PENGEMBANGAN POTENSI DAYA TARIK OBJEK WISATA AIR TERJUN PULAU LOEHA DI KAWASAN TAMAN
WISATA ALAM DANAU TOWUTI KECAMATAN TOWUTI KABUPATEN LUWU TIMUR
MUH IRVAN DEWANGGA 105951105616
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR
2021
i
PENGEMBANGAN POTENSI DAYA TARIK OBJEK WISATA AIR TERJUN PULAU LOEHA DI KAWASAN TAMAN
WISATA ALAM DANAU TOWUTI KECAMATAN TOWUTI KABUPATEN LUWU TIMUR
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Pada Program Studi Kehutanan
MUH IRVAN DEWANGGA 105951105616
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2021
ii
iii
iv
PERNYATAAN KEASLIAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama :Muh Irvan Dewangga NIM :105951105616 Program Studi : Kehutanan Fakultas : Pertanian
Dengan ini saya, Muh Irvan Dewangga menyatakan dengan sungguh-sungguh:
1. Saya menyadari bahwa memalsukan karya ilmiah dalam bentuk yang dilarang oleh undang-undang, termasuk pembuatan karya ilmiah oleh orang lain dengan suatu imbalan, atau mengambil karya orang lain, adalah tindakan kejahatan yang harus dihukum menurut undang-undang yang berlaku.
2. Bahwa skripsi ini adalah hasil karya dan tulisan saya sendiri, bukan karya orang lain atau karya plagiat, atau karya jiplakan dari karya orang lain.
3. Bahwa di dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat atau pendapat yang pernah atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacuh dalam naskah saya ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Bila kemudian hari terbukti pernyataan saya ini tidak benar, saya bersediah tanpa mengajukan banding menerima sanksi:
1. Skripsi ini beserta nilai-nilai hasil ujian skripsi saya di batalkan
2. Pencabutan kembali gelar kesarjanaan yang telah saya peroleh, serta pembatalan dan penarikan ijazah sarjana dan transkrip nilai yang telah saya terima.
Makassar, Juni 2021 Yang Menyatakan
Penulis
v ABSTRAK
Muh Irvan Dewangga, 105951105616. Pengembangan Potensi Daya Tarik Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha Di Kawasan Twa Danau Towuti Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur. Dibawah bimbingan Hajawa dan Naufal.
Air Terjun Pulau Loeha adalah salah satu objek wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan namun belum banyak dikenal selain itu, lokasi Air Terjun Pulau Loeha belum dikelola sacara maksimal termasuk infrastruktur yang belum memadai dalam pengembangan Air Terjun Pulau Loeha. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Potensi, nilai kelayakan dan pengembangan objek wisata Air Terjun Pulau Loeha TWA Danau Towuti Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada November sampai bulan Desember tahun 2021, Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data berupa observasi, dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis yang digunakan yaitu Analisis kelayakan dengan pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata (ADOODTWA) PHKA tahun 2003 untuk melihat kelayakan sebagai tempat wisata. Berdasarkan hasil penilaian kelayakan potensi ekowisata pada kawasan Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur menyimpan potensi objek ekowisata berupa keindahan panorama alam, keindahan Air terjun, serta keragaman jenis Flora dan Fauna. diketahui bahwa nilai kelayakan tertinggi yaitu pada variabel Akomodasi yaitu 91,66%, kemudian variabel Aksessibilitas dengan indeks kelayakan 81,50 %, Daya Tarik dengan indeks kelayakan 73,98% kemudian yang paling rendah yaitu variabel Sarana dan Prasaran dengan indeks kelayakan 80%. Pengembangan wisata yang dapat dilakukan yaitu wisata petualang, interpretasi alam, pengadaan sarana dan prasaran dan pengadaan penginapan berkonsep alami.
Kata Kunci : Air Terjun Pulau Loeha, Objek Wisata, Daya Tarik, Penilaian Potensi Wisata.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa untuk segala berkat, rahmat dan Kasih-Nya sehingga penyusunan proposal ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam melaksanakan seluruh kegiatan ini, penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, pelajaran, petunjuk serta bantuan yang sangat dan akan besrmanfaat bagi penulis didalam menerapkan ilmu-ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. Karenanya, pada kesempatan ini penulis dengan tulus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag.
2. Dr. Ir. Hj. Andi Khaeriyah, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Dr. Ir. Hikmah, S. Hut., M.Si. selaku Ketua Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Makassar
4. Ibu Dr. Ir. Hajawa, M.P., selaku pembimbing I yang dengan sabar telah memberikan waktu, tenaga, dan pikiran dalam mengarahkan dan membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Ir. Naufal, S.Hut.,M.Hut.,IPM. selaku pembimbing II yang dengan sabar telah memberikan waktu, tenaga, dan pikiran dalam mengarahkan dan membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
vii
6. Kepada kedua orang tua saya serta para keluarga yang selalu memberikan motivasi, semangat, pengorbanan serta doa dalam menyusun proposal ini dari awal hingga akhir sehingga proposal ini dapat terselesaikan.
7. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi dari awal hingga akhir yang penulis tidak dapat sebut satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini, masih sangat banyak terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki, unuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan proposal ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya kepada penulis sendiri.
Makassar, Juni 2021
Penulis
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN KOMISI PENGUJI ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN ... v
ABSTRAK
...
viKATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 3
1.4. Manfaat Penelitian ... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konservasi ... 5
2.2. Taman Wisata Alam (TWA) Danau Towuti ... 5
2.3. Pengembangan Obyek Wisata ... 6
2.4. Potensi Wisata ... 9
2.5. Ekowisata ... 10
2.6. Analisis Kelayakan Potensi Ekowisata ... 11
2.7. Kerangka Pikir ... 14
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ... 17
ix
3.2. Alat dan Bahan Penelitian ... 17
3.3. Jenis dan Sumber Data ... 17
3.4. Metode Pengambilan Data ... 18
3.5. Variabel Penelitian Penilaian Potensi Wisata dan Dayatarik ... 20
3.6. Analisis Data Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha ... 22
IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak dan Luas Desa Loeha ... 25
4.2. Jumlah Penduduk/Mata Pencaharian ... 26
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Identifikasi Responden ... 27
5.2. Potensi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha ... 29
5.3. Penilaiaan Pengembangan Potensi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha...34
5.4. Penilaian Objek Dan Daya Tarik Wisata ... 37
5.5. Analisis Kelayakan Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha ... 45
5.6. Pengembangan Potensi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha...47
VI. PENUTUP 6.1. Kesimpulan ... 49
6.2. Saran ... 50 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
x
DAFTAR GAMBAR
No Teks Halaman
1. Kerangka Pikir Penelitian ... 15
2. Potensi Panorama Alam ... 27
3. Potensi Air Terjun Pulau Loeha ... 28
4. Flora Objek Wisata Air terjun Pulau Loeha ... 29
5. Fauna Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha ... 29
6. Batuan di Bibir danau Sebelum Masuk ke Lokasi Air Terjun ... 30
7. Lokasi Air Terjun ... 31
8. Jenis Transportasi ke Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha ... 32
9. Salah Satu Penginapan Pada Radius 15 Km ke Wisata Air Terjun pulau Loeha ... 33
10. Mesjid Dekat Objek Wisata Air Terjun pulau Loeha ... 34
xi
DAFTAR TABEL
No Teks Halaman
1.Variabel Penelitian ...20
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Jenis Kelamin ... 27
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 28
4. Hasil Penilaian Terhadap Komponen Daya Tarik ... 38
5. Hasil Penilaian Terhadap Aksessibilitas ... 41
6. Penilaian Jumlah Penginapan dan Jumalah Kamar ... 42
7. Penilaian Sarana dan Prasarana ... 44
8. Hasil Penilaian Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha. ... 46
xii
DAFTAR LAMPIRAN
No Teks Halaman
1. Surat Izin Penelitian ... 53
2. Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi... 54
3. Kuisioner ... 55
4. Pedoman analisis daerah perasi objek dan daya tarik wisata alam...81
5. Hasil Wawancara Responden ... 84
6. Identitas Responden ... 116
7. Olah data hasil wawancara ... 129
8. Dokumentasi Penelitian ... 130
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pariwisata telah diasumsikan sebagai industri yang dapat diandalkan untuk mengisi devisa. Alasan utama pengembangan pariwisata sangat terkait dengan kemajuan perekonomian, sosial dan budaya, suatu kawasan atau negara. Dengan perkataan lain, pengembangan kepariwisataan pada suatu daerah tujuan wisata selalu akan diperhitungkan dengan keuntungan dan manfaat bagi rakyat banyak.
Pembangunan kepariwisataan sebagai bagian dari pembangunan nasional mempunyai tujuan antara lain memperluas kesempatan berusaha dan lapangan kerja Sejalan dengan tahap-tahap pembangunan nasional, pelaksanaan pembangunan kepariwisataan nasional dilaksanakan secara menyeluruh, berimbang, bertahap, dan berkesinambungan. Pembangunan di bidang kepariwisataan mempunyai tujuan akhir untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kawasan obyek wisata dapat menjadi daerah tujuan wisata apabila memiliki potensi fisik dan non fisik dimana yang dikembangkan, akan menjadi kawasan daerah tujuan wisata yang menguntungkan baik itu di daerah sendiri maupun pemerintah. Dalam rangka memajukan kepariwisataan, perlu langkah-langkah terarah dan terpadu dalam mengembangkan obyek-obyek wisata dengan maksud untuk mempengaruhi pikiran dan minat agar datang ke daerah obyek wisata.
Salah - satu Kawasan wisata di Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur yaitu TWA Danau Towuti yang memiliki beberapa Ekowisata salah
2 satunya Air Terjun Pulau Loeha. Wisata Air Terjun Pulau Loeha adalah wisata yang terletak di tengah – tengah pulau loeha yang merupakan salah satu pulau yang ada di Danau Towuti desa Loeha, Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur, Air Terjun yang berada di Tengah – Tengah Pulau merupakan fenomena alam yang unik serta memiliki air yang jernih merupakan keindahan tersendiri yang dimiliki Air Terjun Pulau Loeha.
Sebagai lokasi wisata yang cukup lama, obyek wisata Air Terjun Pulau Loeha belum dikelola dan dikembangkan sebagai lokasi wisata yang modern. Hal ini dapat dilihat dari belum adanya sarana dan prasarana. Keadaan Air Terjun Pulau Loeha ini belum tertata dengan baik. Sementara tingkat peminat pengunjung semakin meningkat, sehingga perlu ada pengelolaan sehingga obyek wisata Air Terjun Pulau Loeha ini memberikan pengaruh positif yang dapat dipertahankan keberadaannya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana potensi objek Air Terjun Pulau TWA Danau Towuti Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur?
2. Berapa nilai potensi objek Air Terjun Pulau TWA Danau Towuti Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur ?
3. Bagaimana pengembangan potensi objek Air Terjun Pulau TWA Danau Towuti Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur ?
3 1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian adalah untuk Mengetahui
1. Potensi objek Air Terjun Pulau Loeha TWA Danau Towuti Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur.
2. Nilai kelayakan potensi wisata Air Terjun Pulau Loeha TWA Danau Towuti Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur.
3. Pengembangan potensi wisata Air Terjun Pulau Loeha TWA Danau Towuti Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1. Untuk memberikan informasi tentang potensi objek wisata Air Terjun Pulau Loeha di desa Loeha Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur.
2. Sebagai bahan masukan bagi instansi terkait dalam hal ini pihak
Pengelolah Kawasan, Pemerintah Desa dan Dinas Pariwisata Kabupaten Luwu Timur untuk membantu pengembangan selanjutnya.
3. Memperluas pengetahuan tentang eksistensi obyek wisata yang ada di Luwu Timur
4 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konservasi
Berdasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan konservasi didefinisikan sebagai kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Ada tiga tujuan utama dalam kegiatan konservasi yaitu perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Hutan konservasi sebagai perlindungan artinya berupaya melindungi peranan keanekaragaman hayati sebagai sistem penyangga kehidupan. Hutan konservasi sebagai pelestarian artinya melestarikan keanekaragaman hayati yang ada dan mencegahnya dari kepunahan, sedangkan hutan konservasi sebagai pemanfaatan artinya memanfaatkan dengan bijaksana dan bertanggungjawab keanekaragaman hayati yang telah ada.
2.2. Taman Wisata Alam (TWA) Danau Towuti
Danau Towuti merupakan salah satu kawsan konsevasi taman wisata di Indonesia. Hal ini berdasarkan surat Keputusan Menteri Pertanian No.
274/Kpts/Um/4/1979 tanggal 24 April 1979 maka kawasan Danau Towuti, menjadi kawasan konservasi Taman Wisata Alam dengan nama Taman Wisata Alam Danau Towuti. Dengan status taman wisata alam maka Danau Towuti adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata, rekreasi alam dan wisata bahari. Kawasan Danau Towuti dikelola oleh Balai
5 Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan, dibawah Departemen Kehutanan Republik Indonesia.
Danau Towuti adalah sebuah danau yang terletak di Sulawesi Selatan, Indonesia. Secara administratif, danau ini terletak di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. danau ini memiliki memiliki lima pulau di tengah danau yang di antaranya yaitu Pulau Loeha, Pulau Bolong, dan Pulau Kembar.
2.3. Pengembangan Obyek Wisata
Pengembangan adalah proses, cara pembuatan mengembangkan kesasaran yang dikehendaki (KBBI 1986, Balai Pustaka, Jakarta). Pengembangan adalah suatu usaha menuju kearah yang lebih baik yang menyebabkan adanya perubahan dan pertumbuhan. Perubahan itu bisa dalam arti kualitas dan kuantitas. Secara kualitas berarti meningkatkan daya tarik obyek wisata melalui peningkatan mutu pelayanan. Sedangkan secara kuantitas berarti perluasan keanekaragaman obyek wisata serta akomodasi lainnya.
Dalam upaya pengembangan suatu obyek wisata strategi-strategi dalam pelaksanaannya diperlukan untuk membuat suatu obyek wisata menarik dan memilikidaya jual yang tinggi. Adapun bentuk-bentuk strategi yang dilakukan adalah strategi promosi keseluruhan paket wisata baik obyek wisata alam maupun obyek wisata buatan melalui program pengembangan seperti:
1. Promosi dapat dilakukan melalui media brosur yang disebarkan di hotel atau tempat umum (mall atau pusat perbelanjaan)
6 2. Bekerja sama pada pihak hotel-hotel untuk mempromosikan obyek wisata ke
pasar wisata internasional.
3. Promosi melalui media internet yang dapat dilakukan oleh pihak Sub Dinas Pariwisata bekerjasama dengan pihak sponsor yang memiliki jaringan bisnis di bidang pariwisata.
4. Suatu obyek wisata agar menjadi daerah tujuan wisata maka obyek wisata tersebut harus siap menerima kedatangan wisatawan dengan memberikan pelayanan yang baik setiap kunjungan wisatawan.
Spillane (1990) menyatakan bahwa untuk menciptakan pemasukan yang banyak dari wisatawan maka dilakukan langkah-langkahdiantara lain:
1. Meningkatkan pelayanan terpadu di pintu gerbang masuk wisatawan sehingga mempermudah masuk wisatawan maupun keluar.
2. Meningkatkan pelayanan ke tempat tujuan wisata baik kegiatan pokok maupun penunjang
Menurut Yoeti (1996) ada tiga faktor yang dapat menentukan berhasilnya pengembangan pariwisata sebagai industri. Ketiga faktor tersebut adalah:
1. Tersedianya obyek dan atraksi wisata yaitu segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang yang mengunjungi suatu daerah wisata. Misalnya keindahan alam, hasil kebudayaan, tata cara hidup masyarakat, festival tradisional, dan upacara keagamaan.
2. Adanya accessibility yaitu prasara dan sarana dengan segala fasilitas sehingga memungkinkan para wisatawan mengunjungi suatu daerah tujuan wisata tersebut.
7 3. Tersedianya amenities yaitu sarana kepariwisataan yang dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan selama dalam perjalanan wisata yang dapat dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri.
Damanik dan Weber (2006) menyatakan bahwa dalam pengembangan pariwisata, pemerintah memainkan peranan bahkan memiliki tanggung jawab dalam hal berikut:
1. Peraturan tata guna lahan pengembangan kawasan pariwisata 2. Perlindungan terhadap lingkungan alam dan budaya
3. Penyediaan infrastruktur pariwisata
4. Kebijakan fasilitas fiscal, pajak, kredit, dan ijin usaha 5. Keamanan dan kenyamanan berwisata
6. Jaminan kesehatan
7. Penguatan kelembagaan pariwisata 8. Pendampingan dan promosi pariwisata 9. Regulasi persaingan usaha
10. Pengembangan sumberdaya manusia
Masyarakat lokal sebagai pihak yang menerima kedatangan wisatawan, perlu dilibatkan dalam proses pengembangan pariwisata, supaya keberhasilanya lebih terjamin. Berbagai peran dapat dilaksanakan oleh masyarakat setempat dalam pengembangan pariwisata di daerahnya. Peran yang dimaksud adalah:
1. Menjadi pemandu wisata
2. Menjadi pelaku usaha pariwisata 3. Mengaktualisasikan budaya masa lalu
8 4. Mengembangkan lembaga pariwisata
Menurut Mahdy (1998), peranan masyarakat dalam pengembangan adalah melalui perilakunya tentang kesadaran setiap warga masyarakat untuk merasa bertanggung jawab dan berpartisipasi di bidang pariwisata yang dikenal dengan istilah ‘sadar wisata.’
2.4. Potensi Wisata
Pengertian potensi wisata menurut Mariotti dalam Yoeti (1983: 160-162) adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata, dan merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ke tempat tersebut. Sukardi (1998:67), juga mengungkapkan pengertian yang sama mengenai potensi wisata, sebagai segala yang dimiliki oleh suatu daya tarik wisata dan berguna untuk mengembangkan industri pariwisata di daerah tersebut.
Jadi yang dimaksud dengan potensi wisata adalah sesuatu yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik sebuah obyek wisata. Dalam penelitian ini potensi wisata dibagi menjadi tiga macam, yaitu: potensi alam, potensi kebudayaan dan potensi manusia.
1. Potensi Alam
Yang dimaksud dengan potensi alam adalah keadaan dan jenis flora dan fauna suatu daerah, bentang alam suatu daerah, misalnya pantai, hutan, dll (keadaan fisik suatu daerah). Kelebihan dan keunikan yang dimiliki oleh alam jika
9 dikembangkan dengan memperhatikan keadaan lingkungan sekitarnya niscaya akan menarik wisatawan untuk berkunjung ke obyek tersebut.
2. Potensi Kebudayaan
yang dimaksud dengan potensi budaya adalah semua hasil cipta, rasa dan karsa manusia baik berupa adat istiadat, kerajinan tangan, kesenian, peninggalan bersejarah nenek moyang berupa bangunan, monument, dll.
3.Potensi Manusia
Manusia juga memiliki potensi yang dapat digunakan sebagai daya tarik wisata, lewat pementasan tarian/ pertunjukan dan pementasan seni budaya suatu daerah.
2.5. Ekowisata
Ekowisata adalah suatu perpaduan berbagai minat yang tumbuh dari rasa keprihatinan lingkungan, ekonomi, dan sosial. Ada beberapa padanan yang sering digunakan antara lain: natural-based tourism, green travel, responsible travel, low impact tourism, village based tourism, sustainable tourism, cultural tourism, heritage tourism, rural tourism. Masyarakat Ekoturisme Internasional (IES) memberikan definisi ekowisata (ecotourims) adalah suatu bentuk perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah alami yang lingkungannya dilindungi dan mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal. Empat gambaran perjalanan yang umumnya berlabelkan ekowisata, yaitu:
1. Wisata berbasis alamiah (nature-based tourism),
2. kawasan konservasi sebagai pendukung obyek wisata (concervation supporting tourism),
10 3. Wisata yang sangat peduli lingkungan (environmentally aware tourism).
4. Wisata yang berkelanjutan (sustainallyrun tourism) (Weaver 2001)
Ekowisata dalam teori dan prakteknya tumbuh dari kritik terhadap pariwisata massal, yang dipandang merusak terhadap landasan sumberdayanya, yaitu lingkungan dan kebudayaan. Kritik ini melahirkan berbagai istilah baru, antara lain adalah pariwisata alternatif, pariwisata yang bertanggung jawab, pariwisata berbasis komunitas, dan eko-wisata. Alasan umum penggunaan konsep ini adalah karena dapat menggambarkan pariwisata yang termasuk:
1. Bukan pariwisata berskala besar/massal 2. Mengikuti prinsip-prinsip keberlanjutan 3. Mempererat hubungan antar bangsa.
2.6. Analisis Kelayakan Potensi Ekowisata
Menurut Arafah dan Alamsyah (2012). Analisis kelayakan ekowisata dibagi kedalam tujuh aspek yaitu :
1. Daya Tarik
Daya tarik wisata alam adalah potensi objek wisata yang menjadi objek kunjungan wisata alam antara lain Keunikan sumber daya alam, banyaknya sumberdaya alam yang menonjol, kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan, kebersihan lokasi objek wisata, tidak ada pengaruh dari, keamanan kawasan, kenyamanan. Kriteria daya tarik diberi bobot 6 karena daya tarik merupakan modal utama yang memungkinkan datangnya pengunjung.
2. Aksessibilitas
11 Kadar hubungan/ aksesibilitas merupakan faktor yang sangat penting dalam mendorong potensi pasar seperti kondisi dan jarak jalan darat dari ibukota propinsi, Jarak dari Pintu gerbang udara internasional/domestik, Waktu tempuh dari ibukota propinsi, bobot nilainya 5.
3. Akmodasi
Akomodasi merupakan salah satu faktor yang diperlukan dalam kegiatan wisata yaitu jumlah penginapan dan jumlah kamar bobot nilainya 3. Jarak tempat akomodasi 5 -15 km dari objek wisata.
4. Sarana dan Prasarana Penunjang
Sarana dan prasarana penunjang adalah sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan kepariwisataan dan berada pada radius 20 km dari batas luar objek. Peranan dari sarana dan prasarana penunjang adalah untuk menunjang kemudahan dan kepuasan pengunjung. Unsur-unsur yang termasuk dalam prasarana penunjang dalam penelitian ini diantaranya kantor pos, warnet, jaringan telepon seluler, puskesmas/klinik, wartel. Sedangkan sarana penunjangnya adalah rumah makan/minum, pusat perbelanjaan/pasar, bank, tempat peribadatan dan toilet umum.
5. Keamanan
Keamanan dalam lokasi wisata merupakan salah satu hal yang harus dipertimbangkan dalam berwisata, karena hal ini menyangkut persoalan kenyamanan dan kepuasan dalam menikmati suasana alami selama perjalanan menuju kawasan wisata. Adapun hal yang menjadi unsur penilaian keamanan diantaranya kenyamanan perjalanan dan kondisi jembatan menuju objek wisata.
12 6. Hubungan dengan Objek Wisata Lain
Hubungan dengan objek wisata lain harus diperhatikan dalam pengembangan suatu objek wisata, guna mengetahui adanya ancaman atau dukungan yang diakibatkan oleh keberadaan objek wisata lain bagi perkembangan wisata ke depan. Unsur yang termasuk dalam penilaian hubungan dengan objek wisata lain yaitu jarak objek-objek wisata lain baik sejenis maupun tidak sejenis di Kabupaten/Kota yang berdekatan dengan objek.
Menurut Pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADOODTWA) Dirjen PHKA tahun 2003. Fungsi kriteria dan indikator adalah sebagai dasar dalam pengembangan ODTWA melalui penetapan unsur kriteria, penetapan bobot, penghitungan masing-masing sub unsur dan penjumlahan semua nilai unsur kriteria. Tujuan membuat kriteria ini adalah untuk menentukan skala prioritas pengembangan ODTWA dan mengintensifikasikan pemanfaatan dan pembinaan suatu ODTWA. Pemberian bobot pada setiap kriteria menurut pedoman ADO-ODTWA Dirjen PHKA 2003 adalah berbeda-beda.
Kriteria dasar yang dipakai dalam penilaian kelayakan taman wisata alam adalah sebagai berikut :
2.7. Kerangka Pikir Penelitian
a. Berdasarkan Undang – Undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Kawasaan Hutan adalah Wilayah tertentu yang ditunjuk atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk di pertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
13 b. Permandian Air Terjun Pulau Loeha adalah Tempat wisata yang berada dalam Kawasan hutan yang masih terjaga panoramanya dan masih alami tanpa campur tangan manusia.
c. Potensi Ekowisata adalah Kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dapat di kembangkan karena mempunyai daya tarik untuk dikunjungi dari sebuah obyek wisatas alam ( Yose Rizal SM, 1994: 308 ).
d. Berdasarkan Undang – Undang Republik Indonesia No. 10 tahun 2009, Daya Tarik Wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan,dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisata
e. Pendukung Wisata sangat penting dalam pengembangan wisata yaitu dari Aksessibilitas dimaksud agar Wisatawan Interlokal dan lokal dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ketempat Wisata Air Terjun Pulau Loeha dan dalam bidang Akomodasi juga salah satu faktor yang diperlukan dalam kegiatan wisata khususnya dari pengunjung yang cukup jauh,dengan adanya penginapan pengunjung yang dari jauh dapat untuk singgah beristirahat ataupun menginap jika pengunjung masih ada keinginan melakukan kunjungan kembali pada esok harinya, dan dalam Sarana dan Prasarana yang menunjang kelancaran mengembangkan Wisata karna dalam bidang Prasarana meliputi adanya jaringan telpon, puskesmas, jaringan listrik, jaringan air minum.
14 f. Analisis kelayakan Pengembangan ADO – ODTWA Dirjen PHKA 2003 adalah metode yang dipakai untuk Pengembangan suatu wisata yang sesuai dengan nilai yang telah ditentukan untuk masing – masing kriteria.
Aspek – aspek yang dinilai mulai dari Daya tarik, Aksessibilitas, Akomodasi dan Sarana dan Prasarana. .
g. Pengembangan yaitu suatu usaha menuju kearah yang lebih baik yang menyebabkan adanya perubahan dan pertumbuhan dalam suatu wisata yang sebelumnya belum layak berkembang menjadi suatu wisata yang sudah layak..
15 Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian
Air Terjun Pulau Loeha
Potensi Wisata
Daya Tarik Wisata
Pendukung Wisata Aksessibilitas Akomodasi
Sarana dan prasarana wisata
Analisis kelayakan Pengembangan ADO - ODTWA Dirjen PHKA 2003
Kawasan Hutan TWA Danau Towuti
Perm andian Alam Baruttung
16 III. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan November sampai bulan Desember tahun 2021, dan Lokasai penelitian Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha di Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur. Secara administratif, objek Wisata terletak di Desa Loeha Kecamatan Towuti.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunkan pada penelitian ini adalah:
a. Kamera
b. Aat tulis menulis
Bahan yang diperlukan pada penelitian ini yaitu:
a. Pedoman Analisis Daerah Operasi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO- ODTWA) Dirjen PHKA (2003) yang telah dimodifikasi.
b. Kuesioner untuk pengunjung dan panduan wawancara (pengelola dan masyakat disekitar Taman Wisata Alam).
3.3. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1. Data primer
Data primer adalah data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya baik secara wawancara, jajak pendapat dari individu atau kelompok, maupun hasil observasi dari suatu obyek, kejadian, atau hasil
17 pengujian. Dalam hal ini, peneliti mengumpulkan data dengan cara memberikan kuisioner atau dengan cara mengamati/observasi.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung; misalnya melalui buku, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara umum seperti keadaan geografis wilayah penelitian
3.4. Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
a. Wawancara berstruktur dengan menggunakan daftar kuisioner, Sasaran pada wawancara ini yaitu pihak pengelolah kawasan TWA Danau Towuti dan Pengunjung Air Terjun Pulau Loeha dan Masyarakat sekitar Air Terjun Pulau Loeha. Metode wawancara ini dimulai dari mewawancarai pengunjung setelah itu penduduk kemudian terakhir pengelolah kawasan.
1) Pengunjung
Teknik pengambilan sampel pengunjung menggunakan sampling kuota yaitu teknik untuk menetukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri- ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan (Sugiyono, 2010:
124). Anggota sampel adalah siapa saja yang dijumpai pada waktu pengambilan data, Jumlah responden yaitu ada 30 responden. Penentuan responden berdasarkan kondisi pengunjung yang datang di lokasi, jadwal pengunjung tidak menentu dalam sebulan biasanya hanya ada dua sampai
18 tiga kali bahkan kadang tidak ada kunjungan sama sekali dikarenakan lokasi Air Terjun Pulau Loeha belum ada pengembangan.
2) Penduduk
Jumlah responden yaitu sebanyak 30 responden. Mereka yang menjadi responden adalah masyarakat Desa Loeha yang mengetahui secara detail Air Terjun Pulau Loeha. Penentuan masyarakat sebagai sampel yakni dengan menggunakan Random sampling atau teknik pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu, Sugyono (2001:57).
3) Pengelola
Dalam teknik pengambilan sampel Pengelola TWA Danau Towuti yang dijadikan sebagai responden dengan metode sampel purposive (Purposive sampling). Metode pengambilan data dengan teknik Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Kusmayadi dan Endar Sugiarto, 2000: 141). Sampel yang ditentukan oleh peneliti yaitu pengelola yang benar-benar mengetahui pasti informasi-informasi tentang Air Terjun Pulau Loeha. Adapun sampel berjumlah dua orang, pengelola yaitu kepala TWA Danau Towuti dan Kepala Desa Loeha.
a. Observasi, yaitu pengumpulan data primer yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap fenomena – fenomena yang tampak pada objek penelitian dilapangan.
19 b. Dokumentasi, yaitu dengan melakukan pencatatan dan pengambilan gambar di lapangan melalui pemotretan dan fotocopy data sekunder dari instansi terkait.
3.5. Variabel Penelitian Penilaian Potensi Wisata dan Dayatarik
Variabel yang dianalisis pada penelitian ini yaitu mengacu pada Pedoman Analisi Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam ADO-ODTWA Dirjen PHKA 2003. Adapun komponen yang akan di catat dan dinilai adalah daya tarik, aksesibilitas, akomodasi, sarana dan prasarana penunjang. Adapun penjabaran mengenai variabel penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Variabel Penelitian pada objek wisata Air Terjun Pulau Loeha
Variabel Sub Variabel Indikator Sub indicator Bobot
Pengembangan Potensi Air Terjun Pulau
Loeha Faktor
kelayakan ekowisata
Daya tarik • Keunikan SDA
• Banyaknya SDA yang menonjol
• Kegiatan wisata alam yang dapat dinikmati
• Kebersihan lokasi objek wisata
• Keamanan kawasan
• Kenyamanan
6
Aksessibilitas • Jarak dari kota
• Waktu tempuh
• Tipe Jalan
• Kondisi Jalan
5
Akomodasi • Jumlah akomodasi 3
20
• Jumlah kamar Sarana dan
prasarana penunjang
• Prasarana penunjang
• Sarana penunjang 3
Sumber: Dirjen PHKA tahun 2003.
Kriteria kelayakan daya tarik objek wisata dapat dinilai dari beberapa aspek :
1. Daya Tarik
Layak : 840 - 1080 Kurang Layak : 600 - 840 Tidak Layak : < 600
2. Aksessibilitas
Layak : 500 >
Kurang Layak : 400 -500 Tidak Layak : < 400
3. Akomodasi
Layak : 140 -180 Kurang Layak : 100 - 140 Tidak Layak : < 100
4. Sarana dan Prasarana
Layak : 220 >
Belum Layak : 140 -220 Tidak Layak : <140
21 3.6. Analisis Data Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha
Analisis data dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu:
1. Analisis kualitatif deskriptif yaitu metode analisis yang bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan pada potensi objek ekowisata dalam kawasan melalui hasil yang diperoleh dalam penelitian. Menurut Kusmayadi dan Sugiarto (2000): Analisis kuantitatif adalah data yang menggunakan alat bantu statistik sehingga memudahkan penafsiran data mentah yang diperoleh. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner yang dibagikan kepada responden.
2. Metode Penilaian Kelayakan Ekowisata dengan kriteria Penilaian menurut Pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADOODTWA) Dirjen PHKA tahun 2003 sesuai dengan nilai yang telah ditentukan untuk masing-masing kriteria.
Perhitungan untuk masing-masing kriteria tersebut menggunakan tabulasi dimana angka-angka diperoleh dari hasil penilaian responden dan peneliti yang nilai bobotnya berpedoman pada pedoman penilaian ODTWA PHKA tahun 2003.
Pemberian bobot pada setiap kriteria menurut pedoman ADO-ODTWA Dirjen PHKA 2003 adalah berbeda-beda. Kriteria daya tarik diberi 6 karena merupakan faktor utama seseorang melakukan kegiatan wisata. Aksesibilitas diberi bobot 5 karena merupakan faktor penting yang mendukung wisatawan untuk melakukan kegiatan wisata. Akomodasi dan sarana/prasarana diberi bobot 3 karena merupakan faktor penunjang dalam kegiatan wisata. Jumlah nilai untuk satu kriteria penilaian ODTWA dapat dihitung dengan rumus:
22 S = N x B
Ket.
S = skor/nilai suatu kriteria
N = jumlah nilai unsur-unsur pada kriteria B = bobot nilai (Ginting, dkk, 2015).
Skor yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan skor total suatu kriteria.
Skor yang diperoleh dari setiap variabel akan di tentukan tingkat kelayakanya menggunakan rumus interval yaitu:
Interval = Skor maksimum – Skor Minimum 3
Indeks kelayakan suatu kawasan ekowisata adalah sebagai berikut:
Tingkat Kelayakan > 66,6 % : Layak dikembangkan (tinggi),dengan kriteria suatu kawasan wisata yang memiliki potensi, sarana dan prasarana yang tinggi berdasarkan parameter yang telah ditetapkan serta didukung oleh aksessibilitas yang memadai.
Tingkat kelayakan 33,3 % hingga 66,6 % : Belum layak dikembangkan (sedang),dengan kriteria suatu kawasan wisata yang memiliki potensi, sarana dan prasarana yang sedang berdasarkan parameter yang telah ditetapkan serta didukung oleh aksessibilitas yang cukup memadai.
Tingkat kelayakan < 33,3 % : Tidak layak dikembangkan (rendah), dengan kriteria suatu kawasan wisata yang memiliki potensi sarana dan prasarana yang rendah berdasarkan parameter yang telah ditetapkan serta akssesibilitas yang kurang memadai.
23 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Luas Desa Loeha
Desa Loeha merupakan salah satu Desa di Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur. Loeha terdiri dari dua dusun yaitu Dusun T.Mincarae dan Dusun K.Sumanga, Serta memiliki 5 RT. Sedangkan Jarak dari ibu kota kabupaten luwu timur ± 91 km, dan jarak dari ibu kota Kecamatan Towuti ±39 km serta jarak dari ibu kota provinsi sulawesi selatan ±700 km. Ketinggian tempat adalah antara 300-400 m di atas permukaan laut.
Wilayah Desa Loeha sebahagian besar adalah Perairan Danau Towuti yang berbatasan langsung sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Mahalona b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Rante Angin c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kab. Morowali d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Timampu
Danau Towuti adalah sebuah danau yang terletak di Sulawesi Selatan, Indonesia. Danau ini memiliki lima pulau di tengah danau yang di antaranya yaitu Pulau Loeha, Pulau Bolong, dan Pulau Kembar.
4.2. Jumlah Penduduk/Mata Pencaharian
Penduduk Desa Loeha berjumlah 1.534 jiwa yang terdiri dari laki – laki 594 jiwa dan perempuan 940 jiwa dengan registrasi penduduk ada dan teratur.
24 Jumlah kepala Keluarga 390 KK. Rata-rata mata pencaharian masyarakat Desa Loeha adalah bertani, wiraswasta, dan PNS.
Sumber : Data administrasi desa loeha.
25 V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Identifikasi Responden
Identifkasi responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kelamin dan tingkat pendidikan.
5.1.1. Identifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
erdasarkan jenis kelamin, identifikasi responden dapat di sajikan pada Tabel dibawah ini.
Tabel 2. Karakteristik Responden yang Mengunjungi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha Berdasarkan jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah
Responden
Persentase (%) 1.
2.
Laki-laki Perempuan
35 27
56,5 43,5
Jumlah 62 100
Sumber : Data Primer Setelah diolah 2021
Berdasarkan Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa dari 62 responden yang mengunjungi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha dalam penelitian ini sebanyak 35 orang responden yang berjenis kelamin laki-laki dengan persentase 56,5 % dan responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 27 responden dengan persentase 43,5 % yang berkunjung ke Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
26 5.1.2. Identifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Responden yang mengunjungi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha dalam penelitian ini berdasarkan pendidikan terakhir dapat di lihat pada Tabel dibawah ini.
Tabel 3. Karakteristik Responden Yang Mengunjungi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha Berdasarkan Tingkat Pendidikan.
No Tingkat Pendidikan Jumlah responden Persentase (%) 1
2 3 4
SD SMP SMA Sarjana (S1)
12 17 30 3
19,4 27,4 48,4 4,8
Jumlah 62 100
Sumber : Data Primer Setelah diolah 2021
Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 62 responden, tingkat pendidikan yang paling banyak berada pada klasifikasi tingkat pendidikan terakhir SMA (Sekolah Menengah Atas) yaitu 30 responden dengan persentase 48,4% dan SMP (Sekolah Menengah Pertama) yaitu 17 dengan Persentase 27,4%, SD (Sekolah Dasar) yaitu sebanyak 12 orang dengan jumlah persentase 19,4%, dan klasifikasi tingkat pendidikan terakhir yang paling sedikit adalah S1 (Strata 1) dan dengan jumlah responden 3 orang dengan persentase 4,8% .
5.2. Potensi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha
Potensi Objek Wisata merupakan syarat penting yang dimiliki suatu kawasan wisata, karena potensi yang terdapat dalam kawasan wisata dapat berbeda di setiap tempat, semakin unik dan indah potensi yang terdapat disuatu kawasan wisata maka wisatawan akan semakin tertarik untuk menjadikan tempat tersebut
27 sebagai suatu destinasi wisata. Dari hasil penelitian ini potensi yang terdapat dalam kawasan Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha yaitu potensi flora dan fauna, kemudian potensi panorama alam serta yang sangat menarik adalah potensi air terjunnya.
5.2.1. Potensi Panorama Alam
Panorama alam dalam Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha sangat indah.
Letaknya yang berada ditengah-tengah pulau loeha menjadi keunikan tersendiri, Jika memasuki kawasan Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha, maka wisatawan akan disambut dengan bunyi gemercik air terjun, kemudian suara kicauan burung juga terdengar sangat indah. Hembusan angin yang sejuk akan membuat suasana semakin santai, dalam kawasan juga dapat dijumpai berbagai jenis flora dan fauna yang beragam.
Gambar 2. Potensi Panorama Alam dalam Kawasan Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha 2021
28 5.2.2. Potensi Air Terjun Pulau Loeha
Air Terjun Pulau Loeha merupakan objek utama yang ingin dinikmati oleh wisatawan yang berkunjung. Keindahan air terjun yang menjadikan kawasan Air Terjun Pulau Loeha banyak dijadikan pilihan destinasi wisata bagi para wisatawan.
Gambar 3. Potensi Air Terjun Pulau Loeha 2021
5.2.3. Potensi Flora
Hasil pengamatan langsung di tempat Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha ada beberapa jenis Flora yang bisa membuat tidak bosan untuk selalu mengunjungi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha. Jenis Flora yang terdapat di Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha yaitu pohon dengen (Dillenia Serrata), Pohon damar (Agathis dammara), pohon nyatoh (Palaquim sp), Damar mata- kucing (Shorea javanica) dan pohon beringin (Ficus benjamina).
29 Gambar 4. Flora Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha
5.2.4. Potensi Fauna
Jenis Fauna yang terdapat pada area Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha ada beberapa yang dapat dijumpai yaitu Ayam Hutan Merah ( Gallus gallus ), Kuskus (Marsupialia), Kepiting (Brachyura), ikan butini (Glossogobius matanensis) dan Ikan pangkilang (Telmatherina celebensis)
Gambar 5. Fauna Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
30 5.2.5. Potensi Bebatuan
Saat tiba dikawasan air terjun pulau loeha, kita disambut dengan Bebatuan yang sangat menarik dan indah untuk dijadikan sebagai spot foto bagi setiap pengunjung yang datang. Bebatuan ini terdapat disekeliling pulau loeha yang menjadikan air terjun pulau loeha menjadi objek wisata yang unik sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi air terjun pulau loeha. Ukuran bebatuan sangat beragam, ada yang berukuran kecil dan ada juga berukuran besar.
Gambar 6. Batuan di bibir danau towuti
5.3. Penilaian Pengembangan Potensi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha
5.3.1. Daya Tarik Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha
Daya tarik merupakan faktor yang menarik bagi orang berkeinginan untuk mengunjungi dan melihat secara langsung ke tempat yang mempunyai daya tarik tersebut. Peninjauan komponen daya tarik ini bertujuan untuk mengetahui
31 gambaran bentuk-bentuk kegiatan rekreasi yang sesuai dengan daya tarik dan sumberdaya yang tersedia di Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
Gambar 8. Lokasi air Terjun Pulau Loeha
Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha ini merupakan lokasi obyek wisata yang cukup nyaman dengan udara yang bersih dan segar. Sehingga membuat wisatawan yang pertama kali mengunjunginya akan tertarik untuk kembali lagi datang berkunjung melakukan kegiatan wisata.
5.3.2. Aksessibilatas
Aksessibilitas merupakan kemampuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dapat lebih mudah atau lebih sulit menjangkaunya ( James J. Spillane, 1997: 38 ). Aksesibilitas merupakan ukuran kemudahan lokasi untuk dijangkau dari lokasi lainnya melalui sistem transportasi selain itu juga menjadi faktor yang mempermudah pengunjung untuk bepergian dari tempat tinggal pengujung ke lokasi obyek wisata yang akan dikunjunginya. Faktor tersebut sangat penting guna mendorong peningkatan potensi obyek wisata yang akan dikunjungi
32 wisatawan. Berikut adalah gambar aksesibilitas Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
Gambar 8. Jenis transportasi ke Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha. 5.3.3. Akomodasi
Akomodasi merupakan salah satu faktor yang membuat pengunjung tertarik untuk melakukan suatu kunjungan wisata. Ketersediaan akomodasi dalam lokasi wisata sangat membantu pengunjung ketika pengunjung ingin menginap di lokasi yang dikunjungi. Berikut adalah gambar salah satu dari sarana dan prasarana yang terdapat pada objek wisata Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
33 Gambar 9. Salah satu penginapan pada radius 15 Km ke Wisata Air Terjun
Pulau Loeha.
5.3.4. Sarana dan Prasarana
Peranan sarana dan prasarana penunjang adalah untuk memudahkan pengunjung dalam menikmati potensi dan daya tarik wisata alam. Sarana dan prasarana penunjang yang terdapat di sekitar kawasan wisata juga berpengaruh terhadap pengembangan suatu obyek wisata. Berikut adalah gambar salah satu dari sarana dan prasarana yang terdapat pada objek wisata Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
34 .
Gambar 10. Mesjid dekat Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
5.4. Penilaian Objek Dan Daya Tarik Wisata
Komponen yang dinilai dari Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha. yaitu daya tarik , aksesibilitas untuk bisa mencapai lokasi kawasan, akomodasi yang ada di sekitar lokasi wisata dan juga sarana dan prasarana penunjang yang mendukung perkembangan lokasi wisata.
5.4.1. Daya Tarik
Daya tarik suatu kawasan merupakan hal utama yang menjadikan kawasan tersebut menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan melakukan kegiatan wisata. Daya tarik merupakan faktor yang membuat orang berkeinginan untuk mengunjungi dan melihat secara langsung ke tempat yang mempunyai daya tarik tersebut. Pengkajian komponen daya tarik ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bentuk-bentuk kegiatan rekreasi yang sesuai dengan daya tarik dan sumberdaya yang tersedia. Unsur -unsur yang dinilai pada kriteria daya tarik ini
35 yaitu keunikan, kepekaan, variasi kegiatan, jenis sumberdaya yang menonjol, kebersihan obyek, keamanan, dan kenyamanan. Unsur-unsur daya tarik yang terdapat pada Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Penilaian Terhadap Komponen Daya Tarik Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
No Unsur / Sub Unsur Bobot Nilai Skor Total 1
2 3 4 5 6
Keunikan SDA
Banyaknya SDA yang menonjol Kegiatan Wisata yang dapat dilakukan
Kebersihan Objek Lokasi Wisata Keamanan Kawasan
Kenyamanan
6 6 6 6 6 6
18,22 19,83 24,59 22,90 24,83 19,51
109,32 118,98 147,59 137,4 148,83 117,06
Skor total 129,88 779,18
Skor total: Hasil kali antara bobot dengan nilai Sumber: Data Primer Setelah diolah 2021
Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa skor total yang diperoleh adalah 779,18 skor ini diperoleh dari hasil kali sub unsur lalu dijumlahkan total keseluruhannya. kemudian menentukan tingkat kelayakan untuk dikembangkan menggunakan rumus interval.
Interval Skor maksimum – Skor Minimum 3
1.080 – 360 720 3 3
Dari hasil ini kelas dapat diklasifikasifikasikan:
1.080 – 840 = Tinggi 840 – 600 = sedang 600 – 360 = rendah
= = 240
=
=
36 Skor total daya tarik berada pada kelas 840 hingga 600, artinya pada unsur daya tarik klasifikasi kelas yaitu sedang.
Kemudian indeks kelayakan diperoleh dari skor total dibandingkan skor maksimum dengan rumus :
Skor total
Skor maksimum
799,18
1.080
Indeks kelayakan daya tarik dengan nilai 73,98% dapat untuk dikembangkan karena unsur ataupun sub unsur secara penilaian banyak yang dapat ditemui di kawasan air terjun pulau loeha. Yang perlu dikembangkan serta diperadakan yaitu kegiatan wisata alam masih kurang yang dapat dilakukan di lokasi kawasan air terjun pulau loeha.
5.4.2. Aksessibilitas
Aksessibilitas merupakan suatu hal yang menyatakan mudah tidaknya suatu obyek untuk dijangkau. Aksessibilitas merupakan syarat yang penting sekali untuk obyek wisata. Tanpa dihubungkan dengan jaringan transportasi tidak mungkin suatu obyek mendapat kunjungan wisatawan. Obyek wisata merupakan akhir perjalanan wisata dan harus mudah dicapai dan dengan sendirinya juga mudah ditemukan. Oleh karena itu harus selalu ada jalan menuju obyek wisata.
Jalan itu merupakan akses ke obyek dan jalan akses itu harus berhubungan dengan Indeks kelayakan =
X 100 %
= X 100 % = 73,98 %
37 prasarana umum. Kondisi jalan umum dan jalan akses menentukan aksesibilitas suatu obyek wisata.
Perjalanan menuju Wisata Permandian Alam Baruttung dapat di tempuh ± 2 jam dari pusat kecamatan Towuti. Jarak dari kecamatan Towuti sampai ke Wisata Permandian Alam Baruttung ± 25 km, dengan tipe jalan aspal dengan lebar 3 m.
Penilaian aksebilitas dapat menuju Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil Penilaian Terhadap Aksessibilitas Menuju Air Terjun Pulau Loeha Air Terjun Pulau Loeha
No Unsur/Sub unsur Bobot Nilai Skor total
1.
2.
3.
4.
Waktu tempuh dari pusat kota Jarak
Tipe jalan Kondisi Jalan
5 5 5 5
27,24 16,85 27,25 26,45
136,20 84,25 136,25 132,25
Skor total 97,45 488,95
Keterangan : Hasil kali antara bobot dengan nilai Sumber data primer setelah diolah 2021
Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa skor total yang diperoleh adalah 488,95 skor ini diperoleh dari hasil kali sub unsur lalu dijumlahkan total keseluruhannya.
kemudian menentukan tingkat kelayakan untuk dikembangkan menggunakan rumus interval.
Interval Skor maksimum – Skor Minimum 3
600 – 300 300 3 3
Dari hasil ini kelas dapat diklasifikasifikasikan:
600 – 500 = Tinggi 500 – 400 = sedang 400 – 300 = rendah
= = 100
=
=
38 Skor total daya tarik berada pada kelas 500 hingga 400, artinya pada unsur daya tarik klasifikasi kelas yaitu sedang.
Kemudian indeks kelayakan diperoleh dari skor total dibandingkan skor maksimum dengan rumus :
Skor total
Skor maksimum
488,95
600
Indeks kelayakan aksessibilitas dengan nilai 81,50 % dapat dikembangkan karena unsur ataupun sub unsur aksessibilitas secara penilaian tipe jalan menuju ke lokasi air terjun pulau loeha baik, waktu tempu dari pusat kota juga baik, sementara jarak dari pusat kecamatan kurang baik yaitu 10 – 15 km, dan perlu dikembangkan kondisi jalan menuju ke lokasi yang masih kurang baik.
5.4.3. Akomodasi
Akomodasi merupakan salah satu faktor yang diperlukan dalam kegiatan wisata khususnya dari pengunjung yang cukup jauh. Unsur -unsur yang dinilai adalah jumlah penginapan dan jumlah kamar (radius 15 km dari obyek). Hasil pengamatan di lapangan dan informasi dari masyarakat sekitar diketahui terdapat tiga penginapan yang berada pada radius 10 km dari obyek. Ketersediaan akomodasi dalam lokasi wisata sangat membantu pengunjung ketika pengunjung ingin menginap di lokasi yang dikunjunginya.
Penilaian untuk akomodasi pada Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha dapat dilihat pada Tabel 6.
Indeks kelayakan =
X 100 %
= X 100 % = 81,50 %
39 Tabel 6. Penilaian Jumlah Penginapan dan Jumalah Kamar pada Sekitar Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha (Radius 10 km)
No Unsur/Sub unsur Bobot Nilai Skor total
1.
2.
Jumah penginapan Jumlah kamar
3 3
25 30
75 90
Skor total 55 165
Keterangan: * Hasil kali antara bobot dengan nilai Sumber: Data Primer Setelah diolah 2021
Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa skor total yang diperoleh adalah 165 skor ini diperoleh dari hasil kali sub unsur lalu dijumlahkan total keseluruhannya.
kemudian menentukan tingkat kelayakan menggunakan rumus interval.
Interval Skor maksimum – Skor Minimum 3
180 – 150 30 3 3
Dari hasil ini kelas dapat diklasifikasifikasikan:
180 – 10 = Tinggi 170 – 10 = sedang 160 – 10 = rendah
Skor total daya tarik berada pada kelas 500 hingga 400, artinya pada unsur daya tarik klasifikasi kelas yaitu sedang. Kemudian indeks kelayakan diperoleh dari skor total dibandingkan skor maksimum dengan rumus :
Skor total
Skor maksimum
165
180
= = 10
=
=
Indeks kelayakan =
X 100 %
= X 100 % = 91,66 %
40 Indeks kelayakan akomodasi dengan nilai 91,66 % dapat dikembangkan karena unsur ataupun sub unsur akomodasi secara penilaian di lokasi dapat terpenuhi atau dapat kita temui dengan jumlah yang banyak.
5.4.4. Sarana dan Prasana
Sarana-prasarana penunjang merupakan sarana-prasarana yang dapat menunjang kemudahan dan kenyamanan pengunjung dalam kegiatan wisata.
Prasarana dan sarana penunjang yang dinilai adalah prasarana dan sarana penunjang yang berada dalam radius 10 km dari obyek. Prasarana penunjang yang dinilai meliputi jaringan telepon, Puskesmas, jaringan listrik dan jaringan air minum. Sarana penunjang yang dinilai yaitu rumah makan, pusat perbelanjaan/pasar, toko dan angkutan umum. Sarana-prasarana penunjang yang terdapat pada masing-masing obyek wisata. Penilaian sarana dan Prasarana dapat dlihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Penilaian Sarana dan Prasarana Pada Radius 10 km
No Unsur/Sub unsur Bobot Nilai Skor total
1.
2.
Sarana Prasarana
3 3
30 50
90 150
Skor total 80 240
Keterangan : Hasil kali antara bobot dengan nilai Sumber data primer setelah diolah 2021
Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa skor total yang diperoleh adalah 240 skor ini diperoleh dari hasil kali sub unsur lalu dijumlahkan total keseluruhannya.
kemudian menentukan tingkat kelayakan untuk dikembangkan menggunakan rumus interval.
41 Interval Skor maksimum – Skor Minimum
3
300 – 100 200 3 3
Dari hasil ini kelas dapat diklasifikasifikasikan:
300 – 233,34 = Tinggi 233,34 – 166,68 = sedang 166,68 – 100,02 = rendah
Skor total daya tarik berada pada kelas 300 hingga 233,34, artinya pada unsur daya tarik klasifikasi kelas yaitu tinggi. Kemudian indeks kelayakan diperoleh dari skor total dibandingkan skor maksimum dengan rumus :
Skor total
Skor maksimum
240
300
Indeks kelayakan aksessibilitas dengan nilai 80 % dapat dikembangkan karena unsur ataupun sub unsur aksessibilitas secara penilaian hampir semuanya kita temui di sekitar air terjun pulau loeha, dan yang perlu diperhatikan untuk diperadakan yaitu jaringan air minum dan kantor pos yang masih belum ada.
5.5 Analisis Kelayakan Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha
Penelitian yang dilakukan dengan observasi langsung di Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha, Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur untuk mengetahui potensi, dengan penilaian kriteria yaitu daya tarik, aksesibilitas, akomodasi serta sarana dan prasarana yang mendukung perkembangan lokasi wisata. Hasil penilaian yang di dapatkan kemudian di analisis untuk penilaian
= = 66,66
=
=
Indeks kelayakan =
X 100 %
= X 100 % = 80 %
42 apakah Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha layak, belumlayak layak atau tidak layak untuk dikembangkan menjadi objek ekowisata. Hasil penilaian terhadap komponen - komponen Wisata Air Terjun Pulau Loeha dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Hasil Penilaian Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
No Kriteria Bobot Nilai Skor Total
Skor Max
Indeks (%)
Keterangan 1
2 3 4
Daya tarik Aksessibilitas Akomodasi Sarana dan Prasarana
6 5 3 3
129,88 97,45
55 80
799,18 488,95 165 240
1.080 600 180 300
73,98 81,50 91,66 80
Layak Layak Layak Layak
Jumlah 327,14
Rata-rata Tingkat kelayakan 81,785 Layak Sumber: Data Primer 2021
Berdasarkan Tabel 8 Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha sangat berpotensi dan layak untuk dikembangkan dijadikan daerah tujuan wisata dengan rata – rata persentase indeks kelayakan 81,785. Untuk kriteria akomodasi cukup tinggi dengan indeks kelayakan persentase 91,66 karena pada radius 15 KM dari objek wisata Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha terdapat banyak penginapan. Hal ini menunjukan bahwa daya tarik Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha berpotensi dan layak untuk dikembangkan
Hasil penilaian pada Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha menunjukan peluang untuk dikembangkan. Daya tarik potensi yang dimiliki kawasan tersebut memang cukup besar, kemudahan akses untuk menuju Wisata Air Terjun Pulau Loeha dan dilengkapi sarana dan prasarana penunjang yang memadai serta dalam ketersediaan akomodasi. Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha layak dikembangkan untuk menjadi daerah tujuan wisata, maka pengembangan kawasan tersebut harus mulai dipikirkan oleh pemerintah karena jika dikelola
43 dengan baik dapat menghasilkan nilai rupiah dan menambah pendapatan aset daerah serta membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar kawasan Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
5.6 Pengembangan Potensi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha
Dalam pengembangan Air Terjun Pulau Loeha harus diupayakan juga agar tidak menyebabkan terjadinya perubahan sosial dan kerusakan lingkungan.
Mempertahankan kualitas lingkungan pada objek wisata alam mutlak diperlukan sebab daya tarik utamanya justru terletak pada lingkungan.
Air Terjun Pulau Loeha memiliki keunikan yaitu berupa air terjun yang letaknya berada di tengah – tengah salah satu Pulau yang ada di Danau Towuti yaitu Pulau loeha. Kondisi lingkungan yang alami menjadikan Air Terjun Pulau Loeha berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata alam. Bentuk kegiatan yang dapat dikembangkan pada objek Air Terjun Pulau Loeha antara lain :
a. Wisata Petualangan
Kondisi alam sekitar air terjun pulau loeha yang cukup menentang merupakan daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang menyukai petualangan alam.
b. Interpretasi Alam
Kegiatan interpretasi alam dilakukan untuk menambah pengetahuan, kesadaran dan kecintaan terhadap alam. kegiatan ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Interpretasi dilakukan terhadap potensi flora dan fauna yang terdapat disekitar objek.
44 c. Pengadaan Sarana dan Prasarana
pengadaan sarana prasarana antara lain areal camping, lokasi api unggun, angkutan umum, tempat beribadah/musollah, tempat sampah, papan petunjuk arah, papan himbauan dan peta lokasi objek.
d. Pengadaan Penginapan
Penginapan dibuat di kawasan Air Terjun Pulau Loeha dengan bentuk sealami mungkin yang diutamakan adalah kenyamanan dan sanitasi yang baik.
45 VI. PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang di peroleh maka dapat ditarik kesimpulan yaitu :
1. Kawasan Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur menyimpan potensi objek ekowisata berupa keindahan panorama alam, keindahan Air terjun, serta keragaman jenis Flora dan Fauna.
2. Berdasarkan hasil penilaian kelayakan potensi ekowisata pada kawasan Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur dapat diketahui bahwa nilai tertinggi yaitu pada variabel Akomodasi yaitu 91,66%, kemudian variabel Aksessibilitas dengan indeks kelayakan 81,50 %, Daya Tarik dengan indeks kelayakan 73,98%
kemudian yang paling rendah yaitu variabel Sarana dan Prasaran dengan indeks kelayakan 80%. Kawasan tersebut layak untuk dikembangkan dengan tingkat kelayakan yang dinyatakan berdasarkan kriteria kelayakan setiap kelas dinyatakan layak .
3. Dari hasil penelitian Pengembangan wisata yang dapat dilakukan yaitu wisata petualang, interpretasi alam, pengadaan sarana dan prasaran dan pengadaan penginapan berkonsep alami.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian di Kawasan Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur maka disarankan bahwa Perlunya pengadaan fasilitas berupa
46 infrastruktur dan pengembangan dengan cara dikelola dengan baik. Selain itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai Pengembangan Potensi Objek Wisata Air Terjun Pulau Loeha.
47 DAFTAR PUSTAKA
Arafah, N. dan Flamin, A., 2012. Analisis Kelayakan Pengembangan Ekowisata Di kawasan Hutan Lindung Kecamatan Anggaberi Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Fakultas Kehutanan Universitas Halu Oleo kendari. Kendari. Jurnal Layanan Kehutanan Masyarakat, Vol 1 No 1 2012.
Depdikbud, 1986. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Direktorat Jenderal Bina Pesisir. 2004. Pedoman Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Fandeli, C., 2000. Pengertian dan Konsep Dasar Ekowisata dalam buku
“Pengusahaan Ekowisata. Fakultas Universitas Gajah Mada. Pustaka Pelajar Offset. Yogyakarta.
Ginting, I. A., Panata P. Dan Rahmawati. 2015. Penilaian dan Pengembangan Potensi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. USU. Medan.
Ibrahim, Mahdy.1998. Buku Pintar dan Sadar Wisata. Jakarta
James. J., Spillane. 1990. Pariwisata Indonesia dengan Prospeknya. Yogyakarta:
Kanisius.
Kusmayadi dan Endar Sugiarto. 2000 Metodologi Penelitian dalam. Bidang Kepariwisataan. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama. Statistika.
Pariwisata Deskriptif. Jakarta:.
Novitasari Paradede, Muhdi, Kansih Sri Hartini ., 2015. Analisis Pengembangan Obyek Wisata Permandian Alam Karang Anyar, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Jl. Tri Dharma Ujung No.1 Kampus USU. Jurnal Penelitian Kehutanan, Oktober 2019.
Sembiring, I., Hasnudi, Irfan dan Sayed U., (2004). Survei Potensi Ekowisata diKabupaten Dairi. Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara. Medan: Universitas Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea. Vol. 2 No. 2, Juni 2013 : 154- 168.
Sugyono dan Kusmayadi, 2000 Metode Penelitian Kusmayadi. (2000).
Metodologi Penelitian Dalam Bidang Kepariwisataan, Jakarta.
48 Sudarto,G,1999,Ekowisata: Wahana Peelestarian Alam, Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan, dan Pemberdayaan Masyarakat. Yayasan Kalpataru Bahari.
Bekasi
Weaver, D., 2001. Ecotourism. Australia: John Wiley and Sons Australia, Ltd.
Wiwoho,B., Ratna,P., dan Yulia, H, 1990. Pariwisata,Citra, dan Manfaatnya. PT Bina Rena Pariwara. Jakarta.
49 Lampiran 1. Surat Izin Penelitian
50 Lampiran 2. Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi