PENGARUH KPR SUBSIDI DAN NON PERFOMING LOAN TERHADAP RETURN ON ASSET PERUSAHAAN PADA PT. BANK NEGARA INDONESIA
(PERSERO) TBK
Zul Ahsan1, Sutardjo Tui2, Iqbal AR3
1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
ABSTRACT
This study aims: 1) to determine the factors that affect subsidized mortgages and NPLs at BNI Bank. 2) to determine the most dominant factor influencing the occurrence of NPL at BNI Bank. This research was conducted to determine the effect of subsidized mortgages and non-performing loans (NPL) on the return on assets at PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk for the period 2015, 2016, 2017, 2018, and 2019 which are supported by published annual financial reports. Research conducted to determine the effect of subsidized mortgages and NPLs on Return on assets was conducted based on data taken from the annual financial statements of PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, BNI with conducting research which will take 2 months. The data used in this research is secondary data . The secondary data source is the Audited Financial Report of PT. State Bank PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk which has been published in the form of Financial Statements on the BNI website for the last 5 years from 2015 to 2019.
The results showed that 1) subsidized mortgages had a positive and significant effect on return on assets.
This means that every increase in subsidized mortgages is followed by an increase in return on assets. 2) NPL has a positive and significant effect on return on assets. This means that every increase in credit flexibility will be followed by an increase in company performance.
Keywords: Subsidy Kpr, Non Performing Loan, And Return On Asset.
PENDAHULUAN
Suatu perusahaan sering ditemukan masalah yang berhubungan dengan aspek keuangan baik berupa usaha untuk mendapatkan modal sesuai dengan kebutuhan perusahaan, maupun usaha dalam menggunakan atau memanfaatkan modal tersebut secara efektif dan efisien. Tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan adalah antara lain: (a) meningkatkan kekayaan pemiliknya (stakeholder), (b) untuk memperoleh keuntungan (profit oriented) secara optimal, dan (c) untuk kelangsungan hidup dan kesinambungan operasi perusahaan.
Salah satu standar dalam memberikan penilaian efisiensi manajemen perusahaan dalam mengelola usahanya.
Persoalan kredit macet, saat ini masih mewarnai perbankan nasional dan telah menjadi isu nasional yang tidak saja melibatkan Otoritas Moneter, namun juga telah menyita perhatian yang luar biasa pada aparat eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta seluruh lapisan masyarakat. Kesemuanya ini menunjukkan bahwa masalah kredit macet
merupakan masalah serius sehingga perlu segera diambil jalan keluar secepatnya.
Mengingat jumlah kredit macet yang cukup besar bagi perbankan merupakan beban berat yang mempunyai dampak langsung pada aspek rentabilitas, solvabilitas, dan permodalan bank. Selain itu kualitas aktiva produktif yang kurang baik, memaksa bank untuk membentuk cadangan penghapusan aktiva produktif yang lebih besar. Akibat lebih lanjut akan mempengaruhi tingkat kesehatan bank yang bersangkutan. Berbagai dampak yang merugikan tersebut, pada akhirnya menjadi faktor penghambat bagi bank dalam rangka pengembangan usahanya.
Pada dasarnya semua kredit yang diberikan oleh bank berpotensi untuk macet, dan hal ini sudah menjadi pasangan bagi setiap aktivitas kredit produktif yang disalurkan oleh bank. Persoalannya ialah faktor-faktor apa yang menyebabkan sehingga suatu kredit itu menjadi macet dan bagaimana menangani kredit macet tersebut sehingga diperoleh hasil yang maksimal dengan meminimumkan kerugian bank.
Kelima faktor tersebut merupakan faktor yang belum disosialisasikan dengan baik oleh pihak pemberi kredit (kreditur) kepada pihak debitur yang sewaktu-waktu dapat menjadi penyebab terjadinya kredit macet. Berdasarkan pedoman Bank Indonesia No. 31/147/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang sifat perolehan sumber daya, kualitas kredit dapat disusun menjadi lancar (pass), luar biasa (unique notice), tidak memuaskan, mencurigakan. (keraguan) dan (kemalangan).
Persoalan Non Performing Loan (NPL), saat ini masih mewarnai perbankan nasional dan telah menjadi isu nasional yang tidak saja melibatkan Otoritas Moneter, namun juga telah menyita perhatian yang luar biasa pada aparat eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta seluruh lapisan masyarakat. Mengingat jumlah Non Performing Loan (NPL) yang cukup besar bagi perbankan merupakan beban berat yang mempunyai dampak langsung pada aspek rentabilitas, solvabilitas, dan permodalan bank.
Selain itu kualitas aktiva produktif yang kurang baik, memaksa bank untuk membentuk cadangan penghapusan aktiva produktif yang lebih besar. Akibat lebih lanjut akan mempengaruhi tingkat kesehatan bank yang bersangkutan. Berbagai dampak yang merugikan tersebut, pada akhirnya menjadi faktor penghambat bagi bank dalam rangka pengembangan usahanya. Penanganan kredit KPR Subsidi bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) secara umum ditempuh melalui cara penyelamatan dan penyelesaian kredit.
Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini ialah: 1) Apakah faktor KPR subsidi berpengaruh terhadap return on asset pada Bank BNI. 2) Apakah faktor NPL berpengaruh terhadap return on asset pada Bank BNI.
Tujuan penelitian adalah 1) untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap KPR subsidi dan NPL pada Bank BNI. 2) untuk mengetahui faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap terjadinya NPL pada Bank BNI.
TINJAUAN LITERATUR
Kata kredit sebenarnya berasal dari dialek lain "credere" yang berarti kepercayaan, atau "filsafat" yang berarti saya menerima.
Oleh karena itu, pemahaman esensial dalam
memberikan kredit kepada individu atau elemen bisnis adalah kepercayaan/keyakinan, khususnya individu yang dikhawatirkan nantinya akan memenuhi semua komitmen yang telah disepakati sebelumnya.
Sebagaimana ditunjukkan oleh Sinungan (1997), kapasitas kredit dalam kehidupan moneter, pertukaran dan uang adalah sebagai berikut: 1) Kredit dapat membangun utilitas kas/modal. 2) Kredit dapat memperluas kegunaan suatu barang. 3) Kredit dapat membangun arus dan lalu lintas uang tunai. 4) Kredit menimbulkan kegairahan berusaha masyarakat. 5) Kredit sebagai alat keamanan moneter. 6) Kredit sebagai jembatan untuk peningkatan pendapatan nasional.
KPR subsidi adalah kredit atau pembiayaan untuk memiliki rumah yang mendapat bantuan dari pemerintah berupa dana murah dengan subsidi bunga terhadap kredit dimaksud, termasuk juga subsidi terhadap bantuan uang muka (SBUM). Subsidi bunga dimaksudkan adalah bank pelaksana akan mendapat subsidi dari pemerintah atas selisih bunga yang diberikan oleh bank terhadap tarif bunga yang dikehendaki oleh pemerintah.
Secara umum ada tiga jenis kredit pemilikan rumah adalah KPR non subsidi, KPR sudsidi, dan Kredit Pemilikan Rumah Syariah.
Persyaratan untuk memperoleh kpr non subsidi: 1) Warga Negara Indonesia. 2) Usia menimal 18 tahun atau sudah menikah. 3) Memiliki status karyawan, pengusaha atau professional. 4) Untuk keryawan minimal sudah bekerja 2 tahun. 5) Untuk pengusaha dan profesional paling tidak sudah 2 tahun pada bidang yang sama. 6) Untuk karyawan kredit harus lunas maksimum umur 55 tahun, dan pengusaha atau professional maksimum 65 tahun.
Syarat-syarat kredit pemilikan rumah subsidi adalah 1) Warga Negara Indonesia yang bertempat tinggal di wilayah Indonesia.
2) Telah berusia 21 tahun atau sudah menikah.
3) Memiliki masa kerja atau uasah minimal 1 tahun. 4) Belum pernah memiliki rumah dan juga belum pernah menerima bantuan dari pemerintah atas kepemilikan rumah. 5) Memiliki penghasilan maksimal 6 juta untuk KPR rumah sejahtera tapak dan 8 juta untuk KPR rumah sejahtera. 6) Memiliki NPWP.
Kredit NPL atau dalam pertimbangan luar biasa adalah uang muka yang masih
didelegasikan lancar, namun mulai ada hutang yang belum dibayar.Sejauh kemampuan membayar, itu didelegasikan Pra-NPL atau Perhatian Khusus jika ada pembayaran kembali di kepala atau bagian bunga potensial selama 90 hari.
Dikatakan dalam NPL/Under Special Mention jika memenuhi model antara lain 1) Adanya tunggakan angsuran pokok serta bagian bunga yang belum melebihi 90 hari. 2) Cerukan insidental. 3) Jarang ada pelanggaran terhadap kontrak yang disepakati. 4) Perubahan catatan umumnya rendah. 5) Dijunjung tinggi dengan kemajuan baru.Menurut Ismail (2009:228), rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut: NPL = kredit masalah * 100% / Total kredit.
Tabel 1. Matriks Kriteria Penilaian Berdasarkan Peringkat Komponen NPL
Beberapa hal yang menyebabkan kredit macet menurut Veithzal Rifai (2006) adalah sebagai berikut 1) Karena Kesalahan Bank. 2) Karena Kesalahan Pelanggan. 3) Faktor Luar.
Kredit Non Performing Loan menggambarkan suatu situasi di mana persetujuan pengembalian kredit mengalami resiko kegagalan, bahkan cenderung menuju atau mengalami kerugian yang potensial.
Return on asset adalah rasio perbandingan antara laba bersih perusahaan dibagi dengan asset, artinya perbandingan ini merupakan seberapa mampu perusahaan memperoleh laba dibagi dengan asset. Return on asset ini adalah bagian dari profitabilitas perusahaan yang menurut S. Munawir (2004) merekomendasikan bahwa manfaat menunjukkan kapasitas organisasi untuk menciptakan manfaat selama periode tertentu.
Menurut Kasmir (2009), ada beberapa cara berbeda untuk mengukur tingkat manfaat suatu organisasi, khususnya: 1) Margin Laba Bersih (GPM). 2) Margin Laba Kerja (OPM).
3) Margin Laba Bersih (NPM). 4) Pengembalian Aset (ROA). 5) (ROE).
Kredit merupakan jenis pendapatan utama bagi bank, pelaksanaan bank yang baik
ditunjukkan dengan lancarnya penyebaran kredit bank kepada masyarakat luas. Namun demikian, tingkat pembayaran kredit yang tidak dapat disangkal oleh bank akan memberikan bahaya yang tinggi bagi bank, khususnya jika terjadi non-performing advances dan NPL yang tinggi.
Sebab-sebab terjadinya non prefoming loan adalah moral peminjam, kebijakan pemerintah dan bank indonesia, kondisi perekonomian.
Berdasarkan rumusan masalah dan uraian-uraian yang telah dikemukakan, dapat dikemukankan bahwa dugaan sementara terhadap masalah yang akan dilakukan penelitian, atas hal tersebut penulis mengajukan hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Diduga bahwa KPR Subsidi berpengaruh terhadap Return on Asset (ROA) BNI.
2. Diduga bahwa NonPerforming Loan berpengaruh terhadap Return on Asset (ROA) BNI
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Dalam penyaluran kredit tersebut bank akan selalu menghadapi risiko tidak tertagihnya atau tidak terbayarnya pengembalian kredit yang telah disalurkan tersebut, baik sebagian maupun seluruhnya. Kredit yang tidak terbayar kembali tersebut akan menimbulkan kerugian bagi bank, dan menimbulkan problem kredit Non Performing Loan (NPL). Apabila suatu bank dirongrong oleh NPL dalam jumlah besar pasti akan mengalami berbagai macam kesulitan operasional khususnya dari sisi pencapaian profitabilitas Bank itu sendiri.
Kesehatan bank yang bersangkutan di mata Bank Sentral (di Indonesia Bank Indonesia) akan dinilai rendah. Selain itu, dampak dari NPL yang besar dapat berpengarauh pada Bank itu sendiri, cepat atau lambat, bank tersebut juga akan kehilangan kepercayaan dari para nasabahnya.
Uraian tersebut menunjukan bahwa kredit bermasalah berpengaruh terhadap profitabilitas bank yang diukur dengan tingkat pengembalian.
Gambar 1. Model Penelitian
Sumber: Ahsan (2022).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh KPR subsidi dan Non Performin Loan (NPL) terhadap Return on asset pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk periode tahun 2015, 2016, 2017, 2018, dan 2019 yang didukung oleh laporan keuangan tahunan yang telah dipublikasi.
Penelitian yang dilakukan untuk mengetaui pengaruh KPR subsidi dan NPL terhadap Return on asset dilakukan berdasarkan data-data yang diambil dari laporan keuangan tahunan PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, BNI dengan pelaksanan penelitian yang akan membutuhkan waktu selama 2 bulan.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Sumber data sekunder adalah Laporan Keuangan Auditeed PT. Bank Negara PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang telah dipublikasikan dalam bentuk Laporan Keuangan pada website BNI periode 5 tahun terakhir tahun 2015 sampai dengan 2019.
jumlah KPR subsidi dan NPL pada Bank BNI pada periode 2015 sd 2019. Melihat jumlah KPR subsidi dan NPL pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini diambil pada periode tahun 2015 sampai degan 2019.
Penelitian ini sepenuhnya menggunakan data sekunder. Data sekunder berupa laporan keuangan publikasi perbankan PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang diperoleh dari website Otoritas Jasa Keuangan (www.ojk.go.id) dan website BNI (www.bni.co.id).
Pada penelitian yang menganalisa pengaruh KPR subsidi dan NPL terhadap return on asset BNI. Dengan demikian, obyek dalam pnelitian ini terbagi dua variabel, yaitu 1) Variabel tidak bebas / terikat / dependent, yaitu return on asset (Y). 2) Variable bebas /
tidak terikat / independent, yaitu KPR Subsidi (X1), kredit Non Performing Loan (X2).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 2. Analisis Statistik Deskriptif Masing-Masing Variabel
Sumber: data primer diolah (tahun).
Berdasarkan hasil perhitungan dari tabel di atas dapat diketahui bahwa N atau jumlah data pada setiap variabel yaitu 5 thn data yang berasal dari sampel Bank Negara Indonesia mulai tahun 2015 sampai dengan 2019. Masing–masing variabel akan dijabarkan sesuai dengan data pada tabel 1 diatas sebagai berikut:
1. Return on Asset dapat diukur dengan perbandingan antara laba sebelum pajak terhadap terhadap total asset. Pada tabel 1 diatas variabel ROA memiliki nilai mean sebesar 1.88% dengan standar deviasi (std devition) sebesar 0.04472 yang artinya nilai mean lebih besar dari pada standar deviasi, sehingga ROA dapat disimpulkan bahwa pada perusahan pada PT. Bank Negara Indonesia (persero) Tbk. Kantor cabang matoangin sangat baik Nilai minimal sebesar 1.80% dan nilai maksimum sebesar 1.90%.
2. KPR Subsudi atau pembiayaan untuk memiliki rumah yang mendapat bantuan dari pemerintah berupa dana murah dengan subsidi bunga terhadap kredit dimaksud, termasuk juga subsidi terhadap bantuan uang muka (SBUM). Pada tabel 1 diatas variabel KPR Subsidi memiliki nilai mean sebesar Rp 3.4120 dengan standar deviasi (std devition) sebesar 0.31066 yang artinya nilai mean lebih besar dari pada standar deviasi, sehingga KPR Subsididapat disimpulkan bahwa pada perusahan pada PT. Bank Negara Indonesia (persero) Tbk. Kantor cabang matoangin sangat baik Nilai minimal sebesar Rp 2.098 dan nilai maksimum sebesar Rp 372.
3. Kredit NPL atau Dalam Perhatian Khusus merupakan kredit yang masih digolongkan lancar, akan tetapi mulai terdapat tunggakan. Pada tabel 1 diatas
variabelkredit NPL memiliki nilai mean sebesar 2.3800 dengan standar deviasi (std devition) sebesar 0.4658 yang artinya nilai mean lebih besar dari pada standar deviasi, sehingga NPLdapat disimpulkan bahwa pada perusahan pada PT. Bank Negara Indonesia (persero) Tbk. Kantor cabang matoangin sangat baik Nilai minimal sebesar 1.90% dan nilai maksimum sebesar 3.00%
Gambar 2. Hasil Uji Normalitas
Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, sehingga dapat disimpulkan bahwa distribusi data adalah normal.
Tabel 3. Hasil Uji Multikolinearitas
Sumber: data primer diolah (tahun).
Dari hasil uji tersebut, ditemukan bahwa nilai Varian Inflation Factor (VIF) dari 2 variabel yaitu KPR Subsidi dan NPL lebih kecil dari 5 dan nilai Tolérance tidak kurang dari 1. maka dapat dikatakan bahwa model regresi terbebas dari problem multikolinearitas
Tabel 4. Hasil Uji Regresi Berganda
Sumber: data primer diolah (tahun).
Dari tabel di atas diperoleh persamaan regresi Y = βo + β1 X1 + β2X2 + e
Y = 18.984 + 2.721 X1+ 13.771 X2
1. Konstanta sebesar 18.984; artinya jika KPR Subsidi dan NPL nilainya konstan, maka return on asset(Y) nilainya yaitu sebesar 18.984.
2. Koefisien regresi variabel KPR Subsidi sebesar 2.721 artinya jika KPR Subsidi mengalami kenaikan 1%, maka return on asset (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 2.721%. Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara KPR Subsidi dengan return on asset.
3. Koefisien regresi variabel NPLsebesar 13.771.; artinya jika NPL mengalami kenaikan 1%, maka return on asset (Y) akan mengalami kenaikan sebesar13.771%.
Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara NPL dengan return on asset.
Berdasarkan hasil uji Anova atau F test terlihat bahwa nilai F sebesar 159.684, dengan nilai signifikansi sebesar 0.006. Karena probabilitas atau nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,050, maka dapat dikatakan bahwa KPR Subsidi dan NPL secara bersama-sama atau secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 5. Hasil Uji F
Sumber: data primer diolah (tahun).
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah KPR Subsidi dan NPL berpengaruh secara signifikan terhadap return on asset dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 6. Hasil Uji Parsial (uji t)
Sumber: data primer diolah (tahun).
Berdasarkan hasil uji secara parsial (uji t) pada tabel 6 di atas menunjukkan bahwa:
1. Uji hipotesis pertama variabel KPR Subsidi terhadap return on asset diperoleh nilai t
hitung =16.402 > t tabel = 2.570, dengan nilai signifikansi sebesar 0,004, nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa KPR Subsidi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset, berarti hipotesis 1 diterima.
2. Uji hipotesis kedua variabel NPL terhadap return on asset diperoleh nilai t hitung
=11.949 > t tabel = 2.570, dengan nilai signifikansi sebesar 0,007, nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa NPL memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset, berarti hipotesis 2 diterima.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa KPR Subsidi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap return on asset, Artinya apabilah KPR Subsidi meningkat, maka akan di ikuti kenaikan return on asset.
KPR Subsudi berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA) Bank Negara di Indonesia (Menolak Ho). Dalam penelitian, nilai t-hitung yang diperoleh variabel pemberian KPR sebesar 16.402. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai t-tabel pada tabel distribusi t. Dengan α=0,05, df=n-k-1=5-2- 1=3, diperoleh nilai t-tabel untuk pengujian dua pihak sebesar ± 3.18. Dari nilai-nilai di atas terlihat bahwa nilai t-hitung yang diperoleh 16.402), berada diantara nilai ttabel 3.180 dan), sesuai dengan kriteria pengujian hipotesis bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, artinya secara parsial pemberian KPR Subsudi berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas (ROA) bank di Indonesia periode tahun 2015 - 2019.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa NPL berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap return on asset Artinya Hal ini berarti variabel kredit flexi berpengaruh pada variabel kinerja perusahaan.
Dengan kata lain apa bila kredit flexi meningkat pada PT. Bank Negara Indonesia meningkat maka kinerja perusahaan juga meningkat. Melalui uji-t dengan tingkat kekeliruan 5% (α = 0,05), diputuskan untuk menolak hipotesis yang menyatakan NPL berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas (ROA) bank negara di Indonesia (Menolak Ho). Dalam pengujian hipotesis ini, terlihat
bahwa nilai t-hitung yang diperoleh variabel NPL sebesar11.949.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya, kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah 1) KPR Subsidi berpengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset. Artinya setiap peningkatan KPR Subsido diikuti kenaikan return on asset. 2) NPL berpengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset.
Artinya setiap kenaikan kredit flexsi akan diikuti kenaikan kinerja perusahaan
Bank harus meningkatkan pelaksanaan bisnis pemegang utang dan kualitas kredit tergantung pada konsekuensi pemeriksaan bank dimana peminjam sebenarnya memiliki kemungkinan yang diidentifikasi dengan latihan bisnis pemegang utang belum siap untuk memenuhi komitmennya kepada bank untuk memastikan bank keuntungan dan melindungi bank dari bahaya yang diperkirakan lebih serius.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi I. P. Arief, Y. (2016) Pengaruh Non Performing Loan (Npl) Dan Capital Adequacy Ratio (Car) Terhadap Profitabilitas. (Management Analysis Journal 5 (2) (2016) ISSN 2252-6552Ketut Mustanda, 2016, Pengaruh Car, Ldr Dan Npl Terhadap Roa Pada Sektor Perbankan Di Bursa Efek Indonesia, (Jurnal Vol 5 N0.
5, 2016 EISSN : 2302-8912)
Ikatan Bankir Indonesia, Mengelola Kredit Secara Sehat, Modul Sertifikasi Bidang Kredit Tingkat I Untuk Kredit Officer, PT.Gramedia Pustaka Utama , Jakarta, September (2014).
Ni, K. A. P. P., Lu. P. W. dan Ni Nyoman Abundanti3 (2018). Pengaruh Npl, Car Dan Bopo Terhadap Profitabilitas Pada Bpr Di Kota Denpasar E-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 7, No. 11, 2018: 6212 – 6238 ISSN:
2302-8912
Ni. K. A. P. P., Luh. P. W. dan Ni Nyoman Abundanti3 (2018). Pengaruh Npl, Car Dan Bopo Terhadap Profitabilitas Pada Bpr Di Kota Denpasar E-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 7, No. 11, 2018: 6212 – 6238 ISSN:
2302-8912
PBI no.7/2/PBI/2005 Tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum Tgl. 20-01- (2015).
Pengembangan Perbankan, Kredit Macet.
Edisi Mei – Juni (1994). No. 147, Jakarta.
Rita Septiani dan Putu Vivi Lestari (2016).
Pengaruh Npl Dan Ldr Terhadap Profitabilitas Dengan Car Sebagai Variabel Mediasi Pada Pt Bpr Pasarraya E-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 5, No.1, 2016: 293 - 324 ISSN: 2302-8912