• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE DISKUSI KELOMPOK DI KELAS IV SD NEGERI 1 PULAU PINANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE DISKUSI KELOMPOK DI KELAS IV SD NEGERI 1 PULAU PINANG"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Edukasi El-Ibtida`i Sophia Volume 02, Nomor 01, Oktober 2023

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE DISKUSI KELOMPOK DI KELAS IV

SD NEGERI 1 PULAU PINANG

Agus Supriyanto 1

1 SD Negeri 1 Pulau Pinang

ABSTRAK

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah a.) untuk meningkatkan proses pembelajaran. b.) untuk meningkatkan kinerja guru. c.) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dengan Metode Diskusi Kelompok di kelas IV di SD Negeri 1 Pulau Pinang.

Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Penelitian ini mengambil subjek siswa kelas IV SD Negeri 1 Pulau Pinang sebanyak 9 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dengan Metode Diskusi Kelompok mengalami peningkatan dan data yang diperoleh berupa hasil tes akhir siklus, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan peningkatan nilai siswa, yang dapat dilihat pada Pra Siklus nilai ketuntasan siswa yaitu (44,44%) dengan nilai rata-rata 62,78, dan nilai tertinggi 75 terendah 50. Pada siklus ke I ada 6 siswa yang tuntas yaitu (66,67%) dengan nilai rata-rata 70,56, nilai tertinggi 85 dan terendah 60. Dan pada siklus ke II semua siswa yang berjumlah 9 orang sudah mencapai ketuntasan yaitu (100%) dengan nilai rata-rata 83,89, nilai tertinggi 95 dan terendah 70. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan menggunakan Metode Diskusi Kelompok dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kelas IV di SD Negeri 1 Pulau Pinang.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Matematika, Metode Diskusi Kelompok.

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran.

1 [email protected]

(2)

Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya bahan pelajaran itu harus cacat dengan kemampuan siswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu pelajaran harus dikaitkan dengan konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Pembelajaran yang lebih bermakna haruslah melibatkan siswa secara aktif baik secara fisik dan psikis. Dengan aktifnya siswa diharapkan pembelajaran memberikan makna/ pengalaman yang membekas pada otak siswa.

Seorang siswa dalam pelajaran Matematika dikatakan kurang berhasil apabila perubahan tingkah laku yang terjadi belum mampu menentukan kebijaksanaannya untuk mencapai suatu hasil yang telah ditetapkan secara tepat dalam waktu yang telah ditentukan.

Agar mencapai suatu hasil belajar yang maksimal, banyak aspek yang mempengaruhinya, diantaranya aspek guru, siswa, metode pembelajaran dan lain-lain. Pengamatan peneliti lakukan selama mengajar di SD Negeri 1 Pulau Pinang. Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada pelajaran Matematika di SD Negeri 1 Pulau Pinang masih menggunakan metode pembelajaran yang lama di mana proses belajar mengajar hanya terpaku pada guru, siswa hanya bisa menerima materi yang disampaikan oleh guru. Mata pelajaran matematika, merupakan mata pelajaran yang membahas masalah tentang kemampuan menambah, mengurangi, mengalikan, membagi, mengukur dan memahami bentuk geometri, perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari jenjang sekolah dasar guna membekali siswa agar mampu berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta mampu bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi di era globalisasi ini.

Oleh karena itu peneliti mencoba menerapkan metode pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kontekstual yang membawa siswa pada hal-hal nyata yang ada disekitar mereka.

Berdasarkan nilai ulangan akhir semester Pelajaran Matematika dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) sebesar 65 diketahui bahwa 44% siswa telah lulus KKM sedangkan 66% siswa tidak tuntas. Berdasarkan kondisi yang dipaparkan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Peneliti juga telah melakukan wawancara beberapa siswa. Beberapa siswa mengungkapkan bahwa kondisi kelas yang tidak kondusif, teman yang suka ramai di dalam kelas, cara guru menyampaikan materi kurang jelas, menjadi alasan siswa untuk malas belajar sehingga hasil belajar mereka rendah. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah melalui kreativitas yang dimiliki guru dalam memilih metode mengajar. Selama ini guru sudah menggunakan metode ceramah bervariasi, tetapi masih banyak siswa yang merasa kesulitan dalam memahami konsep ekonomi sehingga perlu dicari suatu metode pembelajaran Matematika yang sesuai dengan kondisi siswa dan kelas tersebut, agar pembelajaran Matematika dapat membuat siswa tertarik dan termotivasi.

Metode diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah. Metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan masalah, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa serta membuat suatu keputusan. Metode diskusi kelompok bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi kelompok lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama – sama.

(3)

Melalui penerapan metode diskusi kelompok, disarankan agar melaksanakan pembelajaran dengan membuat kelompok belajar yang heterogen karena siswa dilatih untuk berpikir secara mandiri dalam pembelajaran kelompok, setelah itu mereka harus berpasang-pasangan untuk berdiskusi kelompok dan saling berbagi dalam kelompoknya.

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Matematika dengan Metode Diskusi Kelompok di Kelas IV SD Negeri 1 Pulau Pinang ”.

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah yakni bagaimana peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dengan Metode Diskusi kelompok di kelas IV SD Negeri 1 Pulau Pinang .?

3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dengan permasalahan diatas, penelitian ini bertujuan : 1. Untuk meningkatkan proses pembelajaran.

2. Untuk meningkatkan kinerja guru.

3. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dengan Metode Diskusi Kelompok di kelas IV di SD Negeri 1 Pulau Pinang.

4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru, sekolah dan umum sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

a. Dapat terlibat aktif dalam pembelajaran .

b. Menumbuh kembangkan minat siswa dalam pembelajaran Matematika.

c. Meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Bagi Guru

a. Dapat mengetahui kelemahan dan kekurangan dalam menyampaikan materi pelajaran.

b. Dapat melibatkan siswa dalam percobaan-percobaan.

c. Meningkatkan kualitas pengajaran guru.

3. Bagi Sekolah

Dapat mencerdaskan dan menambah wawasan anak didik sesuai dengan visi dan misi sekolah, yaitu membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berilmu, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

4. Bagi Umum

Dengan bekal penguasaan konsep dasar pembelajaran matematika dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil belajar merupakan suatu hasil yang diperoleh siswa dari suatu proses pembelajaran, yang mengindikasikan kemampuan dan kompetensi siswa akan materi pembelajaran tersebut. Hasil belajar biasanya dinyatakan dalam bentuk angka, huruf, atau kata–kata seperti baik, sedang, atau kurang. (Arikunto, 2007).

Menurut Dewa Ketut Sukardi (2008: 220) diskusi kelompok adalah suatu pertemuan dua orang atau lebih, yang ditunjukkan untuk saling tukar pengalaman dan pendapat, dan biasanya menghasilkan suatu keputusan bersama. Menurut beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan teknik diskusi kelompok adalah suatu bentuk kegiatan yang bercirikan suatu keterikatan pada suatu pokok masalah atau pertanyaan, dimana

(4)

anggota-anggota atau peserta diskusi itu secara jujur berusaha memperoleh kesimpulan setelah mendengarkan dan mempelajari, serta mempertimbangkan pendapat-pendapat yang dikemukakan dalam diskusi.

II.METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu

Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian.

Penelitian tindakan ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Pulau Pinang. Waktu penelitian tindakan ini dilaksanakan selama 2 bulan pada yakni bulan Januari hingga Februari 2022.

Kelas yang dijadikan sebagai subjek penelitian tindakan kelas ini adalah Kelas IV SD Negeri 1 Pulau Pinang. Adapun jumlah keseluruhan siswa Kelas IV SD Negeri 1 Pulau Pinang adalah 9 siswa

Rancangan Penelitian atau Model

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

Bahan dan Peralatan

Setiap siswa mempunyai latar belakang keluarga yang berbeda – beda yang tentunya setiap siswa pula memiliki kepribadian yang bermacam – macam, ada yang aktif, ada yang pasif, ada yang cepat tanggap dan ada juga yang lambat, dengan demikian latar belakang keluarga setiap siswa juga mempengaruhi tingkat intelegensi siswa pada saat belajar disekolah. Oleh karena itu siswa sebagai objek dari pendidikan perlu diawasi, dibimbing dan diarahkan serta diberi pengetahuan yang sesuai dengan pola pikir mereka masing – masing dengan sarana dan prasarana yang memadai dan metode/ strategi belajar serta guru yang profesional pula

Tahapan Penelitian

Penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau kelompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Arikunto, 2010:82). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisi, pra siklus, siklus I, siklus II. Pelajaran Matematika dan kolaboratif antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Pada prosesnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pra Siklus

Pada Tabel 4.1 menunjukkan ada 4 siswa yang mendapat nilai 65 ke atas atau prosentase ketuntasan 44,44% dan siswa yang masih belum tuntas ada 5 siswa atau dengan prosentase. 55,56%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih rendah dalam penguasaan materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Selain hasil belajar siswa aktivitas belajar siswa juga masih rendah. Masih siswa yang mengalihkan pandangannya ketika guru menjelaskan materi pembelajaran Maka peneliti perlu segera

(5)

mengambil langkah untuk memperbaiki pembelajaran tersebut, agar siswa dapat memahami materi pembelajaran.

Siklus I

Perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan mulai Februari 2022. Rekapitulasi hasil evaluasi siswa siklus I dapat di lihat di Tabel 4.2. Dari analisis hasil tes formatif siklus I dalam pembelajaran Pelajaran Matematika dengan nilai rata-rata kelas 70,56.

Siswa yang tuntas ada 6 siswa dengan prosentase ketuntasan belajar baru mencapai 66,67% dan siswa yang belum mencapai ketuntasan 33,33%. Meskipun menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa, akan tetapi masih perlu ditingkatkan karena masih banyak siswa yang hanya mendapatkan nilai hanya cukup KKM saja. Maka peneliti masih perlu segera mengambil langkah untuk memperbaiki pembelajaran tersebut, agar siswa dapat memahami materi sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran.

Berdasarkan hasil pada tabel di atas dapat diketahui bahwa aktivitas siswa pada indikator memperhatikan penjelasan guru mendapat 85,19%, Bekerja sama dengan kelompok 81,48% dan pada diskusi kelompok antara siswa dengan guru mendapat 48,15%.

Secara keseluruhan maka rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 71,60. Hal ini menunjukan bahwa pada siklus I, aktivitas belajar siswa masih belum mencapai kriteria ketuntasan namun ada indikator yang paling dominan pada siklus I yakni indikator 1 (memperhatikan penjelasan guru).

Siklus II

Perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan pada Februari 2022 dengan objek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri 1 Pulau Pinang. Dengan dibantu teman sejawat yang bertindak sebagai observer/peneliti pelaksanaan sesuai dengan rencana. Skenario pembelajaran berlangsung dengan baik. Pada akhir pembelajaran, peneliti mengadakan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui tingkat keberhasilan. Hasil perbaikan pembelajaran disajikan pada Tabel 4.4 sebagai berikut ini :

Berdasarkan analisis hasil tes formatif siklus II di atas dalam pembelajaran Matematika dengan nilai rata-rata kelas 83,89. Dari jumlah 9 siswa yang dijadikan sampel penelitian, semua siswanya sudah mencapai ketuntasan dengan prosentase ketuntasan belajar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa yang dilakukan oleh guru sudah berhasil meningkatkan prestasi siswa sesuai dengan hasil yang diharapkan dalam pembelajaran Matematika.

Berdasarkan hasil pada Tabel 4.6 di atas dapat diketahui bahwa aktivitas siswa pada indikator memperhatikan penjelasan guru mendapat 92,59%, Bekerja sama dengan kelompok 92,59% dan pada diskusi kelompok antara siswa dengan guru mendapat 74,07%.

Secara keseluruhan maka rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus II adalah 86,42. Hal ini menunjukan bahwa pada siklus II, aktivitas belajar siswa masih belum mencapai kriteria ketuntasan namun ada indikator yang paling dominan pada siklus I yakni indikator 1 dan 2 (Memperhatikan Penjelasan Guru) dan (Bekerja sama dengan kelompok).

Berdasarkan pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II. Pada akhirnya pembelajaran Matematika di kelas IV semester II di SD Negeri 1 Pulau Pinang, dapat berhasil dengan memuaskan, banyak siswa yang tuntas belajar dengan nilai 65 ke atas.

Setelah melalui kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I maka hasil tes formatif mata pelajaran Matematika pada akhir siklus II mengalami peningkatan yang signifikan dan aktivitas pada proses pembelajaran Matematika siswa juga mengalami peningkatan.

(6)

Pembahasan Hasil Penelitian 1. Hasil Pembelajaran Siswa

Setelah kedua siklus perbaikan pembelajaran dilaksanakan terdapat kemajuan yang semakin meningkat, tingkat kemajuan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.6. Berdasarkan Tabel 4.6 siswa yang nilainya 65 ke atas pada evaluasi sebelum perbaikan pembelajaran ada 4 siswa dari 9 siswa atau 44,44%. Pada perbaikan pembelajaran siklus I terjadi peningkatan, siswa yang mendapat nilai 65 ke atas menjadi 6 siswa 66,67% dan pada perbaikan pembelajaran siklus II yang mendapat nilai 65 ke atas meningkat menjadi 9 siswa atau 100%. Pada nilai rata-rata juga mengalami peningkatan yang signifikan, nilai rata-rata sebelum siklus adalah 62,78, nilai rata-rata pada siklus I yaitu 70,56. Pada siklus II nilai rata-ratanya adalah 83,89. Apabila ketuntasan hasil belajar disajikan dalam bentuk gambar diagram, maka akan dapat dilihat sebagai berikut di bawah ini :

Gambar 1.1 Peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar Sumber : Hasil Analisa

a. Sebelum Perbaikan Pembelajaran

Sebelum perbaikan pembelajaran dari 9 siswa yang tuntas belajar hanya 4 siswa atau 44,44% dan 5 siswa atau 55,56% belum tuntas. Hal ini menunjukkan kegagalan dalam pembelajaran. Setelah peneliti merefleksi ternyata kegagalan itu disebabkan oleh beberapa hal berikut ini :

1. Model pembelajaran yang digunakan guru kurang tepat.

2. Konsep yang dijelaskan guru kepada siswa tidak mudah dimengerti oleh siswa.

3. Guru tidak memanfaatkan media pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan siswa.

Karena kegagalan dalam pembelajaran tersebut di atas, maka peneliti melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I.

b. Perbaikan Pembelajaran Siklus I

Pada perbaikan pembelajaran siklus I menggunakan metode diskusi kelompok mendapatkan hasil evaluasi yang diperoleh dari 9 siswa ada 6 siswa yang mendapat nilai 65 ke atas atau 66,67% siswa tuntas belajar, sedangkan 3 siswa atau 33,33%

siswa masih belum tuntas belajar. Nilai rata-rata yang diperoleh pada perbaikan

(7)

pembelajaran siklus I dibanding dengan sebelum perbaikan pembelajaran ada peningkatan, dari 62,78 menjadi 70,56 atau ada kenaikan nilai sebesar 7,78%.

Peneliti merefleksi sebab-sebab kegagalan dalam perbaikan pembelajaran siklus I, ternyata dapat disimpulkan bahwa :

1. Masih adanya siswa yang kurang serius dalam belajar, masih ingin main- main saja.

2. Guru kurang memberikan motivasi kepada siswa.

Pada metode diskusi kelompok ini, ada siswa yang pasif tidak peduli pada pembelajaran, ada siswa yang bermain-main sendiri atau memperhatikan sesuatu di luar kelas sehingga berakibat kegagalan dalam pembelajaran. Dengan masih adanya siswa yang gagal dalam perbaikan pembelajaran siklus I maka peneliti masih perlu melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II.

c. Perbaikan Pembelajaran Siklus II

Peneliti memperoleh hasil pada perbaikan pembelajaran siklus II. Dari 9 siswa semuanya sudah berhasil mendapatkan nilai 65 ke atas atau prosentase ketuntasan siswa adalah 100%, dan nilai rata-ratanya adalah 83,89. Melihat hasil yang telah diperoleh maka peneliti tidak melakukan perbaikan pembelajaran siklus III pada pelajaran Matematika kelas IV.

2. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran menggunakan metode diskusi kelompok yang paling dominan adalah diskusi kelompok antar teman dan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan berperan aktif dalam pembelajaran. Terlihat seperti gambar di bawah ini.

Gambar 1.2 Aktivitas Siswa Setiap Indikator Sumber : Hasil Analisa

Berdasarkan gambar diagram di atas dapat di ketahui terjadi peningkatan setiap indikatornya terutama pada indikator memperhatikan penjelasan guru selama proses pembelajaran. Jika ditampilkan peningkatan aktivitas siswa dalam bentuk gambar diagram maka hasilnya sebagai berikut:

(8)

Gambar 1.3 Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa Sumber : Hasil Analisa

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Pembelajaran dengan Metode Diskusi Kelompok dapat meningkatkan hasil belajar belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu Prasiklus (44,44%), siklus I (66,67%), siklus II (100%), (2) penerapan Metode Diskusi Kelompok yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa hasil wawancara yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat menggunakan Metode Diskusi Kelompok sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar, (3) penerapan Metode Diskusi Kelompok dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yang ditunjukan dengan hasil 71,60% siswa yang aktif pada siklus I kemudian meningkat menjadi 86,42% pada siklus II.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka perlu menerapkan metode diskusi kelompok dengan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan Metode Diskusi Kelompok dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan hasil belajar belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah- masalah yang dihadapinya. Selain itu, perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di kelas IV SD Negeri 1 Pulau Pinang. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik.

(9)

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

____________. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Ibrahim, Muslimin. 2002. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA University Press.

Kartono. 2007. Perkembangan Psikologi Anak. Jakarta: Erlangga

Lestari, Eko Puji. 2002. Pengaruh Pembelajaran Think Pairs Share Terbimbing Diskusi kelompok terhadap Peningkatan Pola Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa.

Surabaya:Universitas Negeri.

Mukhlis, Abdul. (Ed). 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah Panitia Pelatihan penulisan karya ilmiah untuk Guru se-Kabupaten Tuban.

Rusman. 2012. Model-model pembelajaran. Depok. PT. Rajagrafindo persada.

Septia, N dan Handoyo B. 2006.. Penerapan Think Pair Share (TPS) dalam Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Geografi. . Jurnal Pendidikan Inovatif 2.

Sugiarti, Titik. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Kualifikasi Guru S1 PGSD. Universitas Jember.

Suherman, Erman. 2003. Belajar dan Pembelajaran Matematika. Bandung: ICA Suprayekti. 2008. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta. Direktorat Tenaga

Suryosubroto, B. 2007. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Usman, Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Winkel. 2008. Psikologi Pengajaran, Jakarta: Gramedia Pustaka Tama. Kependidikan, Dikdasmen. Depdiknas.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, hasil belajar IPA

Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat

Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan

Hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan

Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai

Dari hasil penelitian pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berlandaskan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai

Kesimpulan Berdasar dari pembahasan di atas, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh