Yesaya 49:1-26 Berharap kepada Tuhan.
Beginilah firman TUHAN: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi, (ay. 8)
Pengalaman yang buruk sering membuat kita putus asa dan menyerah. sebagai orang Kristen zaman now, kita juga tidak kebal akan hal itu. Demikian juga yang dialami bangsa Israel.
Pembuangan Israel ke Babel menyebabkan terjadinya banyak hal. Bait Allah, lambang kehadiran Allah di Sion yang merupakan kota suci pun runtuh. Tampaknya Israel tidak ada pengharapan. Wajar jika Israel merasa putus asa.
Walau demikian, Tuhan berjanji akan menjawab, menyelamatkan, dan menolong Israel dengan menuntun mereka keluar (ay.8). Ia berjanji akan mengembalikan tanah mereka, membebaskan para tawanan, bahkan memelihara mereka dan meratakan jalan. Hal ini karena Allah tidak pernah melupakan Israel dan mengingat nama mereka setiap waktu.
Allah yang kita sembah ialah Allah yang tidak pernah ingkar janji; Ia juga setia. Tuhan memberikan sebuah janji kepada umat-Nya bahwa Ia akan mengumpulkan dan memulihkan kemuliaan mereka.
Bahkan Tuhan akan membuat Israel terkagum-kagum akan pemeliharaan-Nya yang melebihi batas pemikiran manusia.
Dalam perjalanan mengikut Tuhan, tidak jarang kita mengalami situasi yang membuat putus asa dan berpikir bahwa Tuhan meninggalkan kita. Pengalaman Israel bisa menjadi contoh bagimu dan bagiku.
Dalam keadaan yang nampaknya tidak ada harapan, masih ada Allah yang setia menyertai. Dengan perenungan akan penyertaan Tuhan yang begitu dalam, Daud berkata: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku". (Mazmur 23:4)
Tuhan tidak pernah berubah. Tuhan yang menyertai Israel, maka Tuhan yang sama masih akan melakukan hal yang sama bagimu dan bagiku. Hal yang perlu berubah adalah sikap kita dalam menghadapi pergumulan. Mana yang kamu pilih? Mengandalkan pikiran kita yang terbatas dan menyebabkan keputusasaan, atau mempercayai penyertaan Tuhan yang melampaui batas pikiran kita.
Doa :
Tuhan, ketika aku mulai merasa ditinggalkan, dilupakan, dan diabaikan, tolonglah aku merenungkan kembali kasih yang Engkau tunjukkan dengan mengutus Yesus untuk mati menggantikanku. Amin.
Look at me
Situasi atau hal buruk apa yang membuat kamu merasa ditinggalkan Allah? Bagaimana kamu menyadari dan percaya sungguh-sungguh pada penyertaanNya?