• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Fashl dan Washl

N/A
N/A
Nilam Pratiwi

Academic year: 2024

Membagikan "Pengertian Fashl dan Washl"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Fashl dan Washl 1. Fashl

Secara bahasa fashl bermakna memisahkan, memotong, memutuskan, dan menghilangkan keserupaan dalam kalam (Izalatu labsi fil kalam). 1 Sedangkan secara istilah fashl adalah menggabungkan dua buah kalimat dengan tidak menggunakan huruf ‘athaf.

Menurut ulama ahli bayan:

Fashl adalah tidak meng-athaf-kan suatu kalimat dengan kalimat lainnya, konsep ini kebalikan dari washl yang mengharuskan adanya „athaf”.2

Contoh :

إ ِِ

: ُ p ) َن

iَُن يْ

p

ي œ

ُِ

َن يْ

ن يْ

ا حُيْ

: يْ

رإِ

زيْ

إِ

َ يْ

َ َن يَْن :

َنرَ

زيْ

نحَ

يَْن i

ٌِ

ا ء

~ 'َن p

سُِ

'و ن كف

إِ(

َنَ ! '

َنَا إِ

ر i ن ي

Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan atau tidak mereka tidak beriman”.

Pada ayat di atas terdapat aspek fashl. Dimana karena ada penggabungan dua buah kalimat dan tidak menggunakan huruf ‘athaf.

2. Washl

Dalam kitab Taisir al-Balaghah disebutkan bahwa washl adalah: Washl menurut bahasa adalah menghimpun.3 Sedangkan menurut isilah adalah:

ا' p لص فػ دعب جا' ت ى طعب

Washl adalah mengathofkan sebagian kalimat kepada lainnya.4 فط

ج م ت ى خ س ى ب ا 'ا p و

1 M. Zamroji dan Nailul Huda, Mutiara Balaghah Jauharul Maknun: dalam Ilmu Ma’ani, Bayan, dan Badi’, (Kediri: Santri Salaf Press, 2014) hlm. 252.

2 Muhammad Muqoyyim, BalaghohPraktisJauharulMaknunSaku (Kediri: Santri Salaf Press, 2017), hlm. 269.

(3)

3 Imam Akhdlori, IlmuBalaghoh, (Bandung: PT. Alma’arif, 1982), 130.

4 Al-Khotib al- Qozwaini, al-Idhof f Ulum al-Balagho, (Libanon: Dar al-kotob al-Ilmiyah, 2010), 118.

(4)

Mengathofkan kalimat dengan kalimat lain dengan waw.5

Disebutkan juga dalam kitab al-Mu’ayyin fii al-Balaghah bahwa washl adalah:

ا' p ص ل pœ '~

خ خ د ' و و' ا' ع فط ب i ي ج م خ i ي

Penggunaan wawu athof diantara dua kalimat6

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa washl adalah penggabungan dua kalimat dengan wawu athof. .

B. Tempat-tempat Fashl dan Washl 1. Tempat-tempat Fashl

Penggabungan 2 jumlah (kalimat) menggunakan cara fashl apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Antara kalimat yang pertama dan kedua terdapat hubungan yang sempurna (kamaalul ittishal). Seperti halnya kalimat kedua, merupakan taukid (penguat) bagi kalimat pertama, atau sebagai bayan (penjelas) atau sebagai badalnya.

Dalam keadaan yang demikian dikatakan bahwa di antara kedua kalimat tersebut terdapat kesinambungan yang sempurna. 7

- sebagai taukid (penguat) Contoh:

'ذ!

ق ج ش ع 'س ص ب ح ا' د œ س : ش د'

# و ا ا' د œ س ! ي ز ة'و ق ص ائ د ى

Tiadalah masa itu melainkan penutur kasidahku # jika aku membacakan sebuah syair, maka waktu akan mendendangkannya”.

Dari segi makna, kalimat kedua berfungsi untuk memperkuat isi pada kalimat pertama. Karena fungsi tersebut pada awal kalimat kedua tidak perlu di tambahkan ‘athafwawu.

- Sebagai Bayan (penjelas) Contoh:

5 Ali al-Jarim dan Musthafa Amin, al-Balaghoh al-Wadhihah, (Jakarta: Raudhoh Press, 2007), 242.

6Imil Badi’ Ya’qub, al-Mu’ayyin f al-Balaghoh, (Beirut, 2002), 208.

7Ali al-Jarim dan Musthafa Amin..., op. Cit,., hlm. 324.

(5)

طعب طعبا

! ا i 'وسعش دخ

# سا:ا' ا سا:

ي ودب ةسظاحو

Manusia itu baik kelompok badwi (orang gunung yang terbelakang) maupun hadhar (orang kota yang terpelajar) # jika mereka menyadarinya, bahwa yang satu dengan lainnya saling melayani”.

Pada contoh di atas terdapat penggabungan 2 kalimat tersebut tidak menggunaan huruf ‘athaf. Kalimat ke dua berfungsi sebagai penjelas untuk kalimat pertama.

-Sebagai Badal Contoh:

حَُ

إِ:ُpق p

َن ) إِز ُبِب يْ

إ ِِ

ا إِ

ن ا

َن َِ

ُ يْ

ث عن

َن ِ iا ل

' يْ

ا

ِِ

بّ

ص

(ُi دَ

إَِن ُبِب س يْ '

َ ا يَْن سن ن iُ

ف

“Dia mengatur segala urusan. Menjelaskan ayat-ayat-Nya. Supaya kalian yakin akan pertemuan dengan-Nya”.8

bagian imerupakanُ

دَ

َن بإِ بِ

ُس

يْ'

َ ا يَْن سن ayat

Pada ث

dari َن ِ

iا ل

يْ' ا

ِِ

بّ

ص

ُِ فن i. Oleh karena itu

penggabungan antara keduanya cukup dengan fashl, tidak perlu menggunakan huruf ‘athaf.

b. Kalimaatul Inqitha‟: Berbedanya dua jumlah (kalimat) dengan perbedaan yang sempurna. Seperti keduanya berbeda khabar dan insya‟ nya atau tidak ada kesesuaian sama sekali diantara ke dua kalimat tersebut. 9

-dua jumlah (kalimat) itu berbeda dalam bentuk kalam khabar dan insya’-nya.

Contoh: فظحس للهاi 'سعح: Sang raja telah datang , semoga Allah menjaganya كi ااغص

!:ى

ح : Sungguh aku akan memperhatikan ucapanmu.

-kalimat yang ke dua tidak ada kaitan langsung dengan kalimat pertama. Contoh:

ش iد ابحاك امحا سئاط

zaid adalah penulis, burung merpati terbang”.

(6)

8 Ali al-Jarim dan Musthafa Amin..., op. Cit,., hlm. 321-324.

9 M. Zamroji dan Nailul Huda..., op. Cit,. 258-259.

(7)

5

Contoh diatas terdapat dua kalimat. Kalimat yang ke dua tidak ada kaitan langsung dengan kalimat pertama.

c. Kalimat kedua merupakan jawaban dari kalimat pertama (SyibKamālilal- Ittishāl).10

Contoh:

( ج ي ِْ

و و

َن

ُِ

يْ

:يْ

خ iف ةنتً

ف قن ااُ

' p

ن خ :

نا نح

:ن ا

~ يْ

ىى ِٰ

َُ

يْ

ز يْ

p إِ إِ

َن ا!

ا(ُ

p غ

Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan dia merasa takut.

Malaikat berkata,”jangan kamu takut!...”.

Pada ayat di atas terdapat dua kalimat وي ِْ

ج و

َن

ُِ

يْ

:يْ

خ i

فن تً

ة p اُ'ن ا ق dan

.ح ن

ن خ ف Kalimat ke dua merupakan jawaban atau reaksi atas pertanyaan pertama. Oleh karena itu dalam penggabungannya tidak memerlukan ‘athaf.

2. Tempat-tempat Washl

Washl itu wajib dalam tiga keadaan, yaitu:

1. Ketika mempersekutukan dua jumlah dalam segi I’rab.

Apabila jumlah (kalimat) pertama mempunyai kedudukan mahal I‟rab, sedangkan kalimat kedua hendak disertakan kepada kalimat pertama dalam hokum I’rabnya, sekiranya tidak ada penghalang yang mencegah untuk washl.

Contoh: فعل i ول p i ي kalimat:لp i adalah mahal rafa‟ karena menjadi khobar mubtada’. Demikian juga kata فعل i di-athaf-kan pada jumlahnya lafadz لp i dan menyamainya karena dalam posisi mahal rafa‟, sebagai khobar kedua dari mubtada‟.

2. Ketika menyengaja menghilangkan kerancuan dalam jawaban.

Artinya, ketika ada dua jenis kalimat yang berbeda, yaitu kalam Khabar dan insya’. Ketika dipisah fashl akan menyebabkan kesalahan makna yang dikehendaki (kesalah pahaman yang menyalahi makna semula). 11 Seperti ucapan ketika memberikan jawaban kepada seseorang dengan nafi. contoh:

(8)

5

هافشو لله , belum, dan semoga Allah menyembuhkannya. Ucapan tersebut untuk menjawab pertanyaan yang diperuntukkan bagi orang yang bertanya

10 Ali Al-Jarim dan Musthafa Amin..., op. Cit,. 324.

11 M. Zamroji dan Nailul Huda..., op. Cit,.264.

(9)

6

kepada kamu: لئس ب ي ي ' ضسماœ :apakah Ali sudah sembuh dari sakit.

Ketika tidak di-athof-kan ( هافََش لله ) akan bias menimbulkan kesalahan asumsi pemahaman yaitu: mendoakan agar Ali tidak diberi kesembuhan oleh Allah.

Padahal tujuan aslinya adalah mendoakan kepada Ali. Jadi kalau saja tidak ada kekhawatiran akan kesalahan asumsi ini, niscaya kedua jumlah itu di washl, sebab jenis nya benar-benar berbeda antara kalam insya’ dan khabar.

3. Ketika antara kedua jumlah itu terdapat keserasian disertai kesinambungan, baik menurut akal, dugaan atau khayalan. Kedua kalimat tersebut sama-sama kalam khabar atau sama-sama kalam insya’ dan memiliki keserasian makna yang sempurna baik secara lafadz dan makna atau makna saja. Namun tidak ada hal-hal yang mengharuskan di-fashl-kan.Contoh: لاق':ي'شدللهو'شود'':ي

pئس ب امكسشحHud menjawab sesungguhnya Aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya Aku terlepas dari apa yang kamu persekutukan (Q.S. Hud:54)

Contoh diatas ditafsiri dengan ي 'ش د لله و 'ش كد:'maka jumlah yang kedua dalam ayat tersebut adalah kalam insyaiyyah secara lafadz tetapi kalam khabariyyah secara makna.12

Kalimat yang Sebaiknya di Washl13

1. Sama-sama jumlah ismiyah, seperti: دئاق وبساق دi ش

2. Sama-sama jumlah fi’liyahdengan Fi’il Madhi seperti: د اق و بس دعقi ش 3. Sama-sama jumlah fi’liyah dengan Fi’il Mudhari’ seperti: دع i وبس p i دi ش

12 M. Zamroji dan Nailul Huda..., op. Cit,., 265.

13Ibid, 269.

(10)

BAB III PENUTUP

Dari pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa fashl adalah menggabungkan dua buah kalimat dengan tidak menggunakan huruf ‘athaf. Dan washl adalah penggabungan dua kalimat dengan huruf athaf. Wajib washl diantara dua kalimat dalam tiga tempat yaitu Jika sama dalam hukum I’robnya, Kedua jumlah sama-sama khabar atau insyai dan mempunyai keterkaitan yang sempurna. Kedua jumlah harus di washalkan ketika dikhawatirkan akan terjadi kekeliruan jawaban. Kalimat-kalimat yang sebiknya di washl apabila Sama-sama jumlah ismiyah, Sama-sama jumlahfi’liyah dengan fi’il madly dan Sama-sama jumlah fi’liyah dengan fi’il mudlori’.

Demikian penjelasan makalah yang telah kami buat dan sampaikan, kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi kebaikan makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfa’at bagi para pemakalah maupun pembacanya, aamiin. Sekian dan terimakasih.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam artian bahwa ekonomi manajerial menghubungkan ilmu ekonomi tradisional dengan ilmu-ilmu pengambilan keputusan (decision sciences) dalam pembuatan

Dan dalam hal ini ilmu negara sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial sebagaimana halnya dengan ilmu politik, hukum, kebudayaan, ekonomi, psikologis, dan

berasal dari Tuhan (Allah SWT), sehingga pada hakekatnya antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum termasuk ilmu matematika, ada kaitan satu dengan yang lain. Landasan

Pengertian dasar sejarah kebudayaan yang dimaksudkan di sini adalah pembahasan umum mencakup pembahasan mengenai istilah dan definisi kebudayan, perbedaan kebudayaan

Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007 X ASPEK ONTOLOGI.

• Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau Sains dalam arti sempit telah dijelaskan diatas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisika) dan life sciences

Imbuhan (afiks) dibahas dalam bidang ilmu  Morfologi  Morfologi..  Sedangkan definisi Morfologi   Sedangkan definisi Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang

ilmu yang mempelajari efek-efek merugikan dari suatu zat. Ilmu yang m Ilmu yang m empelajari tentang efek empelajari tentang efek negative atau negative atau efek racun dari