen Skala Self Acceptance SetelahUji Validitas……….….……...31
Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Skala Self Acceptance...32
Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Skala Self Acceptance………...34
Tabel 4.1 Daftar Pendidik dan Tenaga Kependidikan MA NWDI Sakra……...……...39
Tabel 4.2 Jumlah Siswa MA NWDI Sakra dan Prasarana Gedung MA NWDI Sakra………..…....42
Tabel 4.4 Sarana Pendidikan MA NWDI Sakra………...42
Tabel 4.5 Hasil Pre-Test & Post-Test Kelas XII MA NWDI Sakra………..….….43
Tabel 4.6 Kategorisasi Penilaian………..……45
Tabel 4.7 Kategori Skor Pre-Test & Post-Test………....…46
Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Data……….………..……...46
Tabel 4.9 Paired Sample Statistic…………...……..47
Tabel 4.10 Paired Sample Correlations…………...47
Tabel 4.11 Hasil Uji Paired Sample t-Test…………...…...48
xv
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir………...………….24 Bagan 4.1 Struktur Organisasi MA NWDISakra T.A 2021-
2022………...…...…40
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Angket/Kuisioner Skala Self Acceptance (Penerimaan Diri).
Lampiran 2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas.
Lampiran 3 Distribusi Nilai r-tabel Signifikansi 1% dan 5% Product Moment.
Lampiran 4 Hasil Uji Statistik.
Lampiran 5 Rekapan Pre-Test&Post-Test.
Lampiran 6 Modul Berpikir Positif.
Lampiran 7 Format Bimbingan (Kartu Konsultasi Skripsi).
Lampiran 8 Surat Izin Penelitian:
a. Surat Izin Penelitian dari Kampus (UIN Mataram).
b. SuratIzin dari Bangkesbangpol Provinsi NTB
c. SuratIzin dari Badan Riset dan Inovasi Daerah NTB.
d. Surat KeteranganTelah Melaksanakan Penelitian MA NWDI Sakra.
Lampiran 9 Angket Pre-Test & Post-Test Terisi.
Lampiran 10 Surat Pernyataan Validator Instrumen.
Lampiran 11 Surat Keterangan Bebas Pinjam Perpustakaan UIN Mataram Lampiran 12 Surat Keterangan Plagiasi Skripsi.
Lampiran 13 Dokumentasi.
.
xvii
PENGARUH POSITIVE THINKING DALAM MENINGKATKAN SELF ACCEPTANCE PADA SISWA KELAS XII MADRASAH ALIYAH NAHDLATUL WATHAN DINIYAH ISLAMIYAH SAKRA
Oleh:
Baiq Hardianti NIM. 180303040
ABSTRAK
Penelitian ini di latarbelakangi oleh perhatian peneliti terhadap siswa kelas XII MA NWDI Sakra yang memiliki self acceptance (penerimaan diri) yang rendah. Hal ini disebabkan karena pola pikir siswa yang masih kurang baik terhadap dirinya sendiri (berpikir negatif terhadap dirinya sendiri). Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh positive thinking dalam meningkatkan self acceptance siswa kelas XII MA NWDI Sakra. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen melalui One Group Pre- Test Post-Test Design. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan angket/kuisioner dan wawancara pada saat mengambil data awal penelitian.
Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik uji-t (Paired Sample t-Test). Penelitian ini dilakukan di MA NWDI Sakra dengan jumlah populasi adalah 63 siswa dan sampel yang digunakan adalah sebanyak populasi yaitu 63 siswa karena jumlah populasi kurang dari 100. Hasil pengolahan data pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada perhitungan Kolmogorov Smirnov diperoleh p= 0,200 > 0,05 yang artinya sebaran data telah terdistribusi normal sehingga analisis data dengan uji-t (Paired Sample t-Test) dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) = 0,000 < 0,05 yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Ha pada penelitian ini menyatakanbahwa terdapat pengaruh positive thinking dalam meningkatkan self acceptance pada siswa kelas XII MA NWDI Sakra.
Kata Kunci: Positive Thinking, Self Acceptance.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua manusia yang diciptakan Allah SWT tentu masing-masing akan memiliki kekurangan dan kelebihan, artinya tidak ada manusia yang diciptakan dengan begitu sempurna. Untuk menghadapi kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri manusia, tentu individu harus memiliki sikap penerimaan diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Manusia yang baik adalah manusia yang mampu keluar dari setiap permasalahan hidupnya. Manusia yang mampu menyesuaikan diri dan menerima dengan realitas yang ada dan memiliki identitas adalah manusia yang dapat berkembang dengan baik dan sehat.1
Setiap individu dalam menjalani kehidupan pasti selalu menginginkan kebahagiaan tanpa ada sebuah masalah. Beberapa esensi kebahagiaan atau keadaan sejahtera, kenikmatan atau kepuasan diantaranya adalah sikap menerima (acceptance), kasih sayang (affection), dan prestasi (achievement). Penerimaan adalah faktor yang penting dalam kebahagiaan, baik penerimaan diri sendiri maupun penerimaan sosial. Berdasarkan pandangan Ratna BR dijelaskan bahwa dalam mencapai kebahagiaan hidup, individu harus memiliki sikap self acceptance (penerimaan diri).2
Secara sederhana self acceptance (penerimaan diri) artinya bagaimana seseorang itu mampu untuk mengakui kenyataan diri secara apa adanya termasuk juga menerima semua pengalaman hidup, sejarah hidup, latar belakang hidup dan lingkungan pergaulan. Individu yang mempunyai penerimaan diri yang rendah biasanya akan sering terlihat menyendiri, malu, minder, kurang berani dalam mengungkapkan pendapat dan terlihat kurang begitu bisa berinteraksi di kelas.3 Individu
1 Rieny Kharisma Putri, “Meningkatkan Self Acceptance (Penerimaan Diri) Dengan Konseling Realita Berbasis Budaya Jawa”, Jurnal Prosiding SNBK (Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling), Vol. 2, Nomor1, 2018, hlm. 119.
2Ratna BR Karo Sekali, “Upaya Meningkatkan Penerimaan Diri (Self Acceptance) Siswa Melalui Konseling Individu Dengan Pendekatan Realita Kelas XI SMA Negeri 15 Bandar Lampung”, Jurnal Evaluasi dan Pembelajaran, Vol. 2, Nomor 2, 2020, hlm. 135.
3Rieny Kharisma Putri, “Meningkatkan Self Acceptance (Penerimaan Diri) Dengan Konseling Realita Berbasis Budaya Jawa”, Jurnal Prosiding SNBK (Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling), Vol. 2, Nomor1, 2018, hlm. 119.
2
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seseorang yang telah menginjak usia remaja yakni usia 17-18 Tahun. Siswa yang tidak memiliki penerimaan diri yang baik akan sangat rentan menjadi tertekan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan konsentrasi pikiran, melemahkan motivasi belajar dan daya juang siswa. Sehingga akhirnya siswa tidak mampu mengaktualisasikan kemampuannya dalam mengembangkan dirinya dengan baik.4 Dari pemaparan tersebut dapat kita ketahui bahwa self acceptance (penerimaan diri) yang rendah pada siswa dapat mengganggu kondisi psikologisnya.
Bentuk self acceptance rendah yang sering terjadi pada siswa dilingkungan sekolah seperti merasa iri dengan prestasi yang diraih teman kelasnya, merasa tidak mampu mengerjakan tugas-tugas di sekolah, tidak mau mengikuti ekstrakurikuler, tidak percaya diri dengan kemampuannya, selalu putus asa jika mendapatkan nilai yang kurang memuaskan,merasa malu untuk menyatakan pendapat di dalam kelas, dan lain-lain.
Menurut Natalia Christy Waney, dkk dalam jurnal penelitiannya yang berjudul “Mindfulness dan Penerimaan Diri Pada Remaja Di Era Digital”, penerimaan diri dapat ditingkatkan dengan pelatihan berpikir positif. Siswa yang berpikir positif cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal positif dari berbagai permasalahan yang sedang dihadapinya, sehingga siswa mulai mendapatkan insight (wawasan/pemahaman) mengenai aktivitas positif yang dapat dijadikan sebagai pengalih agar tidak berfokus pada hal-hal yang bersifat negatif.5 Positive thinking (berpikir positif) akan memunculkan sikap optimis, harapan positif, berbaik sangka (khusnudzan), dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa baik peristiwa yang menyenangkan maupun tidak. Dengan demikian, siswa yang berpikir positif akan segera menyudahi perasaan- perasaan kecewa, menyesal, diganti dengan upaya berbenah diri dengan
4Ratna BR Karo Sekali, “Upaya Meningkatkan Penerimaan Diri(Self Acceptance) Siswa Melalui Konseling Individu Dengan Pendekatan Realita Kelas XI SMA Negeri 15 Bandar Lampung”, Jurnal Evaluasi dan Pembelajaran, Vol. 2, Nomor 2, 2020, hlm. 136.
5Natalia Christy Waney, dkk “Mindfulness dan Penerimaan Diri Pada Remaja Di Era Digital”, Jurnal Ilmiah Psikologi, Vol. 22, Nomor 2, Agustus 2020, hlm. 76.
3
menyadari posisi, peran dan tanggung jawab sesuai dengan pilihan hidup dan keberadaannya di tengah lingkungannya.6
Positive Thinking (berpikir positif) dapat melatih cara berpikir seseorang dengan memandang segala hal dari sisi positifnya baik terhadap diri sendiri, orang lain ataupun kondisi dan situasi yang dialami. Bagi siswa di lingkungan sekolah,positive thinking (berpikir positif) yang dapat diterapkan yaitu seperti: menganggap diri mampu dalam mengerjakan tugas, tidak pernah merasa kesulitan, menilai orang lain dengan baik, menganggap kelebihan atau kekurangan diri sebagaihal yang mutlak ada pada setiap diri manusia dan lain-lain.
Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti melakukan pengukuran secara kuantitatif dengan menyebarkan angket yang telah di validasi oleh tiga orang ahli terkait angket atau kuisioner self acceptance. Teori tentang self acceptance yang digunakan sebagai alat ukur untuk mencari data awal yaitu teori menurut Hurlock, yang di mana Hurlock membagi teori self acceptance menjadi 4 aspek yaitu: 1) Memiliki sikap positif terhadap diri sendiri; 2) Dapat mengelola emosi; 3) Memahami keadaan diri; dan 4) Memiliki harapan yang realistis. Dari angket yang telah di validasi oleh tiga orang ahli tersebut, tersusunlah 31 item pernyataan yang digunakan sebagai alat untuk mengukur self acceptance (penerimaan diri) di lokasi penelitian.
Berdasarkan hasil yang peneliti peroleh dari angket yang telah di sebar kepada subjek penelitian atau responden yang berjumlah 63 siswa, ditemukan bahwa 9 siswa memiliki penerimaan diri yang rendah, 45 siswa memiliki penerimaan diri yang sedang, dan 9 siswa memiliki penerimaan diri yang tinggi.
Berdasarkan teori perkembangan menurut William Kay, sebagaimana yang dikutip Yudrik Jahja mengemukakan bahwa pada usia remaja seharusnya para siswa pada usia itu sudah dapat mencapai tugas- tugas perkembangan seperti: dapat menerima fisiknya sendiri serta keragaman kualitasnya, dapat mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mempunyari otoritas, dapat menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya
6Andhita Dyorita Khoiryasdien dan Annisa Warastri, “Pelatihan berpikir Positif Untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Survivor Bipolar di Yogyakarta”, Jurnal Insight Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember, Vol.16, Nomor. 2, Oktober 2020, hlm. 320.
4
sendiri, dapat memperkuat self control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip atau falsafah hidup dan mampu menyesuaikan diri dari sikap/perilaku kekanak-kanakan.7 Namun kenyataannya berdasarkan hasil angket yang telah di sebar, terjadi kesenjangan atau ketidaksesuaian antara tugas perkembangan yang harus dicapai pada usia remaja tersebut dengan realita di lapangan seperti ada beberapa siswa yang merasa kurang puas terhadap fisiknya, merasa tidak memiliki bakat, sering menyalahkan diri sendiri, merasa cepat tersinggung, dan lain-lain.
Dari pemaparan di atas berdasarkan hasil uji coba angket, maka menurut peneliti hal ini sangat menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut lagi untuk melihat bagaimana pengaruh positive thinking dalam meningkatkan self acceptance pada siswa kelas XII MA NWDI Sakra.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka penulis menentukan rumusan masalah dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh positive thinking dalam meningkatkan self acceptance pada siswa kelas XII MA NWDI Sakra?.
C. Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penulis menentukan tujuan serta manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui pengaruh positive thinking dalam meningkatkan self acceptance pada siswa kelas XII MA NWDI Sakra.
2. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dan teoritis sebagai berikut:
a. Manfaat praktis: di harapkan penelitian ini dapat memberikan informasi, pemahaman serta gambaran kepada pembaca terkait self acceptance (penerimaan diri) ini, sehingga para pembaca dapat menggunakannya sebagai pelajaran agar dapat
7Khamim Zarkasih Putro, “Memahami Ciri dan Tugas Perkembangan Masa Remaja”, Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama, Vol. 17, Nomor 1, 2017, hlm. 29-30.
5
meningkatkan penerimaan diri serta mampu untuk berpikir positif dalam menyikapi kehidupan ini.
b. Manfaat teoritis: di harapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran bagi pihak akademis (guru) untuk memberikanbimbingan kepada para siswa-siswinya sehingga dapat membentuk pola pikir siswa yang positif. Selain itu, penulis juga berharap penelitian ini dapat memberikan sumbangsih pemikiran untuk perkembangan ilmu pengetahuan khususnya kepada para peneliti yang mungkin ingin meneliti hal yang serupa.
D. Definisi Operasional
Salah satu unsur yang membantu komunikasi antar penelitian adalah definisi operasional, yaitu merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur. Dengan membaca definisi operasional dalam suatu penelitian, seorang peneliti akan mengetahui pengukuran suatu variabel, sehingga peneliti dapat mengetahui baik buruknya pengukuran tersebut.8
1. Positive Thinking (Berpikir Positif)
Definisi operasional dari positive thinking (berpikir positif) adalah sebuah sikap atau perilaku serta cara pandang seseorang yang selalu positif dalam menyikapi kehidupan. Individu yang berpikir positif akan memiliki rasa percaya diri, menjadi pribadi yang penuh inisiatif, memiliki ketekunan, memiliki kreativitas, kepemimpinan, berkembang dan mampu menghasilkan sesuatu.
2. Self Acceptance (Penerimaan Diri)
Definisi operasional dari self acceptance (penerimaan diri) adalah individu yang memiliki sikap positif yaitu ketika individu menerima dirinya sebagai manusia, individu yang dapat mengatasi keadaan emosionalnya (takut, marah, cemas da lain-lain) tanpa mengganggu orang lain, individu yang ingin dan mampu memahami keadaan dirinya sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkannya, dan individu yang memiliki harapan realistis sesuai dengan kemampuannya.
8Sandu Siyoto & Ali Sodik, Dasar Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015), hlm. 16.
6 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Pustaka
1.Self Acceptance (Penerimaan Diri) a) Definisi Self Acceptance
Self acceptance (penerimaan diri) menurut Sheerer dalam Ratri Paramita dan Margaretha adalah sikap untuk menilai diri dan keadaannya secara objektif, menerima segala yang ada pada dirinya termasuk kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahannya. Individu yang menerima diri berarti telah menyadari, memahami dan menerima diri apa adanya dengan disertai keinginan dan kemampuan diri untuk senantiasa mengembangkan diri sehingga dapat menjalani hidup dengan baik dan penuh tanggung jawab.9Snyder dan Lopez dalam Okthandy Bhayatri menjelaskan bahwa self acceptance (penerimaan diri) merupakan sikap positif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima berbagai aspek diri dan merasa positif terhadap masa lalunya. Penerimaan diri memegang peranan penting dalam menemukan dan mengarahkan seluruh perilaku, maka sedapat mungkin individu harus mempunyai penerimaan diri yang positif.10
Self acceptance (penerimaan diri) menurut Chaplin dalam Muhammad Ridha yaitu sikap yang pada dasarnya merasa puas dengan diri sendiri, kualitas-kualitas dan bakat-bakat sendiri dan pengakuan akan keterbatasan sendiri. Selanjutnya menurut Arthur dalam Muhammad Ridha, penerimaan diri adalah sebuah sikap seseorang menerima dirinya. Istilah ini digunakan dengan konotasi khusus kalau penerimaan ini didasarkan pada ujian yang relatif objektif terhadap talenta- talenta, kemampuan dan nilai umum yang unik dari seseorang.
Sebuah pengakuan realistik terhadap keterbatasan dan sebuah
9Ratri Paramita dan Margaretha, “Pengaruh Penerimaan Diri Terhadap Penyesuaian Diri Penderita Lupus”, Jurnal Psikologi Undip, Vol.12, Nomor 1, April 2013, hlm. 93.
10 Oktandhy Bhayatri Mochammad Firmansyah, dkk, “Pengaruh Terapi Pemaafan dengan dzikir Untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)”, Jurnal Psikologi Islami, Vol. 5, Nomor 1, Juni 2019, hlm. 15.
7
rasa puas yang penuh akan talenta maupun keterbatasan dirinya.
Sedangkan menurut Supratiknya dalam Muhammad Ridha, penerimaan diri adalah memiliki penghargaan yang tinggi terhadap diri sendiri, atau lawannya tidak bersikap sinis terhadap diri sendiri.11
Dari beberapa pendapat di atas terkait self acceptance (penerimaan diri), dapat penulis simpulkan bahwa self acceptance (penerimaan diri) merupakan kondisi di mana individu dapat menerima dirinya secara tulus dan ikhlas baik dari kelebihan ataupun kekurangan yang ada pada dirinya yang secara murni diberikan Allah SWT. Selain itu, seseorang yang memiliki penerimaan diri yang positif akan menerima bagaimana pun situasi dan kondisi yang dialami serta menerima kondisi fisik maupun psikisnya.
b) Aspek-aspek Penerimaan Diri
Menurut Hurlock dalam Nurhasyanah, aspek-aspek self acceptance (penerimaan diri) yaitu sebagai berikut:
1. Memiliki sikap positif yaitu ketika individu dapat menerima dirinya sebagai manusia.
2. Individu tersebut dapat mengatasi keadaan emosionalnya (takut, marah, cemas dan lain-lain) tanpa mengganggu orang lain.
3. Penerimaan diri yang baik hanya akan terjadi bila individu ingin dan mampu memahami keadaan dirinya sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkannya.
4. Memiliki harapan yang realistis sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, jika individu memiliki konsep yang menyenangkan dan rasional mengenai dirinya, maka dapat dikatakan individu tersebut menyukai dan menerima dirinya.12
11 Muhammad Ridha, “Hubungan Antara Body Image Dengan Penerimaan Diri Pada Mahasiswa Aceh di Yogyakarta”, Jurnal Empathy, Vol.1, Nomor 1, Desember 2012, hlm.
113.
12Nurhasyanah, “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Diri Pada Wanita Infertilitas”, Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi, Vol. 1, Nomor 1, Oktober 2012, hlm. 145.
8
Menurut Supratiknya dalam Muhammad Ridha, penerimaan diri berkaitan dengan:
1. Kerelaan untuk membuka atau mengungkapkan aneka pikiran, perasaan dan reaksi kita kepada orang lain. Pertama- tama harus melihat bahwa diri kita tidak seperti apa yang dibayangkan, dan pembukaan diri yang akan kita lakukan tersebut diterima atau tidak oleh orang lain. Kalau kita sendiri menolak diri (self rejecting), maka pembukaan diri akan sebatas pemahaman yang kita punya saja. Dalam penerimaan diri individu, terciptanya suatu penerimaan diri yang baik terhadap kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, dapat dilihat dari bagaimana ia mampu menghargai dan menyayangi dirinya sendiri serta terbuka pada orang lain.
2. Kesehatan Psikologi. Kesehatan psikologis berkaitan erat dengan kualitas perasaan kita terhadap diri sendiri. Orang yang sehat secara psikologis memandang dirinya disenangi, mampu, berharga dan diterima oleh orang lain. Orang yang menolak dirinya biasanya tidak bahagia dan tidak mampu membangun serta melestarikan hubungan baik dengan orang lain. Maka agar kita tumbuh dan berkembang secara psikologis, kita harus menerima diri kita.
3. Penerimaan terhadap orang lain. Orang yang menerima diri biasanya lebih bisa menerima orang lain. Bila kita bisa berpikir positif tentang diri kita, maka kita pun akan berpikir positif tentang orang lain. Sebaliknya bila kita menolak diri kita, maka kita pun akan menolak orang lain.13
Philips dan Berger dalam Oktandhy Bhayatri mengemukakan aspek-aspek penerimaan diri diantaranya adalah:
1. Adanya keyakinan akan kemampuan diri dalam menghadapi persoalan.
2. Adanya anggapan berharga terhadap diri sendiri sebagai manusia dan sederajat dengan orang lain.
13Muhammad Ridha, “Hubungan AntaraBody Image Dengan Penerimaan Diri Pada Mahasiswa Aceh di Yogyakarta”, Jurnal Empathy, Vol.1, Nomor 1, Desember 2012,hlm.
114.
9
3. Tidak ada anggapan aneh atau abnormal terhadap diri sendiri dan tidak ada harapan untuk ditolak orang lain.
4. Adanya keberanian memikul tanggung jawab atas perilaku sendiri.
5. Adanya objektivitas dalam menerima pujian atau celaan.
6. Tidak adanya penyalahan atas keterbatasan ataupun pengingkaran atas kelebihan yang dimiliki.14
c) Faktor-faktor Yang Membentuk Self Acceptance (Penerimaan Diri)
Menurut Hurlock, ada beberapa faktor yang membentuk penerimaan diri seseorang, yaitu:
1. Pemahaman diri (self understanding): Pemahaman diri merupakan persepsi diri yang ditandai oleh genuiness, realita, dan kejujuran. Semakin orang memahami dirinya, semakin baik penerimaan dirinya.
2. Harapan yang realistis : Ketika seseorang memiliki harapan yang realistis dalam mencapai sesuatu, hal ini akan mempengaruhi kepuasan diri yang merupakan esensi dari penerimaan diri. Harapan akan menjadi realistis jika dibuat oleh diri sendiri.
3. Tidak ada hambatan dari lingkungan : Ketidakmampuan dalam mencapai tujuan yang realistis dapat terjadi karena hambatan dari lingkungan yang tidak mampu dikontrol oleh seseorang seperti diskriminasi ras, jenis kelamin atau agama.
Apabila hambatan-hambatan itu dapat dihilangkan dan jika keluarga, peer atau orang-orang yang berada di sekelilingnya memberikan motivasi dalam mencapai tujuan, maka seseorang akan mampu memperoleh kepuasan terhadap pencapaiannya.
4. Sikap sosial yang positif : Jika seseorang telah memperoleh sikap sosial yang positif, maka ia lebih mampu menerima dirinya. Tiga kondisi utama menghasilkan evaluasi positif
14 Oktandhy Bhayatri Mochammad Firmansyah, dkk, “Pengaruh TerapiPemaafan dengan dzikir Untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)”, Jurnal Psikologi Islami, Vol. 5, Nomor 1, Juni 2019,hlm. 15.
10
antara lain yaitu adanya prasangka terhadap seseorang, adanya penghargaan terhadap kemampuan-kemampuan sosial dan kesediaan individu mengikuti tradisi suatu kelompok sosial.
5. Tidak adanya stres yang berat : Tidak adanya stres atau tekanan emosional yang berat membuat seseorang bekerja secara optimal dan lebih berorientasi lingkungan daripada berorientasi diri dan lebih tenang dan bahagia.
6. Pengaruh keberhasilan : Pengalaman gagal dapat menyebabkan penolakan diri, sedangkan meraih kesuksesan akan menghasilkan penerimaan diri.
7. Perspektif diri yang luas : Seseorang yang memandang dirinya sebagaimana orang lain memandang dirinya akan mampu mengembangkan pemahaman diri daripada seseorang yang perspektif dirinya sempit.
8. Pola asuh yang baik pada masa anak-anak. Pendidikan di rumah dan sekolah sangat penting, penyesuaian terhadap hidup, terbentuk pada masa kanak-kanak, karena itulah pelatihan yang baik di rumah maupun sekolah pada masa kanak-kanak sangatlah penting.
9. Konsep diri yang stabil : Hanya konsep diri yang positif yang mampu mengarahkan seseorang untuk melihat dirinya secara tidak konsisten
d) Ciri-ciri Self Acceptance (Penerimaan diri)
Secara rinci, Jersild menyebutkan ciri-ciri self acceptance (penerimaan diri) yaitu sebagai berikut:
1. Orang yang menerima dirinya memiliki harapan yang realistis terhadap keadaannya dan menghargai dirinya sendiri. Artinya orang tersebut mempunyai harapan yang sesuai dengan kemampuannya.
2. Yakin akan standar-standar dan pengetahuan terhadap dirinya tanpa terpaku pada pendapat orang lain.
3. Memiliki perhitungan akan keterbatasan dirinya dan tidak melihat pada dirinya sendiri secara irasional. Artinya, orang
11
tersebut memahami keterbatasannya namun tidak menggeneralisir bahwa dirinya tidak berguna.
4. Menyadari kekurangan tanpa menyalahkan diri sendiri.
Orang yang menerima dirinya mengetahui apa saja yang menjadi kekurangan yang ada dalam dirinya.15
Sedangkan menurut Jhonson, seseorang dapat dikatakan bisa menerima dirinya yaitu:
1. Menerima diri sendiri apa adanya dan individu yang bisa menerima diri dapat melihat masa depan secara positif.
Individu tidak hanya mengenal dirinya, dan juga menyadari kenyataan dirinya.
2. Tidak menolak diri sendiri apabila memiliki kelebihan dan kekurangan.
3. Memiliki keyakinan bahwa untuk mencintai diri sendiri, individu tidak harus dicintai dan dihargai oleh individu lain.
4. Merasa berharga sehingga individu tidak perlu merasa dirinya benar-benar sempurna.
5. Memiliki keyakinan bahwa dia mampu untuk menghasilkan kerja yang berguna.16
e) Dampak Self Acceptance (Penerimaan Diri)
Hurlock membagi dampak penerimaan diri menjadi dua kategori yaitu:
1. Dalam penyesuaian diri.
Orang yang memiliki penerimaan diri mampu mengenali kelebihan dan kekurangannya. Individu yang mampu menerima dirinya biasanya memiliki keyakinan diri dan harga diri. Selain itu mereka juga lebih dapat menerima kritik demi perkembangan dirinya. Penerimaan diri yang disertai dengan adanya rasa aman untuk mengembangkan diri mungkin seseorang untuk menilai dirinya secara lebih
15Vera Permatasari & Witrin Gamayanti, “Gambaran Penerimaan Diri (Self Acceptance) Pada Orang Yang Mengalami Skizofrenia”, Jurnal Ilmiah Psikologi, Vol. 3, Nomor 1, Juni 2016, hlm. 141-142.
16Andhita Dyorita Khoiryasdien dan Annisa Warastri, “Pelatihan Berpikir PositifUntuk Meningkatkan Penerimaan Diri Survivor Bipolar di Yogyakarta”, Jurnal Insight Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember, Vol.16, Nomor2, Oktober 2020, hlm. 321- 322.
12
realistis sehingga dapat menggunakan potensinya secara efektif. Penilaian yang realistis terhadap diri sendiri tanpa ada keinginan untuk menjadi orang lain.
2. Dalam penyesuaian sosial.
Penerimaan diri biasanya disertai dengan adanya penerimaan pada orang lain. Orang yang memiliki penerimaan diri akan merasa aman untuk menerima orang lain, memberikan perhatiannya pada orang lain, serta menaruh minat terhadap orang lain, seperti menunjukkan rasa empati dan simpati. Dengan demikian orang yang memiliki penerimaan diri dapat melakukan penyesuaian sosial yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang merasa rendah diri sehingga mereka cenderung berorientasi pada dirinya sendiri (self oriented). Ia dapat mengatasi keadaan emosionalnya tanpa mengganggu orang lain, serta toleran dan memiliki dorongan untuk membantu orang lain.17
f) Self acceptance dalam perspektif Islam
Self acceptance di dalam Islam adalah bagian dari kajian qona’ah. Makna qona’ah merupakan merasa ridha dan cukup dengan pembagian rezeki yang Allah SWT berikan. Sifat qona’ah merupakan salah satu tanda yang menampakkan kesempurnaan iman, karena sifat ini menampakkan keridhaan orang yang mempunyainya terhadap semua ketentuan dan takdir Allah SWT, termasuk dalam hal pembagian rezeki. Rasulullah Saw bersabda, “Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah Ta’ala sebgai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad Saw sebagai rasulnya” (HR. Muslim no. 34). Arti “ridha kepada Allah sebagai Rabb” adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya. Begitupun
17 Muhammad Ridha, “Hubungan AntaraBody Image Dengan Penerimaan Diri Pada Mahasiswa Aceh di Yogyakarta”, Jurnal Empathy, Vol.1, Nomor 1, Desember 2012, hlm.
113.
13
dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Az-Zukhruf ayat 32 yang berbunyi:18
ََكِّبَر َتَمۡحَر َنۡىُم ِسۡقَي ۡمُهَا ِةىٰيَح ۡلا ىِف ۡمُهَت َشۡيِعَّم ۡمُهَنۡيَب اَنۡم َسَق ُنۡحَه ؕ
َٰجَر َد ٍضۡعَب َقۡىَف ۡمُهَضۡعَب اَنۡعَف َرَو اَيۡه ُّدلا ا ًضۡعَب ۡم ُه ُضۡعَب َذ ِخَّتـَيِ ّ
ل ٍت
اًّيِز ۡخ ُس ) ٤٣ ( ن ۡىُع َم ۡجَي ا َّم ِّم ٌرۡي َخ َكِّبَر ُتَمۡح َرَو ؕ
Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmuu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.19
2. Positive Thinking (Berpikir Positif)
a) Definisi Positive Thinking (Berpikir Positif)
Positive Thinking yang dalam bahasa Indonesia berarti berpikir positif adalah sebuah sikap atau perilaku, serta cara pandang seseorang yang selalu positif dalam menyikapi kehidupan ini. Perilaku orang seperti ini akan membawa sifat yang baik meski dalam kenyataannya dia belum mencapai apa yang menjadi tujuannya. 20
Seseorang yang memiliki pola pikir yang positif akan selalu berpikir positif dalam meramalkan kebahagiaan,
18Reza Mina Pahlewi, “Makna Self Acceptance Dalam Islam (Analisis Fenomenologi Sosok Ibu dalam Kemiskinan di Provinsi D.I Yogyakarta)”, HISBAH: Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah Islam, Vol. 16, Nomor 2, Desember 2019, hlm. 209-210.
19QS Az-Zukhruf [43] : 32.
20Sylvia Aria Yanie, Pentingnya Berpikir Positif, (Bandung: ANGKASA, 2012), hlm. 18.
14
kesehatan yang baik, sukses, dan hasil positif lainnya untuk hampir setiap situasi dan peristiwa yang terjadi. Mereka juga percaya dan tahu bahwa mereka akan membuat keputusan yang tepat dan pilihan yang tepat. Karena mereka berharap pikiran dan pikiran bawah sadar menemukan cara untuk mewujudkannya. Ini adalah kekuatan yang memiliki pola pikir positif.
Sebelum kita dapat mengembangkan pola berpikir yang positif, pertama kita harus menyadari bahwa berpikir positif bukanlah sesuatu yang kita lakukan secara acak.
Berpikir positif adalah praktik, yang kita kerjakan sehari-hari dan berlaku secara teratur. Dengan membuat sebuah kebiasaan sehari-hari kitauntuk berpikir positif maka kemungkinan besar kita dapat menghindari pikiran negatif dan menantang situasi yang berpotensi memunculkan pikiran negatif. Dengan pola berpikir positif kita akan menjalani hidup dengan lebih mudah dan mendapatkan manfaat kehidupan yang lebih baik.21
b) Cara Mengembangkan Positive Thinking (Berpikir Positif) 1. Afirmasi Positif
Cara terbaik untuk memulai adalah mengubah cara kita berpikir. Jadi, mulailah memperhatikan apa yang kita pikirkan. Setiap hari pikirkan apa yang ingin kita dapatkan, tanyakan pada diri kita, “apa yang harus saya pikirkan, apa yang harus saya dapatkan?”, “Apakah ini pikiran positif atau negatif?”, “Apakah itu membantu saya memperbaiki hidup saya atau apakah itu membuat hidup saya lebih sulit?”. Jika berpikir saja tidak membantu, kita harus menambah usaha dengan menuliskan pikiran positif anda, dan menempelkan di tempat yang mudah kita baca.Buat pikiran yang positif dan membacanya secara teratur. Hal ini lebih dikenal sebagai afirmasi positif.22 2. Memilih Bersikap Optimis
21Ibid., hlm. 13.
22Ibid., hlm. 13.
15
Orang yang pesimis itu fokus kepada yang negatif (seperti memandang segelas air sebagai setengah kosong/air yang sudah tidak ada), sedangkan yang optimis fokus memandang yang positif (seperti memandang segelas air sebagai setengah penuh). Siapakah yang lebih baik cara pandangnya? Siapakah yang lebih mungkin bahagia, lebih yakin dan lebih pasti?.
3. Memilih Menerima Segalanya Apa Adanya
Ini tidaklah berarti kita menjadi tak semangat dan menyerah. Artinya kami tidakbergumul, merengek, dan membenturkan kepalamu ke tembok ketika segalanya tidak beres. Terimalah segalanya apa adanya, bukan seperti yang kamu angankan saat ini. Masa lalu sudah lewat, masa depan masih misteri dan saat inilah karunia. Oleh karena itu, pergunakanlah waktu sebaik-baiknya.
4. Bersikap Antusias
Sambutlah setiap harinya dengan semangat.
Laksanakanlah tugas-tugasmu dengan penuh semangat.
Semakin kita bersemangat maka semakin orang-orang di sekelilingkita pun merasa dan bersikap demikian.23
5. Cepat Pulih Ketika Mengalami Kegagalan dan Kesedihan Mengembangkan sikap positif bukan berarti bahwa kita tidak akan pernah mengalami kepedihan, penderitaan atau kekecewaan. Kalau kamu gagal dalam ujian belajarlah lebih giat lagi. Kalau kamu kehilangan teman maka perbaikilah persahabatan tersebut atau mencari teman baru. Kalau kamu tidak suka penampilanmu, kembangkanlah kepribadian kamu yang fantastis.
6. Sportif
Sportif artinya menerima kekalahan dengan positif sambil tersenyum, menjabat tangan sang pemenang, tidak menyalahkan orang lain atau keadaan atas kekalahan itu. Sportif juga berarti tidak mengejek yang kalah bagi yang menang.
23Ibid., hlm. 13.
16
7. Menjadi Lebih Peka, Bukan Lebih Sensitif
Kalau kita lebih peka terhadap masalah-masalah potensial maka kita bisa lebih siap menghadapinya dan bahkan mengelak. Kita juga bisa peka terhadap pengalaman positif. Misalnya, bila kita dengar pengumuman tentang uji coba tim atau klub baru, catatlah waktu dan tempatnya dan berencanalah mengikutinya, kita akan memperoleh sesuatu hal yang baru. Sebaliknya bila kita mendengar hal negatif, misalnya tentang pencopotan posisi kita sebagai ketua tim, jangan langsung emosi. Cari dulu kejelasannya, jangan mudah terpengaruh oleh kabar buruk.24
8. Humoris
Kalau kita melakukan sesuatu yang konyol, jangan melewatkan peluang untuk menertawakan diri sendiri, itulah salah satu sukacita besar kehidupan. Jika kita banyak tertawa kita akan sehat.
9. Rendah Hati
Kalau kita benar-benar berkepentingan terhadap sesama, mereka akan melihat kualitas baik baik dari diri kita, seandainya pun tidak mengiklankannya. Mereka tidak akan merasa bahwa kita berusaha memanipulasi mereka.
Berbuatlah untuk sesama karena Tuhanmu.
10. Bersyukur
Renungkanlah! Banyak sekali yang bisa kita syukuri. Rasa syukur membuat kita tersenyum. Itu membuat kita senang dengan kehidupan. Dan orang lain pun senang di dekat kita.
11. Yakin, Tuhan Akan Mengabulkan Doa Kita
Bagi kita yang beragama Islam, ini berarti kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Beriman artinya percaya bahwa segalanya akan selesai dengan baik.
12. Memelihara Harapan
Pengharapan mungkin merupakan sikap positif yang terpenting bagi segala sikap positif lainnya. Apakah
24Ibid., hlm. 13.
17
yang sebenarnya kita harapkan? Apa sajakah impianmu?
Apa sajakah ambisimu?. Kalau kita mampu mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan tersebut kita sudah menjadi individu yang berpengharapan.25
c) Indikator Positive Thinking (Berpikir Positif)
1. Percaya diri : Bila seseorang memiliki pikiran yang positif, maka ia akan yakin pada dirinya sendiri serta pada orang lain. Karena pikiran yang positif, menjadikan seseorang lebih berkeinginan untuk mencoba hal-hal baru serta mencoba berbagai kesempatan.
2. Inisiatif : Percaya diri juga dapat menjadikan seseorang sebagai pribadi yang penuh inisiatif. Keyakinan bahwa hidup ini positif dapat menimbulkan keinginan kuat dalam diri untuk mencoba hal-hal baru.
3. Ketekunan : Apabila seseorang yakin bahwa hal-hal positif akan terjadi maka orang itu akan tetap tekun berusaha sehingga hal-hal positif itu benar-benar muncul.
4. Kreativitas : Jika pikiran seseorang tertuju pada hal-hal positif maka akan tumbuh keinginan besar pada diri orang itu untuk terus menyelidiki, bertanya serta mencari tantangan-tantangan baru.
5. Kepemimpinan : Belajar untuk menjadi pemimpin besar membutuhkan proses yang lama namun bisa dimulai dari hubungan dengan orang lain.
6. Perkembangan : Jika kita berpikir positif banyak pintu terbuka lebar bagi kita. Salah satu yang paling utama adalah pintu peluang untuk tumbuh berkembang.
7. Kemampuan : Menurut W.W. Ziege adalah tak ada nada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif. Yang perlu digaris bawahi adalah
25Ibid., hlm. 13.
18
seseorang yang berpikir positif mampu menghasilkan sesuatu.26
d) Aspek-aspek Berpikir Positif
Berpikir positif memiliki empat aspek yaitu reality adaption (penyesuaian diri terhadap kenyataan), non judgement talking (pernyataan yang tidak menilai), positive expectation (harapan positif), dan self affirmation (afirmasi diri).
1. Reality Adaption (Penyesuaian Diri Terhadap Kenyataan) Reality Adaption (Penyesuaian diri terhadap kenyataan) adalah mengakui kenyataan dengan segera menyesuaikan diri, menjauhkan diri dari penyesalan, frustasi dan menyalahkan diri sendiri, serta menerima masalah dan mencoba menghadapinya. Seseorang yang dapat menerima berbagai kenyataan baik yang diinginkan maupun tidak, dengan segera akan menyesuaikan diri terhadap kenyataan tersebut sehingga individu akan cenderung memiliki jiwa yang sehat dibandingkan dengan seseorang yang tidak dapat menerima kenyataan dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Allport menyatakan bahwa seseorang yang sehat tidak memaksakan bahwa sesuatu harus sesuai dengan keinginannya. Seseorang yang sehat adalah seseorang yang menerima realitas apa adanya.
Saat seseorang mengalami kegagalan atau menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan sebenarnya memiliki dua pilihan yaitu berpikir realistis untuk tetap bertahan menerima kenyataan tersebut dan segera menyesuaikan diri atau berpikir tidak realistis dengan mengingkari kenyataan dan hanya melakukan penyesalan, menyalahkan diri sendiri bahkan menghindar atau lari dari kenyataan dan frustasi.
Berpikir positif merupakan cara berpikir yang bersumber dari hal-hal yang baik yang mampu memotivasi seseorang untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
26Jamal Ma’mur Asmani, The Law Of Positive Thinking, (Yogyakarta: Garailmu, 2009), hlm 26-30.
19
Selain itu, berpikir positif juga dapat mengarahkan dan membimbing seseorang untuk meninggalkan hal-hal negatif yang bisa melemahkan semangat perubahan dalam jiwanya. Individu yang dapat mengelola pikiran positifnya tidak hanya sekedar menerima kenyataan tetapi dapat menyikapi kenyataan yang sudah terjadi dengan bijaksana dan fokus.27
2. Non Judgement Talking (Pernyataan Yang Tidak Menilai) Menurut Albrecht, non judgement talking (pernyataan yang tidak menilai) merupakan suatu pernyataan lebih menggambarkan diri dari pada penilaian keadaan, bersifat luwes dan tidak fanatik dalam berpendapat. Pernyataan ini dimaksud sebagai pengganti pada saat seseorang cenderung memberikan pernyataan yang negatif terhadap suatu hal.
Saat melihat atau menghadapi sesuatu secara sadar maupun tidak sadar individu memberikan penilaian terhadap apa yang dilihatnya. Memberikan penilaian itu penting karena penilaian merupakan perwujudan dari cara pandang individu terhadap suatu situasi atau seseorang.
Sebuah penilaian yang muncul dari dalam diri individu memang terlihat secara spontan dan sederhana. Selain itu memberikan penilaian hanya sebagian kecil dari proses kognitif individu, namun individu harus berhati-hati atau bijaksana dalam memberikan sebuah penilaian terhadap suatu hal atau seseorang.
Penilaian negatif yang muncul didukung oleh pemikiran-pemikiran negatif lain yang mendukung penilaian tersebut. Otak menjadi terfokus pada informasi- informasi negatif saja atau pada informasi yang mendukung karena dalam satu waktu akal manusia tidak bisa berkonsentrasi pada banyak informasi. Pada waktu yang bersamaan, otak menggagalkan seluruh informasi
27Atina Mahmudati & R. Rachmy Diana, “Efektivitas Pelatihan Berpikir Positif Untuk Menurunkan Kecemasan Mengerjakan Skripsi Pada Mahasiswa”, Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 9, Nomor 1, Juni 2017, hlm.114.
20
positif yang lain. Hal inilah yang menyebabkan distorsi kognitif, seseorang tidak akan bisa berfikir dengan jernih dan seakan-akan tidak bisa menemukan jalan keluar. Suatu hal kecil yang sudah dianggap sebagai suatu bencana terlihat begitu besar dan sulit. Individu merasakan kecemasan, frustasi, dan merasa dirinya tidak mampu untuk menghadapinya. Oleh karena itu penilaian-penilaian negatif atau judgement negatif di dalam diri perlu dihentikan agar tidak memengaruhi diri individu.28
3. Positive Expectation (Harapan Positif)
Menurut Albrecht, harapan positif adalah bila melakukan sesuatu lebih memusatkan perhatian pada kesuksesan, optimis, pemecahan masalah, dan menjauhkan diri dari rasa takut akan kegagalan serta selalu menggunakan kata-kata yang mengandung harapan seperti
“saya dapat melakukannya”. Seseorang yang memiliki harapan, impian atau cita-cita cenderung lebih positif dalam memahami sesuatu. Hal ini terjadi karena dibalik impian pasti ada emosi yang mendasarinya. Ia melakukan sesuatu dengan lebih memusatkan perhatian pada kesuksesan, optimis, pemecahan masalah, dan selalu menggunakan kata-kata yang mengandung harapan seperti
“saya dapat melakukannya”.
Menurut Dornan dan Maxwell keberhasilan seseorang ditentukan oleh sikap orang itu sendiri.
Perbedaan antara orang yang sukses dan orang yang tidak sukses adalah kehidupan orang yang sukses diatur dan dibayangi oleh pikiran-pikiran saat-saat terbaik mereka, rasa optimis, dan pengalaman terbaik. Sedangkan kehidupan orang-orang yang tidak sukses diatur dan dibayangi oleh rasa ragu serta kegagalan-kegagalan mereka dimasa lalu.29
4. Self Affirmation (Afirmasi Diri)
28Ibid., hlm. 19.
29Ibid., hlm. 19.
21
Menurut Albercht, afirmasi diri yaitu memusatkan perhatian pada kekuatan diri sendiri secara lebih positif dengan dasar pemikiran bahwa setiap orang sama berartinya dengan orang lain. Seseorang yang memiliki pikiran positif yakin terhadap dirinya sendiri serta pada orang lain. Melalui pikiran positif seseorang terdorong untuk melakukan suatu hal yang baru dan menggunakan kesempatan yang ada.
Pada dasarnya setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun yang sering menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak dapat memahami dirinya sendiri dan kemudian merasa rendah diri, minder, dan tidak percaya diri karena kekurangan yang dimiliki. Pikiran hanya terfokus pada hal-hal negatif yang ada didalam diri hingga seolah-olah tidak ada hal yang positif atau kelebihan yang dimiliki. Ketika seseorang sudah melihat dirinya secara negatif, maka orang tersebut merasa pesimis dan tidak berdaya dalam menghadapi lingkungan di luar dirinya. Kecemasan dapat datang dari perasaan tidak mampu menghadapi tantangan lingkungan, tidak adanya kepastian tentang apa yang dihadapi dan adanya rasa kurang percaya diri.
Afirmasi diri merupakan penguatan terhadap diri pribadi secara lebih positif atas tindakan-tindakan yang dilakukan, memusatkan perhatian pada kekuatan diri dan melihat diri secara positif. Kepercayaan terhadap diri sendiri selalu dibangun dengan menggunakan pola-pola berpikir positif. Seseorang yang melakukan afirmasi diri percaya bahwa dalam diri terkandung potensi-potensi atau kemampuan-kemampuan yang dapat dikembangkan ke arah yang lebih maju dan lebih positif. Kekurangan di dalam diri tidak menjadi penghalang dalam mencapai tujuan hidupnya, namun ia memiliki keyakinan bahwa kekurangan bisa diubah menjadi kelebihan atau
22
kekurangan bisa menjadi motivasi diri untuk menjadi lebih baik.30
e) Positive Thinking dalam perspektif Islam
Positive Thinking (berpikir positif) dalam Islam yaitu husn al-zhann, yang merupakan cara berpikir yang sangat dihargai dalam Islam. Karena dengan berpikir positif manusia akan terbebas dari beban hidup dan dari pengalaman- pengalaman traumatik yang pernah dialami. Oleh karena itu, agama Islam sangat mementingkan berpikir positif dalam kehidupan sehari-hari. Husn al-zhann terdiri dari dua aspek yaitu husn al-zhan bi Allah (berprasangka baik kepada Allah) dan husn al-zhan bi al-mu’min (berprasangka baik kepada sesama manusia).
Orang yang berprasangka baik kepada Allah pastinya akan menyerahkan dirinya kepada Allah (tawakkal) dan menerima segala kondisi yang terjadi. Sebagaimana hakikat konsep tawakkal dalam Islam bukanlah kepasrahan secara total kepada Allah, melainkan kepasrahan yang diikuti dengan usaha maksimal, sebagaimana yang dikatakan oleh al-hasan (dalam Ibn Abi al-Dunyaa) bahwasanya prasangka yang baik kepada Allah haruslah diikuti oleh perbuatan yang paling maksimal dan paling baik.
Menurut Al-Wahhab, berprasangka baik kepada Allah adalah senatiasa menganggap Allah selalu memberikan rahmat, kesehatan dan kemaafan, namun mereka tetap berada dalam kondisi khauf (takut akan azab Allah) dan raja’ (mengharap ridha atau pahala), ketika merasa mendekati kematian, mereka selalu penuh harapan karena takut akan siksa Allah, mereka selalu menjauhi maksiat, senantiasa berupaya untuk memperbanyak ketaatan dan amal.
Adapun aspek prasangka baik terhadap sesama manusia dijelaskan pada surah al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi:31
30Ibid., hlm. 19.
31Ahmad Rusydi, “Husn Al-Zhann: Konsep Berpikir Positif Dalam Perspektif Psikologi Islam Dan Manfaatnya Bagi Kesehatan Mental”, Proyeksi, Vol. 7, Nomor 1, 2012, hlm. 5-9.
23
ِّن َّظلٱ َضْعَب َّنِإ ِّنَّظلٱ َنِّم اًريِثَك ۟اىُبِنَتْجٱ ۟اىُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّيَأَٰٓي
َْثِإ ٌم
ۖ ََ ُُ ْ
أَي ن َ
َ ْم ُك ُد َح َ
َ ُّ ِحُي َ
َ ا ًضْعَب م ُُ ُضْعَّب َتََْْ َ
ََو ۟اى ُس َّس َجََ َ
ََو اًتْي َم ِهي ِخ َ
َ َم ْح ل َ ُهى ُمُت ْهِز ََُف
۟اى ُقََّٱ َو َهَّللٱ
ٌٌ ا َّىََ َهَّللٱ َّنِإ ٌمي ِحَّر
( ٢٣ )
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.32
Ayat tersebut menjelaskan bahwa dalam Islam manusia diperintahkan untuk menjauhi prasangka kepada orang lain, sekalipun ada sebagian prasangka yang diperbolehkan. Namun Allah menganjurkan manusia untuk menjauhi seluruh prasangka, ksrens kebanyakan prasangka itu bersifat destruktif dan membawa dosa. Karena itu dianjurkan dalam Islam untuk sebisa mungkin menjauhi prasangka dalam bentuk apapun, karena manusia terkadang tidak sanggup untuk membedakan mana prasangka yang boleh dan mana prasangka yang tidak boleh dilakukan. Prasangka negatif kepada orang lain akan membawa kepada kebencian dan permusuhan.33
32 QS. Al-Hujurat [49] :12.
33 Ahmad Rusydi, “Husn Al-Zhann: Konsep Berpikir Positif Dalam Perspektif Psikologi
Islam Dan Manfaatnya Bagi Kesehatan Mental”, Proyeksi, Vol. 7, Nomor 1, 2012, hlm.9.
24 2. Kerangka Berpikir
Di bawah ini adalah bagan kerangka berpikir dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian
3. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.
Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti.34
Hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Ha: Terdapat pengaruh positive thinking terhadap peningkatan self acceptance pada siswa kelas XII MA NWDI Sakra.
Ho: Tidak terdapat pengaruh positive thinking terhadap peningkatan self acceptance pada siswa kelas XII MA NWDI Sakra.
34Sandu Siyoto & Ali Sodik, Dasar MetodologiPenelitian, (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015), hlm.56.
Self Acceptance (Y)
Pre-Test Pemberian Treatment atau
Perlakuan Dengan Materi Positive Thingking
Post-Test
Hasil Analisa
Positive Thingking (X)
25 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif karena data yang akan digunakan untuk menganalisis pengaruh antar variabel dinyatakan dengan angka atau skala numerik. Penelitian eksperimen merupakan suatu penelitian yang dengan sengaja peneliti melakukan manipulasi terhadap satu atau lebih variabel dengan suatu cara tertentu sehingga berpengaruh pada satu atau lebih variabel lain yang di ukur. Selain itu, Gay menyatakan bahwa metode penelitian eksperimen merupakan satu-satunya metode penelitian yang dapat menguji secara benar hipotesis menyangkut hubungan kausal (sebab akibat).35 Selain itu, pada jurnal penelitian Iqbal Bafadal dijelaskan bahwa konsep penelitian eksperimen bertumpu pada manipulasi terhadap keadaan yang menjadi perhatian.36 Manipulasi dalam penelitian ini berupa pemberian perlakuan atau treatment positive thinking terhadap subjek penelitian untuk melihat pengaruhnya terhadap peningkatan self acceptance (penerimaan diri) siswa.
B. Populasi dan Sampel Penelitian a. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian baik terdiri dari benda yang nyata, abstrak, peristiwa maupun gejala yang sumber data dan memiliki karakter tertentu dan sama.37 Jadi, dari pengertian tersebut peneliti dapat memahami bahwa populasi ini merupakan segenap subjek penelitian baik yang berwujud manusia ataupun unsur lainnya yang terdapat dalam ruang lingkup sebuah obyek penelitian yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini, populasi penelitiannya
35Andi Ibrahim, dkk, Metodologi Penelitian, (Makassar: Gunadarma Ilmu, 2018), hlm. 34- 35. 36Iqbal Bafadal, “Pendekatan T-Group Dynamic Dalam Meningkatkan Kemandirian Remaja”, Jurnal Qawwam, Vol. 13, Nomor 1, Juni 2019, hlm. 34.
37Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula, (Yogyakarta: Gadjah Mada UniversityPress, 2004), hlm.47.
26
adalah seluruh siswa kelas XII MA NWDI Sakra, yang di mana jumlah seluruh siswa pada kelas XII adalah 63 siswa.
b. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. 38 Berdasarkan pengertian tersebut dapat di pahami bahwa yang dimaksud dengan sampel dalam sebuah penelitian adalah jumlah subyek penelitian tertentu yang diambil dari populasi sebagai wakilnya dengan jumlah besar disesuaikan dengan kebutuhan dan kehendak penelitian dengan syarat benar-benar mewakili.
Kemudian untuk menentukan berapa sampel yang akan diteliti maka peneliti menggunakan pandangan dari Sugiyono yang mengatakan bahwa “Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, tetapi jika jumlah subyeknya besar dapat diambil 10-15% atau 20- 25% atau lebih”. 39 Karena populasi kurang dari 100, maka peneliti menjadikan keseluruhan populasi sebagai sampel yakni berjumlah 63 siswa/i.
Berikut ini adalah jumlah populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini.
Tabel3.1 Populasi & Sampel Penelitian
C. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian inidilaksanakan pada bulan Maret 2022, yang berlokasi diMA NWDI Sakra, KecamatanSakra, Kabupaten Lombok Timur.
38Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm.81.
39Ibid., hlm. 25.
No Kelas Populasi Sampel
1 XII IPA 33 33
2 XII IPS 30 30
Jumlah 63 63
27 D. Variabel Penelitian
Dalam metode penelitian kuantitatif, tentu peneliti akan melibatkan variabel. Variabel merupakan obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.40 Variabel dalam penelitian sering digambarkan dengan X dan Y. Variabel X pada umumnya menunjukkan variabel bebas (independent variable), sedangkan variabel Y menunjukkan variabel terikat (dependent variable).
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan.41Variabel-variabel yang terkait dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1) Variabel bebas (independen). Variabel ini sering disebut variabel stimulus, prediktor, antecedent. Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).42 Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) yaitu positive thinking.
2) Variabel terikat (dependen) sering disebut variabel output, kriteria dan konstan. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikatnya (Y) yaitu self acceptance.
E. Desain Penelitian
Dalam melakukan penelitian, terlebih lagi untuk penelitian kuantitatif, salah satu langkah yang penting ialah membuat desain penelitian. Desain penelitian pada hakikatnya merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan
40Suharismi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 97.
41Ibid., hlm. 27.
42 Rifa’i Abubakar, Pengantar Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: SUKA-Press UIN Sunan Kalijaga, 2021), hlm. 54.
28
berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses penelitian. 43
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain one group pre-test post-test design yakni desain yang tindakannya hanya diberikan pada satu kelompok eksperimen.
Pengukuran terhadap kelompok eksperimen dilakukan di awal dan di akhir perlakuan (before-after design).44 Desain penelitian ini dapat digambarkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.2 Desain penelitian
Keterangan:
T1: Pre-test, untuk mengukur self acceptance siswa sebelum diberikan perlakuan.
X: Perlakuan yang diberikan kepada siswa, yaitu materi positive thinking.
T2: Post-test, untuk mengukur self acceptance siswa setelah diberikan perlakuan.
Jadi, langkah awal penelitian dengan metode eksperimen dengan desain one group pre-test post-test designini yaitu: pertama, memberikan tes awal (pre-test) kepada kelompok eksperimen dengan tujuan untuk mengukur tingkat self acceptance (penerimaan diri) sebelum diberi perlakuan. Kedua, peneliti memberi perlakuan terkait positive thinking berupa penyampaian materi kepada kelompok eksperimen. Ketiga, memberikan test akhir (post-test) kepada kelompok eksperimen untuk mengukur tingkat self acceptamce (penerimaan diri) setelah diberikan perlakuan.
43Sandu Siyoto & Ali Sodik, Dasar MetodologiPenelitian, (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015), hlm. 98.
44Iqbal Bafadal, “Pendekatan T-Group DynamicDalam Meningkatkan Kemandirian Remaja”, Jurnal Qawwam, Vol. 13, Nomor 1, Juni 2019,hlm. 35.
Pre-test Perlakuan Post-test
T1 X T2